(1) Tiap-tiap warga-negara berhak mendapat pengadjaran.
(2) Pemerintah mengusahakan dan menjelenggarakan satu sis- tim pengadjaran nasional, jang diatur dengan undang- undang.
PENDJELASAN : A jat 1.
Lihat pasal 27.
Ajat 2.
Telah djelas.
TJATA TA N :
a. Materi ini dalam K. RIS 1949 diatur dalam pasal 29, dan dalam UUDS 1950 dalam pasal 30. Dalam banjak hal dapat diambil kesimpulan, bahwa UUDS 1950 merupakan tjakupan dari UUD 1945 dan K. RIS 1949.
b. Misalnja mengenai materi ini, pasal 29 K. RIS 1949 berbunji sebagai b erik u t:
1. M engadjar adalah bebas dengan tidak mengurangi pengawasan penguasa jang dilakukan terhadap itu menurut peraturan- peraturan undang-undang.
2. M emilih pengadjaran jang akan diikuti adalah bebas.
Sedangkan pasal 30 UUDS 1950 berbunji sebagai b e rik u t:
1. T iap-tiap warga-negara berhak mendapat pengadjaran.
2. M em ilih pengadjaran jang akan diikuti, adalah bebas.
3. M engadjar adalah bebas, dengan tidak mengurangi pengawasan penguasa jang dilakukan terhadap itu menurut peraturan undang-undang.
c. Pasal ini m erupakan dasar hukum bagi kewadjiban beladjar dan kewadjiban mengadjar.
75
Pasal 32
I
Pemerintah memadjukan kebudajaan Nasional Indonesia.
PE N D JE L A SA N :
K ebudajaan bangsa ialah kebudajaan ja n g tim bul sebagai buah usaha bu d in ja rakjat Indonesia seluruhnja.
K ebudajaan lama dan asli terdapat sebagai puntjak-puntjak kebudajaan didaerah daerah diseluruh Indonesia, terhitung seba
gai kebudajaan bangsa. Usaha kebudajaan harus m enudju kearah kem adjuan adab, budaja dan persatuan, dengan tidak m enolak bahan-bahan baru dari kebudajaan asing ja n g dapat m emper- kembangkan atau memperkaja kebudajaan bangsa sendiri, serta m em pertinggi deradjat kemanusiaan bangsa Indonesia.
r T J A T A T A N :
M ateri ini dalam -K . RIS 1949 diatur dalam pasal 38 dan dalam UUDS 1950 dalam pasal 40.
BAB XIV
k e s e d j a h t e r a a n SOSIAL Pasal 33
(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
(2) Tjabang-tjabang produksi jang penting bagi Negara dan jang menguasai hadjat hidup orang banjak dikuasai oleh Negara.
(3) Biuni dan air dan kekajaan alam jang terkandung didalam- nja dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar- besar kemakmuran rakjat.
PENDJELASAN :
Dalam pasal 33 tertjantum dasar demokrasi ekonomi. Produksi dikerdjakan oleh semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masjarakat. Kemakmuran masjarakatlah jang diutamakan, bukan kemakmuran orang-seorang. Sebab itu per
ekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Bangun perusahaan jang sesuai dengan itu ialah kooperasi.
Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi, kemakmuran bagi semua orang. Sebab itu tjabang-tjabang produksi jang pen
ting bagi Negara dan jang menguasai hidup orang banjak harus dikuasai oleh Negara. Kalau tidak, tampuk produksi djatuh ketangan orang seorang jang berkuasa dan rakjat jang banjak dilindasnja. H anja perusahaan jang tidak menguasai hadjat hidup orang banjak boleh ada ditangan orang seorang.
Bumi dan air dan kekajaan alam jan g terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakjat. Sebab itu harus dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakjat.
77
T J A T A T A N :
a. Pasal ini bersama pasal-pasal 27 dan 29, adalah pasal-pasal jang merupakan esensialia UUD 1945 jang harus diperhatikan ketika mengubah K . RIS 1949 untuk didjadikan UUDS 1950 (Lihat bersifat m onopoli partikelir jang merugikan ekonom i Nasional.
c. K. RIS 1949 tidak memuat pasal jang sama bunjinja.
d. Idea Negara sesuai dengan konsepsi UUD 1945 (hubungkan pula dengan dasar Negara Pantja Sila dalam Pem bukaan U U D 1945 terutama s ila : Keadilan Sosial), ialah sebuah W elja resta te, ialah sebuah Negara jang aktif berfungsi dalam bid an g-bidan g k em ak - muran dan keadilan sosial. Tudjuan daripada keadilan sosial, ialah kemakmuran bersama. Dengan kata-kata biasa dapatlah dikatakan, bahwa tudjuan Negara Republik Indonesia, ialah suatu
„masjarakat Indonesia jang adil dan makmur” .
Sebagaimana telah diutarakan, maka esensialia UUD 1945 dioper pula oleh UUDS 1950. Djadi berarti bahwa konsepsi Negara menurut UUDS 1950 ialah pula konsepsi Negara „W elfarestate” . Dalam sebuah „W elfarestate” maka Pemerintahlah sebagai
„Penguasa” dan „alat dari Negara” dan sebagai penglaksana kepentingan umum, berwenang dan memimpin rentjana-rentjana ekonom i bagi masjarakat. Untuk m ew udjudkan ini, Pem erintah m em erlukan suatu pola (blueprint) pembangunan semesta, dan karena R epublik Indonesia ialah pula suatu Negara hukum, hendaknja pola pembangunan itu berbentuk undang-undang.
Itulah sebabnja, sehingga telah ditetapkan UU no 80 tahun 1958 tentang „D EW A N PERAN TJANG N A SIO N AL” .
Tugas Dewan Perantjang Nasional (D epernas), ialah m em per- siapkan rantjangan Undang-undang pembangunan Nasional jang berentjana. Bentuk rentjana, ialah suatu rentjana-seimesta (o v e r
allplanning), jakni semua bidang penghidupan dari seluruh tanah air dalam suatu kesatuan rentjana. B idan g-bidan g pen g
hidupan diperintjikan d a la m : kemasjarakatan, kenegaraan, p e r - tanian, ekonom i dan keuangan.
Kedudukan Depernas ialah sebagai pembantu Kabinet.
e. Pada tanggal 22 Djuli 1959 telah ditetapkan Penetapan Presiden RI no 4 tahun 1959 „Untuk menjesuaikan undang-undang no 80 tahun 1958 tentang Dewan Perantjang Nasional” . A.I. di ditentu
kan dalam Penetapan Presiden tersebut, bahwa Ketua, Dewan Perantjang Nasional ad alahjdenteri e x officio (pasal II), (Lihat pula tjatatan dibawah pasal 2 huruf e, pasal 17 huruf d). Adapun susunan Dewan Perantjang Nasional jang dibentuk oleh Presiden RI seperti jang diumumkan oleh Pemerintah pada tanggal 31 D juli 1959, terdiri d a r i:
1 orang Ketua,
3 orang Wakil Ketua, dan
73 orang anggota, jang terdiri d a r i:
22 orang wakil daerah-daerah Swatantra Tingkat ke-1, 5 orarig wakil Golongan Buruh dan Pegawai,
4 orang wakil Golongan Tani,
4 orang wakil Golongan Pengusaha Nasional, 7 orang wakil Golongan Bersendjata, 5 orang wakil Golongan Alim-Ulama
3 orang wakil Angkatan Proklamasi 17-8-1945, 9 orang wakil Tjendekiawan,
2 orang wakil Guru/Pendidikan, 2 orang wakil Seniman,
2 orang, wakil Wartawan, 2 orang wakil Pemuda, 4 orang wakil Wanita dan
2 orang wakil Warga-negara Peranakan.
/. Pasal 27, 29 dan 33 merupakan pasal-pasal „esensialia” dari UUD 1945.
79
Pasal 34
Fakir-miskin dan anak-anak jang terlantar dipelihara oleh negara.
PE N D JE LASA N :
Telah tjukup djelas, lihat diatas.
T J A T A T A N :
Pasal ini adalah sama dengan pasal 39 ajat 2 UUDS 1950 (sedang ajat 1 -n ja mengenai keluarga, adalah sama dengan pasal 37 K . RIS) (Lihat tjatatan pasal 31).
BAB X V
B E N D E R A D A N B A H A S A Pasal 35
Bendera Negara Indonesia ialah Sang Me rah I’ u till.
PENDJELASAN : Telah djelas.
T JA T A TA N :
a. Materi ini diatur dalam pasal 3 ajat 1 dari K. RIS 1949 dan dari UUDS 1950.
b. Mengenai Bendera, Konstituante Bandung sudah pula memutus- kan rumusan pasalnja (Lihat hal. 100).
c. UUD 1945 tidak m em uat pasal tentang Lagu dan Meterai dan Lambang. Hal itu diatur dalam pasal 3 ajat 2 dan 3 K . RIS 1949 dan dari UUDS 1950 (D juga Konstituante Bandung sudah m em - buat rumusan pasal mengenai L agu).
81
Pasal 36