BAB V Hasil Dan Pembahasan
5.2 Pembahasan
5.2.2 Pendokumentasian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat
Dokumentasi merupakan tulisan dan pencatatan suatu kegiatan/ aktivitas tertentu secara sah/legal. Pendokumentasian asuhan keperawatan merupakan penulisan dan pencatatan yang dilakukan oleh perawat tentang informasi kesehatan klien termasuk data pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi keperawatan (Carpenito, 1998).
Dokumentasi keperawatan merupakan bukti otentik tentang respon klien dan perubahan yang terjadi dari tindakan yang dilakukan oleh perawat baik secara mandiri maupun kolaborasi yang merupakan bagian permanen dari rekam medik klien. Hasil penelitian pendokumentasian keperawatan sebesar 80,25 %..
Pendokumentasian keperawatan baik karena, sudah adanya format yang telah ditetapkan di Ruang Rawat Inap Kardiovaskuler membantu dan memudahkan perawat dalam pendokumentasian asuhan
lembar pendokumentasian asuhan keperawatan tersebut terhadap keluhan yang dirasakan oleh pasien. Lembar pendokumentasian asuhan keperawatan tersebut membantu perawat dalam melakukan pekerjaan di ruangan, sehingga waktu yang digunakan dalam pendokumentasian asuhan keperawatan lebih efisien. Hal ini sejalan dengan Lawrence Weed pada tahun 1960 (Marelli, 2000) yang menyatakan bahwa keuntungan dari metode pendokumentasian ini adalah lebih efektif, efisie n dan terorganisasi dengan baik.
Pendokumentasian asuhan keperawatan di Ruang Rawat Inap Kardiovaskuler mulai dari pengkajian, mencatat identitas pasien. Diagnosa, merumuskan masalah keperawatan yang dialami oleh pasien. Perencanaan, membuat rencana tindakan keperawatan terhadap pasien kardiovaskuler. Implementasi yaitu melakukan tindakan keperawatan pada pasien kardiovaskuler. Evaluasi, mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan mulai dari pengkajian sampai implementasi.
Hal ini sejalan dengan (Depkes, 2005), penilaian terhadap kelengkapan pendokumentasian asuhan keperawatan dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu : pengkajian, mencatat data yang dikaji sesuai dengan pedoman pengkajian, data dikelompokkan (bio-psiko-sosial- spiritual), data dikaji sejak pasien masuk sampai pulang, masalah dirumuskan berdasarkan kesenjangan antara status kesehatan dengan
norma dan pola fungsi kehidupan, diagnose, diagnosa keperawatan berdasarkan masalah yang telah dirumuskan.
Diagnosa keperawatan mencerminkan PE/PES, merumuskan diagnosa ke perawatan aktual/potensial. Perencanaan, berdasarkan diagnosa keperawatan, disusun menurut urutan prioritas, rumusan tujuan menga ndung komponen pasien/subyek, perubahan, perilaku, kondisi pasien dan atau kriteria waktu, rencana tindakan mengacu pada tujuan dengan kalimat perintah, terinci dan jelas, rencana tindakan menggambarkan keterlibatan pasien/keluarga, rencana tindakan menggambarkan kerja sama dengan tim kesehatan lain.
Implementasi (Tindakan), tindakan dilaksanakan mengacu pada rencana keperawatan, perawat mengobservasi respon pasien terhadap tindakan keperawatan, revisi tindakan berdasarkan hasil evaluasi, semua tindakan yang telah dilaksanakan dicatat ringkas dan jelas. Evaluasi, evaluasi mengacu pada tujuan, hasil evaluasi dicatat. Catatan Asuhan Keperawatan, menulis pada format yang baku, pencatatan dilakukan sesuai dengan tindakan yang dilaksanakan, pencatatan ditulis dengan jelas, ringkas, istilah yang baku dan benar, setiap melakukan tindakan/kegiatan perawat mencntumkan paraf/nama jelas, tanggal dan jam dilakukannya tindakan, berkas catatan keperawtan disimpan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
5.2.3 Pengaruh Beban Kerja Perawat terhadap Kelengkapan Dokumentasi Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat Inap Kardiovaskuler RSUP H. Adam Malik Medan
Beban kerja adalah suatu kewajiban atau tanggung jawab yang harus dipikul untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan standar tertentu. Sedangkan. Pendokumentasian asuhan keperawatan merupakan penulisan dan pencatatan yang dilakukan oleh perawat tentang informasi kesehatan klien termasuk data pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi keperawatan (Carpenito, 1998).
Berdasarkan uji korelasi dengan menggunakan Uji korelasi
Pearson yang dilakukan secara komputerisasi memberikan hasil p = 0,000 dan koefisien korelasi r = 0,758. Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh beban kerja perawat dengan kelengkapan pendokumentasian keperawatan di Ruang Rawat Inap Kardiovaskuler RSUP H. Adam Malik Medan karena jika nilai p < 0,05 maka ada pengaruh antara dua variabel tersebut.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa beban kerja perawat di Ruang Rawat Inap Kardiovaskuler termasuk kategori tinggi memiliki hubungan yang bermakna dengan pendokumentasian keperawatan. Beban kerja perawat yang tinggi serperti, tuntutan pekerjaan yang tinggi, kurangnya keterampilan perawat dalam
menangani pasien kardiovaskuler memberikan hasil yang baik terhadap dokumentasi keperawatan pasien.
Pendokumentasian keperawatan terdiri dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi telah dilakukan dengan baik di Ruang Rawat Inap Kardiovaskuler. Pendokumentasian asuhan keperawatan baik didukung adanya lembar pendokumentasian asuhan keperawatan yang telah tersedia di ruangan tersebut. Lembar pendokumentasian asuhan keperawatan meminimalkan pekerjaan perawat.
Hasil penelitian ini menyatakan beban kerja yang tinggi menghasilkan pendokumentasian yang tinggi. Beban kerja yang tinggi dipengaruhi oleh keterampilan dalam menangani pasien, sikap perawat dalam menghadapi pasien, waktu merawat pasien. Beban kerja mempengaruhi produktivitas kinerja perawat seperti prestasi dalam penanganan pasien, selain itu beban kerja yang tinggi dipengaruhi oleh iklim kerja yang ada di ruangan, lingkungan tempat kerja yang luas seperti bangasal yang membuat perawat harus mengontrol pasien dari satu ruangan ke ruangan yang lain.
Beban kerja yang tinggi juga dipengaruhi oleh tenga kerja perawat yang kurang profesional dimana mayoritas perawat di ruang rawat inap kardiovaskuler berpendidikan D-III Keperawatan, keterampilan perawat juga masih belum maksimal. Teknologi dalam
perawatan pasien kardiovaskuler sudah ada dan dapat membantu tugas perawat dalam melaksanakan dokumentasi keperawatan pada pasien.
Hal ini sejalan dengan teori Sedarmayanti, (2001) yang menyatakan bahwa sikap kerja, seperti kesediaan untuk bekerja secara bergiliran (shift work), bekerja dalam suatu tim, tingkat keterampilan, yang ditentukan oleh pendidikan, latihan dalam manajemen dan supervisi serta ketrampilan dalam tehnik profesi, hubungan antara tenaga kerja dan pimpinan unit organisasi, manajemen kinerja/produktivitas yaitu manajemen yang efisien mengenai sumber dan sistem kerja untuk mencapai peningkatan prestasi kerja, efisiensi tenaga kerja, seperti perencanaan tenaga kerja, kreativitas dalam bekerja dan berada pada jalur yang benar dalam bekerja.
Disamping hal tersebut diatas terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi prestasi kerja/produktivitas kerja antara lain sikap mental, berupa motivasi kerja, disiplin kerja dan etika kerja, pendidikan, keterampilan, manajemen, hubungan interpersonal, tingkat penghasilan, kebutuhan gizi dan kesehatan, jaminan sosial, lingkungan dan iklim kerja, sarana untuk bekerja/sarana produksi, teknologi, kesempatan berprestasi (Sedarmayanti, 2001).