BAB II GAMBARAN UMUM
B. Gambaran Umum Demografis
3. Penduduk Miskin
Pada tabel 2.4 diketahui bahwa keluarga miskin yang berkunjung ke puskesmas adalah sebesar 23.72% bila dibandingkan dengan target sudah
sunatan masal yang direncanakan 75 anak tetapi pada pelaksanaannya hanya yang disunat karena kesulitan dalam mendapatkan
Pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin baru mencapai 89.00%, bila dibandingkan dengan target belum tercapai, demikian juga dengan pelayanan kesehatan rujukan masyarakat miskin baru mencapai
dibandingkan dengan capaian tahun 2014 (12.13
Kesehatan dijelaskan bahwa cakupan rujukan masyarakat miskin dihitung
diketahui bahwa keluarga miskin yang berkunjung ke puskesmas bila dibandingkan dengan target sudah terlampaui. Untuk
sal yang direncanakan 75 anak tetapi pada pelaksanaannya hanya 70 anak saja esulitan dalam mendapatkan sasaran.
Pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin baru mencapai 89.00%, bila dibandingkan dengan target belum tercapai, demikian juga dengan pelayanan kesehatan rujukan masyarakat miskin baru mencapai 11.54%, target 100% dan menurun bila dibandingkan dengan capaian tahun 2014 (12.13%). Di dalam petunjuk teknis SPM
Kesehatan dijelaskan bahwa cakupan rujukan masyarakat miskin dihitung berdasarkan jumlah 13%
diketahui bahwa keluarga miskin yang berkunjung ke puskesmas Untuk kegiatan 70 anak saja
Pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin baru mencapai 89.00%, bila dibandingkan dengan target belum tercapai, demikian juga dengan pelayanan kesehatan , target 100% dan menurun bila ). Di dalam petunjuk teknis SPM Bidang berdasarkan jumlah TDK MEMILIKI IJAZAH
STRATA 1/DIPLOMA IV
pasien masyarakat miskin di sarana kesehatan strata 2 dan strata 3 dibagi dengan jumlah masyarakat miskin, padahal tidak semua masyarakat miskin sakit, dan tidak seluruh masyarakat miskin yang sakit dan berobat di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) harus dirujuk ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL). Masyarakat miskin yang datang ke puskesmas semuanya diberikan pelayanan kesehatan dasar (100%), dan bagi yang benar-benar memerlukan rujukan semuanya (100%) dirujuk ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL).
Berdasarkan hasil cakupan riil pelayanan kesehatan penduduk miskin tahun 2015 tercatat jumlah penduduk miskin di Kota Cimahi berdasarkan Iuran Jaminan Kesehatan bagi penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah daerah dibayar oleh Pemerintah Daerah (orang miskin dan tidak mampu) berjumlah 26.648 jiwa. Adapun cakupan jaminan kesehatan di Kota Cimahi dapat dilihat pada gambar 2.6.
BAB III
DERAJAT KESEHATAN
Pada bab ini dijelaskan hasil–hasil pencapaian pembangunan kesehatan dan situasi derajat kesehatan Kota Cimahi serta berbagai upaya pelayanan kesehatan dalam bentuk kegiatan dan hasil pencapaian kegiatan di Puskesmas maupun di rumah sakit di wilayah Kota Cimahi. Selain upaya pelayanan kesehatan dasar dan rujukan, dalam bab ini akan dijelaskan pula mengenai sumber daya kesehatan dalam bentuk sarana kesehatan, tenaga kesehatan, dan anggaran kesehatan dalam menunjang berbagai upaya kesehatan di Kota Cimahi.
A. Angka Kematian
Angka kematian yang terjadi di satu wilayah tertentu dapat memberikan gambaran derajat kesehatan maupun hal lain di wilayah tersebut, seperti kerawanan keamanan atau bencana alam. Pada dasarnya ada penyebab kematian langsung dan penyebab tidak langsung, walaupun kenyataan yang terjadi adalah interaksi berbagai faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kematian masyarakat.
Salah satu indikator yang sering digunakan untuk menilai tingkat kesejahteraan penduduk adalah tingkat kematian penduduk tersebut. Tingkat kematian merupakan indikator sensitif terhadap kualitas dan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan di suatu wilayah seperti Angka Kematian Kasar, Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Balita dan Angka Harapan Hidup.
1. Kematian Anak
Jumlah kematian anak di Kota Cimahi tahun 2015 yang dilaporkan berjumlah 93 kasus, yang terdiri Kematian Neonatal 68 kasus (37%), kematian Bayi 21 kasus (23%), dan 4 kasus (4%) kematian balita. Dari laporan bulanan puskesmas diketahui bahwa jumlah kematian bayi dan neonatal di Kota Cimahi pada tahun 2015 adalah sebanyak 89 kasus dari 10.193 Kelahiran Hidup. (konversi 8.73/1000 KH) jauh lebih baik dari target yang ditetapkan (29.70-29.30/1.000 KH), meskipun lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2014 yaitu 78 kasus dari 10.539 KH (konversi: 7.40/ 1.000 KH) dan tahun 2013 dengan 76 kasus dari 10.659 KH (konversi 6,85/1000KH). Penyebab kematian bayi adalah BBLR 37 kasus, Asfiksia 23 kasus, Aspirasi 3 kasus, ISPA 2 kasus, Diare 3 kasus, gangguan saluran cerna 1 kasus, kelainan congenital 5 kasus, lnfeksi 3 kasus dan lain-lain penyebab 12 kasus.
Sedangkan tempat kematian bayi adalah di terjadi di wilayah kerja Puskesmas Pasirkaliki Puskesmas Cigugur Tengah 1 kasus. kehamilan, disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan, atau yang diperberat oleh kehamilan tersebut atau penanganannya, tetapi bukan kematian ya disebabkan oleh kecelakaan atau kebetulan (WHO,2007).
(ibu hamil & ibu bersalin) tahun 200 BAYI 23%
kematian bayi adalah di rumah sakit sebanyak 67 kasus
us, rumah bersalin sebanyak 2 kasus, dipraktik bidan sebanyak 1 kasus, klinik bersalin 1 kasus dan puskesmas 1 kasus.
Sumber : Bid. Yanmas Dinkes Kota Cimahi 2015
Gambar 3.1 Kematian Anak Kota Cimahi 2015
terjadi kasus kematian balita sebanyak 4 kasus masing
Puskesmas Pasirkaliki 1 kasus, Puskesmas Leuwigajah 2 kasus dan 1 kasus.Penyebab kematian balita tersebut terdiri dari penmonia sebesar 1 kasus, Kelainan Kongenital sebesar 1 kasus dan gangguan
Kematian maternal menurut batasan dari The Tenth Revision of The International -10) adalah kematian wanita yang terjadi pada saat k
atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan, disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan, atau yang diperberat oleh kehamilan tersebut atau penanganannya, tetapi bukan kematian ya disebabkan oleh kecelakaan atau kebetulan (WHO,2007). Jumlah kasus kematian ibu maternal (ibu hamil & ibu bersalin) tahun 2007 - 2015 di Kota Cimahi dapat dilihat pada tabel berikut.
NEONATAL kehamilan, disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan, atau yang diperberat oleh kehamilan tersebut atau penanganannya, tetapi bukan kematian yang Jumlah kasus kematian ibu maternal di Kota Cimahi dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3.1.
Jumlah Kematian Ibu Maternal Kota Cimahi Tahun 2007 – 2015 Tahun Jumlah kematian ibu Maternal Konversi
Sumber : Profil KIA Tahun 2015, Bid. Yanmas Dinkes Kota Cimahi
Dari tabel 3.1 tersebut di atas terlihat bahwa jumlah kematian ibu di Kota Cimahi tahun 2015 adalah 17 kasus per 10.193 Kelahiran Hidup (konversi 167.78/100.000 KH), mengalami peningkatan bila dibandingkan tahun 2014 adalah 10 kasus dari 10.539 KH (konversi 94.44/1.000.000 KH). Dan tahun 2013 dengan 14 kasus dari 10.659 KH (konversi 131,34/100.000 KH). Dengan AKI 166.78/100.000 KH (konversi), maka persentase capaian kinerjanya sangat kecil (50.65-84.45) bila dibandingkan dengan target AKI Kota Cimahi tahun ini (84.65-84.45). Tetapi bila dibandingkan dengan target MDGs 102/100.000 KH maka capaian kinerjanya 61.16%.
Sumber : Profil KIA Tahun 2015, Bid. Yanmas Dinkes Kota Cimahi Gambar 3.2 Kematian Bayi Berdasarkan
Penyebab kematian ibu yang terjadi pada tahun 2015 adalah perdarahan 4 kasus, PEB/ Eklamsi 3 kasus, lnfeksi 2 kasus, decomp 2 kasus, suddent death 2 kasus, CRF 1 kasus, dehidrasi 1 kasus, emboli ketuban 1 kasus, serta shock cardiogenic 1 kasus. Wilayah kerja puskesmas dengan kasus kematian ibu adalah di Puskesmas Cigugur Tengah 4 kasus, Melong Tengah 3 kasus, Padasuka 2 kasus dan masing-masing 1 kasus di wilayah kerja puskesmas Cimahi Utara, Pasirkaliki, Cipageran, Citeureup, Cimahi Tengah, Cimahi Selatan, Cibeureum dan Melong Asih. Sedangkan tempat kematian ibu adalah : 9 kasus di RS, 6 kasus di rumah dan 2 kasus di perjalanan. Hal tersebut menunjukkan bahwa sistem rujukan sudah berjalan tetapi belum optimal. Hal ini disebabkan adanya keterlambatan dalam merujuk atau keterlambatan dalam penanganan di Rumah Sakit, penapisan ibu hamil resiko tinggi belum optlmal dan kesadaran serta pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan ibu hamil termasuk kasus-kasus resiko tinggi masih kurang.
Sumber : Profil KIA Tahun 2015, Bid. Yanmas Dinkes Kota Cimahi
Gambar 3.3 Kematian Ibu Berdasarkan Wilayah Kerja Kota Cimahi 2015
B. Status Gizi Balita
Status gizi merupakan parameter tingkat kesehatan individu dan masyarakat, status gizi tersebut dapat ditentukan dengan metode biokimia, klinis, dan antropometri. Penilaian status gizi ini penting untuk mengidentifikasi anak balita yang terkena Kekurangan Energi Protein (KEP).Balita dengan KEP merupakan salah satu faktor risiko yang memberikan
1 1 1 1 1
4
2
1 1 1
0 0 3
dampak pada lemahnya Sumber Daya Manusia (SDM). Pada tahun 2015 prevalensi gizi buruk di Kota Cimahi adalah 0,12% (45 kasus) lebih tinggi dibandingkan tahun 2014 dengan prevalensi gizi buruk 0.08% (25 kasus) dan tahun 2013 sebesar 0,09% (36 balita). Data tersebut diperoleh dari laporan bulanan gizi buruk dari puskesmas, indikator status gizi yang digunakan adalah BB/TB. Dari keseluruhan balita gizi buruk yang ditemukan keseluruhannya (100%) sudah mendapatkan intervensi/ penanganan, yaitu berupa pemeriksaan dan konseling di puskesmas, pemberian makanan tambahan (PMT) selama 90 hari, disertai pemantauan baik oleh kader maupun petugas gizi puskesmas.
C. Pencegahan Penyakit 1. Penyakit Menular
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Penyakit TB telah menjadi iceberg phenomenon, yang terlihat cukup baik dari permukaan, namun masih menyimpan permasalahan besar yang belum ditemukan sehingga perlu penanganan yang lebih intensif.
Penemuan kasus BTA (+) baru mencapai 74,72%, meningkat bila dibandingkan dengan capaian tahun 2014 (73,72%) walaupun belum mencapai target yang ditetapkan 80%.
Peningkatan ini tidak lepas dari peran PPTI Kota cimahi dengan seluruh anak cabang PPTI di setiap kecamatan yang aktif datam mencari/menemukan terduga penderita TB untuk diantar ke puskesmas guna diperiksa sputumnya.
Penemuan kasus BTA yang masih di bawah target diduga karena penegakan diagnosis TB dengan strategi DOTS yang seharusnya dilakukan dengan cara pemeriksaan sputum BTA belum di terapkan oleh semua dokter praktek swasta (DPS) dan Rumah sakit di Kota cimahi (ada yang hanya menggunakan hasil foto Rontgent sebagai penentuan diagnosis TB). Selain itu pelaporan kasus TB dari DPS dan klinik swasta yarg belum optimal serta penjaringan terduga TB yang masih kurang menyebabkan penemuan kasus BTA(+) belum mencapai target. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut antara lain dengan melaksanakan HDL (Hospital DOTS Linkage), pelatihan OJT (On Job Training) bagi petugas laboratorium dan DOTS Rumah Sakit, pelatihan DOTS bagi DPS, serta pelatihan kader PMO yang bekerja sama dengan PPTI Kota Cimahi untuk meningkatkan cakupan penjaringan suspect baik di Posyandu maupun di wilayah kerja puskesmas serta sosiatisasi TB secara berkesinambungan baik ditingkat kelurahan, kecamatan maupun kota.
Tabel 3.2 Kegiatan Pemberantasan Penyakit Menular
No Indikator Kinerja Target Realisasi
1 Penemuan kasus BTA + (SPM) 80% 74,72%
2 Cakupan balita dengan pneumonia yang ditangani (SPM)
100% 131.41%
3 Diare yang ditangani (SPM) 100% 100.64%
Cakupan balita dengan pneumonia yang ditangani mencapai 131,41% (target 100%).
Hal tersebut dimungkinkan terjadi karena perbedaan besarnya sasaran yang ditetapkan. Tahun 2014 sasaran balita dengan pneumonia adalah 10% balita, sedangkan tahun 2015 sasarannya 4,62%. Penanganan pneumonia balita 3.548 balita (sasaran 2.700 balita) dengan realisasi kegiatan 131.41%. Cakupan diare yang ditangani mencapai 100.64% (target 100%), capaian tersebut telah mancapai target yang ditetapkan. Tahun ini ada perubahan sasaran penanganan diare, yaitu 15% dari jumlah penduduk (tahun 2014 sasaran 10%).
2. Penyakit Tidak Menular
Saat ini peningkatan prevalensi penyakit tidak menular telah menjadi ancaman yang serius, khususnya dalam perkembangan kesehatan masyarakat. Salah satu strategi yang dikembangkan pemerintah untuk mengendalikan penyakit tidak menular ini dengan mengembangkan model Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) berbasis masyarakat melalui Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM yang merupakan bentuk peran serta masyarakat dalam upaya pengendalian faktor risiko secara mandiri dan berkesinambungan.
Perlu terus dilakukan upaya pengembangan posbindu PTM agar dapat segera dilakukan pencegahan faktor resiko PTM sehingga kejadian PTM di masyarakat dapat ditekan.
Jumlah Posbindu yang melaksanakan deteksi dini pengendalian faktor resiko PTM pada tahun 2015 adalah 83 posbindu dari 222 posbindu di Kota Cimahi (37,39%), sedangkan target Posbindu PTM tahun 2015 adalah 40% dari total posbindu. Capaian tahun 2014 adalah 37,56% yaitu 80 posbindu PTM dari 213 posbindu yang ada.
Target Deteksi dini Ca Cervix pada Wanita Usia Subur (WUS) tahun 2015 adalah 1.800 orang, dan yang diperiksa sebanyak 1.889 WUS (cakupan 104,94%). Target kinerja pada Renstra untuk deteksi dini Ca cervix adalah 15.182 WUS sedangkan cakupan kumulatif untuk periode tahun 2013 s/d 2015 sebanyak 4.266 WUS (28.10%). kondisi ini masih berada di bawah target yang ditetapkan. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan cakupan akan dilaksanakan pelayanan deteksi dini Ca Cervix di luar gedung.
Tabel 2.2 Indikator Kinerja
Kegiatan Pemberantasan Penyakit Tidak Menular
No Indikator Kinerja Target Realisasi
1 Puskesmas menjalankan diteksi dini pengendalian faktor resiko penyakit tidak menular
100% 100%
2 Persentase posbindu yang menjalankan deteksi dini pengendalian faktor resiko penyakit tidak menular
40% 37,39%
3 Deteksi dini Ca Cervix pada Wanita Usia Subur
1.800 orang 1.889 orang
Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan bahwa jumlah penduduk diatas 18 tahun berjumlah 389.642 orang, dari jumlah tersebut jumlah penderita Hipertensi yang ditemukan di Puskesmas berjumlah 9.955 orang (2.55%), yang terdiri dari 2.927 laki-laki (1.50%) dan 7.028 orang perempuan (3.61%). Hal ini sebagaimana terlihat pada gambar 3.4 berikut.
Sumber: Bidang P2PL Tahun 2015
Gambar 3.4 Kasus Hipertensi Tahun 2015
3. Penyakit Endemik dan Epidemik
Kota Cimahi merupakan daerah endemis Demam Berdarah Dengue (DBD), pada tahun 2015 jumlah kasus yang terlaporkan berjumlah 797 kasus dengan Incident Rate (IR) 135/100.000 penduduk dan CFR 0.63%. Seluruh kasus yang tertaporkan pada tahun tersebut telah ditangani sesuai prosedur (100% ditangani). pada tahun 2014 jumlah kasus yang
2,633
6,304
8,937
2,927
7,028
9,955
0 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000
Laki-laki Perempuan Total
Pengukuran Hypertensi
tertaporkan berjumlah 514 kasus, dengan lR:
ditemukan kematian akibat DBD).
Sumber: Bidang P2PL Tahun 2015 Gambar 3
Secara keseluruhan terjadi
kasus tahun 2014. Peningkatan jumlah kasus dan Angka Kesakitan (lR) tersebut harus diikuti juga dengan peningkatan kewaspadaan baik Dinas, Puskesmas maupun seluruh masyarakat untuk penanggulangan DBD di Kota Cimahi dengan meminimalisir berkembangnya jentik nyamuk salah satunya rutin melaksanakan
keseluruhan terjadi peningkatan jumlah kasus bila dibandingkan dengan jumlah Peningkatan jumlah kasus dan Angka Kesakitan (lR) tersebut harus diikuti peningkatan kewaspadaan baik Dinas, Puskesmas maupun seluruh masyarakat penanggulangan DBD di Kota Cimahi dengan meminimalisir berkembangnya jentik nyamuk salah satunya rutin melaksanakan pemberantasan sarang Nyamuk (PSN).
peningkatan jumlah kasus bila dibandingkan dengan jumlah Peningkatan jumlah kasus dan Angka Kesakitan (lR) tersebut harus diikuti peningkatan kewaspadaan baik Dinas, Puskesmas maupun seluruh masyarakat penanggulangan DBD di Kota Cimahi dengan meminimalisir berkembangnya jentik
135.51/100.000
Sumber: Bidang P2PL Tahun 2015 Gambar 3
4. Penanggulangan HIV/AIDS
Pada tahun 2015 terdapat
baru AIDS sebanyak 35 kasus. Sedangkan jumlah infeksi menular seksual lainnya sebanyak 7 kasus. Pada gambar 3.6 terlihat
terdapat 40 kasus kasus HIV baru di Kota Cimahi, dan jumlah kasus baru AIDS sebanyak 35 kasus. Sedangkan jumlah infeksi menular seksual lainnya sebanyak 7 terlihat bahwa proporsi kasus HIV, AIDS, dan PMS terbanyak pada
Tabel 3.5 Indikator Kinerja dibandingkan prevalensi tahun lalu, juga melebihi target yang ditetapkan yaitu <
revalensi kasus HIV tahun ini besarnya lebih dari 300% bila dibandingkan dengan target.
ada tahun 2014 prevalensi kasus HIV hanya 0,44% sedangkan pada tahun 2013 mencapai
5
0
5
tahun 2013 tahun 2014 tahun 2015
aru di Kota Cimahi, dan jumlah kasus baru AIDS sebanyak 35 kasus. Sedangkan jumlah infeksi menular seksual lainnya sebanyak 7 , dan PMS terbanyak pada
meningkat jauh juga melebihi target yang ditetapkan yaitu < 0,5%.
revalensi kasus HIV tahun ini besarnya lebih dari 300% bila dibandingkan dengan target.
sedangkan pada tahun 2013 mencapai
0,45%. Peningkatan prevalensi ini perlu disikapi dan diwaspadai karena jumlah kasus dan prevalensi yang sebenarnya mungkin lebih besar dari angka yang tercatat karena adanya fenomena gunung es. Sebagai tindakan jawaban dari kondisi tersebut maka seluruh kecamatan sudah melaksanakan pencegahan penularan HIV sesuai pedoman (100%) diantaranya melalui empowering masyarakat (warga peduli HIV-AIDS) dan Pokja HIV AIDS Kecamatan.
Persentase ODHA yang menerima antiretroviral terapi (ART) sebanyak 96,15%
dimana 75 ODHA menerima ART dari total 78 ODHA (target 90%), jumlah kasus baru HIV pada tahun 2015 yaitu 40 orang dan seluruhnya telah mendapatkan ART. Kota Cimahi memiliki 6 RS, terdiri dari 4 RS Swasta, 1 RS Pemerintah dan 1 RS TNl, dimana Rumah Sakit pemerintah yang memberikan kontribusi dalam penyelenggaraan pelayanan rujukan bagi ODHA adatah RS Cibabat. Untuk meningkatkan pencapaian program dan pelayanan kepada ODHA direncanakan untuk membuka layanan PDP di RS Dustira.
BAB IV UPAYA KESEHATAN
A. Pelayanan Kesehatan
1. Kunjungan Ibu Hamil, Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan, Dan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas
Kunjungan Ibu Hamil kesatu (K1) di Kota Cimahi tahun 2015 berjumlah 94.22% (target 95%), dan kunjungan ke empat (K4) nya 87.70% (target 95%). Sedangkan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan 89.87% (target 90%), persalinan oleh tenaga kesehatan 89.87% (target 90%), Pelayanan Ibu Nifas 83.81% (target 90%) dan Ibu Nifas Mendapat Vitamin A 89.70%. Cakupan program belum mencapai target dikarenakan pendataan KIA masih kurang maksimal. Pengumpulan data dari Bidan Praktek Mandiri (BPM) dan fasilitas kesehatan lainnya belum optimal, kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan sesuai standar masih kurang. Disamping itu mobilisasi penduduk di Kota Cimahi cukup tinggi sehingga menyulitkan pencatatan dan pelaporan.
Sumber: Bidang Yanmas Tahun 2015
Gambar 4.1 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil, Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan, Dan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas
Salah satu penyebab belum tercapainya target cakupan pelayanan nifas (KF3) adalah masih ada ibu nifas berkunjung tidak sesuai dengan standar kunjungan yaitu sebanyak 3 kali dengan jadwal kunjungan kesatu : 6-48 jam, kunjungan kedua : 3 hari sampai 28 hari dan
keluhan tidak datang untuk memeriksakan diri ke puskesmas/ fasilitas kesehatan lainnya.
Demikian pula dengan penyebab belum tercapainya cakupan kunjungan bayi, hal ini disebabkan karena kunjungan tidak sesuai dengan standar/jadwal yang seharusnya yaitu kunjungan kesatu umur 1-3 bulan, kunjungan kedua umur 4-6 bulan, kunjungan ketiga umur 7-9 bulan dan kunjungan keempat umur 10-12 bulan, sehingga bila kunjungan tidak sesuai dengan standar menjadi droup out kunjungan bayi.
2. Imunisasi TT Ibu Hamil
Persentase Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil menurut Kecamatan dan Puskesmas di Kota Cimahi tahun 2015, menggambarkan bahwa TT2+ sebesar 81.26%,TT-1 sebesar 69.82%, TT-2 sebesar 64.49%, TT-3 sebesar 9.80%, TT-4 sebesar 4.93%, dan TT-5 sebesar 2.04.
Sumber: Bidang Yanmas Tahun 2015
Gambar 4.2 Persentase Cakupan Imunisasi TT Pada Ibu Hamil Menurut Kecamatan Dan Puskesmas Tahun 2015 3. Tablet Fe1 dan Fe3
Jumlah Ibu Hamil yang mendapatkan tablet Fe1 dan Fe3 Menurut Kecamatan Dan Puskesmas di Kota Cimahi Tahun 2015, didapat bahwa cakupan cakupan Fe1 sebesar 94,34% (target 91%), cakupan keluarga yang mengkonsumsi garam beryodium mencapai 98,80% (target 92%). Tetapi cakupan Fe 3 belum mencapai target (87,84%) dengan target 91%, capaian ini lebih rendah jika dibandingkan tahun 2014 (90,13%). Perlu upaya dari petugas kesehatan dan juga kesadaran dari ibu hamil itu sendiri untuk meningkatkan cakupan
69.82
64.49
9.80
4.93
2.04
81.26
-10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00
TT-1 TT-2 TT-3 TT-4 TT-5 TT2+
Fe 3 (pemberian 90 butir tablet Fe) untuk mencegah terjadinya anemia pada ibu hamil yang dapat mengakibatkan perdarahan pada waktu melahirkan.
Sumber: Bidang Yanmas Tahun 2015
Gambar 4.3 Persentase Tablet Fe1 Dan Fe3 Menurut Kecamatan Dan Puskesmas Menurut Kecamatan Dan Puskesmas Tahun 2015
4. Komplikasi Kebidanan Dan Neonatal
Jumlah penanganan komplikasi kebidanan dan komplikasi neonatal di Kota Cimahi tahun 2015, berjumlah 1.927 ibu (108.5%) telah mencapai target diatas 95%. Neonatus dengan komplikasi yang ditangani 46.9% (target 80%).
Sumber: Bidang Yanmas Tahun 2015
Gambar 4.4 Persentase Penanganan Komplikasi Kebidanan dan Neonatal 2015
94.34
87.84
84.00 86.00 88.00 90.00 92.00 94.00 96.00
FE1 (30 TABLET) FE3 (90 TABLET)
108.5
46.9
0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 120.0
PENANGANAN KOMPLIKASI KEBIDANAN
PENANGANAN KOMPLIKASI NEONATAL
Penyebab belum tercapainya cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani karena pelayanan neonatal dengan MTBM (Manajemen Terpadu Bayi Muda) di puskesmas masih belum optimal dan masih ada beberapa kasus yang terjadi di Rumah Sakit ataupun Praktek Swasta yang belum terlaporkan.
5. Keluarga Berencana
Berdasarkan Laporan data Tahunan BPMPPKB Kota Cimahi Tahun 2015 jumlah jumlah PUS sebesar 90.072, terjadi penurunan jumlah peserta KB aktif maupun KB Baru, dengan jumlah peserta KB baru sebanyak 8.699 orang (9.7%) dan KB Aktif sebanyak 69.989 orang (77.7%). Cakupan peserta KB aktif 77.7% sudah melebihi target (target 75%).
Sumber: BPMKB 2015
Gambar 4.5 Peserta KB Aktif dan KB Baru Tahun 2012-2015
Pada gambar 4.6 Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) peserta KB Aktif adalah IUD sebesar 18.428 (26.3%) dan yang paling sedikit adalah MOP sebesar 277 (0.4%).
Sedangkan untuk non MKJP yang terbanyak digunakan adalah 33.392 (47.7%) dan yang paling kecil adalah penggunaan kondom 1.390 (2%).
12,116 11,986 9,478 8,699
70,220 75,054
70,919 69,989
-20,000 40,000 60,000 80,000 100,000
TH 2012 TH 2013 TH 2014 TH 2015
KB AKTIF KB BARU
Sumber: BPMKB 2015
Gambar 4.6 MKJP, Non MKJP KB Aktif 2015
6. Berat Badan Lahir Rendah
Kasus Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yang ditemukan di Wilayah Kota Cimahi dari tahun 2009 – 2015 seperti terlihat pada gambar berikut :
Sumber : Sie KIA Tahun 2015, Bid. Yanmas Dinkes Kota Cimahi
Gambar 4.7 Kasus Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Kota Cimahi Tahun 2009- 2015
Dari gambar 4.7 tersebut terlihat jumlah kasus BBLR dari tahun 2009 sampai tahun 2012 terjadi peningkatan dan pada tahun 2014 mengalami penurunan namun pada tahun 2015 terjadi peningkatan kembali jumlah kasus BBLR yaitu sebanyak 412 kasus. Menurut indikator Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat yang telah mencapai target diantaranya BBLR yang ditangani, dari 412 BBLR semuanya dapat ditangani 100% (target 95%).
18,428
7. KN1 dan KN Lengkap
Cakupan Kunjungan Neonatal ke 1 (KN1) Kota Cimahi pada tahun 2015 sebesar 94.1%, dan hampir mencapai target yang ditetapkan 95%, sedangkan cakupan KN Lengkap 88.6%. KN1 dan KN Lengkap belum mencapai target karena pencatatan yang masih belum optimal, dimana bidan praktek swasta dan rumah sakit belum melaporkan kunjungan neonatal selain itu juga kurangnya pengetahuan dan kepatuhan masyarakat tentang pentinnya kunjungan neonatus secara lengkap.
Sumber : Sie KIA Tahun 2015, Bid. Yanmas Dinkes Kota Cimahi
Gambar 4.8 Cakupan KN1 dan KN Lengkap Kota Cimahi Tahun 2015
8. Asi Eksklusif
Air Susu Ibu (ASI) Ekslusif berperan sangat penting dalam menjaga dan mempertahankan kesehatan bayi. Upaya peningkatan gizi masyarakat yang dilaksanakan Dinas Kesehatan diukur melalui beberapa indikator, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini. Dari 10 indikator yang digunakan, tiga indikator diantaranya belum mencapai target, yaitu bayi yang mendapat ASI ekslusif, cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada bayi usia 6-24 bulan dari keluarga miskin, dan pelayanan anak balita.
Untuk meningkatkan cakupan bayi yang mendapat ASI ekslusif diperlukan adanya peningkatan kinerja, khususnya petugas puskesmas yang telah dilatih sebagai konselor ASl, petugas diharapkan secara berkesinambungan mensosialisasikan pentingnya ASI ekslusif bagi
94.1
88.6
85.0 86.0 87.0 88.0 89.0 90.0 91.0 92.0 93.0 94.0 95.0
KN 1 KN Lengkap
bayi. Tahun 2015 cakupan bayi mendapat ASI eksklusif 68,14%, lebih besar dari target 65%.
Target cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada bayi usia 6-24 bulan (baduta) dari
Target cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada bayi usia 6-24 bulan (baduta) dari