LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1. Jasa
3. Pendukung Sistem Transportasi
Transportasi dapat berlangsung ketika terjadi perpindahan barang, manusia dari suatu tempat ke tempat lain. Untuk melakukan perpindahan tersebut perlu didukung adanya sarana, prasarana, terminal, halte dan pengguna jasa transportasi.
a. Sarana Transportasi
Sarana transportasi merupakan alat yang digunakan dalam kegiatan transportasi. Sarana transportasi dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu:
1) Sarana transportasi darat
Merupakan alat transportasi yang digunakan di darat, sarana transportasi darat misalnya, kendaraan bermotor, kereta api, gerobak yang ditarik oleh hewan (kuda, sapi, kerbau), atau manusia. Moda transportasi darat dipilih berdasarkan faktor-faktor :
a) Jenis dan spesifikasi kendaraan b) Jarak perjalanan
c) Tujuan perjalanan d) Ketersediaan moda
e) Ukuran kota dan kerapatan permukiman f) Faktor sosial-ekonomi
2) Sarana transportasi air
Merupakan alat transportasi yang digunakan di laut, danau dan sungai.
Sarana transportasi air misalnya kapal, tongkang, perahu, rakit.
3) Sarana transportasi udara
Merupakan alat transportasi yang dapat digunakan di udara misalnya, pesawat terbang. Transportasi udara dapat menjangkau tempat yang tidak dapat ditempuh dengan moda darat atau laut, transportasi udara mampu bergerak lebih cepat dan mempunyai lintasan yang lurus, serta praktis bebas hambatan.
commit to user b. Prasarana (jalan)
Pada awalnya jalan dikenal sebagai lintasan yang hanya terdiri dalam tiga bagian yaitu:
1) Lintasan udara 2) Lintasan laut (air) 3) Lintasan darat
Menurut UU No. 13 Tahun 1980 Tentang Jalan, pengertian “jalan”
adalah salah satu prasarana perhubungan dalam bentuk apapun, meliputi bagian jalan, termasuk bagian pelengkap dan perlengkapannya, yang diperuntukkan bagi lalu lintas. Sedangkan UU No. 14 Tahun 1992 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mendefinisikan “jaringan transportasi jalan adalah serangkaian simpul dan atau ruang kegiatan yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas sehingga membentuk satu kesatuan sistem jaringan untuk keperluan penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan”. Menurut pengertian di atas maka jalan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa klasifikasi yaitu:
1) Klasifikasi Jalan Menurut Wewenang Pembinaannya
Menurut wewenang pembinaan jalan dikelompokkan menjadi Jalan Nasional, Jalan Propinsi, Jalan Kabupaten, Jalan Kotamadya dan Jalan Khusus (Direktorat Jenderal Bina Marga: 2006)
a) Jalan Nasional
Yang termasuk kelompok jalan nasional adalah jalan arteri primer, jalan kolektor primer yang menghubungkan antar ibukota propinsi, dan jalan lain yang mempunyai nilai strategis terhadap kepentingan nasional. Penetapan status suatu jalan sebagai jalan nasional dilakukan dengan Keputusan Menteri.
b) Jalan Propinsi
Yang termasuk kelompok jalan propinsi adalah:
(1) Jalan kolektor primer yang menghubungkan Ibukota Propinsi dengan Ibukota Kabupaten/Kotamadya.
(2) Jalan kolektor primer yang menghubungkan antar Ibukota Kabupaten/
Kotamadya.
commit to user
(3) Jalan lain yang mempunyai kepentingan strategis terhadap kepentingan propinsi.
(4) Jalan dalam Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang tidak termasuk jalan nasional.
Penetapan status suatu jalan sebagai jalan propinsi dilakukan dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri atas usul Pemerintah Daerah Tingkat I yang bersangkutan, dengan memperhatikan pendapat Menteri.
c) Jalan Kabupaten
Yang termasuk kelompok jalan Kabupaten adalah:
(1) Jalan kolektor primer yang tidak termasuk jalan nasional dan jalan propinsi.
(2) Jalan lokal primer
(3) Jalan sekunder dan jalan lain yang tidak termasuk dalam kelompok Jalan Nasional, Jalan Propinsi dan Jalan Kotamadya. Penetapan status suatu jalan sebagai jalan Kabupaten dilakukan dengan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, atas usul Pemerintah Daerah Tingkat II yang bersangkutan.
d) Jalan Kotamadya
Yang termasuk kelompok Jalan Kotamadya adalah jaringan jalan sekunder di dalam Kotamadya. Penetapan status suatu ruas jalan arteri sekunder dan atau ruas jalan kolektor sekunder sebagai Jalan Kotamadya dilakukan dengan keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I atas usul Pemerintah Daerah Kotamadya yang bersangkutan. Penetapan status suatu ruas jalan lokal sekunder sebagai jalan Kotamadya dilakukan dengan Keputusan Walikotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan.
e) Jalan Khusus
Yang termasuk kelompok jalan khusus adalah jalan yang dibangun dan dipelihara oleh instansi/badan hukum/perorangan untuk melayani kepentingan masing-masing. Penetapan status suatu ruas jalan khusus dilakukan oleh instansi/badan hukum/perorangan yang memiliki ruas jalan
commit to user
khusus tersebut dengan memperhatikan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Pekerjaan Umum.
2) Klasifikasi Jalan Berdasarkan Peran
a) Jalan Arterial adalah jalan yang melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi dan jumlah jalur masuk dibatasi secara efisien.
b) Jalan Kolektor adalah jalan yang melayani angkutan pengumpulan atau pembagian menuju suatu tempat dan atau keluar dari suatu tempat dengan ciri perjalanan jarak sedang, jumlah jalan masuk dibatasi.
c) Jalan Lokal adalah jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.
3) Klasifikasi Jalan Berdasarkan Spesifikasi Penyediaan Prasarana (Penjelasan UU No. 38 Tahun 2004, Pasal 10 Tentang Jalan ) a) Jalan Bebas Hambatan (Freeway)
Jalan umum untuk lalu lintas menerus yang memberikan pelayanan menerus/tidak terputus dengan pengendalian jalan masuk secara penuh, dan tanpa adanya persimpangan sebidang, serta dilengkapi dengan pagar ruang milik jalan, paling sedikit 2 (dua) lajur setiap arah dan dilengkapi dengan median
b) Jalan Raya (Highway)
Jalan umum untuk lalu lintas menerus dengan pengendalian jalan masuk secara terbatas dan dilengkapi dengan median, paling sedikit 2 (dua) lajur setiap arah
c) Jalan Sedang (Road)
Jalan umum dengan lalu lintas jarak sedang dengan pengendalian jalan masuk tidak dibatasi, paling sedikit 2 (dua) lajur untuk 2 (dua) arah dengan lebar paling sedikit 7 (tujuh) meter
commit to user d) Jalan Kecil (Street)
Jalan umum untuk melayani lalu lintas setempat, paling sedikit 2 (dua) lajur untuk 2 (dua) arah dengan lebar paling sedikit 5,5 (lima setengah) meter
c. Terminal
Menurut UU No. 14 Tahun 1992 Pasal 1 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, “terminal adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan memuat dan menurunkan orang dan/atau barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum, yang merupakan salah satu wujud simpul jaringan transportasi”. Dari pengertian di atas maka terminal memiliki empat fungsi yaitu:
1) Menyediakan akses kendaraan yang bergerak pada jalur khusus
2) Menyediakan tempat dan dan kemudahan perpindahan/pergantian angkutan dari kendaraan yang bergerak pada jalur tertentu ke angkutan lain
3) Menyediakan sarana konsolidasi lalu lintas
4) Menyediakan tempat menyimpan kendaraan angkutan
Terminal merupakan tempat pengendalian, pengawasan, pengaturan dan pengoperasian lalu lintas. Menurut Penjelasan PP No. 41 Tahun 1993 Tentang Angkutan Jalan terdapat beberapa tipe terminal yaitu:
1) Terminal tipe A berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota antar propinsi, dan/atau angkutan lintas batas negara, angkutan antar kota dalam propinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan.
2) Terminal tipe B berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota dalam propinsi, angkutan kota, dan angkutan pedesaan.
3) Terminal penumpang tipe C merupakan terminal angkutan pedesaan yang dipergunakan dengan tujuan untuk pemberangkatan dan kedatangan mobil bus dan/atau mobil penumpang umum untuk tujuan angkutan dalam wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II
commit to user d. Halte
Menurut Keputusan DEPHUB 271/HK.105/DRJD/96 ” halte” adalah tempat perhentian kendaraan penumpang umum untuk menurunkan dan/atau menaikkan penumpang yang dilengkapi dengan bangunan. Halte secara teknis memiliki ketentuan jarak yang berbeda tergantung pada setiap tata guna lahannya, secara rinci dalam tabel berikut:
Tabel 1. Penentuan Jarak Halte
No Tata Guna Lahan Lokasi
Jarak Tempat Henti
(m) 1 Pusat kegiatan sangat padat:
pasar, pertokoan CBD, Kota 200 - 300 *)
2 Padat : perkantoran,
sekolah, jasa Kota 300 - 400
3 Permukiman Kota 300 - 400
4 Campuran padat : perumahan,
sekolah, jasa Pinggiran 300 - 500
5 Campuran jarang : perumahan,
ladang, sawah, tanah kosong Pinggiran 500 - 1000 Keterangan : *) = jarak 200 m dipakai bila sangat diperlukan saja, sedangkan jarak umumnya 300 m.
(Sumber : Dephub1996)
e. Pengguna Jasa
Menurut Budiman (2005: 116) konsumen jasa transportasi dibagi ke dalam dua kelompok yaitu:
1) Kelompok Choice yaitu kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan untuk memilih dalam pemenuhan kebutuhan mobilitasnya, pada kelompok ini dapat memenuhi 3 (tiga) persyaratan secara menyeluruh yakni dari aspek finansial (memiliki kendaraan), aspek kesehatan (sehat jasmani dan rohani), aspek legal (memiliki SIM).
2) Kelompok Captive yaitu kelompok masyarakat yang tergantung (captive) pada angkutan umum dalam rangka pemenuhan kebutuhan akan
commit to user
mobilitasnya, karena tidak dapat memuhi seluruh unsur di atas (aspek finansial, aspek kesehatan, aspek legal)
4. Angkutan Umum a. Pengertian Angkutan
Menurut PP No. 41 Tahun 1993 Tentang Angkutan Jalan, “pengertian angkutan adalah pemindahan orang dan atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan”. Lebih lanjut menurut Munawar (2005: 45) angkutan didefinisikan “sebagai perpindahan orang dan atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan, sementara kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk digunakan oleh umum dengan dipungut bayaran”.
Dari dua pengertian di atas pada intinya tujuan angkutan adalah untuk membantu seseorang untuk menjangkau tempat tujuannya. “Proses perpindahan ini dapat dilakukan menggunakan sarana angkutan berupa kendaraan maupun tanpa kendaraan. Dengan atau tanpa menggunakan kendaraan, pengangkutan dapat dikategorikan menjadi pengangkutan orang dan pengangkutan barang”
(Warparni, 1990: 170)
b. Angkutan Umum Penumpang
Angkutan umum penumpang adalah angkutan penumpang yang dilakukan dengan menggunakan kendaraan umum dan dilaksanakan dengan sistem sewa atau bayar. Menurut UU No. 14 Tahun 1992 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan, “pengertian kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran”. Karakteristik menonjol yang terdapat dalam angkutan umum adalah merupakan layanan jasa angkutan yang memiliki jadwal dan trayek tetap.
Angkutan umum penumpang bersifat massal sehingga para penumpang harus memiliki kesamaan dalam berbagai hal yakni asal, tujuan, lintasan, dan waktu.
Berbagai persamaan ini yang akan menimbulkan masalah kaitannya dengan persediaan dan penawaran.
commit to user c. Pelayanan Angkutan Umum Penumpang
Menurut Tristiyani (2009: 15) angkutan umum penumpang dibagi menjadi tiga kategori yaitu:
1) Angkutan Antar-Kota
“Angkutan antar kota” adalah angkutan yang menghubungkan suatu kota dengan kota lainnya baik yang berada di dalam suatu administrasi propinsi (antar kota dalam propinsi) maupun yang berada di propinsi lain. Dari pengertian tersebut sehingga terdapat istilah antar kota antar propinsi (AKAP) dan antar kota dalam propinsi (AKDP). “Angkutan antar kota dalam propinsi” adalah angkutan yang melalui antar Daerah Tingkat II dalam satu wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Sedangkan “angkutan antar kota antar propinsi” adalah angkutan yang melalui lebih dari satu wilayah Propinsi Daerah Tingkat I (PP No. 41 Tahun 1993 Tentang Angkutan Jalan, Pasal 7)
2) Angkutan Perkotaan
“Angkutan Perkotaan” merupakan angkutan manusia dan barang yang ditekankan pada jenis angkutan umum penumpang mengingat jenis angkutan ini merupakan pelayanan dengan jalur tetap yang dapat dipolakan secara tegas.
“Angkutan kota” merupakan angkutan umum penumpang yang dilakukan dengan sistem sewa atau bayar (Warparni, 1990: 170)
3) Angkutan Perdesaan
Menurut Warparni (2002: 51) “angkutan perdesaan adalah pelayanan angkutan penumpang yang ditetapkan melayani trayek dari dan ke terminal tipe C”. Pelayanan angkutan perdesaan diselenggarakan dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a) Mempunyai jadwal tetap dan/atau tidak terjadwal.
b) Pelayanan lambat.
c) Dilayani oleh mobil bus umum dan/atau mobil penumpang umum.
d) Tersedianya terminal penumpang sekurang-kurangnya tipe C, pada awal pemberangkatan dan terminal tujuan.
e) Prasarana jalan yang dilalui memenuhi ketentuan kelas jalan.
commit to user