Mangkunegara IV. Serat Darmalaksita berada pada urutan ke-3, terdiri atas tiga pupuh: I Dhandhanggula
B. Kajian Isi
1. Pendidikan Watak dalam Membina Rumah Tangga
Menurut agama apapun, seorang manusia tidak baik bila sendirian di dunia, maka diciptakanNya manusia laki-laki dan perempuan untuk dapat saling melengkapi dan menjadi teman hidup. Sejak awal mereka diciptakan untuk berpasangan, kecuali jika ada panggilan spiritual yang mengharuskan mereka untuk tidak memiliki pasangan, seperti rama, bruder, suster atau biksu. Dua manusia yang memutuskan untuk berpasangan harus diikat dengan pernikahan dan meneruskan keturunan. Demikianlah perintah Sang Pencipta, seperti yang dinyatakan dalam pupuh I, Dhandhanggula, bait 2-3, baris 1 dan 2 berikut.
2. rèhné sira wus diwasa sami sumurupa lakuning agêsang sun tuturi kamulané
manungsa èstri jalu pêpantaran dènya dumadi nèng dunya nut agama jalu èstri dhaup
mangka kanthining agêsang
lawan kinèn marsudi dawakkên wiji ginawan budidaya
3. yèka mangka srananing dumadi tumanduké marang saniskara
…
Oleh karena kalian sudah de-wasa,
ketahuilah cara menjalani ke-hidupan.
Kuberitahu bahwa pada mula-nya
manusia laki-laki dan perem-puan
sebagai perantaraan kehidupan didunia, menurut agama
laki-laki dan perempuan menikah
sebagai kewajiban dalam kehidupan
dan supaya berusaha me-neruskan keturunan,
diberi daya upaya.
Hal tersebut sebagai sarana untuk hidup
yang diterapkan dalam segala hal.
…
Pernikahan yang diikuti perkawinan membentuk sebuah rumah tangga. Namun rumah tangga terbentuk bukan hanya bermodal kedewasaan jasmani tetapi juga kedewasaan rohani. Faktor yang ikut mempengaruhi kadar kedewasaan rohani ialah pendidikan watak yang diperoleh dalam keluarga terutama dari orang tua dan usaha/upaya untuk melaksanakannya. Oleh karena itu manusia diberi daya upaya (akal budi) dengan tujuan memberikan bimbingan dalam melaksanakan berbagai macam usahanya dalam kehidupan. Salah satu diantaranya berkaitan dengan hidup rumah tangga. Darmawasita memberikan beberapa bentuk pendidikan watak dalam hidup berumah tangga antara lain: a) kemandirian dalam memenuhi kebutuhan sandang pangan keluarga, b) kesadaran akan tugas dan peran suami istri dalam rumah tangga.
a. Kemandirian dalam memenuhi kebutuhan sandang pangan keluarga.
Dalam Darmawasita, K.G.P.A.A Mangkunegara IV memberikan sebuah rumus dalam memenuhi kebutuhan sandang pangan yang disebut
Asthagina, yakni pada pupuh I, Dhandhanggula, bait 3, baris 3-9 berikut. 3. ...
manungsa apa kajaté sinêmbadan sakayun
yèn dumunung mring wolung warni ingaran asthagina
iku têgêsipun
wolung pédah tumrapira
marang janma margané mrih sandhang bukti
… … Apapun keinginannya/ci-ta-cita manusia akan tercapai jika mengamalkan/menja-lankan delapan hal yang disebut Asthagina. Itu artinya
delapan manfaat bagimu, bagi manusia sebagai ja-lan untuk mendapatkan sandang pangan.
…
Asthagina menguraikannya menjadi delapan hal, berasal dari kata astha: delapan
dan gina: manfaat, yakni delapan manfaat bagi manusia sebagai jalan untuk mendapatkan sandang pangan. Delapan manfaat itu ialah panggaotan, rigên,
gêmi, nastiti pamriksa, wruh étung, tabêri têtanya, nyêgah kayun, dan nêmêning sêja.
1) Panggaotan ‘mata pencaharian’
Hal pertama yang harus dilakukan dalam memenuhi kebutuhan hidup sandang pangan ialah bekerja. Orang yang mau bekerja akan mandapatkan penghasilan. Penghasilan digunakan sebagai sarana untuk mencukupi kebutuhan. Pada umumnya dalam sebuah lingkup rumah tangga, tugas ini diemban oleh seorang kepala keluarga. Namun jika ada seorang istri yang bekerja juga, maka tidak menjadi masalah asalkan istri tersebut tetap dapat
menjalankan peranannya dalam rumah tangga dengan baik pula. Perihal tentang pekerjaan atau mata pencaharian ini disebutkan dalam pupuh I,
Dhandhanggula, bait 3 baris 10-bait 4, baris 1-3 berikut.
3. …
kang dhingin winicara 4. panggaotan gêlaring pambudi
warna-warna sakaconggahira nut ing jaman kalakoné
…
…
Yang pertama dibicarakan mata pencaharian sebagai per-wujudan usaha
yang bermacam-macam sesuai dengan kemampuannya
menyesuaikan kondisi jaman. …
Seiring dengan perkembangan jaman semakin beragam pula pekerjaan yang dilakukan dan diciptakan manusia. Hal tersebut membuktikan bahwa kemampuan manusia juga terus berkembang karena mereka memiliki akal budi. Jadi manusia bekerja dengan kemampuan yang juga dipengaruhi kondisi jaman. Akibatnya ada pekerjaan yang terus dikembangkan dan ada pula pekerjaan yang ditinggalkan karena tidak dapat dijadikan sumber penghidupan.
2) Rigên ‘cekatan’
Keberhasilan dalam melakukan usaha atau pekerjaan juga dipengaruhi oleh watak si pekerja, salah satunya watak cekatan. Cekatan dalam segala hal baik dalam berpikir dan bertindak yang disertai rasa tanggungjawab, artinya watak cekatan dikembangkan tanpa merugikan pihak lain, diri sendiri dan usaha atau pekerjaan yang ditekuni. Watak cekatan ini disebutkan dalam pupuh I, Dhandhanggula, bait 4, baris 4 dan 5 berikut.
4. …
rigên ping kalihipun
dadi pamrih marang pakolih
…
…
Yang ke-2 cekatan,
sebagai tujuan untuk mendapat-kan hasil yang maksimal. …
Kesuksesan yang disebutkan sebagai hasil yang maksimal dalam kutipan di atas menjadi dambaan setiap orang. Apalagi bila mengingat bahwa kebutuhan seorang pribadi akan terus bertambah dan berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Sebuah kesuksesan selalu ingin diraih karena memberikan harapan atau bahkan jaminan terpenuhinya kebutuhan hidup, walaupun mungkin tidak secara mutlak.
3) Gêmi ‘hemat’
Hemat merupakan salah satu di antara sekian banyak cara yang dapat ditempuh agar dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Berapapun penghasil-an ypenghasil-ang dimiliki entah besar atau kecil tidak dihabiskpenghasil-an hpenghasil-anya untuk memenuhi keinginan-keinginan yang seharusnya dapat ditunda atau ditiadakan. Jika ada sisa antara pendapatan dan pengeluaran, maka sebaiknya ditabung atau disimpan untuk kebutuhan-kebutuhan yang tidak terduga. Hal ini dinyatakan dalam pupuh I, Dhandhanggula, bait 4, baris 6 dan 7 berikut.
4. …
katri gêmi garapnya
margané mrih cukup
…
…
Yang ke-3 bersikap hemat, agar supaya cukup.
…
Hemat bukan berarti pelit atau hanya semata-mata menumpuk kekayaan dunia tetapi hidup ini terus berputar, kadang di bawah kadang di atas, tidak ada salahnya “sedia payung sebelum hujan”. Jadi hemat berarti bersikap bijaksana
dalam mengatur pemasukan dan pengeluaran, sehingga tidak gêgêdhèn cagak
tinimbang êmpyak ‘lebih besar pasak daripada tiang’.
4) Nastiti pamriksa ‘mengamati dengan teliti’
Orang yang telah dapat bersikap hemat tentu telah dapat melakukan hal yang keempat ini. Orang tersebut tahu apa yang harus diperbuat dengan pendapatan dan pengeluarannya agar kebutuhan hidup sandang pangan tercukupi. Maksudnya orang tersebut membuat semacam daftar kebutuhan jangka panjang dan jangka pendek. Hal keempat ini berada pada pupuh I,
Dhandhanggula, bait 4, baris 8 dan 9 berikut ini. 4. …
ping pat nastiti pamriksa
iku dadi marganing wêruh ing pêsthi
…
…
Yang ke-4 mengamati dengan teliti,
itu sebagai jalan untuk me-ngetahui yang semestinya. …
Dengan membuat daftar kebutuhan tersebut diharapkan ada semacam gambaran kebutuhan yang harus didahulukan maupun yang harus ditunda atau ditiadakan. Begitu pula dengan kebutuhan yang akan datang, sehingga ada pemerataan kebutuhan dan tercukupi kebutuhan hidupnya.
5) Wruh étung ‘bisa menghitung atau memperkirakan’
Hal yang kelima ini masih berhubungan dengan sikap hemat dan teliti. Setelah mengamati dengan teliti agar semua kebutuhan tercukupi, maka orang tersebut juga harus memperhitungkan dana yang dibutuhkan atau membuat semacam anggaran belanja. Jadi penghasilan hari ini tidak habis untuk kebutuhan hari ini tetapi juga untuk kebutuhan yang akan datang,
seperti yang diungkapkan dalam pupuh I, Dhandhanggula, bait 4, baris 10-bait 5, baris 1 berikut ini.
4. …
lima wruh étung ika
5. watêk adoh mring butuh sahari
…
…
Lima bisa menghitung/memper-kirakannya
artinya tak hanya untuk kebutuhan sehari.
…
Dengan menjalankan sikap ini maka secara otomatis orang tersebut akan bersikap hemat karena memperhitungkan kebutuhan yang akan datang. Ia tahu berapa rupiah yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan hari ini dan hari esok. Bahkan jika perlu, menabung juga dimasukkan dalam anggaran belanja untuk kebutuhan hari esok atau kebutuhan yang tidak terduga.
6) Tabêri têtanya ‘tidak malu bertanya’
Kebutuhan sandang pangan dipenuhi dengan bekerja, sebuah pekerjaan tidak dilakukan hanya dengan mengandalkan otot namun juga harus disertai pengetahuan agar mendapatkan hasil yang memuaskan. Pengetahuan tidak diperoleh dengan tiba-tiba tanpa melakukan usaha namun melalui suatu proses yang disebut belajar. Sebuah pembelajaran selalu diisi dengan pertanyaan dan jawaban, jadi hendaknya tidak perlu malu bertanya jika ingin bertambah wawasan demi mencukupi kebutuhan hidup, seperti yang dinyatakan dalam pupuh I, Dhandhanggula, bait 5, baris 2 dan 3.
5. …
kaping nênêm tabêri têtanya ngundhakkên marang kawruhé
…
…
Yang ke-6 tidak malu bertanya untuk meningkatkan pengeta-huan.
…
Seperti yang telah dibahas dalam poin pertama bahwa antara jaman, pekerjaan, kebutuhan dan kemampuan selalu berhubungan, jika salah satunya berubah maka yang lain mengikuti. Begitu pula dengan kemampuan, jika ingin berkembang ke arah lebih baik maka harus mencari pengetahuan baik formal maupun non formal agar dapat bertahan mengikuti perubahan kebutuhan hidup sandang pangan yang juga dipengaruhi oleh kondisi jaman. 7) Nyêgah kayun ‘mencegah keinginan’
Sebagai makhluk mikrokosmos yang memiliki ciri lahiriah dan batiniah, manusia juga akan bertindak dengan mengikuti keinginan lahiriah dan batiniah. Sejak berada dalam kandungan, keinginan atau nafsu telah menjadi bagian dalam diri manusia. Nafsu itu terdiri dari dari dua kutub yang berbeda, ada yang positif dan ada yang negatif. Manusia bertanggungjawab untuk mengendalikan keduanya. Apabila hawa nafsu angkara murka yang berada pada kutub negatif dibiarkan merajalela dalam sanubari, maka kesucian hati yang berada dalam diri manusia akan kalah bahkan dapat dibinasakan. Oleh karena itu kiranya perlu dipahami bahwa jika hawa nafsu angkara murka itu dituruti, pasti tiada akan ada habisnya. Padahal keangkaramurkaan itu merupakan keinginan yang tidak bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain karena pada akhirnya hal tersebut hanyalah rangsangan belaka yang menyebabkan orang yang bersangkutan tidak akan
dapat bersikap mawas diri (Suwidji, 1995: 8). Oleh karena itu segala keinginan yang tidak bermanfaat yang disebut keangkaramurkaan hendaknya dimatikan atau dikendalikan sedemikian rupa agar tidak merugikan semua pihak seperti yang dinyatakan dalam pupuh I, Dhandhanggula, bait 5, baris 4 dan 5 berikut.
5. …
ping pitu nyêgah kayun pêpènginan kang tanpa kardi tan boros marang arta sugih watêkipun
…
…
Yang ke-7 mencegah keingin-an,
keinginan yang tidak berguna, tidak boros uang (hemat) pangkal kaya,
…
Dalam kutipan di atas salah satu di antara sekian banyak keangkaramurkaan dalam pemenuhan kebutuhan sandang pangan ialah sikap boros yang dapat diatasi dengan sikap hemat sehingga akan terbentuk watak kaya. Watak kaya diartikan sebagai sebuah keadaan yang dapat mencukupi atau tercukupi kebutuhan hidupnya. Ia tidak merasa kekurangan sekalipun hidup dalam keterbatasan karena orang tersebut dapat bersikap nrima, ikhlas, dan sabar. 8) Nêmêning sêja ‘sungguh-sungguh berniat’
Ketika seseorang menginginkan sesuatu atau bercita-cita maka orang tersebut harus mau berusaha. Maksudnya tidak hanya sebatas berniat untuk mewujudkan atau mencapai keinginan tersebut, tetapi juga harus berusaha dengan giat dan sekuat tenaga, tidak setengah-setengah agar apa yang diinginkan bisa tercapai seperti yang dikehendaki. Hal ini terangkum dalam
5. …
ping wolu nêmêning sêja
watêkira sarwa glis ingkang kinapti
…
…
Yang ke-8 sungguh-sungguh berniat dalam mencapai cita-cita,
wataknya serba cepat pada apa yang dikehendaki..
…
Kesempatan tidak selalu datang untuk kedua kalinya, oleh karena itu setiap kali kesempatan datang, tidak ragu-ragu untuk mengambilnya. Sekalipun harus memulai dari nol dan banyak rintangan namun tidak berputus asa. Sekalipun jatuh berulang kali dan terasa sakit akan tetap bangun dan berjalan kembali.
Menurut K.G.P.A.A Mangkunegara IV dalam Darmawasita, jika telah mengamalkan Asthagina maka keinginan untuk melakukan hal yang menyimpang dalam memenuhi kebutuhan sandang pangan akan teratasi, kesejahteraan diri dan keluarga akan lebih terkontrol serta dipercaya orang lain, seperti yang dinyatakan dalam pupuh I, Dhandhanggula, bait 5, baris 10-bait 6, baris 1-3 berikut ini.
5. …
yèn bisa kang mangkana 6. angêdohkên durtaning kang ati
anyêdhakkên rahayuning raga dènandêl mring sêsamané
…
…
Jika bisa yang demikian, menjauhkan hati yang jahat, mendekatkan keselamatan diri, dipercaya orang lain.
…
Darmawasita juga mengingatkan agar dalam memenuhi kebutuhan, orang tidak
terbiasa untuk berhutang atau meminjam uang kepada orang lain karena akan mendatangkan kesengsaraan lahir batin, seperti yang diungkapkan dalam pupuh I,
6. …
lan malih wêkasingsun aja tuman utang lan silih anyudakkên darajat camah wêkasipun kasoran prabawanira
mring kang potang lawan kang sira silihi
nyatané angrêrêpa
…
Dan pesanku lagi,
jangan terbiasa berhutang dan meminjam,
menurunkan derajat/harga diri.
Akhirnya tidak dihormati lagi,
perbawanya kalah.
kepada yang meminjam-kan dan yang kamu pin-jami,
kenyataannya meminta be-las kasihan/mengiba-iba. Kesengsaraan lahir batin itu antara lain menurunkan derajat atau harga diri sehingga dipandang sebelah mata, tidak dihormati dan kehilangan kewibawaan. Begitu pula dengan orang yang meminjami, pada kenyataannya minta dikasihani. Oleh karena itu hendaknya yang merasa kekurangan atau merasa hidup dalam keterbatasan dapat mencukupkan diri dengan mensyukuri rezeki yang telah diberikan dan yang merasa berlebih memberikan bantuan dengan kerelaan hati bukan dengan meminjamkan uang.
Berbagai macam cara ditempuh untuk mencukupi kebutuhan sandang pangan, ada yang lurus dan ada yang menyimpang. Apapun macamnya merupakan suatu bentuk usaha yang disertai daya upaya dan berkaitan dengan kesejahteraan hidup. Tak seorangpun mau hidup dalam kesengsaraan, terutama dalam hidup berumahtangga yang menyangkut hidup banyak orang. Intinya sebuah usaha selalu diperlukan dan menjadi bagian hidup manusia. Tujuan yang ingin diicapai ialah agar segala sesuatu berada dalam sebuah kondisi seperti yang diinginkan, yakni sebuah kondisi yang baik dan berkecukupan dalam segala
sesuatunya baik lahir maupun batin. Hal ini dinyatakan dalam pupuh I,
Dhandhanggula, bait 7-8 yakni sebagai berikut.
7. luwih lara-laraning kang ati
ora kaya wong tininggal arta kang wus ilang pilandêlé lipuré mung yèn turu
lamun tangi sungkawa malih yaiku ukumira
wong nglirwakkên tuduh ingkang aran budidaya
témah papa asor dènira dumadi tan amor lan sêsama
Lebih sakit dari sakitnya hati, tidak seperti orang yang di-tinggalkan harta/uang,
yang telah kehilangan keper-cayaan dirinya.
Terhibur hanya saat tidur, ketika bangun bersedih lagi. Itulah hukumannya.
Orang yang melupakan ajaran yang disebut budidaya (usaha), pada akhirnya menemui celaka dan hina dina hidupnya,
dikucilkan masyarakat.
8. kaduwungé saya angranuhi sanalika kadi suduk jiwa èngêt mring kaluputané yèn kêna putraningsun aja kadi kang wus winuni dupèh wus darbé sira panci pancèn cukup bécik linawan gaota
kang supaya kayumanan ing dumadi panulak mring sangsara
Penyesalannya semakin ber-tambah,
tiba-tiba seperti ingin bunuh diri,
sadar akan kesalahannya. Jika bisa anakku,
jangan seperti yang sudah kukatakan tadi.
Mentang-mentang sudah me-miliki
bagian tanah yang menjanji-kan dan mencukupi,
akan lebih baik jika disertai bekerja/usaha
agar selalu selamat dan se-jahtera dalam kehidupan, sebagai penolak terhadap ke-sengsaraan.
Seseorang menjadi lebih tegar dalam menghadapi segala kemungkinan dengan berusaha, misalnya ketika berada pada titik terendah ia tidak putus asa dan berfikir untuk mengakhiri hidupnya dengan caranya sendiri, atau ketika kebutuhan hidupnya sangat terjamin, ia tidak berhenti berusaha untuk menjaga kondisinya agar tetap mapan.
b. Kesadaran akan tugas dan peran suami istri dalam rumahtangga.
Pendidikan watak dalam membina rumahtangga selanjutnya ialah kesadaran akan tugas masing-masing baik suami maupun istri. Seorang istri harus sadar dengan perannya begitu pula seorang suami. Darmawasita memberikan gambaran peran seorang istri dalam kaca mata seorang priyayi yang hidup dalam sebuah lingkungan masyarakat Jawa dan masih kental dengan tradisi yang ada. Hal tersebut diuraikan dalam pupuh II, Kinanthi, bait 1 dan 2 yakni sebagai berikut.
1. déné wulang kang dumunung pasuwitan jalu èstri
lamun srêgêp watêkira tan karya gêla kang nuding pêthêl iku datan dadya jalaran duka sayêkti
2. têgên iku watêkipun akarya lêga kang nuding wêkêl marganing pitaya déné ta pangati-ati angêdohkên kaluputan iku marganing lêstari
Sedangkan pengajaran bagi pengabdian lelaki maupun pe-rempuan/pasangan suami istri (ialah)
jika kalian berwatak rajin, tidak mengecewakan yang me-merintah.
Rajin bekerja itu tidak menjadi penyebab kemarahan.
Teliti itu sifatnya
membuat lega yang memerin-tah.
Tekun membuat dipercaya sedangkan berhati-hati menjauhkan kesalahan. Itu yang membuat kekal.
Seorang istri digambarkan sebagai wanita yang berwatak rajin, teliti, tekun dan berhati-hati sehingga menyenangkan suami dan dapat dipercaya. Dengan bersikap demikian maka kelestarian dalam rumah tangga akan terjaga.
Dalam masyarakat tradisional dan patriarkhal seperti masyarakat Jawa, kedudukan serta peran pria terlihat lebih dominan dibandingkan wanita (Sartono Kartodirdjo 1987: 191). Fungsi-fungsi sosial para pria mencakup kegiatan yang
dinamis dengan mobilitas tinggi dan umumnya menuntut kekuatan fisik yang lebih besar. Sedangkan kaum wanita lebih terbatas lingkungan geraknya, banyak terikat aturan, tugas rumah tangga dan lain sebagainya. Sehubungan dengan itu wajah kewanitaan lebih ditentukan sebagai model kehalusan, kelemahlembutan, kesederhanaan, kerendahhatian, berperasaan halus dan peka ditambah perangai halus serta wajah yang cantik (Sartono Kartodirdjo 1987: 195), seperti yang diuraikan dalam pupuh II, Kinanthi, bait 3 dan 4 berikut ini.
3. lawan malih wulangingsun margané wong kanggêp nglaki dudu guna japa mantra
pèlèt dhuyung sarat dhêsthi dumunung nèng patrapira kadi kang winahya iki
Dan lagi nasihatku
penyebab seorang istri disayangi suami
bukan karena guna-guna, man-tera,
pelet cinta, jimat dan cara-cara yang jahat,
tetapi terletak pada tingkah lakunya,
seperti yang akan kujelaskan ini.
4. wong wadon kalamun manut yêkti rinêmênan nglaki miturut marganing wêlas mituhu margané asih mantêp marganirèng trêsna yèn têmên dènandêl nglaki
Seorang wanita yang penurut jelas disukai suami.
Taat membuat disayangi, setia membuat dikasihi, mantap membuatnya berada dalam cinta,
jika rajin akan diandalkan sua-mi.
Seorang wanita yang ingin disukai lelaki tidak perlu memanfaatkan hal-hal gaib yang sifatnya sementara, namun ia harus memiliki watak penurut karena wanita penurut pasti disukai suami, apalagi jika setia dan mantap dalam mengarungi bahtera rumah tangga bersama pasangan hidupnya. Satu hal yang tidak boleh ditinggalkan yakni kerajinan, karena kerajinan membuat istri dapat diandalkan suami dalam mengurus dan mengatur rumah tangga.
Semuanya didasarkan pada pernyataan bahwa rumah tangga terbentuk bukan dari bobot, bibit dan bebet tetapi terletak pada watak yang dimiliki orang tersebut. Jadi syarat utama dalam membangun sebuah rumah tangga ialah watak atau kepribadian yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan dalam hidup berumah tangga seperti yang dibicarakan dalam pupuh II, Kinanthi, bait 5 berikut ini.
5. dudu pangkat dudu turun dudu brana lawan warni ugêré wong palakrama
wruhanta dhuh anak mami mung nurut nyondhongi karsa rumêksa kalayan wadi
Bukan pangkat bukan ketu-runan
bukan harta dan wajah/rupa yang menjadi dasar seseorang untuk menikah.
Ketahuilah wahai anakku, hanya taat dan menyetujui ke-mauan,
menjaga dan rahasia.
Hal yang menarik di sini ialah bahwa pangkat, keturunan, harta dan wajah tidak menjadi tempat yang utama. Apalagi bila mengingat bahwa Darmawasita ini adalah hasil karya sastra seorang priyayi yang biasanya masih konservatif dan menganut paham tradisional feodal. Umumnya ketiga hal tersebut menjadi syarat pokok bagi masyarakat Jawa terutama golongan priyayi dalam mencari jodoh bagi anak-anak mereka. Walaupun sebenarnya bila tidak diartikan secara harafiah hal tersebut masih dapat dimanfaatkan. Bobot (pangkat/keturunan) diartikan sebagai status yakni kejelasan asal usulnya, tidak asal memilih misal apakah statusnya berkeluarga atau tidak. Bibit (wajah) diartikan bukan sekedar wajah luar tetapi juga wajah dalam yakni tidak sekedar cantik dan rupawan tetapi juga cantik hatinya Bebet (harta) diartikan apakah orang tersebut telah pantas memiliki rumah
tangga, yakni dapat menghasilkan sesuatu untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga (mau bekerja dan berusaha).
Selain hal-hal yang telah dibahas di atas, dalam berumah tangga seorang wanita juga harus bersikap :
1) Nurut ‘taat’ yakni apapun yang diperintahkan suami wajib dilaksanakan tanpa melawan dan beralasan, penuh kesabaran dan selesai tanpa dua kali kerja seperti yang dinyatakan dalam pupuh II, Kinanthi, bait 6 berikut ini.
6. basa nurut karêpipun apa sapakoné nglaki ingkang wajib linaksanan tan suwala lan baribin lêjaring nêtya saranta
tur rampung tan mindho kardi
Kata taat maksudnya apapun perintah suami wajib dilaksanakan
tanpa melawan dan beralasan, disertai roman muka yang sabar. Selain itu juga bisa menyele-saikan tugas tanpa dua kali kerja. 2) Condhong ‘sepakat’ artinya setuju dengan kemauan suami, tidak
membicarakan sisi buruk, mencela atau bahkan membantahnya, tetapi ikut memelihara apa yang disukai suami dengan ikhlas dan tulus seperti yang dinyatakan dalam pupuh II, Kinanthi, bait 7 berikut ini.
7. déné condhong têgêsipun ngrujuki karsaning laki saniskara solah bawa tan nyatur nyampah maoni apa kang lagi rinênan opènana kang gumati
Sedangkan setuju artinya menyepakati kemauan suami, semua tingkah laku
tidak membicarakan keburuk-annya, mencela dan membantah.