• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penegakan Hukum

Dalam dokumen BAB III HASIL PENELITIAN (Halaman 32-36)

Penegakan hukum ini bertujuan untuk memberikan efek jera kepada seseorang, sekelompok orang atau masyarakat agar tidak mengulangi kembali tindakan yang dapat mengganggu keamanan hutan, seperti misalnya kegiatan pemanggilan, penangkapan Target Operasi (TO), sampai dengan penanganan tindak lanjut pelaku yang melakukan tindakan gangguan keamanan hutan. Berikut data rekapitulasi penegakan hukum di Perhutani KPH Mantingan:

Tabel 14. Rekapitulasi Penegakan Hukum di Perhutani KPH Mantingan 2021

No Uraian Realisasi

2020 2021 Kayu Perkakas Hasil m3

1 Sisa Pencurian 26.645 23.390

2 Temuan 2.000 2.838

3 Tangkapan - -

4 Penggeledahan - -

Jumlah 30.175 30.128

Laporan pencurian kayu (huruf A)

1 Tanpa tersangka 229 158

2 Dengan tersangka 1 4

a. Dibuat Berkas Perkara 1 4 b. Diajukan ke Kejaksaan 1 4 c. Diajukan ke Pengadilan 1 4

d. Diputus Pengadilan 1 4

e. Sisa Perkara 0 0

Jumlah 234 178

Sumber: Perum Perhutani KPH Mantingan 2021

Berdasarkan hasil rekapitulasi diatas, tercantum bahwa sisa kasus pencurian kayu pada tahun 2021 menurut dari tahun 2020 sebanyak 23.390 kayu yang hilang, dan jumlah kayu yang ditemukan lebih banyak daripada tahun 2020 yaitu sebanyak 2.838 buah. Kemudian untuk kasus pencurian yang tersangkanya belum ditemukan lebih sedikit dari tahun 2020 yaitu 158 orang, dengan yang tersangkanya telah ditemukan sebanyak 4 orang dan dibuatkan berkas ke pengadilan, diproses di pengadilan sampai dengan putusan pengadilan sejumlah 20 berkas.

Berdasarkan program-program diatas, dapat disimpulkan bahwa Perum Perhutani KPH Mantingan dalam pengupayaan pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan serta pengelolaan sumber daya hutan telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam melakukan upaya pencegahan, Perum Perhutani KPH Mantingan menggunakan sistem yang langsung melibatkan peran serta masyarakat seperti: Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), Proram Kemitraan dan Bina Lingkungan, Pembentukan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (PHBM) demi meningkatkan kapasitas masyarakat desa sekitar hutan

melalui pembinaan, pelatihan, sosialisasi, dan lain-lain, serta dari Perum Perhutani KPH Mantingan langsung ke Masyarakat Desa Hutan (MDH) membantu meningkatkan perekonomian masyarakat melalui program bagi hasil produksi kayu non kayu, pemberian akses pengelolaan sumber daya hutan, serta pemberian bantuan sosial berupa pembangunan, uang, ataupun air bersih.

Dalam Undang-Undang Nomor 18 tahun 2013 tentang Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, diatur dalam Pasal 2 yang menjelaskan bahwa keterlibatan masyarakat diharuskan ada dalam setiap kegiatan pencegahan perusakan hutan. Kemudian ada juga dalam Pasal 7 dijelaskan bahwa pencegahan perusakan hutan dilakukan oleh masyarakat, badan hukum, dan/atau korporasi yang memperoleh izin pemanfaatan hutan. Sehingga semua program yang dilakukan oleh Perum Perhutani KPH Mantingan dapat penulis katakan belum maksimal, tetapi sudah sesuai dengan apa yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 tahun 2013 tentang Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, walaupun ada beberapa program yang belum dapat terlaksana secara maksimal dikarenakan suatu alasan tertentu.

Penegakan pengelolaan lingkungan hidup tidak hanya dapat mengandalkan pada peraturan perundang-undangan semata, tetapi juga harus memberikan ruang untuk masyarakat lokal sekitar hutan agar ikut berpartisipasi dan berkolaborasi untuk melakukan pelestarian hutan.

Menurut penulis, upaya yang dilakukan oleh Perum Perhutani KPH Mantingan dalam pencegahan perusakan hutan dilakukan dengan 3 (tiga) pendekatan, yakni pendekatan kesejahteraan dan kemandirian, pendekatan Pendidikan, serta pendekatan partisipatif.

Dalam pendekatan kesejahteran dan kemandirian masyarakat menjadi pioritas dalam Perum Perhutani KPH Mantingan agar masyarakat ikut berperan aktif terhadap keamanan dan kelestarian sumber daya hutan.

Semakin tinggi tingkat perekonomian masyarakat, maka semakin kecil tingkat perusakan hutan di Mantingan. Hal tersebut saling berkaitan karena

masyarakat di des aitu kebanyakan sudah terbiasa bertumpu pada sumber daya hasil hutan untuk dijadikan obat-obatan, bercocok tanam, mencari kayu bakar, serta berburu untuk mencari makan. Sehingga Perum Perhutani mengakalinya agar meningkatkan perekonomian masyarakat desa hutan dengan mengambil tenaga kerja dari masyarakat lokal untuk kegiatan teknis, memperluas kegiatan integrite farmin, serta membentuk Lembaga Masyarakat Desa Hutan untuk mengelola hasil bagi produksi kayu demi memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pendekatan Pendidikan melalui penyuluhan menganai pemahaman fungsi dan manfaat hutan serta tingkat kesadaran dan kepatuhan pada aturan yang ada dalam peraturan perundang-undangan, karena semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin luas wawasan yang dimiliki oleh masyarakat akan fungsi dan manfaat hutan, serta pentingnya menjaga kelestarian hutan.

Untuk pendekatan partisipatif, strategi pengamanan hutan yang diterapkan oleh Perum Perhutani KPH Mantingan perlu melibatkan masyarakat sekitar hutan untuk berpartisipasi aktif berperan dan bertanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya hutan. Pendekatan ini dilakukan untuk meingkatkan rasa memiliki dari masyarakat terhadap kawasan hutan sehingga meningkatkan semangat mereka untuk menjaga dan melestarikan sumber daya hutan.

Menurut penulis, pengamanan dan pelestarian hutan tidak akan maksimal jika hanya mengandalkan dari tim pengamanan hutan dikarenakan jumlah tim pengamanan hutan tidak sebanding dengan jumlah perusakan hutan yang dapat terjadi. Peran serta masyarakat sekitar hutan dan instansi terkait seperti, perangkat desa sangat diperlukan untuk pengupayaan pencegahan perusakan hutan dan pengamanan hutan. Adapun untuk tindakan pemberantasan Perum Perhutani KPH Mantingan melakukan kerjasama dengan pihak kepolisian dan memprosesnya sesuai dengan jalur hukum agar dapat digunakan sebagai pelajaran bagi pelaku

serta oknum lainnya yang mempunyai niat merusak dan memberikan efek jera kepada pelaku agar tidak melakukan perusakan hutan lagi.

Berdasarkan hasil penelitian penulis, jumlah kerusakan hutan di wilayah kerja KPH Mantingan hanya berkurang sedikit dilihat dari tahun 2019 s/d bulan September tahun ini. Kasus perusakan hutan masih terjadi dalam jumlah yang banyak sehingga Perum Perhutani KPH Mantingan harus lebih meningkatkan lagi upaya pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan di wilayah Mantingan, baik secara preemtif, preventif, maupun represif karena ketiga Tindakan tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan yang merupakan satu bagian dari rencana dan strategi pengamanan hutan lestari. Ketika masyarakat telah menyadari pentingnya menjaga hutan dan mereka mempunyai rasa untuk melindungi hutan maka pengelolaan dan pelestarian hutan akan berjalan sesuai dengan yang diinginkan atau yang diharapkan, dan masyarakat dapat menjadi mitra Perum Perhutani KPH Mantingan dalam pengupayaan pemberantasan perusakan hutan.

3. Hambatan Perum Perhutani KPH Mantingan dalam Pengupayaan

Dalam dokumen BAB III HASIL PENELITIAN (Halaman 32-36)

Dokumen terkait