• Tidak ada hasil yang ditemukan

JUMLAH SISA TANAH

A. Penegakan Hukum Lingkungan Melalui Kasus Amdal

Dalam rangka mengupayakan kelestarian kemampuan lingkungan, Amdal bertujuan untuk tetap menjaga agar keadaan lingkungan tetap berada pada suatu mutu tertentu demi terjaminnya kesinambungan pembangunan. Peranan instansi yang berwenang memberikan keputusan tentang proses analisis mengenai dampak lingkungan sudah jelas sangat penting. Dalam hal ini, yang sangat menentukan terhadap mutu lingkungan ialah keputusan yang diambil dalam proses admintistrasi yang ditempuh pemrakarsa, karena Amdal berfungsi sebagai instrumen pencegahan pencemaran lingkungan.1

Pada saat berlakunya PP No. 29 Tahun 1986, pemerintah bermaksud memberikan waktu yang cukup memadai yaitu selama satu tahun untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan efektifitas berlakunya PP tersebut. Hal ini erat hubungannya dengan persiapan tenaga ahli penyusun Amdal. Di samping itu diperlukan pula waktu untuk pembentukan Komisi Pusat dan Komisi Daerah yang merupakan persyaratan esensial bagi pelaksanaan PP No. 29 Tahun 1986 tersebut. PP 29 Tahun 1986 kemudian dicabut dengan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang diberlakukan pada tanggal 23 Oktober 1993. Perbedaan utama antara PP tahun 1986 dengan PP tahun 1993 adalah ditiadakannya dokumen penyajian informasi lingkungan (PIL) dan dipersingkatnya tenggang waktu prosedur (tata laksana) AMDAL dalam PP yang baru. PIL berfungsi sebagai filter untuk menentukan apakah

1

rencana kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan atau tidak.

Amdal, karena instrumen pengelolaannya bersifat preventif, harus dibuat pada tahap paling dini dalam perencanaan kegiatan pembangunan. Dengan kata lain, proses penyusunan dan pengesahan Amdal harus merupakan bagian dari proses perijinan satu proyek. Dengan cara ini proyek-proyek dapat disaring seberapa jauh dampaknya terhadap lingkungan. Di sisi lain, studi Amdal juga dapat memberi masukan bagi upaya-upaya untuk meningkatkan dampak positif dari proyek tersebut.2

Hanya saja, dalam praktiknya banyak pembangunan oleh perusahaan yang tidak memenuhi Amdal sebagaimana seharusnya. Itu artinya pembangunan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan itu, tidak mempertimbangkan dampak pembangunannya terhadap lingkungan disekitar. Ada beberapa hal yang menyebabkan pembangunan tersebut tidak memenuhi standart Amdal yang benar. Di antaranya ialah lalainya perusahaan dalam melaksanakan Amdal yang sudah dirumuskan oleh tim penyusun analisis Amdal.

Hal ini bisa dilihat dari kasus pelanggaran Amdal oleh PT X dalam pembangunan kompleks industri dan pergudangan di Desa Sentul Jaya, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang. Dalam pembangunannya yang melanggaran baku mutu pembuatan penyerapan dan pengabaian KJB sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya.

2

http://www.freewebs.com/mastomi. TomiHendartomo,

Kalau dilihat dari tujuannya, Amdal ketika pertama kali dikeluarkan merupakan sebuah kebijakan yang merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan. Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah, agar pembangunan tersebut dapat memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan setempat.Sebagaimanadijelaskanpada PP Amdal 1999.3

Selain perusahaan tidak melaksanakan ketentuan-ketentuan yang telah dirumuskan dalam Amdal, ada juga sebab lain yang mengakibatkan pembangunan tersebut tidak memperhatikandampak terhadap lingkungan. Hal tersebut ialah minimnya pengetahuan dari pemerintah dan rakyat dalam memahami Amdal, menjadikan pemrakarsa dan konsultan menggunakan Amdal sebagai sebuah dokumen asal jadi, dan kecenderungan mengutip dokumen Amdal lainnya sangat tinggi. Sehingga Amdal tidak dapat menjadi sebuah acuan kelayakan sebuah kegiatan berjalan.

Dalam proses penyusunan dokumen Amdal, sangat sering ditemui konsultan (tim penyusun) Amdal meninggalkan berbagai prinsip dalam Amdal. Terutama posisi rakyat dalam proses penyusunan dokumen Amdal. Proses keterbukaan informasi dijamin oleh kebijakan, di mana Pasal 33 PP No. 27/1999 menegaskan kewajiban pemrakarsa untuk mengumumkan kepada publik dan saran, pendapat, masukan publik wajib untuk dikaji dan dipertimbangkan dalam Amdal. Dan Pasal 34 menegaskan bagi kelompok rakyat yang berkepentingan wajib dilibatkan dalam proses penyusunan kerangka acuan, penilaian kerangka acuan, analisis dampak lingkungan

3

Suparto Wijoyo, Refleksi Mata Rantai Pengaturan Hukum Pengelolaan Lingkungan Secara Terpadu (Surbaya: Airlangga University Press, 2005), h. 353.

hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup.

Akan tetapi dalam praktiknya tidak sulit ditemui suatu perusahaan tetapikurang melibatkan masyarakat dalam pembangunannya. Sebagaimana terjadi pada kasus pembangunankompleksindustridangudang oleh PT X, bahwa pelibatan masyarakat hanya bertujuan untuk memuluskan pembangunan pabriktersebut. Jadi pelibatan masyarakat oleh perusahaan lebih merupakan suatu pendekatan politik bisnis yang lebih banyak mempertimbangkan kepentingan peruhaan daripada kepentingan masyarakat. Padahal dalam kaitannya dengan pembangunan tersebut, masyarakat harus benar-benar dilibatkan dan mempunyai peran yang nyata dalam berbagai hal, karena memang masyarakat yang menerima akibat langsung dari pembangunan tersebut.4 Itu artinya, masih banyak hal yang ditutupi oleh perusahaan, demi lebih lancarnya proses pembangunan tersebut.

Oleh karena itu, keterbukaan dan peran serta masyarakat dalam proses pengambilan keputusan yang dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan (khusunya izin lingkungan) perlu dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan. Peran serta masyarakat oleh seorang kelompok orang (organisasi lingkungan hidup) atau badan hukum merupakan konsekuensi dari

hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat” sebagaimana

ditetapkan dalam Pasal 5 ayat (1) UUPLH.5

4

Soerjanto Poespowardojo, Pembangunan Nasional dalam Perspektif Budaya (Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia), h. 98.

5

Siti Sundari Rangkuti, Keterbukaan dan Peranserta Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, Majalah OzonVol 3 No.5, Januari 2002.

Adapaun maksud dan tujuan dilaksanakannya ketertibatan masyarakat dalam keterbukaan informasi dalam proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) ini adalah untuk: a) Melindungi kepentingan masyarakat. 2) Memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan atas rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan yang berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan. 3) Memastikan adanya transparansi dalam keseluruhan proses Amdal dari rencana usaha dan atau kegiatan. 4) Menciptakan suasana kemitraan yang setara antara semua pihak yang berkepentingan, yaitu dengan menghormati hak-hak semua pihak untuk mendapatkan informasi dan mewajibkan semua pihak untuk menyampaikan informasi yang harus diketahui pihak lain yang terpengaruh.6

Namun, beberapa ketentuan tentang prosedur perizinan lingkungan tidak membuka peluang bagi peran serta masyarakat, sehingga saran dan pemikiran dalam proses pengambilan keputusan tentang izin yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan tidak ditampung secara prosedural.

Dokumen Amdal yang bermuara pada kelayakan lingkungan hidup, yang merupakan bagian dari kelayakan teknis finansial-ekonomi (Pasal 2 PP No. 27/1999) selanjutnya merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan ijin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang (Pasal 7 PP No. 27/1999). Dokumen Amdal merupakan dokumen publik yang menjadi acuan dalam pelaksanaan

6

Siti Sundari Rangkuti, Keterbukaan dan Peranserta Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, Vol. 3 No. 5.

pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat lintas sektoral, lintas disiplin, dan dimungkinkan lintas teritorial administratif.

Analisis mengenai dampak lingkungan merupakan suatu langkah yang sangat tepat dalam rangka menyelamatkan lingkungan, tentu ketika Amdal tesebut dijadikan acuan dalam merancang pembangunan di suatu tempat. Dengan kata lain, Amdal menjadi sama sekali tidak penting ketika pembangunan sudah dilaksanakan. Amdal hanya bermanfaat bagi pembangunan fisik yang belum dilaksanakan. Tapi ironisnya, Amdal dilakukan tatkala pembangunan fisik sedang berjalan. Akhirnya Amdal dijadikan alat pembenaran semata, tidak lebih dari itu. Oleh karna itu tak heran kalau masih saja ditemukan persoalan lingkungan padahal sudah dibuat Amdal -nya.7

Sejak dibubarkannya Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, maka kemudian Kementerian Lingkungan Hidup semakin mengecil perannya dalam upaya pengendalian dampak lingkungan, termasuk dalam pengawasan Amdal di berbagai tingkatan. Terlebih lagi, pasca dikeluarkannya PP No. 25 tahun 2000, menjadikan hilangnya mekanisme koordinasi antar wilayah, yang pada akhirnya menjadikan lingkungan hidup sebagai bagian yang menjadi tidak begitu penting. Empat kelompok parameter yang terdapat di studi Amdal, meliputi Fisik – kimia (Iklim, kualitas udara dan kebisingan; Demografi; Fisiografi; Hidro-Oceanografi; Ruang; Lahan dan Tanah; dan Hidrologi), Biologi (Flora; Fauna), Sosial (Budaya; Ekonomi; Pertahanan/keamanan), dan Kesehatan masyarakat, ternyata juga masih sangat menekankan pada

7

Siti Sundari Rangkuti, Keterbukaan dan Peranserta Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, Vol. 3, No. 3, Nopember 2001.

kepentingan formal saja. Lalu kemudian, permasalahan sosial-budaya dan posisi rakyat menjadi bagian yang dilupakan.

Posisi kelayakan kegiatan dari Amdal, sebenarnya sangat tergantung pada kelompok Akademisi atau para ahli yang dilibatkan dalam Komisi Penilai Amdal.8 Ketika kemudian independensi (kebebasan ikatan) dari akademisi dalam menilai dokumen diikat saat kelompok ini pun menjadi konsultan penyusun Amdal, telah menjadikan kelompok akademisi atau para ahli tidak lagi profesional dalam mengambil keputusan.

Amdal yang pada awalnya ingin menaikkan posisi tawar lingkungan hidup dalam berkehidupan, kemudian malah berkontribusi terhadap hilangnya hak lingkungan hidup. Setiap kali sebuah kegiatan dan/atau usaha sangat terlihat jelas berdampak terhadap lingkungan hidup maupun komunitas rakyat, maka Amdal berada di barisan terdepan untuk mengeliminir gejolak yang terjadi. Dengan melihat kondisi ini, maka bukan tidak mungkin Amdal akan berkontribusi terhadap terjadinya ekosida/ecocide (tindakan pengrusakan seluruh atau sebagian dari sebuah ekosistem). Pemusnahan ekosistem semakin cepat terjadi dikarenakan tidak adanya perangkat penyaring (filter) dari kegiatan pengrusakan lingkungan hidup.

Namun, dalam kasus pelanggaran Amdal tersebut tidak terdapat tindakan-tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang telah melakukan pelanggaran terhadap aturan-anturan hukum lingkungan. Padahal, Amdal merupakan pondasi dasar dari hukum lingkungan, karena Amdal dapat menentukan dan memastikan pembangunan dapat tetap menjaga

8

http://www.menlh.go.id/. KementrianLingkunganHidup, SebagianBesarDokumen AMDAL BerkualitasBuruk, 09 Nopember 2008.

lingkungan di sekitar pembangunan.9 Pembiaran ini tidak boleh terjadi, mengingat Indonesia masih dalam proses pembangunan. Jika tidak, lingkungan Indonesia pada masa yang akan datang akan mengalami krisis lingkungan yang berakibat luas terhadap kehidupan umat masyarakat.

Oleh karena itu, penegakan hukum lingkungan melalui Amdal ini harus semakin didorong dan ditegakkan dengan setegak-tegaknya.Penegakan hukum lingkungan melalui Amdal merupakan suatu peluang yang sangat besar untuk melindungi lingkungan dari berbagai langkah pembangunan-pembangunan di berbagai bidang.

Dokumen terkait