• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. ANALISIS SITUASIONAL

3.2. ANALISIS SWOT

3.2.3. Penelitian

Sejalan dengan visi IPB sebagai universitas riset maka kegiatan (program) penelitian adalah bagian penting dari FATETA untuk menemukan, menghasilkan dan mengembangkan ilmu dan teknologi. Perjalanan panjang yang telah dilewati melalui penguatan sumberdaya manusia, pendanaan, kompetisi dan kerjasama kelembagaan telah menghantarkan FATETA sebagai lembaga penelitian yang memiliki kekuatan nyata dan kesempatan luas untuk berkembang. Bersamaan dengan itu, berbagai kelemahan dan ancaman masih memerlukan perhatian khusus. Tabel 4. merangkum kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman bersamaan dengan strategi penguatan yang diperlukan.

Page | 34 Tabel 4. Matriks SWOT Penelitian FATETA

Faktor Internal

Faktor Eksternal

KEKUATAN 1. Kualifikasi dan pengalaman

sumberdaya manusia yang tinggi.

2. Fasilitas penelitian memadai.

3. Jejaring kerjasama penelitian yang kuat.

4. Jumlah dan ragam topik penelitian yang berkembang.

5. Keragaman komoditas pertanian.

KELEMAHAN

1. Penelitian parsial dan berbasis individu.

2. Fasilitas menyebar dan dikuasai laboratorium atau individu.

3. Jaringan dengan pihak swasta terbatas.

4. Topik penelitian terpadu sangat terbatas.

5. Produksi pertanian tidak efisien (skala teknis dan ekonomis).

6. Penerapan teknologi terbatas pada sektor pertanian.

7. Produksi pertanian belum memenuhi kebutuhan pangan.

PELUANG

1. Pemanfaatan sumberdaya pertanian masih terbatas.

2. Pasar dalam negeri dan dunia untuk hasil olahan pertanian masih luas.

3. Perkembangan ilmu dan teknologi mendukung penelitian.

4. Pendanaan penelitian oleh pemerintah, swasta dan masyarakat berkembang.

5. Plasma nuftah pertanian yang sangat kaya.

6. Sektor pertanian masih menjadi andalan nasional.

SO-Strategies (1) Optimasi pemanfaatan SDM

penelitian yang fokus pada komoditas strategis.

(2) Integrasi dan pembentukan jejaring (SIM) peralatan penelitian lintas laboratorium dan departemen.

(3) Penguatan jejaring untuk bekerjasama dengan swasta, pemerintah,dan masyarakat dalam menghasiltan teknologi tepat guna.

(4) Pengembangan topik penelitian terpadu lintas departemen.

WO-Strategies

(1) Pengembangan penelitian terpadu untuk menghasilkan teknologi siap terap dalam pemenfaatan hasil pertanian.

(2) Pengembangan manajemen fasilitas untuk mendukung penelitian terpadu.

(3) Peningkatan jumlah penelitian terpadu dengan memanfaatkan sumberdana yang tersedia.

(4) Pengembangan dan penerapan teknologi produksi pertanian untuk perbaikan produktivitas pada skala kecil.

(5) Pengembangan pangan pokok non beras dan terigu.

Page | 35 ANCAMAN

1. Penggunaan paket teknologi murah dari luar negeri.

2. Masuknya produk olahan pertanian murah.

3. Globalisasi pasar dunia dapat mendominasi pasar komoditas luar di dalam negeri.

4. Perubahan kebijakan pemerintah terhadap proteksi produk-produk barang pokok menurun.

5. Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.

6. Beredarnya secara luas (bahan) pangan tidak aman (palsu dan penggunaan pengawet berbahaya)

ST-Strategies

(1) Pengembangan litbang teknologi yang kompetitif.

(2) Optimasi pengolahan hasil pertanian berorientasi substitusi.

(3) Pembentukan nilai produk olahan hasil pertanian.

(4) Penyusunan kebijakan teknologi pertanian yang pro pada penguatan produk pokok lokal.

(5) Pengembangan teknologi pertanian adaptif dan ramah lingkungan.

(6) Pengembangan pangan aman dan pengawasan bahan pangan tidak aman

WT-Strategies

(1) Pengembangan penelitian terpadu untuk menghasilkan teknologi tepat terap.

(2) Pengembangan penelitian untuk

peningkatan dayasaing produk olahan lokal.

(3) Peningkatan jejaring penelitian dengan swasta untuk meningkatkan penguasaan pasar lokal.

(4) Peningkatan penelitian penerapan teknologi pada produksi pertanian.

Page | 36 Strategi Riset

Berbasis pada kekuatan-kelemahan dan peluang ancaman tersebut, maka disusun strategi penelitian untuk mengoptimalkan pemanfaatan kekuatan dan kesempatan dengan mimimalkan kelemahan dan ancaman. Strategi berikut ini dimaksudkan sebagai panduan dalam pengembangan penelitian di lingkungan FATETA dengan mempertimbangkan visi dan misi serta karakter kewirausahaan yang harus melekat pada semua aktivitas akademik.

(1) Pengembangan penelitian terpadu untuk menghasilkan teknologi siap terap dalam pemanfaatan dan eksplorasi hasil pertanian.

Penelitian terpadu ini dirancang dan dilaksanakan dengan memperhatikan, mempertimbangkan dan mencakup perihal sebagai berikut:

a. Optimasi pemanfaatan SDM penelitian yang fokus pada komoditas strategis,

b. Pengembangan topik penelitian terpadu lintas departemen,

c. Peningkatan jumlah penelitian terpadu dengan memanfaatkan sumber dana yang tersedia,

d. Pengembangan pangan pokok non beras dan terigu, e. Pengembangan litbang teknologi yang kompetitif,

f. Penyusunan kebijakan teknologi pertanian yang pro pada penguatan produk pokok pangan dan

g. Pengembangan penelitian terpadu untuk menghasilkan teknologi tepat terap

(2) Pengembangan manajemen fasilitas untuk mendukung penelitian terpadu.

Penggunaan peralatan secara terpadu melalui kerjasama penelitian dapat meningkatkan kapasitas, mutu dan jumlah penelitian terpadu. Pada tingkat operasional, sistem pengelolaan alat dan fasilitas terpadu perlu dikembangkan dengan membangun Sistem Informasi Manajemen (SIM) dan prosedur penggunaannya.

(3) Peningkatan jejaring penelitian dengan pihak swasta untuk meningkatkan penguasaan pasar lokal

Fokus pada penguasaan pasar dalam negeri untuk produk olahan hasil pertanian dalam kurun lima tahun ke depan mempunyai nilai strategis yang tinggi. Pembangkitan dan penguatan kerjasama dengan semua pemangku kepentingan swasta (industri hulu, eksportir, industri pengolahan) pemerintah dan masyarakat luas perlu dikembangkan sehingga penelitian menghasilkan manfaat ganda. Orientasi penelitian adalah menghasilkan teknologi tepat guna yang siap diterapkan oleh swasta yang didukung oleh pemerintah untuk susbstitusi impor dan pengembangan produk baru yang komplementer.

Page | 37 (4) Pengembangan dan penerapan teknologi produksi pertanian untuk

perbaikan produktivitas pada skala kecil

Persoalan produktivitas dan efisiensi di sektor hulu (produksi pertanian) menjadi penyebab pokok lemahnya daya kompetitif produk pertanian dan hasil olahannya di pasar lokal, regional dan internasional. Hal ini, terutama terkait dengan skala teknis dan ekonomis usaha tani yang secara relatif dan absolut sangat kecil. Perbaikan produktivitas dan perbaikan efisiensi memerlukan teknologi yang secara khusus dapat diterapkan pada skala usaha kecil. Oleh karena itu, pengembangan teknologi dan peralatan yang sesuai untuk usaha tani skala kecil mempunyai nilai strategis yang tinggi.

Pengembangan pertanian skala kecil semakin sulit dilakukan dalam era kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Dengan demikian perbaikan produktivitas dan efisiensi usaha tani berskala kecil tidak akan berhasil bila dilepaskan dari perusakan lingkungan dan perubahan iklim. Penelitian harus mencakup: (i) pengembangan teknologi pertanian adaptif dan ramah lingkungan, dan (ii) peningkatan penelitian penerapan teknologi pada produksi pertanian.

(5) Pembentukan nilai produk olahan hasil pertanian

Pengembangan pengolahan untuk pembentukan nilai tambah sudah menjadi keharusan dan telah dilakukan oleh negara lain seperti Thailand dan Philipina.

Jika orientasi penelitian hanya terbatas pada pembentukan nilai tambah maka komoditas pertanian Indonesia dan produk olahannya tidak akan mampu bersaing. Lebih dari itu, penelitian harus berorientasi pada pembentukan nilai yang melebihi nilai tambah yang dapat dihasilkan (creating value beyond added value).

(6) Pengembangan industri pertanian tertutup (Closed System of Agroindustry)

Pengembangan industri (termasuk agroindustri) di masa depan akan dibatasi oleh ketersediaan energi (terutama fosil) dan air (perubahan iklim dan pencemaran air baku). Industri (pengolahan hasil) pertanian memerlukan banyak tahapan proses yang melibatkan air dan membutuhkan energi besar.

Sistem tertutup agroindustri adalah industri pengolahan hasil pertanian yang menjadikan bahan baku sebagai penghasil produk (yang diinginkan) sekaligus penghasil air dan energi untuk memenuhi kebutuhan dalam pengolahan dan pengelolaan industri tersebut.

3.2.2. Kerjasama

Kerjasama merujuk pada keterlibatan proaktif dosen, staf kependidikan dan mahasiswa dengan individu atau lembaga di luar kampus yang dirancang memberikan dampak pada dunia di luar kampus, baik lokal maupun global.

Kerjasama dikaitkan dan menyangkut pada berbagai aktivitas dosen, staf kependidikan dan mahasiswa yang memberikan kontribusi nyata bagi isu-isu lokal,

Page | 38 regional dan global seperti masalah kelestarian alam, kemiskinan dan gizi masyarakat. Aktivitas tersebut dapat berupa kegiatan akademik (misalnya exchange students, dual program), penelitian (misalnya riset bersama) maupun pengabdian masyarakat (misalnya berpartisipasi dalam temu wicara atau menyelenggarakan seminar dan lokakarya internasional). Perhatian terhadap kerjasama sebagai suatu misi merupakan langkah penting untuk membawa FATETA ke taraf internasional.

Tabel 5. memperlihatkan kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman bersamaan dengan strategi penguatan yang diperlukan.

Strategi Kerjasama

Berbasis pada kekuatan-kelemahan dan peluang ancaman yang mewarnai kemajuan FATETA maka disusun strategi kerjasama untuk mengotimalkan pemanfaatan kekuatan dan kesempatan dan mimimalkan kelemahan dan ancaman.

Strategi tersebut meliputi penguatan internal dan pengembangan eksternal yaitu:

(1) Menjadikan kerjasama sebagai suatu kekhasan di bidang pendidikan. FATETA mempunyai kapasitas untuk menggabungkan kegiatan kerjasama dengan program pendidikan dan penelitian karena faktor sejarah dan pengalaman.

Pengintegrasian dasar-dasar ilmu serta penerapan teknologi di bidang pertanian menjadi program unggulan bagi kerjasama FATETA.

(2) Merancang konsep dan membangun visi terpadu kerjasama FATETA khususnya dengan dunia internasional. Program pendidikan, penelitian dan kerjasama masih terfragmentasi. Oleh karena itu, pengembangan kerjasama akan selalu dikaitkan dengan pendidikan dan penelitian. Administrasi pengelolaan kerjasama dirancang sesederhana mungkin untuk mendukung semangat “akar-rumput”.

(3) Mengembangkan evaluasi yang sistematik dan akurat bagi program-program kerjasama. Berdasarkan strategi 1 dan 2, ada kebutuhan untuk menginventarisasi dan mengkaji berbagai kegiatan kerjasama di fakultas.

Kajian ini dilakukan untuk mengembangkan konsep terpadu kerjasama di fakultas serta membantu mengidentifikasi peluang-peluang baru kerjasama.

Pendekatan menyeluruh bagi kajian ini serta kriteria penilaiannya merupakan hal yang penting.

(4) Bagi individu dan institusi di luar, daya tarik untuk melaksanakan kerjasama dengan FATETA berasal dari keunggulan program pendidikan dan penelitian serta kapasitas fakultas dan bidang keahlian dosennya. Hal ini diperlukan untuk membangun dan mempertahankan reputasi kerjasama dengan pihak luar.

Kerjasama yang menekankan ikatan pada penelitian dan pendidikan di kampus merupakan cara penting membangun kualitas kerjasama. Hal ini seyogyanya menjadi prinsip arahan dan kunci kriteria bagi kajian yang diusulkan pada strategi 3.

(5) Meningkatkan kemitraan dan kolaborasi yang lebih kuat antara fakultas dan stakeholder yang dapat memperkuat penelitian (misalnya dengan kalangan bisnis, lembaga swadaya masyarakat dan pemerintahan). Mitra dengan

Page | 39 stakeholders merupakan cara penting bagi fakultas untuk mengidentifikasi masalah terkait kebijakan dan secara efektif membawa keahlian dosen untuk mengatasinya. Program kerjasama yang kuat cenderung memerlukan interaksi dua arah yang efektif antara peneliti dan stakeholder.

Page | 40 Tabel 5. Matriks SWOT Kerjasama FATETA

Faktor Internal

Faktor Eksternal

KEKUATAN 1. Kualifikasi dan pengalaman

sumberdaya manusia yang tinggi.

2. Fasilitas penelitian memadai.

3. Jejaring kerjasama penelitian yang kuat.

4. Jumlah dan ragam topik penelitian yang berkembang.

5. Keragaman komoditas pertanian.

KELEMAHAN 1. Kerjasama masih berbasis individu.

2. Fasilitas menyebar dan dikuasai laboratorium atau individu.

3. Jaringan dengan pihak swasta terbatas.

4. Topik penelitian terpadu sangat terbatas.

5. Kurang promosi.

6. Kontent yang dikerjasamakan belum ada yang siap.

7. Kurang responsif dan memahami problem pasar.

PELUANG

1. Pemanfaatan sumberdaya pertanian masih terbatas.

2. Pasar dalam negeri dan dunia untuk hasil olahan pertanian masih luas.

3. Perkembangan ilmu dan teknologi mendukung penelitian.

4. Pendanaan penelitian oleh pemerintah, swasta dan masyarakat berkembang.

5. Plasma nuftah pertanian yang sangat kaya.

6. Sektor pertanian masih menjadi andalan nasional 7. Produksi pertanian tidak efisien (skala teknis dan

ekonomis).

8. Penerapan teknologi terbatas pada sektor pertanian.

9. Produksi pertanian belum memenuhi kebutuhan pangan.

SO-Strategies

(1) Mengembangkan jaring kerjasama berdasarkan keunggulan keahlian dan peluang komoditas.

(2) Memprioritaskan kerjasama yang memadukan pendidikan dan penelitian.

(3) Bekerjasama dengan lembaga dan instansi pemerintah atau swasta untuk mengembangkan road map komoditas strategis.

WO-Strategies

(1) Bekerjasama dengan lembaga dan instansi pemerintah atau swasta terkait untuk mengembangkan road map program penelitian bersama bagi bidang komoditas strategis.

(2) Mengembangkan kerjasama penerapan teknologi lintas sektoral.

(3) Bekerjasama dengan pihak swasta untuk memasarkan hasil-hasil penelitian yang komersial.

Page | 41 ANCAMAN

1. Penggunaan paket teknologi murah dari luar negeri.

2. Masuknya produk olahan pertanian murah.

3. Globalisasi pasar dunia dapat mendominasi pasar komoditas luar di dalam negeri.

4. Perubahan kebijakan pemerintah terhadap proteksi produk-produk barang pokok menurun.

5. Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.

ST-Strategies

(1) Memfokuskan jaring kerjasama pada keunggulan keahlian dan peluang komoditas.

(2) Mengintegrasikan hasil-hasil penelitian untuk pendidikan.

(3) Membantu pemerintah membuat kebijakan yang terkait bidang pertanian berdasarkan kajian akademik.

WT-Strategies

(1) Bekerjasama dengan berbagai pihak guna menghasilkan teknologi murah dan massal terkait bidang pertanian.

(2) Bekerjasama dengan sektor lain untuk mengembangkan konsep green infrastruktur di bidang pertanian.

(3) Bekerjasama dengan pihak sektor lain mengembangkan konsep Land Improvement District sebagai pilot percontohan penerapan teknologi pertanian yang kompetitif.

Page | 42

PROGRAM STRATEGIS FATETA 2014-2018

4.1. PENDIDIKAN

Pemikiran Strategi Pendidikan FATETA

Bagi mahasiswa proses studi yang paling awal dan dominan dari tiga pilar Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian dan pemberdayaan masyarakat) adalah pendidikan, khususnya pada strata sarjana. Proses pendidikan adalah yang dominan dalam membangun karakter lulusan. Oleh karena itu, merancang dan mengembangkan proses pendidikan yang berkualitas menjadi faktor kritis dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas dan kompetitif. Empat dimensi pendidikan yang harus dibangun adalah sebagai berikut:

1. Pendidikan paradigmatik: menempatkan paradigma pertanian holistik dari hulu ke hilir sebagai satu kesatuan rantai proses utuh dan sinergis.

2. Pendidikan kreatif: membangun ide-ide kreatif dalam riset, problem-solving, inovasi, diseminasi solusi dan teknologi, dan kewirausahaan.

3. Pendidikan investigatif: membangun kemampuan riset yang berorientasi pada hasil-hasil riset unggulan fakultas dan universitas dan agenda riset unggulan serta perkembangan IPTEKS terkini (biosystem, bioinformatics, bio-sensor systems, smart agroindustry, nano-technology, intelligent and high precision systems for agriculture and agribusiness, environmental surveilannce systems, agricultural cyberspace systems, green technology, bio-informatics technology) serta publikasi riset

4. Pendidikan kolaboratif berbasis multi-disiplin, multi-konteks, multi-komoditi, multi-geografi, multi-strata (S1, S2, dan S3), student-exchange, internasionalisasi

Dengan pemikiran strategis tersebut disusun program strategik pendikan FATETA sebagai berikut:

(1) Penguatan pembelajaran berbantuan multi-platform (multi-platform aided learning): pembelajaran ini menggunakan beberapa sarana ruang kelas, laboratorium, lapangan percobaan, bengkel dan production plan, lokasi kasus nyata, teknologi informasi dan multimedia.

(2) Pengembangan tenaga pendidik dan kependidikan: pengembangan kuantitas dan kualitas SDM tenaga pendidik dan tenaga kependidikan secara periodik dan progresif untuk memperkuat kualitas proses pembelajaran.

(3) Penguatan e-learning berwawasan nasional dan internasional: penguatan pembelajaran hibrid menegintegrasikan pendidikan tatap muka (face-to-face) dengan pendidikan maya (e-learning) secara tepat untuk lebih mengoptimalkan proses pembelajaran, memperluas akses pembelajaran, dan membuka jejaring pembelajaran (internet worked learning).

(4) Pengembangan fasilitas pendidikan multi-guna dan bagi-guna: fasilitas (sarana-dan prasarana) pendidikan perlu diperkuat dan dikembangkan sesuai

Page | 43 dengan perkembangan IPTEKS dengan memaksimalkan bagi-guna sumberdaya (resource sharing) intra dan antar institusi.

(5) Penguatan manajemen pendidikan berakreditasi nasional dan internasional: penguatan manajemen pendidikan yang berstandar nasional dan internasional dengan pengendalian dan penjaminan mutu yang handal.

(6) Pengembangan rumpun ilmu: sejarah FATETA bermula dari dua departemen hingga menjadi empat departemen terkemudi oleh dinamika perkembangan bidang IPTEKS dan kebutuhan kajian strategis yang memerlukan spesialisasi yang lebih mendalam. Sumberdaya sarana dan prasarana serta SDM perlu dioptimalkan pendayagunaannya untuk pengembangan rumpun ilmu yang strategis diperlukan. Bidang teknologi pertanian perlu memberikan kontribusi yang menyeluruh tidak saja pada mata-rantai pra-panen namun juga pada mata rantai pasca-panen yang masih terbuka luas kajiannya. Untuk itu ke depan pengembangan rumpun ilmu di FATETA perlu terus dikaji dan diberikan ruang pengembagannya untuk terus menjawab tantangan saat ini dan mendatang.

Pendirian Departemen Teknik Sipil dan Departemen Teknik Lingkungan secara terpisah akan mendapat perhatian.

Pengembangan Karakter Kewirausahaan

Faktor sukses berikut dapat dijadikan acuan penguatan dan sinergi organisasi FATETA yang memiliki:

(a). Manajemen inti kuat (strengthened core steering): lembaga pendidikan mempunyai pusat manajemen yang kuat dengan tingkat otonomi yang tinggi baik terpusat atau terdesentralisasi.

(b). Kerjasama yang luas (enhanced developmental periphery): hubungan melebihi batas tradisional antara akademik dan industri (saling menguntungkan).

(c). Sumber dana beragam (diversified base funding): sumber utama pemerintah, industri dan sektor swasta berimbang.

(d). Stimulasi pusat kegiatan (stimulated academic heartland): fungsi pokok di setiap bagian dan departemen berjalan dengan nilai tradisional tetapi harus menyesuaikan dengan kebijakan puncak. Karakter kewirausahaan menjadi penciri proses pendidikan, penelitian dan diseminasi temuan secara luas.

(e). Budaya wirausaha terpadu (integrated entrepreneurial culture): empat faktor sebelumnya adalah pembangun dan pendorong tumbuhnya perubahan nilai akademis lembaga pendidikan menuju ke karakter baru (kewirausahaan).

Karakter ini harus didefinisikan, disosialisasikan dan difasilitasi sehingga terbentuk atmosfer wirausaha bagi semua sivitas akademik.

Beberapa program strategik kewirausahaan mencakup kegiatan-kegiatan berikut:

(a). Membangun jiwa wirausaha mahasiswa dari semua bidang (entrepreneurship education).

Page | 44 (b). Pelatihan pengusaha untuk membangun dan mengembangkan usahanya

(enterprenuer training and service center).

(c). Melaksanakan kegiatan dalam konteks kewirausahaan (mengorganisasikan inkubator usaha, technopark, dan sebagainya).

(d). Pengembangan cyber extension untuk edukasi & diseminasi pada masyarakat luas seperti pengusaha agrorindustri, praktisi, petani.

(e). Pengembangan Technopark sebagai ujung tombak komersialisasi temuan penelitian (teknologi) perlu membangun kekuatan berbasis integrasi penelitian departemen.

4.2. PENELITIAN

Riset strategis disusun berdasarkan dinamika internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan ancaman) serta karakter kewirausahaan.

Oleh karena itu orientasi penyusunan diutamakan pada pemanfaatan kekuatan dan peluang riset untuk menghasilkan IPTEKS dalam perspektif ketahanan pangan, penguatan industri hilir, aplikasi teknologi pertanian skala kecil serta peningkatan pengembangan paket teknologi siap terap.

(1) Pengembangan penelitian terpadu untuk menghasilkan teknologi siap terap dalam pemanfaatan dan eksplorasi hasil pertanian

a) Pembentukan kelompok peneliti berbasis kelompok teknologi untuk melaksanakan penelitian terpadu lintas departemen.

b) Pengembangan nano teknologi untuk pengolahan hasil pertanian dalam rangka meningkatkan nilai tambah dan dayasaing.

c) Pengembangan paket teknologi pangan pokok non beras dan non terigu.

d) Pengembangan penelitian untuk menghasilkan teknologi tepat terap untuk pertanian skala kecil.

(2) Pengembangan manajemen fasilitas untuk mendukung penelitian terpadu a) Penyusunan basis data fasilitas, alat dan mesin pendukung penelitian

lingkup FATETA.

b) Pengembangan Standard Operational Procedure (SOP) penggunaan fasilitas dan peralatan penelitian.

c) Peningkatan penggunaan bersama fasilitas dan peralatan.

(3) Peningkatan jejaring penelitian dengan swasta untuk meningkatkan penguasaan pasar lokal

a) Pengembangan paket teknologi pengolahan hasil pertanian substitusi impor.

b) Pengembangan kerjasama dengan pemerintah dan importir produk hasil olahan pertanian.

(4) Pengembangan dan penerapan teknologi produksi pertanian untuk perbaikan produktivitas pada skala kecil

a) Penerapan teknologi, eletrifikasi, otomatisasi dan robotik pada luasan kecil.

Page | 45 b) Pengembangan irigasi hemat air dan lahan kering.

c) Pengembangan rancangan konsolidasi lahan.

d) Pengembangan konsep reformasi agrarian.

(5) Pembentukan nilai produk olahan hasil pertanian

a) Penelitian nilai fungsional produk olahan hasil pertanian.

b) Pengembangan pangan fungsional.

c) Pengembangan metode analisa kesehatan, pencemaran dan keamanan pangan.

(6) Pengembangan Industri Pertanian Tertutup (Closed System of Agroindustry)

a) Pengembangan konsep dan model sistem tertutup industri gula.

b) Pengembangan konsep dan model sistem tertutup industry kelapa sawit.

c) Pengembangan konsep dan model sistem tertutup industri beras.

d) Pengembangan konsep dan model sistem tertutup berbasis pati.

4.3. KERJASAMA

FATETA menggabungkan pengabdian masyarakat dan kerjasama dengan program pendidikan dan penelitian karena faktor sejarah dan pengalaman.

(1) Pengintegrasian dasar-dasar ilmu serta penerapan teknologi di bidang pertanian seyogyanya menjadi program unggulan FATETA.

a) Menjadikan program kerjasama dalam satu kesatuan dengan program pendidikan.

b) Memperkuat pelibatan mahasiswa dalam program kerjasama internasional FATETA.

c) Menguatkan hubungan alumni dan mahasiswa untuk melaksanakan kerjasama internasional (misalnya melalui pemagangan, mengundang alumni dalam mata kuliah, dan lain-lain).

d) Mengembangkan mekanisme kerjasama kelembagaan yang lebih baik untuk mengkoordinasi semua aktifitas sivitas dengan instansi di luar IPB terutama instansi internasional.

e) Mengembangkan manajemen inti yang kuat dalam pengelolaan kerjasama internasional

(2) Peningkatan keterkaitan yang lebih luas antara pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat dan kerjasama tanpa membentuk kelembagaan baru.

Memberikan penghargaan dan perhatian terhadap dosen yang telah melaksanakan kerjasama dengan pihak di luar kampus.

a) Mengembangkan mekanisme untuk meningkatkan interkoneksi antara berbagai program kerjasama, pelatihan dan penelitian tanpa membuat kelembagaan baru.

Page | 46 b) Mengembangkan portal web yang interaktif untuk menyiarkan berbagai

program kerjasama pendidikan dan penelitian.

c) Memanfaatkan dengan lebih baik berbagai media elektronik dan media lain untuk mendorong pengakuan dan penghargaan masyarakat terhadap pencapaian yang telah dilakukan fakultas.

d) Ambil bagian dengan kelompok atau patner dari lembaga internasional dalam mengkaji dan merencanakan kegiatan pengabdian.

(3) Inventarisasi, identifikasi dan pengembangan kerjasama terpadu

a) Mengembangkan kriteria untuk mengevaluasi program yang menitikberatkan pada kualitas, pentingnya bagi fakultas dan dampaknya bagi masyarakat.

b) Melibatkan komponen eksternal untuk mereview program secara regular.

c) Membuat mekanisme kelembagaan untuk mengumpulkan data dan informasi bagi kualitas dan dampak kerjasama dan melaksanakan evaluasinya.

(4) Membangun dan mempertahankan reputasi kerjasama dengan pihak luar.

a) Menekankan pada program kerjasama yang berbasis keilmuan dan memenuhi kebutuhan stakeholders.

b) Membuat tema penelitian yang menghubungkan program kerjasama dengan penelitian dan pendidikan di kampus.

c) Berinvestasi dan membangun program kerjasama yang memperkuat ikatan kerjasama dengan penelitian dan pendidikan di kampus, khususnya program-program yang dapat didanai oleh pihak luar khususnya lembaga atau badan atau perorangan internasional.

d) Mengembangkan kerjasama strategis antara program pendidikan di kampus dengan pihak luar terutama internasional.

(5) Memperkuat kemitraan dengan stakeholders

a) Menetapkan kebijakan yang jelas menyangkut HAKI dan transfer teknologi.

b) Meningkatkan mekanisme untuk memasarkan teknologi dan pengetahuan kepada kalangan bisnis dan industri.

c) Mendorong pengembangan kerjasama penelitian yang inovatif untuk tujuan komersial.

d) Mempererat kerjasama dengan Himpunan Alumni dalam rangka meningkatkan dan memperkuat dampak dari riset dosen bagi masyarakat.

e) Membuka peluang baru dengan lembaga pemerintah, industri dan swasta dalam rangka mendorong pengembangan ekonomi.

Page | 47

DAFTAR PUSTAKA

Clark BR. 1998. Creating Entrepreneurial Universities. Oxford: Pergamon.

Debackere K and Veugelers R. 2005. The role of academic technology transfer organizations in improving industry science links. Research Policy 34(3): 321–

342.

Dill D. 1995. University-industry entrepreneurship: The organization and management of American university technology transfer units. Higher

Dill D. 1995. University-industry entrepreneurship: The organization and management of American university technology transfer units. Higher

Dokumen terkait