• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI)

Dalam dokumen PEMBAHARUAN KELEMBA GAAN PENDIDIKAN TINGG (Halaman 30-35)

BAB II: LANDASAN TEOR

3. Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI)

a. Pengertian pendidikan tinggi keagamaan Islam

Perguruan Tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan Pendidikan Tinggi, yaitu pendidikan diatas jenjang pendidikan menengah, yang mencakup program pendidikan Diploma, Sarjana, Magister, Spesialis dan Doktor (Enoch Markum (ed). 2007: 19). Di Indonesia pelembagaan perguruan tinggi dapat berbentuk Akademi, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institut dan Universitas (menurut Himpunan Perundang-undangan RI Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, 1992). Pendidikan tinggi diselenggarakan untuk menyajikan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian (Enoch Markum (ed). 2007: 19).

Perguruan Tinggi Islam di Indonesia didirikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga guru di Sekolah Guru dan Hakim Agama Islam dan tenaga dosen agama Islam di perguruan tinggi umum, yang kemudian bernama perguruan tinggi agama Islam (PTAIN) atau institut agama Islam negeri (IAIN). Dalam pasal 2 Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 1950, dinyatakan bahwa perguruan tinggi agama Islam bermaksud untuk memberi pelajaran tinggi dan menjadi pusat untuk memperkembangkan dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang agama Islam (Zuhraini, 1997: 197).

Ciri Khas yang menandai perguruan tinggi agama Islam terlihat secara jelas pada beban studi yang ditawarkan kepada mahasiswa dan produk yang dihasilkannya. Sebagai wahana pengembangan sumber daya manusia (SDM), perguruan tinggi agama Islam secara konsisten berupaya menghasilkan produk yang memiliki berbagai kompetensi. Diantara kompetensi akademik yang berkaitan dengan metodologi keilmuan, kompetensi profesional yang menyangkut dengan

kemampuan penerapan ilmu dan teknologi dalam realitas kehidupan, dan kompetensi intelektual yang berkaitan dengan kepekaan terhadap persoalan yang berkembang (Yakub dalam Perguruan Tinggi Agama Islam di Era Globalisasi, Syahrin (ed), 1998: 4).

Perguruan tinggi agama Islam negeri baru beroperasi (kuliah perdana) pada tahun 1951, dengan jumlah mahasiswa 67 orang dan 28 orang siswa persiapan. Perguruan tinggi agama Islam negeri ini mempunyai Jurusan Tarbiyah, Qadha dan Dakwah dengan lama belajar 4 tahun pada tingkat bakalaureat dan doktoral (Haidar Putra, 2007: 123). Setelah perguruan tinggi agama Islam negeri berusia kurang lebih 9 tahun, maka lembaga pendidikan tinggi telah mengalami perkembangan. Dengan perkembangan tersebut dirasakan bahwa tidak mampu menampung keluasan cakupan ilmu-ilmu keislaman tersebut kalau hanya berada dibawah satu payung fakultas saja. Berkenaan dengan itu timbullah ide-ide, gagasan-gagasan untuk mengembangkan cakupan perguruan tinggi agama Islam negeri kepada yang lebih luas (Haidar Putra, 2007: 125). Salah satunya dengan perubahan nama menjadi pendidikan tinggi keagamaan Islam atau disingkat PTKI. Seperti yang tersebut di UU No 20 tahun 2012, yang berbunyi

(1) Pemerintah atau masyarakat dapat menyelenggarakan pendidikan tinggi keagamaan (2) Pendidikan tinggi keagamaan yang sebagaimana dimaksud pada ayat 1 berbentuk universtas, institut, sekolah tinggi, akademi dan dapat berbentuk ma’had aly, pesantren, seminari, dan bentuk lainnya yang sejenis.

Mahmud Yunus, dalam bukunya Haidar (2007: 119) mengemukakan bahwa di Padang, Sumatera Barat pada tanggal 9 Desember 1940 telah berdiri perguruan tinggi Islam yang dipelopori oleh Persatuan Guru Agama Islam (PGAI). Menurut Yunus perguruan tinggi ini yang pertama di Sumatera Barat bahkan di Indonesia. Dijelaskan oleh Nizar (2013, 335) bahwa lembaga pendidikan ini memiliki dua fakultas yaitu Syariah dan Pendidikan serta bahasa Arab. Tujuannya untuk mendidik dan mencetak ulama-ulama handal yang berwawasan luas.

Tindakan lebih lanjut di Sumatera Barat didirikan Sekolah Islam Tinggi (SIT) dan Yogyakarta berdiri Sekolah Tinggi Islam (STI) pada tahun 1945, yang kemudian menjadi cikal bakal Universitas Islam Indonesia (UII). Sejarah perguruan tinggi Islam ini merupakan momentum terpenting ketika pada tahun 1950 pemerintah mengambil alih Fakultas Agama yang ada di Yogyakarta, yaitu di UII diserahkan kepada kementrian agama yang kemudian menjadi perguruan tinggi agama Islam negeri (PTAIN) sebagai cikal bakal Institut Agama Islam Negeri (IAIN) melalui PP No. 34 Tahun 1950 (Nizar, 2013: 335). Pada bulan Juni 1957 di Jakarta di buka Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) oleh Departemen Agama (Zuhraini, 1997: 197). AIDA ditujukan untuk meningkatkan kualitas pegawai negeri dalam bidang keagamaan (Nizar, 2013: 336).

Pada bulan Mei 1960 Kementrian Agama menggabungkan PTAIN dan AIDA menjadi IAIN Al-Jami’ah Al-Islamiyah Al-Hukumiyah. IAIN pertama di buka secara resmi di Yogyakarta pada 24 Agustus 1960 (Nizar, 2013: 336), pada tahap awal terdiri dari beberapa fakultas: Fakultas Ushuluddin, Syari’ah, Tarbiyah dan Adab (Sastra Arab), dan tiap-tiap fakultas terdiri dari beberapa jurusan (Zuhraini, 1997: 197).

Di daerah-daerah dibuka fakultas-fakultas cabang. Begitu banyaknya IAIN di daerah-daerah dan luasnya antardaerah menimbulkan kesulitan dalam pengaturannya. Akhirnya pada tahun 1963, Kementrian Agama menganggap perlu untuk memisahkan IAIN menjadi dua institut yang masing-masing berdiri sendiri yaitu IAIN Yogyakarta dan IAIN Jakarta. Untuk mempermudah pengawasan dan pengorganisasiannya, dikeluarkan pembagian wilayah diantara kedua institut tersebut (Nizar, 2013: 336).

Dalam perkembangan berikutnya IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berkembang menjadi 16 fakultas yang tersebar dibeberapa tempat seperti Banjarmasin, Palembang, Surabaya, Banda Aceh, Jambi dan Padang. Perkembangan Fakultas Agama di beberapa daerah merupakan realisasi dari PP No. 11 Tahun 1960. Dengan adanya peraturan itu, maka bermuncullah beberapa buah IAIN diluar Jakarta dan Yogyakarta (Nizar, 2013: 337).

Menyusul keputusan menteri Agama diatas keluarlah PP No. 27 Tahun 1963 antara lain dinyatakan bahwa diluar Yogyakarta dan Jakarta dapat diadakan fakultas atau cabang fakultas yang diatur oleh Menteri Agama, dengan memberi hak pada fakultas-fakultas tersebut untuk menyelenggarakan pengajaran dan ujian-ujian. Disamping itu, juga dinyatakan bahwa sekurang-kurangnnya tiga jenis fakultas dengan Keputusan Menteri Agama dapat digabung menjadi satu IAIN. Akibatnya sampai menjelang tahun 1972 IAIN sudah berjumlah 14 buah dan 104 fakultas (Nizar, 2013: 337). Mengikuti perkembangan selanjutnya fakultas-fakultas cabang yang berada di luar induk atau fakultas daerah beralih status menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) pada tahun 1997 dengan Keputusan Presiden RI N. 11 Tahun 1997 (Nizar, 2013: 338).

Upaya peningkatan IAIN terus dilaksanakan, diantaranya upaya peningkatan pendanaan, peningkatan peranan organisasi IAIN, peningkatan sarana prasarana, kurikulum peningkatan dosen. Peningkatan mutu dosen dengan program pasca- sarjana S2 dan S3 dimulai dari IAIN Jakarta pada tahun 1982 dan IAIN Yogyakarta tahun 1983 dan sampai sekarang IAIN di Indonesia telah banyak melakukan program Magister dan Doktor dalam bidang pemikiran Islam, Pendidikan Islam dan Hukum Islam (Nizar, 2013: 338).

Dalam dokumen PEMBAHARUAN KELEMBA GAAN PENDIDIKAN TINGG (Halaman 30-35)

Dokumen terkait