• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anak tidak hanya terdiri dari komponen jiwa atau hati, tapi lebih dari itu, komponen pembentukan kepribadian anak tidak terlepas dari fisik. Fisik memberikan andil dalam pembentukan kepribadian anak, dengan fisik yang prima seorang anak akan mampu berpikir dan beraktivitas dengan lebih baik. Sementara anak yang memiliki fisik kurang sehat mencirikan bahwa anak tersebut tidak mampu menjaga pola hidup secara sehat dan islami, atau bisa jadi anak tersebut telah terjebak dengan pola hidup modern seperti pergaulan bebas atau menggunakan narkoba.

Fisik yang prima dibutuhkan bagi anak dan dengan pola pemberian makan yang baik serta sumber yang baik menurut Islam yaitu halal dan thoyyibah akan ikut membantu pembentukan fisik yang sehat jasmani dan berimbas kepada pola pikir dan ruhani menjadi lebih sehat dan bersih dalam berpikir. Karena itu juga Abdullah Nashih Ulwan memberikan beberapa pendidikan fisik yang perlu diperhatikan oleh para orang tua

196 Abdullah Nashih Ulwan. 2015. Loc.Cit. hlm : 127

dalam mendidik fisik anaknya sebagai salah satu elemen pembentuk kepribadian dan hidup anak. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan terkait dengan pendidikan fisik menurut Abdullah Nashih Ulwan adalah sebagai berikut :

a. Memberikan Nafkah kepada Keluarga dan Anak

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 233 sebagai berikut :197

…













Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut.

Secara etimologis, nafkah berasal dari bahasa Arab yang diambil dari kata ﻖﺎﻔﻨﺇ - ﻖﻔﻨﻳ - ﻖﻔﻨﺃ , yang berarti ﺝﺍﺭﺨﺇ yakni pengeluaran. Kata infaq ini tidak digunakan kecuali dalam hal kebaikan. Sedangkan secara terminologis nafkah adalah segala bentuk perbelanjaan manusia terhadap dirinya dan keluarganya dari makanan, pakaian dan tempat tinggal.198

Abdullah Nashih Ulwan menegaskan bahwa seorang ayah yang memberikan nafkah untuk keluarganya ia akan mendapatkan pahala besar dari Allah SWT. Sebaliknya jika ia enggan memberikan nafkah kepada anak-anak dan keluarga sedangkan dirinya memiliki

197 Kementerian Agama RI. 2011. Loc.Cit. hlm : 38

198 Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syatha Dimyathi, I’anah at-Talibin. (Beirut: Dar al-Fikr.

2003). hlm.: 60

kemampuan maka ia akan mendapatkan dosa yang besar pula dari Allah SWT.199

Pernyataan tersebut memberikan pemahaman bahwa orang tua terutama ayah memiliki kewajiban yang tinggi dan utama dalam mencari nafkah serta memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Ayah berperan besar terhadap kelangsungngan nafkah yang diberikan kepada seluruh anggota keluarga terutama anak-anaknya. Karena hal tersebut merupakan tugas utama yang diberikan kepada seorang ayah dalam keluarga dan sebagai manipestasi dari jabatan yang diberikan kepadanya sebagai kepala keluarga.

Sehubungan dengan pemberian nafkah yang ditunaikan oleh seorang ayah, maka memperhatikan kehalalan makanan yang diberikan harus menjadi perhatian terpenting dalam hal ini. Makanan yang halal dan baik adalah makanan yang bukan berupa zat yang diharamkan agama, tidak bersumber atau bercampur dengan sesuatu yang tidak diperkenankan oleh agama untuk dikonsumsi, diperoleh dengan cara yang benar menurut agama, tidak syubhat dan sesuai dengan pola makanan sehat.

Sementara itu Imam Ghazali memberikan klasifikasi syubhat, yaitu :200

1) Syubhat karena datangnya keraguan pada status sebab yang menghalalkan sesuatu atau mengharamkannya.

199 Abdullah Nashih Ulwan. 2015. Loc.Cit. hlm.: 163

200 Muhammad al-Ghazaly. 1995. Ihya’u ‘Ulum al-Din. Juz II. (Mesir : Dar al-Fikr). Hal. 88

2) Syubhat karena percampuran antara zat yang halal dan yang haram.

3) Syubhat karena adanya kontaminasi sebab yang menghalalkan dengan perbuatan maksiat.

4) Syubhat karena adanya dua dalil yang menyatakan kehalalan sesuatu namun bertolak belakangan satu sama lain dan tidak bisa dilakukan.

Demikianlah Islam memberikan perhatian yang begitu besar terhadap makanan yang masuk dalam rongga mulut seorang anak kemudian mengalir dalam pencernaannya dan menjadi darah serta membentuk sel-sel tubuh yang lainnya. Makanan halal yang mengalir akan memberikan pengaruh besar terhadap perilaku dan sikap anak dalam pergaulan sehari-hari. Pernyataan ini sangatlah ilmiah, karena darah yang mengalir dalam tubuh adalah darah yang bersih, maka secara tidak langsung akan memberikan energi positif dalam diri dan fisik seorang anak.

b. Menjaga Diri dari Penyakit Menular

Menjaga diri dari penyakit bermakna mencegah dan mengobati penyakit jika terserang wabah atau suatu penyakit. Mencegah dapat dilakukan semenjak dini yaitu dengan melakukan pola hidup yang sehat sesuai dengan panduan dari kesehatan secara umum dan juga pola hidup sehat yang telah banyak diterapkan dalam Islam. Adapun ketika seseorang terkena penyakit, maka kewajiban seorang muslim

adalah mengobati penyakit tersebut dengan berupaya untuk mencari kesembuhan dari berbagai obat yang diperbolehkan dan dihalalkan oleh Allah SWT.Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari dalam Shahihnya bahwa Rasulullah SAW bersabda :

دسلاا نم كرارف موذلمجا نم رف

Artinya :

Larilah dari penyakit kusta sebagaimana larinya engkau dari kejaran singa.201

Di dalam Shahihain dari Abu Hurairah r.a. Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :202

حصم ىلع ضرمم ندرويلا

Artinya :

Janganlah sekali-kali orang yang sakit itu mendatangi orang yang sehat.

Abdullah Nashih Ulwan menjelaskan hadits tersebut bahwa wajib atas seorang pendidik (terlebih para ibu) apabila di antara anak-anaknya ada yang terserang penyakit menular, hendaknya memisahkannya dengan anaknya yang lain yang sehat. Sehingga penyakit tidak menyebar dan wabah bisa tercegah.203

Selain itu berobat jika terkena penyakit merupakan keharusan dalam Islam. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Musnad Imam Ahmad, Sunan At-Tirmidzi, dan selainnya. Usamah bin Syuraik

201 Abdullah Nashih Ulwan. 2015. Loc.,Cit. Hal. : 166

202 Ibid., hlm. : 166

203 Ibid., hlm. 166-167

berkata, “Aku sedang berada di sisi Nabi SAW kemudian datang seorang Arab dusun. Ia berkata, “Wahai Rasulullah apakah kami harus berobat?” Kemudian beliau menjawab :204

اووادت للها دابع اي معن ,

هل عضو لاا ءاد عضي لم لجو زع للها ناف

ءافش , دحاو ءاد يرغ .

Artinya :

Ya, wahai hamba Allah, berobatlah. Sesungguhnya Allah SWT tidaklah meletakkan suatu penyakit kecuali juga dia berikan obatnya, kecuali hanya satu penyakit.

Pandangan Abdullah Nashih Ulwan terkait dengan berobat sebagai upaya untuk menjaga diri dari penyakit menular adalah suatu hal yang sifatnya harus dilaksanakan bahkan bisa jadi itu mendekati wajib karena pentingnya kesehatan fisik dalam hidup seorang muslim. Ketika terserang penyakit, seorang muslim tidak bisa berdiam diri begitu saja menghadapi penyakit tersebut, karena sebagaimana hadits yang telah disebutkan diatas menunjukkan bahwa penyakit yang berkembang dewasa ini sesungguhnya telah diberikan solusinya oleh Allah SWT, hanya saja manusia belum maksimal dalam menemukan obat tersebut. Menjaga diri dan berobat dari penyakit adalah dua hal yang harus sejalan demi menjaga kesehatan fisik.

c. Membiasakan Anak Berolahraga dan Menaiki Tunggangan

204 Ibid., hlm. 167

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 60

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan...”

Begitu pula sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :206

فيعضلا نمؤلما نم للها لىا بحأو يرخ ىوقلا نمؤلما

Artinya :

Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah

Perspektif Abdullah Nashih Ulwan tentang seorang muslim yang kuat tidak hanya kepada ruhani dan intelektualnya saja, tetapi juga kepada jasmani.207 Karena itu Islam mengajak setiap muslim untuk memelihara kebugaran fisik dengan melakukan berbagai aktivitas fisik yang memberikan dampak kesehatan secara positif.

Olahraga adalah segala kegiatan yang sistematis untuk mendorong, membina, serta mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial.208 Olahraga tidak hanya baik untuk fisik saja, tetapi juga baik untuk rohani dan hubungan sosial.

Ajaran Islam ternyata begitu lengkap dan sempurna. Bahkan olahraga saja ternyata dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW

205 Kementerian Agama RI. 2011. Loc.,Cit. Hal. 185

206 Abdullah Nasih Ulwan. 2015. Loc.,Cit. Hal: 168

207 Ibid., hlm. : 169

208 Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 3 Tahun 2005 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional, dalam bentuk PDF didownload dari http://www.pendidikandiy.

go.id/file/uu/uu_3_2005.pdf pada 15 Mei 2016 jam 10.39 Wib

seperti olahraga berenang, memanah, berlari, berkuda, bergulat, dan sebagainya. Jadi ummat Islam jangan malas berolahraga. Olahraga bertujuan untuk menjadikan manusia sehat dan kuat. Dalam Islam, sehat dipandang sebagai nikmat kedua terbaik setelah Iman. Selain itu, banyak ibadah dalam Islam membutuhkan tubuh yang kuat seperti shalat, puasa, haji, dan juga jihad.209

Beberapa Nabi seperti Musa terkenal kuat. Sehingga saat memukul seseorang, hanya dengan satu pukulan saja orang tersebut tewas. Sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur’an surat Al-Qashsash ayat 26 berikut :210

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya".

Bahkan Nabi Muhammad diriwayatkan beberapa kali bergulat dengan seorang yang terkenal kuat, yaitu Rukanah, dan beliau selalu menang. Hal ini menunjukkan bahwa sekelas Nabi pun, Rasulullah SAW tetap memperhatikan olahraga dalam kehidupannya, karena hal tersebut secara tidak langsung akan mendukung kesehatan jiwa

209 Nasaruddin Umar, “Nabi Sebagai Atlet” dalam www.pelitaonline.com diakses pada 3 Maret 2016 jam 13.04 Wib.

210 Kementerian Agama RI. 2011. Loc.,Cit hlm. 389.

dan kesehatan mental secara lebih luas. Orang yang memiliki fisik yang prima akan melahirkan pemikiran dan jiwa yang jernih setelah terlebih dahulu ditempa dengan wawasan dan intelektual yang memadai.211

Dokumen terkait