BAB II . LANDASAN TEORI
3. Pendidikan Sistem Ganda
Salah satu wujud implementasi tujuan pendidikan di SMK adalah dengan memberikan ketrampilan yang di dapat dari teori - teori yang diberikan. Selain itu, yang lebih penting adalah dengan adanya praktik kerja di dunia usaha atau yang lebih sering disebut dengan Pendidikan Sistem Ganda (PSG).
a. Pengertian PSG
Menurut Siswanto Sastrohadiwiryo (2003: 204) “ pelatihan di tempat kerja diselenggarakan dengan maksud membentuk kecakapan tenaga kerja yang diperlukan untuk suatu pekerjaan tertentu. Pelatihan ini berusaha mengisi celah antara kemampuan pekerja dengan kemampuan yang diperlukan pekerjaan”.
Menurut Wahyu Adi (2005) ”Pendidikan Sistem Ganda (PSG) adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan keahlian kejuruan yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui bekerja langsung di dunia kerja, dan terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu”. Sedangkan menurut Mardi Rasyid (1997: 51) bahwa ”pada PSG peranan industri lebih jauh lagi, industri pasangan diharapkan sebagai mitra sekolah dan ikut merencanakan kegiatan belajar siswa dalam membentuk profesionalitas siswa”.
commit to user
Dalam PSG, lembaga pendidikan atau lembaga pelatihan lainnya dan industri secara bersama-sama menyelenggarakan suatu program pendidikan atau program pelatihan mulai dari perencanaan, penyelenggaraan, dan penilaian sampai dengan upaya penempatan lulusan.
Muliati (2006) menyatakan bahwa PSG mengandung beberapa pengertian, yaitu:
a. PSG terdiri dari gabungan subsistem pendidikan di sekolah dan subsistem pendidikan di dunia kerja/industri.
b. PSG merupakan program pendidikan yang secara khusus bergerak dalam penyelenggaraan pendidikan keahlian professional.
c. Penyelenggaraan program pendidikan di sekolah dan dunia kerja/industri dipadukan secara sistematis dan sinkron, sehingga mampu mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
d. Proses penyelenggaraan pendidikan di dunia kerja lebih ditekankan pada kegiatan bekerja sambil belajar (learning by doing) secara langsung pada keadaan yang nyata.
b. Tujuan PSG
Menurut Wahyu Nurharjadmo (2008) Tujuan penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda adalah:
a. Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian professional. b. Memperkokoh link and match antara sekolah dengan dunia usaha c. Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja d. Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai
bagian dari proses pendidikan.
Dalam pelaksanaan PSG pada sekolah menengah kejuruan, isi pendidikan dan pelatihan meliputi :
a. Komponen pendidikan umum (normatif), meliputi : Mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Agama, Bahasa dan Sastra
commit to user
Indonesia, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Sejarah Nasional dan Sejarah Umum.
b. Komponen pendidikan dasar meliputi : Matematika, Bahasa Inggris, Biologi, Fisika dan Kimia.
c. Komponen kejuruan, yaitu meliputi pelajaran teori-teori kejuruan dalam lingkup suatu program studi tertentu untuk membekali pengetahuan tentang tehnis dasar keahlian.
d. Komponen Praktek Dasar Profesi, berupa latihan kerja untuk menguasai teknik bekerja secara benar sesuai tuntutan profesi.
e. Komponen Praktik Keahlian profesi yaitu berupa kegiatan bekerja secara terprogram dalam situasi sebenarnya untuk mencapai tingkat keahlian dan sikap profesional.
Untuk pengelolaan kegiatan belajar mengajar dalam pendidikan sistem ganda ini ada beberapa prinsip dasar yaitu :
a. Ada keterkaitan antara apa yang dilakukan di sekolah dan apa yang dilakukan di institusi pasangan sebagai suatu rangkaian yang utuh.
b. Praktek keahlian di institusi pasangan merupakan proses belajar yang utuh, bermakna dan sarat nilai untuk mencapai kompetesi lulusan.
c. Ada kesinambungan proses belajar dengan waktu yang sesuai dalam mencapai tingkat kompetensi yang dibutuhkan.
d. Berorientasi pada proses disamping berorientasi kepada produk dalam mencapai kompetensi lulusan secara optimal.
c. Karakteristik PSG
Menurut Wahyu Adi (2005) Pendidikan Sistem Ganda sebagai suatu program memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Standar Profesi
Standar profesi yang dimaksud adalah pencapaian kemampuan profesional yang sesuai dengan tuntutan jabatan pekerjaan atau profesi tertentu yang berlaku di lapangan pekerjaan. Dalam program pendidikan
commit to user
pada SMK standar profesi mengacu pada program studi dan profil kemampuan lulusan.
2) Standar Pendidikan dan Pelatihan
Standar pendidikan dan pelatihan meliputi: a) Isi/ Materi, meliputi:
(1) Komponen pendidikan umum (normatif) untuk membentuk peserta didik menjadi warga negara yang baik yang memiliki karakter sebagai WNI.
(2) Komponen pendidikan dasar penunjang (adaptif) untuk memberi bekal penunjang bagi penguasaan keahlian profesi dan bekal kemampuan untuk mengikuti perkembangan IPTEK.
(3) Komponen teori kejuruan untuk membekali pengetahuan tentang teknik dasar keahlian kejuruan.
(4) Komponen praktik dasar profesi untuk menguasai teknik bekerja secara baik dan benar sesuai tuntutan persyaratan keahlian profesi. (5) Komponen praktik keahlian profesi untuk mencapai tingkat
keahlian dan sikap kerja profesional. b) Waktu
Mengacu pada ketentuan PP nomor 29 tahun 1990, PSG pada Sekolah Menengah Kejuruan pada dasarnya dilaksanakan selama 3 bulan. Hal tersebut bila dimungkinkan dapat dilakukan perpanjangan waktu menjadi 3.5 bulan, kemungkinan perpanjangan waktu tersebut didasarkan atas hasil analisis kebutuhan untuk mencapai standar profesi yang telah ditetapkan.
c) Metoda
Pada dasarnya program PSG pada SMK adalah program bersama antara SMK dengan industri/perusahaan pasangannya, sehingga segala sesuatu yang menyangkut penyelenggaraan PSG perlu dibicarakan dan disepakati bersama. Komponen pendidikan umum, komponen pendidikan dasar penunjang dan komponen teori kejuruan dilaksanakan di sekolah. Komponen praktik dasar profesi dapat
commit to user
dilakukan di SMK, industri/ perusahaan atau kedua tempat tersebut. Komponen praktik keahlian profesi dilaksanakan di industri dan menjadi tanggungjawab sepenuhnya industri/perusahaan yang bersangkutan metode penyelenggaraan secara garis besar dapat terbentuk:
(1) Days Release
Disepakati bersama dari enam hasil belajar dalam satu minggu berapa hari di institusi pasangan dan berapa hari di sekolah.
(2) Block Release
Disepakati bersama bulan atau semester mana di institusi pasangan dan bulan atau semester mana di sekolah.
(3) Hour Release
Disepakati jam belajar yang harus dilepas dari disekolah dan diganti menjadi jam belajar di institusi pasangan.
3) Pengujian dan Sertifikasi
Keberhasilan siswa dalam mencapai kemampuan sesuai dengan standar profesi dapat diketahui melalui uji profesi. Mengenai materi, pelaksanaan dan penentuan hasil disepakati dan dilakukan oleh suatu tim uji profesi yang anggotanya terdiri atas unsur sekolah menengah, institusi pasangan, asosiasi profesi dan organisasi pekerja. Bagi siswa yang dinyatakan lulus, akan diberikan sertifikat yang diterbitkan oleh tim penguji profesi.
4) Kerjasama dengan Dunia Kerja/ Industri
Pendidikan Sistem Ganda hanya dapat dilaksanakan apabila ada kesediaan dan kemauan dari dunia industri dan usaha untuk menjadi pasangan SMK dalam melaksanakan program PSG.
5) Peraturan Pendukung
Pelaksanaan PSG melibatkan banyak pihak antara lain; industri/perusahaan, KADIN, asosiasi perusahaan, asosiasi profesi, organisasi pekerja dan berbagai departemen/instansi terkait, maka
commit to user
diperlukan naskah kerjasama penyelenggaraan PSG sebagai pegangan pelaksanaannya.
6) Nilai Tambah
a) Nilai tambah bagi industri/dunia usaha:
(1) Perusahaan dapat mengenal kualitas peserta didik sehingga apabila diperlukan dapat merekrut langsung menjadi tenaga kerja pada perusahaan.
(2) Memberi kepuasan bagi dunia usaha dan industri karena diakui telah ikut serta menentukan hari depan bangsa melalui pendidikan sistem ganda.
b) Nilai tambah bagi sekolah
(1) Adanya kesesuaian antara dunia pendidikan dengan kebutuhan lapangan kerja.
(2) Memberikan kepuasan bagi sekolah karena lulusannya memperoleh bekal keterampilan yang bermakna baik untuk tamatan sendiri maupun dunia usaha serta bagi nusa dan bangsa. c) Nilai tambah bagi peserta didik
(1) Peserta didik benar-benar memiliki kualitas keterampilan sebagai bekal untuk mengembangkan dirinya khususnya dalam kompetisi di dunia kerja.
(2) Peserta didik setelah lulus telah mendapatkan pengalaman yang sangat berharga.
(3) PSG dapat menambah kepercayaan diri peserta didik yang selanjutnya dapat mendorongnya untuk meningkatkan keahlian yang dimilikinya ke tingkat yang lebih tinggi.
7) Insentif
Perlu diberikan rangsangan dan motivasi bagi DU/DI agar lebih antusias untuk bekerjasama dengan SMK dalam melaksanakan PSG. 8) Kelembagaan
Untuk menjamin keefektifan pelaksanaan PSG diperlukan suatu lembaga organisasi yang mampu menghimpun dan menggerakkan semua
commit to user
sumber daya yang tersedia dan mengorganisasikan semua kegiatan untuk mencapai tujuan PSG. Oleh karena itu, dibentuk suatu wadah kerjasama, koordinasi dan konsultasi yang dinamakan majelis sekolah.
PSG yang dalam pelaksanaannya bekerjasama dengan pihak lain adalah salah satu usaha pemerintah untuk mendekatkan lulusan SMK dengan dunia kerja. Selain itu upaya ini juga untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan siswa, hal ini sesuai dengan pendapat Wasty Soemanto (1993: 185)
Agar sekolah-sekolah kejuruan kita dapat mengembangkan pengajaran yang mempersiapkan manusia-manusia wiraswasta, di samping perlu diadakan pengembangan kurikulum dan pengajarannya sendiri, juga diperlukan adanya pola kerjasama yang efektif antara sekolah, keluarga, masyarakat pemakai tenagakerja, dunia industri dan dunia ekonomi pada umumnya.
Menurut Wasty Soemanto (1993) bahwa peranan pendidikan kejuruan bukan hanya melatih para siswa menjadi tenaga-tenaga siap pakai, melainkan untuk mempersiapkan para siswa untuk siap menggali sumber kehidupan, mengenal arti lingkungan serta mendayagunakan lingkungannya untuk memajukan kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakatnya. Sekolah-sekolah kejuruan menanggung beban yang lebih nyata dalam rangka pendidikan manusia wiraswasta dan mempunyai peranan yang penting pula dalam mempersiapkan manusia-manusia wiraswasta.
Berdasarkan uraian di atas, maka indikator pelaksanaan PSG yang digunakan dalam penelitian ini adalah : standar profesi, standar pendidikan dan pelatihan, pengujian dan sertifikasi, kerjasama dengan dunia usaha dan industri, peraturan pendukung, nilai tambah, insentif, dan kelembagaan.