BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Penelitian Terdahulu yang Relevan
2.4.5 Penelitian yang akan Dilakukan
Penelitian-penelitian terdahulu memiliki kesamaan dan perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan. Penelitian yang memiliki kesamaan banyak memberikan masukan untuk penelitian yang akan dilakukan. Kesamaan tersebut
berupa lokasi tempat penelitian dan alat analisis yang digunakan. Penelitian yang akan dilakukan memiliki kesamaan dengan penelitian Sasongko (2006) yaitu berupa lokasi tempat penelitian. Alat analisis yang digunakan pada penelitian yang akan dilakukan pada umumnya tidak jauh berbeda dengan penelitian tentang studi kelayakan finansial yang lainnya.
Penelitian Irwan (2008) memiliki kesamaan tentang komoditi dan topik penelitian dengan penelitian yang akan dilakukan. Perbedaan yang mendasar dengan penelitian yang akan dilakukan adalah bahwa penelitian yang akan dilakukan membahas kelayakan finansial khusus penggemukan ternak kambing dan domba, dan data yang digunakan berupa data historys perusahaan, sedangkan pada penelitian sebelumnya membahas kelayakan usahaternak domba rakyat dan data yang digunakan berupa data estimation. Dilihat dari segi pengusahaan dan manajemen ternak bahwa ternak kambing dan domba pada penelitian yang akan dilakukan dipelihara secara intensif melalui sistem kandang.
BAB III
KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Pengertian Studi Kelayakan Proyek
Menurut Kadariah (2001), Proyek adalah suatu kesatuan keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan manfaat (benefit), atau suatu aktivitas dimana dikeluarkan uang dengan harapan untuk mendapatkan hasil (return) diwaktu yang akan datang, dan yang dapat direncanakan, dibiayai dan dilaksanakan sebagai satu unit. Pendapat yang hampir sama juga dikemukan oleh Gray (1992), dan Gittinger (1986), mengemukakan tentang proyek yang bergerak dibidang pertanian adalah suatu kegiatan investasi yang mengubah sumber-sumber finansial menjadi barang-barang modal yang dapat menghasilkan keuntungan atau manfaat setelah beberapa periode waktu.
Studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (biasanya merupakan proyek investasi) dilaksanakan dengan berhasil (Husnan dan Suwarsono, 2000). Pengertian berhasil disini dapat diartikan berbeda-beda. Keberhasilan menurut pihak swasta lebih cenderung kearah manfaat ekonomis suatu investasi, sedangkan keberhasilan menurut pihak pemerintah atau lembaga-lembaga non profit lebih cenderung kearah manfaat yang bersifat sosial yang langsung dirasakan masyarakat luas.
Kriteria keberhasilan suatu proyek dapat dilihat dari manfaat investasi yaitu terdiri dari; manfaat ekonomis proyek terhadap proyek itu sendiri (manfaat finansial), manfaat proyek bagi negara tempat proyek itu dilaksanakan (manfaat ekonomi nasional), dan manfaat sosial proyek tersebut bagi masyarakat sekitar proyek tersebut.
Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), tujuan studi kelayakan proyek pertanian adalah untuk menghindari keterlanjuran modal yang terlalu besar untuk kegiatan yang ternyata tidak menguntungkan. Studi kelayakan akan memakan biaya, tetapi biaya tersebut relatif kecil apabila dibandingkan dengan resiko kegagalan suatu proyek yang menyangkut investasi dalam jumlah yang besar.
3.1.2 Aspek-aspek Studi Kelayakan Proyek
3.1.2.1 Aspek-aspek Non Finansial Studi Kelayakan
Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), sampai saat ini belum ada kesepakatan tentang aspek-aspek apa saja yang perlu diteliti dalam studi kelayakan. Hal ini bergantung pada besar kecilnya dana yang tertanam dalam investasi tersebut, tetapi umumnya penelitian akan dilakukan terhadap aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum.
1. Aspek Pasar
Aspek pasar mencakup struktur pasar, peluang pasar, dan strategi pemasaran yang akan dilaksanakan.
a. Struktur pasar. Struktur pasar dapat dibedakan atas pasar persaingan sempurna, pasar monopoli, pasar oligopoli dan pasar persaingan monopolistik (Kotler, 2002). Pasar persaingan sempurna adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dengan penawaran dimana jumlah produsen dan konsumen sedemikian rupa banyaknya dan tidak terbatas. Ciri-ciri pokok dari pasar persaingan sempurna adalah jumlah produsen dalam pasar sangat banyak, produk yang ditawarkan homogen, konsumen memahami sepenuhnya keadaan pasar, tidak ada hambatan untuk keluar masuk bagi setiap produsen, pemerintah tidak campur tangan dalam proses pembentukan harga, dan produsen hanya berperan sebagai price taker.
Pasar monopoli adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dan penawaran dimana hanya ada satu penjual atau produsen yang menguasai seluruh konsumen yang ada, tidak ada barang substitusi, produsen sebagai price meker, dan memiliki hambatan yang sangat kuat untuk memasuki pasar tersebut.
Pasar oligopoli adalah suatu bentuk interaksi permintaan dan penawaran dimana terdapat beberapa penjual atau produsen yang menguasai seluruh pangsa pasar yang ada. Ciri-ciri dari pasar oligopoli adalah: terdapat beberapa produsen yang menguasai pasar; barang yang diperjualbelikan homogen dengan adanya differentiated product; terdapat hambatan masuk yang cukup kuat bagi perusahaan di luar pasar untuk masuk ke dalam pasar; satu di antara para oligopolis merupakan price leader yaitu penjual yang memiliki pangsa
pasar yang terbesar dan penjual ini memiliki kekuatan yang besar dalam menetapkan harga dan para penjual lainnya mengikuti harga tersebut.
Pasar monopolistik adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dengan penawaran dimana terdapat sejumlah besar penjual yang menawarkan barang yang sama. Pasar monopolistik merupakan pasar yang memiliki sifat monopoli pada spesifikasi barangnya, sedangkan unsur persaingan pada banyak penjual yang menjual produk yang sejenis. Ciri-ciri dari pasar monopolistik adalah:
terdapat banyak produsen yang menguasai pasar, barang yang diperjualbelikan merupakan differentiated product, produsen memiliki kekuatan monopoli atas produk sendiri, untuk memenangkan persaingan setiap penjual aktif melakukan promosi atau iklan dan keluar masuk pasar relatif lebih mudah.
b. Peluang Pasar. Peluang pasar merupakan proporsi dari keseluruhan pasar potensial yang diharapkan dapat diraih oleh perusahaan yang terkait. Pasar potensial adalah keseluruhan jumlah produk yang mungkin dapat dijual dalam pasar tertentu dan pada periode tertentu pula. Peluang pasar dapat dilihat dari jumlah permintaan-permintaan yang ada terhadap suatu produk tertentu.
c. Strategi Pemasaran. Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), strategi pemasaran adalah berbagai usaha yang perlu dilakukan oleh produsen dalam mempengaruhi keputusan konsumen untuk melakukan pembelian hasil produksinya. Menurut Umar (2005), terdapat berbagai kegiatan yang harus dilalui oleh barang dan jasa sebelum sampai ke konsumen. Berbagai kegiatan tesebut disederhanakan menjadi empat kebijakan pemasaran yang dapat dikontrol yang disebut dengan marketing mix (bauran pemasaran). Bauran pemasaran merupakan alat yang dipergunakan untuk mempengaruhi konsumen untuk tertarik, senang lalu memberi dan merasakan kepuasan akan produk yang dipasarkan tersebut. Bauran pemasaran merupakan kombinasi dari empat strategi pemasaran yang terdiri dari strategi produk, strategi harga, strategi distribusi dan strategi promosi.
2. Aspek Teknis
Aspek teknis berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis dan pengoperasiannya setelah proyek tersebut selesai dibangun. Secara umum aspek teknis mencakup lokasi proyek, luasan produksi, dan layout perusahaan.
Menurut Husnan dan Muhammad (2000), variabel utama yang perlu mendapat perhatian dalam penentuan lokasi perusahaan adalah; ketersediaan bahan baku, letak pasar yang dituju, tenaga listrik dan air, supply tenaga kerja dan fasilitas transportasi.
Luasan produksi adalah jumlah produk yang seharusnya diproduksi untuk mencapai keuntungan yang optimum. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan luasan produksi yaitu batasan permintaan, persediaan mesin-mesin, jumlah dan kemampuan tenaga kerja pengelola proses produksi, kemampuan finansial dan manajemen. Berdasarkan jumlah tenaga kerja, perusahaan dapat dikelompokkan ke dalam 4 skala usaha, yaitu perusahaan besar (≥100 orang), sedang (20-99 orang), kecil (5-19 orang) dan rumah tangga (1-4 orang)16. Penggolongan perusahaan pengolahan ini hanya didasarkan pada banyaknya tenaga kerja, tanpa memperhatikan penggunaan mesin dan besarnya modal yang digunakan perusahaan. Layout perusahaan merupakan proses penentuan bentuk dan penempatan fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh perusahaan yang meliputi layout lahan lokasi perusahaan, layout bangunanan dan fasilitas pendukung lainnya.
3. Aspek Manajemen
Manajemen dalam pembangunan proyek berupa proses untuk merencanakan penyiapan secara fisik dan peralatan lainnya agar proyek dapat beroperasi tepat waktu, dan manajemen dalam operasi berupa pekerjaan dan persyaratan apa saja yang diperlukan agar proyek dapat beroperasi dan pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik, termasuk struktur organisasi, deskripsi jabatan, spesifikasi jabatan dan personil kunci.
4. Aspek Hukum
Terdiri dari bentuk badan usaha yang akan digunakan, izin usaha, akta, sertifikat dan perizinan lain yang diperlukan dalam menjalankan usaha serta peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
16 Badan Pusat Statistik. 2003.
3.1.2.2 Aspek Finansial Studi Kelayakan
Analisis finansial dalam studi kelayakan bertujuan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan, mengetahui perkiraan aliran kas (cashflow) dengan membandingkan antara pengeluaran dan penerimaan, dan melalui penilaian indikator kelayakan investasi maka dapat ditentukan apakah proyek dapat dijalankan atau tidak.
1. Biaya dan Manfaat
Biaya adalah segala sesuatu yang mengurangi suatu tujuan (Gittinger, 1986).
Berdasarkan waktu pengalokasian, biaya dibedakan dua jenis yaitu biaya investasi dan biaya produksi atau operasi. Biaya investasi merupakan biaya yang digunakan untuk membangun suatu unit usaha, sedangkan biaya produksi adalah biaya yang digunakan untuk menjalankan suatu unit usaha.
Selain itu, pajak juga termasuk sebagai komponen biaya. Sedangkan manfaat adalah segala sesuatu yang membantu tujuan, dan juga dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat menimbulkan kontribusi terhadap suatu proyek baik secara langsung (tangible) maupun tidak langsung (intangible).
2. Cashflow
Cashflow adalah susunan arus manfaat bersih tambahan sebagai hasil pengurangan arus biaya tambahan terhadap arus manfaat. Arus tersebut menggambarkan keadaan dari tahun ketahun selama jangka hidup dari suatu proyek (Kuntjoro, 2002). Cashflow terdiri dari inflow yang menggambarkan arus penerimaan kas dan outflow sebagai pengeluaran kas selama jangka waktu umur proyek, sedangkan nilai sisa (salvage value) merupakan biaya modal yang tidak habis selama umur usaha (Gittinger, 1986).
3. Kriteria Kelayakan Investasi
Menurut Kadariah (1999), kriteria finansial yang digunakan untuk menilai kelayakan suatu proyek, antara lain berupa; Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit-Cost (Net B/C), Gross Benefit-Cost Ratio (Gross B/C) dan Payback Period (PP).
3.1.3 Discounding Factor dan Compounding factor
Manfaat investasi baru akan dapat dirasakan setelah beberapa periode kedepan lamanya. Terkait dengan itu, konsep time preference menjadikan
pengorbanan penggunaan waktu pakai uang terhadap uang itu sendiri harus ada nilainya. Nilai tersebut dinilai dengan uang itu sendiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi time preference adalah: inflasi yang akan menurunkan nilai uang;
resiko yang tidak diketahui dimasa yang akan datang yang menyebabkan nilai uang masa yang akan datang memerlukan jumlah yang besar; dan, terkait dengan konsumsi yang memiliki kecendrungan memberikan kenikmatan yang lebih untuk saat ini dibanding konsumsi yang akan datang.
Untuk mengatasi adanya perubahan terhadap nilai mata uang tersebut maka dilakukan dengan men-discounding factor-kan dan atau men-compounding factor-kan nilai mata uang tersebut pada waktu tertentu terhadap waktu tertentu pula. Discounding factor yaitu menentukan jumlah uang disaat sekarang (present) bila diketahui sejumlah tertentu dimasa yang akan datang (future) dengan memperhatikan periode waktu tertentu, sedangkan compounding factor yaitu menentukan nilai uang yang akan datang jika telah diketahui sejumlah uang saat ini dengan memperhatikan periode waktu tertentu.
3.1.4 Switching Value Analisys
Switching value analisys atau analisis pengganti merupakan salah satu variasi dari analisis sensitivitas. Metode ini digunakan untuk menganalisis nilai pengganti terhadap perubahan-perubahan yang terjadi agar proyek dapat memenuhi tingkat minimum diterimanya proyek. Dengan kata lain, sampai berapa persen perubahan yang terjadi pada variabel yang diduga bisa menyebabkan perubahan sehingga proyek dikatakan masih dapat diterima. Dengan kata lain, batas persen perubahan tersebut yang membuat nilai NPV = 0, net B/C = 1 dan IRR = tingkat suku bunga yang berlaku. Pada proyek pertanian perubahan tersebut diakibatkan oleh tiga permasalahan utama yaitu; perubahan harga jual produk, kenaikan biaya dan perubahan volume produksi.
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional
Kambing dan domba memiliki keunggulan lebih dibandingkan komoditi jenis ternak utama Indonesia lainnya. Keunggulan tersebut berupa; daya adaptasi yang baik, pertumbuhan cepat, pemeliharaan mudah, tahan terhadap penyakit, siklus produksi pendek dan, memiliki fungsi sosial dan keagamaan, serta memiliki
potensi pasar yang selalu terbuka lebar. Berbagai keunggulan tersebut merupakan landasan utama bagi investor dalam menginvestasikan modalnya pada usaha penggemukan kambing dan domba yang dikelola oleh peternakan MT Farm sehingga diharapkan dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan profit yang maksimal.
Keberhasilan MT Farm bergerak dalam menjalankan usaha penggemukan kambing dan domba dapat dilihat bahwa usia MT Farm dalam menggeluti dunia bisnis ini telah mencapai lebih empat tahun. Namun demikian, jalan atau tidaknya usaha bukanlah indikator penentu kelayakan dari suatu usaha. Indikator penentu layak atau tidaknya suatu usaha dapat dilihat dari aspek finansial dan non finansialnya. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kelayakan aspek non finansial (aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek hukum) dan aspek finansial dari usaha penggemukan kambing dan domba yang dikelola oleh MT Farm tersebut.
Penentuan kelayakan aspek non finansial dari usaha penggemukan kambing dan domba peternakan MT Farm yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan membandingkan antara fakta yang ada dengan teori-teori yang terkait melalui observasi dan studi literatur. Sedangkan penentuan aspek finansial menggunakan kriteria investasi berupa; NPV, IRR, Net B/C, Gross B/C dan PP.
Sebagai bentuk kewaspadaan terhadap usaha tersebut yang dikhawatirkan akan mengalami perubahan-perubahan pada peningkatan harga input dan penurunan kuantitas output, maka melalui analisis pengganti (switching value analisys) akan diketahui berapa besarnya batas perubahan tersebut yang akan membuat usaha tidak layak. Dengan demikian, maka hasil dari analisis ini akan dapat memberikan informasi tentang tingkat kelayakan finansial maupun non finansial dari usaha penggemukan kambing dan domba yang diusahakan oleh MT Farm. Alur kerangka pemikiran operasional dari penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Kerangka Alur Pemikiran Operasional
Keunggulan kambing dan domba:
1. Daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan
2. Mudah dalam pemeliharaan 3. Pertumbuhan cepat
4. Tahan terhadap penyakit 5. Memiliki siklus produksi pendek 6. Memiliki fungsi sosial dan
keagamaan
Peluang pasar terbuka lebar:
1. Dalam negeri: untuk ibadah qurban 5.6 juta ekor per tahun 2. Manca negara di kawasan Asia
Tenggara (Malaysia dan Singapura, serta kawasan Timur Tengah): 9.3 juta ekor per tahun
MT Farm
Usaha Penggemukan Kambing dan Domba Investor
Analisis Finansial
Tidak Layak Layak
Analisis Pengganti Analisis non Finansial
Aspek
Pasar Aspek
Teknis Aspek
Manajemen Aspek Hukum
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di peternakan MT Farm yang bertempat di jalan Baru AMD nomor 51 RT/RW 04/05 Desa Tegalwaru, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Pemilihan tempat penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive) berdasarkan berbagai pertimbangan bahwa MT Farm sebagai usaha yang bergerak di bidang penggemukan kambing dan domba tergolong masih baru dan memiliki prospek yang baik. Pengambilan data di lapangan dilaksanakan pada bulan September 2008.
4.2 Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak peternakan MT Farm. Data primer itu sendiri mencakup biaya-biaya yang dikeluarkan selama umur usaha baik biaya investasi maupun biaya operasional, serta penerimaan selama usaha berjalan. Data primer yang digunakan tersebut berupa data historys perusahaan. Data sekunder diperoleh dari studi literatur beberapa skripsi, internet, jurnal dan buku-buku yang berkaitan dengan materi penelitian ini. Selain itu, data yang diperoleh juga berasal dari observasi di lapangan
4.3 Metode Pengolahan dan Analisis Data
Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif berupa analisis deskriptif yang dilakukan untuk mendefinisikan mengenai gambaran sistem usaha dan aspek non finansial yang terdiri dari aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum dari usaha penggemukan kambing dan domba pada peternakan MT Farm. Sedangkan analisis data secara kuantitatif digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan finansial penggemukan kambing dan domba pada peternakan MT Farm tersebut. Metode kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kelayakan finansial berdasarkan kriteria NPV, IRR, Net B/C, Gross B/C dan PP yang diolah menggunakan program Microsoft Excel. Mengingat adanya konsep time value of money, maka
penentuan nilai uang sekarang dan yang akan datang harus dilakukan melalui metode discounting factor atau compounding factor. Melalui switching value analisys, data yang ada dicoba untuk dirubah dengan menaikkan input dan menurunkan output, sehingga dapat dilihat sejauh mana kemampuan perusahaan bertahan terhadap perubahan tersebut. Dengan kata lain, analisis ini menentukan batas perubahan terhadap kenaikan input dan penurunan output yang membuat usaha menjadi tidak layak.
4.4 Analisis Kelayakan Aspek Non Finansial
Analisis yang akan dilakukan terhadap aspek non finansial tergantung pada skala usaha proyek, dan belum ada keseragaman yang pasti tentang aspek apa saja yang akan diteliti dalam aspek non finansial tersebut. Namun pada penelitian ini aspek non finansial yang akan diteliti adalah aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen dan aspek hukum.
4.4.1 Aspek Pasar
Analisis aspek pasar yang akan diteliti pada usaha penggemukan kambing dan domba peternakan MT Farm yaitu:
1. Struktur Pasar. Dilakukan pengidentifikasian terhadap struktur pasar yang terbentuk dari komoditas ternak kambing dan domba yang ada.
2. Peluang Pasar. Dilakukan pengidentifikasian terhadap peluang pasar kambing dan domba, baik dalam negeri maupun luar negeri, dengan demikian diharapkan dapat menggambarkan peluang pasar yang dapat diraih oleh peternakan MT Farm.
3. Strategi Pemasaran. Untuk memenuhi pasar potensial yang ada terutama segmen pasar, maka dilakukan indentifikasi terhadap stretegi pemasaran yang dilakukan oleh MT Farm dalam rangka memenuhi peluang pasar yang ada.
4.4.2 Aspek Teknis
Analisis aspek teknis yang diteliti pada usaha penggemukan kambing dan domba MT Farm secara umum mencakup lokasi proyek, luasan produksi dan layout perusahaan. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi item-item aspek teknis tersebut secara langsung ke lapangan kemudian dibandingkan terhadap teori-teori yang ada.
4.4.3 Aspek Manajemen
Aspek manajemen dalam pembangunan proyek berupa manajemen proses untuk merencanakan penyiapan secara fisik dan manajemen dalam operasi.
Namun pada penelitian ini aspek manajemen yang diteliti khusus pada manajemen dalam operasi. Analisis pada aspek manajemen ini dilakukan dengan mengidentifikasi item-item aspek manajemen yang diterapkan oleh MT Farm berupa struktur organisasi dan lain sebagainya lalu membandingkan dengan teori-teori yang terkait.
4.4.4 Aspek Hukum
Analisis terhadap aspek hukum dilakukan dengan mengidentifikasi bentuk badan usaha yang digunakan, izin usaha, dan lain sebagainya, yang telah dilakukan oleh MT Farm dalam menjalankan usaha penggemukan kambing dan domba tersebut.
4.5 Analisis Kelayakan Aspek Finansial
Dalam melakukan analisis finansial diperlukan kriteria investasi sebagai indikator yang menyatakan apakah suatu usaha layak atau tidak untuk dijalankan.
Kriteria investasi yang digunakan tersebut adalah sebagai berikut:
4.5.1 Net Present Value (NPV)
NPV dapat diartikan sebagai nilai sekarang dari arus kas penerimaan dikurangi dengan arus kas pengeluaran dengan tingkat diskonto tertentu. NPV suatu proyek adalah selisih present value (PV) arus benefit dengan PV arus biaya.
Rumus umum yang digunakan dalam perhitungan NPV adalah sebagai berikut:
Keterangan:
Bt = penerimaan bruto periode ke-t (rupiah) Ct = biaya bruto tahun ke-t (rupiah)
n = umur ekonomis usaha (tahun) t = tahun ke 1, 2, 3,..., n
i = tingkat suku bunga (%)
Dalam metode NPV, terdapat tiga penilaian kriteria investasi. Jika NPV suatu usaha lebih besar dari nol (NPV>0), artinya suatu proyek dinyatakan sudah menguntungkan dan proyek tersebut dapat dilaksanakan. Jika NPV lebih kecil dari
∑
= +nol (NPV<0), artinya proyek tersebut tidak menghasilkan nilai biaya yang dipergunakan, dengan kata lain proyek tersebut merugikan dan sebaiknya tidak dilaksanakan. Dan jika NPV sama dengan nol (NPV=0), artinya proyek tersebut hanya mampu mengembalikan persis sebesar modal sosial opportunities cost faktor produksi normal.
4.5.2 Internal Rate of Return (IRR)
IRR adalah tingkat rata-rata keuntungan internal tahunan bagi perusahaan yang melakukan investasi dan dinyatakan dalam satuan persen. Tingkat IRR mencerminkan tingkat suku bunga maksimal yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumberdaya yang digunakan. Suatu investasi dianggap layak apabila nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku dan sebaliknya jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku, maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan. Rumus untuk menghitung IRR adalah:
4.5.3 Net Benefit-Cost (Net B/C)
Net B/C merupakan perbandingan antara present value positif dibagi dengan present value negatif. Net B/C digunakan untuk mengukur efesiensi dalam penggunaan modal. Bila Net B/C>1 artinya usaha tersebut layak untuk dilaksanakan, bila Net B/C<1 artinya usaha tersebut tidak layak untuk dilaksanakan, dan bila Net B/C=1 artinya biaya yang dikeluarkan sama dengan keuntungan yang didapat. Rumus umum untuk perhitungan Net B/C adalah sebagai berikut:
4.5.4 Gross Benefit-Cost Ratio (Gross B/C)
Gross B/C merupakan manfaat yang diterima proyek dari setiap satuan biaya yang dikeluarkan (tanpa satuan). Gross B/C ini menunjukkan gambaran berapa kali lipat benefit yang akan diperoleh dari jumlah biaya yang dikeluarkan.
Indikator yang digunakan sama dengan Net B/C. Semakin besar angka yang didapatkan, berarti proyek semakin baik. Perhitungan Gross B/C secara matematis
Indikator yang digunakan sama dengan Net B/C. Semakin besar angka yang didapatkan, berarti proyek semakin baik. Perhitungan Gross B/C secara matematis