• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAHARUAN KELEMBA GAAN PENDIDIKAN TINGG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMBAHARUAN KELEMBA GAAN PENDIDIKAN TINGG"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBAHARUAN KELEMBAGAAN PENDIDIKAN TINGGI KEAGAMAAN ISLAM MENURUT A. MALIK FADJAR

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian

Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Dalam Bidang Pendidikan Agama Islam

Oleh

Tri Shofi Afifatur Rozannah NIM: 123111429

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA

(2)
(3)

A. Biografi Intelektual Malik Fadjar

1. Sejarah Kelahiran A. Malik Fadjar...53

2. Pendidikan A. Malik Fadjar...54

3. Karir A. Malik Fadjar...57

4. Karya-karya A. Malik Fadjar...60

B. Pembaharuan Kelembagaan PTKI Menurut A. Malik Fadjar 1. Corak Pemikiran Kelembagaan A. Malik Fadjar...61

2. Pembaharuan Komponen Kelembagaan PTKI Menurut A. Malik Fadjar 65 C. Analisis Pembaharuan Kelembagaan PTKI Menurut A. Malik Fadjar 1. Mahasiswa sebagai SDM yang unggul...79

2. Kreatifitas Dosen...85

3. Konsorsium Pendidikan Tinggi...89

4. Otonomi dan Akuntabilitas PTKI...91

BAB V: PENUTUP A. Kesimpulan...102

(4)

ABSTRAK

Tri Shofi A. R, 2016, Pembaharuan Kelembagaan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Menurut A. Malik Fadjar, Skripsi: Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, IAIN Surakarta.

Pembimbing: Dr. Toto Suharto, M. Ag

Kata Kunci: Kelembagaan, PTKI, A. Malik Fadjar

Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam di Indonesia adalah lembaga pendidikan yang muncul di akhir abad 20, selanjutnya berkembang dan menyesuaikan diri dengan tantangan di era globlalisasi pada saat ini. Berkembangnya dan majunya lembaga pendidikan tinggi Islam ini tak terlepas dari peran para tokoh pendidikan, seperti Abdul Malik Fadjar. Gagasan dan kebijakannya menjadikan pendidikan tinggi Islam sebagai lembaga yang semakin maju, survive terhadap tantangan-tantangan pendidikan selanjutnya. Dia pernah menjabat sebagai Dirjen Binbagas (1996-1998), Menteri Agama (1998-1999), Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004) dan Watimpress (2015-sekarang). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui maksud dan bagaimana pembaharuan kelembagaan PTKI menurut A. Malik Fadjar.

Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian library research dengan pendekatan penelitian analisis isi atau content analisys. Pengambilan sumber datanya, dari data primer dan sekunder serta wawancara dengan kerabat A. Malik Fadjar. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi.

(5)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani, Paedagogie yang akar katanya Pais yang berarti bimbingan (Qiqi dan Rusniana, 2014: 85). Sedangkan pendidikan dalam pengertian yang luas dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran kepada peserta didik dalam upaya mencerdaskan dan mendewasakan peserta didik (A. Susanto, 2009: 10).

Dalam kehidupan suatu negara, pendidikan memegang peranan yang sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa, karena pendidikan merupakan wahana peningkatan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia dan sekaligus faktor penentu keberhasilan pembangunan. Hal ini diakui bahwa ”keberhasilan suatu bangsa sangat ditentukan oleh keberhasilan dalam memperbaiki dan memperbarui sektor pendidikan” (Aulia Reza, 2002: 4). Selain itu pendidikan juga berorientasi pada perwujudan tatanan baru kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani (Civil Society) (Qiqi dan Rusniana, 2014: 89).

Dalam mencapai tujuan tersebut pendidikan Islam adalah salah satu bagian dari pendidikan nasional, sehingga Islam juga banyak berbicara panjang lebar tentang pendidikan. Inti dari pendidikan Islam menurut M Athiyah al Abrasyi dalam bukunya Marzuki (2012: 4) adalah budi pekerti. Pendidikan budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan Islam, dan Islam telah menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam. Mencapai suatu akhlak yang sempurna adalah tujuan yang sebenarnya dari pendidikan Islam (Mohammad Athiyah al Abrasyi, 1974:

(6)

33). Pada definisi ini nampak bahwa karakter menjadi manusia ideal yang dicapai melalui kegiatan pendidikan adalah manusia yang sempurna akhlaknya. Meskipun demikian, pendidikan Islam tetap memperhatikan pendidikan jasmani, akal, ilmu ataupun segi-segi praktis lainnya.

Dalam catatan sejarah, pendidikan Islam sudah ada sejak Islam pertama kali diturunkan. Ketika Rasulullah mendapat perintah Allah untuk menyebarluaskan ajaran Islam, maka apa yang dilakukannya, jelas masuk dalam kategori pendidikan (A. Susanto, 2009: 10).

Dalam al-Qur’an, ayat yang pertama diturunkan yang berhubungan langsung dengan pendidikan adalah surat al Alaq ayat 1-5. Dalam ayat ini mengandung filosofis yang jelas yang menjadi dasar bagi kegiatan pendidikan. Ketika di Mekkah, proses pendidikan Islam dilakukan Nabi dan pengikutnya di Dar Al Arqam sebagai pusat pendidikan dan dakwah. Di Madinah setelah beliau hijrah, beliau membangun masjid yang tidak saja berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga tempat pendidikan. Pada era ini, umat Islam juga mengenal lembaga kuttab yang berfungsi sebagai tempat pengajaran pokok-pokok agama dan tulis baca. Pendekatan yang dilakukan Rasulullah kemudian diikuti oleh para Khalifatu ar-Rasyidin (A. Susanto, 2009: 11).

(7)

adanya dualisme sistem pendidikan di Indonesia. Pada masa-masa setelah kemerdekaan Indonesia, dualitas sistem pendidikan masih terus berlanjut ditengah adanya upaya untuk mengintegrasikan pendidikan Islam kedalam sistem pendidikan nasional (Nurhayati, 2009: 15).

Setelah masa tersebut, banyak pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan oleh rakyat Indonesia dalam bidang pendidikan. Para pembaru pendidikan Islam berkeinginan agar dalam pendidikan Islam tersebut dilakukan perubahan dalam berbagai hal agar dapat menjawab tatangan zaman. Muncullah perubahan kurikulum dari yang semata-mata mengajarkan agama menjadi memasukkan mata pelajaran umum didalamnya, muncullah pembaharuan manajemen, dan pembaharuan lembaga (Haidar Putra, 2009: 2).

(8)

Terjadinya proses kegiatan pendidikan sampai sekarang tidak dapat dilepaskan dari peran tokoh sebagai aktor utamanya. Banyak pembaru pendidikan yang bermunculan dengan menawarkan beberapa pemikiran dan inovasi. Sebut saja Abdullah Ahmad yang merasa sistem pendidikan tradisional yang sudah tidak relevan dan kurang produktif. Karenanya kemudian ia menggantikannya dengan sistem klasikal, madrasah. Akan tetapi karena melihat ketidakmungkinannya untuk melanjutkan sistem pendidikan barunya akhirnya ia pindah ke padang dan mendirikan sekolah agama atau madrasah dengan sebutan Adabiyah School (Abuddin Nata, 2005: 24). Selain itu juga ada Muhammad Natsir sebagai tokoh nasional dan internasional, banyak pemikiran-pemikiran beliau yang berdasarkan atas masalah–masalah pendidikan, salah satu komentar beliau yaitu tentang sisi lain pendidikan pesantren dan madrasah yang memang betul memberikan bekal akidah dan akhlak yang mulia, tapi tidak memberikan bekal ilmu pengetahuan modern, teknologi dan keterampilan yang memenuhi kebutuhan masyarakat (Abuddin Nata, 2005: 24).

Tak ketinggalan pula KH. Ahmad Dahlan sebagai tokoh yang melakukan langkah baru, yaitu pembaharuan pendidikan. Telah tercatat didalam sejarah bahwa tempat belajar-mengajar setingkat madrasah ibtidaiyah berhasil didirikan KH Ahmad Dahlan. Lembaga pendidikan KH Ahmad Dahlan tersebut merupakan madrasah pertama yang dibangun oleh pribumi secara mandiri (Muh. Saerozi, 2013: 123).

(9)

Pendidikan dan Kebudayaan ini diberikan langsung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan Ph. D di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2015 (http://uinjkt.ac.id/id-/malik-fadjar-raih-penghargaan-tokoh-pendidikan-nasional/). Selain itu tokoh yang lahir pada tahun 1949 ini memiliki sikap yang percaya diri, baik dalam menjabat sebagai Menteri Agama ataupun Menteri Pendidikan Nasional dan juga sebagai Dewan Pertimbangan presiden Jokowi tahun ini.

Gagasan-gagasan dan kebijakannya selalu mendapat respon positif bagi kemajuan pendidikan. Intelektual dan kapabilitasnya di bidang pendidikan bisa dilihat dari sejarah hidup yang diabdikannya pada lembaga pendidikan (Malik 2005: 3). Gagasan yang disampaikannya tidaklah lepas dari pengaruh lingkungan tempat A. Malik Fadjar tumbuh. Melalui ayahnya, Malik banyak belajar ilmu agama dan keagamaan. Salah satu ajaran terpenting yang ditransmisikan kepada semua anak-anaknya adalah percaya diri dan keberanian diri (Malik, 2005: 5).

Modal ini memberi rasa optimis dalam kehidupan Malik, sehingga dia tidak pernah memikirkan kesulitan menghadapi masa depan. Malik muda sudah menampakkan sikap percaya diri dan keberanian diri, mulai dari bangku SR lalu PGAP, PGAA dan semakin tinggi manakala A. Malik Fadjar memasuki dunia mahasiswa di STAIN Malang (Malik, 2005: 6).

(10)

Beberapa permasalahan menurut A. Malik Fadjar yang terjadi di PTI (ketika tahun 1999), yaitu “Meskipun berbagai upaya telah ditempuh untuk menyatukan disiplin ilmu umum dengan ilmu agama agar berada dalam satu atap, namun PTI-PTI hingga kini belum menemukan bentuk yang mendekati ideal” (Malik, 1999: 107). Contohnya di beberapa PTI yang membuka beberapa fakultas umum, seperti fakultas matematika atau MIPA akan berakibat pada sedikitnya minat pada fakultas-fakultas agama, seperti Ushuluddin.

Pendapat lainnya yang disampaikan oleh A. Malik Fadjar seputar perguruan tinggi adalah terjadinya sintesis atau konvergensi dengan lembaga pesantren. A. Malik Fadjar dalam bukunya mengatakan “Perguruan tinggi dan pesantren adalah dua tradisi yang mempunyai banyak perbedaan” (2005: 219). Dari perkataan ini jika diamati secara seksama maka memang banyak perbedaan diantara keduanya, yaitu mulai dari perguruan tinggi yang merupakan gejala kota, identik dengan kemoderenan, dan lebih menekankan pendekatan yang bersifat liberal. Sedangkan pesantren adalah gejala desa, identik dengan ketradisionalan, dan berpusat pada figur sang kiai. Inilah yang mungkin disebut dengan zaman pascamodern atau postmodern (A. Malik Fadjar, 2005: 224)

Persoalan teknis juga sering muncul karena adanya keharusan PTI berpayung dua (Malik, 1999: 108). Disatu sisi berpayung pada Departemen agama dan sisi lainnya pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Yang kemudian berakibat bingungnya PTI-PTI dengan beberapa kebijakan-kebijakan keduanya, yang tidak jarang tidak singkron bagi pengembangan PTI.

(11)
(12)

B. Penegasan Istilah 1. Pembaharuan

Ada beberapa peristilahan yang sering dikaitkan dengan pembaharuan, yakni tajdid dan modernisasi. Peristilahan ini menunjukkan pada pemikiran, sikap, perilaku yang harus ditinggalkan karena tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, guna menggapai pemikiran, sikap, perilaku yang sesuai dengan zaman (Haidar dan Nurgaya, 2013: 155).

Harun Nasution dalam bukunya Pembaharuan dalam Islam (1996: 11) menyebutkan bahwa modernitas dalam masyarakat barat mengandung arti pikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk mengubah paham-paham, adat istiadat, institusi-institusi lama, dan sebagainya, untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Dengan demikian yang dimaksud dengan pembaharuan adalah menggantikan pola berfikir yang tidak terpakai lagi dengan pola berfikir yang terpakai pada zamannya yang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

2. Kelembagaan

(13)

Sedangkan jika dalam konteks pendidikan, lembaga dimaknai sebagai suatu institusi atau badan hukum atau yayasan atau organisasi yang dikenal dalam bentuk sekolah, madrasah, pesantren atau lembaga kependidikan lainnya. Apabila disebut sebagai lembaga pendidikan Islam maka dapat diartikan sebagai lembaga penyelenggara proses kependidikan yang didirikan, dikelola, dilaksanakan dan ditujukan umat Islam. Bila ditambah dengan imbuhan kata “ke” dan akhiran kata “an” menjadi kelembagaan mengandung makna segala sesuatu yang berhubungan dengan lembaga (Jasa Ungguh Muliawan, 2015: 213). Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kelembagaan adalah segaala sesuatu yang berhubungan dengan lembaga baik dari kegiatan fisik ataupun non fisik.

3. Perguruan Tinggi Kegamaan Islam

Perguruan Tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi, yaitu pendidikan diatas jenjang pendidikan menengah, yang mencakup program pendidikan Diploma, Sarjana, Magister, Spesialis dan Doktor (Enoch Markum (ed). 2007: 19). PTAIN didirikan di Yogyakarta pada bulan September 1951. Tujuan praktis di bentuknya PTAIN adalah untuk memenuhi dan mengatasi kekurangan tenaga ahli dalam bidang ilmu agama Islam (Putra Haidar, 2009: 123).

Sejak dikeluarkannya UU No 12 tahun 2012, PTAIN berubah nama menjadi PTKI atau perguruan tinggi keagamaan Islam. PTKI berbentuk universitas, institut, sekolah tinggi akademi dan dapat berbentuk ma’had aly, pesantren, seminari, dan bentuk lainnya yang sejenis.

(14)

Dia adalah seorang tokoh Nasional Indonesia yang memiliki abdi kepada masyarakat. Hal ini bisa diketahui dari beberapa kebijakan-kebijakannya dan juga sumbang asih pemikirannya yang ditujukan untuk masyarakat luas di Indonesia khususnya. Nama lengkapnya adalah A. Malik Fadjar M. Sc. Beliau semasa hidupnya telah mampu berkiprah di berbagai bidang, baik pendidikan, sosial, spiritual bahkan politik. Sehingga banyak amanah-amanah yang pernah dia emban di tempat kerja ataupun organisasi yang diikutinya. Jabatan-jabatan yang pernah dia pegang adalah, sebagai Dirjen Binbagas Departemen Agama RI, Menteri Agama pada tahun 1998 sampai tahun 1999, menjadi Mendiknas pada tahun 2001 sampai dengan 2004 dan menjadi Menkokesra ad Interim pada tahun 2004 dan sekarang menjadi Dewan Pertimbangan Presiden.

C. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka identifikasi masalahnya adalah sebagai berikut:

Berbagai gagasan dari A. Malik Fadjar yang telah mampu memberikan sumbang asih dalam kemajuan perguruan tinggi agama Islam menerangkan bahwa A. Malik Fadjar bukan hanya sekedar memberikan pembaharuan, tetapi juga sebagai pelaksana. Hal ini terbukti dari kebijakan-kebijakan yang di buatnya saat menjadi menteri.

D. Pembatasan Masalah

(15)

E. Rumusan Masalah

Berpijak dari permasalahan yang peneliti sampaikan, maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:

1. Apa maksud pembaharuan kelembagaan pendidikan tinggi keagamaan Islam menurut A. Malik Fadjar?

2. Bagaimana pembaharuan kelembagaan pendidikan tinggi keagamaan Islam menurut A. Malik Fadjar?

F. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui maksud pembaharuan kelembagaan pendidikan tinggi keagamaan Islam menurut A. Malik Fadjar

2. Untuk mengetahui komponen-komponen pembaharuan kelembagaan pendidikan tinggi keagamaan Islam menurut A. Malik Fadjar

G. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian tentang pembaharuan kelembagaan pendidikan Islam di Indonesia menurut Malik Fadjar diharapkan bermanfaat secara praktis maupun teoritis yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Manfaat teoitis

a. Hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat bagi perkembangan ilmu pendidikan umum dan pendidikan Islam khususnya.

(16)

2. Manfaat praktis

(17)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori 1. Pembaharuan

a. Pengertian Pembaharuan

Ada beberapa peristilahan yang sering dikaitkan dengan pembaharuan, yakni tajdid dan modernisasi. Peristilahan ini menunjukkan pada pemikiran, sikap, perilaku yang harus ditinggalkan karena tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, guna menggapai pemikiran, sikap, perilaku yang sesuai dengan zaman (Haidar dan Nurgaya, 2013: 155). Dengan demikian yang dimaksud dengan pembaharuan adalah menggantikan pola berfikir yang tidak terpakai lagi dengan pola berfikir yang terpakai pada zamannya.

Harun Nasution dalam bukunya Pembaharuan dalam Islam (1996: 11) menyebutkan bahwa modernitas dalam masyarakat barat mengandung arti pikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk mengubah paham-paham, adat istiadat, institusi-institusi lama, dan sebagainya, untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Berkenaan dengan pengertian diatas, jika dilihat dengan kaca mata Islam maka ajaran Islam itu sendiri dibagi menjadi 2 yaitu qath’i dan zanni. Arti dari qathi sendiri adalah sesuatu yang sudah jelas dan tegas serta tidak perlu lagi memperoleh interprestasi serta tidak terpengaruh dengan kemajuan zaman. Sedangkan zanni adalah ajaran yang memerlukan interprestasi atau pembaharuan. Yang inti dari pembaharuan ini adalah diawali dengan perubahan pemikiran, dan perubahan pemikiran hakikatnya dari pembaharuan.

(18)

Pembaharuan dalam pendidikan Islam adalah pembaharuan dalam hal-hal yang terkait dengan pendidikan Islam, baik secara metodologinya pengajarannya, kurikulumnya ataupun kelembagaannya yang berdasarkan dari sumber Islam (Haidar dan Nurgaya, 2013: 173).

b. Sejarah pembaharuan

Pembaharuan pendidikan Islam sudah dilakukan di berbagai wilayah dunia, seperti di Mesir. Pembaruan pendidikan ini dilakukan oleh Muhammad Ali Pasha dengan membangun berbagai lembaga pendidikan umum dan keterampilan. Selain di Mesir pembaruan pendidikan juga dilakukan di Turki, yang dilakukan oleh Sultan Mahmud II dengan banyak mendirikan lembaga-lembaga pendidikan umum. Lain juga dengan pembaruan yang dilakukan di India oleh Sayyid Ahmad Khan yang mendirikan Universitas Alighar, Muhammad Anglo Oriental College di Alighar. Dan juga berkembangnya Madrasah Doeband yang ditingkatkan menjadi perguruan tinggi yang bernama Darul Ulum Doeband. Melihat fenomena ini Indonesia juga ikut dalam pembaruan ini, yaitu dimulai di Sumatera Barat oleh Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Taher Jalaluddin, Haji Karim Amrullah, Haji Abdullah Ahmad, Syekh Ibrahim Musa, Zainudin Labai Al Yunus, yang kesemuanya adalah dari Minangkabau. Pembaruan yang mereka lakukan adalah dengan menerbitkan majalah (Al Imam dan Al Mannar), mendirikan sekolah Abdiyah di padang, dan Diniyah School di padang panjang (Haidar dan Nurgaya, 2013: 173).

(19)

awal abad 20, antara lain: (1). Faktor keinginan untuk kembali kepada al Qur’an dan al Hadist, (2). Faktor semangat nasionalisme dalam melawan penjajah, (3). Faktor memperkuat basis gerakan sosial, ekonomi, budaya dan politik (Maksum, 1999: 82). Tokoh pembaruan kelembagaan pendidikan Islam lainnya kiranya seperti, Muhammad Natsir yang sebagai tokoh nasional dan internasional, banyak pemikiran-pemikiran beliau yang berdasarkan atas masalah–masalah pendidikan, salah satu komentar beliau tentang sisi lain pendidikan pesantren dan madrasah yang memang betul memberikan bekal akidah dan akhlak yang mulia, tapi tidak memberikan bekal ilmu pengetahuan modern, teknologi dan keterampilan yang memenuhi kebutuhan masyarakat (Abuddin Nata, 2005: 24).

Tak ketinggalan pula KH. Ahmad Dahlan sebagai tokoh yang melakukan langkah baru, yaitu pembaruan pendidikan. Telah tercatat didalam sejarah bahwa tempat belajar-mengajar setingkat madrasah ibtidaiyah berhasil didirikan KH Ahmad Dahlan. Lembaga pendidikan KH Ahmad Dahlan tersebut merupakan madrasah pertama yang dibangun oleh pribumi secara mandiri (Muh. Saerozi, 2013: 123).

2. Kelembagaan Pendidikan

a. Pengertian kelembagaan pendidikan

(20)

Menurut Arikunto dan Yuliana (2012, 17-20) berdasarkan penyelenggaraannya lembaga-lembaga pendidikan dapat dibedakan atas, lembaga pendidikan negeri dan lembaga pendidikan swasta. Lembaga pendidikan negeri dapat diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan seperti SD, SMP, SMA, SMIK, SMEA, SGO dan berbagai perguruan tinggi. Selain itu juga dapat diselenggarakan oleh Departemen-departemen selain dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Seperti Departemen Agama yang menyelenggarakan MI, MTs, MAN, IAIN, dan UIN, Departemen Hankam yang menyelenggarakan lembaga pendidikan tingkat perguruan tinggi (AKABRI, SMA TN, UPN Veteran), Departemen kesehatan dengan Akademi Perawat, Akademi kebidanan dan departemen-departemen lainnya seperti Departemen sosial, Departemen pertanian, Dapartemen dalam negeri dan lainnya. Sedangkan lembaga pendidikan swata seperti PAUD, taman kanak-kanak pembina, SD, SLB, dan lain sebagainya.

Sedangkan arti kelembagaan adalah seperangkat aturan, peran, norma, dan harapan yang mengatur seseorang/kelompok dalam berperilaku dan menentukan piilhan yang dibentuk oleh organisasi sebagai pembatas sosial. Atau juga dapat diartikan, kepercayaan-kepercayaan, paradigma-paradigma, kode-kode, budaya-budaya dan pengetahuan yang mendukung aturan-aturan dan rutinitas-rutinitas (Andy dan Oscar, 2014:19).

Dari pernyataan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kelembagaan pendidikan adalah aturaan-aturan, norma-norma yang mengatur suatu lembaga atau instansi pendidikan. Aturan-aturan tersebut berupa komponen-komponen yang dapat membuat lembaga pendidikan itu ada.

(21)

Secara umum diketahui bahwa dalam lembaga pendidikan selalu terdapat komponen-komponen penting yang menentukan keberhasilan lembaga tersebut. Komponen-komponen yang dimaksud adalah: (Arikunto dan Yuliana, 2012: 15-16)

1) Komponen siswa

Yaitu subjek yang menurut jenis dan sifat lembaganya dapat disebut sebagai: mahasiswa, siswa, peserta kursus (Arikunto dan Yuliana, 2012: 15). Dalam pendidikan tinggi peserta didiknya disebut dengan mahasiswa. UU No 12 tahun 2012 menjelaskan bahwa mahasiswa sebagai anggota sivitas akademika diposisikan sebagai insan dewasa yang memiliki kesadaran sendiri dalam mengembangkan potensi diri di perguruan tinggi untuk menjadi intelektual, ilmuwan, praktisi, dan/atau profesional.

Mahasiswa yang dimaksud selanjutnya dijelaskan bahwa secara aktif mengembangkan potensinya dengan melakukan pembelajaran, pencarian kebenaran ilmiah, dan/atau penguasaan, pengembangan dan pengalaman suatu cabang ilmu pengetahuan dan/atau teknologi untuk menjadi ilmuwan, intelektual, praktisi, dan/atau profesional yang berbudaya. Adapun beberapa hal-hal lain mengenai mahasiswa yang tercantum dalam UU No 12 tahun 2012 adalah sebagai berikut.

a) Mahasiswa memiliki kebebasan akademik dengan mengutamakan penalaran dan akhlak mulia serta bertanggungjawab sesuai dengan budaya akademik.

(22)

c) Mahasiswa dapat menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak melebihi ketentuan batas waktu yang ditetapkan oleh perguruan tinggi.

d) Mahasiswa berkewajiban menjaga etika dan menaati norma pendidikan tinggi untuk menjamin terlaksananya tridharma dan pengembangan budaya akademik.

e) Mahasiswa mengembangkan bakat, minat dan kemampuan dirinya melalui kegiatan kokurikler dan ekstrakurikuler sebagai bagian dari proses pendidikan.

2) Komponen guru

Yaitu subjek yang memberikan pelajaran, yang sebutannya dapat: guru, dosen, penyaji, penatar (Arikunto dan Yuliana, 2012: 15). Dalam pendidikan tinggi tenaga pengajarnya adalah dosen. Di UUD No 12 tahun 2012 menyebutkan bahwa, dosen sebagai anggoota sivitas akademika memiliki tugas mentransformasikan ilmu pengetahuan dan/atau teknologi yang dikuasai kepada mahasiswa dengan mewujudkan suasana belajar dan pembelajaran sehingga mahasiswa aktif mengembangkan potensinya. Sedangkan dalam Peraturan Menteri No 3 Tahun 2016, menuliskan bahwa dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

(23)

penalaran dan penelitian ilmiah serta menyebarluaskannya. Kedua, baik perorangan atau berkelompok wajib menulis buku ajar atau buku teks, yang diterbitkan oleh Perguruan Tinggi dan/atau publikasi ilmiah sebagai salah satu sumber belajar dan pengembangan budaya akademik serta pembudayaan kegiatan baca tulis bagi sivitas akaemika.

3) Komponen kurikulum

Yaitu materi atau bahan pelajaran yang diajarkan, yang memberikan ciri pada lembaga pendidikan tersebut dan mencerminkan kualitas lulusannya (Arikunto dan Yuliana, 2012: 16). Pengertian kurikulum adalah materi atau bahan pelajaran yang diajarkan, yang memberikan ciri pada lembaga pendidikan tersebut dan mencerminkan kualitas lulusannya. Kurikulum dapat diibaratkan sebagai jalan yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan.

Dalam arti sempit, kurikulum adalah mata pelajaran yang akan diajarkan. Sedangkan dalam arti luas adalah seluruh kegiatan yang dirancang untuk mencapai tujuan pendidikan yang dilaksanakan didalam maupun diluar sekolah, karena itulah kurikulum dibagi kepada intrakurikuler, kokurikuler, ekstra kurikuler dan hidden kurikuler (Haidar, 2007: 133-134).

(24)

untuk perguruan tinggi Islam setempat sesuai dengan kebutuhan lokal. Kurikulum inti dibagi menjadi tiga kategori, yaitu Mata Kuliah Umum (MKU), Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK) dan Mata Kuliah Keahlian (MKK).

Setelah diberlakukan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di perguruan tinggi Islam sejak tahun 2000-an, maka kurikulumnyamengacu pada struktur yang diberlakukan untuk itu, yakni mata kuliah dibagi kepada beberapa kelompok: Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian, Mata Kuliah Keilmuan dan Ketrampilan (MKK), Mata Kuliah Keahlian Bekerja (MKB), Mata Kuliah Prilaku Berkarya (MPB), Mata Kuliah Berkehidupan Masyarakat (MBB) (Haidar, 2007: 131-132).

Dalam UU No 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi, kurikulum diartikan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan ajar serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tinggi. Kurikulum ini dikembangkan oleh setiap perguruan tinggi dengan mengacu Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

(25)

Melalui peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, dorongan sekaligus dukungan untuk mengembangkan sebuah ukuran kualifikasi lulusan pendidikan Indonesia dalam bentuk sebuah kerangka kualifkasi, yang kemudian dikenal dengan nama Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Peraturan RI No 8 Tahun 2012 menyatakan bahwa:

Kerangka Kualifikasi Nasional Pendidikan Indonesia, yang

selanjutnya disingkat KKNI, adalah kerangka penjenjangan kualifikasi

kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan dan

mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja

serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan

kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan diberbagai sektor.

Konsep kurikulum ini adalah:

1) Mengutamakan kesetaraan capaian pembelajaran (mutu)

2) Terdiri dari sikap dan tata nilai, kemampuan kerja, penguasaan keilmuwan, kewenangan dan tanggung jawabnya

3) Perumusan capaian pembelajaran minimal tercantum pada SNPT 4) Hasil kesepakatan prodi sejenis

Adapun peran dari kurikulum adalah:

1) Sumber kebijakan manajemen pendidikan untuk menentukan arah penyelenggaraan pendidikannya

2) Filosofi yang mewarnai terbentuknya masyarakat dan iklim akademik 3) Patron atau pola pembelajaran, yang mencerminkan bahan kajian, cara

(26)

4) Atmosfer atau iklim yang terbentuk dari hasil interaksi manajerial perguruan tinggi dalam mencapai tujuan pembelajarannya

5) Rujukan kualitas dari proses penjminan mutu

6) Ukuran keberhasilan perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusan yang bermanfaat bagi masyarakat

Perguruan tinggi dalam era pasal global ini, harus membenahi diri dalam berbagai hal, paling tidak kompetensi para lulusannya. Para mahasiswa tidak boleh hanya dibekali pengetahuan apa adanya, asal lulus, tetapi justru pendalaman pada bidang yang digelutinya. Ada kompetensi umum yang masih diperlukan dan dikuasai di perguruan tingigi, yaitu kompetensi dalam berkomunikasi internasional, kompetensi dalam pengunaan komputer, sikap kerja yang bermutu, kerjasama dan kemampuan mengekspresikan diri (Hasbullah, 2015: 237).

4) Komponen sarana dan prasarana

Yaitu komponen penunjang terlaksananya proses pengajaran. Sarana prasarana adalah komponen penunjang terlaksananya proses pengajaran. Keberadaan sarana pendidikan mutlak dibutuhkan dalam proses pendidikan, sehingga termasuk dalam komponen yang harus dipenuhi dalam melaksanakan proses pendidikan. Tanpa sarana pendidikan, proses pendidikan akan mengalami kesulitan yang sangat serius, bahkan bisa menggagalkan pendidikan (Qomar, 2007: 170).

(27)

adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pengajaran, seperti halaman, kebun, taman sekolah dan jalan menuju sekolah. Jika prasarana dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar mengajar seperti taman sekolah untuk mengajarkan biologi atau halaman sekolah menjadi lapangan olahraga, maka komponen tersebut berubah menjadi sarana pendidikan (Qomar, 2007: 170).

Tujuan dari penyediaan sarana prasarana menurut UU No12 tahun 2012 adalah untuk memenuhi keperluan kependidikan sesuai dengan bakat, minat, potensi dan kecerdasan mahasiswa. Adapun standar prasarana berdasarkan Permendikbud No 49/2014 pasal 30-36, paling sedikit terdiri dari: a) Lahan

b) Ruang kelas c) Perpustakaan

d) Laboratorium/studio/bengkel kerja/ unit produksi e) Tempat berolahraga

f) Ruang untuk kesenian

g) Ruang unit kegiatan mahasiswa h) Ruang pimpinan perguruan tinggi i) Ruang dosen

j) Ruang tata usaha k) Fasilitas umum

5) Komponen pengelolaan

(28)

dan/atau Badan Penyelenggara untuk mencapai tujuan pendidikan tinggi (PP. No 4 tahun 2014 pasal 1). Dalam pengelolaan perguruan tinggi, mempunyai beberapa pengaturan didalamnya seperti yang dituliskan di PP No 4 tahun 2014 di pasal 21, yaitu mengenai otonomi perguruan tinggi, pola pengelolaan, tata kelola perguruan tinggi dan akuntabilitas publik.

Pertama, perguruan tinggi baik perguruan tinggi negeri atau perguruan tinggi negeri badan hukum, ataupun perguruan tinggi swasta memiliki otonomi untuk mengelola lembaganya sendiri. Otonomi yang dilakukan adalah di bidang akademik dan nonakademik. Kedua adalah pola pengelolaan perguruan tinggi negeri yang terbagi menjadi 3 bentuk pengelolaan. Yakni perguruan tinggi negeri dengan dengan pola keuangan negara pada umumnya yang dilaksanakan berdasarkan evaluasi kinerja oleh menteri terhadap perguruan tinggi negeri. Pola pengelolaan lainnya adalah perguruan tinggi dengan pola pengelolaan keuangan badan layanan umum atau perguruan tinggi negeri sebagai badan hukum. Penetapan perguruan tinggi negeri dengan pola pengelolaan keuangan badan layanan umum dilakukan dengan pemetaan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintah di bidang keuangan atau usul menteri. Sedangkan penetapan perguruan tinggi negeri sebagai badan hukum dilakukan dengan peraturan pemerintah.

(29)

perguruan tinggi atas nama menteri. Ketiga, ada pengawas dan penjamin mutu yang bertanggung jawab kepada pemimpin perguruan tinggi. Keempat, adanya penunjang akademik atau sumber belajar dan kelima, terdapat pelaksana administrasi atau tata usaha. Pengaturan yang terakhir, yaitu akuntabilitas publik perguruan tinggi, yang bisa diwujudkan melalui pemenuhan atas: a) Kewajiban untuk menjalankan visi dan misi pendidikan tinggi nasional

sesuai izin perguruan tinggi dan izin program studi yang ditetapkan oleh menteri.

b) Target kinerja yang ditetapkan oleh menteri, Majelis Wali Amanat bagi perguruan tinggi negeri badan hukum atau badan penyelenggaraan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-udangan bagi perguruan tinggi swasta.

c) Standar nasional pendidikan tinggi melalui penerapan sistem penjaminan mutu pendidikan yang ditetapkan oleh menteri.

(30)

memerhatikan kebutuhan-kebutuhan perkembangan ekonomi atau tenaga kerja yang diperlukan di daerah dimana lembaga pendidikan tinggi itu berada (Hasbullah, 2015: 232).

Secara harfiah dan substantif materi, akuntabilitas yang menyangkut bagaimana sumber daya yang diterima oleh perguruan tinggi dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk berbagai aktivitas yang menunjang pencapaian yang diinginkan. Akuntabilitas tersebut antara lain menyangkut derajat efisiensi dan kesesuaian dengan norma dan peraturan yang berlaku umum. Akan tetapi, akuntabilitas yang dituntut dari perguruan tinggi menyangkut juga hal-hal yang lebih luas dari hanya akutabilitas. Paling tidak akuntabilitas menyangkut hal-hal seperti (1) kesesuaian antara visi dengan falsafah, moral, dan etika yang dianut secara umum oleh masyarakat, (2) kesesuaian antara tujuan dengan pola kegiatan civitas akademika serta hasil dan dampak yang dicapai, (3) keterbukaan terhadap pengawasan dan pemantauan oleh pihak yang berkepentingan mengenai penyelenggaraan dan pelaksanaan kegiatan fungsionalnya yang meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, (4) akuntabilitas dalam pemanfaatan sumber daya dalam upaya pencapaian tujuan yang ditetapkan, (5) aktualisasi asas otonomi dan kebebasan akademik agar tidak disalahgunakan atau menyimpang dari peraturan dan kesepakatan yang ditetapkan sebagai rambu-rambu, (6) kesadaran para civitas akademika bahwa aktualisasi perilakunya tidak mengganggu pelaksanaan kegiatan fungsional lembaga dan juga masyarakat pada umumnya (Hasbullah, 2015: 233-234).

(31)

a. Pengertian pendidikan tinggi keagamaan Islam

Perguruan Tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan Pendidikan Tinggi, yaitu pendidikan diatas jenjang pendidikan menengah, yang mencakup program pendidikan Diploma, Sarjana, Magister, Spesialis dan Doktor (Enoch Markum (ed). 2007: 19). Di Indonesia pelembagaan perguruan tinggi dapat berbentuk Akademi, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institut dan Universitas (menurut Himpunan Perundang-undangan RI Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, 1992). Pendidikan tinggi diselenggarakan untuk menyajikan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian (Enoch Markum (ed). 2007: 19).

Perguruan Tinggi Islam di Indonesia didirikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga guru di Sekolah Guru dan Hakim Agama Islam dan tenaga dosen agama Islam di perguruan tinggi umum, yang kemudian bernama perguruan tinggi agama Islam (PTAIN) atau institut agama Islam negeri (IAIN). Dalam pasal 2 Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 1950, dinyatakan bahwa perguruan tinggi agama Islam bermaksud untuk memberi pelajaran tinggi dan menjadi pusat untuk memperkembangkan dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang agama Islam (Zuhraini, 1997: 197).

(32)

kemampuan penerapan ilmu dan teknologi dalam realitas kehidupan, dan kompetensi intelektual yang berkaitan dengan kepekaan terhadap persoalan yang berkembang (Yakub dalam Perguruan Tinggi Agama Islam di Era Globalisasi, Syahrin (ed), 1998: 4).

Perguruan tinggi agama Islam negeri baru beroperasi (kuliah perdana) pada tahun 1951, dengan jumlah mahasiswa 67 orang dan 28 orang siswa persiapan. Perguruan tinggi agama Islam negeri ini mempunyai Jurusan Tarbiyah, Qadha dan Dakwah dengan lama belajar 4 tahun pada tingkat bakalaureat dan doktoral (Haidar Putra, 2007: 123). Setelah perguruan tinggi agama Islam negeri berusia kurang lebih 9 tahun, maka lembaga pendidikan tinggi telah mengalami perkembangan. Dengan perkembangan tersebut dirasakan bahwa tidak mampu menampung keluasan cakupan ilmu-ilmu keislaman tersebut kalau hanya berada dibawah satu payung fakultas saja. Berkenaan dengan itu timbullah ide-ide, gagasan-gagasan untuk mengembangkan cakupan perguruan tinggi agama Islam negeri kepada yang lebih luas (Haidar Putra, 2007: 125). Salah satunya dengan perubahan nama menjadi pendidikan tinggi keagamaan Islam atau disingkat PTKI. Seperti yang tersebut di UU No 20 tahun 2012, yang berbunyi

(1) Pemerintah atau masyarakat dapat menyelenggarakan

pendidikan tinggi keagamaan (2) Pendidikan tinggi keagamaan yang

sebagaimana dimaksud pada ayat 1 berbentuk universtas, institut, sekolah

tinggi, akademi dan dapat berbentuk ma’had aly, pesantren, seminari, dan

bentuk lainnya yang sejenis.

(33)

Mahmud Yunus, dalam bukunya Haidar (2007: 119) mengemukakan bahwa di Padang, Sumatera Barat pada tanggal 9 Desember 1940 telah berdiri perguruan tinggi Islam yang dipelopori oleh Persatuan Guru Agama Islam (PGAI). Menurut Yunus perguruan tinggi ini yang pertama di Sumatera Barat bahkan di Indonesia. Dijelaskan oleh Nizar (2013, 335) bahwa lembaga pendidikan ini memiliki dua fakultas yaitu Syariah dan Pendidikan serta bahasa Arab. Tujuannya untuk mendidik dan mencetak ulama-ulama handal yang berwawasan luas.

Tindakan lebih lanjut di Sumatera Barat didirikan Sekolah Islam Tinggi (SIT) dan Yogyakarta berdiri Sekolah Tinggi Islam (STI) pada tahun 1945, yang kemudian menjadi cikal bakal Universitas Islam Indonesia (UII). Sejarah perguruan tinggi Islam ini merupakan momentum terpenting ketika pada tahun 1950 pemerintah mengambil alih Fakultas Agama yang ada di Yogyakarta, yaitu di UII diserahkan kepada kementrian agama yang kemudian menjadi perguruan tinggi agama Islam negeri (PTAIN) sebagai cikal bakal Institut Agama Islam Negeri (IAIN) melalui PP No. 34 Tahun 1950 (Nizar, 2013: 335). Pada bulan Juni 1957 di Jakarta di buka Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) oleh Departemen Agama (Zuhraini, 1997: 197). AIDA ditujukan untuk meningkatkan kualitas pegawai negeri dalam bidang keagamaan (Nizar, 2013: 336).

(34)

Di daerah-daerah dibuka fakultas-fakultas cabang. Begitu banyaknya IAIN di daerah-daerah dan luasnya antardaerah menimbulkan kesulitan dalam pengaturannya. Akhirnya pada tahun 1963, Kementrian Agama menganggap perlu untuk memisahkan IAIN menjadi dua institut yang masing-masing berdiri sendiri yaitu IAIN Yogyakarta dan IAIN Jakarta. Untuk mempermudah pengawasan dan pengorganisasiannya, dikeluarkan pembagian wilayah diantara kedua institut tersebut (Nizar, 2013: 336).

Dalam perkembangan berikutnya IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berkembang menjadi 16 fakultas yang tersebar dibeberapa tempat seperti Banjarmasin, Palembang, Surabaya, Banda Aceh, Jambi dan Padang. Perkembangan Fakultas Agama di beberapa daerah merupakan realisasi dari PP No. 11 Tahun 1960. Dengan adanya peraturan itu, maka bermuncullah beberapa buah IAIN diluar Jakarta dan Yogyakarta (Nizar, 2013: 337).

(35)

Upaya peningkatan IAIN terus dilaksanakan, diantaranya upaya peningkatan pendanaan, peningkatan peranan organisasi IAIN, peningkatan sarana prasarana, kurikulum peningkatan dosen. Peningkatan mutu dosen dengan program pasca-sarjana S2 dan S3 dimulai dari IAIN Jakarta pada tahun 1982 dan IAIN Yogyakarta tahun 1983 dan sampai sekarang IAIN di Indonesia telah banyak melakukan program Magister dan Doktor dalam bidang pemikiran Islam, Pendidikan Islam dan Hukum Islam (Nizar, 2013: 338).

B. Telaah Pustaka

Sebelum mengarah pada pembahasan lebih lanjut dalam penelitian ini akan dikemukakan terlebih dahulu tentang beberapa hal yang tertuang dalam telaah pustaka. Adapun telaah pustaka yang berkaitan dengan penelitian ini adalah:

(36)

Saiful Latif (UIN Sunan Kalijaga Program Magister Pendidikan Agama Islam, tahun 2015) dalam tesisnya yang berjudul Konsep Pembaharuan Sistem Pendidikan Islam Menurut Azyumardi Azra dan A. Malik Fadjar. Didalam karya tersebut di jelaskan bahwa keduanya merupakan pemikir pendidikan yang bercorak modern, visioner dan futuristik. Selain itu karya ini menjelaskan tentang adanya perbedaan dan kesamaan antara kedua tokoh tersebut. Akan tetapi inti dari karya ini adalah membandingkan kedua tokoh pemikir diatas dari sisi tujuan pendidikan Islam, kurikulum pendidikan Islam, dan lembaga pendidikan Islam. Pemikiran Azyumardi Azra adalah: pertama, tujuan pendidikan Islam untuk mewujudkan manusia menjadi khalīfah fīl ardhi harus lebih ditekankan pada perwujudan generasi muslim yang menguasai ilmu agama dan ilmu umum tanpa ada dikotomi antar kedua ilmu tersebut. Kedua, kurikulum pendidikan Islam harus mampu menyesuaikan zaman dengan integrasi ilmu agama dan sains serta teknologi. Ketiga, lembaga pendidikan Islam sebagai sarana proses mendidik harus berani merekonstruksi kualitas dengan modernisasi sistem manajemen menjadi lebih profesional. Keempat, lembaga pemerintah harus membangun kerjasama dan satu visi-misi tanpa adanya diskriminasi dalam pendidikan. Sedangkan dari pemikiran A. Malik Fadjar adalah: Pertama, pendidikan Islam harus menunjukkan perubahan dan pembenahan pada sistem manajemen untuk mencapai tujuan pendidikan berkualitas yang dapat memobilisasi segala sumber daya pendidikan. Kedua, sistem pendidikan harus didesain sesuai dengan kebutuhan masyarakat baik dari segi lembaga kurikulum maupun yang lain. Ketiga, para pemegang kebijakan harus melakukan perbaikan dengan berorientasi pada pendidikan berwawasan semesta, berwawasan kehidupan utuh dan multi dimensional yang berbasis pada masyarakat dan budayanya.

(37)

catatan-catatan atau tanggapan dari beberapa tokoh yang mengenal dan dikenal oleh A. Malik Fadjar tentang cerita, kesan yang diperoleh oleh tokoh-tokoh tersebut dari kebersamaannya bersama A. Malik Fadjar. Tulisannya juga berupa gagasan pemikiran sehingga dapat tersusun dalam bentuk buku ini. Secara garis besar buku ini memfokuskan pada 5 hal, yaitu pertama kehidupan A. Malik Fadjar ketika menjadi Menteri Agama, kedua kepemimpinan A. Malik Fadjar di perguruan tinggi, ketiga tentang hubungan sosial A. Malik Fadjar dengan orang lain dari berbagai lapisan masyarakat, keempat yaitu penilaian dari politikus yakni dari H. Wiranto, S. H dan Indria Samego, dan yang terakhir tentang pemikiran-pemikiran A. Malik Fadjar dalam pendidikan. Adapun beberapa penulis atau orang yang menceritakan kesan dan gagasan pemikiran adalah Ahmad Syafii Ma’arif, A. M. Fatwa, Prof. Dr. K. Muhammad Tholhah Hasan, A. Dahlan Rais, Prof. Dr. Dovhak Latief, Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Muhammad Dasron Hamid, Zamroni, Franz Magnis-Suseno, Sabar Narimo, Djalal Fuadi, H. Wiranto, S. H, Indria Samego, Moh. Mahfud, Musa Asy’ari, Yuhara Zukra, Azyumardi Azra dan lainnya.

Anwar Hudijono dan Anshari dalam bukunya Darah Guru Muhammadiyah perjalanan hidup A. Malik Fadjar, Jakarta: Kompas, 2006. Yang membahas catatan sebagian pejalanan hidup A. Malik Fadjar. Buku ini menggunakan metode penulisan yang dilakukan dengan berjarak. Artinya penulis menyampaikan fakta yang ada didalam lapangan dari mengenai sumber kemudian di cek dan ricek. Dalam buku ini terdapat 7 bab, pada bab I berisi pendahuluan yang diisi oleh penulis. Adapun bahasan dalam buku ini adalah seputar kepribadian Malik Fadjar, perjalanannya sebagai mahasiswa, guru dan aktivis masyarakat, kepemimpinannya dalam mengembangkan universitas dan perjalanan karirnya baik sebagai menteri ataupun perannya dalam reformasi.

(38)

penelitian dan buku diatas serta penelitian ini, sama-sama peneliti subjek yang sama, yaitu A. Malik Fadjar. Perbedaannya adalah pada fokus pemikiran A. Malik Fadjar. Pada penelitian-penelitian dan buku-buku diatas tidak ada yang memfokuskan pemikiran A. Malik Fadjar tentang Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Penelitian ini secara fokus membahas pemikiran A. Malik Fadjar tentang pembaharuan kelembagaan di pendidikan tinggi keagamaan Islam. Sedangkan dalam penelitian-penelitian dan buku-buku diatas lebih fokus kepada sistem pendidikan yang dilihat dari pandangan A. Malik Fadjar dan biografi A. Malik Fadjar. Dari perbedaan ini, maka penelitian ini adalah penelitian yang baru, atau penelitian yang belum dilakukan oleh peneliti lain.

C. Kerangka Teoritik

Pembaharuan kelembagaan pendidikan Islam sudah lama terjadi di belahan bumi timur, banyak pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan guna mencapai kemajuan dan untuk tetap mengikuti perkembangan yang ada. Pembaharuan sendiri jika dilihat dengan kaca mata ajaran Islam itu sendiri dibagi menjadi 2 yaitu qath’i dan zanni. Qathi adalah sesuatu yang sudah jelas dan tegas serta tidak perlu lagi memperoleh interprestasi serta tidak terpengaruh dengan kemajuan zaman. Sedangkan zanni adalah ajaran yang memerlukan interprestasi atau pembaharuan. Yang inti dari pembaharuan ini adalah di awali dengan perubahan pemikiran, dan perubahan pemikiran hakikatnya dari pembaharuan. Pembaharuan pendidikan Islam, khususnya dalam bidang kelembagaan ini mengartikan bahwa adanya terbosan baru dalam kelembagaan pendidikan Islam.

(39)

pendidikan Islam. Lembaga pendidikan Islam di Indonesia banyak macamnya, baik formal ataupun nonformal, baik negeri atau swasta. Seperti madrasah, pesantren, taman pendidikan al-Qur’an, ma’had, pendidikan tinggi Islam dan lainnya. Lembaga pendidikan tidak ada secara langsung, akan tetapi ada beberapa komponen yang harus menyertainya. Yaitu komponen siswa, komponen guru, komponen kurikulum, komponen sarana prasarana dan komponen pengelola. Jika hal ini dikonvergensikan ke pendidikan tinggi keagamaan Islam, maka ada beberapa komponen yang berubah namanya tetapi masih sama tingkatkannya dan fungsiya. Seperti komponen siswa berubah menjadi komponen mahasiswa, dan guru menjadi dosen.

Dalam sejarahya perguruan tinggi Islam berdiri pada akhir abad ke 20. Lembaga ini sudah mampu mengikuti perubahan zaman pada masa awal berdirinya. Lembaga ini melakukan ekspansi secara bertahap yang diawali pada tahun 1960 sampai dengan sekarang. Dan juga melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan perguruan tinggi agama Islam seperti upaya peningkatan pendanaan, peningkatan peranan organisasi institut agama Islam negeri, peningkatan sarana prasarana dan kurikulum, peningkatan dosen dan lain sebagainya. Penggantian nama lembaga pendidikan tinggi ini juga terjadi pada tahun 2012 silam, yang tercantum pada UU No 12 Tahun 2012 pasal 30 yang berubah menjadi Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam.

(40)

Bagan 1. Kerangka Teortitik

Pada saat ini juga ditemui tokoh yang semisal dengan tokoh-tokoh diatas, yakni A. Malik Fadjar yang telah mampu memberikan sumbang asih dalam lembaga pendidikan Islam, terutama pndidikan tinggi keagamaan Islam. A. Malik Fadjar bukan hanya sekedar memberikan pembaharuan, tetapi juga sebagai pelaksana. Hal ini terbukti dari gagasan-gagasan dan kebijakan-kebijakan yang di buatnya saat menjadi menteri agama ataupun menteri pendidikan nasional. Seperti gagasan tentang pendidikan harus dijadikan human invesment, para pengelola dan pelaksana pendidikan hendaknya memahami kembali pemikiran-pemikiran dan peninggalan para pendahulu (founding fathers) serta gagasan-gagasan lainnya. Sedangkan untuk kebijakannya, seperti mencanangkan program wajib belajar 9 tahun, merubah beberapa IAIN dan STAIN menjadi UIN, merubah beberapa fakultas daerah menjadi STAIN, mem-BHMN-kan beberapa perguruan tinggi negeri, dan kebijakan lainnya. Dari beberapa kebijakannya dan gagasannya, maka dapat diketahui bahwa A. Malik Fadjar adalah seorang intelekual dan pakar pendidikan, khususnya pada pendidikan tinggi Islam.

A. Malik Fadjar

Pembaruan kelembagaan PTKI menurut A. Malik Fadjar

Kurikulum Kelembagaan PTKI

Pengelola

(41)
(42)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitan

Jenis penelitian ini merupakan penelitian literatur atau library research. Yaitu suatu riset atau penelitian kepustakaan (Sutrisno Hadi, 1990:9). Sedang Tatang M Amirin (2000: 135) mengartikan studi pustaka (Library research) ialah penelitian yang menggali data-datanya dari bahan-bahan tertulis khususnya berupa teori). Ciri dari penelitian kepustakaan adalah peneliti berhadapan langsung dengan teks atau data angka dan bukan dengan pengetahuan langsung dari lapangan, data pustaka bersifat siap pakai, data pustaka umumnya adalah sumber sekunder, kondisi data pustaka tidak dibatasi oleh ruang dan waktu (Mestika Zed, 2008:4-5).

Dalam penelitian ini penulis menghimpun data dari berbagai sumber literatur terkait kelembagaan pendidikan tinggi keagamaan Islam dan pemikiran A. Malik Fadjar tentang pembaharuan kelembagaan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri. Data tersebut dibaca dan dicatat dalam catatan penelitian, kemudian diolah untuk menemukan sebuah konsep pendidikan baru. Dalam penelitian ini peneliti cukup berhadapan dengan teks dari buku, artikel ilmiah, jurnal, manuskrip, atau dokumen organisasi terkait, baik yang ada di dalam maupun luar negeri. Dalam penelitian ini penulis berusaha untuk menemukan pandangan A. Malik Fadjar terhadap pembaharuan kelembagaan pendidikan tinggi keagamaan Islam.

Namun ketika pencarian dan pengumpulan data, penulis memadukan dengan wawancara, dengan alasan tokoh yang diteliti masih hidup.

B. Data dan Sumber Data

(43)

Sumber-sumber data yang peneliti jadikan rujukan atau acuan di dalam penelitian ini adalah berupa sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer adalah data yang diperoleh atau berasal langsung dari sumber pertamanya. Sedangkan sumber data sekunder adalah data-data yang diperoleh atau berasal dari sumber kedua, ketiga dan seterusnya, tidak langsung dari sumber pertama (Sumadi Suryabrata, 2006: 39).

a. Sumber data primer

Yakni buku-buku utama yang langsung terkait dengan tema pokok bahasan penelitian. Data primer yang pertama adalah dari karya A. Malik Fadjar yaitu buku Visi Pembaharuan Pendidikan Islam, yang diterbitkan oleh Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penyususnan Naskah Indonesia (LP3NI) pada tahun 1998, buku ini berisi beberapa pemikiran atau gagasan tentang pendidikan, khususnya pendidikan tinggi.

Sumber primer yang kedua adalah dari A. Malik Fadjar, yaitu Holistika Pemikiran Pendidikan Islam yang terbit pada tahun 2005 oleh Rosdakarya, buku ini berisi biografi dan pemikiran-pemikiran A. Malik Fadjar tentang pendidikan.

b. Sumber data sekunder

Yaitu buku-buku yang dijadikan pelengkap dari sumber data primer. Adapun buku-buku yang terkait yakni:

Perguruan Tinggi Islam di Era Globalisasi, karya Yakub Matondang ... [et.al,] , dengan editor H. Syahrin Harahap yang terbit di Yogyakarta pada tahun 1998.

Kebijakan Pendidikan Dalam Prespektor Teori, Aplikasi dan Konsidi

(44)

Samsul Nizar. 2013. Sejarah Sosial & Dinamika intelektual Pendidikan Islam di Nusantara. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Sulistyowati Irianto (ed). 2012. Otonomi Perguruan Tinggi Suatu Keniscayaan. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Hasil wawancara dengan kerabat A. Malik Fadjar, yakni Maritha Kusuma Wardani (keponakan A. Malik Fadjar).

C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah studi dokumenter. Studi dokumenter (documentary study) merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik. Dokumen-dokumen yang dihimpun, dipilih yang sesuai dengan tujuan dan fokus masalah (Nana Syaodih, 2011: 221). Dalam penelitian ini penulis menghimpun dan menganalisis berbagai buku, jurnal, artikel ilmiah, dan dokumen organisasi yang berkaitan dengan pembaharuan kelembagaan pendidikan tinggi keagamaan Islam dan pemikiran A. Malik Fadjar tentang pembaharuan kelembagaan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri.

Beberapa tahapan yang harus ditempuh oleh peneliti adalah: (Mukhtar, 2007: 198) 1. Menghimpun/mencari literatur yang berkaitan dengan objek penelitian.

2. Mengklasifikasi buku berdasarkan content/jenisnya (primer/sekunder). 3. Mengutip data/teori atau konsep lengkap dengan sumbernya.

(45)

5. Mengelompokkan data berdasarkan outline/sistematika penelitian yang telah disiapkan.

Selain menggunakan studi dokumenter, penulis juga mengumpulkan data lewat teknik wawancara. Teknik wawancara ini adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian (Irawan Suhartono, 1999: 67). Melalui wawancara ini, penulis mengajukan pertanyaan secara langsung kepada informan. Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh data tentang biografi A. Malik Fadjar, pemikiran dan komponen-komponen pembaharuan kelembangaan pendidikan tinggi keagamaan Islam.

D. Teknik Keabsahan Data

Untuk membuat data yang dikumpulkan benar-benar teruji keabsahannya, penulis menggunakan beberapa teknik keabsahan data. Teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Uraian rinci (Lexy, 2012:337)

Uraian yang dibuat peneliti harus mengungkapkan secara khusus sekali segala sesuatu yang dibutuhkan pembaca agar ia dapat memahami temuan-temuan yang diperoleh (Lexy, 2012:338). Maka di sini peneliti membuat laporan dengan seteliti dan secermat mungkin.

2. Kecukupan referensi

(46)

3. Perpanjangan pengumpulan data (Suwartono, 2014:75)

Dengan perpanjangan pengumpulan data, sangat memungkinkan penulis mendapat data yang lebih lengkap dan beragam sehingga wawasan tentang konsep menjadi lebih jelas.

E. Teknik Analisis Data

Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data kualitatif, maka teknik analisis data yang digunakan dengan metode analisis isi (content analysis) (Noeng, 1987: 75-76). Analisis ini digunakan untuk mendeskripsikan isi pemikiran A. Malik Fadjar tentang pembaharuan kelembagaan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri. Yang didapat melalui pendekatan sosio-kultural historis, sehingga tidak dihindari jika harus digunakan analisis historis dan sosio-kultural, karena ada kemungkinan pandangan pembaharuan kelembagaan pendidikan Islam yang dituangkan oleh A. Malik Fadjar berkaitan dengan kondisi sosial budaya dan berlaku pada masa tertentu.

Analisis data yang dilakukan peneliti merupakan usaha untuk menemukan jawaban atas pertanyaan dari rumusan masalah dalam penelitian. Adapun tahap-tahap untuk menganalisa data tersebut adalah:

1. Meringkas data guna data yang akan dipresentasikan dapat dipahami dan diinterprestasikan secara objektif, logis dan porposional.

2. Menemukan/membuat berbagai pola, tema, topik yang akan dibahas.

3. Mengembangkan sumber data yang diperoleh berdasarkan jenisnya (primer dan sekunder) yang bertujuan untuk mengurai atau menghindari berbagai kesalahan pemahaman dalam menarik sintesis sebuah pendapat atau teori yang dikemukakan. 4. Menguraikan data seadanya sesuai dengan sumber yang diperoleh. Teknik dalam

(47)

penelitian ini teknik yang digunakan adalah secara langsung (direct), yakni data yang ditemukan dikutip seperti apa adanya, kemudian dilakukan analisis pengembangan (generalisasi) lalu diakhiri dengan sinesis.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan metode Think Pair Share (TPS) yang dilengkapi index card match efektif meningkatkan prestasi belajar siwa pada pokok

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah; 1 untuk mengetahui spesifikasi pengembangan animasi media macromedia flash sebagai media pembelajaran matematika, 2

Diponegoro 2.552.000.000 Pemilihan Langsung APBD 2 Fisik Rehabilitasi/Peningkatan Jalan Ismoyo 464.505.000 Pemilihan Langsung APBD 3 Fisik Rehabilitasi/Peningkatan

Dari hasil analisis regresi dapat diketahui bahwa variabel kualitas produk, kualitas layanan, dan lokasi yang semua memiliki efek positif pada keputusan pembelian di Raharjo motor

Selain pendapat Imam az-Zuhrī di atas, pendapat lain yang digunakan oleh MUI adalah pendapat mutaqaddimin dari ulama mazhab Hanafi, yang membolehkan wakaf uang dinar dan

bahwa semua anak, baik laki-laki maupun perempuan adalah ahli waris dari ibu dan bapaknya serta kerabatnya, mereka berhak mendapatkan bagian harta warisan sesuai

koefisien determinasi (r) sebesar 0.605 yang menunjukkan bahwa variabel independen perputaran piutang dan perputaran kas secara bersama-sama memiliki hubungan yang kuat,

Dari uraian tersebut hasil observasi atau pengamatan tersebut terlihat bahwa: (a) Guru melakukan apersepsi diawal kegiatan pembelajaran (b) Guru menggunakan metode