DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 9. Data Hasil Penelitian, Analisis Ragam dan Uji Lanjut Duncan Uji Tegangan Antarmuka MES dalam kondisi Kesadahan
A. Rekapitulasi data Tegangan Antarmuka MES dalam kondisi Kesadahan
Perlakuan Tegangan Antarmuka (Dyne/cm)
Ulangan 1 Ulangan 2 Rataan
D1 18.00 16.80 17.40
D2 18.35 18.20 18.27
D3 19.00 18.90 18.95
B. Analisa Ragam Nilai Tegangan Antarmuka MES Akibat kondisi Kesadahan
Sumber Variasi db JK RJK F-Hitung F- Tabel 0.05 0.01 Kesadahan (Di) 2 2.416 1.208 4.922 9.55 30.30 Error 3 0.736 0.245 Total 5 3.152
Lampiran 2. Diagram alir proses pembuatan Surfaktan Metil Ester Sulfonat (MES)
Metil Ester Olein
Sulfonasi
Laju alir ME 100 ml/menit, 80 °C, 2 jam Gas SO3 7% Pemurnian 75 °C, 1,5 jam Metanol 31% (v/v) H2O24% (v/v) Netralisasi pH 7, 50°C, 30 menit NaOH 50% Penguapan Metanol 70 – 80 °C Metanol
Metil Ester Sulfonat (MES) Murni
Lampiran 3. Prosedur Analisa Bahan Baku dan Surfaktan MES 1. Uji Bilangan Asam (SNI-01-3555-1998)
Timbang 19-21 ± 0.05 gram contoh biodiesel ester alkil ke dalam sebuah labu erlenmeyer 250 ml. Tambahkan 100 ml campuran pelarut (etanol 95 % - toluene 50 %) yang telah dinetralkan ke dalam labu Erlenmeyer tersebut. Dalam keadaan teraduk kuat, titrasi larutan isi labu Erlenmeyer dengan larutan KOH 0,1 N dalam alkohol sampai kembali berwarna merah jambu dengan intensitas yang sama seperti pada campuran pelarut yang dinetralkan diatas dan tidak berubah selama 15 detik. Kemudian catatlah volume titran yang dibutuhkan (V ml).
Bilangan asam = 56,1 x V x N mg KOH/g biodiesel
M
keterangan :
V = volume larutan KOH dalam alkohol yang dibutuhkan pada titrasi (ml) N = normalitas larutan KOH dalam alkohol
M = berat contoh biodiesel alkil (g)
2. Bilangan Iod (AOAC, 1995)
Contoh minyak yang telah disaring ditimbang sebanyak 0,5 gram di dalam erlenmeyer 250 ml, lalu dilarutkankan dengan 10 ml kloroform atau tetraklorida dan ditambahkan dengan 25 ml pereaksi hanus. Semua bahan diatas dicampur merata dan disimpan di dalam ruangan gelap selama satu jam. Sebagian iodium akan dibebaskan dari larutan. Setelah penyimpanan, ke dalamnya ditambahkan 10 ml larutan KI 15 %. Iod yang dibebaskan kemudian dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 N sampai warna biru larutan tidak terlalu pekat. Selanjutnya ditambahkan larutan kanji satu persen dan titrasi kembali sampai warna biru hilang. Blanko dibuat dengan cara yang sama tanpa menggunakan minyak
Bilangan Iod = (B-S) x N x 12,69 G
Keterangan :
B = ml Na2S2O3 blanko S = ml Na2S2O3 contoh
N = normalitas Na2S2O3 G = berat contoh
3. Berat Jenis (Ketaren, 1986)
Piknometer dibersihkan dan dikeringkan, kemudian ditimbang (g). Piknometer diisi air sehingga volumenya diketahui. Pinkometer dengan volume tertentu (ml) diisi sampai meluap dan tidak terbentuk udara, kemudian ditimbang berat isinya (g). Berat jenis sampel dihitung dengan rumus berikut :
Berat jenis = (bobot piknometer dan sampel) – (bobot pikno kosong) Volume air (ml)
4. Tegangan Permukaan Metode du Nouy (ASTM D 1331, 2000)
Metode pengujian ini dilakukan untuk menentukan tegangan permukaan larutan surfaktan dengan menggunakan alat Tensiometer du Nouy. Peralatan dan wadah contoh yang akan digunakan harus dibersihkan terlebih dahulu. Wadah yang digunakan biasanya terbuat dari bahan gelas dengan diameter lebih besar dari 6 cm. Wadah gelas dicuci dengan larutan chromic-sulfuric acid, kemudian dibilas dengan air destilata. Cincin platinum merupakan bagian dari alat Tensiometer, memiliki diameter 4 atau 6 cm. Sebelum digunakan, cincin dicuci terlebih dahulu dengan pelarut yang sesuai dan dibilas dengan air destilata, lalu dikeringkan.
Posisi alat diatur supaya horizontal dengan water pas dan diletakkan pada tempat yang bebas dari gangguan, seperti getaran, angin, sinar matahari dan panas. Larutan contoh dimasukkan ke dalam gelas dan diletakkan diatas dudukan (platform) pada Tensiometer. Suhu cairan sampel diukur dan dicatat. Selanjutnya cincin platinum dicelupkan ke dalam sampel tersebut (lingkaran logam tercelup 3 - 5 mm di bawah permukaan cairan), dengan cara menaikkan dudukan (platform). Skala vernier Tensiometer di set pada posisi nol dan jarum penunjuk harus berada pada posisi berimpit dengan garis pada kaca. Selanjutnya platform diturunkan perlahan, dan pada saat yang bersamaan skrup kanan diputar sedemikian rupa sehingga jarum penunjuk tetap berimpit dengan garis pada kaca. Proses ini diteruskan sampai film cairan tepat putus. Pada saat cairan putus skala dibaca dan dicatat sebagai nilai tegangan
permukaan. Pengukuran dilakukan paling sedikit dua kali. Kemampuan surfaktan dalam menurunkan tegangan permukaan dapat dilakukan dengan menambahkan konsentrasi surfaktan sebanyak 10 persen (dalam air).
Nilai tegangan permukaan setelah ditambahkan surfaktan diukur kembali. Kemudian dibandingkan nilai tegangan permukaan air sebelum dan sesudah ditambahkan surfaktan.
5. Tegangan Antar Muka (ASTM D 1331, 2000)
Metode penentuan tegangan antarmuka sama dengan pengukuran tegangan permukaan. Untuk pengukuran cairan yang mengandung dua fase yang berbeda, yaitu fase larut dalam air (aqueous) dan fase tidak larut dalam air (nonaqueous), dilakukan beberapa tahapan. Fase aqueous (air) dimasukkan terlebih dahulu ke dalam wadah gelas, kemudian dicelupkan cincin platinum kedalamnya (lingkaran logam tercelup 3 - 5 mm di bawah permukaan cairan), setelah itu secara hati-hati fase nonaqueous (xilen) ditambahkan diatas fase aqueous sehingga sistem terdiri dari dua lapisan.
Kontak antara cincin dan fase nonaqueous sebelum pengukuran harus dihindari. Setelah tegangan antarmuka mencapai ekuilibrium, yaitu benar- benar terbentuk dua lapisan terpisah yang sangat jelas, pengukuran dapat dilakukan dengan cara yang sama dengan pengukuran tegangan permukaan. Kemampuan surfaktan dalam menurunkan tegangan antar muka dilakukan pada campuran air dengan xylene (1:1), konsentrasi surfaktan yang ditambahkan adalah 10 persen (dalam campuran xylene-air). Nilai tegangan antar muka antara air dengan xylene setelah ditambahkan surfaktan diukur kembali. Kemudian dibandingkan nilai tegangan antar muka antara sebelum dan sesudah ditambahkan surfaktan.
6. Kadar Air (SNI 01-3555-1998)
Cawan alumunium dipanaskan di dalam oven pada suhu 105°C selama 1 jam, kemudian didinginkan dalam desikator selama 30 menit. Bobot cawan kemudian ditimbang. Sebanyak 5 gram sampel dimasukkan ke dalam cawan alumunium yang telah diketahui bobotnya, kemudian dipanaskan di dalam oven suhu 105°C selama 1-2 jam. Cawan berisi sampel dikeluarkan dan
didinginkan dalam desikator selama 30 menit, kemudian ditimbang. Pemanasan dan penimbangan diulangi sampai diperoleh bobot tetap.
Kadar air (%) = m1-m2 x 100 m1
m1 =bobotsampel (g)
m2 = bobot sampel setelah pemanasan (g)
7. Bilangan Penyabunan (SNI-01-3555-1998)
Timbang 4-5 gram contoh biodiesel ester alkil ke dalam sebuah labu erlenmeyer 250 ml. Tambahkan 50 ml larutan KOH alkoholik. Sambungkan labu erlenmeyer dengan kondensor berpendingin udara dan didihkan sampai contoh tersabunkan sempurna selama 1 jam. Larutan yang diperoleh harus homogen dan homogen. Setelah labu dan kondensor cukup dingin, lepaskan kondensor dari labu, tambahkan 1 ml larutan indikator fenolftalein ke dalam labu, dan titrasi isi labu dengan HCl 0.5 N sampai warna merah jambu hilang. Lakukan hal yang sama untuk blanko tanpa penambahan sampel. Nilai bilangan penyabunan dapat dirumuskan sebagai berikut :
Bilangan penyabunan = 56.1 (A-B) x N mg KOH/g biodiesel M
Keterangan :
A = volume HCl 0.5 N untuk titrasi blanko B = volume HCl 0.5 N untuk titrasi contoh N = normalitas HCl
8. Pengukuran pH (BSI, 1996)
Metode ini digunakan untuk menganalisa derajat keasaman (pH) surfaktan anionik, kationik, nonionik dan amfoterik. Nilai pH dari larutan contoh ditentukan dengan pengukuran potensiometrik menggunakan elektroda gelas dan pH-meter komersial. Alat pH-meter disiapkan dan dikalibrasi terlebih dahulu. Kalibrasi dilakukan dengan menggunakan larutan buffer pH 4,0 dan 9,0. Elektroda kemudian dibilas dengan air bebas CO2 yang memiliki pH antara 6,5 sampai 7,0. Selanjutnya elektroda dicelupkan ke dalam larutan yang akan diukur. Nilai pH dibaca pada pH-meter,
pembacaan dilakukan setelah angka stabil. Elektroda kemudian dibilas kembali dengan air bebas CO2. Pengukuran dilakukan dua kali. Apabila dari dua kali pengukuran nilai yang terbaca mempunyai selisih lebih dari 0,2 maka harus dilakukan pengulangan pengukuran termasuk kalibrasi.
9. Kadar Bahan Aktif Metode Epthone
Timbang 1 gram sampel dan tambahkan dengan 30 ml aquades. Panaskan larutan tersebut pada suhu 100 °C sampai larut. Setelah larut, dinginkan kemudian tambahkan 3 tetes indikator fenolfthalein. Selanjutnya lakukan titrasi dengan larutan NaOH 0.1 N sampai menghasilkan warna merah muda. Catat volume titran yang terpakai untuk titrasi (A ml). Encerkan larutan setelah titrasi dengan 1 liter aquades. Ambil larutan yang sudah diencerkan sebanyak 5 ml ke dalam gelas ukur. Tambahkan 3 ml metilen biru dan 10 ml larutan kloroform campuran. Titrasi dengan larutan N- cetylpyridium chloride. Catat volume titran yang terpakai (B ml). Kadar bahan aktif dirumuskan sebagai berikut.
Bahan aktif = B ml kationik x faktor kationik x BM x 100 % Gr sampel x 4 .95
Keterangan :
B = ml titran N-cetylpyridium chloride
Faktor kationik = 1.9801
Lampiran 4. Data Hasil Penelitian, Analisis Ragam dan Uji Lanjut Duncan Uji Tegangan Permukaan MES
A. Rekapitulasi Data Nilai Tegangan Permukaan dalam Pengaruh Suhu dan Lama Pemanasan
Perlakuan Tegangan Permukaan (Dyne/cm)
Ulangan 1 Ulangan 2 Rataan
A1B1 37.00 37.50 37.25 A1B2 37.75 37.75 37.75 A1B3 39.50 38.50 39.00 A1B4 39.00 39.35 39.17 A1B5 38.25 38.65 38.45 A1B6 40.00 42.00 41.00 A2B1 36.60 36.00 36.30 A2B2 36.95 36.00 36.45 A2B3 36.00 37.10 36.55 A2B4 37.25 37.45 37.35 A2B5 37.10 38.05 37.57 A2B6 37.20 38.00 37.60 A3B1 32.50 32.75 32.62 A3B2 35.65 36.15 35.90 A3B3 36.10 35.75 35.92 A3B4 36.40 36.80 36.60 A3B5 35.00 37.05 36.02 A3B6 37.10 37.45 37.27 Keterangan : A1 : Suhu 70 °C A2 : Suhu 80 °C A3 : Suhu 90 °C
B1 : Lama Pemanasan 1 hari B2 : Lama Pemanasan 2 hari B3 : Lama Pemanasan 3 hari B4 : Lama Pemanasan 4 hari B5 : Lama Pemanasan 5 hari B6 : Lama Pemanasan 6 hari
B. Analisa Ragam (ANOVA) Nilai Tegangan Permukaan MES Akibat Pengaruh Suhu dan Lama Pemanasan
Sumber Variasi db JK RJK F- Hitung F- Tabel 0.05 0.01 Suhu (Ai) 2 56.258 28.129 69.802** 3.55 6.01 Lama Pemanasan (Bj) 5 34.884 6.977 17.313** 2.77 4.25 Interaksi (AiBj) 10 11.835 1.183 2.397 2.41 3.51 Error 18 7.254 0.403 Total 35 110.231 Keterangan : * : Berpengaruh Nyata (α = 0.05)
** : Berpengaruh Sangat Nyata (α = 0.01) C. Hasil uji Duncan untuk faktor Suhu
Perlakuan N Rata-Rata Kelompok Duncan
A3 (90 °C) 12 35.7250 A
A2 (80 °C) 12 36.9750 B
A1 (70 °C) 12 38.7708 C
D. Hasil uji Duncan untuk faktor Lama Pemanasan
Perlakuan N Rata-Rata Kelompok Duncan
B1 (1 hari) 6 35.3917 A B2 (2 hari) 6 36.7083 B B3 (3 hari) 6 37.1583 BC B5 (5 hari) 6 37.3500 BC B4 (4 hari) 6 37.7083 C B6 (6 hari) 6 38.6250 D
• Huruf pengelompokkan Duncan yang sama menunjukkan fakor tidak
berbeda nyata
• Huruf pengelompokkan Duncan yang tidak sama menunjukkan faktor
Lampiran 5. Data Hasil Penelitian, Analisis Ragam dan Uji Lanjut Duncan Uji Tegangan Permukaan MES dalam kondisi Salinitas
A. Rekapitulasi data Tegangan Permukaan MES dalam kondisi Salinitas
Perlakuan Tegangan Permukaan (Dyne/cm)
Ulangan 1 Ulangan 2 Rataan
C1 34.75 34.10 34.42
C2 35.2 35.95 35.57
C3 36.2 36.00 36.10
B. Analisa Ragam Nilai Tegangan Permukaan MES Akibat kondisi Salititas
Sumber Variasi db JK RJK F- Hitung F- Tabel 0.05 0.01 Salinitas (Ci) 2 2.936 1.468 8.593 9.55 30.30 Error 3 0.512 0.171 Total 5 3.448
Lampiran 6. Data Hasil Penelitian, Analisis Ragam dan Uji Lanjut Duncan Uji Tegangan Permukaan MES dalam kondisi Kesadahan
A. Rekapitulasi data Tegangan Permukaan MES dalam kondisi Kesadahan
Perlakuan Tegangan Permukaan (Dyne/cm)
Ulangan 1 Ulangan 2 Rataan
D1 35.25 35.00 35.12
D2 36.30 36.50 36.40
D3 37.00 37.65 37.32
B. Analisa Ragam Nilai Tegangan Permukaan MES Akibat kondisi Kesadahan
Sumber Variasi db JK RJK F- Hitung F- Tabel 0.05 0.01 Kesadahan (Di) 2 4.841 2.420 19.759* 9.55 30.30 Error 3 0.367 0.122 Total 5 5.208 Keterangan : * : Berpengaruh Nyata (α = 0.05)
** : Berpengaruh Sangat Nyata (α = 0.01)
C. Hasil uji Duncan untuk faktor Kesadahan
Perlakuan N Rata-Rata Kelompok Duncan
D1 (100 ppm) 2 35.1250 A
D2 (300 ppm) 2 36.2500 B
D3 (500 ppm) 2 37.3250 B
• Huruf pengelompokkan Duncan yang sama menunjukkan fakor tidak
berbeda nyata
• Huruf pengelompokkan Duncan yang tidak sama menunjukkan faktor
Lampiran 7. Data Hasil Penelitian, Analisis Ragam dan Uji Lanjut Duncan Uji Tegangan Antarmuka MES
A. Rekapitulasi Data Nilai Tegangan Antarmuka dalam Pengaruh Suhu dan Lama Pemanasan
Perlakuan Ulangan 1 Tegangan Antarmuka (Dyne/cm) Ulangan 2 Rataan
A1B1 17.15 18.40 17.77 A1B2 18.20 18.90 18.55 A1B3 18.90 18.90 18.90 A1B4 19.10 19.00 19.05 A1B5 19.35 19.20 19.27 A1B6 19.00 20.45 19.72 A2B1 15.30 15.50 15.40 A2B2 18.15 18.00 18.07 A2B3 18.40 18.20 18.30 A2B4 18.40 18.30 18.35 A2B5 18.50 18.40 18.45 A2B6 20.00 19.10 19.55 A3B1 18.05 18.00 18.02 A3B2 18.80 18.35 18.57 A3B3 18.90 19.20 19.05 A3B4 19.25 20.00 19.62 A3B5 20.05 20.80 20.42 A3B6 20.70 20.90 20.80
B. Analisa Ragam Nilai Tegangan Antarmuka MES Akibat Pengaruh Suhu dan Lama Pemanasan Sumber Variasi db JK RJK F- Hitung F- Tabel 0.05 0.01 Suhu (Ai) 2 11.896 5.948 32.542** 3.55 6.01 Lama Pemanasan (Bj) 5 30.280 6.056 33.133** 2.77 4.25 Interaksi (AiBj) 10 4.847 0.485 2.652* 2.41 3.51 Error 18 3.290 0.183 Total 35 50.312 Keterangan : * : Berpengaruh Nyata (α = 0.05)
C. Hasil uji Duncan untuk faktor Suhu
Perlakuan N Rata-Rata Kelompok Duncan
A2 (80 °C) 12 18.0208 A
A1 (70 °C) 12 18.8792 B
A3 (90 °C) 12 19.4167 C
D. Hasil uji Duncan untuk faktor Lama Pemanasan
Perlakuan N Rata-Rata Kelompok Duncan
B1 (1 hari) 6 17.0667 A B2 (2 hari) 6 18.4000 B B3 (3 hari) 6 18.7500 BC B4 (4 hari) 6 19.0083 CD B5 (5 hari) 6 19.3833 D B6 (6 hari) 6 20.0250 E
• Huruf pengelompokkan Duncan yang sama menunjukkan fakor tidak
berbeda nyata
• Huruf pengelompokkan Duncan yang tidak sama menunjukkan faktor
Lampiran 8. Data Hasil Penelitian, Analisis Ragam dan Uji Lanjut Duncan Uji Tegangan Antarmuka MES dalam kondisi Salinitas
A. Rekapitulasi data Tegangan Antarmuka MES dalam kondisi Salinitas
Perlakuan Tegangan Permukaan (Dyne/cm)
Ulangan 1 Ulangan 2 Rataan
C1 16.80 15.70 16.25
C2 18.05 18.00 18.02
C3 19.15 19.20 19.17
B. Analisa Ragam Nilai Tegangan Antarmuka MES Akibat kondisi Salititas
Sumber Variasi db JK RJK F-Hitung F- Tabel 0.05 0.01 Salinitas (Ci) 2 8.686 4.343 21.447* 9.55 30.30 Error 3 0.608 0.203 Total 5 9.293 Keterangan : * : Berpengaruh Nyata (α = 0.05)
** : Berpengaruh Sangat Nyata (α = 0.01) C. Hasil uji Duncan untuk faktor Salinitas
Perlakuan N Rata-Rata Kelompok Duncan
C1 (10000 ppm) 2 16.2500 A
C2 (20000 ppm) 2 18.0250 B
C3 (30000 ppm) 2 19.1750 B
• Huruf pengelompokkan Duncan yang sama menunjukkan fakor tidak
berbeda nyata
• Huruf pengelompokkan Duncan yang tidak sama menunjukkan faktor
Lampiran 9. Data Hasil Penelitian, Analisis Ragam dan Uji Lanjut Duncan Uji Tegangan Antarmuka MES dalam kondisi Kesadahan
A. Rekapitulasi data Tegangan Antarmuka MES dalam kondisi Kesadahan
Perlakuan Tegangan Antarmuka (Dyne/cm)
Ulangan 1 Ulangan 2 Rataan
D1 18.00 16.80 17.40
D2 18.35 18.20 18.27
D3 19.00 18.90 18.95
B. Analisa Ragam Nilai Tegangan Antarmuka MES Akibat kondisi Kesadahan
Sumber Variasi db JK RJK F-Hitung F- Tabel 0.05 0.01 Kesadahan (Di) 2 2.416 1.208 4.922 9.55 30.30 Error 3 0.736 0.245 Total 5 3.152
AANG ZEN. F34104088. Pengaruh Suhu, Lama Pemanasan, Salinitas dan Kesadahan Terhadap Kinerja Surfaktan Metil Ester Sulfonat (MES) Dari Olein Sawit. Di bawah bimbingan Erliza Hambali. 2009.
RINGKASAN
Surfaktan merupakan suatu zat yang bersifat aktif permukaan yang dapat menurunkan tegangan antarmuka (interfacial tension) antara dua bahan baik berupa cairan-cairan, cairan-padatan atau cairan-gas. Sifat aktif permukaan yang dimiliki surfaktan memungkinkan dua atau lebih senyawa yang saling tidak bercampur pada kondisi normal menjadi bertedensi untuk saling bercampur homogen.
Surfaktan metil ester sulfonat (MES) adalah salah satu jenis surfaktan anionik yang dapat menurunkan tegangan permukaan dan tegangan antarmuka minyak dan air. Metil ester sulfonat digolongkan ke dalam surfaktan anionik karena surfaktan ini bermuatan negatif pada gugus hidrofiliknya yang bersifat aktif terhadap permukaan.
Sintesis metil ester sulfonat dapat dilakukan melalui proses kimiawi metil ester sebagai bahan baku dengan reaktan gas SO3. Persiapan sampel pada
penelitian ini dilakukan dengan mereaksikan metil ester dengan gas SO3 pada
suhu reaksi 80 °C dengan lama reaksi 2 jam. Proses sulfonasi pada penelitian ini menggunakan single tube falling film reactor. Laju alir metil ester yang masuk ke dalam reaktor adalah 100 ml/menit. Surfaktan MES yang dihasilkan berwarna gelap sehingga dilakukan proses pemurnian yang meliputi proses pemucatan dan netralisasi.
Berdasarkan hasil analisis terhadap surfakan MES murni yang digunakan dalam penelitian ini diketahui bahwa surfaktan MES memiliki beberapa parameter seperti pH 6.69, bilangan asam 5.92 mg KOH/g MES, bilangan iod 33.99 mg I2/g
MES, kadar bahan aktif 7.23 %, densitas 0.9803 g/cm3, tegangan permukaan (konsentrasi MES 1 % (v/v)) 32.37 dyne/cm dan tegangan antarmuka (konsentrasi MES 1 % (v/v)) 12.25 dyne/cm.
Penelitian terbagi kedalam tiga bagian penelitian. Hal ini disebabkan surfaktan yang dihasilkan kemungkinan akan digunakan untuk aplikasi yang berbeda. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan Acak Lengkap Faktorial dengan dua kali pengulangan. Perlakuan yang digunakan adalah faktor suhu pemanasan dengan taraf 70, 80 dan 90 °C dan lama pemanasan dengan taraf 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 hari. Faktor salinitas memiliki taraf 10.000 ppm, 20.000 ppm dan 30.000 ppm dan faktor kesadahan memiliki taraf 100 ppm, 300 ppm dan 500 ppm.
Uji kinerja surfaktan MES yang diproduksi dengan reaktan gas SO3
menunjukkan bahwa kinerja surfakan MES mengalami penurunan dengan meningkatnya suhu dan lama pemanasan, tingkat salinitas dan kesadahan.
Berdasarkan hasil pengukuran nilai tegangan permukaan dan tegangan antarmuka, menunjukkan bahwa kinerja surfaktan MES dipengaruhi oleh suhu dan lama pemanasan. Faktor suhu dan lama pemanasan memberikan pengaruh positif terhadap kenaikan nilai tegangan permukaan dan tegangan antarmuka. Dimana, nilai tegangan permukaan meningkat dari 32.62 dyne/cm menjadi 41.00 dyne/cm dan nilai tegangan antarmuka dari 15.40 dyne/cm menjadi 20.80
dyne/cm. Demikian pula peningkatan salinitas dan kesadahan mempengaruhi kinerja surfaktan MES dalam menurunkan tegangan permukaan dan tegangan antarmuka. Pada faktor salinitas meningkatkan nilai tegangan permukaan dari 34.42 dyne/cm menjadi 36.10 dyne/cm dan nilai tegangan antarmuka dari 16.25 dyne/cm menjadi 19.17 dyne/cm. Kinerja surfaktan MES akibat faktor kesadahan cenderung mengalami penurunan. Dimana nilai tegangan pernukaan dan nilai tegangan antarmuka semakin besar. Nilai tegangan permukaan akibat kesadahan meningkat dari 35.12 dyne/cm menjadi 37.32 dyne/cm dan nilai tegangan antarmuka dari 17.40 dyne/cm menjadi 18.95 dyne/cm.
AANG ZEN. F34104088. Effect of Temperature, Heating Time, Salinity and Water Hardness Against Surfactant Methyl Ester Sulfonate (MES) Performance From Palm Olein. Supervised by Erliza Hambali. 2009.
SUMMARY
Surfactant is surface active agent that can reduce interfacial tension between of two material as liquid-liquid, liquid-solid or liquid-gas. Surface active agent of surfactant made two or more compound that unmixed on normal condition being each mainstream homogeneous mixed.
Surfactant methyl ester sulfonate (MES) is one of anionic surfactant that can reduce surface tension and interfacial tension oil and water. Methyl ester sulfonate classed to anionic surfactant because of negative content on hydrophylic group which surface active characteristic.
Syntheses of Methyl ester sulfonate can be carried out on the chemical process methyl ester as raw material with SO3 gas as reactant. Sample preparation
on this research by reacting methyl ester with SO3 gas on temperature reaction 80
°C with reaction time 2 hours. Sulfonation process of the research using single tube falling film reactor. Methyl ester feed to the reactor is 100 ml/minute. Surfactant MES produced was darkly colored with the result to purification process including bleaching and neutralization.
Based on variance analysis of purified MES used on this research known that surfactant MES have some parameter as pH 6.69, acid value 5.92 mg KOH/g MES, iodine value 33.99 mg I2/g MES, active matter 7.23 %, density 0.9083
g/cm3, surface tension (MES concentration 1 % (v/v)) 32,37 dyne/cm and interfacial tension (MES concentration 1 % (v/v)) 12.25 dyne/cm.
The research is divided three parts of research. It caused by surfactant that produced may be used on difference application. This research used factorial completely randomized design with two replication. The treatment used are temperature with levels 70, 80 and 90 °C and heating time with levels 1, 2, 3, 4, 5, and 6 days. Factor of salinity with levels 10.000 ppm, 20.000 ppm and 30.000 ppm and factor of water hardness with levels 100 ppm, 300 ppm and 500 ppm.
Performance test of surfactant MES with SO3 gas reactant produced
describe that performance of surfactant MES is decreased with increase of temperature and heating time, salinity and water hardness.
Based on the result of surface tension and interfacial tension value, showing that surfactant MES performance is impacted by temperature and heating time. Temperature and heating time factors give the positive impact to increase surface and interfacial tension value. Which is surface tension value 32.62 dyne/cm up to 41.00 dyne/cm and interfacial tension value 15.40 dyne/cm up to 20.80 dyne/cm. Such was the case increase of salinity and water hardness impact the performance of surfactant MES on reduce surface and interfacial tension. Salinity factor increase surface tension value from 34.42 dyne/cm up to 36.10 dyne/cm and interfacial tension value from 16.25 dyne/cm up to 19.17 dyne/cm. surfactant MES performance impacted by water hardness was decreased. Which is surface tension and interfacial tension value increased. Surface tension value by water hardness was increase from 35.12 dyne/cm to 37.32 dyne/cm and interfacial tension value from 17.40 dyne/cm up to 18.95 dyne/cm.