• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN LINGKUNGAN dari HULU hingga HILIR

Dalam dokumen Majalah PESAN DARI ALAM docx (Halaman 32-35)

S

aat liburan sekolah tiba, adalah waktu yang tepat untuk memberikan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) kepada siswa sekolah atau buah hati. Hal itu perlu diberikan, untuk mengenalkan

lingkungan yang ada di sekitar kita, terutama mengenai hal hal yang

dimanfaatkan setiap hari, seperri makanan, air dan perabot rumah tangga, yang setiap hari digunakan di lingkungan keluarga.

pendidikan

LINGKUNGAN

Suatu pertanyaan kecil bagi anak-anak perkotaan yang jarang bersentuhan dengan alam, dan melihat secara langsung ke alam dengan beranekaragamnya sumber daya alam yang dimanfaatkan oleh manusia setiap harinya.

Oleh karena itu pengenalan alam dan beragamnya kehidupan, sangatlah penting bagi anak-anak agar memahami sumber daya alam yang kita manfaatkan.

Saya pernah menjadi fasilitator PLH, di sebuah sekolah yang mahal dan isinya anak-anak orang yang berpunya. Ketika saya berikan pelajaran tentang penghematan mulai dari air, listrik ataupun Ada anak kawan saya yang tidak tahu

asal muasal makanan yang ia makan. Mereka hanya tahu, makan, minum dan menggunakan, sehingga kesadaran akan penghematan dan atau pemanfaatan sumber daya alam belum paham.

Pernah suatu ketika anak tersebut bertanya kepada bapaknya. “Pak, makanan yang kita makan sehari hari itu, dari pabrik ya Pak’. Dan bapaknya mengiyakan. “Kalau pabrik mie membuatnya dari terigu, dicetak panjang-panjang. “Nah kalau beras, dicetak kecil kecil ya Pak”. Bapaknya tersenyum, dan mulai menjelaskan tentang “tanaman yang menghasilkan padi yang kemudian digiling menjadi beras”.

kebersihan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya, ternyata sangat sulit dan memerlukan waktu untuk sebuah proses penyadartahuan. Ada anak yang menjawab “bapak saya orang kaya, bisa membayar berapapun untuk listrik dan air. Dan keluarga saya mempunyai banyak pembantu untuk mengurus kebersihan, membuang sampah”.

Namun setelah diberikan penjelasan tentang keterbatasan sumber daya alam yang ada, lama kelamaan anak-anak itu menyadari, bahwa “pelestarian” atau “penghematan”, sangat diperlukan, salah satu caranya adalah dengan mengajak mereka belajar melihat kehidupan dari hulu sampai ke hilir.

Mulai dari hulu misalnya, diajak melihat tetes tetes air yang keluar dari perakaran, dimana pepohonan sebagai penyimpan air saat hujan turun. Tetesan air dari mata air itu berkumpul menjadi aliran sungai kecil di daerah mata air, kemudian bersatu menjadi sungai dan mengalir.

Ambil contoh sungai Bekasi, di daerah hulu dengan mata air yang jernih, bisa langsung

diminum. Kemudian mengalir ke sungai, di tengah perjalanan, di permukiman dan perkotaan, mulailah manusia mencemari sungai itu dengan sampah limbah rumahan dan pabrik. Hingga akhirnya siswa itu diajak ke hilir, muara sungai Bekasi, mereka melihat langsung, air yang sudah hitam, karena berbagai zat polutan, baik cair ataupun padat. Tak lupa di setiap titik pengamatan, mengambil sample, untuk dijadikan pembelajaran di sekolah. Dari perjalanan “pendidikan lingkungan dari hulu sampai hilir” ini, mereka dapat menyimpulkan sendiri, bahwa, perjalanan air cukup panjang, mulai dari hujan, dimana air ditangkap oleh pepohonan di hulu sungai, kemudian dikeluarkan sedikit demi sedikit menjadi mata air, dan akhirnya menjadi sungai. Apa jadinya kalau di hulu sungai tidak ada pepohonan? Banjir di musim hujan, dan kekeringan di kala kemarau tiba.

Solusinya saat itu, adalah penanaman pohon yang diusulkan oleh siswa. Tentu tak akan menanam pohon dan memperbaiki lingkungan yang rusak di hulu sana. Namun ada keinginan untuk menanam

pendidikan

LINGKUNGAN

pohon di sekolah atau di lingkungan rumah tangga, merupakan kegiatan yang perlu mendapatkan apresiasi kepada siswa. Masih banyak hal yang dapat dilakukan untuk program penyadartahuan kepada anak-anak kita, ataupun siswa sekolah. Intinya adalah, mereka harus melihat langsung, dan mempraktekannya. Seperti sebuah pepatah Cina mengatakan. “Kalau mereka hanya mendengar, suatu saat akan lupa. Kalau mereka melihat suatu waktu akan ingat. Dan bila mereka melakukan, sampai kapanpun, meraka akan paham.” Kegiatan siswa sekolah dari hulu hingga hilir dapat dikemas dengan berbagai

pelatihan, sehingga mereka dapat mengerti, memahami dan harapannya dapat

mempraktekan.

Sepanjang tahun 2014, sebuah lembaga pendidikan konservasi alam (YAPEKA) mendapatkan kepercayaan untuk

mendampingi sekolah-sekolah yang berada di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung, dari hulu di daerah Cisarua, Bogor, hingga sekolah yang ada di Jakarta Selatan. Kegiatan yang didanai oleh Aqua Peduli ini mendampingi 10 sekolah.

Seiap sekolah, dilingkungan mereka, memiliki isu lingkungan tersendiri. Dari daerah hilir di Pasar Minggu, isu utama adalah masalah sampah yang melimpah di sepanjang sungai. Masalah sampah ini juga dialami oleh siswa yang ada di Depok dan Kota Bogor sampai Wilayah Cipayung dan Cisarua. Namun ada isu tersendiri di sekitar sekolah, diantaranya adalah pembangunan villa pada lereng lereng yang terjal, yang

seharusnya untuk daerah tangkapan hujan. Serta pengambilan batu serta pasir yang berlebihan, sehingga merusak tepian sungai dan mengakibatkan tanah longsor.

Dalam melakukan pendampingan, sekolah- sekolah yang rata-rata terletak di DAS Sungai Ciliwung ini, diarahkan untuk melakukan kegiatan, dan berbuat sesuatu untuk membantu pelestarian alam dan lingkungan.Umumnya kegiatan yang dilakukan adalah penanaman pohon, membuat sumur resapan, membuat lubang resapan (biopori), pengelolaan sampah serta diajarkan untuk berwiraswasta terutama dalam pengelolaan sampah. Mendampingi sekolah, gampang-gampang susah. Kalu sudah mendapatkan “clue”nya maka akan mudah melakukan berbagai kegiatan untuk memberikan motivasi

kepada mereka. Motivasi inilah yang sangat penting dalam melakukan pendidikan lingkungan kepada siswa. Motivasi yang diberikan umumnya adalah kegiatan di luar ruangan, berupa kemah konservasi ataupun ekspedisi ke mata air. Foto-foto oleh Muhtadin dan Fery Padly/Dok YAPEKA

Dalam dokumen Majalah PESAN DARI ALAM docx (Halaman 32-35)

Dokumen terkait