• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERAN MADRASAH NIZHAMIYAH PADA MASA NIZHAM AL

A. Pendidikan

Menurut Ahmad Syalabi, transformasi lembaga pendidikan dari masjid ke madrasah terjadi secara langsung dan tanpa perantara. Menurutnya, ada tiga kondisi yang mempengaruhi terjadinya transformasi tersebut, pertama kegiatan pendidikan di masjid telah mengganggu fungsi utama lembaga itu sebagai tempat shalat. Semakin besar minat belajar umat Islam, membuat masjid semakin penuh dengan halaqah-halaqah ilmiah. Dari setiap grup halaqah, terdengar suara dari seorang guru yang memberikan pelajarannya atau suara perdebatan dalam proses belajar mengajar. Sedikit banyak hal itu menimbulkan gemuruh yang mengganggu pelaksanaan shalat. Kondisi ini menyebabkan masjid sulit dijadikan sebagai tempat ibadah dan tempat belajar

2

al-aqliyyah1 sebagai akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan. Sementara kegiatan pendidikan di masjid pada umumnya lebih banyak diprioritaskan pada al-ulum an-naqliyah2, dan ketiga timbulnya orientasi baru dalam penyelenggaraan pendidikan. Sebagian guru mulai berpikir untuk mendapatkan penghasilan yang layak melalui kegiatan pendidikan. Untuk menjamin hal tersebut, dibangunlah madrasah karena jaminan seperti itu tidak mungkin diperoleh di masjid.3

Berbeda dengan Ahmad Syalabi, George Makdisi berpendapat bahwa transformasi lembaga pendidikan dari masjid ke madrasah terjadi secara tidak langsung, tetapi melalui tahapan perantara yaitu "masjid khan" (masjid yang dilengkapi dengan bangunan asrama atau pemondokan). Menurut Makdisi, asal muasal pertumbuhan madrasah merupakan hasil tiga tahap; tahap masjid, tahap masjid khan, dan tahap madrasah. Tahap masjid berlangsung pada abad ke-8 dan 9 M, tahap masjid khan mencapai perkembangan pada abad ke-10 dan baru kemudian pada abad ke-11 Masehi (ke-5 Hijriyah) muncul madrasah yang khusus diperuntukkan sebagai lembaga pendidikan.4 Terlepas dari perbedaan-perbedaan pendapat tersebut, kebangkitan madrasah merupakan era baru dalam dinamika pendidikan Islam.

Pada Tahun 750 M merupakan awal berdirinya Dinasti Abbasiyah. Pada permulaan masa pemeritahan Dinasti Abbasiyah ini, bangsa Persia sangat

1

al-ulum al-aqliyyah adalah ilmu-ilmu yang berdasarkan akal atau pengetahuan yang bersifat rasional, contohnya ilmu matematika, Sains, dan astronomi.

2

al-ulum an-naqliyah adalah ilmu-ilmu yang berdasarkan syari’ah seperti ilmu Fiqih, Usuluddin dan tafsir.

3

Maksum, Madrasah; Sejarah dan Perkembangannya, Jakarta: Logos Wacana Ilmu,

1999, hal. 55-56 4

berpengaruh dalam pemerintahan, sehingga kebudayaan Islam pun ikut dipengaruhi. Seiring berjalannya waktu hilanglah pengaruh Persia, kemudian digantikan oleh pengaruh Turki. Pada masa Dinasti Abbasiah pula banyak berdiri dinasti dinasti kecil yang berada dalam naungan Dinasti Abbasiyah seperti dinasti-dinasti kecil di Barat dan dinasti-dinasti-dinasti-dinasti kecil di Timur meliputi Samaniyah, Ghaznawiyah, Buwaihi, Saljuk dan lain-lain. Pada masa inilah berdiri madrasah-madrasah yang tidak sedikit bilangannya di seluruh wilayah kekuasaan Islam.

Pada permulaan abad ke-5 H / 11 M, merupakan momentum berdirinya Dinasti Saljuk. Tokoh yang berperan dalam pendirian Dinasti ini ialah Tughril Bek. Tughril Bek bersama saudaranya berhasil merebut Marv dan Naisabur dari genggaman penguasa Ghaznawiyah, dan mereka pun dapat merebut Balkh, Jurjan, Thabaristan dan Dinasti Khawarizm, Hamadhan, Rayyi, dan Isfahan dari tangan pemerintahan Buwaihi.5 Jadi terbentuknya Dinasti Saljuk berasal dari penaklukan yang di lakukan oleh Thugril Bek atas pemerintahan Dinasti Gaznawi dan Diasti Buwaih.

Tughril Bek memerintah Dinasti Saljuk dari tahun 1037-1063, sepeninggal Thughril Bek pemerintahan diteruskan oleh keponakannya yaitu Alp Arslan yang memerintah dari tahun 1063-1072.6 Para ahli sejarah banyak menyebutkan bahwasannya masa keemasan penerintahan Dinasti Saljuk ialah ketika dipimpin oleh Alp Arsln dan Malik Syah yang memimpin dari tahun 1072-1092. Pada masa kepemimpinan Sultan Alp Arslan dan Malik Syah, Dinasti Saljuk dipimpin oleh

5

Philip K. Hitti, History of the Arabs, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2013, hal. 602 6

4

seorang perdana mentri yang mahir yaitu Nizham al-Muluk. Usahanya yang paling terkenal ialah pendirian lembaga pendidikan Madrasah Nizhamiyah.

Usaha pendirian Madrasah Nizhamiyah ini bertujuan untuk menyebarkan faham Sunni7 di wilayah kekuasan dinasti Saljuk. Karena sebagian wilayah kekuasan Dinasti Saljuk merupakan bekas dari kekuasaan Dinasti Buwaihi yang beraliran Syiah.8Dikhawatirkan masyarakat yang beraliran Syiah melakukan pemberontakan terhadap penguasa Dinasti Saljuk bahkan ada yang ingin menghancurkan pemerintahan Dinasti Saljuk. Seperti yang dilakukan oleh Ibrahim Yanal dan kemudian dilanjutkan oleh al-Basasiri di Mosul dan Bagdad melakukan revolusi dua kali, di mana keduanya hampir saja menghancurkan kesultanan Dinasti Saljuk secara total.

Darul Hikmah dan Al Azhar yang di bangun oleh Dinasti Fatimiyah9pada abad kesepuluh Hijriyah di Cairo mempunyai peran yang signifikan dalam menyebarkan prinsip-prinsip ajaran Syiah Ismailiyah dan menjadikan Syiah sebagai paham Islam di dalam pemerintahan Dinasti Fatimiyah.10 Didirikannya Al-Azhar oleh Dinasti Fatimiyah yang bermazhab Syiah, maka hal itu

7

Sunni adalah salah satu mazhab atau golongan di dalam Islam, yang mempunyai pengikut paling banyak di banding mahab-mazhab yang lain. Mazhab Sunni berdasar pada sunah (tradisi) Nabi Muhammad SAW, di samping Al Qur’an, golongan Sunni juga biasa di sebut dengan Ahlusunah waljamaah. Lihat Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam,Ensiklopedi Islam Jilid.4 (Jakarta; PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Cet. XI, 2003), hal. 298

8

Syiah dilihat dari bahasa berarti pengikut, pendukung, partai atau kelompok, secara terminologis adalah sebagian kaum muslim yang dalam bidang spiritual dan keagamaanya selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad SAW, atau orang yang di sebut sebagai ahl al-bait. Poin penting dalam doktrin Syiah adalah pernyataan bahwa segala petunjuk agama bersumber dari ahl al-bait, mereka menolak petunjuk-petunjuk keagamaan dari para sahabat yang bukan ahl al-bait atau para pengikutnya. Lihat Hamid Dabashi, “Shi’i Islam, Modern Shi’ii Thuoght”. Dalam John L. Esposito, (Ed), The Oxford Enyclopedia of The Modern Islamic Word, jilid IV, oxford University Press, Oxford, 1995, hal. 55.

9

Dinasti Fatimiyah adalah Dinasti yang didirikan di Tunisia pada tahun 909 M, Dinasti Fatimiyah adalah Dinasti yang menganut mazhab Syiah, lihat Philip K. Hitti, History Of The Arabs, From the Earliest Times to the Present (Jakarta; PT. Serambi Ilmu Semesta, Cet. II, 2006), hal. 787

10

dijadikannya sumber ilham dan semangat untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan dan bukan hanya satu lembaga pendidikan saja melainkan di seluruh kota yang berpengaruh di wilayah Dinasti Saljuk. Semua itu dimaksudkan untuk peran aktif dan bergabung bersama para pejuang dalam perang melawan para ahli bid’ah dengan senjata yang sama.11

Penghentian gerakan Syiah ini apalagi menghancurkannya bukanlah perkara yang mudah, jika tidak diimbangi dengan gerakan intelektual. Hal itu dikarenakan Syiah dan sekutunya Mu’tazilah12

aktif dalam meyebarkan mazhab mereka selama priode tersebut dan sebelumnya melalui berbagai piranti dan beragam pemikiran. Aktivitas ini tidak dapat dihadapi dengan baik kecuali dengan aktivitas serupa dari kaum Sunni, menghadapi mereka dengan bukti bukti argumen dan pemikiran. Terlebih lagi Dinasti Saljuk mewarisi kekuasaan Persia dan Irak yang mendapat pengaruh Dinasti Buwaihi yang bermazhab Syiah. Sebelum Nizham al-Mulk memerintah sebagai wazir Dinasti Saljuk, Dinasti Saljuk tidak memberikan perhatian yang serius mengenai aktivitas juru dakwah Syiah dan sekutunya Mu’tazilah yang mengkampanyekan mazhab dan pemikiran mereka. Di samping itu mereka menutup mata mengenai aktivitas dakwah dan penyebaran pemikiran Syiah dan sekutunya Mu’tazilah di Persia dan Irak. Akibatnya, mazhab dan pemikiran Syiah semakin berkembang dan pengaruh merekapun semakain besar. Terlebih lagi ketika kaum Syiah mendirikan beberapa

11

Ali Muhammad Ash-Shallabi, Bngkit dan Runtuhnya Daulah Bani Saljuk, hal. 368 12Mu’tazilah adalah salah satu aliran dalam teologi Islam yang di kenal bersifat rasional dan liberal. Pandangan pandangan teologisnya lebih banyak ditunjang oleh dalil-dalil aqliah (akal) dan lebih bersifat filosofis, sehingga sering disebut aliran rasionalis Islam. Aliran ini didirikan oleh Wasil bin Ata tahun 100 H/718 M, lihat Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam,Ensiklopedi Islam Jilid.3 (Jakarta; PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Cet. XI, 2003), hal. 298

6

lembaga pendidikan yang diagendakan untuk menyebarkan keyakinan dan pemikiran pemikiran mereka.

Menurut Mahmud Yunus latar belakang didirikanya madrasah di masa pengaruh Turki (saljuk) adalah: Pertama, Mengambil Hati Rakyat; Pembesar-pembesar Turki yang berkuasa dalam negara terutama dalam masalah ketentraman, mereka bukanlah bangsa Arab dan bukan keturunan Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu mereka harus mengambil hati rakyat dengan jalan memajukan agama dan mementingkan pendidikan dan pengajaran. Bahkan kadang-kadang setengah mereka kawin dengan anak gadis khalifah. Banyak tokoh mendirikan madrasah-madrasah di negara Islam. Dengan demikian, tersebarlah madrasah-madrasah di negara Islam pada masa pengaruh dan kekuasaan Turki. Mereka memberikan uang belanja yang besar sekali untuk madrasah-madrasah tersebut.13

Kedua; Mengharapkan Pahala dan Ampunan dari Tuhan, masa ini para pembesar dan sultan hidup dalam kemewahan yang berlebih. Oleh sebab itu. Mereka beramal menyiarkan agama dengan mengadakan madrasah-madrasah untuk memberikan pendidikan dan pengajaran kepada seluruh rakyat. Harapannya semoga akan mendapatkan keridoan dan ampunan dari Allah SWT.14

Ketiga; Memelihara Kehidupan Anaknya Kemudian Hari, pembesar-pembesar Turki yang menjadi wali satu wilayah telah menjadi kaya raya dengan hasil bumi dan kekayaan yang dipungutnya dalam wilayahnya. Mereka khawatir kalau mereka mati harta kekayan mereka akan diambil oleh sultan sehingga

13

Ali Muhammad Ash-Shallabi, Bangkit dan Runtuhnya Daulah Bani Saljuk, hal. 478

14 Ibid

anak mereka hidup terlantar. Oleh karenanya, mereka mewakafkan tanah atau rumah-rumah kepunyaan mereka. Adapun syarat wakaf di antaranya yaitu: pengurus wakaf adalah anak mereka sendiri turun temurun sampai cucu-cucunya dengan mendapatkan bagian tertentu dari wakaf tersebut.15

Keempat; Memperkuat Aliran Keagaman bagi Sultan atau Pembesar, masa ini tersebar anti agama dan banyak perselisihan antara aliran-aliran agama terutama Syiah dan Sunni.16 Agar kekuasaan mereka tetap bertahan tentunya harus ditopang oleh ideologi yang dianut oleh pemerintah. Oleh karena itu didirikanlah madrasah-madrasah sebagai alat propaganda dan indoktrinasi ideologi di dalam wilayah-wilayah yang dikuasai oleh orang-orang Turki Saljuk ini. Nizam al-Mulk berpendapat “untuk menghadapi perkembangan mazhab Syiah dan sekutunya Mu’tazilah dalam bidang politik saja tidak akan memberikan keberhasilan, kecuali jika perlawanan politik ini diimbangi dengan perlawanan intelektual.17

Dari uraian di atas tampak sekali bahwa pendirian Madrasah Nizamiyah pada masa Dinasti Saljuk ini sangat sarat dengan kepentingan pemerintah atau penguasa. Kepentingan politis-ideologis penguasa tampaknya sangat dominan di samping kepentingan pendidikan agama dan kepentingan pribadi para penguasa saat itu. Madrasah Nizhamiyah dijadikan alat untuk melegitimasi kekuasan pemerintah Dinasti Saljuk. Terlepas dari hal itu semua Madrasah Nizhamiyah

15

Ibid 16

Mahmud Yunus, Pendidikan Islam : Dari Zaman Nabi S.A.W Khalifah-Khalifah Rasyidin, Bani Umaiyah dan Abbasiyah sampai Zaman Mamluks dan Usmaniyah Turki, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1992), hal.69-72

17

8

sangat berperan dalam pemerintahan Dinasti Saljuk pada masa pemerintahan Nizham al-Mulk.

B.Permasalahan

1. Pembatasan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, terdapat banyak masalah-masalah yang harus di kaji, maka dari itu agar pembahasan tidak meluas, penulis membatasi penelitian ini pada bahasan “PERAN MADRASAH NIZHAMIYH PADA MASA NIZHAM AL MULK 1065-1072”

2. Rumusan Masalah

Dari batasan masalah di atas kita bias merumuskan masalah:

1) Apa motif didirikannya Madrasah Nizhamiyah pada masa Nizham Al Mulk?

2) Bagaimana usaha Madrasah Nizhamiyah dalam mensosialisasikan mazhab Sunni pada masa Niham al-Mulk 1065-1072 M?

C.Tujuan dan Manfaat Penulisan Skripsi

Dalam penulisan Skripsi ini terdapat beberapa tujuan dan manfaat penulisan, adapun tujuan dari penulisan ini adalah:

1. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai motif didirikannya Madrasah Nizhamiyah

2. Untuk mengetahui usaha Madrasah Nizhamiyah dalam mensosialisasikan mazhab Sunni dan peranannya pada masa pemerintahan Nizham al-Mulk.

Adapun manfaat yang ingin penulis berikan melalui penulisan skripsi ini adalah :

1. Dapat mengetahui lebih dalam, mengenai motif didirikannya Madrasah Nizhamiyah dan peranannya pada masa Nizham al-Mulk.

2. Menyumbangkan hasil pemikiran berupa karya sejarah dalam bentuk skripsi bagi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Adab dan Humaniora, Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam terkait dengan sejarah Madrasah Nizhamiya kontribusinya dalam pemerintahan Bani Saljuk. 3. Menjadi motivasi bagi para akademisi sejarah Islam untuk mengkaji

sejarah klasik timur tengah dengan tema sejarah pendidikan-politik. D. Studi Terdahulu

Penulis telah mencari referensi tentang bagaimana sejarah perkembangan Madrasah Nizhamiyah dan upayanya dalam menyebarkan faham Sunni, dalam Konteks untuk melegitimasi kekuasan Bani Saljuk. Belum ada pembahasan secara spesifik tentang perkembangan Madrasah Nizhamiyah dan upayanya dalam menyebarkan faham Sunni, dalam konteks untuk melegitimasi kekuasaan Bani Saljuk, serta pengaruh Madrasah Nizhamiyah dalam pemerintahan Dinasti Saljk.

Buku At-tarbiyah al-Islamiyah, Nidhamuha, Falsafatuha wa Tarikhuha, yang di tulis oleh Ahmad Syalabi, tahun 1978, kitab ini membahas mengenai pendidikan pada masa klasik, di dalam buku ini di jelaskan mengenai fase-fase lembaga pendidikan, terutama di jelaskan juga mengenai Madrasah Nizhamiyah, akan tetapi tidak menyeluruh.

10

Skripsi Kepemimpinan Nizham al-Mulk dan kontribusinya dalam pendidikan Islam yang ditulis oleh Yuliana Mahasiswa Jurusan PAI, Fkultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, skripsi ini menjelaskan tentang peranan Nizhm al-Mulk dalam pendidikan Islam, dan di dalam skripsi ini tidak dijelaskan mengenai peran Madrasah Nizhamiyah hanya menjelaskan mengenai berdirinya Madrasah Nizhamiyah.

Jurnal Madrasah dan Politik Sektarian, yang ditulis oleh Drs. H. Moh. As’ad Thoha, M. Ag, membahas mengenai Madrasah digunakan sebagai alat untuk melegitimasi pemerintah, contohnya seperti Al Azhar di Fatimiyah dan Nizhamiyah di Saljuk, dalam jurnal ini di jelaskan mengenai madrasah yang di jadikan alat politik penguasa, jurnal ini tidak menjelaskan madrasah Nizhamiyah secara menyeluruh.

Meskipun banyak para ahli yang sudah melakukan penelitian tentang sejarah dan pengaruh Madrasah Nizhamiyah dan Peranannya menyebarkan faham Sunni dalam kekuasaan Bani Saljuk, namun sejauh ini belum ada yang membahas mengenai sejarah Madrasah Nizhamiyah dan Perannannya pada masa Nizham Al Mulk secara terperinci. Karena itu, penulis merasa perlu melakukan penelitian dan penulisan Madrasah Nizhamiyah peranannya pada Masa Nizham Al Mulk.

E.Metode Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriftif-analisis dengan pendekatan historis. Metode ini merupakan proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau yang berupa teks tertulis. Lalu, poin-poin penting yang telah dianalisa, kemudian ditulis atau

dipaparkan sesuai dengan bentuk, kejadian, suasana dan masa berlangsungnya topik peneltian sejarah yang berkaitan.18

Skripsi ini ditulis dengan menggunakan metode kepustakaan (Library Research) dengan mengakses sumber-sumber tertulis berupa buku-buku, jurnal-jurnal. Dalam metode penelitian sejarah terdapat beberapa prasyrat sebagai sebuah prosedur yang harus diikuti oleh para peneliti sejarah. Adapun prosedur yang penulis pakai untuk penelitian skripsi ini dengan melelui 4 tahap,19 :

a. Heuristik, mengumpulkan atau menemukan sumber yang berkaitan dengan sejarah Perkembangan Madrasah Nizhamiyah pada Masa Nizham Al Mulk dan peranannya dalam menyebarkan faham Sunni. Metode pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan dokumen-dokumen tertulis dan buku-buku yang berkenaan atau memiliki informasi terkait dengan judul penelitian. Sumber-sumber tersebut (primer atau sekunder) terdiri dari data kepustakaan berbentuk buku-buku, Jurnal, bulletin internet dan lain sebagainya.

b. Kritik, Sumber-sumber yang terkumpul kemudian masuk dalam tahap kritik sumber. Pada fase ini penulis melakukan kritik terhadap sumber primer maupun sumber sekunder, yakni dengan mengadakan kritik intern. Kritik intern adalah menelisik prihal isi buku. Termasuk didalamnya adalah keobyektifan penulis dalam memandang suatu pristiwa sejarah. Pada tahap inilah kebenaran akan suatu fakta sejarah dapat teruji atau

18

Louis Gottschalk. Mengerti Sejarah. Penerjemah Nugroho Notosusanto. (Jakarta: UI Press.1983), h. 3.

19

Dudung Abdurrahman, Metode Penelitian Sejarah (Jakarta: Logos Waana Ilmu, 1999),

12

malah terbantahkan. Dalam istilah lain, tahap ini dilakukan untuk mengetahui kredibilitas dari suatu sumber.20

c. Iinterpretasi, pada tahapan ini, setelah penulis mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai teks-teks yang telah melalui fase kritik, kemudian diperkaya oleh interpretasi penulis, yakni dengan menafsirkan fakta-fakta sejarah yang ada, guna mencari karakteristik penulisan yang berbeda dengan karya yang lainnya. Dalam upaya tersebut penulis akan menggunakan pendekatan pendidikan.

d. Historiografi, Dalam tahapan ini disusun strategi dan sistematika penulisan sejarah dengan merekonstruksi fakta-fakta tersebut menjadi cerita sesuai judul skripsi.

Untuk merekonstruksi sejarah Madrasah Nizhamiyah Pada Masa Nizham Al mulk, peranannya dalam Menyebarkan Faham Sunni di Wilayah Kekuasan Bani Saljuk, disamping melakukan penelurusan melalui literatur yang terbatas untuk melengkapi informasi yang dibutuhkan dalam penulisan skripsi ini, penulis juga mengunjungi; Perpustakaan Nasional, Perpustakaan UI, Perpustakaan Iman Jama, Perpustakaan milik pribadi dosen Sejarah Peradaban Islam konsentrasi Timur Tengah, dan berdiskusi dengan teman-teman seangkatan maupun senior SPI (Sejarah Peradaban Islam).

20

Louis Gottschak, Mengerti Sejarah, Terj. Nugroho Notosusanto, (Jakarta: UI Press,

F. Sistematika Penulisan

Untuk menyajikan laporan penelitian, yang jelas dan sistematis tentang materi yang terkandung dalam skripsi ini, penulis menyusun sistematika penulisan ke dalam 5 bab , dengan urutan sebagai berikut:

Pada bab pertama pembahasan akan bertumpu seputar latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, studi terdahulu, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.

Bab kedua, merupakan bab yang membahas seputar Dinasti Saljuk, biografi Nizham al-Mulk, sejarah berdirinya Madrasah Nizhamiyah dan motif didirikannya Madrasah Nizhamiyah.

Bab ketiga, merupakan bab yang akan membahas tentang usaha-usaha yang di lakukan Madrasah Nizhamiyah untuk mencapai tujuannya, melalui Sistematika lembaga Madrasah Nizhamiyah, Kurikulum Madrasah Nizhamiyah, dan Metode Pengajarn Madrasah Nizhamiyah.

Selanjutnya, bab empat akan membahas mengenai peran Madrasah Nizhamiyah pada masa Nizham al-Mulk, dalam bidang pendidikan, ekonomi, politik, serta menyebutkan ulama/tokoh-tokoh yang berperan dalam Madrasah Nizhamiyah.

Bab kelima merupakan kesimpulan tentang hasil penelitian yang telah dilakukan, dan berisi saran.

14 BAB II

KEPEMIMPINAN NIZHAM AL MULK PADA MASA DINASTI SALJUK DAN MADRASAH NIZHAMIYAH

A. Dinasti Saljuk

Saljuk merupakan berasal dari kabilah kecil keturunan Turki, yakni kabilah Qunuq. Kabilah ini bersama dua puluh kabilah kecil lainnya bersatu membentuk rumpun Ghuz. Pada awalnya gabungan kabilah ini tidak memiliki nama, hingga munculah tokoh Saljuk Ibn Tuqaq yang mempersatukan mereka dengan memberi nama Saljuk.1 Negeri asal mereka terletak di kawasan utara laut Kaspia dan laut Aral dan mereka memeluk agama Islam pada akhir abad ke-4 H/10M dan lebih kepada mazhab Sunni.

Pada mulanya Saljuk ibn Tuqaq mengabdi kepada Bequ, raja daerah Turkoman yang meliputi wilayah sekitar laut Arab dan laut kaspia. Saljuk diangkat sebagai pemimpin tentara. Pengaruh Saljuk sangat besar sehingga Raja Bequ khawatir kedudukannya terancam. Raja Bequ bermaksud menyingkirkan Saljuk.

Namun sebelum rencana itu terlaksana Saljuk mengetahuinya. Ia tidak mengambil sikap melawan atau memberontak tetapi bersama dengan para pengikutnya ia berimigrasi ke daerah Jand atau disebut juga wama wara’a al- Nahar, sebuah daerah muslim di wilayah Transoxiana antara sungai Ummu Driya

1

K. Ali. Sejarah Islam (Tarikh Pramodern), (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997), cet.2, hal. 270

dan Syrdarya atau Jihun.2 Mereka mendiami daerah ini atas izin penguasa Dinasti Samaniyah yang menguasai derah tersebut.

Bangsa Turki Saljuk adalah pemeluk Islam yang militan. Masyarakat Turki Saljuk memeluk Islam diperkirakan jauh sebelum mereka memasuki daerah Jand, tetapi kemungkinan besar mereka memeluk agama Islam setelah terjadinya interaksi sosial dengan masyarakat Islam di Jand itu sendiri. Beberapa sarjana berkebangsaan Rusia mengatakan bahwa masyarakat Turki Saljuk memeluk Islam setelah mereka memeluk agama Kristen, dengan melihat nama anak-anak Saljuk yang memiliki kemiripan dengan nama-nama yang ada di dalam kitab Injil, yaitu Mikail, Musa, Israil, dan Yunus. Akan tetapi kemungkinan ini sulit diterima, terutama setelah melihat dan mempelajari tradisi yang ada pada mereka.3

Perkembangan Dinasti Saljuk dibantu oleh situasi politik di wilayah Transoksania. Pada saat itu terjadi persaingan politik antara Dinasti Samaniyah dengan Dinasti Ghaznawiyah ,dalam persaingan ini Saljuk cenderung untuk membantu Dinasti Samaniyah.4 Ketika dinasti Samaniyah dikalahkan oleh Dinasti Ghaznawiyah, Saljuk menyatakan memerdekakan diri. Ia berhasil mengusai wilayah yang tadi dikusai oleh Dinasti Samaniyyah.5 Setelah Saljuk bin Tuqaq meninggal, kepemimpinan Dinasti Saljuk dipimpin oleh Israil ibn Saljuk dan kemudian penggantinya diteruskan oleh Mikail, karena setelah beberapa saat itu saudaranya dapat ditangkap oleh Ghaznawiyah dipimpin oleh Sultan Mahmud.

2

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: RajaGrafindo Persada,1998), hal.7 3

Syafiq A Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam di Kawasan Turki, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hal. 14

4 Ibid 5

16

Kepemimpinan kaum Saljuk selanjutnya di pegang oleh Thugril Bek, cucu Saljuk

Dokumen terkait