• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Pendukung dan Penghambat Strategi Pemerintah Daerah menuju Adipura di Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar

LAKI-LAKI PEREMPUAN TOTAL PENDUDUK

C. Faktor Pendukung dan Penghambat Strategi Pemerintah Daerah menuju Adipura di Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar

Ada beberapa hal yang menjadi faktor yang mempengaruhi Strategi Pemerintah Daerah menuju Adipura di Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar, baik itu faktor yang mendukung maupun yang menghambat. Adapun Faktor-faktor pendukung sehingga masing-masing strategi dapat dijalankan dengan baik adalah sebagai berikut:

1. Komitmen semua pihak (Stakeholders) dirumuskan pada suatu nilai kesepakatan, untuk melakukan aksi bersama pada upaya pencapaian tujuan, melalui pembagian peranan, sesuai tugas masing-masing dalam mendukung kriteria adipura sebagai aspek penilaian. Hal ini didukung oleh pernyataan Ketua LPMI yang mngatakan bahwa :

“Pemerintah sudah menetapkan Program untuk meraih Adipura, hal ini juga sudah diketahui oleh seluruh SKPD, LSM, dan Masyarakat dan semua pihak memiliki tanggung jawab masing-masing untuk menjalankan program tersebut. Pertemuanpun sering dilakukan untuk membahas sejauh mana hasil kerja dari masing-masing pihak dan hal apa yang masih menjadi kendala bagi masing-masing pihak.” (Wawancara:

SF, 10/11/2014).

Hasil wawancara lainnya dengan Camat Pattallassang yang mengatakan bahwa :

“Ketika berbicara masalah kegiatan sebuah organisasi tidak bisa dipungkiri bahwa pihak yang terkait dalam kegiatan apakah itu kaitannya dengan Adipura harus memiliki komitemen baik itu dirumuskan dalam 59

suatu kesepakatan untuk mencapai tujuan. Karena menuju Adipura ini dibutuhkan kesepakatan semua pihak untuk menjalankan tugas bersama menuju Adipura”. (Wawancara ; BD, 08/11/2014)

Komitmen dianggap sangat penting dalam strategi menuju Adipura, selain hasil wawancara di atas, hasil wawancara dengan salah satu tokoh masyarakat mengatakan bahwa :

“Komitemen semua sangatlah dibutuhkan agar kiranaya mampu mencapai tujuan, mengapa dikatakan demikian karena ketika cita-cita menuju Adipura yang dituju tidak dilakukan dengan kesungguhan seluruh orang-orang yang terlibat maka ini akan sia-sia saja. Maka dari itu sangat dibutuhkan komitmen seluruh pihak yang terkait menuju Adipura”. (Wawancara : DN, 28/10/2014)

Hal lain yang disampaikan oleh petugas kebersihan yang memiliki peranan penting dalam menjalan program secara teknis mengatakan bahwa:

“Kalau kami hanya menjalakan tugas saja yang diperintahkan, pokoknya bersihkan saja semua yang tampak tidak indah dan tidak bersih. Tapi kalua hanya kami saja yang bekerja susah karena kami hanya sedikit sedangkan Kecamatan Pattallassang ini luas, kalau mau menambah petugas kebersihan sepertinya tidak optimal lagi karena kami saja petugas kebersihan dari PU terkadang timbul rasa malas kalau upah tidak lancar, tapi kalau jasa timbal balik kami dihargai kami akan bekerja dengan sangat giat untuk membantu program pemerintah.” (Wawancara:

DR, 28/10/2014)

2. Menjalin kemitraan dengan pihak BUMD, BUMN dan pihak swasta, Optimalisasi kegiatan rutin SKPD, dan Penggabungan bidang-bidang teknis khususnya SKPD pengelola kebersihan dan Pengelola Hutan Kota, sangat mendukung dalam mengoptimalkan anggaran SKPD dan APBD yang terbatas.

60

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Lembaga Pemerhati Masyarakat Indonesia (LPMI) mengenai kerja sama denngan pihak swasta, dimana untuk Kabupaten Takalar PT.Persero XIV memberikan dana CSR kepada Pemerintah untuk pembuatan taman kota dan perbaikan drainase yang mengatakan bahwa :

“Di Kabupaten Takalar ada Pabrik Gula Takalar PT.Persero XIV yang sudah berdiri selama bertahun-tahun, Pemerintah kabupaten Takalarpun menjalin kerja sama untuk bantuan dana demi diraihnya Adipura di Kabupaten Takalar, dana CSR yang khusus dialokasikan untuk diberikan kepada Pemerintah digunakan untuk membuat taman kota dan perbaikan drainasenya. Ini menunjukkan pihak swastapun mendukung program dari Pemerintah Kabupaten Takalar menuju Adipura”. (Wawancara: SF, 10/11/2014).

Hasil wawancara dengan Camat Pattalassang juga mengatakan bahwa :

“Kerjasama tetap harus dilakukan bahkan menurut saya inilah inti ketika ingin menuju Adipura. Baik itu kerjasama dengan pihak BUMN dan BUMD serta keterlibatan SKPD di Kecamatan Pattalassang sebagai ibu kota Kabupaten Takalar agar kiranya mampu menjaga kebersihan karena ini merupakan lokasi strategis dan lokasi pantau Adipura makanya perlu menjaga kebersihan”. (Wawancara : BD,18/11/2014).

Hasil wawancara dengan salah satu tokoh masyarakat yang juga mengatakan bahwa :

“Menjalin kemitraan dengan semua pihak baik itu dari pihak BUMD, BUMN maupun pihak swasta itu sama dengan menjalin kerjasama. Maka dari itu ini sangat penting dilakukan karena bisa menjadi penunjang tercapainya tujuan menuju Adipura. Selain daripada itu juga diperlukan pula kesungguhan karena cita-cita menuju Adipura ini bukan main-main, harus ada keterlibatan maupun kemitraan yang kuat untuk mendorong cita-cita ini.” (Wawancara, IK, 10/11/2014).

3. Strategi peningkatan peran serta masyarakat didukung oleh: Budaya masyarakat, ketersediaan Sarana media komunikasi, kegiatan gotong 61

royong jumat bersih, dan minggu bersih. Salah satu tokoh masyarakat yang bermukim di Kelurahan Pattallassang mengatakan :

“Kalau di kelurahan kami, setiap hari Minggu Pak Lurah selalu menyuruh warganya untuk gotong royong membersihkan, terutama fasilitas umum yang ada di kelurahan kami, dan minggu kemudian masing-masing halaman rumah dan depan rumah termasuk selokan harus juga dibersihkan. Pokoknya setiap minggu selalu ada kegiatan gotongroyong membersihkan supaya kelurahan selalu asri, bersih, indah dan bebas dari penyakit.” (Wawancara : DN, 28/10/2014).

Hasil wawancara dengan Camat Pattallassang mengatakan bahwa :

“Sangat jelas bahwa keterlibatan masyarakat dalam hal ini cita-cita menuju Adipura sangatlah penting karena akan sangat membantu. Hal ini dikarenakan kontribusi masyarakat jangkauannya luas. Bisa terlibat dalam pembersihan lingkungan, kegiatan gotong royong maupun menjaga keindahan lingkungan maka dari itu peran serta masyarakat sangat perlu untuk ditingkatkan”. (Wawancara ; BD, 08/11/2014)

Sejalan dengan hasil wawancara sebelumnya mengenai peningkatan peran serta masyarakat, hasil wawancara dengan ketua LSM yang mengatakan bahwa :

“Dalam menjalankan kegiatan khusunya terkait dengan cita-cita menuju Adipura, masayarakat sangat perlu dilibatkan langsung karena masyarakat memiliki kontribusi besar dalam membantu pemerintah untuk pembersihan lingkungan. Adipura ini bukan hanya dilaksanakan oleh pemerintah tapi dampak dari kegiatan adipura ini bisa dirasakan oleh semua pihak terkhusus oleh masyarakat di Kecamatan Pattallassang”.

(Wawancara; SF, 10/11/2014)

Hasil wawancara dengan petugas Kebersihan mengatakan bahwa :

“Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam kaitannya dengan cita-cita menuju Adipura karena ini sangat membantupaling tidak peran serta masyarakat. Hal ini terlihat dengan tidak membuang sampah sembarangan dan kalau bisa masyarakat akan membantu pembersihan lingkungan kompleks. Alangkah lebih baiknya lagi kalau ada kegiatan rutin gotong-royong masyarakat, terutama yang bermukim di Kecamatan Pattallassang”.(Wawancara;DJ, 08/10/2014).

62

4. Keberhasilan strategi optimalisasi melalui pemetaan (mapping) lokasi pantau dan lokasi strategis melalui : Penertiban PKL dan papan reklame pada lokasi strategis, penertiban pedagang di lokasi pasar, penertiban gelandangan dilokasi umum. Untuk hal ini kerja para LSM sangat dibutuhkan seperti yang dikatakan oleh ketua LPMI Takalar bahwa:

“Penertiban PKL dan reklame sudah berjalan dengan baik, pada lokasi strategispun sudah dilakukan relokasi untuk menata kota dan memperindah kota. Yang menjadi lokasi yang cukup sulit untuk ditata adalah daerah pasar karena kebersihannya yang belum mencapai standar yang diharapkan namun pemerintah sudah bertindak untuk menata pasar, seperti pasar yang ada di Central letaknya di jantung kota Takalar sekarang sudah direnovasi bangunannya, dipercantik tamannya dan dibersihkan sampah-sampahnya sehingga tidak ada lagi sampah yang terlihat dari badan jalan”. (Wawancara: SF, 10/11/2014).

Hasil wawancara dengan Camat Pattalassang terkait dengan lokasi pemetaan atau mapping yang mengatakan bahwa :

“Segala sesuatu yang menghambat tercapainya adipura harus diminimalkan untuk menata kota yang menjadi lokasi pantau bisa terlihat indah, baik itu penertiban PKL yang melanggar, serta reklame yang tidak sesuai yang bisa membuat jelek lokasi pantau. Maka dari itu diperlukan yang namanya memperindah lokasi strategis maupun lokasi pantau yang nantinya menjadi penilaian Adipura”. (Wawancara : BD, 08/11/2014).

Salah seorang petugas kebersihan melalui wawancara berpendapat bahwa:

“Saya sangat setuju dengan apa yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah ataupun Bapak Camat Pattalassang ketika misalnya ada bantuan berupa aturan mengenai pembersihan lokasi yang menurut kami benar-benar susah untuk dibersihkan. Sebagai contoh pasar harus ada perhatian khusus karena lokasi pasarlah yang paling susah untuk dibersihkan 63

makanya kami sangat mengharapkan bantuan maupun kerjasama masyarakat yang terlibat di pasar”. (Wawancara ; DJ, 08/10/2014).

Sedangkan faktor penghambat belum optimalnya strategi dijalankan disebabkan oleh:

1). Belum optimalnya sistem penanganan sampah

Dari hasil wawancara dengan Camat Pattallasang mengenai penanganan sampah di Kecamatan Pattallassang yang menyatakan bahwa:

“Sistem penanganan sampah di Kabupaten Takalar khususnya dikecamatan pattallassang masih kurang maksimal itu bisa diliat dari tempat pembuangan akhir yang masih amburadul serta pengelolaan sampah dikecamatan pattallasang masih sangat minim karena hanya beberapa yang mau mengolah sampah rumah tangga dari pihak LSM itupun belum maksimal dan tidak cukup membuat kecamatan bebas dari sampah”. (Wawancara ; BD, 08/11/2014).

Seperti apa yang dikatakan oleh ketua LSM Lembaga pemerhati masyarakat indonesia sejalan dengan apa yang dikatakan oleh camat Pattallasang dari hasil wawancara yang menyatakan bahwa:

“Penanganan sampah di Kabupaten Takalar Khususnya di Kecamatan Pattallassang masih kalah dengan daerah-daerah lain sebagai percontohan daerah yang pernah merasakan adipura kalau saya liat pengelolaan sampah di Kabupaten Takalar Khususnya di Kecamatan pattallassang belum bagus itu bisa diliat dari masih adanya penumpukan sampah didaerah tempat pembuangan akhir padahal disana juga ada rumah warga serta pegolahan sampah yang masih belum bisa dilirik oleh warga walaupun ada sampah yang dirubah menjadi barang-barang rumah tangga”. (Wawancara ; SF, 10/11/2014)

Salah seorang petugas kebersihan dari hasil wawancaranya mengenai penanganan sampah berpendapat bahwa :

“Penanganan sampah yang bisa kita lakukan hanya dengan memungut sampah dan membakar sampah. Adapun dari teman kami membawa sampah dengan truk menuju TPA. Saya sangat berharap masyarakat bisa 64

membantu dengan bisa menangani sampah baik itu dengan mengolah sampah ataupun embakar sampah atau paling tidak membuang sampah pada tempatnya”. (Wawancara : DM,28/10/2014)

Seorang tokoh masyarakat melalui hasil wawancara terkait permasalahan penanganan sampah mengatakan bahwa :

“Penanganan masalah sampah adalah hal serius yang harus ditangani karena ini tidak mudah untuk dituntaskan, membutuhkan kesungguhan dan kerja keras untuk menuntas bersihkannya. Kalau permasalahan di perumahan kami, ada beberapa tempat yang masih memiliki tunpukan sampah, ini dikarenakan petugas pengangkut sampah terkadang tidak datang mengambil sampah entah itu karena masih ada warga yang belum bayar iuran atau para petugas yang lalai atau melewatkannya. Kami sangat mengharapkan adanya aparat pemerintah ataupun dinas kebersihan yang ditugaskan bertindak mengawasi secara langsung dilapangan agar kerja mereka bisa lebih efektif dan penanganan sampah bisa dilakukan dengan baik pula”. (Wawancara : IK, 10/11/2014)

2). Pergeseran atau mutasi staf pengelola

Mutasi staf pengelola juga bisa menjadi batu sandungan dalam menuju adipura dikarenakan pemerintah hanya berfokus pada mutasi staf padahal ada niat besar yang menunggu yang lebih penting dikerjakan. Belum lagi mutasi ini bisa saja menimbulkan ketidakpuasan karena dikabupaten takalar setelah pergantian kepala daerah sangat gencar dilakukan yang namanya mutasi staf. Sebuah Wawancara yang dilakukan dengan ketua LSM Lembaga Pemerhati Masyarakat Indonesia yang menyatakan bahwa:

“Salah satu faktor penghambat yang memiliki andil besar dalam keterbelakangan Kabupaten Takalar menuju adipura adalah karena setiap ada pergantian bupati pasti mutasi staf juga sangat gencar dilakukan yang dimana sebenarnya sangat merugikan kecuali kalau mutasi yang dilakuka ini biasa menempatkan seseorang sesuai dengan kapasitasnya tidak masalah tapi kalau pengangkatan maupun penempatan seseorang dalam mutasi karena adanya hubungan 65

kekeluargaan itu bisa saja merupakan batu sandungan menuju adipura”. (Wawancara ; SF, 10/11/2014)

Hasil wawancara dengan Camat Pattallassang mengatakan bahwa :

“Memang pergeseran atau mutasi staf akan sangat mengganggu dalam tujuan menuju Adipura karena Pemerintah pusat Kabupaten Takalar ketika terpilih sebagai Bupati banyak yang dimutasi baik itu dari SKPD maupun lainnya. Tapi kita semua berharap penempatannya tepat sesuai dengan kemampuan dan walaupun kita akui ini akan menjadi batu sandungan dari Bapak Bupati dan kita juga harus berusaha”. (Wawancara : BD, 08/11/2014)

Salah seorang tokoh masyarakat juga berpendapat melalui wawancara mengenai faktor penghambat karena pergesarn dan mutasi staf yang mengatakan bahwa :

“Pergeseran atau mutasi staf pengelola kalau di Kabupaten Takalar merupakan hal yang biasa dilakukan oleh Bupati yang menjabat. Di Kabupaten Takalar entah itu untuk kebaikan Takalar atau untuk menempatkan seseorang sesuai dengan kemampuannya. Tapi mudah-mudahan hal ini tidak menjadi penghambat tapi harus diakui bahwa pergeseran atau mutasi staf ini aan memperlambat dari kinerja berbagai pihak untuk menuju Adipura”. (Wawancara ; IK, 10/11/2014)

3). Masih kurangnya sosialisasi terhadap warga pendatang

Sosialisasi sangatlah dibutuhkan dalam memuluskan langkah pemerintah karena sosialisasi merupakan salah satu hal yang sangat penting yang dilakukan agar adanya hubungan timbal balik antara pemerintah maupun masyarakat begitupun sebaliknya. Seperti dengan hasil wawancara yang dilakukan dengan salah satu tokoh masyarakat yang mengatakan bahwa:

66

“Sosialisasi sangatlah penting dilakukan agar kiranya masyarakat kita ini termasuk dilingkungan saya ini bisa mendapatkan informasi terkait dengan apa yang diinginkan oleh penguasa karena apa karena masyarakat akan lebih patuh ketika sosialisasi itu disampaikan oleh pemerintah”( Wawancara: DL, 13/12/2014)

Hasil wawancara dengan petugas kebersihan juga mengatakan bahwa :

“Sosialisasi sangat dibutuhkan oleh setiap masyarakat khususnya setiap warga pendatang karena warga pendatang memberikan kontribusi dalam pembersihan lingkungan agar mereka mengetahui himbauan maupun aturan pemerintah yang kiranya dapat terlibat langsung dalam pembersihan lingkungan tapi perlu peningkatan yang namanya sosialisasi dilakukan oleh pemerintah kepada warga pendatang tersebut agar tujuan bisa maksimal”. (Wawancara : DJ, 08/11/2014).

Jadi sosialisasi dalam artian penyampaian informasi kepada masyarakat dalam hal komunikasi timbal balik kalau tidak dilakukan dengan baik maka ini bisa menjadi sebuah faktor penghambat.

Sebuah hasil wawancara pula yang dilakkan dengan Ketua LSM Lembaga pemerhati Masyarakat Indonesia yang menyatakan bahwa:

“Ketika sosialisasi tidak dilakukan maka sia-sialah niat besar pemerintah menuju adipura karena dengan sosialisasi yang baik dengan masyarakat maka kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat akan terjalin dengan baik selain dari pada itu penyampaian komunikasi harus dilakukan melalui pendekatan-pendekatan dan tidak terlalu menggunakan bahasa yang tinggi agar masyarakat bisa paham hingga akhirnya masyarakat sendiri akan membantu pemerintah”. (Wawancara ; SF, 10/11/2014)

Mengenai sosialisasi terhadap warga pendatang, hasil wawancara dengan Camat Pattallassang mengatakan bahwa :

“Sosialisasi terhadap warga pendatang memang perlu dilakukan dan dioptimalkan, untuk Kecamatan Pattallassang yang merupakan ibu 67

kota dari Kabupaten sudah pasti akan selalu memiliki warga pendatang, baik itu untuk menetap ataupun untuk sementara waktu.

Langkah yang diambil Pemerintah untuk sosialisasi terhadap warga pendatang kami dibantu oleh perangkat Kelurahan untuk menyampaikannya pada warga mereka masing-masing mengenai program yang dijalankan Pemerintah saat ini”. (Wawancara : BD, 08/11/2014)

4). Keterbatasan SDM masyarakat dalam menggunakan akses teknologi adalah salah satu penghambat percapainya adipura padahal teknologi adalah alat yang menunjang tercapainya adipura.

Seperti yang dikatakan oleh Camat Pattallassang yang mengatakan bahwa :

“Penggunaan teknologi adalah slah satu hal yang penting yang sangat membantu dalam pekerjaan, maka dari itu perlu orang-orang yang tepat dalam artian orang yang berkompeten dalam penggunaan teknologi maka pekerjaan yang susah akan menjadi mudah. Tapi perlu yang namanya peningkatan SDM dalam menggunakan akses informasi”. (Wawancara : BD, 08/11/2014).

Salah satu tokoh masyarakat juga berpendapat mengenai keterbatasan SDM yang menyatakan bahwa:

“Penggunaan teknologi dalam melaksanakan sebuah kegiatan yang berkaitan dengan wacana untuk menuju adipura sangatlah penting dilakukan karena teknologi adalah hal yang sangat menunjang dalam tercapainya sebuah tujuan dan bisa menjadi teman dalam melaksanakan sebuah kegiatan yang membantu manusia tapi sayangnya adanya ketidakmampuan dalam menggunakan teknologi atau bisa juga karena teknologinya yang tidak ada merupakan penghambat tersendiri untuk menuju adipura”. (Wawancara ; DN, 28/10/2014)

Hasil wawancara dengan petugas Kebersihan mengatakan bahwa :

“Penggunaan teknologi diakui sangatlah membantu dalam kegiatan kami terkhusus kepada pembersihan lingkungan tapi kami juga mengakui masih banyak dari teman kami itu susah dalam 68

memanfaatkan dengan baik teknologi. Hanya satu dua orang saja yang menguasai, yang lain masih belajar. Sebagai contoh kemampuan menyetir truk sampah ataupun penggunaan teknologi pemotong kayu masih kurang dan belum bisa dimanfaatkan dengan baik. Kalau semua petugas kebersihan bisa mengoperasikannya maka cita-cita menuju Adipura saya yakin akan lebih mudah.

(Wawancara : DR, 28/10/2014)

Mengenai faktor penghambat sehingga belum optimalnya strategi yang dijalankan yaitu masalah sistem penanganan sampah.

Hal ini dibenarkan oleh Ketua LPMI kabupaten Takalar dari hasil wawancara yang menyatakan bahwa :

“Masalah penanganan sampah, bukanlah maslah yang mudah untuk diatasi karena membutuhklan proses yang kontinu, dan juga masalah sampah ini bukan hanya berada di beberapa kelurahan tapi memang berada di semua titik baik itu di tempat fasilitas umum, maupun pemukiman masyarakat. Penanganan sampah belum sempurna, meskipun telah ada Ranperda mengenai pengelolaan dan penanganannya karena yang sangat berpengaruh disini yaitu action nyata dari semua pihak yang terlibat didalamnya. LSM disini memiliki peran sebagai penyambung lidah masyarakat dengan pemerintah, selain itu ide-ide inovatif juga dibutuhkan untuk menangani permasalahan pengelolaan sampah ini. Jadi intinya jika semua pihak mampu menunjukkan action mereka maka penanganan sampah in harusnya bukan lagi menjadi hambatan.” (Wawancara:

SF, 10/11/2014).

Berdasarkan pernyataan Ketua LPMI Takalar diatas maka dapat disimpulkan bahwa hambatan mengenai penanganan sampah adalah hambatan yang tidak mudah untuk diselesaikan dengan sekali kerja saja, membutuhkan tahap demi tahap dan kesungguhan semua pihak dalam menanganinya. Pengadaan fasilitas dan sumber daya manusia yang harus disiapkan oleh pihak pemerintah terkait seperti dinas Kebersihan dan PU menjadi tanggung jawab mereka. Dalam 69

menyediakan fasilitas dan Sumber Daya Manusia yang dibutuhkan untuk menangani permasalahan sampah tidak perlu ragu karena Pemerintah Daerah juga bersedia menyiapkan anggaran karena go green melalui perlombaan Adipura ini adalah program Bupati dan Wakil Bupati Takalar.

BAB V

PENUTUP

Dokumen terkait