• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. PELAKSANAAN PESTA GOTILON

4.1.1. Pendistribusian Dana Pesta Gotilon Terhadap Pembangunan

Pendistribusian dari hasil pesta gotilon yang dilakukan dalam acara pelelangan dari Silua yang sudah di bawakan oleh jemaat Gereja dan hasil amplop dipergunakan pihak Gereja ke pembangunan Gereja. Hasil ini tidak semuanya di

masukkan ke dana pembangunan namun, setengahnya dibagikan ke hal-hal yang lain. Bahkan untuk dana pembangunan, tidak sepenuhnya uang tersebut dari hasil Pesta Gotilon. Hasil tersebut dibagi-bagikan untuk keperluan Gereja khususnya untuk dana pembangunan dan untuk penambahan khas Gereja.

Namun pengurus Gereja juga membuat pembukuan tentang uang masuk khusus untuk dana pembangunan Gereja. Saldo khas Gereja dengan saldo dengan dana pembangunan Gereja tidaklah sama. Untuk dana pembangunan Gereja itu adalah, persembahan yang mereka kumpulkan dalam setiap ibadah minggu pada saat persembahan ke dua. Jadi persembahan ke II B, khusus untuk dana pembangunan gereja ditambah dari hasil pelelangan pada acara Pesta Gotilon.

Suatu proses pembangunan yang dapat menjadikan HKBP berdiri kokoh di tengah-tengah masyarakat sehingga dapat menjadi mercusuar (garam dan terang) petunjuk arah dalam pembangunan masyarakat Indonesia. Kontribusi HKBP dalam pembangunan masyarakat yang plural merupakan panggilan hidup beragama yang substansial yakni sebagai Garam dan Terang dunia.

Bahkan Gereja sekarang sudah di cat bagus, dan sudah di bangun besar untuk kita boleh beribadah disana. Untuk kantor Gereja dan kamar mandi Gereja juga sudah di perbaiki oleh pengurus Gereja. Jadi dana pemasukan untuk pembangunan Gereja di terima pengurus Gereja melalui iuran jemaat, persembahan kedua B dari setiap minggunya, ucapan syukur dari anak perantauan dan hasil dari pesta gotilon. Menurut informan yang di wawancarai penulis oleh Ibu St. T. Sitompul (44) tahun mengatakan bahwa:

“Dana pembangunan Gereja diterima dari iuran pembangunan

yang menyumbangkan hasil dari pekerjaan mereka untuk diberikan ke pembangunan gereja. Tetapi dilihat juga dari program pengurus gereja jika banyak pengeluaran maka akan banyak juga pemasukan yang harus masuk. Artinya dari kita dan kita berikan untuk keperluan gereja. Seperti dari program yang sudah jalan jika banyak dana yang masuk maka akan dibuat ke pembangunan dan penambahan inventaris gereja.

Sehingga tahun ke tahun biar bisa renovasi gereja lagi sedikit demi sedikit”.

Informan Bapak St Cipto Sitompul juga mengatakan:

“Persembahan yang kita berikan setiap minggunya yang kedua B itu khusus dibuat ke khas pembangunan gereja. Sehingga jika ada yang kurang inventaris dan pembayaran listrik gereja dikeluarkan dana dari pembangunan gereja. Tetapi jika ingin pembangunan gereja yang besar akan dibuat perencanaan lagi dari program yang akan di laksanakan. Ini digunakan demi kelancaran dan kemajuan gereja”.

4.1.2 Pendistribusian Hasil Pesta Gotilon Dari Amplop Terhadap Kas Gereja Pendistribusian dari hasil Pesta Gotilon dari amplop yang sudah diberikan jemaat ke gereja di pergunakan pihak Gereja ke khas Gereja. Jadi dari khas inilah pihak gereja mengeluarkan dana untuk semua kebutuhan yang diperlukan di Gereja. Bahkan pemasukan untuk khas ini sangatlah banyak, dan ditambah lagi dari hasil Pesta Gotilon yang diberikan jemaat melalui pemberian amplop tersebut. Ditambah lagi ucapan terima kasih dari jemaat gereja yang mereka berikan ke gereja atas pekerjaan yang mereka kerjakan setiap harinya.

Jadi, untuk menambah inventaris Gereja dan membutuhi semua keperluan Gereja biaya pengeluarannya sepenuhnya dari khas Gereja. Untuk membiayai balanjo pendeta (kebutuhan Pendeta) diambil dari khas Gereja. Karena banyak pemasukan dana untuk khas Gereja sehingga pihak Gereja mengeluarkan dana

dari khas untuk semua kebutuhan Gereja. Penulis juga mewawancarai St. Mesna Br. Barasa (53) tahun, yang mengatakan:

“Semua dana yang masuk dari jemaat Gereja seperti uang hamulateon (ucapan syukur), uang iuran Gereja semua masuk ke khas Gereja. Tetapi hasil dari persembahan I A dan I B itu diberikan ke pusat dan distrik. Jadi untuk dana pembangunan gereja dan khas gereja di berikan oleh para jemaat Gereja HKBP supaya dipergunakan untuk keperluan gereja sepenuhnya”.

Wawancara dari hasil dengan pengurus Gereja, penulis juga melihat bahwa dana khas tersebut sepenuhnya dari jemaat. Terbukti saat penulis gereja setiap hari minggu dan mendengarkan petugas gereja membacakan warta merekamembacakan uang yang masuk dari para jemaat untuk khas Gereja. Ketika sudah pembacaan triwulan, pengurus Gereja akan membacakan uang pemasukan dan pengeluaran sekali dalam tiga bulan. Ini di lakukan pada awal bulan januari, bulan mei, dan bulan september. Pembacaan dana pemasukan dan pengeluaran diserahkan pengurus Gereja untuk dibacakan bendaharanya.

Dalam pendistribusian hasil dari Pesta Gotilon dan pemberian Amplop ini dipergunakan pengurus Gereja untuk dana pembangunan gereja dan khas gereja.

Untuk memberikan kepada jemaat Gereja yang tidak mampu tidak ada hasil dari persembahan (Silua) yang mereka berikan. Hasil tersebut hanya untuk dana pembangunan dan khas gereja. Karena hasil tersebut juga yang di terima dari jemaat gereja untuk dipergunakan pengurus gereja untuk hal yang penting bagi kebutuhan gereja.

4.2 Profil Informan

1. Pendeta Davit Hutagaol S. Th

Davit Hutagaol adalah seorang Pendeta yang melayani di Gereja HKBP Parmonangan yang berusia 31 tahun dan belum mempunyai anak karena masih baru menikah dalam bulan september kemaren. Beliau tinggal bersama dengan istrinya dengan mengontrak untuk sementara ini dikarenakan masih ada yang tinggal di kompleks gereja ini sampai awal bulan januari. Beliau juga masih baru tahun 2017 yang lalu melayani di Gereja HKBP Parmonangan.

Beliau yang selalu berkhotbah di Gereja HKBP Parmonangan dan selalu ramah dengan semua jemaat jika mereka bertemu dijalanan. Beliau masih membangun keluarga kecil ditengah-tengah kehidupannya dan menikah dengan Kristin Br. Simanullang. Beliau juga menikah di Gereja HKBP Parmonangan ini dikarenakan orangtua beliau tinggal yang sangat jauh.

2. Bapak Cipto Amran Sitompul

Bapak Cipto Amran Sitompul adalah sintua ( Pengurus) Gereja Di HKBP Parmonangan, yang berusia 64 tahun. Yang mempunyai 3 orang anak, yang mempunyai istri boru Siregar. Anak laki-laki pertama mereka yang sudah meninggal diakibatkan kecelakan pada tahun 2017 yang lalu.

Beliau bertugas dan melayani di Gereja karismatik juga dan membangun tempat ibadah di daerah gang sosial. Beliau bekerja sebagai seorang pendeta di gereja karismatik karena sudah memiliki gelar sarjana tehlogia

dan sedang sekolah mengambil gelar pendetanya. Tetapi beliau selalu melayani di Gereja HKBP Parmonangan sebagai sintua dan beribadah pada setiap minggunya.

Beliau yang menjabat sebagai ketua Parartaon di gereja HKBP Parmonangan. Beliau beserta keluarganya yang selalu terkenal sangat baik dan terkenal ditengah-tengah lingkungan masyarakat. Beliau memjabat di sektor 1 yang disebut sektor Pargodungan.Beliau yang selalu jadi inspirasi pada pengurus-pengurus yang lain dan memberikan banyak ide dalam pelayanan Gereja agar tetap berjalan dengan baik.

3. Ibu Mesna Br. Barasa

Ibu Mesna. Br. Barasa adalah sintua (Pengurus) Gereja di HKBP, yang berusia 53 tahun. Yang mempunyai 2 orang anak, yang sudah tidak mempunyai suami lagi (Janda), beliau menjabat di sektor 1 yang disebut sektor Pargodungan. Beliau yang terkenal sangat ramah dan baik di gereja dan di lingkungan sekitarnya. Ibu St. M. Br. Barasa juga melayani sebagai seksi sekolah minggu.

Beliau banyak memberikan pengajaran tentang hal-hal yang positif bagi lingkungan sekitarnya. Beliau tinggal sendiri di rumahnya karena anak-anaknya sudah pada menikah dan merantau di luar kota. Beliau tidak pernah merasa sepi karena banyak urusan Gereja yang akan beliau

kerjakan bahkan tentangganya selalu datang kerumahnya. Beliau yang

sangat terkenal dengan kebaikan dan keramahannya terhadap jemaat dan tetangganya.

4. Bapak Tahti Marune Sitompul

Bapak Tahti Marune Sitompul adalah sintua (Pengurus) Gereja di HKBP, yang berusia 44 tahun. Mempunyai 1 orang anak yang istrinya boru Nainggolan, beliau bekerja sebagai driver grab sebagai sampingannya.

Beliau menjabat di sektor 1 yang di sebut dengan sektor Prgodungan.

Beliau yang terkenal sangat ramah dan baik di gereja dan di lingkungan sekitarnya. Beliau yang menjabat sebagai sekretaris Gereja di HKBP Parmonangan.

5. Ibu H Br. Hutagalung

Ibu H. Br. Hutagalung adalah seorang jemaat gereja di HKBP Parmonangan, yang berusia 44 tahun. Mempunyai 4 orang anak

perempuan semuanya, beliau sebagai jemaat di sektor Pargodungan atau lingkungan satu. Beliau yang terkenal sangat ramah dan baik di gereja dan di lingkungan sekitarnya. Beliau yang bekerja sebagai pedagang di pajak dengan menjual cabe dan bawang setiap harinya.

DAFTAR INFORMAN PENELITIAN

NO Nama Informan Jenis

Kelamin

Usia (Tahun)

Alamat

1. Pendeta Davit Hutagaol S.Th Laki-laki 31 Jln Surya No.12 Medan

2. St. Cipto Amran Sitompul S.

Th

Laki-laki 64 Jalan

Bhayangkara

3. St.M. Barasa Perempuan 53 Jalan sukaria

4 St. Tahti Marune Sitompul Laki-laki 44 Jalan Sosial 5 Ibu H. Br. Hutagalung Perempuan 44 Jalan sukaria

6. J. Br. Sidabukke Perempuan 55 Desa Batu 12

7. T. Purba Laki-laki 43 Jalan Sukaria

8. Santa Br. Purba Perempuan 17 Jalan Sukaria

9. Angel tika Br. Purba Perempuan 16 Jalan Sukaria

10. A. Br. Siregar Perempuan 55 Jalan

Bhayangkara 11. Ibu Rut Br. Sihombing Perempuan 43 Jalan

Bhayangkara

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Budaya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, budaya ada di dalam masyarakat dan lahir dari pengalaman hidup sehari-hari yang di alami oleh setiap masyarakat dalam kelompok masyarakat tertentu. Pesta Gotilon merupakan kesempatan yang baik bagi setiap orang warga jemaat untuk menyatakan syukur atas berkat yang diterima dari Tuhan. Dalam tradisi Batak, silua atau persembahan dilakukan dengan menganut falsafah hidup istilah “Tumagon do mangalehon daripada manjalo” (Lebih baik memberi daripada menerima) wawancara dengan orangtua ibu J. Br.Sidabukke.

Itu sebabnya di orang Batak dulu sangat terpelihara budaya “Marsiadap ari” saling membantu tanpa harus menerima imbalan atau upah. Tuhan telah memberikan hari (waktu), matahari, hujan dan segalanya untuk menjadikan segala sesuatu sesuai dengan kehendakNya. Pesta panen adalah tradisi gereja dan masyarakat yang sudah lama dirayakan. Pesta panen merupakan suatu perayaan ucapan syukur atas segal anugerah Tuhan kepada kita.

Anggaran dana pemasukan dari Pesta Gotilon tersebut berasal dari jemaat Gereja. Melalui Silua yang sudah dibawa oleh jemaat dan di lakukan acara pelelangan. Dari hasil lelang dan hasil amplop yang mereka berikan itulah yang akan dipergunakan oleh pengurus Gereja melalui Pesta Gotilon yang sudah dilaksanakan setiap tahun dalam acara Pesta Gotilon. Sebelumnya pengurus

Gereja sudah mewartakan kepada jemaat pada saat pembacaan Tinting bahwa akan diadakan Pesta Gotilon agar banyak jemaat Gereja yang beribadah pada minggu selanjutnya. Pengurus Gereja juga pada hari minggunya sudah akan menyediakan amplop di depan masuk Gereja agar jemaat yang akan beribadah mengambil amplop tersebut untuk mereka isi dengan uang dan menulis nama-nama bagi siapa yang sudah membawa silua mereka.

Setelah ibadah Gereja berlangsung, semua jemaat Gereja sudah memasukkan uang kedalam amplop untuk diberikan ke altar. Jemaat Gereja juga akan menuliskan namanya di depan amplop dan dari sektor atau lingkungan berapa tinggalnya. Selesai acara selesai, saat ingin mengumpulkan persembahan barulah jemaat membawa amplop dan membawa silua yang mereka bawa sehingga maju ke depan satu per satu untuk memberikan amplop mereka ke dalam kotak persembahan. Dengan nyanyian dan iringan musik, jemaat Gereja akan bergiliran maju ke depan untuk memberikan persembahan mereka dalam bentuk amplop tersebut.

Dalam tradisi ini, Pesta Gotilon harus tetap dilaksanakan karena tetap menjalin hubungan kebersamaan jemaat dan pengurus. Melalui Pekerjaan yang mereka kerjakan diladang juga, mereka tetap memberikannya kepada Tuhan.

Dalam penelitian ini penulis melihat bagaimana perubahan yang terjadi saat ini dalam pesta Gotilon menjadi Pesta Amplop. Penulis juga melihat bagimana pihak Gereja dalam mendistribusikan hasil dari Pesta Amplop tersebut. Sehingga penulis dalam penelitian ini mencari data dan informasi yang terjadi dalam Gereja HKBP Parmonangan Ressort Medan Perjuangan saat ini.

Pendistribusian dana dari Pesta Gotilon ini di pergunakan pihak Gereja hanya untuk ke pembangunan Gereja dan untuk menambah Kas Gereja. Hasil ini akan di kumpulkan pihak Gereja dari kegiatan Pesta Amplop untuk setiap awal bulannya. Yang diterima dari para jemaat Gereja yang memberikan hasil dari pekerjaan yang mereka kerjakan sehari-harinya.

Yang berhak menerima dana pesta gotilan tidak ada secara khusus namun hanya untuk umum yaitu untuk kepentingan gereja. Dengan adanya pesta gotilon maka gereja menjadi memiliki dalam dana untuk pembangunan gereja. Secara khusus untuk individu angota gereja tidak ada di distribusikan.

5.2 Saran

Dari hasil temuan penulis dari lapangan ada beberapa saran yang penulis sampaikan baik kepada masyarakat Gereja HKBP, pemerintah, agama, pembaca dan mahasiswa, antara lain :

1. Kepada Gereja HKBP, agar membuat dan memberikan pengarahan tentang apa sebenarnya tujuan dan manfaat dilaksankan Pesta Gotilon.

Supaya saat dibuat program ini jemaat lebih paham lagi apa maksud dan tujuannya dan tetap harus dilaksanakan Pesta Gotilon ini.

2. Kepada jemaat Gereja HKBP, agar tetap mengikuti setiap program yang sudah dibuat oleh Pengurus Gereja serta turut berpartisipasi dalam pembangunan dan pemberian dana dalam kepentingan gereja.

3. Kepada pemerintah, agar mendukung dalam pelaksanaan Pesta Gotilon demi kemajuan dan pelayanan Gereja. Serta memberikan dukungan dapat berupa dana bagi Gereja yang membutukan.

4. Kepada pembaca dan mahasiswa khususnya antropologi, penelitian ini masih memiliki banyak kekurangan terkait penelitian religi yang bisa dilakukan untuk melanjutkan penelitian ataupun memperkaya literatur antropologi dibidang kajian antropologi ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA

Buku dan Jurnal

Sairin Sjafri dkk.2003. Pengantar Antropologi Ekonomi.Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Salim Abror. 2015. Skripsi- Gerakan Filantropi Agama sebagai Solidaritas Komunitas (Studi Pola Gerakan Filantropi Gereja HKBP Ketabaru, Yogyakarta): Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Suit Jusuf dkk. 2012. Pemberdayaan Potensi Ekonomi Pedesaan Dalam pembangunan nasional. Bogor: IPB Press.

Kayun BA I Nengah dkk. 1986. Sistem Ekonomi Tradisional Sebagai Perwujudan Tanggapan Aktif Masyarakat Terhadap Lingkungan Daerah Nusa Tenggara Barat. Jakarta : Pemimpin Proyek.

James P.spradley,”Metode Etnografi”,(Yogyakarta :Tiara Wacana, 1997).

Bambang Hudayana. Jurnal-Konsep Resiprositas Dalam Antropologi Ekonomi.

Lelya Hilda. Jurnal-Revitalisasi Kearifan Lokal Dahlian Na Tolu Masyarakat Muslim Mandailing Dalam Menjaga Harmonisasi Lingkungan Hidup. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Padangsidempuan.

Arba „in Mahmud., Gender dan Kehutanan Masyarakat, Deepublish, hal.

69

Sumintarsih, Dra dkk. 1994. Kearifan Tradisional Masyarakat Pedesaan Dalam Hubungannya Dengan Pemeliharaan Lingkungan Hidup Daerah Istimewa Yogyakarta : Drs Salamun.

Khotimah. 2015. Jurnal-Studi Terhadap Komunitas Gereja HKBP Kota Pekan Baru : UIN Sultan Syarif Kasim Riau.

Sumber Internet:

https://haumanarata.wordpress.com/2009/09/10/acara-pesta-gotilon/

http://sihobasihatai.blogspot.co.id/2013/11/makna-pesta-gotilon.html

http://hariansib.co/view/Agama-Kristen/79750/Pesta-Gotilon--Memberi-Karena-Sudah-Diberi-Bukan-Supaya-Diberi.html

https://id-id.facebook.com/SekolahMingguHkbpTamarunang/posts/521988811152090

http://sihobasihatai.blogspot.co.id/2013/11/makna-pesta-gotilon.html

http://rosenmanihuruk.blogspot.co.id/2011/07/hkbp-menjadi-berkat-bagi-masyarakat-dan.html

http://batakgaul.com/news/pesta-gotilon-menyerahkan-hasil-panen-kehadapan- tuhan-760-1.htmlhttp://gurupintar.com/threads/sebutkan-dan-jelaskan-tri-tugas-panggilan-gereja

http://www.medan.kapusin.org/2014/12/pesta-panen-sebagai-ucapan-syukur.html