• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP DASAR PENDIDIKAN INKLUSI A. Hakikat Pendidikan

D. Sejarah Pendidikan Inklusi

2. Pendidikan Khusus di Finlandia

Sejarah pendidikan khusus (inklusi) di Finlandia tidak terlepas dari sejarah reformasi pendidikan secara umum. Sejarah pengembangan sistem pendidikan Finlandia dapat dilihat melalui tiga tahap: 1) meningkatkan kesempatan pendidikan yang sama melalui transisi dari negara pertanian utama menjadi masyarakat industri (1945-1970). 2) menciptakan sistem persekolahan publik yang komprehensif melalui sebuah masyarakat berkesejahteraan Nordik (bangsa Eropa Utara) dengan sektor jasa yang berkembang serta tingkat teknologi dan inovasi teknologi yang meningkat (1965-1990). 3) meningkatkan kualitas pendidikan dasar dan memperluas pendidikan tinggi untuk menyesuaikan diri dengan identitas baru Finlandia sebagai entitas ekonomi teknologi tinggi berbasiskan pengetahuan (1985-sekarang).

Pasi sahlberg dalam Andy Hargreaves menunjukkan keberhasilan reformasi pendidikan Finlandia sebagai berikut:53

1. sudah mengembangkan dan memiliki visi sendiri tentang perubahan pendidikan dan sosial yang terhubung dengan sifat inklusif dan kreativitas, bukannya meminjam visi terstandarkan yang dikembangkan di tempat lain;

2. mengandalkan guru berkualitas tinggi yang terlatih baik, dengan kualifikasi akademis yang baik dan gelar master, yang tertarik kepada profesinya karena daya tarik misi sosial dan sifat otonom serta tersedianya dukungan dibandingkan dengan strategi percepatan dengan pelatihan singkat dan pergantian guru yang tinggi yang dikembangkan di negara-negara seperti Inggris dan Amerika Serikat;

3. memiliki strategi pendidikan khusus inklusif yang hampir separuh siswanya akan pernah menerima suatu bentuk bantuan pendidikan khusus sebelum menyelesaikan sembilan tahun bersekolah, bukannya strategi pendidikan khusus dengan identifikasi legal, penempatan dan pelabelan individu yang disukai negara-negara Anglo-Amerika;

4. sudah menumbuhkan kapasitas guru untuk secara koektif bertanggung jawab atas pengembangan kurikulum dan asesmen diagnostik bersama-sama ketimbang menyampaikan kurikulum yang sudah ditentukan dan

53 Andy Hargreaves, pengantar Finnish Lessons: Mengajar Lebih Sedikit, Belajar Lebih Banyak ala Finlandia, diterjemahkan dari Finnish Lessons: What can the world Learn from Educational Change in Finland? Oleh Ahmad Muchlis, Bandung: Kaifa learning, 2014, Hal. 29.

mempersiapkan siswa untuk tes terstandarkan yang dibuat pemerintah pusat;

5. membuat kaitan antara reformasi pendidikan dengan pengembangan secara kreatif daya saing ekonomi dan juga penumbuhan kohesi sosial, sifat inklusif, dan komunitas bersama di dalam masyarakat yang lebih luas.

Reformasi sekolah terpadu memicu pengembangan tiga aspek tertentu dalam sistem pendidikan Finlandia, yang belakangan terbukti berperan penting dalam menciptakan “sistem pendidikan berkinerja tinggi”. Pertama, mengumpulkan beragam siswa yang seringkali memiliki lingkungan asal dan aspirasi yang sangat berbeda di sekolah dan kelas sang sama, menuntut pendekatan pengajaran dan pembelajaran yang secara fundamental baru.

Prinsip “berkesempatan sama” (equal opportunity principle) mengharuskan semua siswa ditawari peluang yang adil untuk berhasil dan menikmati belajar.

Sedari awal sudah disadari bahwa pendidikan siswa berkebutuhan khusus hanya akan berhasil jika kesulitan belajar dan kekurangan individual lainnya diidentifikasi cukup awal dan segera ditangani. “Pendidikan Khusus” dengan cepat menjadi bagian integral kurikulum sekolah, dan semua kota dan sekolah segera memiliki tenaga staf terlatih untuk mendukung siswa-siswa berkebutuhan khusus.54

Kedua, “bimbingan karier dan konseling” menjadi bagian wajib dalam kurikulum sekolah terpadu di semua sekolah. Ketika itu, diasumsikan bahwa jika siswa-siswa tetap berada di satu sekolah yang sama sepanjang pendidikan wajibnya, mereka memerlukan konseling sistematis tentang pilihan mereka sesudah mereka menyelesaikan sekolah dasar. Bimbingan karier dimaksudkan untuk meminimalkan kemungkinan siswa mengambil pilihan yang tidak tepat menyangkut masa depan mereka. Pada prinsipnya, siswa memiliki tiga pilihan:

melanjutkan di sekolah menengah atas umum, melanjutkan ke sekolah kejuruan, atau mencari kerja. Kedua jenis pendidikan lanjutan atas menawarkan sejumlah pilihan di dalamnya. Bimbingan karier dan konseling segera menjadi landasan dasar di pendidikan lanjutan pertama dan atas, serta menjadi faktor penting ketika menjelaskan rendahnya tingkat tinggal kelas dan drop-out di Finlandia.55 Bimbingan karier juga berperan sebagai jembatan antara pendidikan formal dan dunia kerja. Sebagai bagian dari kurikulum

54Pasi Sahlberg, Finnish Lessons: Mengajar Lebih Sedikit, Belajar Lebih Banyak ala Finlandia, diterjemahkan dari Finnish Lessons: What can the world Learn from Educational Change in Finland? Oleh Ahmad Muchlis, Bandung: Kaifa learning, 2014, Hal. 76.

55 J. Valijarvi & P. Sahlberg, Should “failing” students repeat a grade? Dalam Pasi Sahlberg Finnish Lessons: Mengajar Lebih Sedikit, Belajar Lebih Banyak ala Finlandia, diterjemahkan dari Finnish Lessons: What can the world Learn from Educational Change in Finland? Oleh Ahmad Muchlis, Bandung: Kaifa learning, 2014, Hal. 77.

bimbingan karier keseluruhan, setiap siswa peruskoulu menghabiskan waktu dua minggu di tempat kerja terpilih.

Ketiga, peruskoulu yang baru mengharuskan guru-guru yang sebelumnya bekerja di sekolah yang sagat berbeda, yaitu sekolah grammer yang akademik dan civic school yang berorientasi kerja, untuk mulai bekerja di sekolah yang sama dengan siswa-siswa yang kemampuannya beragam.

Seperti yang dijelaskan Profesor Jouni Valijarvi, reformasi sekolah terpadu bukan hanya perubahan organisasi, juga filosofi baru pendidikan bagi sekolah-sekolah Finlandia. Filosofi ini mencakup kepercayaan bahwa:56

1. semua siswa dapat belajar jika mereka diberi kesempatan dan dukungan yang tepat;

2. pemahaman akan dan belajar melalui keragaman umat manusia adalah suatu tujuan penting pendidikan; dan

3. sekolah seharusnya berfungsi sebagai demokrasi skala kecil, seperti yang telah diyakini John Dewey berpuluh-puluh tahun sebelumnya.

Oleh karena itu, peruskoulu yang baru menuntut guru untuk:

1. menggunakan metode pembelajaran alternatif,

2. merancang lingkungan pembelajaran yang memungkinkan pembelajaran berbeda (differentiated learning) untuk siswa yang berbeda-beda, dan

3. memahami bahwa keguruan adalah profesi tingkat tinggi.

Tuntutan-tuntutan itu membawa kepada reformasi pendidikan guru secara besar-besaran pada 1979: undang-undang baru tentang pendidikan guru, penekanan pada pengembangan profesional, dan fokus pada pendidikan guru yang berbasis riset.

Satu konsekuensi nyata lain dari lahirnya peruskoulu adalah perluasan cepat “pendidikan menengah atas”. Para orangtua mengharapkan anak-anak mereka untuk melanjutkan studi, sedangkan pemuda-pemuda Finlandia sendiri juga berharap untuk sampai ke tingkat pengembangan diri yang lebih tinggi.

Sekarang kita lihat bagaimana pendidikan menengah atas menyediakan jalan pada peningkatan modal manusia di Finlandia. Gagasan pokok peruskoulu adalah: “menyatukan sekolah grammar, civic school, dan sekolah dasar menjadi sekolah kota terpadu sembilan tahun. Semua siswa, tanpa memandang domisili, latar belakang sosial ekonomi, dan minatnya, akan masuk ke sekolah dasar sembilan tahun yang sama yang dikelola otoritas pendidikan lokal.”

Prinsip pokok kebijakan reformasi sekolah terpadu Finlandia pada 1970-an, adalah “menyediakan kesempatan pendidikan yang sama bagi semua warga”. Ini juga mencakup gagasan bahwa prestasi siswa harus terdistribusi merata ke lintas kelompok sosial dan wilayah geografis. Memang benar bahwa

56 J. Valijarvi, Miten hyvinvointi taataan tulevaisuudessakin? (Bagaimana menjamin kesejahteraan di masa depan?). Dalam M. Suartomo, H. Laaksola, & J. Valijarvi, Opettajan vuosi 2008-2009 (Tahun Guru 2008-2009), Jyvaskyla: PS-kustannus, 2008, hal. 55-64.

sejak lama Finlandia homogen secara etnis. Namun, sejak bergabung dengan Uni Eropa pada 1995, keberagaman (diversification) kultur dan etnis Finlandia telah berkembang lebih pesat daripada di negara-negara Uni Eropa lainnya, khususnya di distrik-distrik dan sekolah-sekolah kota besar, tempat proporsi populasi imigran generasi pertama dan kedua mencapai seperempat populasi total.

Sekolah-sekolah Finlandia harus menyesuikan diri dengan perubahan situasi tersebut dalam waktu yang sangat singkat. Sebagai konsekuensinya, beberapa kota memberlakukan pembatasan pada proporsi siswa imigran di setiap sekolah untuk menghindari pemisahan berdasar SARA (segregation).

Sebagai contoh, di Kota Espoo ada sekolah dengan lebih dari 40% populasi siswa imigran, sementara sekolah lain praktis tidak ada. Otoritas kota percaya bahwa distribusi lebih merata siswa imigran di sekolah-sekolah mereka akan bermanfaat bagi siswa dan sekolah kedua-duanya. Namun, kepala-kepala sekolah meragukan kebijakan yang memaksa itu serta dampaknya kepada komunitas. Di sekolah-sekolah terpadu di Helsinki, proporsi anak-anak imigran mendekati 10% dan bahasa yang digunakan di sekolah-sekolah itu berjumlah 40. Kecenderungan ini tampak nyata di semua kota utama Finlandia.

Sistem pendidikan Finlandia mengikuti prinsip inklusi dalam hal perlakuan kepada siswa dengan karakteristik dan kebutuhan yang berbeda.

Siswa ditempatkan di sekolah reguler, kecuali ada alasan spesifik untuk melakukan selain itu. Oleh karena itu, di umumnya ruang kelas Finlandia, ditemukan guru yang mengajar siswa dengan kemampuan, minat, dan dan etnis berbeda, sering sekali dengan bantuan guru-guru asisten. Meningkatnya keragaman di sekolah-sekolah Finlandia juga menyiratkan variansi pada prestasi siswa dalam sekolah bisa meningkat juga. Heterogenitas kultural dalam masyarakat Finlandia menyiratkan bahwa variansi pembelajaran siswa antar sekolah bisa makin melebar. Akan tetapi, kinerja siswa secara keseluruhan yang sangat tinggi dalam sains, matematika, dan membaca terdistribusi merata di seluruh sekolah di Finlandia.

Situasi sosiokultural Finlandia, yang mengalami keberagaman yang cepat pada sekolah dan komunitasnya, memberikan kasus menarik untuk diteliti. Profesor jarkko hautamaki mempelajari pengaruh peningkatan imigrasi pada pembelajaran siswa di sekolah. Dua temuan menarik pun muncul.

Pertama, berdasarkan data PISA, siswa imigran di sekolah-sekolah Finlandia tampaknya secara signifikan memiliki prestasi yang lebih baik pada PISA sebelum 2009 daripada siswa imigran di banyak negara lainnya. Siswa imigran di sekolah-sekolah Finlandia mencapai nilai rata-rata 50 angka lebih tinggi daripada rekan-rekan mereka di negara-negara lain. Kedua, menurut studi yang sama, tampaknya ada ambang batas proporsi siswa imigran per kelas, dengan prestasi belajar semua siswa di kelas itu mulai menurun. Di Helsinki, proporsi

siswa imigran yang dampak keragamannya terhadap prestasi siswa dapat diamati adalah sekitar 29%.

Kemiskinan adalah faktor sulit yang memengaruhi pengajaran dan pembelajaran di sekolah. Kemiskinan anak dapat didefinisikan sebagai presentase anak yang tinggal di rumah tangga dengan penghasilan di bawah 50% dari rata-rata nasional. Menurut Pusat Penelitian Innocenti UNICEF, 3,4% anak-anak Finlandia hidup dalam kemiskinan menurut definisi ini. Ini adalah tingkat kemiskinan anak terkecil setelah Denmark (2, 4%). Di Amerika Serikat dan Kanada, berturut-turut 21, 7% dan 13, 6% anak-anak hidup dalam kemiskinan.57Sistem pendidikan Finlandia yang berkeadilan adalah hasil dari perhatian sistematis kepada keadilan sosial dan intervensi dini untuk menolong mereka yang berkebutuhan khusus, serta saling pengaruh yang erat antara pendidikan dan sektor-sektor lain-khususnya sektor-sektor kesehatan dan sosial dalam masyarakat Finlandia. Penting untuk dipahami bagaimana tingkat prestasi siswa telah meningkat secara berkesinambungan dan variansi prestasi siswa telah menurun, sementara masyarakat Finlandia telah menjadi lebih beragam secara kultural dan lebih kompleks secara sosial. Dengan kata lai, Finlandia telah mencapai keberhasilan dalam menciptakan peningkatan keadilan melalui peningkatan keragaman etnis dan kultural dalam masyarakatnya.