• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDUGAAN PARAMETER GENETIK, ANALISIS LINTAS, DAN SELEKSI PLASMA NUTFAH PEGAGAN ( Centella asiatica (L.) Urban)

ABSTRAK

Penelitian bertujuan untuk: 1) menduga keragaman genetik dan heritabilitas beberapa karakter kuantitatif pegagan, 2) mendapatkan informasi tentang karakter yang dapat digunakan sebagai kriteria seleksi kadar asiatikosida dan produksi terna kering yang tinggi, dan 3) mendapatkan aksesi pegagan dengan kadar asiatikosida dan bobot terna kering yang tinggi serta membandingkan antara hasil seleksi berdasarkan seleksi penyisihan bebas bertingkat, seleksi tunggal, indeks seleksi terboboti dan tidak terboboti. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Cimanggu Balittro dari bulan Juli-Desember 2007. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 17 aksesi pegagan sebagai perlakuan dan diulang dua kali, tingkat naungan yang digunakan 25%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter jumlah, panjang, lebar, dan luas daun serta jumlah tulang daun, dan panjang ruas pada sulur terpanjang memiliki keragaman genetik luas dan heritabilitas tinggi, sedangkan tebal daun, jumlah sulur, kadar dan produksi asiatikosida menunjukkan keragaman genetik sempit dengan heritabilitas rendah. Dari 10 karakter yang diamati tidak satupun karakter yang berkorelasi nyata dengan kadar asiatikosida. Karakter panjang dan diameter tangkai daun; panjang, lebar, luas, dan tebal daun, jumlah tulang daun, dan panjang ruas pada sulur terpanjang mempunyai korelasi positif sangat nyata dengan produksi terna kering, sedangkan jumlah daun induk dan jumlah sulur berkorelasi negatif nyata. Seleksi produksi terna kering yang tinggi melalui luas daun akan memberikan respon yang lebih cepat karena memiliki nilai heritabilitas yang tinggi. Hasil seleksi berdasarkan seleksi penyisihan bebas bertingkat terpilih 4 aksesi pegagan dengan kadar asiatikosida dan bobot terna kering yang tinggi, yaitu Casi 016, Casi 003, Casi 008, dan Casi 002. Aksesi terseleksi berdasarkan seleksi penyisihan bebas bertingkat tidak selalu terseleksi pada seleksi tunggal dan indeks seleksi terboboti maupun tidak terboboti.

Kata kunci: pegagan, keragaman genetik, heritabilitas, analisis lintas, seleksi

ABSTRACT

The objectives of this research were: 1) to estimate of genetic variability and heritability of several quantitative characters, 2) to obtain information about characters which can be used to select asiaticoside content and dry shoot production criterion, and 3) to obtain asiatic pennywort accessions which have high content of asiaticoside and dry shoot production and comparison between independent culling level, single selection, weighted and unweighted standardized selection index. The research was conducted at Cimanggu Experimental Station of Indonesian Medicinal and Aromatic Crops Research Institute (ISMECRI) Bogor, from July 2007 to February 2008. The research was arranged using randomized complete block design (RCBD) with two replications. Seventeen asiatic

pennywort accessions as the treatment and 25% shade were used. Results of the research showed that number of leaf; length, width, and leaf area; number of vein leaf, and segment length on the longest stolon have wide genetic variability and high heritability, while leaf thickness, number of stolon, content and production of asiaticoside showed narrow genetic variability and low heritability. Results of correlation analysis and path analysis showed that ten characters observed none that correlated significantly with content of asiaticoside. Characters of leaf petiole length and diameter; length, width, area, and thickness of leaf, number of vein leaf, and segment length on the longest stolon had highly significant positive correlation with dry shoot production, while characters of mother plants leaf number and number of stolon had significant negative correlation. Selection of dry shoot production through character of leaf area would provide more rapid respond due to its high heritability value. Selection using of independent culling level, had resulted in 4 accessions of asiatic pennywort with high content of asiaticoside and dry shoot weight, namely Casi 016, Casi 003, Casi 008, and Casi 002. Accessions selected for independent culling level were not always selected at single selection, weighted and unweighted standardized selection index.

Key words:Centella asiaticaL. (Urban.), genetic variability, heritability, path analysis, selection

PENDAHULUAN

Pegagan atauCentella asiatica (L.) Urbanmerupakan tumbuhan liar yang termasuk keluarga Umbeliferae (Apiaceae). Tumbuhan ini telah lama digunakan sebagai lalab oleh sebagian masyarakat di Jawa Barat. Dalam bidang pengobatan, tanaman ini telah banyak dimanfaatkan sebagai diuretik, penambah nafsu makan, obat sariawan, obat luka, obat luka terbuka, dan luka bakar (Tang & Eisandbrand 1992). Pegagan mengandung bioaktif kelompok senyawa terpenoid, flavonoid, senyawa polifenol, dan senyawa poliasetelina. Senyawa yang terpenting dan telah diteliti mempunyai efek menyembuhkan luka terbuka atau luka bakar adalah senyawa golongan triterpen, saponin, dan sapogenin yaitu asam asiatat, asam madekasat, dan asiatikosid (Chandel & Rastogi 1979; Tang & Eisandbrand 1992).

Keberhasilan program penyediaan bahan tanaman unggul pegagan sangat bergantung pada ketersediaan bahan genetik dan besar kecilnya ragam genetik dalam koleksi plasma nutfah, keragaman tersebut dapat diperoleh antara lain melalui introduksi dan eksplorasi ke berbagai daerah endemik. Hasil introduksi dan eksplorasi dari berbagai daerah di Jawa, Sumatra, Bali, dan Papua menghasilkan 17 aksesi pegagan. Berdasarkan hasil penelitian Bermawie et al. (2008), diketahui bahwa terdapat keragaman fenotipik pada beberapa karakter

morfologi baik kuantitatif maupun kualitatif, potensi hasil, dan mutu antar aksesi pegagan. Informasi tersebut menunjukkan, terdapat peluang untuk menghasilkan aksesi dengan mutu yang lebih tinggi. Sebelum menggunakan karakter-karakter tersebut sebagai karakter seleksi, perlu diketahui perilaku pewarisan berbagai karakter kuantitatif dan kualitatif di atas. Informasi ini diperlukan untuk menentukan apakah karakter yang diamati tersebut dapat dijadikan sebagai kriteria seleksi dalam memilih genotipe-genotipe baru yang diinginkan. Keragaman genetik, heritabilitas, korelasi, dan pengaruh dari karakter-karakter yang erat hubungannya dengan kadar asiatikosida dan produksi terna kering merupakan parameter genetik yang diperlukan untuk memudahkan pelaksanaan seleksi sehingga seleksi dapat dilakukan secara efektif dan efisien.

Keragaman genetik sangat mempengaruhi keberhasilan suatu proses seleksi dalam program pemuliaan tanaman. Selain itu, keberhasilan program pemuliaan juga bergantung pada pengetahuan tentang pola pewarisan karakter yang akan diperbaiki, apakah karakter tersebut banyak dipengaruhi oleh faktor genetik atau lingkungan. Untuk meningkatkan kadar asiatikosida dan produksi terna kering perlu diketahui komponen pertumbuhan yang dapat digunakan sebagai kriteria seleksi dengan cara memilih karakter yang memberikan kontribusi besar terhadap kadar asiatikosida dan produksi terna kering. Pengetahuan tentang korelasi antar komponen pertumbuhan dengan kadar asiatikosida dan produksi terna kering sangat diperlukan untuk menentukan kriteria seleksi tidak langsung terhadap kadar asiatikosida dan produksi terna kering tersebut. Namun demikian, hubungan yang dinyatakan dengan korelasi sederhana seringkali mengakibatkan diperolehnya informasi yang semu. Hal ini disebabkan pada total korelasi antara kadar asiatikosida dan produksi terna kering dengan komponen pertumbuhan sering terdapat interaksi yang akan menutup pola hubungan yang sebenarnya. Untuk mengatasi hal itu, maka diperlukan adanya analisis lintas (path analysis). Dengan analisis lintas, masing-masing sifat yang dikorelasikan dengan kadar asiatikosida dan produksi terna kering dapat diuraikan menjadi pengaruh langsung dan tidak langsung (Singh & Chaudary 1979; Totowarsa 1982).

Penggunaan analisis korelasi dan analisis lintas untuk mempelajari keeratan hubungan antar komponen pertumbuhan, komponen hasil, dan hasil serta

untuk mengembangkan kriteria seleksi telah banyak dilakukan pada berbagai jenis tanaman lain seperti pada kelapa (Miftahorrachmanet al. 2000), mentha (Mirzaie- Nodoushan et al. 2001), jagung (Mohammadi et al. 2003), padi (Surek & Beser 2003), gandum (Budiarti et al. 2004), kedelai (Asadi et al. 2004; Wirnas et al. 2006), sorgum (Ezeaku 2006), cabe (Ganefianti et al. 2006), peartmillet (Vetriventhan & Nirmalakumari 2007), padi sawah (Limbongan 2008), nenas (Nasution 2008), dan manggis (Sinaga 2008). Dari beberapa penelitian tersebut diketahui bahwa analisis lintas sangat bermanfaat dalam menentukan strategi pemuliaan tanaman yang efektif dan efisien.

Selain berdasarkan nilai korelasi dan analisis lintas, karakter yang akan digunakan sebagai kriteria seleksi harus dipilih berdasarkan nilai heritabilitas. Seleksi untuk suatu karakter yang diinginkan akan lebih berarti jika karakter tersebut mudah diwariskan. Mudah tidaknya pewarisan karakter dapat diketahui dari besarnya nilai heritabilitas yang dapat diduga dengan membandingkan besarnya ragam genetik terhadap ragam fenotipik (Borojevic 1990).

Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa, sebelum melangkah pada pembentukan varietas, perlu dipelajari keragaman karakter, heritabilitas, analisis lintas, dan seleksi aksesi pegagan yang memiliki kadar asiatikosida dan produksi terna kering tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menduga keragaman genetik dan heritabilitas beberapa karakter kuantitatif pegagan, (2) mendapatkan informasi tentang karakter yang dapat digunakan sebagai kriteria seleksi kadar asiatikosida dan produksi terna kering yang tinggi, dan (3) mendapatkan aksesi pegagan dengan kadar asiatikosida dan produksi terna kering tinggi serta membandingkan antara hasil seleksi berdasarkan seleksi penyisihan bebas bertingkat, seleksi tunggal, indeks seleksi terboboti dan tidak terboboti.

Dokumen terkait