• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. PELAKSANAAN PESTA GOTILON

3.1. Pengertian Pesta Gotilon

Pesta Gotilon adalah Pesta syukuran hasil dari panen masyarakat dan biasanya dirayakan di Gereja. Melalui acara pesta panen yang dilakukan di Gereja masyarakat akan membawa hasil tersebut dan akan dipersembahkan kepada Tuhan yang disebut dengan Pesta Gotilon. Menurut bahasa Batak, arti Gotilon berarti musim menuai atau musim panen. Dimana hasil dari pekerjaan yang kita kita kerjakan itu, kita persembahkan ke Gereja. Pesta Gotilon merupakan kesempatan yang baik bagi setiap orang, terkhususnya warga jemaat Gereja untuk menyatakan syukur atas berkat yang diterima dari Tuhan.

Gotilon diadopsi dari tradisi Yahudi akan Pesta Hari Raya Pondok Daun atau Pesta hari Pengumpulan hasil panen. Pesta ini dimaknai sebagai ungkapan syukur atas berkat dan kasih karunia Tuhan yang senantiasa memelihara kehidupan umatNya. Pada acara ini salah satu unsur yang penting untuk dilaksanakan adalah dengan membawa persembahan (Silua) berupa hasil panen pertama (buah sulung) dari hasil pekerjaan yang dilakukan.

Persembahan itu dibawa ke dalam pelataran Bait Allah, sebagai pertanda kehadiran Allah di dunia. Persembahan yang dikumpulkan akan dipergunakan bagi suku Lewi sebagai suku yang dikhususkan untuk melayani Tuhan, dan juga

dipergunakan untuk pelayanan kepada orang-orang marjinal (miskin) seperti:

budak, para janda/ duda serta yatim piatu.

Dasar teologis membawa persembahan (silua) kehadapan Allah adalah mengingat bangsa Israel yang berada di situasi yang penuh penderitaan dan kelaparan karena diperbudak di Mesir. Akhirnya Allah bertindak untuk menyelamatkan mereka dan membawa ke tanah perjanjian yang penuh dengan susu, madu, tanah yang subur. Tradisi Pesta Gotilon Huria yang dilaksanakan oleh Gereja HKBP adalah kesadaran akan berbagai pemberian yang baik dan anugerah yang sempurna semata-mata bersumber dari Tuhan.

3.3.1. Pesta Gotilon Menurut Pengurus Gereja HKBP Parmonangan

Menurut informan yang penulis wawancarai mengenai pengertian Pesta Gotilon dan bagaimana proses pelaksanaannya penuls mewawancarai dari beberapa informan yaitu:

Gambar 2 : informan St. Cipto Amran Sitompul. S. Th

Penulis mewawancarai Bapak St. Cipto Amran Sitompul, S. Th (64) tahun menurut beliau:

“Makna sebenarnya Pesta gotilon itu memang harus dilaksanakan. Kita sebagai orang kristen harus memberi sebagian hasil pekerjaan kita kepada Tuhan. Hasil dari pekerjaan itu memang harus diberikan kepada Tuhan. Kadang orang zaman sekarang tidak mengetahui dalam konteks ini.

Mereka berfikir bahwa itu hanya buang-buang uang saja dan berfikir pengurus gereja korupsi uang jemaat. Padahal sebenarnya tidak, karena disini kita diharuskan harus memberi sebahagian atas berkat yang kita terima dari Tuhan”.

Pesta Gotilon adalah ucapan syukur kita kepada Tuhan atas apa yang sudah kita kerjakan dari pekerjaan kita sehari-hari. Sehingga dari hasil pekerjaan kita itu, kita persembahkan kepada Tuhan melalui program gereja dalam acara Pesta Gotilon.

Jadi pesta gotilon itu artinya memberi sedikit dari berkat yang sudah kita terima dari Tuhan. Dalam pesta gotilon berarti kita mengambil sebagian dari apa yang sudah kita terima dan akan kita berikan sebagai persembahan syukur kita kepada Tuhan.

Seperti yang sudah informan katakan melalui penelitian yang sudah penulis wawancara yang mengatakan: “Nyayikanlah mazmur bagi Tuhan, hai orang-orang yang dikasihi-nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus.

Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi. Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya, sebab

Engkaulah yang bertindak karena nama-Mu baik, aku hendak memasyurkannya di depan orang-orang yang kukasihi. Atas dasar itulah kita selalu memberikan atas apa yang sudah kita terima kepada Tuhan. Sehingga melalui pesta gotilon semua

masyarakat yang kriten merayakan itu di Gereja mereka masing-masing khusnya di

Pesta ini biasanya dilaksanakan melaui program Gereja pada akhir tahun dan di penghujung masyarakat itu sudah panen dalam satu tahun itu. Acara itu terus dilaksanakan dalam setiap tahunnya untuk merayakan bersama-sama atas berkat yang sudah di terima dari Tuhan. Pengurus Gereja akan selalu membuat program ini dalam setiap tahunnya demi kemajuan pelayan gereja dan semakin membangun hubungan solidaritas antara jemaat,pengurus, serta pemimpin gereja. Seperti yang sudah penulis teliti di gereja HKBP Parmonangan mereka selalu setiap tahunnya mengadakan acara ini dan akan terus melaksanakan ini untuk tahun-tahun berikutnya.

Dalam nats alkitab yang mengatakan bahwa “sebagian hasil dari pekerjaanmu harus kamu serahkan kepada Tuhan, hasil yang paling bagusnya”. Ketika itu ada, pada zaman sekarang ketika ini, ini adalah untuk pengembangan pelayanan di Gereja. Seperti yang tertulis dalam nats alkitab Matius 28:19 “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”. Artinya kita disuruh pergi dan kita harus mempunyai modal, sehingga uang Gereja dalam persepuluhan itu untuk modal dalam pelayanan dalam menginjili jemaat yang belum dan mengenal Tuhan. Karena masih banyak lagi jiwa-jiwa yang belum percaya sehingga melalui pelayanan gereja membuat acara ini.

Beliau juga Bapak St. Cipto Amran Sitompul mengatakan:

“Seperti kami pengurus Gereja pasti harus memberikan hasil yang sudah kami kerjakan. Karena itu suatu keharusan, dan seperti saya pribadi ketika saya memberikan berkat yang saya akan dapatkan kedepannya akan bertambah banyak dari apa yang sudah saya berikan sebelumnya. Dan ketika kita pelit-pelit memberikan kepada Tuhan, dan Tuhan juga akan pelit memberikan berkat buat kita. Karena kebanyakan dalam

artinya dia tidak iklhas memberikannya sehingga banyak pun uangnya tapi sakit penyakit selalu datang didalam dia sehingga uangnya habis untuk berobat kemana-mana”.

Hendaknya memberikan apa yang sudah kita terima, dan kita kedepannya akan merasakan berkat yang melimpah dari Tuhan. Semakin kita memberikan akan semakin banyak berkat yang kita dapatkan. Bukan dari harta melimpah saja yang langsung kita dapatkan melainkan kesehatan, kepintaran bahkan rezeki kita selalu bertambah. Sehingga kita harus seiklas hati memberikan sesuatu yang sudah kita terima. Seperti informan yang sudah penulis wawancarai Bapak St.

Cipto Amran S. Th yang mengatakan:

“Pesta gotilon akan terus dilaksanakan sekalipun kita tinggal di daearah perkotaan yang sudah tidak ada lahan pertanian lagi. Bukan harus dari pertanian saja kita memberikan ucapan syukur kepada Tuhan. Tetapi atas pekerjaan yang sudah kita dapatkan itu semua pemberian dari Tuhan sehingga kita umatnya patut mensyukuri atas apa yang sudah kita rasakan”.

Gambar 3: Informan Bapak Pendeta Davit Hutagaol, S. Th

Penulis juga mewawacarai pendeta Davit Hutagaol, S.Th (31) tahun yang melayani di Gereja HKBP Parmonangan mengatakan bahwa:

“Memberi karena sudah diberi, itulah sebabnya jemaat gereja memberi hasil perkerjaan mereka ke Gereja karena sudah diberi pertolongan dan anugerah dari Tuhan. Semua itu diberikan sebagai persembahan yang hidup bagi Tuhan dan bentuk ucapan terima kasih kita kepada Tuhan. Saya juga jika berkhotbah sering mengatakan berilah sedikit hasil yang engkau terima dari Tuhan supaya berkat terus melimpah bagimu. Bapak Ibu dan Saudara-saudara sekalian mari bawalah persembahan syukur kita padaNya”.

Demikianlah hendaknya setiap umatNya belajar mengedepankan hidup bergantung kepada pengasihan Allah dan mengenali diri dihadapanNya serta mau mengubah hidupnya yang berkenan dengan kehendakNya. Inilah yang benar dihadapan Allah dan mengajak semua jemaat agar senantiasa bersyukur dan bersukacita. Pada Pesta Gotilon ini sebagai respon syukur atas segala berkat dan kasih karuniaNya yang kita terima dan membawa persembahan padaNya sebagai buah „hasil kerja‟ (buah panen) atas pemenuhan dan pemeliharaan hidup yang dianugerahkanNya.

Ketika merasakan kehadirat Tuhan dan hadirat Tuhan Bekerja dalam kehidupan kita, yang pertama harus kita lakukan adalah datang ke rumah Tuhan dan berikanlah sebagian hasil panenmu yang terbaik ke rumah Tuhan, yang kedua rajinlah bekerja dan jangan jadi umat pemalas, dan yang ketiga adalah berbagi dengan warga masyarakat yang kekurangan atau masyarakat miskin yang masih membutuhkan pertolongan. Ini adalah perwujudan dari perayaan pesta panen yang bisa mensejahterahkan seluruh umat.

Gambar 4: Informan Bapak St. Tahti Marune Parulian Sitompul

Sumber : Penulis

Begitu juga dengan pengurus gereja yang sudah penulis wawancarai bapak St. Tahti Marune Parulian Sitompul (44) tahun beliau mengatakan bahwa:

“Pesta Gotilon adalah ucapan syukur kita kepada Tuhan, karena kita sudah diberikan kesehatan dan berkat atas pekerjaan yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Sehingga kita patut bersyukur dan memberikan persembahan kepada Tuhan melalui Pesta Gotilon. Atas dasar itulah kita harus memberikan kepada Tuhan”.

Dalam hal mengucap syukur atas berkat yang diberikan Tuhan kepada kita, tidak harus jadi petani atau pekerja di ladang yang menuai hasil saat musim panen. Semua pekerjaan yang diberikan Tuhan dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga adalah bagian dari bekerja di ladang Tuhan. Dalam alkitab nats 1 Tesalonika 5:18 dituliskan “ Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”. Firman Tuhan

ini mengajar kita agar selalu mengucap syukur dalam situasi , baik dalam suka dan duka.

Oleh karena itu kita sebagai manusia harus tetap terus bersyukur atas apa yang kita rasakan saat ini. Sehingga atas pekerjaan yang kita kerjakan tetap Tuhan yang terus menopang dan yang terus beserta dengan kita. Melalui Gereja, kita mempersembahkan sebagian hasil dari pekerjaan kita untuk Tuhan sebagai ucapan syukur kita kepada Tuhan. Dari beberapa informan yang penulis sudah wawancarai mereka mengatakan bahwa harus terus dilaksanakan program Gereja mengenai Pesta Gotilon ini. Dimana acara yang sangat sakral yang dilakukan oleh umat kristiani sebagai acara ucapan syukur kita kepada Tuhan atas pekerjaan yang sudah kita kerjakan.

Gereja adalah suatu persekutuan umat Kristen yang memiliki fungsi utama untuk bersaksi tentang Yesus Kristus di dunia. Gereja diambil dari kata Eklesia yang artinya “dipanggil keluar” untuk memberitakan Firman Tuhan. Dalam tugasnya, gereja memiliki 3 panggilan di dunia untuk dipenuhi dan dipertanggungjawabkan kepada Allah, antara lain:

a. Koinonia (Bersekutu): merupakan tugas pertama gereja sebagai tempat persekutuan umat Tuhan dengan sikap saling berbagi dan mengasihi satu sama lain.

b. Marturia (Bersaksi): merupakan tugas selanjutnya untuk saksi karya penyelamatan Allah terhadap manusia berdosa supaya kabar baik dapat disampaikan kepada semua orang.

c. Diakonia (Melayani): merupakan tugas gereja untuk melayani siapapun yang ingin datang kepada Allah. Gereja harus memberikan teladan untuk melayani, karena Yesus sebelumnya sudah melayani kita terlebih dahulu.

Di dalam pelayanan Gereja inilah tugas dasar panggilan Gereja di lakukan dalam pelayanan. Sehingga semua kegiatan yang dilakukan Gereja melalui tiga dasar panggilan Gereja. Bahkan saat jemaat Gereja ada yang sakit, meninggal itu ada dana santunan gereja yang akan dikeluarkan dari khas Gereja. Pengurus dan pimpinan gereja membuat semua program tersebut demi kemajuan pelayanan.

Melalui program Gereja HKBP yang dilaksanakan, ini untuk membangun kebersamaan mereka antara jemaat dan pemimpin Gereja beserta pengurusnya.

Seperti yang sudah dilakukan dalam acara Pesta Gotilon ini, semua jemaat datang ke Gereja untuk merayakan bersama dan membawa hasil pekerjaan mereka masing-masing kepada Tuhan.

Dalam hal ini mereka membangun hubungan solidaritas tersebut dalam sebuah kegiatan Gereja. Sehingga hubungan solidaritas mereka semakin baik dikarenakan adanya rasa kebersaaman, rasa kesatuan, dan rasa simpati yang mereka buat dalam mengerjakan suatu pekerjaan tersebut. Contohnya dalam pesta gotilon ini, bukan hanya pengurus gereja saja yang bertugas tetapi jemaat bahkan remaja naposo HKBP juga ikut berperan dalam acara itu. Jemaat dan remaja naposo ikut berperan dalam acara pelelangan yang dilakukan setelah selesai acara ibadah minggu selesai. Mereka mengambil bagian mereka masing-masing agar acara yang sudah dibuat tetap berjalan dengan baik dan lancar.

Dana yang diperlukan untuk acara pesta gotilon tidaklah ada dimintai dari para jemaat. Karena ini acara ucapan syukur yang diadakan di Gereja dan kita semuanya memberikan seikhlas hati. Pengurus dan panitia dalam pesta gotilon juga tidak ada meminta uang untuk dana sumbangan untuk acara tersebut. Bahkan di Gereja diadakan makan bersama setelah selesai acara ibadah. Jadi jemaat itu juga hanya datang ke gereja dan membawa silua mereka masing-masing.

Untuk makanan yang disajikan oleh pengurus untuk dimakan pada saat acara tersebut, ada yang memberikan sumbangannya dengan berpartisipasi memberikan makan siang. Sehingga jemaat gereja yang mengikuti acara pesta gotilon sangat bahagia dengan acara tersebut. Karena ini acara bersama dan acara ucapan syukur kepada Tuhan sehingga kita harus ikhlas memberikan apa yang kita punya untuk kebersamaan kita. Seperti yang penulis wawancarai oleh bapak St. Cipto Amran Sitompul (64) tahun, beliau mengatakan:

“Tidak ada sama sekali diminta dana dari para jemaat untuk acara pesta gotilon ini. Untuk makan siang yang disajikan juga sama sekalii tidak ada biaya yang diikeluarkan dari khas gereja. Ada yang memberikan sumbangannya pribadi ke gereja untuk dinikmati bersama. Contohnya seperti saya pribadi, saya yang memberikan makanan tersebut untuk makan siang yang sudah disajikan pada saat acara pesta gotilon. Agar kedepannya dan acara selanjutnya ada juga yang mengikut untuk selalu memberikan sumbangan untuk dinikmati bersama.

Karena jika kita memberi dengan ikhlas akan bertambah banyak berkat yang akan kita terima dari Tuhan. Kesehatan kita juga tetap baik dan kita tetap boleh mengerjakan bagian kita masing-masing. Seperti saya dan keluarga juga yang selalu merasakan berkat Tuhan yang sangat luar biasa yang kami rasakan”.

Dalam program yang sudah dibuat oleh pengurus gereja ini bertujuan

sudah dilaksanakan dalam acara Pesta Gotilon ini bertujuan agar jemaat yang jauh-jauh dan yang tidak mengenal jemaat yang lain semakin dekat. Begitu juga dengan pengurus Gereja harus mengenal dan mengetahui bagaimana karakter dari jemaat itu masing-masing.

Melalui acara ini agar hubungan solidaritas mereka tetap baik dan semakin baik lagi. Dari informan yang sudah penulis wawancarai bahwa belum pernah terjadi permasalahan yang sangat besar yang terjadi di gereja ini. Bahkan antara jemaat dan pengurus, dan antara pengurus dan pemimpin gereja tetap masih baik.

Jika perbedaan pendapat yang mereka berikan saat rapat antara pengurus gereja dan pimpinan gereja itu hanya sebatas rapat saja dan tidak pernah sampai besar masalahnya. Seperti yang penulis wawawncarai Bapak St. T. Sitompul, yang mengatakan:

“Kalau perbedaan pendapat yang selalu beda itu hal yang wajar saja karena kan ini berpendapat bebas memberikan demi kemajuan pelayanan. Tetapi ini tidak pernah sampe menimbulkan masalah yang membuat hubungan kami dengan pemimpin gereja jadi tidak baik. Malah kami sering meyatukan pendapat demi pendapat walau ada perdebatan awalnya.

Hubungan kami dengan jemaat gereja juga tetap baik dan tidak ada masalah yang sampe besar. Jika kami bertemu dengan jemaat juga kami selalu menyapa dan mereka juga begitu terhadap kami”.

Hubungan yang sangat baik dan selalu harmonis antara pemimpin gereja dengan pengurus, antara pengurus dengan jemaat, dan antara jemaat dengan jemaat. Semakin baik suatu hubungan yang terjadi di dalam suatu organisasi pelayanan itu akan semakin baik pulak pelayanan yang mereka kerjakan.

Sehingga segala program gereja yang akan berlangsung akan tetap terlaksana

perasaan mereka masing-masing dan yang selalu memberi masukan kepada orang-orang yang salah dalam pekerjaan mereka yang kurang baik mereka kerjakan.

Gambar 5: Hasil Pekerjaan Sulung yang akan dipersembahkan ke Gereja

Sumber: Penulis

Melalui gambar di atas dapat kita lihat itulah hasil pekerjaan dari jemaat gereja yang sudah mereka bawakan ke gereja. Bukan karena mahalnya sebuah silua yang kita berikan tetapi, seberapa ikhlas kita memberikan persembahan kita kepada Tuhan. Jemaat gereja memberikan buah nenas dan yang lainnya sebagai silua mereka sebagai bentuk persembahan mereka kepada Tuhan melalui acara Pesta Gotilon. Silua tersebut akan dikumpulkan di altar gereja untuk dilakuka proses pelelangan.

Tradisi Pesta Gotilon Huria yang dilaksanakan oleh Gereja HKBP adalah kesadaran akan berbagai pemberian yang baik dan anugerah yang sempurna semata-mata bersumber dari Tuhan. Tuhan memberkati manusia senantiasa

walaupun pemberontakan terus ada di dalam hidup kita. Tuhan tidak pernah menghambati akan berkat yang dicurahkan bagi manusia, cahaya sinar pagi di ufuk timur, hujan dan panas yang silih berganti dan banyak lagi. Dengan dasar itulah kita disadarkan untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan.

Di dalam iman kristen, persembahan, tidak harus dimaknai sebuah kewajiban, sebab berkonotasi tututannya legal. Artinya bila dilakukan atau tidak dilakukan akan berdampak yang baik dan yang tidak baik. Justru sebaliknya, persembahan lebih merupakan wujud dari hati yang bersyukur atas kasih Allah yang melimpah. Dengan kata lain, kita memberi karena Allah sudah terlebih dahulu memberi kepada kita. Segala yang kita miliki menjadi cerminan untuk memberi baik nafas kehidupan, kesehatan dan rejeki yang melimpah.

Adapun yang kita bawa kepada Tuhan sebagai persembahan (Silua) tidak lagi hasil panen dari tanah sebagaimana persembahan jaman dahulu yang hidup sebagai masayarakat agraris (pertanian). Di masa kini telah terjadi pergeseran demografi (tempat) dan wilayah pekerjaan, dari desa menjadi semi kota dan dari semi kota menjadi kota besar (modern). Mereka tidak lagi bersandar pada pertanian atau perkebunan melainkan bergeser pada dunia jasa dan industri.

Itu sebabnya persembahan (Silua) tidak lagi harus berfokus pada hasil pertanian dan perkebunan tetapi telah berubah dengan mempersembahkan benda/barang (Parsel) atau uang. Umumnya masyarakat di perkotaan mempersembahkan uang sebagai Silua pada puncak acara Pesta Gotilon uang itu dibawa di atas piring atau dilekatkan di bambu-bambu layaknya seperti pohon yang berdaun uang.

Tetapi di Gereja HKBP Parmonangan ini bentuk Silua yang mereka bawa kebanyakan dalam bentuk parsel buah dan makanan yang sudah mereka buat dalam bentuk parsel. Seperti ayam panggang, sangsang, ikan mas arsik, dan ikan mas naiura. Sehingga dalam harga yang mereka tawarkan untuk jemaat gereja sudah harga tinggi juga. Dalam harga pelelangan yang pengurus buat dengan harga awal sejumlah Rp.150.000;- karena dari silua yang dibawa oleh jemaat gereja juga sudah harga tinggi.

Seperti yang penulis wawancarai dari jemaat gereja yang oleh ibu H. Br.

Hutagalung (44) tahun,mengatakan bahwa:

“Tidak mungkin harga silua yang sudah kita bawa ditawarkan dengan harga lebih rendah. Contohnya saya membawa silua dalam bentuk parsel buah harganya saja sudah tinggi dan tidak mungkin lagi dilelangkan dengan harga rendah. Begitu juga dengan jemaat-jemat yang lain yang memberikan silua mereka yang hampir rata memberikan parsel buah dan makanan.

Sehingga saya pribadi juga setuju jika pengurus gereja menawarkan harga lelang tersebut dengan harga tinggi.

Sehingga jemaat yang lain yang ingin melelang sudah tau harga yang ingin dia lelangkan”.

Dengan demikian harga setiap silua yang ingin dilelangkan hampir rata harganya senilai Rp. 200.000;-. Ini dibuat karena setiap harga silua juga sudah cukup tinggi. Melalui ini agar setiap program yang sudah direncanakan juga tetap berjalan dengan baik. Dilakukan untuk kelancaran pelayanan dan kemajuan Gereja. Karena dari setiap program yang sudah berjalan bertujuan untuk membuat kebersamaan semakin baik.

Beliau juga mengatakan:

“Dengan adanya Pesta Gotilon ini saya pribadi sangat bangga melalui program yang sudah dilaksanakan. Ini demi

hubungan kita bersama. Seperti dalam acara ini yang diadakan makan bersama, ini membuat ada hubungan solidaritas kita tetap baik”.

Dari setiap jemaat yang penulis wawancarai bahkan pengurus gereja juga mereka sangat bahagia ketika masih ada dilaksanakan program gereja acara Pesta Gotilon. Melalui acara ini hubungan solidaritas tetap baik, karena kebersamaan dan tanggung jawab tetap ada di dalam. Sehingga acara ini akan terus diadakan untuk setiap tahunnya sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan melalui program Gereja yang terlaksana.

Gambar 6: Macam-macam Silua Yang Dibawa Oleh Jemaat

sumber: Penulis

Dari gambar diatas dapat kita lihat inilah bentuk silua yang jemaat gereja persembahkan ke gereja sebagai bentuk ucapan syukur mereka. Dari gambar juga dapat kita lohat bahwa harganya juga sudah tinggi dan harus tinggi juga untuk di lelangkan. Dalam hal ini dibuat harga tinggi bukan berarti akan mendapatkan untung dipribadi masing-masing. Ini bertujuan untuk menambah khas gereja dan berguna untuk hal-hal yang lain demi kemajuan gereja bersama. Ini juga tidak merugikan jemaat yang akan melelang karna ini bukan ada hak paksaan. Bukan

Dari gambar diatas dapat kita lihat inilah bentuk silua yang jemaat gereja persembahkan ke gereja sebagai bentuk ucapan syukur mereka. Dari gambar juga dapat kita lohat bahwa harganya juga sudah tinggi dan harus tinggi juga untuk di lelangkan. Dalam hal ini dibuat harga tinggi bukan berarti akan mendapatkan untung dipribadi masing-masing. Ini bertujuan untuk menambah khas gereja dan berguna untuk hal-hal yang lain demi kemajuan gereja bersama. Ini juga tidak merugikan jemaat yang akan melelang karna ini bukan ada hak paksaan. Bukan