A. Landasan Teori Terkait Variabel Penelitian
2. Pendidikan
a. Pengertian Pendidikan
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan, pendidikan didefiniskan sebagai usaha yang telah direncanakan untuk menciptakan suasana dan proses belajar yang bertujuan supaya peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya secara aktif sehingga terciptanya peserta didik yang memiliki kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang baik yang nantinya akan berguna di masa mendatang.
Tilak (2003) menyatakan bahwa pendidikan yang lebih tinggi memiliki peran yang sangat signifikan dalam banyak hal, diantaranya dalam pengembangan masyarakat sehingga akan berpengaruh terhadap pembangunan ekonomi, pembangunan manusia, peningkatan harapan hidup, dan pengurangan kemiskinan.
Pendidikan adalah segala sesuatu dalam kehidupan yang memengaruhi pembentukan berpikir dan bertindak individu. Pendidikan merupakan investasi modal manusia yang sangat penting. Dimana modal tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktifitas manusia. Manusia yang memiliki produktivitas yang tinggi akan merubah suatu negara menjadi lebih baik. Pendidikan merupakan peran yang sangat penting dalam membentuk kemampuan sebuah negara untuk menyerap teknologi
modern serta untuk mengembangkan kapasitas sehingga terciptanya pertumbuhan dan pembangunan yang berkelanjutan (Todaro, 2004).
Pendidikan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan pembangunan berkelanjutan. Hal ini disebabkan karena pendidikan adalah investasi yang sangat penting dan menjadi kunci dalam membentuk kemampuan suatu negara. Jika pendidikan suatu bangsa tidak berkembang dengan baik maka pembangunan suatu negara tersebut akan terganggu. Hal itu terjadi dikarenakan tidak terdapatnya sumber daya yang berkualitas untuk menunjang pembangunan suatu bangsa. Oleh karena itu sumber daya yang berkualitas sangat berperan penting untuk mendorong pembangunan yang berkelanjutan.
b. Teori Pendidikan
Teori pendidikan yang digunakan adalah teori Mankiw. Teori ini memiliki teori khusus mengenai tenaga kerja pada tingkat perguruan tinggi. Perguruan tinggi memproduksi faktor produksi dengan ilmu pengetahuan yang ada. Seorang angkatan kerja yang memiliki pendidikan sampai ke perguruan tinggi dan bekerja di suatu perusahaan akan memiliki kapabilitas dalam mengembangkan industri. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan yang ia dapat di perguruan tinggi yakni sebagai suatu cara untuk meningkatkan output. Output yang meningkat itu nantinya akan berdampak pada peningkatan jumlah orang yang bekerja dalam suatu perusahaan. Dalam hal ini, perguruan tinggi,
angkatan kerja, dan perusahaan industri memiliki hubungan yang saling menguntungkan satu dengan yang lainnya.
c. Jalur Pendidikan
Pemerintah Indonesia ngeluarkan kebijakan dibidang pendidikan, antara lain seluruh warga Indonesia harus mengikuti program wajib belajar selama 9 tahun. Tujuannya adalah agar para pelajar mendapatkan ilmu yang cukup sehingga ilmu tersebut menjadi dasar atau bekal pada saat nantinya mencari pekerjaan.Menurut Tirtarahardja dan Sulo (2005) pendidikan merupakan tempat penyiapan tenaga kerja dimana di dalamnya terdapat kegiatan membimbing peserta didik sehingga peserta didik mendapatkan bekal dasar untuk bekerja nantinya.
Jalur pendidikan di Indonesia ada 4, yakni meliputi:
1. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Meliputi SD/MI/sederajat, SMP/MTs/sederajat, SMA/MA/sederajat.
2. Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doctor yang diselenggarakan oleh
pendidikan tinggi.
3. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal. Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga
masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal
4. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dimana kegiatan belajar mengajar dilakukan secara mandiri. Hasil pendidikan informal ini diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal apabila peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.
d. Indikator Pendidikan
Terdapat beberapa indikator pendidikan menurut Badan Pusat Statistik (BPS), antara lain:
1) Harapan Lama Sekolah (HLS)
Harapan Lama Sekolah adalah tahun lamanya sekolah yang diharapkan oleh seorang anak pada umur tertentu di masa mendatang. Dapat dikatakan bahwa harapan lama sekolah merupakan total tahun lamanya sekolah yang diharapkan dapat ditempuh dan dirasakan oleh seseorang. Kondisi pembangunan sistem pendidikan di Indonesia dapat diketahui dengan cara melihat nilai harapan lama sekolah yang dihitung pada usia 7 tahun ke atas.
2) Rata-Rata Lama Sekolah (RLS)
Rata-rata lama sekolah adalah total tahun pendidikan formal yang telah ditempuh oleh penduduk yang berusia 25 tahun ke atas. Penghitungan
RLS pada usia 25 tahun ke atas mengikuti standar internasional yang digunakan oleh UNDP. Rata-rata lama sekolah dapat digunakan untuk melihat kualitas penduduk dalam hal menempuh pendidikan formal.
3) Angka Partisipasi Murni (APM)
Angka partisipasi murni adalah persentase siswa satu kelompok umur tertentu yang bersekolah sesuai dengan kelompok umurnya. Angka partisipasi murni dapat dilihat dengan cara membagi jumlah siswa kelompok umur tertentu yang bersekolah dengan jumlah penduduk yang berusia sesuai dengan jenjang sekolah yang dihitung.
4) Angka Partisipasi Kasar (APK)
Angka Partisipasi Kasar merupakan proporsi anak sekolah di suatu jenjang dalam kelompok usia yang sesuai dengan jenjang pendidikan yang ditempuh. Angka Partisipasi Kasar dihitung dengan cara membagi jumlah penduduk yang bersekolah tanpa mempermasalahkan umur di suatu jenjang dengan jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tersebut. Angka Partisipasi Kasar menunjukkan tingkat partisipasi secara umum di suatu jenjang pendidikan.
5) Angka Partisipasi Sekolah (APS)
Angka partisipasi sekolah adalah rasio anak yang sekolah pada kelompok umur tertentu terhadap jumlah penduduk pada kelompok umur yang sama. Angka partisipasi sekolah bertujuan untuk melihat akses pendidikan pada penduduk usia sekolah. Nilai Angka partisipasi sekolah
yang semakin tinggi memiliki makna bahwa semakin besar penduduk yang memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan. Sebaliknya, semakin rendah nilai APS makan semakin kecil pula kesempatan penduduk untuk menempuh pendidikan.