H. Skema Hasil Penelitian Komunikasi Equality Suami Istri Pasangan 2
I. Skema Analisis General Komunikasi Equality Suami Istri
3. Pendidikan Pranikah dan Pola pikir
Ketiga, yang menumbuhkan nilai kesetaraan dalam berkomunikasi bagi pasangan 1 yaitu ilmu-ilmu tentang pernikahan dan bagi pasangan 2 yaitu merubah kebiasaan yang bisa membawa dampak negatif pada pola pikir. Sekilas memang tidak ada kemiripan sama sekali dari nilai-nilai yang bisa menumbuhkan kesetaraan bagi pasangan 1 maupun pasangan 2, namun bagi kedua pasangan dalam penelitian hal tersebut membawa pengaruh pada komunikasi yang tercipta. Pasangan 1 menilai khususnya AS sebagai suami penting mempelajari ilmu-ilmu pernikahan jauh hari sebelum menikah karena pernikahan adalah perjalanan hidup yang panjang maka dari itu memerlukan bekal yang tidak sedikit, terkhusus dalam pengetahuan. AS membagikan dua ilmu menikah yang dirasa penting dalam menjalani hari-hari berumah tangga, yaitu mengenai pengetahuan keagamaan dan pengetahuan seksual. Menurut AS kedua itu bisa memudahkan dalam berkomunikasi secara setara bersama pasangan, semakin banyak ilmu yang dipelajari untuk mempersiapkan pernikahan, maka akan semakin baik. Sedangkan pasangan 2, MI sebagai suami melihat ada kebiasaan yang perlu diperbaiki dalam diri istri yaitu UR. Hal ini bertujuan tidak lain adalah demi kelangsungan
171
pernikahan yang ada, agar hubungan pernikahan berjalan dengan baik-baik dan menghindari hal yang tidak perlu. Kebiasaan UR yakni menonton sinetron yang mengisahkan kehidupan rumah tangga yang kurang baik dan kental akan nilai budaya didalamnya, MI melihat apabila tontonan tersebut terus dikonsumsi oleh istri maka dikhawatirkan lambat laun akan membawa pengaruh buruk bagi pola pikirnya dan membawa dampak negatif dalam hubungan pernikahannya, maka dari itu MI merasa perlu untuk merubah kebiasaan istri tersebut. Dengan berupaya menghindari kebiasaan yang kurang baik pada pola pikir, maka kesetaraan dalam berkomunikasi bisa lebih mudah untuk diciptakan karena tidak terganggu dengan hal-hal yang menghambatnya, sebagai contoh apabila tontonan menayangkan seorang istri adalah yang mengerjakan seluruh pekerjaan domestik dan hal tersebut terngiang dalam pikiran istri maka ia tidak akan berani untuk meminta tolong suami membantu pekerjannya karena hal tersebut merupakan seutuhnya kewajiban istri.
Pasangan 1 yaitu AS menekankan pentingnya pendidikan pranikah sebelum seseorang memutuskan untuk menikah, karena pernikahan bukan hanya tentang sekedar berganti status saja tetapi menikah berarti bertambahnya peran, kewajiban serta tanggung jawab. Helmawati (2014) mendefinisikan pendidikan pra nikah merupakan sebuah proses atau upaya untuk memberikan perubahan atau transformasi pengetahuan, nilai-nilai serta keterampilan yang lebih baik mengenai pernikahan, sebelum pernikahan itu sendiri dilakukan terhadap calon mempelai. Pendidikan pra nikah ini penting untuk dipelajari bagi setiap orang guna membekali diri agar mampu menjalani kehidupan pernikahan dengan langgeng. Islam merupakan agama yang sangat memperhatikan semua aspek kehidupan
manusia tak terkecuali pendidikan, sehingga pendidikan pra nikah juga di atur di dalamnya. Maka dari itu menjadi penting kiranya seseorang mempelajari tentang pendidikan pra nikah, dengan adanya pendidikan pra nikah seseorang diharapkan dapat memilih calon istri atau calon suami yang tepat dan sesuai dengan syariat Islam, sehingga dapat membangun keluarga yang taat akan perintah Allah serta menjadi keluarga yang senantiasa harmonis dan dilandasi oleh nilai-nilai agama.
Kehidupan pernikahan yang dijalani oleh pasangan 1, sebagai suami AS begitu kental dengan menanamkan nilai ajaran keagamaan yang senantiasa ia pegang yaitu menikah akan menyempurnakan separuh agama. Posisi hadis tersebut ternyata berada pada anjuran Islam untuk menikah, diterangkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa menikah merupakan salah satu penyempurna dari separuh agama. Hal inipun tertera dalam sebuah hadis yang artinya,
“Jika hamba seorang telah menikah, maka sungguh ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Maka takutlah kepada Allah dengan (menjaga) separuhnya” (H.R. Ibnu Abbas).
Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh perawi lain yaitu,
“Jika hamba seorang telah menikah, maka sungguh ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Maka takutlah kepada Allah dengan (menjaga) separuhnya (H.R. Imam Baihaqi).
AS sendiri memaknai hadis tersebut lebih kepada praktikannya didalam pernikahan, yakni kesempurnaan yang didapat dalam pernikahan merupakan upaya-upaya yang diciptakan dari kesadaran pasangan suami istri tersebut. Kesempurnaan bisa didapat dengan diciptakan, menikah tidak lantas langsung mendapat terpenuhinya kesempurnaan separuh agama apabila pasangan suami istri tidak mengupayakannya didalam pernikahan yang ada. AS menceritakan
173
sebagai contoh, tersenyum kepada suami pun bisa bernilai pahala ketika sudah menikah, hal itu terjadi karena adanya kesadaran untuk menciptakan senyuman kepada pasangan. Menurutnya agar terpenuhinya separuh agama juga diciptakan dengan ibadah-ibadah bersama yang dilakukan didalam rumah tangga, untuk menciptakan kesempurnaan yang ada diperlukan kesadaran bersama untuk beribadah tersebut.
Hal lain yang dibagikan oleh AS yang termasuk dalam pendidikan pranikah adalah pengetahuan mengenai seksual atau yang sekarang lebih dikenal sex education. Abduh & Wulandari (2016) mengatakan bahwa pendidikan seks (sex education) adalah suatu pengetahuan yang membahas mengenai fungsi kelamin sebagai alat reproduksi, perkembangan alat kelamin pada perempuan dan pada laki-laki, menstruasi dan mimpi basah, sampai dengan masalah perkawinan dan kehamilan. Salah satu yang selalu hangat untuk dibicarakan tentang perempuan adalah mengenai hymen atau selaput dara, perempuan dan selaput dara menjadi satu kesatuan yang seakan tidak bisa dipisahkan. Selaput dara merupakan selaput tipis yang mengandung darah, di antara fungsinya adalah untuk menutupi bagian kewanitaan saat masih gadis atau perawan. Selain itu, selaput ini juga yang memisahkan organ-organ reproduksi bagian luar dengan organ-organ reproduksi bagian dalam, ia menjadi pintu alami bagi keluarnya darah haid yang datang setiap bulan. Selaput dara memiliki berbagai macam bentuk, terdapat selaput yang melingkari lubang vagina (annular hymen), ada yang ditandai dengan beberapa lubang yang terbuka (septate hymen), ada yang ditandai dengan beberapa lubang kecil dengan jumlah yang lebih banyak (cibriform hymen), serta ada yang sudah berhubungan seksual, tetapi masih menyisakan selaput dara (introitus). AS
menilai penting bagi pasangan yang akan menikah untuk mempelajari pengetahuan seksual agar tidak salah kaprah dalam menilai atau berbuat sesuatu, karena ia sempat mendapati cerita teman yang hubungan rumah tangganya mendapati konflik karena kurangnya pengetahuan seksual. Dengan mempelajari pengetahuan seksual maka akan lebih bisa mengerti pasangan dan memperlakukan pasangan dengan baik.
Pendidikan pra nikah dapat memberikan manfaat diantaranya ialah untuk mencapai sebuah keluarga yang damai, tentram, dan bahagia serta senantiasa diliputi rasa kasih sayang antar anggota keluarga sehingga mereka dapat bersosial dengan baik di dalam masyarakat. Keluarga yang bahagia tidak akan terwujud dengan mudah tanpa adanya pendidikan atau kebiasaan-kebiasaan baik yang dimulai dari dalam keluarga itu sendiri. Dengan demikian, dalam mewujudkan keluarga yang bahagia hendaknya anggota keluarga menyadari pentingnya sebuah proses pendidikan yang sesuai dengan syari’at sehingga proses transformasi perilaku dan sikap anggota keluarga akan tercermin dalam kepribadian yang baik yang sesuai dengan tuntunan yang disyari’atkan oleh agama (Syarifuddin, 2007). Robert F. Stahmann dalam jurnal yang berjudul “Premarital Counselling: a focus for family therapy, Journal of Family Therapy” menyebutkan:
“Typical goals of the various approaches to marital preparation include: (a) easing the transition from single to married life, (b) increasing coule stability and satisfaction for short and long term, (c) enhancing the communications skills of the couple, (d) increasing friendship and commitment to the relationship, (e) increasing couple intimacy, (f) enhancing problem-solving and decisions-making skills in such areas as marital roles and finances.”
Kutipan di atas menjelaskan bahwa ada beberapa manfaat yang didapatkan dalam menerapkan persiapan sebelum melakukan pernikahan, hal tersebut meliputi; (a)
175
memudahkan peralihan masa transisi dari masa lajang (single) ke dalam kehidupan pernikahan, (b) meningkatkan stabilitas dan kepuasan pasangan untuk jangka pendek dan jangka panjang, (c) meningkatkan keterampilan komunikasi antar pasangan, (d) meningkatkan komitmen terhadap hubungan, (e) meningkatkan keintiman pasangan, (f) meningkatkan keterampilan dalam memecahkan masalah dan pengambilan keputusan seperti dalam ranah keuangan, manajemen konflik, dan sebagainya. Seperti pada manfaat pendidikan pranikah yang telah dipaparkan diatas itu dia alasan yang bisa diterima bagaimana pendidikan pranikah ini bisa menumbuhkan kesetaraan berkomunikasi bersama pasangan karena dengan adanya pendidikan pranikah ini pasangan suami istri menanamkan nilai-nilai yang positif dalam memperlakukan pasangan.
Pasangan 2 sendiri memiliki cerita yang lain dalam menumbuhkan kesetaraan dalam berkomunikasi dengan pasangan, yakni mereka menilai dengan menghindari kebiasaan yang kurang baik contohnya tontonan sinetron yang sangat kental akan nilai budaya masyarakat akan berpengaruh pada pola pikir yang ada dan bisa berdampak pada kehidupan rumah tangga. MI ingin merubah kebiasaan istrinya yang dahulu senang menonton sinetron, tayangan yang seringkali dilihat oleh UR biasanya adalah yang mengisahkan tentang kehidupan rumah tangga, namun seperti yang diketahui bersama tontonan tersebut biasanya kurang mendidik karena mengisahkan kehidupan pernikahan yang kurang baik, misalnya pertengkaran suami istri, perselingkuhan dalam pernikahan, atau orang baik yang selalu sengsara. Jika UR selalu mengkonsumsi hal semacam ini, MI khawatir istri akan menjadi terbawa pola pikirnya seperti yang ada di televisi dan khawatir berdampak pada kehidupan pernikahannya.
Pada kesetaraan hal pertama yang bisa mencapai kepada nilai tersebut adalah tidak pernah membiarkan "keharusan irasional" menghalangi, artinya tidak menghalangi perbedaan pemikiran dari biasanya. Sebagai contoh istri memasak adalah sebuah pemikiran rasional pada umumnya, sedangkan suami memasak adalah sebuah pemikiran irasional yang berbeda pada umumnya, pada kesetaraan hal tersebut merupakan suatu yang tidak dijadikan sebuah masalah dan tidak apa-apa, pemikiran-pemikiran atau kebiasaan-kebiasaan yang berbeda dari standar nilai pikir rasional merupakan awal mula tumbuhnya sebuah kesetaraan bisa dimulai dengan ditanggapi sikap biasa, menerima dan tidak mempermasalahkan atau tidak menghalangi pemikiran yang tidak pada umumnya itu ada (Carlson & Slavik, 1998). Poin diatas sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai kebudayaan yang melekat pada masyarakat, kebiasaan-kebiasaan yang sehari-hari dilakukan menjadi sebuah ciri khas pembeda antara laki-laki dan perempuan. Tayangan sinetron Indonesia yang juga kental akan nilai budaya patriarkinya membuat masyarakat semakin dibiasakan dengan pola hidup yang ada, hal ini yang membuat sulitnya pemikiran baru untuk tumbuh disetiap lapisan kalangan masyarakat yang ada. Kebiasaan UR dalam menonton tayangan sinetron tersebut dapat berpengaruh kepada pola pikir dan keyakinannya mengenai nilai budaya dan nilai kesetaraan yang nantinya ada, untuk itu MI melihat perlu adanya perubahan kebiasaan dalam diri istri mengenai kebiasaan dulu sebelum menikah dan sekarang setelah menikah.
Kebiasaan berasal dari kata biasa yang mengandung arti pengulangan atau sering melakukan walau dalam waktu yang berbeda dan ditempat yang berbeda pula. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan tidak terlepas dari sebuah nilai-nilai
177
atau values. Kebiasaan yaitu sesuatu yang biasa dikerjakan, tingkah laku yang sering diulang sehingga lama-kelamaaan menjadi otomatis dan bersifat menetap. Pembiasaan adalah sesuatu yang sengaja dilakukan secara berulang-ulang agar sesuatu itu dapat menjadi kebiasaan. Menurut Pavlov perilaku manusia dapat dibentuk melalui pembiasaan, suatu perilaku jika dilakukan secara berulang-ulang maka akan membentuk perilaku pada diri seseorang. Pada tahap permulaan akan terlihat sedikit perubahan suatu tingkah laku, hal ini akan terus berubah sesuai dengan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus sehingga muncul kinerja yang baik atau kebiasaan yang baik (Hikmat, 2014). Pola pikir adalah kepercayaan yang mempengaruhi sikap seseorang atau cara berpikir yang mempengaruhi perilaku seseorang. Pola pikir terletak dalam pikiran bawah sadar seseorang, sesuatu yang dipikirkan terus menerus dalam keadaan pikiran sadar akan mengendap menjadi pikiran bawah sadar dan akhirnya mempengaruhi perilaku seseorang. Maka mereka yang memiliki pola pikir negatif akan berperilaku negatif, sedangkan pola pikir positif akan mempengaruhi perilaku positif. Pola pikir merupakan strategi yang memusatkan perhatian pada upaya mengidentifikasi dan mengubah pikiran-pikiran atau pernyataan diri negatif dan keyakinan-keyakinan yang tidak rasional. Pengubahan pola pikir menggunakan asumsi bahwa respon-respon perilaku dan emosional yang tidak adaptif dipengaruhi oleh keyakinan, sikap, dan persepsi individu (Monks, 2002).
Kebiasaan menonton tayangan sinetron dengan mengandung nilai-nilai yang tidak baik dan dilakukan berulang-ulang dapat membentuk suatu perilaku, selama menonton sinetron yang bekerja adalah pikiran sadar dan bisa mengendap menjadi pikiran bawah sadar yang akhirnya dapat mempengaruhi perilaku
seseorang, maka mereka yang menerima pola pikir negatif akibat tontonan yang dilihat secar berulang-ulang berpotensi berperilaku negatif pula, hal ini yang sangat MI hindari dari kebiasaan istrinya. Kesetaraan dalam berkomunikasi tidak akan mudah tercipta apabila dibarengi dengan kebiasaan yang bertolak belakang dengan nilai atau value yang ada, itu mengapa dengan mengubah kebiasaan istri tersebut yang tadinya senang menonton sinetron menjadi tidak perlu adanya kebiasaan baru untuk mengubah perilaku.