Jawabannya tidak. Moral dan etika tidak perlu menjadi mata pelajaran atau mata kuliah mandiri. Moral dan etika bisa hidup di dalam pelajaran-pelajarannya lainnya. Seperti sudah ditegaskan oleh para filsuf pendidikan, esensi pendidikan selalu mencakup tiga hal, yakni penyadaran, pemanusiaan, dan pembebasan manusia.
Melalui pendidikan manusia disadarkan akan perannya di dunia. Melalui pendidikan manusia dibebaskan dari kemiskinan dan kebodohan. Dan melalui pendidikan manusia menjadi semakin manusiawi dalam memandang kehidupan.
Ketiga hal ini bisa diterjemahkan di dalam pendidikan ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan alam, maupun sosial. Pendidikan sains bukan cuma pemindahan pengetahuan semata, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang tersembuyi di dalamnya. Bagaimana caranya?
Penerapan
Misalnya di dalam matematika. Ilmu ini tidak hanya soal menghapalkan rumus, tetapi juga mengajarkan nilai ketepatan berpikir. 1+1=2. T idak bisa lainnya.
Artinya kalau orang mulai mengubah itu, maka ia berpeluang menjadi koruptor di masa depan.
Di dalam ilmu biologi pun kita bisa melakukan hal yang sama. Guru biologi tidak boleh hanya mengajak anak menghafal anatomi tubuh, tetapi juga mengajar anak untuk sungguh menghargai tubuh. Jika tubuh itu berharga, maka tubuh harus sungguh dihargai dengan tidak menindik tubuh sembarangan, mengkonsumsi obat-obatan yang merusak tubuh, atau melakukan seks yang tidak aman.
Di dalam ilmu fisika, kita diajarkan soal hukum-hukum yang menggerakan alam. Namun guru tidak boleh hanya mengajarkan rumus untuk dihapalkan oleh peserta didik. Guru juga perlu mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang tersembunyi di balik rumus-rumus yang ada.
Misalnya ketika melihat kerumitan alam ini, peserta didik juga diajak untuk sungguh mencintai dan menghargai alam. Peserta didik juga diajarkan untuk melihat dirinya sebagai bagian dari alam, bahwa ia tidak akan bisa hidup dan berkembang sebagai manusia, jika alam tidak menopangnya. Maka sekali lagi perlu ditekankan, bahwa guru fisika tidak hanya mengajarkan rumus dan soal semata, tetapi juga nilai moral yang tertanam di dalam rumus maupun soal tersebut.
Hal yang sama bisa diajarkan melalui pelajaran kimia. Ilmu kimia bertujuan untuk mengungkap
elemen-elemen yang menyusun alam semesta. Di dalam proses belajar kimia, para peserta didik diajak untuk melihat alam sebagai suatu harmoni agung yang seimbang tiada tara. Alam adalah sesuatu yang indah, yang perlu kita hargai dan cintai.
Di dalam pendidikan seni, peserta didik tidak hanya diajak untuk menghapalkan not balok ataupun not angka. Anak juga tidak boleh hanya diajarkan menyanyi dan bermain musik semata. Melalui musik anak diajar untuk mengasah rasa dan kepekaannya soal situasi sekitar, maupun kepada orang lain. Seni adalah alat untuk menggerakan hati peserta didik, dan mengajaknya untuk peka serta terlibat aktif di dalam lingkungannya.
Di sisi lain seni juga merupakan ekspresi dari diri manusia. Di dalam pelajaran seni, anak diajarkan untuk berani terbuka dan mengekspresikan perasaannya. Kemampuan mengekspresikan diri ini juga amat penting untuk menjaga kesehatan mentalnya.
Sekali haruslah diingat bahwa seni bukan hanya soal mengajar menyanyi, menggambar, atau bermain musik, tetapi juga soal yang lebih dalam, yakni mengasah kepekaan diri pada lingkungan sekitar, dan membiasakan peserta didik untuk mengekspresikan diri secara terbuka semua keinginan maupun pikirannya.
Di dalam ilmu pengetahuan sosial, peserta didik diajarkan soal kelas-kelas sosial yang ada di dalam
masyarakat. Misalnya di dalam pemikiran Karl Marx, masyarakat terbelah menjadi dua kelas, yakni kelas proletar yang tak punya modal, dan kelas pemilik modal yang kaya raya.
Ajaran ini tidak boleh berhenti menjadi teori belaka. Nilai di baliknya adalah bahwa peserta didik perlu belajar tentang nilai empati dan solidaritas pada kelas sosial yang berbeda dari mereka. T eori bertujuan untuk membuat hidup manusia lebih bermutu, dan bukan hanya sekedar untuk dihapal belaka.
Di dalam semua mata pelajaran, peserta didik juga diminta untuk belajar mengenai nilai pentingnya kerja sama, kejujuran, ketekunan, komitmen, kerja keras, manajemen waktu, dan kesetiaan yang tertanam di dalam setiap mata pelajaran. Ini semua harus diangkat oleh para guru, sehingga peserta didik memahaminya secara tepat, dan melakukannya di dalam kehidupan.
Pemahaman akan sesuatu juga harus melahirkan kecintaan dan penghargaan pada sesuatu itu. Ilmu bukan sekedar teori ataupun rumus untuk dihafalkan, tetapi juga ajakan untuk sungguh menghargai dan mencintai alam semesta, baik alam sosial maupun alam natural. Cinta dan penghargaan yang nantinya kita wujudkan di dalam sikap hidup sehari-hari.
Maka jelaslah bahwa pendidikan sains juga bisa menjadi jembatan untuk pendidikan moral, tanpa perlu
menciptakan mata pelajaran baru dengan nama etika, moral, atau agama. Dengan cara ini kita semua bisa membangun kurikulum pendidikan yang bersifat integral antara pendidikan intelektual dan pendidikan karakter. Kedua hal itu sama sekali tidak terpisahkan.
Jika itu bisa terjadi, harapan saya, Susan dan Andi tidak perlu menjadi pribadi seperti yang saya ceritakan di atas. Mereka bisa tetap cerdas, sekaligus memiliki karakter yang baik. Bukankah itu yang kita inginkan untuk anak-anak kita? (***)
Milik
Kita semua bekerja. Katanya untuk hidup. T etapi tidak hanya hidup. Kita bekerja untuk menciptakan hidup yang berkualitas.
Salah satu tanda kualitas hidup adalah kuantitas harta milik. Semakin banyak harta milik yang ada, semakin tinggilah kualitas hidup seseorang. Inilah asumsi yang menggerakan roda konsumsi di masyarakat kita. Asumsi yang begitu saja diterima sebagai benar, tanpa pernah dipertanyakan terlebih dahulu.
Liberalisme
John Locke adalah seorang filsuf Inggris yang dianggap sebagai bapak liberalisme. Argumen dasarnya adalah bahwa tugas pemerintah adalah menjaga hak milik pribadi warganya melalui penerapan hukum yang tegas dan adil. Hak milik pribadi rakyat adalah sesuatu yang amat suci, dan tugas negaralah yang menjamin, bahwa setiap warga bisa menikmati hak milik pribadi warganya.
Mengapa begitu? Karena bagi Locke hak milik adalah hak asasi, yakni hak yang sudah dimiliki secara alamiah oleh setiap manusia, dan tidak pernah boleh direbut darinya. Hak milik pribadi adalah simbol otoritas
orang atas dirinya sendiri. Itu adalah simbol bahwa seorang manusia berdaulat atas dirinya, dan atas hasil kerjanya.
Pemerintah tak perlu sibuk mengatur pendidikan. Pemerintah tak perlu sibuk mengurusi soal kesehatan. Cukuplah pemerintah bekerja keras memastikan, bahwa warga memiliki kebebasan untuk mengumpulkan dan menikmati hak milik pribadinya. Jika itu sudah tercapai, maka kualitas pendidikan maupun kesehatan masyarakat otomatis akan terjaga.
Di Indonesia pemerintah bahkan tak mampu melakukan ini. Pemerintah tidak hanya tidak mampu menciptakan pelayanan kesehatan maupun pendidikan yang bermutu, tetapi juga tak mampu menjaga kesempatan warga untuk memperoleh maupun menikmati hak milik mereka secara jujur. Pemerintah tetap ada namun ia seolah tak terasa.
Jika pemerintah Indonesia secara konsisten memeluk liberalisme, dan menjaga kepastian hukum yang melindungi kesempatan warganya untuk memperoleh dan menikmati hak milik pribadinya, maka itu adalah sebuah prestasi yang amat besar. Pemerintahan SBY masih punya waktu untuk menciptakan prestasi. Jangan sampai waktu terbuang hanya untuk menampilkan citra tanpa substansi semata.