i t r s i i f l s Indonesia - kultas S a s t r a
erpustakaan ■ i
3207
192
U N D A N G - U N D A N G D A S A R 1 9 4 5
M r J. C. T. Simorangkir
Drs B . Mang Reng Say
T E N T A N G DAN SEKI TAR
U N D A N G - U N D A N G DASAR 1945
6 i g 2 -
P E N E R B I T D J A M B A T A N
PERPUSTAKAAN
F A K U L T A S S A S T R A
K A T A P E N D A H U L U A N (pada tjelakan ke-2)
Djika pada bulan M ei 1959 tjetakan ke-1 buku in i kam i b e r i titel :
„ U N D A N G - U N D A N G D A S A R 1945”
DALAM KANTJAH PENETAPAN UNDANG-UNDANG D A S A R TeTA P INDONESIA
maka pada bulan Desember 1959, tjetakan ke-2 in i titel terseb u t kami sesuaikan dengan keadaan dan kam i tetapkan :
TENTANG DAN SEKITAR
„U N D A N G - U N D A N G D A S A R 1945”
Antara tjetakan ke-1 (M e i 1959) dan tjetakan ke-2 (D e s e m ber 1959) terdjadi suatu peristiwa ja n g sangat pentingnja d a la m sedjarah ketata-negaraan N egara R epu blik Indonesia, ja itu :
Dekrit Presiden R epublik In d on esia/P an glim a T ertinggi A n g . katan Perang, ja n g diutjapkan pada hari M in ggu , tanggal 5 D ju l i 1959, pukul 17.00 d i Djakarta. Sebagai akibat daripada D e k rit tersebut, maka titel buku in i berubah, dan ja n g lebih p e n tin g lagi isi dan tjatatan-tjatatan ja n g kam i berikan kam i sesuaikan dengan keadaan, jakni tadinja pandangan ja n g m en u dju kepene- tapan Undang-undang Dasar, sekarang m en d ja d i b erp id ja k p a d a kenjataan Undang-undang Dasar itu sendiri.
Pembukaan U UD 1945, U U D 1945 dan Pendjelasan resm in ja, tanpa perubahan kami muat selengkapnja dalam buku ini. D a la m hal ini kami tandaskan sekali lagi pernjataan kam i dalam Kata Pendahuluan tjetakan ke-1 : ... para penjusun buku k etji]
ini, merasa berkewadjiban, untuk mengemukakan kepada masja- rakat umum, apa sebenarnja jang dimaksud dengan UUD 1945 itu, serta hal-hal jang terdjadi sebelum, sekitar dan* sesudah UUD 1945 itu, walaupun dalam bentuk dan tjara jang sangat sederhana dan ringkas, termasuk Pembukaan UUD 1945” .
Dekrit 5 Djuli 1959 memperkuat perasaan-kewadjiban terse- but ! Dan dalam buku ini kami muat pula hal-hal jang terdjadi sebelum, sekitar dan sesudah Dekrit 5 Djuli 1959 itu, jakni mengenai bahan-bahan jang ada pada kami dan jang kami anggap perlu.
Dengan pengetahuan sebelumnja, bahwa tjetakan ke-3 buku ini dikemudian hari, pasti akan mengalami perubahan, sebagai akibat langsung daripada hidup bertata-negara berdasarkan UUDS 1950, jang diubah mendjadi berdasarkan UUD 1945, maka pada saat ini kami persembahkanlah buku ketjil dalam bentuk sematjam ini, kehadapan para pembatja jang kami hormati.
Djakarta, Augustus 1959 M r J. C. T. Simo'rangkir Drs B. Mang Reng Say
VII
K A T A P E N D A H U L U A N (pada tjetakan ke-I)
Dalarn sidangnja pada hari Kemis, tanggal 19 Pebruari 1 9 5 9 , Dewan Menteri (KabinetJ R epublik Indonesia telah m erig a m b i]
kesimpulan dengan suara bulat mengenai ,,pelaksanaan d e m o k ra si terpimpin dalam rangka kembali ke Undang-Undang D a s a i
1945” .
Keputusan tsb telah disetudjui oleh Presiden R epublik I n d o nesia, sebagaimana dinjatakan dalam p id a to n ja pada a c h i i Seminar Pantja Sila pada tanggal 20 P ebruari 1959 di J o g ja k a r t a .
Mengingat suara-suara ja n g diperdengarkan melalui p e r s Indonesia, radio, dsb oleh berbagai partai dan golongan d a la n i masjarak i Indonesia, jan g mem berikan dukungannja p a d a keputusan tsb walaupun dengan pengertiannja m a sin g -m a sin g dan dalam suasana pembentukan U ndang-undang Dasar T e t a p oleh Konstituante Bandung, maka, dengan m em p ertim b an gk a n keseluruhan jan g disebut diatas, para penjusun buku k etjil i n j merasa berkewadjiban untuk mengemukakan kepada m a sja ra k a t umura. apa sebenarnja jang dimaksud dengan U nd an g-un d an g Dasar 1945 ilu serta hal-hal ja n g terdjadi sebelum. sekitar d a n sesudah Undang-undang Dasar 1945 itu, walaupun dalam b e n tu k dan tjara jang sangat sederhana dan lingkas. termasuk P ern (ju . kaan Undang-undang Dasar 1945.
Sebagai pedoman utama kami pergunakan teks ja n g d in iu at dalam Berita Republik Indonesia tahun II N o 7 ja n g kami b a n - dingkan dengan terbitan (resmi atau tidak) lainnja, hal n ian a inenurut faham kami inerupakan salu-satunja tjara ja n g d a p a t dipertanggung-djawabkan, baik terhadap mei'eka ja n g telah mendahului kita dalam perdjuangan meinpertahankannja, >naupUll terhadap mereka sesudah generasi sekarang ini.
Edjaannja, dengan sama sekali tidak mengubahi isinja, kamj sesuaikan dengan edjaan Indonesia baru (oe — u ).
Pi a g a m Dj a k a r t a jang terkenal itu (22 Djuni 1945), sebagai suatu dokumen historis, jang sebagai kenjataan tidak dapat disangkal oleh siapapun djuga dan jang mendahului Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, kami muat djuga dalam keseluruhannj a.
Susunan anggota Pa n i t i a Pe r s i a p a n Ke m e r d e k a a n In d o n e s i a
dan mereka jang menanda-tangani Piagam Djakarta, nama- namanja kami muat pula dalam buku ketjil ini, dengan men- djundjung tinggi djasa mereka, jang telah ikut setjara langsung dan aktif dalam penjusunan rumusan kalimat-kalimat jang ber- sedjarah, jang memberi arah kepada perdjuangan bangsa Indo
nesia dalam mentjapai kemerdekaannja.
Pe n d j e l a s a n sesudah beberapa pasal tertentu, adalah p e n d j c - lasan resmi jang kami ambil dari sumbernja, jaitu Berita Republik Indonesia tsb diatas.
Tj a t a t a n jang kami, para penjusun, berikan dibelakang tiap- tiap pasal, adalah sekedar sebagai bahan perbandingan dengan pasal-pasal dari UUD lainnja, jang sudah pernah dimiliki oleh Bangsa Indonesia, dan dengan Hasil Karya Konstituante Bandung, jang kami muat pula dalam buku ini.
Disana-sini kami kemukakan pula beberapa pandangan jang bersifat objektif, sebagai sumbangan fikiran, berdasarkan penge- tahuan jang ada pada kami, jang melalui djalan ini, dengan rela dan ichlas, kami persembahkan kepada masjarakat Indonesia, dengan pengharapan, dalam kantjah penetapan Undang-undang Dasar Tetap, dapat kiranja dipergunakan sebagaimana mestinja.
Djakarta, Maret 1959 Hormat kami
Pa r a Pe n j u s u n
IX
(^ y^ A A ^ \ f y x j - S y .mMU.
/? / / j f i / ' J iJ^ u ~ f A- 2 I
. , ? „ -£>6-6u*-«
- ' v _ J „ -S 4-'*A* -^^•• •-< £_-
^ J ^ 'J ^ ' 5 ■/h , e-J~^*^ '&-#~^"'i--t'. <£*-*, ■ f ' . . . 77 A - - - - -
: T '
'
. J j|
' . . ... r 1 ■TVfc - ■ -
Penutup tertib hukum zaman kolonial, dan la n d a s a n /sunibei hukurn bagi tertib hukum nasional.
II
D EKR IT PRESIDEN R EPUBLIK IN D O N E S IA / P A N G L IM A T E R T IN G G I A N G K A T A N P E R A N G
T E N T A N G
K E M B A L I K E P A D A U N D A N G -U N D A N G D A S A R 1945
v
Dengan Rachmat Tuhan Jang Maha Esa,
Ka m i Pr e s i d e n Re p u b l i k In d o n e s i a/ P a n g l i m a Te r t i n g g i An g k a t a n Pe r a n g,
Dengan ini menjatakdn dengan chidmat :
Bahwa andjuran Presiden dan Pemerintah untuk kembali kepada Undang-undang Dasar 1945, ja n g disampaikan kepada segenap Rakjat Indonesia dengan Amanat Presiden pada tanggal 22 April 1959, tidak memperoleh keputusan dari Konstituante sebagaimana ditentukan dalam Undang-undang Dasar Sementara ;
Bahwa berhubung dengan pernjataan sebagian terbesar Anggota Sidang Pembuat Undang-undang Dasar untuk tidak menghadiri lagi sidang, Konstituante tidak raungkin lagi menje- lesaikan tugas jan g dipertjajakan oleh Rakjat kepadanja ;
Bahwa hal jang demikian menimbulkan keadaan ketatanegardan ja n g membahajakan persatuan dan keselamatan Negara, Nusa dan Bangsa, serta merintangi pembangunan semesta untuk mentjapai masjarakat jan g adil dan makmur ;
Bahwa dengan dukungan bagian terbesar Rakjat Indonesia dan didorong oleh kejakinan kami sendiri, kami terpaksa menempuh satu-satunja djalan untuk menjelamatkan Negara Proklamasi ;
Bahwa kami berkejakinan bahwa Piagam Djakarta tertanggal 22 Djuni 1945 mendjiwai Undang-undang Dasar 1945, dan ada
lah merupakan suatu rangkaian-kesatuan dengan Konstitusi tersebut ;
Maka atas dasar-dasar tersebut diatas,
3
Ka m i Pr e s i d e n Re p u b l i k In d o n e s i a/ P a n g l i m a Te r t i n g g i An g k a t a n Pe r a n g,
Menetapkan pembubaran Konstituante ;
Menetapkan Undang-undang Dasar 1945 berlaku lagi b a g i segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, terhitung mulai hari tanggal penetapan D e k rit, ini, dan tidak berlakunja lagi Undang-undang Dasar Sementara.
Pembentukan Madjelis Permusjawaratan Rakjat Sementara, jang terdiri atas Anggota-anggota Dewan Perwakilan R akjat ditambah dengan utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan- golongan, serta pembentukan Dewan Pertim bangan A gu n g Sementara, akan diselenggarakan dalam V aktu ja n g sesingkat- singkatnja.
Ditetapkan di Djakarta pada tanggal 5 D juli 1959 Atas nama Rakjat Indonesia Pr e s i d e n Re p u b l i k In d o n e s i a/ Pa n g l i m a Te r t i n g g i An g k a t a n Pe r a n g,
Tertanda Soekarno
T J A T A T A N : - а. Beberapa fakta historis sekitar D ek rit:
1. 19 Februan 1959 : Kabinet K arya mengambil kesimpulan dengan suara bulat mengenai „pelaksanaan demokrasi terpimpin dalam rangka kembali ke Undang-undang Dasar 1945” .
f 1° Z ebr^ a ro195l : Presiden menjetudjui keputusan Kabinet tsb.
. 2 Maret 1959: Keterangan Pemerintah didepan Sidang Dewan Perwakilan Rakjat.
4. 3 dan 4 Maret 1959 : DPR mengadakan pemandangan umum dan mengadjukan pertanjaan-pertanjaan kepada Pemerintah sekitar keputusan Dewan Menteri tsb.
5. 25 Maret 1959: Djawaban Pemerintah setjara tertulis kepada DPR.
б. 22 A pril 1959: Amanat Presiden didepan Konstituante, jang memuat andjuran Kepala Negara dan Pemerintah urituk kembali kepada Undang-undang Dasar 1945.
7. 29 A pril s /d 13 M ei 1959: Konstituante mengadakan Peman
dangan Umum mengenai andjuran Pemerintah tsb.
8. 21 M ei 1959: Djawaban Pemerintah kepada Konstituante.
S. 25 dan 26 Mei 1959: Konstituante mengadakan Pemandangan penegasan mengenai andjuran Pemerintah itu.
10. 27 Mei 1959. Djawaban Pemerintah kepada Konstituante m e
ngenai Pemandangan penegasan tsb.
11. Pemungutan suara di Konstituante mengenai andjuran P em e
rintah . „Penetapan Undang-undang Dasar 1945 m endjadi Undang-undang Dasar Republik Indonesia” .
A . Pemungutan suara k e l, tanggal 30 M ei 1959.
Hadir 478 an ggota; setudju 269; tidak setudju 199.
Pemungutan suara dilakukan setjara terbuka.
B. Pemungutan suara k e-II, tanggal 1 D juni 1959.
Hadir 469 anggota; setudju 264; tidak setudju 204.
Pemungutan suara ini dilakukan setjara tertutup.
C. Pemungutan suara ke-III, tanggal 2 D juni 1959.
Hadir 469 anggota ; setudju 263 ; tidak setudju 203.
Pemungutan suara ini dilakukan setjara terbuka.
Pemungutan suara mengenai UUD 1945 ini didahului dengan pemungutan suara mengenai usul amandemen dari blok Islam dalam Konstituante, jang disetudjui oleh 201 suara, tetapi ditolak oleh 265 suara, pada tanggal 29 Mei 1959.
Oleh karena, baik andjuran Pemerintah untuk kembali kepada
5
UUD 1945, maupun usul amandemen fihak blok Islam, tidak mendapat dukungan sekurang-kurangnja du a -p er-tiga dari d ju m - lah suara anggota jang hadir dalam rapat Konstituante tsb (Pasal 137 UUDS 1950), maka andjuran Pemerintah dan usul amandemen tsb tidak dapat diterima oleh Konstituante.
Keterangan: Usul amandemen tsb adalah menambahkan dalam Pembukaan dan dalam Pasal 29 UUD 1945 k a lim a t: ...
dengan kewadjiban mendjalankan sjari‘ at Islam bagi pem eluk- pemeluknja.
12a. 5 Djuli 1959: Dekrit Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Perang tentang Kem bali kepada UUD 1945.
b. Tindakan mendekritkan kembali ke UUD 1945 (menurut pen - dapat Ketua Mahkamah Agung dalam suatu wawantjara chas dengan Ketua Dewan Redaksi Suluh Indonesia, tanggal 11 Djuli 1959) didasarkan pada suatu hakekat hukum tidak tertulis, jang dalam bahasa Belanda dinamakan staatsnoodrecht. Ini berarti, bahwa dalam hal keadaan ketata-negaraan tertentu, kita dapat ter- paksa mengadakan tindakan jang menjimpang dari peraturan- peraturan ketata-negaraan jang ada. Dan keadaan ketata-negaraan jang memaksa ini, dianggap oleh Presiden/Panglim a Tertinggi Angkatan Perang ada dalam negara kita. Dan berdasar atas inilah dekrit Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang tentang kembali ke UUD 1945 dikeluarkan. Hal ini terumus dalam konsiderans alinea ketiga dan keempat jang b e r b u n ji: bahwa hal jang demikian menimbulkan keadaan ketata-negaraan jang m em bahaja- kan persatuan dan keselamatan Negara, Nusa dan Bangsa serta merintangi pembangunan semesta untuk mentjapai masjarakat jang adil dan makmur, dan bahwa dengan dukungan bagian terbesar rakjat Indonesia dan didorong oleh kejakinan kami sendiri, kami terpaksa menempuh satu-satunja djalan ■ untuk menjelamatkan Negara Proklamasi.
Djadi dilihat dari segi hukum ketata-negaraan, tindakan Presiden/
Panglima Tertinggi Angkatan Perang jang didasarkan atas keadaan jang memaksa, memang dibenarkan.
(Demikian a.i. Ketua Mahkamah Agung dalam wawantjara tsb.).
c. Dekrit ini dengan tegas memerintahkan pembentukan M PR Sementara, jang terdiri atas Anggota DPR ditambah dengan utusan- utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan. Tidak ditegaskan oleh dekrit ini, badan manakah jang mendjalankan kekuasaan M PR selama MPR-Sementara belum terbentuk.
Penetapan Presiden No 2 tahun 1959 beserta Pendjelasannja (sebagai pelaksanaan daripada Dekrit ini) kami muat dalam Lampiran.
d. Dekrit ini djuga dengan tegas memerintahkan pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara, jang akan diselenggarakan dalam waktu sesingkat-singkatnja. Djuga mengenai DPA tidak d i- tegaskan badan manakah jang mendjalankan kekuasaannja selama DPA-Sementara belum terbentuk.
Penetapan Presiden No 3 tahun 1959 beserta Pendjelasannja (sebagai pelaksanaan dari pada Dekrit ini) kami muat dalam Lampiran.
Pada 31 Djuli 1959 nama-nama dari pada Anggota DPA Sementara itu telah diumumkan.
e. Piagam Djakarta, jang ,',in konkreto merupakan kegagalan Konstituante” (Keterangan: Perijusun mengartikan „kegagalan”
disini tidak lain dari pada : tidak memenuhi sjarat konstitusionil % ), disebut-sebut djuga dalam Dekrit ini, sebagai kejakinan pribadi Presiden dan ditempatkan dalam konsiderans dan bukan dalam diktum.
/ . Dekrit ini tidak menegaskan kepastian kedudukan UUD 1945, dalam arti, apakah UUD 1945 itu telah djadi UUD Tetap bagi Negara RI, ataukah masih bersifat sementara. (Pertanjaan mengenpi apakah masih bersifat sementara ini, dapat kiranja dihubungkan a.i. dengan pasal 3, dimana dengan tegas dikatakan, bahwa MPR lah jang akan menetapkan UUD).
Jang pasti dan tegas dalam Dekrit ini ialah, b a h w a : UUD 1945 berlaku lagi bagi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, terhitung mulai hari tanggal penetapan dekrit ini.
dan tidak berlakunja lagi UUDS 1950.
V
7
I ll
P E M B U K A A N U N D A N G - U N D A N G D A S A R 1 9 4 5 *
Bahwa sesungguhnja kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka pendjadjahan diatas dunia haras di- hapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.
Dan perdjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telali sampailah kepada saat jang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakjat Indonesia kedepan pintu gerbang kemer- dekaan negara Indonesia, jang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Atas berkat rachmat Allah Jang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaja berkehidupan kebang- saan jang bebas, maka rakjat Indonesia menjatakan dengan ini kemerdekaannja.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah negara Indonesia jang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memadjukan kesedjahteraan umum, mentjerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerde
kaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu undang- undang dasar negara Indonesia, jang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia jang berkedaulatan rakjat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Jang Maha Esa, kema
nusiaan jang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerak-
* ^ asll ah dikutiP dari Berita Republik Indonesia, tahun n No 7.
2. DaJsftl naskah Berita Republik Indonesia tsb ditulis hanja
„Pembukaan”, tanpa „Undang-imdang Dasar 1945” .
3. Penjusun menambahkan kata-kata „U ndang-undang Dasar 1945” karena „Pembukaan” ini adalah untuk ,.Undang-undang Dasar 1945”.
jatan jang dipimpin oleh hikmat kebidjaksanaan dalam permusja- waratan/perwakilan, serta dengan mewudjudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakjat Indonesia.
T JA T A T A N :
a. Dalam Pembukaan terkandung pokok-pokok pikiran a.i. sbb : 1. Negara berdasar atas Ketuhanan Jang Maha Esa menurut dasar
kemanusiaan jang adil dan beradab.
2. Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan berdasar atas persatuan dengan mewudjudkan keadilan sosial bagi seluruh rakjat Indonesia.
Dalam pembukaan ini diterima aliran pengertian NEGARA PERSATUAN, Negara jang melindungi dan meliputi segenap bangsa seluruhnja. Djadi negara mengatasi segala paham perse- orangan. Negara, menurut pengertian ,Pembukaan itu, meng- hendaki persatuan, meliputi segenap bangsa Indonesia seluruhnja.
Inilah suatu dasar Negara jang terkandung dalam Pembukaan jang tidak boleh dilupakan.
3. Negara hendak mewudjudkan keadilan sosial bagi seluruh rakjat.
4. Pokok jang selandjutnja terkandung dalam Pembukaan, ialah Negara jang berkedaulatan rakjat, berdasar atas kerakjatan dan permusjawaratan perwakilan. Oleh karena itu sistim Negara jang terbentuk dalam Undang-undang Dasar harus berdasar atas kedaulatan rakjat dan berdasar atas permusjawaratan perwakilan.
Memang aliran ini sesuai dengan sifat masjarakat Indonesia.
Dengan mengingat segala sesuatu itu, maka Undang-undang Dasar harus mengandung isi jang mewadjibkan Pemerintah dan lain-lain penjelenggara Negara, untuk memelihara budi-pekerti kemanusiaan jang luhur dan memegang teguh tjita-tjita moral rakjat jang luhur.
b. Apa jang dikemukakan pada a dimuka ini, adalah dasar-dasar jang fundamentil jang terkandung dan tertjantum dalam Pembukaan, dan jang mendjadi dasar Negara. Dan dasar Negara jang termuat dalam Pembukaan, ialah jang terkenal dengan P anti a Sila (Pantja = lima ; Sila = dasar).
Adapun urutan dan redaksi perumusan Pantja Sila dalam P em bu
kaan UUD 1945, adalah s b b .:
1. Ketuhanan Jang Maha Esa,
2. Kemanusiaan jang adil dan beradab,
9
3. Persatuan Indonesia,
4. Kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat kebidjaksanaan dalarn permusjawaratan/perwakilan dan
5. Keadilan sosial.
Dasar negara Pantja Sila ini dimuat pula baik dalam M ukaddim ah K. RIS 1949 maupun dalam M ukaddimah UU DS 1950 dengan p e ru - musan sbb. ;
1. Pengakuan IKetuhanan Jang Maha Esa, 2. Peri-kemanusiaan,
3. Kebangsaan, 4. Kerakjatan dan 5. Keadilan sosial.
c. Menurut sistematik K . RIS 1949 (L.N. 1950-3) dan UU DS 1950 (UU 1950 No 7 L.N. 1950-56), M ukaddimah pada k edua konstitusi itu merupakan bagian daripada konstitusi. Sebaliknja m en u rut sistem a
tik UUD 1945 „Femb'ukaan” bukan m erupakan bagian daripada konstitusi, tetapi terpisah dan berdiri sendiri. ,,P em bu kaan ” d item - patkan diatas kepala ,.Undang-undang Dasar” , sedang dalam pen dje-
lasannja dipisahkan sebagai „dasar” UUD ja n g „m elip u ti suasana kebatinannja (geistlichen H intergm nd) dari U U D itu ” (lihat a.i.
3 Undang-undang Dasar oleh M r A .K . P rin ggodigdo dan Undang- undang Dasar dan Maklumat Politik Republik Indonesia, ole h Kementerian Penerangan, Jogjakarta 1950).
d. Pada pokoknja naskah ..Pembukaan” adalah sesuai dengan naskah „Piagam Djakarta” (tanggal 22-6-2605) (1945) (lihat naskali Piagam Djakarta pada hal. 76 buku ini).
Mengenai hal ini, Prof. M r A.G. Pringgodigdo, k in i m ahaguru dalam Hukum Tatanegara Indonesia dan P residen U niversitas Erlangga di Surabaja, dahulu W akil K epala K a n tor Tata Usaha Panitya Persiapan Kemerdekaan Indonesia (jang telah m enetapkan baik „Pembukaan” maupun „UUD 1945” pada tanggal 18-8-1945) dan kemudian mendjadi Sekertaris Negara R I *, telah m enulis sebuah karangan dalam madjalah Swantantra dari N o 8 s / d 10 tahun 2/1958 berkepala „Sedjarah singkat berdirinja Negara Republik Indonesia” dimana a.i. dalam Swatantra No 10, halam an 612 dapat dibatj a s b b .:
*) Menurut pasal 1 Peraturan (Presiden) No 1 tanggal 10-10-1945, maka „segala Undang-undang dan Peraturan P residen d iu m u m - kan oleh Presiden dan ditanda-tangani oleh Sekertaris N egara” . Tjara pengundangan seperti ini adalah sesuai dengan sistim Kabinet Presidentil.
10
PEKPliSTAKAAN
,,Berhubung dengan berackirnja perang dengan kekalahan Djepang
„dan supaja Negara Indonesia merdeka dapat diakui oleh Sekutu,
„maka rantjangan dari Badan Penjelidik itu diubah seperlunja,
„misalnja Declaration of independence jang pandjang itu dan Perm,-
„bukaannja dihapuskan dan diganti dengan Pembukaan baru (Istilah
„ini dipilih antara tiga istilah, jaitu Mukaddimah, Kq.ta Pembukaan
„dan Pembukaan, pada waktu Panitya K etjil jang terdiri atas 9
„orang menentukan naskah Pembukaan itu, jang oleh M r Muh.
„Yamin dinamakan Djakarta-charter), jang bunjinja hampir sama
„dengan naskah Pembukaan dari tanggal 22 Djuni 1945 itu.
„Perbedaannja ialah :
„a. istilah „Allah” diubah mendjadi „Tuhan” atas permintaan ang
gota dari Bali (dari p en ju su n : lihat alinea k e-3 Pembukaan).
„b. ,JIukum Dasar” - didjadikan „Undang-undang Dasar” .
„c. Kalimat „berdasar kepada: Ke-Tuhanan, dengan kewadjiban mendjalankan sjarUat Islam bagi pem eluk-pem eluknja, menurut dasar kemanusiaan” diubah mendjadi „berdasar kep a d a : k e- Tuhanan Jang Maha Esa, kemanusiaan” (dari p en ju su n : lihat alinea k e-4 ,^Pembukaan” , dan bandingkan pula dengan naskah Piagam Djakarta, dalam V buku ini)” .
Dari tulisan ini maka patutlah dipersoalkan kebenaran penggu- naan kata-kata „Allah” atau „Tuhan” itu dalam naskah alinea ke-3
„Pembukaan”. Hal ini ada hubungannja pula dengan naskah sumpah bagi Presiden dan Wakil Presiden dalam pasal 9 UUD 1945 jang di- mulai dengan kata-kata : „Demi A llah... ” Hal ini penting benar, ditindjau dari sudut sedjarah terbentuknja UUD 1945 dan supaja dapat ditentukan naskah j^ng asli dan jang benar dari UUD 1945 itu.
Dalam pada itu kata „Tuhan” dipakai pula dalam naskah „P em - bukaan” jang tertjantum dalam buku ketjil „Undang-undang Dasar dan Maklumat Politik Republik Indonesia” jang diterbitkan oleh Kementerian Penerangan RI Jogjakarta 1950. Djuga kata „Tuhan”
dipakai pula dalam naskah „Pembukaan” jang terdapat dalam
„Pembahasan Ilmiah mengenai susunan. pemerintahan Negara Republik Indonesia, dipersembahkan bagi Negara dan Bangsa oleh Pengurus Senati dan Senat Universitas Gadjah Mada” (dimuat a.i.
dalam madjalah Swatantra berturut-turut sedari No 7 tahun 2 /D ju li 1958 a.i. dalam angka 13 (Swatantra No 7 tahun 2/1958 halaman 396).
Djuga dalam Mukaddimah K. RIS 1949 alinea kedua dan Mukad
dimah UUDS 1950 alinea ketiga dipergunakan kata „Tuhan” . Adapun naskah jang sama benar dengan naskah „Pembukaan”
11
1
dalam Berita RI tahun II, No 7 (djadi dengan kata „A lla h ” ) ialah misalnja naskah-naskah jang terdapat dalam b u k u - b u k u :
1. Kitab-kitdb Undang-undang, Undang-undang dan P eraturan Indonesia, M r W .A. Engelbreclit, tahun 1956, hal. 34.
2. Proklamo.si dan Konstitusi, M r M uham mad Y am in, tjetakan k e -5 , hal. 189.
3. Tiga Undang-undang Dasar, M r A . K . Pringgodigdo^ hal. 11, kolom 3.
4. Himpunan Undang-undang, P eraturan-peraturan, P en eia p a n - penetapan Pemerintah RI 1945 (Penerbitan Baru), K oesn od ip rod jo, hal. 2.
Maka berhubung dengan kenjataan adanja perbedaan dalam naskah-naskah Pembukaan dan UUD 1945 jang b ered a r dew asa ini, baik jang berasal dari pihak resmi m aupun b u k a n -p ih a k resm i, demi mentjegah adanja pelbagai tafsiran, sudahlah seharusnja Pem erintah mengundangkan lagi dalam L.N. naskah jan g resm i berlak u .
5i rO
IV
U N D A N G - U N D A N G D A S A R 1 9 4 5 *
Penjusun menambahkan tahun ,,1945” karena : . UUD ini telah ditetapkan pada tahun 1945.
. Untuk membedakannja daripada „Konstitusi Republik Indo
nesia Serikat” (K. RIS 1949) dan „U ndang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia” (UUDS 1960).
13
PENDJELASAN T E N T A N G U N D A N G -U N D A N G D A S A R N E G A R A IN D O N E SIA
U M V M
I. Un d a n g-u n d a n g Da s a r, s e b a g i a n d a r i h u k u m d a s a r
Undang-undang Dasar suatu negara ialah hanja sebagian dari hukumnja dasar Negara itu. Undang-undang Dasar ialah hukum dasar jang tertulis, sedang disam ping U ndang-undang Dasar itu berlaku djuga hukunj dasar ja n g tidak tertulis, ialah aturan- aturan dasar jang timbul dan terpelihara dalam praktek penje- lenggaraan Negara, meskipun tidak ditulis.
Memang untuk menjelidiki hukum dasar (d r o it constitutionel) suatu Negara, tidak tjukup hanja m enjelidiki pasal-pasal Undang- undang Dasarnja (loi constitutionnelle) sadja, akan tetapi harus menjelidiki djuga bagaimana prakteknja dan bagaim ana suasana kebatinannja (geistlichen Hintergrund) dari U ndang-undang
Dasar itu.
Undang-undang Dasar Negara manapun tidak dapat dim engerti, Kalau hanja dibatja tekstnja sadja. Untuk m engerti sungguli- sungguh maksudnja Undang-undang Dasar dari suatu N egara, kita harus mempeladjari djuga bagaimana terd ja d in ja tekst itu, harus diketahui keterangan-keterangannja dan d ju g a harus diketahui dalam suasana apa tekst itu dibikin.
Dengan demikian kita dapat mengerti apa m aksudnja undang- undang jang kita peladjari, aliran-pikiran apa ja n g m en d jad i dasar undang-undang itu.
II. POKOK-POKOK PIKIRAN DALAM „PEMBUKAAN”
Apakah pokok-pokok pikiran jang terkandung dalam „P em bu - kaan'’ Undang-undang Dasar.
I
1. ..Negara” — begitu bunjinja — „melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tiunpah. darali Indonesia dengan ber- dasar atas persatuan dengan mewudjudkan keadilan sosial bagi seluruh rakjat Indonesia” . Dalam pembukaan ini dite- rima aliran pengertian Negara Persatuan, Negara ja n g melindungi dan meliputi segenap bangsa seluruhnja. Djadi Negara mengatasi segala paham golongan, mengatasi segala paham perseorangan. Negara, menurut pengertian ,.Pem bu
kaan” itu menghendaki persatuan, meliputi segenap bangsa Indonesia seluruhnja. Inilah suatu dasar Negara jan g tidak boleh dilupakan.
2. Negara hendak mewudjudkan keadilan sosial bagi seluruh rakj at.
3. Pokok jan g ketig'a jan g terkandung dalam ,,Pembukaan” ialah Negara jang berkedaulatan rakjat, berdasar atas kerakjatan
flan permusjavvaratan perwakilan. Oleh karena itu sistim Negara jang terbentuk dalam Undang-undang Dasar harus berdasar atas kedaulatan rakjat dan berdasar atas permusja- waratan perwakilan. Memang aliran ini sesuai dengan sifat masjarakat Indonesia.
4. Pokok pikiran jang ke-4, jang terkandung dalam ..Pembuka
an” ialah Negara berdasar atas ke-Tuhanan *) Jang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan jan g adil dan beradab.
Oleh karena itu Undang-undang Dasar harus mengandung isi jang inewadjibkan Pemerintah dan Iain-lain penjelenggara Negara, untuk memelihara budi-pekerti kemanusiaan jan g luhur dan memegang teguh tjita-tjita moraal rakjat jang luhur.
*) dari penjusun : Naskah dalam Berita RI memakai , (kom a) antara kr-Ttihanan dan jang. Ini adalah salah satu tjontoh dari ketidak telitian dalam naskah Berita RI, baik jang mengenai redaksi m au
pun mengenai penggunaan h u ru f-h uru f besar dan ketjil, sebagai jar.g didjumpai dalam Pemerintah dan pemerintah, dalam Negara dan . negara, dalam Badan dan badan dlsb-nja. Lihat djuga tjatatan-tjatatan lain dibelakang.
15
III. Un d a n g-u n d a n g Da s a r m e n t j i p t a k a n p o k o k-p o k o k p i k i r a n JANG TERKANDUNG DALAM „PEMBUKAAN” DALAM PA SA L -P A SA L N JA Pokok-pokok pikiran tersebut meliputi suasana kebatinan dari Undang-undang Dasar Negara Indonesia. P ok ok -p ok ok pikiran ini mewudjudkan tjita-tjita hukum (R echtsidee) ja n g m enguasai hukum dasar Negara, baik hukum ja n g tertulis (undang-undang dasar) maupun hukum jan g tidak tertulis.
Undang-undang Dasar mentjiptakan pokok-pokok> pikiran ini dalam pasalnja.
IV . Un d a n g-u n d a n g Da s a r b e r s i f a t s x n g k a t d a n s o e p e l
Undang-undang Dasar hanja memuat 37 pasal. Pasal-pasal lain hanja memuat peralihan dan tambahan. M aka rentjana ini sangat singkat djika dibandingkan m isalnja dengan Undang- undang Dasar Filippina. Maka telah tjukup d jikalau U ndang- undang Dasar hanja memuat aturan-aturan p okok , h an ja memuat garis-garis besar sebagai instruksi kepada Pem erintah Pusat dan lain-lain penjelenggara Negara untuk m enjelenggarakan kehi- dupan Negara dan kesedj ahteraan sosial. Terutam a b agi N egara baru dan Negara muda, lebih baik hukum dasar ja n g tertulis itu hanja memuat aturan-aturan pokok, sedang aturan-aturan ja n g menjelenggarakan aturan pokok itu diserahkan kepada undang- undang jang lebih mudah tjaranja membuat, m engubah dan mentjabut.
Demikian sistim Undang-undang Dasar.
Kita harus senantiasa ingat kepada dinam ik kehidupan masjarakat dan Negara Indonesia. Masjarakat dan N egara In d o
nesia tumbuh, djaman berubah, terutama pada djam an revolusi lahir bathin sekarang ini. Oleh karena itu kita harus hidup setjara dinamis, harus melihat segala gerak-gerik kehidupan masjarakat dan Negara Indonesia. Berhubung dengan itu dja- nganlah tergesa-gesa memberi kristalisasi, m em beri bentuk (Gestaltung) kepada pikiran-pikiran jan g masih m udah berubah.
M emang sifat aturan ja n g tertulis itu mengikat. Oleh karena itu, makin „soepel” (elastic) sifatnja aturan itu, makin baik.
D jad i kita harus m endjaga supaja sistim Undang-undang Dasar djangan sampai ketinggalan djam an. Djangan sampai kifa membikin undang-undang ja n g lekas usang („v e ro u d e rd ” ). Jang sangat penting dalam pemerintahan dan dalam hal hidupnja Negara, ialah semangat, semangat para penjelenggara Negara, semangat para pemimpin pemerintahan. Meskipun dibikin Undang-undang Dasar ja n g jnenurut kata-katanja bersifat keke- luargaan, apabila semangat para penjelenggara Negara, para pemimpin pemerintah itu bersifat perseorangan, Undang-undang Dasar tadi tentu tidak ada artinja dalam praktek. Sebaliknja meskipun Undang-undang Dasar itu tidak sempurna, akan tetapi djikalau semangat para penjelenggara pemerintahan baik, Undang-undang Dasar itu tentu tidak akan merintangi djalannja Negara. D jadi jan g paling penting ialah semangat. Maka sema
ngat itu hidup, atau dengan lain perkataan, dinamis.
Berhubung dengan itu, hanja aturan-aturan pokok sadja harus ditetapkan dalam Undang-undang Dasar, sedangkan hal-hal jan g perlu untuk menjelenggarakan aturan-aturan pokok itu harus diserahkan kepada undang-undang.
SISTIM PE M ER IN T AH A N N EG AR A
Sistim pemerintahan Negara jang ditegaskan dalam Undang- undang Dasar, ialah :
I . In d o n e s i a, i a l a h n e g a r a j a n g b e r d a s a r a t a s h u k u m ( Re c h t s- s t a a t) .
1*) Negara Indonesia berdasar atas Hukum (Rechtsstaat), tidak berdasarkan kekuasaan belaka (Machtsstaat).
II. S lS T E M KONSTITUTIONIL.
2*) Pemerintahan berdasar atas sistim konstitusi (hukum dasar) tidak bersifat absolutisme (kekuasaan ja n g tidak berbatas).
17
III. Kekuasaan Negara jang tertin g gi ditangan Ma d j e l is
Perm u sjaw aratan Ra k ja t.
(Die gesamte Staatsgewalt liegt allein bei der M a d jelis).
3 ) Kedaulatan rakjat dipegang oleh suatu Badan, bernama ,,Madjelis Permusjawaratan Rakjat'”, sebagai pendjelm aan seluruh Rakjat Indonesia (Vertretungsorgan des W illens des Staatsvolkes).
Madjelis ini menetapkan Undang-undang Dasar, dan menetap
kan garis-garis besar haluan Negara. M adjelis ini mengang- kat Kepala Negara (Presiden) dan W akil Kepala Negara
(Wakil Presiden). '
Madjelis inilah jang memegang kekuasaan N egara ja n g ter
tinggi: sedang Presiden harus mendjalankan haluan Negara menurut garis-garis besar jang telah ditetapkan oleh M a d je
lis. Presiden jang diangkat oleh M adjelis, bertunduk dan bertanggung djawab kepada Madjelis. Ia ialah „m andataris”
dari Madjelis, ia berwadjib mendjalankan putusan-putusan Madjelis. Presiden tidak „neben” — , akan tetapi „unter- geordnet” kepada Madjelis.
IV. Pr e s id e n ia l a h p e n j e l e n g g a r a p e m e r i n t a h n e g a r a j a n g t e r t i n g g i d i b a w a h m a d j e l i s.
Dibawah Madjelis Permusjawaratan Rakjat, Presiden ialah penjelenggara pemerintah Negara jang tertinggi.
Dalam mendjalankan pemerintahan Negara, kekuasaan dan tanggung djawab adalah ditangan Presiden (concentration o f power and responsibility upon the President).
v T 1! : Mengapa diberi No 1, 2 dan 3 dalam bagian ini tmak djeias benar bagi kami, djika diperhatikan bah w a dalam bagian-bagian berikutnja tidak diberi No lagi. Naskah P en d je- asan dalam buku „3 UUD” Mr A.K. Pringgodigdo, m isalnja tidak memakai nomor-nomor itu. Sekali lagi tampak betapa nilai nas
kah dalam Berita RI itu. .
V . Pr e s i d e n t i d a k b e r t a n g g u n g d j a w a b k e p a d a De w a n Pe r- w a k i l a n Ra k j a t.
D isam pin gn ja Presiden adalah Dewan P erw akilan Rakjat.
P residen harus m endapat persetudjuan Dewan Perwakilan R akjat untuk membentuk undang-undang (G ezetsgebung) dan untuk m enetapkan anggaran pendapatan dan b e la n d ja N egara (Staats- b e g r o tin g ).
Oleh kaiena itu Presiden harus b ekerdja bersama-sama dengan Dewan, akan tetapi Presiden tidak bertanggung djaw ab kepada Dewan, artinja kedudukan Presiden tidak tergantung daripada Dewan.
V I . M e n t e r i Ne g a r a i a l a h p e m b a n t u Pr e s i d e n ; Me n t e r i N e g a r a t i d a k b e r t a n g g u n g d j a w a b k e p a d a De w a n Pe r w a k i l a n Ra k j a t.
P residen mengangkat dan memperhenlikan Menteri-menteri N egara. Menteri-menteri itu tidak bertanggung djaw ab kepada D ew an Perwakilan Rakjat. K edudukannja tidak tergantung dari
pad a Dewan, akan tetapi tergantung daripada Presiden. Mereka ialah pembantu Presiden.
V I I . K e k u a s a a n k e p a l a n e g a r a t i d a k t a k t e r b a t a s.
M eskipun Kepala N egara tidak bertanggung djaw ab kepada D ew an Perwakilan Rakjat, ia bukan „d ik ta tor” , artinja kekuasa
an tidak tak terbatas. Diatas telah ditegaskan, bahwa ia b er
tanggung djaw ab kepada M adjelis Permusj awaratan Rakjat.
K etju ali iu ia harus memperhatikan sungguh-sungguh suara Dewan Perwakilan Rakjat.
K e d u d u k a n De w a n Pe r w a k i l a n Ra k j a t a d a l a h k u a t.
K edudukan Dewan Perwakilan R akjat adalah kuat. Dewan ini tidak bisa dibubarkan oleh Presiden (berlainan dengan sistim p arlem en tair). Ketjuali itu anggota-anggota Dewan Perwakilan R ak jat semuanja merangkap mendjadi anggota Madjelis
19
Permusjawaratan Rakjat. Oleh karena itu Dewan P erw akilan Rakjat dapat senantiasa mengawasi tindakan-tindakan P resid en dan djika Dewan menganggap bahwa Presiden sungguh m elan g- gar haluan Negara jang telah ditetapkan oleh U ndang-u n dan g Dasar atau oleh Madjelis Permusjawaratan Rakjat, m aka M a d je - lis itu dapat diundang untuk persidangan istimewa agar su p a ja bisa minta pertanggungan djawab kepada Presiden.
Me n t e r i-m e n t e r i Ne g a r a b u k a n p e g a w a i t i n g g i b i a s a.
Meskipun kedudukan Menteri Negara tergantung d a rip a d a Presiden, akan tetapi mereka bukan pegaw ai tin ggi biasa o le h karena menteri-menterilah jan g terutama m endjalankan ktekuasa- an Pemerintah (pouvoir executif) dalam praktek.
Sebagai pemimpin Departemen, M en teri' m engetahui seluk-beluk hal-hal jang mengenai lingkungan pekerdjaannja. B erh u bu n g dengan itu Menteri mempunjai pengaruh besar terhadap P resid en dalam menentukan politik Negara jang m engenai departem ennja.
Memang jang dimaksudkan ialah, para Menteri itu pem im p in - .pemimpin Negara.
Untuk menetapkan politik Pemerintah dan k oord in a si dalam pemerlntahan Negara para Menteri bekerdja bersam a satu sam a lain seerat-eratnj a dibawah pimpinan Presiden.
T JA T A T A N :
Lihat pula tjatatan-tjatatan dibawah pasal-pasal U U D 1945.
B A B I
B E N T U K D A N K E D A U L A T A N Pasal 1
(1) Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, jang berbentuk republik.
(2) Kedaulatan adalah ditangan rakjat, dan dilakukan sepcnuh- nja oleh Madjelis Permusjawaratan Rakjat.
PEN DJELASAN :
Menetapkan bentuk negara kesatuan dan republik.
M engandung isi pokok pikiran kedaulatan rakjat.
M adjelis Permusjawaratan Rakjat, ialah penjelenggara Negara ja n g tertinggi. M adjelis ini dianggap sebagai pendjelasan *) rakjat, ja n g memegang kedaulatan Negara.
T JA T A T A N :
a. Berbeda daripada K. RIS 1949 dan UUDS 1950, maka dalam ps.
ini tidak disebut-sebut perihal negara hukum. D juga tidak dalam Pembukaan. Pernjataan jang tegas mengenai negara hukum itu terdapat dalam Mukaddimah K. RIS 1949 dan UUDS 1950.
Bahwa Negara Indonesia itu ialah suatu negara hukum tertan- daskan dalam Pendjelasan Umum dibawah „Sistim Pemerintahan Negara” , jang berbunji :
I. Indonesia, ialah Negara jang berdasar atas hukum (R ech ts- staat). Negara Indonesia berdasar atas hukum (rechtsstaat), tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtsstaat).
II. Sistim konstitutionil.
Pemerintahan berdasar atas sistim konstitusi (hukum dasar) tidak bersifat absolutisme (kekuasaan jang tidak terbatas).
b. A jat 2 jang menjatakan kedaulatan adalah ditangan rakjat, sama dengan ajat 2 dari pasal 1 UUDS 1950, tetapi hal itu tidak ada dalam K. RIS 1949.
c. Kedaulatan itu dilakukan o le h :
1. Madjelis Permusjawaratan Rakjat (UUD 1945),
2. Pemerintah bersama-sama dengan DPR dan Senat (K. RIS 1949) dan
3. Pemerintah bersama-sama dengan DPR (UUDS 1950).
♦ ) dari penjusun : Mungkin sekali jang dimaksudkan disini adalah pendjelmaan seperti halnja dalam pendjelasan pasal 2.
SI
BAB II
MADJELIS P E R M U S JA W A R A T A N R A K J A T Pasal 2
(1) Madjelis Permusjawaratan Rakjat terdiri atas anggota- anggota Dewan Perwakilan Rakjat, ditambah dengan utusan.
utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan, menurut aturan jang ditetapkan dengan undang-undang.
(2) Madjelis Permusjawaratan Rakjat bersidang sedikitnja sekali dalam lima tahun diibukota Negara.
(3) Segala putusan Madjelis Permusjawaratan Rakjat ditetapkan dengan suara jang terbanjak.
PENDJELASAN :
Maksudnja ialah, supaja seluruh rakjat. seluruh golongan, seluruh daerah akan mempunjai wakil dalam M ad jelis. sehingga Madjelis itu akan betul-betul dapat dianggap sebagai pendjel-
maan rakjat. . '
Jang disebut ,,golongan-golongan” ialah badau-badan seperti kooperasi. serikat pekerdja dan lain-lain badan kolektif. Aturan demikian memang sesuai dengan aliran zainan. Berliubung dengan andjuran mengadakan sistim kooperasi dalam. ekonom;
inaka ajat ini mengingal akan adanja golon ga n -golon ga n dalan badan-badan ekonomi.
A jat 2.
Badan jang akan besar djumlahnja bersidang sediktl-se.dikitnji sekali dalam 5 tahun.
Sesedikit-sedikitnja, djadi kalau perlu dalam 5 tahun tent, boleh bersidang lebih dari sekali dengan m en gadakan persidangai istimewa.
TJ AT A T AN :
o. Sistim UUD 1945 jang menentukan adanja M PR ja n g melakuka,
sepenuhnja kedaulatan jang ada ditangan rakjat itu. tidak dikenal oleh K . RIS 1949 dan UU DS 1950.
Sesuai dengan ketentuan pasal ini, maka M P R akan terdiri dari tiga djenis anggota, jaitu :
1- anggota D P R ja n g ex o fficio m endjadi anggota M PR, 2. utusan dari daerah, dan
3. utusan dari golon gan -golon gan .
Segala sesuatu m engenai pem bentukan, susunan dan dju m lah anggota M P R itu ditetapkan dengan u ndang-undang.
<!. Dekrit Presiden R l/P a n g lim a T ertinggi A ngkatan Perang tang
gal 5 D juli 1959 dengan tegas m em erintahkan pem bentukan M PR Sementara dalam waktu jan g sesingkat-singkatnja. Sebagai penglaksanaan ketentuan ini, maka oleh P residen pada tanggal 22 D ju li 1959 telah dikeluarkan P enetapan P resid en RI no 2 tahun 1959, jang m em utuskan pem bentukan sebuah M P R -S e m e n - tara, sebelum tersusun M PR m enurut u n d an g-u n d an g seperti term aksud dalam pasal 2 ajat 1 UUD 1945. D jum lah anggota M P R -Sem entara itu ditetapkan oleh P residen dan anggota tambahannja, selain anggota DPR sekarang ini, diangkat oleh Presiden. D juga Kietua dan para W ak il-k etu a M P R -Sem entara ini, diangkat oleh Presiden.
U tusan-utusan daerah, ialah utusan-utusan dari D aerah-daerah Swatantra tingkat 1 (pasal 2 Penetapan Presiden RI jb s.).
U tusan-utusan golongan, ialah utusan-utusan dari jan g disebut golon gan -golon gan fungsionil atau golon gan -golon gan karya (pasal 2 Penetapan Presiden RI jb s .).
n. Pendjelasan resmi pasal 2 UUD ini m enjatakan, bahwa : Jang disebut ..golongan-golongan” . ialah badan-badan -seperti kooperasi.
serikat pekerdja dan lain -lain badan kolektif.
Dalam amanat Presiden tanggal 22 A pril '1959 dihadapan Konstituante, maka m enurut Pemerintah, golon gan -golan gan m enurut pasal ini, ialah jan g disebut golongan fungsionil atau tjolongan karya, ialah alat dem okrasi berupa penggolongan w ar- ganegara Indonesia m enurut tugas pekerdjaannja dalam lapangan produksi dan djasa dalam melaksanakan pem bangunan masjarakat adil dan m akm ur sesuai dengan tjita -tjita bangsa Indonesia.
G olongan fungsionil atau golongan karya ini telah mendapat pula kedudukan — dan dasar hukum nja dalam UU no 80 tahun 1958 L..N. n o 144 — tahun 1958, ialah ..U ndang-undang D ew an P era n - tjang Nasional” . Dalam menghadapi pembentukan D ew an P era n -
23
tjang Nasional telah dikemukakan adanja tudjuh pokok golongan atau angkatan fungsionil (karya), sedang beberapa pokok golongan atau angkatan dibagi lagi mendjadi beberapa anak-golongan atau angkatan, sbb :
I. Pokok-golongan Buruh dan Pegawai, II. P okok-golongan Tani,
III. Pokok-golongan Pengusaha Nasional
IV. Pokok-golongan B ersendjata: <
a. Angkatan Darat, b. Angkatan Laut, c. Angkatan Udara, d. Polisi, dan
e. Veteran, O.P.R. dan O.K.D.
V. Pokok-golongan AlimrUlama : a. Agama Islam,
b. Agama Kristen Protestan, c. Agama Katolik, dan d. Agama Hindu-Bali.
VI. Angkatan Proklamasi 17-8-1945, VII. Angkatan Djasa :
a. Tjendekiawan,
b. Guru dan Pendidik, . 1
c. Seniman, d. Wartawan, e. Daerah, / . Pemuda, g. Wanita, dan
h. Warganegara Peranakan.
/ . Lamanja keanggotaan MPR tidak ditetapkan dalam pasal ini. H al itu akan ditetapkan dalam undang-undang. D juga dem ikian h a l- nja dengan lamanja keanggotaan DPR (lihat pasal jbs. dengan D PR ).
g. Djika pasal ini menjatakan adanja u tusan-utusan dari d a era h - daerah, maka K. RIS 1949 pasal 80 ajat 1 m enjatakan adanja wakil daerah-daerah bagian, sedang UUDS 1950 tidak m engatur materi seperti ini.
h. W ewenang-kenegaraan MPR, ia la h :
1. melakukan sepenuhnja kedaulatan rakjat (pasal 1 ajat 2), 2. menetapkan Undang-undang Dasar (pasal 3),
3. menetapkan garis-garis besar daripada haluan Negara (pasal 3 ), 4. memilih Presiden dan W akil Presiden (pasal 6 ajat 2),
I
5. mengubah Undang-undang Dasar (pasal 37),
6. menjaksikan sumpah menurut agama atau djandji Presiden atau Wakil Presiden (pasal 9).
Djelas benar betapa besar dan luasnja wewenang-kenegaraan MPK itu. Ia merupakan lembaga-kenegaraan jang tertinggi dalam Negara Republik Indonesia, kepada siapa Presiden sebagai kepala kekuasaan eksekutif harus bertanggung djawab.
i. Bunji rumusan sum pah/djandji anggota-anggota M PR tidak ditetapkan dalam UUD 1945. Bagi anggota M PR-Sem entara dalam pasal 4 Penetapan Presiden no 2 tahun 1959 ditetapkan bahwa sebelum memangku djabatannja, para anggota M P R - Sementara mengangkat sum pah/djandji dihadapan Presiden atau Ketua MPR-Sementara jang dikuasakan untuk itu oleh 1 Presiden, menurut agamanja sbb :
„Saja bersumpah (berdjandji) bahwa saja, untuk mendjadi A ng
gota Madjelis Permusjawaratan Rakjat Sementara, langsung atau tak langsung, dengan nama atau dalih apapun, tiada memberikan atau mendj andjikan ataupun akan memberikan sesuatu kepada siapapun djuga.
Saja bersumpah (berdjandji) bahwa saja, untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu sebagai Anggota Madjelis Permusjawa
ratan Rakjat Sementara ini, tiada sekali-kali akan menerima, langsung ataupun tak langsung, dari siapapun djuga sesuatu djandji atau pemberian.
Saja bersumpah (berdjandji), bahwa saja senantiasa akan m em - bantu memelihara Undang-undang Dasar dan segala peraturan jang lain jang berlaku bagi Republik Indonesia.
Saja bersumpah (berdjandji), bahwa saja akan berusaha dengan sekuat tenaga memadjukan kesedjahteraan Rakjat Indonesia dan akan setia kepada Nusa, Bangsa dan Republik Indonesia” , j. Penetapan Presiden no 2 tahun 1959 tentang MPR-Sementara
Pendjelasannja, lihat Lampiran.
k. Pada tanggal 15 September 19G0 MPR-Sementara dilantik (sum
pah, djandji) di Istana Negara Djakarta. Dari 610 orang anggota, hadir 574 orang.
1. Bersumpah menurut agama Islam 394 orang 2. Bersumpah menurut agama Kristen Protestant 48 „ 3. Bersumpah menurut agama Kristen Katholik 13 ., 4. Bersumpah menurut agama Hindu Bali 12 „
5. Berdjandji 107 .,
Djumlah 574 orang 25
Pasal 3
Madjelis Permusjawaratan Rakjat meneiapkan Undang-undang Dasar dan garis-garis besar daripada Iialuan negara.
PENDJELASAN :
Oleh karena Madjelis Permusjawaratan Rakjat memeg&ng k eda u latan Negara; maka kekuasaannja tidak terbatas. m engingat dinamik masjarakat. sekali dalam 5 tahun M adjelis m em perha- tikan segala jang terdjadi dan segala aliran-aliran pada waktu itu dan inenentukan haluan-haluan apa jang hendaknja dipakai unluk dikemudian hari.
TJ AT AT AN :
a. 1. UUD 1945 : MPR. jang menetapkan UUD. terdiri atas a n g g ota - anggota DPR ditambah dengan utusan-utusan dari daferah- daerah dan golongan-golongan.
2. K. RIS 1949 : Konstituante (Sidang Pembuat Konstitusi) ja n g bersama-sama dengan Pemerintah menetapkan K. R IS ja n i tetap adalah rapat gabungan DPR dan Senat, k ed u a -d u a n ja dengan djumlah anggota dua kali lipat (pasal 186, 188 K . RTS 1949).
3. UUDS 1950: Konstituante- (Sidang Pembuat U ndang-undang Dasar) jang bersama-sama dengan Pemerintah menetapkan UlJD jang tetap (definitif) terdiri dari sedjumlah A nggota ja ii >
besamja ditetapkan berdasar atas perhitungan setiap 150.00;
djiwa penduduk wargancgara Indonesia m em punjai seoran^
wakil, jang dipilili dalam suatu pemilihan um um (dengar mengingat w akil-w akil golongan ketjil) (pasal 135 UU DS 1950) Dengan adanja ketentuan konstitutionil sekitar m ateri ini, ialaj menetapkan UUD, maka djelaslah sifat daripada ketiga k o n sti
tusi ini, ialah sifat kesementaraan (bagi UUD 1945 lihat pasal ; jo ajat 2 Aturan Tambahan). Suatu UUD (K onstitusi) ja n j tetap tidak memuat ketentuan seperti ini, tetapi hanja m em ua' ketentuan-ketentuan mengenai perubahan UUD.
Seperti jang telah ditjatat dibawah Dekrit Presiden R l/P a n g - lima Tertinggi Angkatan Perang tanggal 5 D juli 1959, maka D ekri tersebut. tidak menegaskan ..kedudukan” daripada UUD 1945
apa UUD 1945 kini mendjadi UUD jang tetap atau masih sementara. Jang tegas. ialah, bahwa : „UUD 1945 berlaku lagi bagi segenap Bangsa Indonesia daii seluruh tumpah darah Indonesia, terhitung mulai hari tanggal penetapan D ekrit ini, dan tidak berlakunja lagi UUD Sementara".
b. Badan jang menetapkan garis-garis besar daripada haluan Negara hanja terdapat dalam UUD 1945. Adapun haluan Negara dalam arti Asas-asas dasar atau directive principles of Statepolvcy dalam K. RIS 1949 dan UUDS 1950 tertjantum sebagai ketentuan-keten- tuan konstitutionil, jakni K. RIS 1949 dalam Bab I Bagian VI pasal 34 s /d 41, dan dalam UUDS 1950 dalam Bab I Bagian VI pasal 35 s /d 43.
27
B A B III
K E K U A S A A N P E M E R IN T A H A N *) N E G A R A Pasal 4
(1) Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan peme
rintahan menurut Undang-undang Dasar.
(2) Dalam melakukan kewadjibannja Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden.
PENDJELASAN : Pasal 4 dan 5 ajat 2 :
Presiden ialah kepala kekuasaan executif dalam Negara. Untuk mendjalankan undang-undang ia m empunjai kekuasaan untuk menetapkan peraturan Pemerintah (,.pouvoir reglementair” ) .
TJ AT A T AN :
a. Batja pula Pendjelasan umum jang mengenai Sistim Pem erintahan
Negara. '
b. Lain daripada K. RIS 1949 dan UUDS 1950 jang k e d u a -d u a n ja mengenai Kabinet jang bertanggung djaw ab kepada P arlem en (Cabinet government), maka UUD 1945 memakai sistim ja n g terkenal dengan nama Kabinet Presidentil (Presidential g o v e r n ment) .
Sistim Kabinet seperti ini, dilaksanakan pula misalnja d i A m e - rika Serikat (U SA). Bedanja, ialah, bahwa Presiden R I harus bertanggung djawab pada MPR, sedangkan Presiden U S A tidak.
Selandj'utnja m enurut Article I Section I dari K onstitusi U S A , maka "A ll legislative pow ers herein granted shall b e v es te d in a Congress of the United States, which shall consist o f a S enate and House of Representatives”, sedangkan Presiden R I m enurut k e te n - tuan pasal 5 ajat I UUD 1945 m em egang kekuasaan m em b e n tu k undang-undang dengan persetudjuan DPR.
*) dari p en ju su n : Dalam pendjelasan Berita RI II No 7 hal. 54, kata Pemerintahan ini ditulis tanpa an, djadi P em erintah. S ebagai nama Bab dalam buku „3 UUD” oleh M r A .K . P rin ggod igd o dan
„Proklamasi dan Konstitusi” oleh M r M uh. Yam in d ju ga hanja ditulis dengan Pemerintah.
c. K. RIS 1949 tidak mengenai djabatan Wakil Presiden. UUDS 1950 menjebutnja dalam pasal 44 dan berikutnja.
Sedjak achir 1956' hingga sekarang ini (mulai berlakunja kem bali UUD 1945) djabatan Wakil Presiden lowong. Kelowongan djabatan ini ialah, sedjak Dr Mohammad Hatta mengundurkan diri dari djabatannja sebagai Wakil Presiden RI. Menurut pasal 45 ajat 3 UUDS 1950, maka Presiden dan Wakil Presiden dipilih menurut aturan jang ditetapkan dengan undang-undang. Undang- undang jan^f termaksud disini hingga kini belum terbentuk. Itu- lah sebabnja, sehingga selama masa berlakunja UUDS 1950 tidak dapat dipilih seorang Wakil Presiden jang baru. (Lihat pula tjatatan dibawah pasal 8.
d. Sekedar sedjarah :
Dalam pertumbuhan penjelenggaraan pemerintahan RI, dalam masa pertama berlakunja UUD 1945, maka ketentuan pasal ini telah mengalami perubalian, jakni dari sistim Kabinet Presidentil- berubah mendjadi Kabinet jang bertanggung djawah, jakni dengan terbentuknja Kabinet Sjahrir I pada tanggal 14-11-1945. Dalam Maklumat Pemerintah RI tanggal 14-11-1945 ditegaskan a.i. p eri- hal tanggung djawab adalah dalam tangan M enteri (Berita RI tahun I no 2 hal. 9, kol. 3— 4). Perubahan ini kemudian didjelas- kan pula dalam „Pendjelasan Tanggung djawab Menteri” tanggal 21-11-1945 oleh Menteri Penerangan (Berita RI tahun I no 2, hal.
11, kol. 3).
Menurut Pendjelasan Menteri Penerangan itu, maka perubahan sistim ini ditimbulkan dengan tjara kebiasaan politik (convention).
Pemberian dasar hukum ini, sesungguhnja tidak tepat ! (penjusun).
Dasar hukum daripada perubahan ini, ialah tidak lain daripada Maklumat Pemerintah RI tanggal 14-11-1945 jang telah disinggung diatas. Menurut .Aturan Peralihan pasal IV, maka selama MPR, DPR dan DPA belum dibentuk menurut UUD ini, segala keku a- saannja didjalankan oleh Presiden dengan bantuan sebuali Konnite Nasional. Ini berarti, bahwa Presiden dapat pula melaksanakan wewenang mengubah UUD menurut pasal 37, asal sadja dengan bantuan Komite Nasional. Perubahan ini sebelumnja diusulkan oleh Badan Pekerdja KNP (Berita RI tahun I no 1, hal. 4, kol. 4) jang lalu diterima oleh Presiden, jang dalam konkretonja ter- maktub dalam Maklumat Pemerintah RI tsb. diatas. Maka sudah terpenuhilah sjarat-sjarat Aturan Peralihan pasal 4, sehingga karenanja perubahan itu adalah suatu perubahan UUD jang
29
1
1egas-tegas (bukan convention). Prof. Mr A.G. Prinjjgodigdo dalam bukunja Perubahan Kabinet Presidensiil mendjadi K abinet P a r- lem enter *) (hal. 68—69) djuga mendukung pendirian jang sedjiw a
dengan pendirian kami.
Sesudah Kabinet Sjahrir I itu, maka dalam sedjarah p em erin - tahan RI (D jokja) masih lagi dibentuk beberapa Kabinet P re s i- dentil, tetapi hal itu dilakukan apabila Negara berada dalam keadaan luar biasa (genting), tetapi segera keadaan itu b era ch ir pemerintah kembali dibentuk lagi atas landasan sistim K abin et jang bertanggung djawab. (Ingat pula, bahwa berdasarkan A lu rnn Peralihan pasal 4 Presiden melakukan pula sepenuhnja kedaulatan rakjat (pasal 1 ajat 2) dengan bantuan Kom ite N asional).
*) dari penjusun : Penggunaan istilah „K a b in et P a rlem en ler" disini sesungguhnja kurang tepat. Seharusnja K ab in et jang bertanggunq djawab, karena suatu K abinet K arya (zakenkabinet) m eskipun bukan Kabinet Parlementer. namun adalah tetap K abin i t jane;
bertanggung djawab.
Pasal 5
(1) Presiden memegang kekuasaan mcmbentuk undang-undang dengan persetudjuan Dewan Perwakilan Rakjat.
(2) Presiden menetapkan peraturan Pemerintah untuk mendja- iankan undang-undang sebagaimana mestinja.
PENDJELASAN : Pasal 5 ajat 1 :
Ketjuali „execulive power” , Presiden bersama-sama Dewan Per
wakilan Rakjat niendjalankan legislative power” dalam Negara.
TJATATAN :
a. Tugas dari pada Presiden jang diatur dalam pasal ini, dalam K. RIS 1949 diatur dalam pasal 127 dst. dan dalam UUDS 1950 pasal 89 dst.
Oleh karena sistimnja berbeda-beda, maka pengaturan tugas ini- pun satu sama lain berbeda pula.
I}. Mengenai peraturan Pemerintah dalam hal ihwal kegentingan jang memaksa, lihat pasal 22.
c. Mengenai rantjangan undang-undang jang tidak disetudjui oleh DPR/Pemerintah, lihat pasal 20 dan 21.
d. Batja pula tjatatan dibawah pasal 4.
31
Pasal 6
(1) Presiden ialah orang Indonesia ascii.
(2) Presiden dan wakil Presiden dipilih oleh Madjelis Permu
sjawaratan Rakjat dengan suara jang terbanjak.
PENDJELASAN : Telah djelas.
TJATATAN :
a. Dalam rantjangan UUD „Badan untuk m enjelidiki usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan” tanggal 16-7-1945 ajat 1 pasal ini dirantjangkan berbunji : Presiden ialah orang Indonesia aseli jang beragama Islam (lihat madjalah Swatantra tahun 2 /n o 10 hal. 612) (Batja pula hal. 95 buku ini mengenai „Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia”) .
b. Pasal 26 menjebutkan adanja warganegara bangsa .Indonesia a se li; dan pasal ini menjatakan, bahwa P residen ialah orang Indonesia aseli.
K. RIS 1949 menjatakan, bahwa Presiden harus orang Indonesia (tidak pakai asli).
UUDS 1950 menjatakan, bahwa Presiden harus warganegara (djuga tidak dengan sjarat asli) pasal 45 ajat 5.
c. „Orang Indonesia aseli” itu dalam ajat 1, hanja dihubungkan dengan Presiden sadja. Djadi dapat disimpulkan, bahw a W akil Presiden tidak perlu orang Indonesia asli.
d. Pemilihan Presiden/W akil Presiden jang disini diatur dalam ajat 2, dalam K. RIS 1949 materi ini diatur dalam pasal 69 ajat 2
dan dalam UUDS 1950 dalam pasal 45 ajat 3.
e. Oleh karena hingga saat ini M PR dalam sedjarah ketatanegaraan Republik Indonesia belum pernah terbentuk, maka Presiden dan Wakil Presidenpun belum pernah dipilih oleh badan tersebut.
Pasal 7
Presiden dan Wakil Presiden memegang djabatannja selama masa lima tahun, dan sesudahnja dipilih kembali.
PENDJELASAN : Telah djelas.
T J A T A T A N :
a. Mengenai lamanja masa djabatan Presiden/W akil Presiden tidak diatur dalam K. RIS 1949 dan UUDS 1950.
b. Pasal ini memberikan djaminan akan stabilnja Pemerintahan (lebih-lebih djika dihubungkan dengan sistim Kabinet Presidentil).
Nampaknja alasan ini merupakan landasan pokok bagi Kabinet Karya dalam membentuk keputusannja jang terkenal dibawah nama „Putusan Dewan M enteri mengenai pelaksanaan demokrasi terpimpin dalam rangka kembali ke UUD 1945”, tanggal 19-2-1959.
33
Djika Presiden mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewadjibannja dalam masa djabatannja, ia diganti oleh W akil Presiden sampai habis waktunja.
PENDJELASAN : Telah djelas.
TJ A T A T AN ;
a. Materi ini diatur dalam pasal 72 K. RIS 1949 dan pasal 48 U U D S 1950.
fa. Karena sistim K. RIS 1949 tidak mengenai djabatan W akil Presiden, maka menurut ajat 1 pasal 72-nja d in ja ta k a n : D jik a perlu karena Presiden berhalangan, maka beliau m em erintahkan Perdana M enteri mendjalankan pekerdjaannja sehari-hari.
-. Menurut bunji pasal ini, maka Presiden tidak m ungkin m e w a - kilkan- pekerdjaan djabatannja sehari-hari kepada pendjabat lain dalam Negara, selain Wakil Presiden.
Akan tetapi dalam sedjarah ketatanegaraan Indonesia, d ju ga dalam masa-pertama berlakunja UUD 1945, berhubuiigan dengan masalah mewakilkan pekerdjaan djabatan P residen ini, dalam hal Wakil Presiden sendiripun tidak dalam kesempatan untuk mendjalankannja, telah ditetapkan peraturan perundangan ja n g mengatur persoalan ini. Ialah dengan penetapan UU no 7 tahun 1949 (RI Djokja) tentang Penundjukan Pem angku sem entara d ja batan Presiden R.I. satu-satunja pasal UU tsb b erb u n ji :
1. Djika Presiden dan Wakil Presiden R epublik Indonesia mangkat, berhenti atau tidak dapat melakukan k ew ad jiban n ja dalam masa djabatannja, maka Ketua Dewan Perwakilan R akjat mendjalankan kewadjiban itu sampai ada ketentuan tentang penggantian pemangku djabatan Presiden.
2. Djika Ketua Dewan Perwakilan Rakjat tidak dapat pula mendjalankan kewadjiban itu, maka ia digantikan otph W akil Ketua Dewan Perwakilan Rakjat.
Adapun ditetapkannja UU ini, ialah, karena tatkala itu Presiden dan Wakil Presiden RI (D jokja) masing-masing Ir S oekarno dan Drs Moh. Hatta dipilih berturut-turut mendjadi Presiden dan
Pasal 8