• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Bolton (2015:5) Pendidikan moral sering disebut juga dengan pendidikan karakter yang biasanya berhubungan dengan gambaran pengajaran terhadap anak-anak supaya menjadi warga negara yang beradab dan berbudi baik.

Jenis pelajaran ini termasuk kedalam dua bagian yang berdasarkan kepada pendidikan dan institusi agama yang dalam waktu singkat digunakan oleh masyarakat Negara bagian barat. Tetapi di Jepang pendidikan moral tetap dianggap sebagai pelajaran yang penting hingga saat ini.

Di Jepang pendidikan moral menjadi bagian dalam kegiatan sekolah dan politik. Pendidikan moral diajarkan satu kali dalam seminggu dari tingkat awal sekolah dasar hingga kelas sembilan (kelas 3 Sekolah Menengah Pertama) menggunakan berbagai macam metode pengajaran (biasanya menggunakan buku), dan termasuk kedalam pelajaran umum (ryouiki) bukan sebagai pelajaran akademis (kyouka). Dalam kurun waktu satu tahun, murid Sekolah Dasar di Jepang mempelajari pendidikan moral selama 35 jam dalam 35 kali pertemuan.

Tidak ada tingkatan pada pelajaran ini. Pada umumnya pelajaran moral tingkat Sekolah Dasar berdasarkan pada pelajaran dari kokoro (kokoro kyouiku) diartikan sebagai pelajaran dari hati. Ini melengkapi seluruh pelajaran individu nasional Jepang (zenjin kyouiku), dengan tujuan mendidik seseorang, diri dan hatinya, sebagai pendidikan fisik, mental dan moral. Moral adalah hal yang menjembatani pelajaran bagi semua oranguntuk pendidikan, olahraga, musik, kesenian dan pelajaran akademis.

Kemudian, reformasi atau gerakan pembahruan terhadap pendidikan moral disebut denganIkiru Chikara (Zest for Living) di setujui langsung oleh perdana

menteri ke 56, Koizumi Junichiro. Mengikuti prilaku yang di anggap tidak sesuai dengan kesopanan adalah permasalahan yang timbul pada masa tersebut, yaitu permasalahan dalam pendidikan terutama pendidikan terhadap individu dan pendidikan karakter. Media masa menyatakan bahwa kejadian penyimpangan moral dikarenakan kurangnya pertimbangan moral dan kemampuan berpikir masyarakat. Pada akhirnya kementrian pendidikan mengeluarkan “kertas Putih”

pada tahun itu; ‘kesuksesan diadaptasi dari pelajaran kehidupan dalam bermasyarakat membutuhkan kemampuan berpikir dan bertindak secara individu.

Kemudian di perlukan kemampuan untuk mengidentifikasi masalah, belajar, berpikir, berpendapat dan bertindak sendiri’.

Zest for living (ikiru chikara)ini bertujuan untuk menghasilkan rasa kemanusian yang tinggi dan untuk memahami moral dan etika. Nilai inti yang biasa ada pada pendidikan diperbahrui secara luas untuk identifikasi sebagai pengulangan dari yang terdahulu, ketahanan nasionalisme dan usaha untuk menjaga Jepang yang menolak pengaruh dari budaya internasional, sekaligus pada saat yang bersamaan mempersiapkan anak-anak untuk melaksanakan kegiatan bermoral setiap hari. Perubahan tersebut semakin berkembang dan fokus pada teknologi informasi dan kerjasama international. Pada tahun 2001 pertama kali di perkenalkan buku resmi pendidikan moral oleh Kementrian Pendidikan Jepang yang berjudul kokoro no nooto (buku untuk hati).

Pendidikan moral menjadi penjaga pintu bagi tradisi masyarakat Jepang dan terhadap nilai nilai konservatif, dalam waktu yang bersamaan untuk mempersiapkan anak-anak menghadapi globalisasi. Kementrian Pendidikan secara singkat memperkenalkan kepada publik mengenai jalan keluar yang sesuai dengan

moralitas bangsa Jepang. Ikiru chikara berfokus pada kerjasama internasional dan kecenderungan yang menekankan keunikan Negara Jepang. Sama dengan nilai moral yang menjelaskan maksud dari warisan budaya Jepang dan fokus terhadap kualitas nasional yang positif.

“The aim of moral education is to cultivate morality in virtues such as felling, judgment, attitude and the will activity contribute. This aim should be taken into account when planning all lesson content and school activities to enrich it through deeply integrated, structure and developmental supervision to additionally deepen thinking on autonomous living and consciousness of moral values to anderpin application in real life” National Curriculum (Monbukagakushō, 2008).

Artinya tujuan dari pendidikan moral adalah untuk mengolah moral yang baik seperti perasaan, perilaku dan aktivitas lainnyayang mendukung pendapat tersebut. Tujuan ini seharusnya menjadi tanggungan saat merencanakan semua subjek pelajaran dan kegiatan sekolah yang memperkaya persatuan yang erat, struktur dan perkembangan pengawasan untuk menambah pemikiran lebih dalam pada swatantra hidup dan kesadaran terhadap nilai moral untuk pengaplikasian dalam kehidupan yang sesungguhnya. Di kutip dari Kementrian Pendidikan Jepang pada tahun 2008.

Menurut Bolton (2015 :37-40) Pendidikan moral tersebut terdapat dalam buku Kokoro no Nootoyang diajarkan pada anak tingkat Sekolah Dasar yang mana pada setiap bagian dalam buku tersebut menjadi panduan dalam pendidikan moral yang dibagi menjadi berkaitan dengan diri sendiri, dengan orang lain, berkaitan dengan lingkungan dan berkaitan dengan kehidupan sosial dan bermasyarakat.

Hubungan tersebut membuktikan bahwa arah pembelajaran dalam Kokoro no Nooto memiliki empat pilar yang bertema pendidikan sebagai arahan dalam memberikan teori pembelajaran berdasarkan warna yang terpisah dalam empat bagian, yaitu:

e. Menghargai diri

sendiri (ungu)

f. Menghargai

orang lain (kuning)

g. Menghargai alam

dan keindahan (hijau)

h. Menghargai

kelompok dan komunitasnya (biru)

Setiap subjek pembelajaran memiliki makna perluasan pada setiap jenis-jenis pelajaran moral. Masing-masing bab di bawah ini:

Part 1 – Menghargai diri Sendiri

Bab 1: Mengatur perasaan yang baik setiap hari

Bab 2: Melakukan hal yang harus dilakukan sebagaimana mestinya Bab 3: mengembangkan hal yang kamu pikir baik

Bab 4: patuh dan periang

Tujuan dari keempat subjek pelajaran diatas agar anak-anak perduli pada kesehatan dan keselamatan, berhati-hati terhadap uang dan barang, mempersiapkan diri untuk kehidupan sehari-hari, tidak menjadi egois dan mengatur kehidupan yang baik. Begitu pula dengan kewajiban belajar karena belajar merupakan hal yang harus dilakukan. Kemudian mampu membedakan

antara hal yang baik dan hal yang buruk,menghasilkan suatu hal dengan berpikiran baik. Tidak berbohong ataupun tipu daya, hidup patuh dan periang.

Bagian 2 – Menghargai Orang Lain

Bab 1: menyenangkan dan berkelakuan yang benar Bab 2: kebaikan dengan hati yang hangat

Bab 3: berperilaku baik dengan teman Bab 4: orang-orang yang perduli denganmu

Keempat bab diatas memiliki tujuan agar anak-anak pada tingkat sekolah dasar berkata jujur, menggunakan bahasa yang benar, berhati-hati dan berperilaku baik. Menyenangkan dan menhargai orang-orang tua dan yang muda di sekitar mereka dengan keramahan. Kemudian menolong dan berperilaku baik dengan teman dan berterimakasih kepada orang-orang yang perduli pada mereka.

Bagian 3 – Menghormati alam dan keindahan Bab 1: Menghargai Hidup

Bab 2: Berbuat baik untuk kehidupan Bab 3: Dengan Hati yang Sejuk

Tujuan dari keempat bab diatas yaitu menjadikan hidup menyenangkan, jika memiliki kesulitan tetap hargailah hidup. Berperilaku baik pada alam yang ada disekitarnya, menjaga dan merawat binatang dan tumbuhan dengan kelembutan hati. Sentuhlah hal yang indah, sejukkanlah diri namun tidak merusak.

Bagian 4 – Bersama Dengan Semua Orang Bab 1: Menepati janji dan Tengat Waktu Bab 2: Mengapresiasikan Nilai Pekerjaan Bab 3: Menjadi berguna dalam Keluarga

Bab 4: Bersenang-senang dengan Kegiatan di Sekolah Bab 5: berkasih sayang dengan orang sekampung

Tujuan dari keempat bab diatas adalah menjaga rahasia dan menepati waktu sebelum tengat waktu, berhati-hati dengan fasilitas umum. Mengetahui nilai dari kerja keras bagi semua orang. Menanamkan rasa cinta kepada orangtua dan kakek nenek dengan melakukan pekerjaan rumah dan mengingat bahwa diri berguna bagi rumah tangga. Cintailah guru, jadilah anak yang baik di sekolah dan bersenang-senang dengan kegiatan di sekolah. Cintailah orang-orang asal sekampung dan bersenang-senanglah dengan budaya dan kegiatan sekampung.

Menurut Ueda (2015:7) pada pendidikan tingkat sekolah dasar beberapa hal yang mendasari adanya pendidikan moral berdasarkan kurikulum dan penjelasannya, yaitu:

1. Pendidikan moral mengenai menghargai diri sendiri bertujuan agar murid sekolah dasar menerrapkan pada dirinya sendiri mengenai kedisiplinan, kebebasan, tanggung jawab dan hidup dalam keteraturan. Kemudian murid juga di harapkan mengarahkan memimpin dirinya, memiliki ambisi dan menghargai dirinnya sendiri. Memiliki aspirasi dan keberanian dalam menyampaikan pendapat, mengontrol diri sendiri dan menjadi kuat.

Bersikap adil, jujur dan kreatif.

2. Menghargai orang lain bertujuan untuk menumbuhkan sikap omoiyori( perhatian perseorangan terhadap orang lain) dan berterimakasih.

Diharapkan bertingkah laku baik, berteman, memiliki rasa kepercayaan terhadap orang lain dan mempercayai orang lain. Kemudian saling mengerti dan menolong.

3. Menghargai alam dan keindahan bertujuan untuk menghormati hidup dan perduli terhadap lingkungan. Kemudian kagum dan menghormati keindahan alam serta menikmati hidup dan keindahan alam.

4. Menghargai kelompok dan masyarakat memiliki tujuan untuk taat terhadap hukum serta menjadi warga Negara yang baik, memiliki rasa adil terhadap perdamaian dan perdamaian sosial. Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, mencintai keluarga, berguna bagi keluarga serta mencintai tradisi. Kemudian menghargai tradisi dan budaya serta mencintai Negara dan daerah Jepang lainnya. Mengerti Negara lain serta perdamaian.

Pengertian mengenai kemanusian lebih dari pada sebuah ilmu, tetapi dalam pendidikan moral yang terpenting adalah praktek pendidikan moral tersebut. Pada kegiatan sehari-hari disekolah sudah memiliki kurikulum dalam menentukan kegiatan khusus, biasanya disebut dengan kegiatan sekolah. Termasuk didalamnya perkumpulan kegiatan sekolah, membersihkan dan mempertanggung jawabkan individu maupun kelompok (kakari), yang mana tujuan dari keseluruhan perkembangan dan perkembangan individu berdasarkan keinginan kelompok kegiatan, untuk mengembangan kebebasan diri, mempraktekkan prilaku yang mengarah kepada yang lebih baik terhadap diri sendiri dan kelompok, sertaterhadap kehidupan bermasyarakat, mendalami keperdulian terhadap kehidupan dan memahami kemampuan memenuhi kebutuhan diri sendiri.

Umumnya setiap murid memiliki peranan di dalam kelasnya, seberapa sering ia melakukan tugasnya dalam setahun. Peranan dan tugas tersebut tertempel di dinding kelas. Tugas tersebut di beritahukan oleh wali kelas saat pertemuan kelas. Beberapa contoh dari kakari yaitu:

a. Kelas

Semua murid berpartisipasi dalam membersihkan ruang kelas dan membersihkan di luar kelas sekali dalam satu hari. Ini pertama kali diajarkan pada murid kelas satu dengan beberapa cara yang di beritahukan pada awalnya hanya sebagai masukan atau pendapat guru kepada muridnya.

Guru senantiasa melihat absensi murid-muridnya untuk mengetahui siapa murid yang tidak hadir. Ini pekerjaan yang mudah sejak murid-murid memiliki tempat duduknya sendiri dan name tag. Murid-murid juga di beri fasilitas berupa lemari pakaian pribadi, peralatan gempa (berupa tas dengan berbagai kebutuhan primer saat gempa, buku pelajaran dan kebutuhan lainnya yang sengaja di tinggalkan di dalam loker.

b. Perputaran tugas di kelas

Nichoku adalah memulai dan mengakhiri pertemuan di dalam kelas ataupun di luar kelas dengan salam, saat memulai dan mengakhiri makan siang, dan mengerjakan tugas kelas seperti membersihkan papan tulis, menulis tanggal pada papan tulis dan lain-lain. Pada waktu makan siang, beberapa murid kelas 3 sampai kelas 5 bertugas menyiapkan dan menyajikan makan siang untuk murid-murid lainnya dengan menggunakan baju khusus berwarna putih dan topi. Mereka juga mengumumkan menu pada hari tersebut. 2 orang murid diberi tanggung jawab sebagai pemimpin pada waktu olahraga berlangsung.

c. Pertemuan kelas

Biasanya ada pada awal tahun atau saat pergantian kelas. Setiap kelas memiliki laporan berkala, bermain dengan anak yang sendirian,

belajar mendaur ulang sampah, mengatur permainan saat hujan atau bermain di dalam kelas yang di atur oleh semua murid di dalam kelas, membuat komite muda dalam kelas. Kemudian memberi salam kepada junior pada pagi hari, mempertunjukan hasil karya murid pada dinding pertunjukan, mengganti pesan pada papan pengumuman dan ikut serta dalam acara tahunan atau musiman sekolah.

Dalam pendidikan moral terdapat kebijaksanaan, berlatih dan ilmu mendidik.

Objektivitas dan ilmu mendidik mengenai moral yang menyeluruh memiliki tujuan khusus yaitu memberikan kepercayaan terhadap guru untuk menggabungkan subjek pelajaran moral kedalam pelajaran akademis berdasarkan kurikulum. Kurikulum tersebut memberikan panduan, walaupun bentuknya di bidang pendidikan moral. Di dalam kurikulum terdapat kepercayaan terhadap budaya dan konsep struktur kebudayaan secara menyeluruh (izumi taylor& scoot, 2013). Walau bagaimanapun hal yang paling terpenting dalam pendidikan moral adalah mengusahakan nilai-nilai yang ada pada pelajaran moral bisa dilatih dan di praktekan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan objektifitas, banyak informasi mengenai objek pendidikan moral yaitu anak-anak. Informasi ini menunjukkan pendidikan moral seperti menjauhkan diri dari pemikiran mengenai cara mengajarkan karakter secara spesifik, memberikan pendekatan pada anak-anak secara natural, serta mendiskusikan kemungkinan yang harus di evaluasi mengenai kriteria yang berdasarkan kepada pemikiran mendalam dari nilai yang terkandung dalam pendidikan moral. Umumnya objek yang di tunjuk menginformasikan untuk melakukan diskusi terhadap bagian-bagian yang mempertimbangkan bertingkah

laku, tata kelakuan dan kegigihan. Pada akhirnya pendidikan moral berhubungan dengan tujuan hidup dengan orang lain. Tetapi kejelasan mengenai apakah menganggap orang lain dan bertingkah laku juga bisa dianggap memperluas tujuan pendidikan moral.

Perhatian terhadap orang lain (omoiyori) merupakan kunci utama dari tujuan pendidikan moral. Biasanya tujuan tersebut ditunjukan menggunakan kata dalam bahasa Jepang yaitu omoiyori yang merupakan sebuah konsep dari saling memperhatikan keinginan orang lain. Omoiyori memberi arahan untuk tegas saat memberi respon dan respon keinginan untuk menolong orang lain yang membutuhkan. Dengan alasan tersebut mengharuskan memiliki rasa kasihan dan kecerdasan dalam mengerti apa yang orang lain inginkan, salah satunya memahami keinginan seseorang. Umumnya memahami seseorang lebih dari seseorang yang dianggap istimewa. Ini bisa berdasarkan pemberian, kelonggaran, atau memberikan perhatian kepada hal kecil seperti kecocokan terhadap pilihan orang lain. Di dalam diri harus memiliki sikap memaafkan dan kesabaran, walaupun ketika seseorang benar-benar mengungkapkan omoiyori.

Kelas pendidikan moral berdasarkan rasa empati dan pelajaran sosial menggunakan kesamaan pendekatan mengajar berkontribusi bertujuan untuk pelatihan dalam omoiyori. Bagaimanapun, mengawasi juga merupakan ukuran dalam meningkatkan pengembangan dan berorientasi terhadap orang lain. Dalam pelatihan berempati, berorientasikan kepada orang lain merupakan hal penting sebagai bentuk pendekatan yang saling mengikat dan berkembang menjadi peraturan pada teman sebaya dan orientasi pada kelompok.

Hal lain yang ada dalam pendidikan moral Jepang adalah ketekunan (ganbari). Ketekunan adalah sebuah konsep budaya Jepang yang bermula pada awal tahun dan menjadi pengawasan sekolah. Pendekatan terhadap topik ini mengembangkan kesempatan anak-anak yang menjadi target dan hasilnya kembali kepada mereka. Ada banyak kesempatan pada anak-anak saat perayaan festival dan acara musiman. Tantangan ini meliputi keberanian tampil di dalam kelas dan menghadiri perkumpulan setiap minggu. Seperti presentasi di depan kelas merupakan kunci utamaseseorang menjadi berani memberikan pendapatnya dalam metode pembelajaran. Dalam pelajaran olahraga dan kegiatan lainnya yang membutuhkan waktu yang banyak, diharapkan anak-anak meneruskan kebiasaaan tersebut bahkan menjadi pemikiran secara subjektifnya. Bagaimanapun dorongan semangat untuk menetapkan kriteria seseorang yang sukses terlihat dalam mengarahkan ilmu pembelajaran. Ini lebih darisekedar memberikan dorongan untuk meningkatkan konsep pembelajaran, tetapi juga untuk mengolah apa yang harus dilakukan.

Kemudian dalam pendidikan moral di Jepang tata kelakuan dan bertingkah laku menjadi syarat dalam mengawasi respon objektif. Hal ini sering memberi penjelasan mengenaireigi yang ada dalam perasaan pada saat upacara berlangsung, termasuk didalam etika dan tanggung jawab. Secara langsung tata kelakuan mengikuti perkembangan peraturan atau keputusan dalam kehidupan sosial. Didukung oleh berbagai penjelasan dari beberapa aspek penting yaitu fokus pada tingkah laku sebagai poin utama untuk berhati-hati dalam berprilaku dari segi sosial dan individu, serta membudayakan sikap individual dalam keteraturan dan latihan secara spesifik. Hal tersebut memberi gambaran awal

pendidikan moral sebagai yang terbaik dan yang terburuk. Invidu yang terpadu dalam keharmonisan merupakan praktek moral sangat baik, kemudian belajar berbuat kebajikan merupakan bagian dari pendidikan moral. Reigi dan omoiyori memiliki konsepyang berbeda. Tetapi keduanya akan terlihat dalam memberi dorongan individu untuk bersoial dan memiliki peranan dalam bermasyarakat.

Yang harus di patuhi dalam kemajuan mempelajari pendidikan moral dan setiap hari dalam proses kehidupan yaitu dimanapun berteman dan memiliki hubungan saling keterkaitan antara murid dan guru dalam menyampaikan orientasi terhadap rasa memiliki dan perduli terhadap kelompoknya. Ini juga memberikan penyampaian terhadap posisi dalam kehidupan bermasyarakat, yang mana membantu perkembangan rasa belas kasih terhadap orang-orang, lembaga-lembaga dan peraturan dalam bermasyarakat. Ini bisa menjadi hal yang baik dalam pelayanan publik atau bisa memenuhi kebutuhan masyarakat.

Contoh berikutnya berlatih berterima kasih di dalam kelas. Hal ini sering menjadi perhatian orang tua, teman dan guru terhadap buku cetak professional yang berhubungan dengan pendidikan moral. Bersyukur mungkin menghasilkan kasih sayang dalam berlatih menjalin hubungan antara saudara kandung, lingkungan hirarki ataupun pekerjaan. Jika bersatu dengan rasa hormat terhadap orang yang lebih tua dan rasa hormat dalam bermasyarakat, maka kedua aspek tersebut merupakan reigi.

Diskusi dianggap sebagai cara belajar yang bisa dengan mudah di pahami untuk melatih tingkah laku dan menjelaskan mengenai objek sebagai syarat untuk saling mempertimbangkan dan mengembangkan diri sendiri. Seperti

mendemonstrasikan hasil observasi mengenai pendidikan moral, bahkan ketika berlatih untuk tegas, serta penjelasan mengenai rasa kasih sayang yang abadi.

Dalam prakteknya sebagai contoh saat berdiskusi apa yang telah terjadi di taman. Anak-anak mungkin memiliki rasa empati terhadap orang lain yang menggunakan bangku taman untuk istirahat atau sejenak bersantai, mengikuti aturan untuk tidak bermain disekitar bangku taman atau di atas tempat duduk.

Contoh lainnya diskusi mengenai perasaan orang-orang yang dengan berempati secara natural seperti sulit untuk berbohong, menyimpang dari arti manusiawi, atau melakukan sesuatu yang menyakiti perasaan orang lain.

Pada kebiasaan hidup memiliki tujuan pendidikan moral sebagai aspek dasar yang mempengaruhi tingkah laku merupakan pemikiran yang selalu ada pada awal pendidikan moral di sekolah dasar. Cara dan prosedur pembersihan kelas serta mengucapkan salam biasanya sudah di diskusikan di dalam kelas sebagai salah satu kegiatan sekolah. Adapun hal yang berhubungan dengan nilai kemampuan, terlihat sebagai pelaksana yang mungkin akan mengembangkan budaya mereka yang telah di tentukan dan selalu bepikir secara sistematis.

Menjaga barang agar tetap tersusun rapi merupakan pendidikan moral yang di pelajari saat berada di kelas satu. Mereka mendiskusikan mengenai hal yang harus di atur dan dijaga agar tetap rapi serta meletakkan kembali barang pada tempatnya setelah di gunakan menggunakan contoh yang mudah di mengerti.

Metode pembelajaran ini menggunakan cerita agar anak-anak dengan mudah mempelajari mana yang baik dan mana yang buruk. Contohnya penggunaan karakter seperti hewan yang suka bermain dan berkumpul dengan teman-temannya di luar rumah,yaitu anjing yang ingin mengundang teman-teman-temannya

untuk bermain di dalam rumah tetapi tidak bisa karena merasa malu rumahnya tidak rapi. Cerita tersebut menceritakan mengapa dan bagaimana cara dan agar tetap merapikan barang-barang yang di biasakan terlebih dahulu di dalam kelas.

Sebagai tanda agar anak-anak diajak ikut berpikir bagaimana pendapat mereka mengenai ruangan yang berantakan dan ruangan yang tersusun rapi. Hal ini secara garis besar menjawab ide agar temannya bisa berkunjung ke rumah.

Anak-anak di harapkan mampu berpikir bagaimana cara agar mereka tetap menjaga barang mereka tersusun rapi dan sesuai dengan urutan. Ada juga diskusi mengenai bagaimana makan di tempat yang tepat, dimana anak-anak diberi masukan mengenai apa yang mungkin mereka makan serta kemungkinan lainnya yang harus di lakukan tanpa meja. Guru memberikan contoh makan di tempat yang tepat adalah bagian dari pembelajaran ini.

Bagian dari pendidikan moral yaitu omoiyoridan memiliki hubungan kebaikan dalambertingkah laku sebagai tujuan utama pendidikan moral. Ini memungkinkan bahwa pada sekolah dasar kedepannya moral anak-anak menjadi lebih baik.

Ketika telah banyak tujuan umum mengenai pendidikan moral, banyak informasi yang mengenai pelajaran terhadap bagaimana hidup dengan orang lain.

Tetap pada kesatuan antara sekolah dan masyarakat,ini juga menekankan pada pembelajaran kehidupan setiap hari dan keikutsertaan dalam kegiatan serta aktifitas sekolah. Identitas kelompok juga terlihat pada beberapa reaksi dalam kehidupan orang lain, khususnya referensi dalam kelas atau identitas sekolah.

Pendidikan moral berhubungan erat dengan kemanusiaan dan sangat penting dalam kehidupan bersosial.

Reaksi terhadap pendidikan moral di sekolah dasar terlihat pada hubungan dalam kehidupan sosial. Guru-guru mendeskripsikan bahwa anak-anak di kelas mempelajari bahwa seseorang tidak dapat hidup sendiri dan harus mempercayai orang lain. Termasuk didalamnya kepercayaan, berkolaborasi dan lainnya berhubungan dengan bentuk dasar dari pelayanan publik. Moto sekolah di sekolah dasar sering menjadi pemikiran terhadap kebaikan atau anak-anak yang tumbuh dengan pengetahuan seimbang, moralitas dan ketahanan tubuh (Ueda, 2015:18).

Dokumen terkait