• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4. Distribusi Kelompok Ukuran Teripang Pasir dan Teripang

4.6.1. Pendugaan Parameter Pertumbuhan

Pendugaan parameter pertumbuhan berdasarkan kedalaman dan gabungan dari waktu pengambilan atau sampling pertama dan sampling keempat (Sampling 1 sampai Sampling 4) di tiap stasiun masing-masing disajikan pada gambar 26. Hasil analisis parameter pertumbuhan berdasarkan data frekuensi panjang selama

periode pengamatan dengan menggunakan model Von Bertalanfy (K dan L00)

yang di bantu dengan program FiSAT sub program ELEFAN I, maka diperoleh nilai koefisien pertumbuhan panjang infinity (L00) pada masing-masing stasiun.

Menurut Sparre and Venema (1999) bahwa koefisien pertumbuhan (K) adalah parameter yang menyatakan laju pertumbuhan dalam mencapai panjang infinity (L00), sedangkan panjang infinity (L00) adalah menunjukkan seberapa besar

ukuran tubuh teripang yang dapat dicapai oleh suatu individu teripang (lampiran 15).

Berdasarkan hasil perhitungan secara teoritis tanpa pemisahan jenis pada tiap stasiun masing-masing memperlihatkan bahwa panjang infinity (L00) yang

koefisien pertumbuhan (K) adalah 3 pertahunnya, Selanjutnya pada stasiun II panjang infinity (L00) 228 mm dan nilai koefisien pertumbuhan (K) adalah 0.57

per tahunnya, sedangkan pada stasiun III panjang infinity (L00) adalah 228 mm

dan nilai koefisien pertumbuhannya (K) adalah 0.44 per tahunnya Gambar 27. Dari hasil analisis terhadap parameter pertumbuhan memperlihatkan bahwa panjang infinity (L00) yang dapat dicapai pada ketiga stasiun tersebut

relatif sama, hal ini disebabkan karena teripang pasir yang terdapat di Desa Laluin Kecamatan Kayoa baik yang ada pada stasiun I, II maupun stasiun III menyebar

dengan panjang tubuh yang hampir merata. Ukuran panjang maksimal (L00) yang

didapat melalui hasil analisis pendugaan parameter pertumbuhan tersebut adalah 250 mm, ternyata hampir sama dengan hasil sampling yang ditemukan selama penelitian berlangsung yaitu 240 mm (Tabel 8)

Tabel 8: Parameter pertumbuhan K, L∞, dan t0 teripang pasir

Stasiun K (per tahun) L∞ t0

I 3 250 -0.17

II 0.57 228 -0.99

III 0.44 228 -1.30

Total 1.8 250 -0.29

Dari hasil analisis terhadap parameter pertumbuhan koefisien pertumbuhan (K) juga memperlihatkan pada stasiun I teripang pasir memiliki kecepatan tumbuh lebih cepat yaitu 3 per tahunnya, kemudian disusul pada stasiun II yaitu 0.57 pertahunnya dan yang paling lambat berada pada stasiun III yaitu 0.44 pertahunnya (Gambar 27). Adanya perbedaan nilai K ini, diduga kemungkinan disebabkan oleh faktor ketersediaan makanan alami dan faktor penangkapan tentunya sehingga sangat mempengaruhi kecepatan tumbuh dari teripang pasir itu sendiri. Kurva pertumbuhan selama penelitian dari bulan agustus sampai bulan september diestimasi dalam satu tahun sehingga menghasilkan kurva pertumbuhan di tiap stasiun berdasarkan kedalaman, hal ini dapat dilihat pada lampiran 15.

Gambar 27: Kurva pertumbuhan (L00 dan K) teripang pasir berdasarkan stasiun I,

II, III dan total semua stasiun di Desa Laluin Kec.Kayoa Selatan Agustus-September 2010

Seperti halnya teripang pasir, teripang hitam mempunyai hasil analisis pertumbuhan pada tiap stasiun masing-masing. Pendugaan parameter pertumbuhan teripang hitam berdasarkan kedalaman dan gabungan dari waktu pengambilan atau sampling pertama dan sampling keempat (Sampling 1-Sampling 4) dan per stasiun masing-masing disajikan pada lampiran 16.

Tabel 9: Parameter pertumbuhan K, L∞, dan t0 teripang hitam

Stasiun K (per tahun) L∞ to

I 0.45 298 -0.22

II 0.35 298 -0.17

III 0.73 271 -0.38

Total 0.44 298 -0.22

Tabel diatas memperlihatkan bahwa panjang infinity (L00) teripang hitam

yang dapat diestimasi pada stasiun I adalah 298 mm dan nilai koefisien

ST.1 ST.2

ST.3

pertumbuhan (K) adalah 0.45 pertahunnya, Selanjutnya pada stasiun II panjang infinity (L00) 298 mm dan nilai koefisien pertumbuhan (K) adalah 0.35 per

tahunnya, sedangkan pada stasiun III panjang infinity (L00) adalah 271 mm dan

nilai koefisien pertumbuhannya (K) adalah 0.73 per tahunnya Gambar 29 dan lampiran 18). Parameter pertumbuhan memperlihatkan bahwa panjang infinity (L00) yang dapat dicapai pada ketiga stasiun relatif sama halnya seperti pada

teripang pasir, hal ini juga disebabkan karena teripang teripang hitam yang terdapat di Desa Laluin Kecamatan Kayoa baik yang ada pada stasiun I, II maupun stasiun III menyebar dengan panjang tubuh yang hampir merata. Ukuran

panjang maksimal (L00) yang didapat melalui hasil analisis pendugaan parameter

pertumbuhan tersebut adalah 250 mm, ternyata hampir sama dengan hasil sampling yang ditemukan selama penelitian berlangsung yaitu 290 mm.

Terlihat bahwa pada stasiun III memiliki kecepatan tumbuh dibandingkan kedua stasiun yaitu 0.73 per tahunnya dan 0.45 pertahunnya di stasiun II, kemudian yang terendah pertumbuhannya berada pada stasiun I dengan kecepatan pertumbuhan 0.35 per tahunnya (Tabel 9 dan gambar 28).

Gambar 28: Kurva pertumbuhan (L00 dan K) teripang hitam berdasarkan stasiun

di Desa Laluin Kec.Kayoa Selatan Agustus-September 2010

ST. 1 ST. 2

ST. 3

TOTAL STASIUN

4.6.2. Mortalitas dan Laju Eksploitasi

Pada populasi teripang yang telah dieksploitasi mortalitas merupakan kombinasi mortalitas alami dan mortalitas akibat penangkapan. Berdasarkan analisis nilai rata-rata yang diperoleh dari masing-masing stasiun maka didapatkan mortalitas total (Z) untuk teripan pasir pada stasiun I adalah sebesar 4.917 pertahunnya (selang kepercayaannya dari Z antara 0.73) dan teripang hitam sebesar 0.75 per tahun (selang kepercaan dari Z antara -0.55), sedangkan nilai mortalitas alami (M) teripang pasir sebesar 2.08 per tahunnya dan untuk teripang hitam nilai mortalitas alami (M) sebesar 0.57 per tahunnya, maka dengan demikian mortalitas akibat penangkapan dapat dicari yaitu mortalitas alami dikurangi mortalitas total (Z-M) sehingga nilai mortalitas akibat penangkapan (F) untuk teripang pasir adalah 2.83 per tahunnya dan teripang hitam sebesar 1.30 per tahunnya.

Pada stasiun II mortalitas total (Z) didapat sebesar 0.881 per tahun (selang kepercayaan Z antara -0.31) untuk teripang pasir, sedangkan untuk teripang hitam sebesar 0.53 per tahunnya (selang kepercayaanya Z antara -0.71) Mortalitas alami (M) teripang pasir sebesar 0.72 per tahunnya teripang hitam sebesar 0.49 per tahun maka mortalitas penangkapan (F) didapat sebesar 0.15 per tahunnnya untuk teripang pasir dan teripang hitam sebesar 1.23 pertahunnya.

Selanjutnya pada stasiun III mortalitas total (Z) untuk teripang pasir 0.461 per tahunnya (selang kepercayaannya Z antara -0.49) dan teripang hitam sebesar 1.27 per tahun (selang kepercayaanya Z antara -0.21), sedangkan mortalitas alami (M) teripang pasir 0.60 per tahun dan teripang hitam sebesar 0.81 per tahunnya, maka mortalitas akibat dari penangkapan (F) adalah sebesar -0.14 per tahun untuk teripang pasir sedangkan untuk teripang hitam sebesar 1.48 per tahunnya.

Secara keseluruhan nilai mortalitas total (Z) teripang pasir yang tertinggi berada pada stasiun I dengan nilai 4.91 per tahunnya sedangkan untuk teripang hitam juga berada pada stasiun I dengan nilai 0.75 per tahun dan nilai mortalitas total (Z) terendah teripang pasir berada pada staiun III sebesar 0.46 per tahunnya, terendah untuk teripang hitam berada di stasiun II sebesar 0.53 per tahun dan untuk mortalitas alami (M) tertinggi untuk teripang pasir berada pada stasiun I dengan nilai 2.08 per tahun, teripang hitam tertinggi pada stasiun III sebesar 0.81

per tahun sedangkan terendah untuk teripang pasir berada pada stasiun III dengan nilai 0.60 per tahunnya dan teripang hitam terendah berada pada stasiun II dengan nilai 0.49 Demikian juga dengan mortalitas akibat penangkapan (F) untuk teripang pasir tertinggi berada pada stasiun I dengan nilai 2.83 per tahun dan terendah pada stasiun III dengan nilai -0.14, untuk teripang hitam tertinggi berada pada stasiun III dengan nilai 1.48 per tahun dan terendah berada pada stasiun II dengan nilai 1.23 per tahunnya, secara keseluruha disajikan pada tabel 10.

Tabel 10: Nilai mortalitas teripang pasir dan teripang hitam di tiap stasiun penelitian

Stasiun

Teripang pasir Teripang hitam

Pertahun Pertahun Z M F Z M F I 4.91 2.08 2.83 0.75 0.57 1.3 II 0.88 0.72 0.15 0.53 0.49 1.23 III 0.46 0.60 0.14 1.27 0.81 1.48 Total 2.88 1.49 1.39 0.75 0.57 1.31

Nilai koefisien yang diperoleh baik mortalitas alami (M) maupun mortalitas akibat penangkapan (F), mengambarkan bahwa berkurangnya stok teripang pasir maupun teripang hitam di Desa Laluin Kecamatan Kayoa Selatan dalam suatu kelompok ukuran atau umur pada satu kurung waktu tertentu lebih disebabkan oleh faktor penangkapan di bandingkan oleh faktor alami, hal ini sangatlah wajar dengan kondisi yang terjadi di lapangan dimana aktivitas penangkapan yang dilakukan oleh para nelayan teripang Desa Laluin Kecamatan Kayoa hampir setiap harinya.

Eksploitasi merupakan indeks yang dapat mengambarkan tingkat pemanfaatan dari suatu stok disuatu perairan, Berdasarkan nilai mortalitas karena suatu penangkapan (F) dan nilai mortalitas total (Z) maka laju eksploitasi dapat ditentukan dengan rumus E=F/Z. Lsju eksploitasi (E) ini berdasarkan analisis biomassa per rekrut (B/R) dengan asumsi bahwa jika nilai E= 0.5 itu menunjukkan bahwa nisbah pemanfaatan optimum (Eopt), sedangkan apabila nilai E<0.5 maka suatu stok dikategorikan under fishing dan jika nilai E>0.5 maka stok

tersebut dikategorikan over fishing, didasarkan bahwa apabila hasil berimbang

dimana F=M adalah optimum (Gulland 1997 in Pauly 1981).

Nilai eksploitasi (E) berdasarkan analisis Yield Per Rekrut (Y/R) disebut dengan E faktual, bahwa jika nilai E faktual < E maksimum maka tingkat eksploitasi yang dilakukan masih berada dibawah batas maksimum lestari dan sebaliknya pula. Namun dalam hal ini untuk mempermudah perhitungan menduga laju eksploitasi, maka digunakan program FiSAT dengan metode Relative Y/R

and B/R (Knife-edge selection).

Pada stasiun I teripang pasir berdasarkan analisis tersebut maka didapatkan nilai dari E faktual adalah 0.57 (F/Z) jika dilihat berdasarkan analisis biomassa per

rekrut (F/B) maka laju eksploitasinya dikategorikan over fishing, ini dikarenakan

nilai E (0.57) >0.5, sehingga pada stasiun I pemanfaatan sumberdaya suda 0ver eksploitasi dan pemanfaatan sumberdaya pada stasiun II nilai dari E faktual adalah

0.17 dan masuk dalam kategori under fishing karena dibawah nilai dari E faktual

<0.5. Selanjutnya pada stasiun III nilai dari E faktual adalah 0.31 dan masuk kategori 0ver fishing.

Ssedangkan pada teripang hitam yaitu nilai E faktual 1.74 sehingga pada

stasiun I pemanfaatan sumberdaya suda 0ver eksploitasi dan pemanfaatan

sumberdaya dan pada stasiun II nilai E faktual 2.35 dan pemanfaatan sumberdaya sudah 0ver eksploitasi, selanjutnya pada stasiun III nilai dari E faktual adalah 1.16 dan dikategorikan sudah 0ver eksploitasi.

Dokumen terkait