PAD
PROGR
ANALISI PENG DA MITRA
RAM SAR I
IS TINGK GGEMUKA
A TANI F KAB
RJANA E FAKU INSTITUT
KAT KEL AN KAM FARM, DI BUPATEN
Oleh F I T R I A14105
EKSTENS ULTAS PE
T PERTA 2009
LAYAKAN MBING DA
I KECAM N BOGOR
h:
I A L 5549
I MANAJ ERTANIA ANIAN BO
9
N FINAN AN DOMB MATAN C
R
JEMEN A AN
OGOR
SIAL BA CIAMPEA
AGRIBISN A,
NIS
RINGKASAN
FITRIAL. Analisis Tingkat Kelayakan Finansial Penggemukan Kambing dan Domba pada Mitra Tani Farm, di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor.
Di bawah Bimbingan TANTI NOVIANTI.
Komoditas utama subsektor perternakan yang mempunyai peran strategis dalam usaha peternakan Indonesia adalah kambing dan domba. Kambing dan domba berkembangbiak dengan baik pada berbagai kondisi dan wilayah di Indonesia, setidaknya menyebar di 11 provinsi di seluruh Indonesia. Luasnya penyebaran populasi tersebut membuktikan bahwa berbagai wilayah di Indonesia memiliki tingkat kecocokan yang baik untuk pengembangan komoditas kambing dan domba, baik berupa kecocokan dari segi vegetasi, topografi, klimat, atau bahkan dari sisi sosial-budaya daerah setempat.
Jawa Barat sebagai salah satu wilayah terbaik untuk pengembangan ternak kambing dan domba memiliki jumlah populasi masing-masing sebesar 8.32 dan 47.01 persen dari populasi nasional. Khusus untuk ternak domba, Jawa Barat merupakan wilayah sentra ternak yang memberikan kontribusi sangat besar terhadap populasi nasional. Peningkatan populasi ternak kambing dan domba di Jawa Barat relatif baik setiap tahunnya, yaitu dengan rata-rata per tahun masing- masing sebesar 9.50 dan 8.80 persen.
Namun sistem usaha peternakan kambing dan domba di Indonesia khususnya di Bogor secara umum masih bersifat sambilan dari sistem usaha pertanian tanaman pangan yang hampir seluruhnya merupakan peternakan rakyat.
Sistem ini ditandai dengan biaya produksi yang relatif rendah, kurang berorientasi ekonomi karena hanya merupakan tabungan dan penambal resiko kegagalan cabang usaha tani lainnya, serta bentuk usaha yang bersifat pembibitan dan penggemukan.
Lain halnya dengan MT Farm, adalah salah satu peternakan kambing dan domba yang ada di Bogor yang berorientasi bisnis dikelola secara intensif dengan manajemen peternakan yang tepat. Kandang yang dimiliki bersifat permanen yang berbentuk panggung seluas ± 700 m2 dengan daya tampung 750 ekor. Untuk fasilitas pendukung kegiatan administrasi dan sebagainya, peternakan ini memiliki kantor lengkap dengan peralatan serta sarana dan prasarana pendukung lainnya.
Peternakan ini juga dilengkapi kebun rumput seluas ± 1 Ha.
Keberadaan MT Farm sebagai peternakan yang berorientasi bisnis yang dikelola dengan baik dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, tentunya tidak muncul dengan sendirinya. Semua itu membutuhkan modal yang besar. Untuk itu, usaha penggemukan kambing dan domba yang dikelola oleh MT Farm harus layak, baik dari aspek finansial maupun aspek non finansialnya.
Sejauh ini perusahaan belum mengetahui secara pasti seberapa besar manfaat (benefit) yang diperoleh perusahaan. Meskipun usaha ini telah berjalan selama 4 tahun, apakah berarti usaha yang dijalankan MT Farm ini telah layak secara finansial?. Untuk itu, maka melalui penelitian ini mencoba untuk menganalisis tingkat kelayakan finansial dan non finansial dari penggemukan kambing dan domba yang dikelola oleh peternakan MT Farm tersebut.
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk: menganalisis kelayakan aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum; menganalisis tingkat kelayakan finansial;
dan menganalisis sensitivitas melalui switching value analisys usaha penggemukan kambing dan domba pada peternakan MT Farm terhadap kenaikan harga input dan penurunan kuantitas penjualan output. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif berupa analisis deskriptif yang dilakukan untuk mendefinisikan mengenai gambaran sistem usaha dan aspek non finansial (aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum) dari usaha penggemukan kambing dan domba pada peternakan MT Farm, sedangkan analisis data secara kuantitatif digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan finansial usaha penggemukan kambing dan domba pada peternakan MT Farm tersebut. Metode kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kelayakan finansial berdasarkan kriteria investasi NPV, IRR, Net B/C, Gross B/C dan PP yang diolah menggunakan program Microsoft Excel.
Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak peternakan MT Farm. Data primer itu sendiri mencakup biaya-biaya yang dikeluarkan selama umur usaha baik biaya investasi maupun biaya operasional, serta penerimaan selama usaha berjalan. Data primer tersebut berupa data historys perusahaan. Data sekunder diperoleh dari studi literatur beberapa skripsi, internet, jurnal dan buku-buku yang berkaitan dengan materi penelitian ini. Selain itu, data yang diperoleh juga berasal dari observasi di lapangan.
Aspek non finansial yang dimulai dari aspek pasar bahwa usaha penggemukan kambing dan domba MT Farm memiliki peluang pasar yang baik.
Demikian pula aspek teknis, variabel utama faktor pendukung jalannya usaha pada aspek ini menunjukkan adanya keberpihakan yang cukup baik sehingga proses produksi dapat berjalan dengan baik. Kemudian dari aspek manajemen terlihat adanya struktur organisasi dan pembagian tugas yang baik dengan sumberdaya manusia yang berkompeten, yang dapat dipastikan usaha ini berjalan dengan baik. Sehingga dengan demikian, usaha penggemukan kambing dan domba peternakan MT Farm layak secara aspek non finansial.
Analisis aspek finansial usaha penggemukan kambing dan domba peternakan MT Farm selama lima tahun dengan tingkat diskonto 8.5 persen diperoleh nilai NPV sebesar Rp 359 346 744, Net B/C dan Gross B/C sebesar 2.53, IRR sebesar 11.7 persen dan PP sebesar 1.5 tahun. Hasil yang diperoleh dari masing-masing kriteria investasi tersebut sesuai dengan nilai indikator yang ditetapkan, sehingga usaha penggemukan kambing dan domba peternakan MT Farm dinilai layak. Melalui switching value analisys menunjukkan bahwa usaha penggemukan kambing dan domba MT Farm dapat mentolerir kenaikan harga input mencapai 5.34 persen dan penurunan kuantitas penjualan output sebesar 4.79 persen.
ANALISIS TINGKAT KELAYAKAN FINANSIAL PENGGEMUKAN KAMBING DAN DOMBA
PADA MITRA TANI FARM, DI KECAMATAN CIAMPEA, KABUPATEN BOGOR
Oleh:
F I T R I A L A14105549
SKRIPSI
Sebagai bagian persyaratan
untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009
Judul
Nama Nrp
Tanggal K
: ANALI PENGG TANI BOGO : F I T R : A14105
Kelulusan :
ISIS T GEMUKAN
FARM, D OR
R I A L 5549
D
Tan
Dek
Prof. Dr.
:
INGKAT N KAMBI DI KECAM
Menyetu Dosen Pemb
nti Novianti NIP. 132 20
Mengeta kan Fakultas
Ir. Didy So NIP. 131 12
KELAY ING DAN MATAN C
ujui, bimbing
, SP, M.Si 06 249
ahui, s Pertanian
opandie, M.
24 019
YAKAN DOMBA IAMPEA,
.Agr
FINANS PADA MI
KABUPA SIAL ITRA ATEN
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL
”ANALISIS TINGKAT KELAYAKAN FINANSIAL PENGGEMUKAN KAMBING DAN DOMBA PADA MITRA TANI FARM, DI KECAMATAN CIAMPEA, KABUPATEN BOGOR” BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. SAYA JUGA MENYATAKAN SKRIPSI INI TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.
Bogor, Januari 2009
F i t r i a l A14105549
RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir pada tanggal 27 Mei 1983 yang bertempat di Pancahan, Jorong IX, Nagari Taruang-taruang, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Merupakan putra ketujuh dari tujuh bersaudara dari pasangan Ayahanda tercinta almarhum Rustam dan Ibunda Rohani.
Pada tahun 1996 penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasar pada SD Negeri 42 Pancahan dan pada tahun yang sama penulis juga meyelesaikan pendidikan selama tiga tahun pada Madrasyah Ibtidaiyah Swasta Pancahan.
Sekolah SLTP Negeri 2 Rao merupakan sekolah favorit penulis saat melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah pertama dan lulus pada tahun 1999.
Kemudian pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atas di SMU Negeri 1 Rao dan lulus pada tahun 2002.
Melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) pada bulan Agustus 2002, penulis melanjutkan pendidikan pada Program Diploma III Program Studi Pengelola Perkebunan (PLP), Departemen Budi Daya Pertanian (BDP), Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), lulus pada tahun 2005. Kemudian pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan pada Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis (PRO EMAS) IPB.
KATA PENGANTAR
Bismillaahirrahmaanirraahiim. Puji syukur kepada Allah, Tuhan semesta alam yang telah melimpahkan tolong dan karuniaNya berupa kesehatan dan kesempatan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan pada Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis dan penelitian serta penulisan skripsi dengan baik. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada junjungan alam Nabi Muhammad SAW.
Penulisan skripsi melalui penelitian merupakan salah satu syarat dalam meraih gelar "Sarjana Pertanian" (SP) pada Departemen Ilmu-ilmu Sosial dan Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penulis melakukan penelitian pada peternakan MT Farm di Ciampea, Bogor, tentang kelayakan aspek finansial penggemukan kambing dan domba yang dijalani oleh MT Farm tersebut dan dengan judul skripsi ”Analisis Tingkat Kelayakan Finansial Penggemukan Kambing dan Domba pada Mitra Tani Farm,di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor”.
”Tak ada gading yang tak retak”, ungkapan pepatah inilah yang tepat untuk setiap karya seluruh umat manusia. Begitu juga halnya dengan skripsi penulis ini, untuk itu penulis mohon maaf atas keterbatasan skripsi ini dan diharapkan kedepannya, keterbatasan ini hendaknya dapat menjadi bahan masukan agar disempurnakan oleh pembaca untuk penelitian dan penulisan skripsi berikutnya.
Akhir kata penulis berharap semoga apa yang dilakukan oleh penulis ini mendapat ridho dari Allah SWT dan menjadi nilai ibadah bagi penulis, serta bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.
Wallhamdulillaahirobbil’alamiin.
Bogor, Januari 2009
Penulis
UCAPAN TERIMAKASIH
Proses penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan serta dorongan dari berbagai pihak, baik secara moril maupun secara materil. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ungkapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1. Kedua Orangtua tercinta dan kakak-kakak tercinta yang senantiasa memberikan yang terbaik kepada penulis. Ngah Iril dan keluarga, Ni Eti dan Keluarga, Ni Yul dan Keluarga, Ngah Arul, Ngah Ijal dan keluarga, Ubih serta ponakan-ponakan Eet, Iif dan Hamdi, kalian memang yang terbaik.
2. Tanti Novianti, SP, M.Si selaku dosen pembimbing penulis yang telah memberikan bimbingan dan arahan dengan baik.
3. Rahmat Yanuar, SP, M.Si selaku dosen evaluator pada kolokium proposal penelitian ini.
4. Dra. Yusalina, M.Si dan Dr. Ir. Anna Fariyanti, M.Si selaku dosen penguji pada ujian sidang skripsi ini.
5. Keluarga besar peternakan MT Farm yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian di tempat tersebut.
6. NR. David Siagian Selaku pembahas pada seminar penelitian ini.
7. Para sahabat Oka dan teman-teman terbaik dari PLP angkatan 39: Tovan Yulianto dan Bona, serta bang Amril Nasution.
8. Teman-teman yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk menghadiri kolokium dan seminar penulis, pada kesempatan kali ini penulis mohon maaf tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
9. Keluarga besar asrama IPB Sukasari.
Semoga segala amal kebaikan yang telah dilakukan menjadi nilai ibadah yang tak terhingga di sisi Allah SWT. Amiin.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Pengertian Penggemukan ... 9
2.2 Jenis-jenis Kambing dan Domba ... 9
2.3 Pemeliharaan Ternak kambing dan Domba ... 11
2.3.1 Pemilihan Bakalan Ternak ... 11
2.3.2 Pemberian Pakan Ternak ... 12
2.3.3 Pengaturan Kandang Ternak ... 12
2.3.4 Pencegahan Penyakit Ternak ... 13
2.4 Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 13
2.4.1 Strategi Pengembangan Usaha Ternak Kambing dan Domba ... 13
2.4.2 Pendapatan Usahaternak Domba ... 14
2.4.3 Kelayakan Usahaternak Kambing dan Domba ... 15
2.4.4 Kelayakan Usaha Komoditi Lain ... 15
2.4.5 Penelitian yang akan Dilakukan ... 15
BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN ... 17
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ... 17
6.2.1 Pengertian Studi Kelayakan Proyek ... 17
6.2.2 Aspek-aspek Studi Kelayakan Proyek ... 18
3.1.2.1 Aspek-aspek non Finansial Studi Kelayakan ... 18
3.1.2.2 Aspek-aspek non Finansial Studi Kelayakan ... 20
6.2.3 Discounding Factor dan Compounding Factor ... 21
6.2.4 Switching Value Analisys ... 22
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ... 22
BAB IV. METODE PENELITIAN ... 25
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 25
4.2 Jenis dan Sumber Data ... 25
4.3 Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 25
4.4 Analisis Kelayakan Non Finansial ... 26
4.4.1 Aspek Pasar ... 26
4.4.2 Aspek Teknis ... 26
4.4.3 Aspek Manajemen ... 27
4.4.4 Aspek Hukum ... 27
4.5 Analisis Kelayakan Finansial ... 27
4.5.1 Net Present Value (NPV) ... 27
4.5.2 Internal Rate of Return (IRR) ... 28
4.5.3 Net Benefit-Cost (Net B/C) ... 28
4.5.4 Gross Benefit-Cost Ratio (Gross B/C) ... 29
4.5.5 Payback Period (PP) ... 29
4.6 Discounding Factor dan Compounding Factor ... 29
4.7 Switching Value Analisys ... 30
BAB V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... 31
5.1 Sejarah Umum Perusahaan ... 31
5.2 Visi dan Misi Perusahaan ... 31
5.3 Lokasi Perusahaan ... 31
5.4 Fasilitas Usaha ... 32
5.5 Deskripsi Kegiatan Usaha ... 32
5.6 Pelanggan Perusahaan ... 33
BAB VI. ANALISIS ASPEK NON FINANSIAL ... 35
6.1 Aspek Pasar ... 35
6.1.1 Struktur Pasar ... 35
6.1.2 Peluang Pasar ... 36
6.1.3 Strategi Pemasaran ... 37
6.2 Aspek Teknis ... 39
6.2.1 Lokasi Perusahaan ... 39
6.2.2 Luasan Produksi ... 40
6.2.3 Layout Perusahaan ... 40
6.2.4 Proses Penggemukan ... 41
6.3 Aspek Manajemen ... 43
6.4 Aspek Hukum ... 45
6.5 Ikhtisar Analisis Kelayakan Aspek Non Finansial... 45
BAB VII. ANALISIS ASPEK FINANSIAL ... 46
7.1 Asumsi Dasar ... 46
7.2 Outflow ... 48
7.2.1 Initial Cashflow ... 48
7.2.2 Operational Cashflow ... 48
7.2.2.1 Biaya Tetap ... 48
7.2.2.2 Biaya Variabel ... 50
7.3 Inflow ... 51
7.3.1 Penerimaan Penjualan ... 51
7.3.2 Penerimaan Tambahan ... 52
7.4 Salvage Value ... 53
7.5 Analisis Finansial ... 53
7.6 Switching Value Analisys ... 55
BAB VIII. KESIMPULAN DAN SARAN ... 56
8.1 Kesimpulan ... 56
8.2 Saran ... 56
DAFTAR PUSTAKA ... 57
LAMPIRAN ... 59
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman 1. Produk Domestik Bruto (PDB) Sektor Pertanian Indonesia
Tahun 2003-2007 (miliar rupiah) ... 2 2. Populasi Komoditas Ternak Utama Nasional Tahun 2003-2007
(000 ekor) ... 3 3. Populasi Ternak Domba Jawa Barat Tahun 2003-2007 (000 ekor) .. 4 4. Biaya Tetap per Bulan Usaha Penggemukan Kambing dan
Domba Peternakan MT Farm (Rupiah)... 49 5. Penerimaan Tambahan Usaha Penggemukan Kambing dan
Domba Peternakan MT Farm Selama Tiga Tahun Pertama (Rupiah). 53 6. Hasil Analisis Finansial Usaha Penggemukan Kambing dan
Domba Peternakan MT Farm ... 54
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman 1. Kerangka Alur Pemikiran Operasional ... 24
2. Layout Kandang Peternakan MT Farm Tahun 2008 ... 41 3. Struktur Organisasi MT Farm Tahun 2008 ... 44
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman 1. Biaya Investasi Usaha Penggemukan Kambing dan Domba
MT Farm ... 61 2. Biaya Operasional Usaha Penggemukan Kambing dan Domba
Peternakan MT Farm Selama Tiga Tahun Pertama (Rupiah) ... 62 3. Rincian Biaya Operasional per Bulan Peternakan MT Farm pada
Tahun Pertama Mei 2005 sampai April 2006 (Rupiah) ... 63 4. Rincian Biaya Operasional per Bulan Peternakan MT Farm pada
Tahun Kedua Mei 2006 sampai April 2007 (Rupiah) ... 64 5. Rincian Biaya Operasional per Bulan Peternakan MT Farm pada
Tahun Ketiga Mei 2007 sampai April 2008 (Rupiah) ... 65 6. Rincian Pendapatan dan Biaya Operasional per Siklus Produksi
Usaha Penggemukan Kambing dan Domba Peternakan
MT Farm pada Tahun ke-4 dan ke-5 (Rupiah) ... 66 7. Rincian Pendapatan per Bulan Peternakan MT Farm pada Tahun
Pertama Mei 2005 sampai April 2006 (Rupiah) ... 67 8. Rincian Pendapatan per Bulan Peternakan MT Farm pada Tahun
Kedua Mei 2006 sampai April 2007 (Rupiah) ... 67 9. Rincian Pendapatan per Bulan Peternakan MT Farm pada Tahun
Ke-tiga Mei 2007 sampai April 2008 (Rupiah) ... 68 10. Cashflow Analisis Finansial Usaha Penggemukan Kambing dan
Domba Peternakan MT Farm ... 69 11. Cashflow Swiching Value Analisys Usaha Penggemukan
Kambing dan Domba Peternakan MT Farm dengan Kenaikan
Harga Input mencapai 5.34 persen ... 71 12. Cashflow Swiching Value Analisys Usaha Penggemukan
Kambing dan Domba Peternakan MT Farm dengan Penurunan
Kuantitas Output mencapai 4.79 persen ... 73
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan sektor pertanian dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan, dan terdesentralisasi, senantiasa didorong untuk mewujudkan perekonomian nasional yang sehat. Hal ini tercermin dari visi yang telah ditetapkan oleh Departemen Pertanian. Untuk mewujudkan visi tersebut, maka misi dari pembangunan peternakan sebagai sub sektor pertanian antara lain adalah memfasilitasi penyediaan pangan asal ternak yang cukup baik secara kuantitas maupun kualitasnya, memberdayakan sumberdaya manusia (SDM) agar menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi, menciptakan peluang ekonomi untuk meningkatkan pendapatan, membantu menciptakan lapangan kerja, dan melestarikan serta memanfaatkan sumberdaya alam pendukung peternakan (Departemen Pertanian, 2001).
Kebijakan pemerintah yang menitikberatkan pada pengembangan sektor pertanian dalam rangka pembangunan perekonomian nasional sangatlah tepat dan terbukti memberikan kontribusi yang cukup besar. Hal ini terlihat dari produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian rata-rata tahun 2003-2007 memberikan kontribusi sebesar 13.5 persen terhadap PDB nasional. Kontribusi PDB sektor pertanian terhadap PDB nasional ini merupakan penyumbang terbesar ke-3 setelah sektor perindustrian dan perdagangan1.
Dalam pembangunan sektor pertanian, sektor pertanian itu sendiri ditopang oleh berbagai subsektor, diantaranya adalah subsektor peternakan.
Subsektor peternakan memegang peranan penting dalam pembangunan sektor pertanian tersebut. Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa subsektor peternakan memberikan kontribusi terhadap PDB nasional pada sektor pertanian rata-rata tahun 2003-2007 sebesar 11.9 persen.
Peningkatan pembangunan sektor pertanian, tentunya tidak luput dari adanya peran subsektor peternakan didalamnya. Peningkatan pembangunan subsektor peternakan itu sendiri ditunjang dengan adanya peluang pasar yang semakin terbuka lebar, baik dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini terlihat dari
1 http://www.bi.go.id/web/id. Bank Indonesia. 8 Agustus 2008
permintaan daging dan produk-produk ternak yang terus mengalami peningkatan seiring dengan adanya pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan dan pengetahuan masyarakat terhadap pentingnya kebutuhan gizi hewani, sehingga diharapkan mampu berkembang dengan baik.
Tabel 1. Produk Domestik Bruto (PDB) Sektor Pertanian Tahun 2003-2007 (miliar rupiah)2
Subsektor Tahun
2003 2004 2005 2006 2007*
Tanaman bahan
makanan 157 648.8 165 558.2 181 331.6 214 346.3 268 124.4 Tanaman
perkebunan 46 753.8 49 630.9 56 433.7 63 401.4 84 459.2 Peternakan 37 354.2 40 634.7 44 202.9 51 074.7 62 095.8 Kehutanan 18 414.6 20 290.0 22 561.8 30 065.7 35 734.1 Perikanan 45 612.1 53 010.8 59 639.3 74 335.3 96 822.1 Total 305 783.5 329 124.6 364 169.3 433 223.4 547 235.6 PDB Nasional 2 013 674.6 2 295 826.2 2 774 281.1 3 339 479.6 3 957 403.9
Kontribusi sektor pertanian terhadap PDB nasional (%)
- 14.3 13.1 12.9 13.8 Rata-rata per tahun 13.5
Kontribusi subsektor peternakan terhadap PDB sektor pertanian (%)
- 12.3 12.1 11.8 11.3 Rata-rata per tahun 11.9
Keterangan :
*) Angka sementara
Peningkatan pembangunan subsektor peternakan dapat dilihat dengan adanya peningkatan populasi ternak pada komoditas ternak yang ada, baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Perkembangan populasi komoditas utama ternak di Indonesia pada tahun 2003-2007 mengalami peningkatan yang relatif kecil yaitu dengan pertumbuhan rata-rata per tahun 2.05 persen. Perkembangan rata-rata per tahun masing-masing komoditas peternakan berkisar antara -2.10 persen (penurunan populasi untuk ternak jenis kerbau) sampai 6.03 persen untuk jenis ternak domba. Tabel 2 memperlihatkan perkembangan populasi komoditas ternak utama di Indonesia mulai tahun 2003 sampai 2007.
Komoditas utama subsektor perternakan di Indonesia antara lain adalah kambing dan domba. Kambing dan domba berkembangbiak dengan baik pada berbagai kondisi dan wilayah di Indonesia, setidaknya menyebar di 11 provinsi di seluruh Indonesia. Luasnya penyebaran populasi tersebut membuktikan bahwa berbagai wilayah di Indonesia memiliki tingkat kecocokan yang baik untuk
2 http://www.bi.go.id/web/id. Bank Indonesia. 8 Agustus 2008
pengembangan komoditas kambing dan domba, baik berupa kecocokan dari segi vegetasi, topografi, klimat, atau bahkan dari sisi sosial-budaya daerah setempat.
Pertumbuhan rata-rata per tahun kambing dan domba nasional tahun 2003-2007 masing-masing sebesar 4.01 dan 6.03 persen. Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan rata-rata per tahun jenis ternak ruminansia lainnya.
Tabel 2. Populasi Komoditas Ternak Utama Nasional Tahun 2003-2007 (000 ekor)3
Jenis ternak Tahun Peningkatan
rata-rata per tahun (%)
2003 2004 2005 2006 2007*
Sapi potong 10 504.1 10 532.8 10 569.3 10 875.1 11 365.8 2.00
Sapi perah 373.7 364.1 361.3 369.1 377.7 0.30
Kerbau 2 459.4 2 403.2 2 128.4 2 166.6 2 246.0 (2.10)
Kuda 412.6 397.2 386.7 397.6 411.9 0.01
Kambing 12 722.1 12 780.9 13 409.2 13 789.9 14 873.5 4.01 Domba 7 810.7 8 075.1 8 327.0 8 979.8 9 859.6 6.03 Babi 6 150.5 5 980.1 6 800.6 6 218.2 6 756.4 4.11 Total 40 433.1 40 533.4 41 9821.5 42 796.3 45 890.9 2.05
Keterangan :
*) Angka sementara
Kambing dan domba memiliki keunggulan-keunggulan dibanding ternak ruminansia lainnya. Keunggulan yang dimiliki tersebut yaitu daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan, mudah dalam pemeliharaan dan tidak memerlukan lahan yang luas, pertumbuhannya cepat, tahan terhadap penyakit, dan memiliki siklus produksi yang relatif pendek. Selain itu, kambing dan domba merupakan jenis ternak yang memiliki keistimewaan tersendiri yaitu memiliki fungsi sosial dan keagamaan, sehingga dalam hal ketersediaan pasar, tingkat ketersediaannya selalu ada dan semakin terbuka lebar4.
Khusus pasar domestik, Indonesia memiliki potensi kebutuhan akan daging hewan ternak kambing dan domba untuk ibadah qurban kurang lebih sekitar 5,6 juta ekor setiap tahunnya, dan belum termasuk kebutuhan pasokan untuk aqiqah, industri restoran dan warung sate kaki lima yang membutuhkan 2 - 3 ekor tiap hari. Sedangkan peluang pasar manca negara di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura, serta kawasan Timur Tengah membutuhkan 9.3 juta ekor setiap tahunnya. Kebutuhan tersebut khusus untuk
3 Direktorat Jenderal Peternakan, 2007.
4 http://www.langitlangit.com. 29 April 2007
kawasan Timur Tengah sampai saat ini masih dipenuhi oleh Australia dan Selandia Baru5.
Bila dilihat dari tingkat konsumsi masyarakat Indonesia terhadap daging kambing dan domba masih tergolong sangat rendah dibanding subsektor usaha peternakan lainnya yaitu sekitar lima persen6. Konsumsi ini masih jauh dari rata- rata negara maju. Konsumsi pada tahun 2005 sebesar 0.10 kg/kapita/tahun dan meningkat pada tahun 2006 sebesar 0.26 kg/kapita/tahun7. Peningkatan konsumsi tersebut menggambarkan tingkat permintaan terhadap daging kambing dan domba relatif meningkat.
Menurut Departemen Pertanian (2003), penyebaran wilayah yang populasinya paling padat dan cocok untuk mengembangkan sumber bibit dan bakalan kambing secara berturut-turut adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, dan Sulawesi Selatan.
Sementara untuk domba adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Nanggroe Aceh Darussalam.
Jawa Barat sebagai salah satu wilayah terbaik untuk pengembangan ternak kambing dan domba memiliki jumlah populasi sebesar 8.32 dan 47.01 persen dari populasi nasional. Khusus untuk ternak domba, Jawa Barat merupakan wilayah sentra ternak yang memberikan kontribusi sangat besar terhadap populasi nasional. Peningkatan populasi ternak kambing dan domba di Jawa Barat relatif baik setiap tahunnya, rata-rata per tahun sebesar 9.50 dan 8.80 persen. Tabel 3 menunjukkan perkembangan populasi ternak kambing dan domba di Jawa Barat dari tahun 2003 sampai 2007.
Tabel 3. Populasi Ternak Kambing dan Domba Jawa Barat Tahun 2003-2007 (000 ekor)8
Jenis ternak Tahun Peningkatan rata-
rata per tahun (%)
2003 2004 2005 2006 2007
Kambing 930.1 1 144.1 999.3 1 148.5 1 299.4 9.50 Domba 3 288.9 3 529.5 3 737.8 4 221.8 4 605.4 8.80
5 Ibid.
6 Direktorat Jenderal Peternakan 2005
7 BPS tahun 2006
8 http://www.disnak.jabarprov.go.id, 28 April 2008
Subsektor peternakan mempunyai peran penting bagi perekonomian Jawa Barat dalam rangka menopang pembangunan sektor pertanian di Jawa Barat itu sendiri. Pada sektor pertanian, subsektor peternakan tercatat sebagai penyumbang PDRB (produk domestik regional bruto) Jawa Barat terbesar ke-2 setelah subsektor tanaman bahan makanan yaitu sebesar 13.5 persen. Secara keseluruhan subsektor peternakan memberikan kontribusi sebesar 1.5 persen terhadap PDRB Jawa Barat9.
Produksi daging ternak Jawa Barat tahun 2007 adalah sebesar 438 436 ton.
Kontribusi daging terbesar berasal dari jenis unggas sebesar 73 persen, kemudian disusul daging sapi sebesar 17 persen. Kambing sebesar satu persen dan domba sebagai komoditas ternak utama di Jawa Barat, menyumbang sebesar delapan persen dari total produksi daging daerah. Jenis ternak lainnya (kerbau, kuda dan babi) memberikan kontribusi masing-masing sebesar 1 persen10.
Ternak jenis kambing dan domba di Jawa Barat tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Bogor adalah salah satu daerah penyebaran populasi ternak jenis kambing dan domba yang terbesar untuk wilayah Jawa Barat. Pada tahun 2007 jumlah populasi ternak kambing dan domba di Bogor tercatat masing- masing sebesar 123 886 dan 235 933 ekor yang tersebar di wilayah kabupaten dan kota. Jumlah populasi ini menyumbang sebesar 6.93 persen dari total populasi ternak kambing dan domba Jawa Barat. Selain di Bogor, daerah penyebaran domba dengan populasi terbesar berturut-turut terdapat di Kabupaten Kerawang, Garut, Bandung dan Purwakarta11.
Bogor memiliki peluang sebagai sentra produksi daging ternak kambing dan domba yang cukup baik. Fakta ini didukung berbagai faktor diantaranya demografi, politik, pendidikan dan sosial budaya serta keagamaan. Letak geografis Bogor yang berdampingan dengan Jakarta sebagai kota administrasi yang memiliki kepadatan penduduk yang sangat tinggi, menjadikan Bogor sebagai basis tumpuan asal pangan kota tersebut. Secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa Bogor adalah penyedia pangan dua kota sekaligus. Pangan yang dimaksud
9 Badan Pusat Statistik. 2006.
10 Loc.cit.
11 Loc.cit.
adalah salah satunya pangan asal ternak berupa daging ternak kambing dan domba.
Produksi daging ternak jenis kambing dan domba di Bogor pada tahun 2007 tercatat masing-masing sebesar 283 157 dan 1 352 892 kg12. Jika diasumsikan berat rata-rata bobot hidup satu ekor kambing dan domba 20 kg, maka didapatkan jumlah pemotongan yang dilakukan terhadap ternak jenis domba tersebut adalah 81 802 ekor. Jumlah pemotongan ini 22.7 persen dari jumlah populasi yang ada. Artinya, permintaan terhadap daging ternak kambing dan domba di Bogor dan sekitarnya sangat tinggi.
Sistem usaha peternakan kambing dan domba di Indonesia khususnya di Bogor secara umum masih bersifat sambilan dari sistem usaha pertanian tanaman pangan yang hampir seluruhnya merupakan peternakan rakyat. Sistem ini ditandai dengan biaya produksi yang relatif rendah, kurang berorientasi ekonomi karena hanya merupakan tabungan dan penambal resiko kegagalan cabang usaha tani lainnya, serta bentuk usaha yang bersifat pembibitan dan penggemukan.
Dilihat dari perspektif bisnis, pada umumnya peternak dan pengusaha ternak kambing dan domba lebih memilih bisnis penggemukan, yakni hanya menggemukkan tubuh ternak untuk meningkatkan berat badan saat dijual.
Keuntungan sangat jelas, usaha ini memiliki pasar yang nyata dan mudah diprediksi13. Bisnis ini cukup banyak digeluti oleh pengusaha peternakan di Bogor dan termasuk usaha yang dikelola oleh Mitra Tani Farm.
Mitra Tani Farm (MT Farm) adalah salah satu usaha peternakan yang bergerak di bidang penggemukan kambing dan domba yang ada di Bogor.
Peternakan ini berorientasi bisnis yang dikelola secara intensif dengan manajemen peternakan yang tepat melalui SDM yang terdidik. Kandang yang dimiliki bersifat permanen yang berbentuk panggung seluas ± 700 m2 dengan daya tampung 750 ekor. Untuk fasilitas pendukung kegiatan administrasi dan sebagainya, peternakan ini memiliki kantor lengkap dengan peralatan serta sarana dan prasarana pendukung lainnya. Peternakan ini juga dilengkapi kebun rumput untuk pakan hijauan ternak seluas ± 1 Ha.
12 Loc.cit.
13 Buletin IPTEKDA-LIPI tanggal 1 Jan 2005 Volume: 4 No: 1
Keberadaan MT Farm sebagai peternakan yang berorientasi bisnis yang dikelola dengan baik dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, tentunya tidak muncul dengan sendirinya. Semua itu membutuhkan modal yang besar. Untuk itu, usaha penggemukan kambing dan domba yang dikelola oleh MT Farm harus dapat menghasilkan benefit sehingga dapat dimanfaatkan oleh pengusaha untuk kesinambungan usaha dan akumulasi modal. Dalam jangka panjang pada gilirannya dapat membuka peluang kerja masyarakat sekitar dan berkontribusi terhadap devisa negara.
Usaha subsektor peternakan yang dikelola oleh MT Farm yang utama adalah penggemukan kambing dan domba yang merupakan bagian dari proyek pertanian. Proyek pertanian sangatlah sensitif terhadap perubahan lingkungan, baik lingkungan internal maupun eksternal. Hal ini disebabkan berbagai faktor diantaranya adalah kenaikan biaya bahan baku (input), adanya gangguan penyakit, dan sebagainya. Perubahan tersebut diduga akan langsung mempengaruhi komponen cashflow yang pada akhirnya akan mempengaruhi net benefit dan mengubah kelayakan investasi perusahaan.
1.2 Perumusan Masalah
Usaha penggemukan kambing dan domba MT Farm berdiri sejak September 2004, dan telah berjalan selama lebih empat tahun. Sejauh ini perusahaan belum mengetahui secara pasti seberapa besar manfaat (benefit) yang diperoleh perusahaan. Hal ini dikarenakan belum pernah dilakukannya perhitungan secara khusus dari pihak perusahaan sendiri. Meskipun usaha ini telah berjalan salama empat tahun, apakah berarti usaha yang dijalankan MT Farm ini telah layak secara finansial?. Untuk itu, maka melalui penelitian ini mencoba untuk menganalisis tingkat kelayakan finansial dan non finansial dari usaha penggemukan kambing dan domba yang dijalankan oleh MT Farm tersebut.
Berdasarkan uraian di atas maka masalah-masalah yang dianggap perlu untuk dikaji yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana kelayakan aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum usaha penggemukan kambing dan domba peternakan MT Farm?
2. Bagaimana tingkat kelayakan finansial penggemukan kambing dan domba peternakan MT Farm?
3. Bagaimana sensitivitas usaha penggemukan kambing dan domba peternakan MT Farm terhadap kenaikan harga input dan penurunan kuantitas output melalui switching value analisys?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk:
1. Menganalisis kelayakan aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum usaha penggemukan kambing dan domba peternakan MT Farm.
2. Menganalisis tingkat kelayakan finansial penggemukan kambing dan domba peternakan MT Farm.
3. Menganalisis sensitivitas usaha penggemukan kambing dan domba peternakan MT Farm terhadap kenaikan harga input dan penurunan kuantitas output melalui switching value analisys.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Penggemukan
Penggemukan adalah usaha pemeliharaan ternak dengan sistem kandang yang dilakukan secara intensif selama periode tertentu untuk mempercepat pertumbuhan bobot badan ternak. Dalam pelaksanaannya, ternak diberi pakan hijauan dan konsentrat secara teratur dengan menerapkan manajemen tertentu.
Tujuan pemeliharaan adalah untuk memproduksi daging.
2.2 Jenis-jenis Ternak Kambing dan Domba
Pengetahuan tentang jenis kambing dan domba diperlukan dalam menjalankan usaha penggemukan kambing dan domba, terutama saat melakukan seleksi bakalan ternak. Jenis-jenis kambing yang ada di Indonesia adalah sebagai berikut14:
1. Kambing Kacang. Kambing kacang adalah kambing yang pertama kali ada di Indonesia. Berbadan kecil, telinga tegak, berbulu lurus dan pendek, dan memiliki dua tanduk berukuran relatif pendek baik pada jantan maupun betina.
Tinggi gumba jantan 60-65 cm dan betina 56 cm. Bobot jantan bisa mencapai 25 kg, sedangkan bobot betina sekitar 20 kg.
2. Kambing Merica. Kambing Marica terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan yang merupakan salah satu genotipe kambing asli Indonesia. Kambing Merica punya potensi genetik yang mampu beradaptasi dengan baik di daerah agro- ekosistem lahan kering yang memiliki curah hujan sepanjang tahun sangat rendah dan dapat bertahan hidup walau hanya memakan rumput kering di daerah tanah berbatuan. Ciri yang paling khas pada kambing ini adalah telinganya tegak dan relatif kecil pendek dibanding telinga kambing kacang.
Tanduk pendek dan kecil serta kelihatan lincah dan agresif
3. Kambing Gembrong. Asal kambing gembrong terdapat di daerah kawasan timur Pulau Bali terutama di Kabupaten Karangasem. Ciri khas dari kambing ini adalah berbulu panjang. Panjang bulu berkisar sekitar 15-25 cm, bahkan rambut pada bagian kepala sampai menutupi muka dan telinga. Rambut
14 Sinar Tani Edisi 25 April–1 Mei 2007. Tujuh Plasma Nutfah Kambing Lokal Indonesia.
panjang terdapat pada kambing jantan, sedangkan kambing betina berbulu pendek berkisar 2-3 cm. Warna tubuh pada umumnya dominan putih sebahagian berwarna coklat muda dan coklat.
4. Kambing Ettawa. Kambing ettawa berasal dari India. Kambing ini disebut juga kambing Jamnapari. Kambing jenis ini memiliki badan yang besar, tinggi gumba jantan 90-127 cm dan betina mencapai 92 cm. Bobot kambing jantan bisa mencapai 91 kg dan kambing betina mencapai 63 kg. Telinga panjang dan terkulai ke bawah, bentuk dahi dan hidung cembung. Baik jantan maupun betina bertanduk pendek. Kambing jenis ini merupakan jenis kambing penghasil susu yang mampu menghasilkan susu hingga tiga liter per hari.
5. Kambing Peranakan Ettawa. Kambing peranakan ettawa (PE) merupakan hasil persilangan antara kambing ettawa (asal India) dengan kambing kacang.
Penampilan kambing jenis ini mirip kambing ettawa tetapi lebih kecil.
Kambing PE ini bertipe dwiguna yaitu sebagai penghasil daging dan susu. Ciri khas kambing PE antara lain; bentuk muka cembung melengkung dan dagu berjanggut, terdapat gelambir di bawah leher, telinga panjang, ujung tanduk agak melengkung, tubuh tinggi dan pipih, bentuk garis punggung mengombak ke belakang. Bulu tumbuh panjang di bagian leher, pundak, punggung dan paha. Bulu pada bagian paha tumbuh panjang dan tebal.
6. Kambing Saenen. Kambing saenen berasal dari Saenen, Swiss. Baik kambing jantan maupun betinanya tidak memiliki tanduk. Warna bulunya putih atau krem pucat. Hidung, telinga dan ambingnya berwarna belang hitam. Dahinya lebar, sedangkan telinganya berukuran sedang dan tegak. Kambing ini merupakan jenis kambing penghasil susu.
Domba merupakan ternak yang pertama kali didomestikasi, dimulai dari daerah Kaspia, Iran, India, Asia Barat dan Tenggara, dan Eropa sampai ke Afrika.
Di Indonesia, domba dikelompok menjadi (1) domba ekor tipis (Javanese thin tailed), (2) domba ekor gemuk (Javanese fat tailed), dan (3) domba priangan atau dikenal juga sebagai domba garut15. Secara umum ketiga jenis domba tersebut dibedakan dengan ciri-ciri sebagai berikut :
15 Salamena J.F. 2003. Strategi Pemuliaan Ternak Domba Pedaging di Indonesia. Makalah Pengantar Falsafah sains Program Pasca Sarjana (S3) Institut Pertanian Bogor. 13 Mei 2003. Bogor.
1. Domba Ekor Tipis. Domba ini merupakan domba yang banyak terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Domba ini termasuk golongan domba kecil, dengan berat potong sekitar 20-30 kg. Warna bulu putih dan biasanya memiliki bercak hitam di sekeliling matanya. Ekornya tidak menunjukkan adanya desposisi lemak. Domba jantan memiliki tanduk melingkar, sedangkan yang betina biasanya tidak bertanduk. Bulunya berupa wol yang kasar.
2. Domba Ekor Gemuk. Domba ini banyak terdapat di Jawa Timur dan Madura, serta pulau-pulau di Nusa Tenggara. Di Sulawesi Selatan dikenal sebagai domba Donggala. Tanda-tanda yang merupakan karakteristik khas domba ekor gemuk adalah ekor yang besar, lebar dan panjang. Bagian pangkal ekor membesar merupakan timbunan lemak, sedangkan bagian ujung ekor kecil tidak berlemak. Warna bulu putih dan tidak memiliki tanduk. Bulu wolnya kasar. Bentuk tubuh domba ekor gemuk lebih besar dari pada domba ekor tipis. Domba ini merupakan domba tipe pedaging, berat jantan dewasa antara 40-60 kg, sedangkan berat badan betina dewasa 25-35 kg. Tinggi badan pada jantan dewasa antara 60-65 cm, sedangkan pada betina dewasa 52-60 cm.
3. Domba Priangan. Terdapat di Priangan, yaitu di Bandung, Garut, Sumedang, Ciamis, dan Tasikmalaya. Domba ini dipelihara khusus untuk diadu. Domba priangan bertubuh besar, tanduk kambing jantan besar dan kuat, melingkar seperti spiral. Domba ini diduga turunan dari persilangan antara domba Merino dan domba Cape dengan domba lokal sekitar tahun 1864. Namun sekarang sudah tidak ada bekas-bekas dari karakteristik wol domba Merino pada domba priangan tersebut. Pada domba ini kadangkala dijumpai adanya domba tanpa daun telinga.
2.3 Pemeliharaan Ternak Kambing dan Domba
Dalam melakukan pemeliharaan ternak kambing domba terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti pemilihan bakalan, pemberian pakan, pengaturan kandang dan pengendalian hama penyakit ternak.
2.3.1 Pemilihan Bakalan Ternak
Menurut Sumoprotowo (1993), bahwa pemilihan bakalan ternak merupakan langkah penting setelah penentuan lokasi. Langkah ini bertujuan untuk memperoleh bakalan-bakalan yang akan memberikan Pertambahan Berat Badan
Harian (PBBH) tinggi pada rentang waktu pemeliharaan, sehingga keuntungan yang diperoleh maksimal. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan bakalan adalah jenis kambing dan domba itu sendiri, jenis kelamin, dan penampilan fisik. Selain itu, pemilihan bakalan harus memperhatikan usia ternak (masih muda) dan tidak pernah terserang penyakit yang membahayakan (Duldjaman dan Rahayu, 1996). Bakalan ternak yang baik juga harus berbulu bersih dan mengkilat serta mempunyai daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan (Dinas Peternakan, 1997).
2.3.2 Pemberian Pakan Ternak
Pakan sangat penting untuk pertumbuhan ternak kambing dan domba.
Bentuk manajemen pemeliharaan sistem kandang yang digunakan medorong ketersediaan pakan harus diperhatikan dan harus selalu tersedia. Pakan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu pakan dari hijauan sebagai pakan utama dan konsentrat sebagai pakan penguat (Suharno dan Nazarudin, 1994). Pakan hijauan seperti rumput dan legum (kacang-kacangan) mempunyai kandungan protein relatif rendah, sehingga keberadaan pakan konsentrat sebagai sumber energi dan protein berperan penting untuk melengkapi pakan hijauan agar penggemukan dapat maksimal.
2.3.3 Pengaturan Kandang Ternak
Mulyono (2005), mengemukakan bahwa dalam pemeliharaan kambing dan domba, perkandangan perlu diperhatikan. Kandang merupakan tempat berlindung ternak dari hujan dan terik matahari sehingga tercipta rasa nyaman. Dalam kandang yang baik, ternak akan mampu berkembang dan tumbuh secara normal.
Sebaliknya, dalam kandang yang kurang baik memungkinkan ternak menjadi lambat tumbuh, kurang sehat, dan terjadi pemborosan pakan.
Menurut Murtidjo (1993), ada beberapa tipe kandang kambing dan domba yang terbentuk karena adanya perbedaan kondisi daerah pemeliharaan, tingkat skala usaha, dan tingkat pengetahuan peternak. Kandang tersebut adalah tipe kandang panggung dan lemprok (non panggung). Umumnya peternak membangun kandang panggung. Kandang panggung merupakan kandang yang konstruksinya dibuat panggung yang diberi sekat pembatas untuk jumlah ternak tertentu dan dilengkapi dengan tempat pakan dan minum.
2.3.4 Pencegahan Penyakit Ternak
Dalam usaha peternakan kambing dan domba, kesehatan merupakan hal yang sangat penting karena berhubungan dengan produksi (Mulyono, 2005).
Tindakan pertama yang dianjurkan pada usaha pemeliharaan kambing dan domba adalah melakukan pencegahan terjangkitnya penyakit. Duldjaman dan Rahayu (1996), mengemukakan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit: (1) memelihara kebersihan ternak, pakan tempat minum, dan peralatan lainnya, (2) tidak mencampur ternak yang sakit dengan yang sehat sehingga tidak terjadi penularan, dan (3) melakukan vaksinasi dan pemberian obat pencegah penyakit yang dilakukan secara teratur.
Ternak kambing dan domba harus dijaga dan dirawat kesehatannya sejak awal. Lingkungannya pun dihindarkan dari berbagai bentuk gangguan agar ternak tidak sampai mengalami stres. Pencegahan penyakit terhadap ternak dimulai ketika bakalan baru datang (sebelum dimasukkan ke dalam kandang) dengan melakukan vaksinasi dan pemberian obat pencegah penyakit. Bentuk pencegahan lainnya dapat dilakukan dengan cara mencukur bulu ternak. Pencegahan dilakukan dengan tujuan agar bibit-bibit penyakit, kutu, dan parasit lainnya yang melekat pada ternak dapat segera dihilangkan, kemudian setelah dicukur ternak dimandikan sampai bersih. Pencegahan selanjutnya yaitu pencegahan stres pada ternak, pencegahan ini dapat dilakukan dengan pemberian obat anti stres.
2.4 Penelitian Terdahulu yang Relevan
2.4.1 Strategi Pengembangan Usaha Ternak Kambing dan Domba
Sasongko (2006), menyatakan bahwa strategi pengembangan usaha penggemukan kambing dan domba yang dilakukan oleh MT Farm adalah penetapan harga jual ternak yang hampir sama dengan harga beli, peningkatan kualiatas ternak, peningkatan pelayanan terhadap konsumen, dan merintis jenis usaha baru yang bernaung di bawah MT Farm. Strategi ini tercipta berdasarkan SDM yang memiliki spesifikasi ilmu yang sesuai, terdidik yang dimiliki oleh perusahaan; manajemen yang bersifat kekeluargaan; dan MT Farm adalah pemasok ternak lembaga-lembaga aqiqah Jabotabek. Alat analisis yang digunakan adalah matriks IFE, matriks EFE, matriks IE, analisis SWOT dan hirarki proses.
Berbagai macam kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman, baik datangnya dari internal maupun eksternal perusahaan melalui penelitian ini prioritas strategi yang dianjurkan diantaranya adalah: memperbaiki perencanaan perusahaan dengan menyusun target dan rencana penjualan berdasarkan pasokan ternak yang ada di kandang; membangun dan memperkuat jaringan usaha dengan lembaga-lembaga aqiqah maupun pedagang; dan meningkatkan promosi berdesign islam, kontinyu yang berbasiskan internet dan sebagainya.
Hadiningrum (2006) menggunakan alat analisis yang sama, menyatakan bahwa prioritas strategi pengembangan usaha ternak domba yang paling baik yang dijalankan peternakan Tawakkal adalah: mempertahankan kualitas produk dan pelanggan yang ada dengan tata laksana manajemen produksi yang baik;
meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar; mempertahankan hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar; dan menciptakan kerjasama dengan masyarakat sekitar dalam pengadaan pakan ternak. Kesimpulan ini didapatkan berdasarkan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang ada pada peternakan tawakkal tersebut baik dari dalam maupun luar perusahaan.
Ada empat alternatif strategi berdasarkan analisis SWOT yang dikemukakan oleh Fahrurozi (2007) dalam pengembangan usaha untuk usaha ternak domba di Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, yaitu:
pengembangan usahaternak melalui pembibitan; pengembangan sistem maporo;
menciptakan agen informasi; dan intensifikasi usaha ternak. Lain halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Karyadi (2008) yang dilakukan di Desa Cigudeg, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, menyatakan bahwa strategi yang paling tepat dilakukan dalam pengembangan usaha ternak domba adalah melalui penetrasi pasar dan pengembangan produk.
2.4.2 Pendapatan Usahaternak Domba
Menurut Kurniawan (2007), usahaternak domba memberikan kontribusi sebesar 15.54 persen terhadap total pendapatan rumah tangga di Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Penentuan melalui metode cluster random sampling, didapatkan sampel sebesar 164 KK (Kepala Keluarga) dari populasi 700 KK. Pendapatan rata-rata KK adalah Rp 6 273 825 per tahun dan rata-rata pendapatan KK dari usahaternak domba tersebut sebesar Rp 986 620 per
tahunnya.
2.4.3 Kelayakan Usahaternak Kambing dan Domba
Irwan (2008) melalui penelitiannya yang berjudul ”Analisis Kelayakan Usahaternak Domba Rakyat di Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat”, secara umum menyatakan bahwa usahaternak yang dilakukan layak. Indikator kelayakan finansial yang digunakan adalah NPV, Gross B/C dan IRR dengan tingkat suku bunga 9.5 persen. NPV yang diperoleh positif, Gross B/C mencapai 1.10, dan IRR yang didapatkan besar dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 16.56 persen. Melalui analisis pengganti (switching value analisys), kenaikan input dapat ditolerir mencapai 9.97 persen dan penurunan output maksimun dimana usahaternak domba ini masih layak adalah 9.0 persen.
Penelitian Dodo (2007) yang berjudul ”Analisis Usahaternak Kambing melalui Penelitian Aksi Partisifasi (Studi Kasus: Kelompok Tani Mekar, Situgede, Bogor Barat, Bogor, Jawa Barat)” secara finansial menyatakan layak untuk diusahakan dengan nilai NPV yang positif, nilai IRR jauh lebih besar dari suku bunga yang digunakan dan investasi dalam jangka 2.4 tahun sudah kembali. Hasil analisis sensitivitas melalui switching value analisys dengan menurunkan harga jual ternak menunjukkan bahwa usaha ini layak untuk diusahakan selama penurunan harga ternaknya tidak lebih atau sama dengan delapan persen.
2.4.4 Kelayakan Usaha Komoditi Lain
Beberapa penelitian yang berkaitan dengan kelayakan usaha dari jenis komoditi lain diantaranya skripsi Utami (2008) yang berjudul ”Analisis Kelayakan Usaha Serbuk Minuman Instan Berbasis Tananman Obat (Studi Kasus;
Koleksi Taman Obat dan Spa Kebugaran Syifa, Bogor)”, menyatakan bahwa usaha Tanaman Obat dan Spa Kebugaran Syifa secara aspek finansial dinilai tidak layak untuk diusahakan, sedangkan dilihat aspek non finansial usaha ini dinilai layak. Indikator kelayakan finansial yang digunakan yaitu: NPV, Net B/C, IRR dan PP.
2.4.5 Penelitian yang akan dilakukan
Penelitian-penelitian terdahulu memiliki kesamaan dan perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan. Penelitian yang memiliki kesamaan banyak memberikan masukan untuk penelitian yang akan dilakukan. Kesamaan tersebut
berupa lokasi tempat penelitian dan alat analisis yang digunakan. Penelitian yang akan dilakukan memiliki kesamaan dengan penelitian Sasongko (2006) yaitu berupa lokasi tempat penelitian. Alat analisis yang digunakan pada penelitian yang akan dilakukan pada umumnya tidak jauh berbeda dengan penelitian tentang studi kelayakan finansial yang lainnya.
Penelitian Irwan (2008) memiliki kesamaan tentang komoditi dan topik penelitian dengan penelitian yang akan dilakukan. Perbedaan yang mendasar dengan penelitian yang akan dilakukan adalah bahwa penelitian yang akan dilakukan membahas kelayakan finansial khusus penggemukan ternak kambing dan domba, dan data yang digunakan berupa data historys perusahaan, sedangkan pada penelitian sebelumnya membahas kelayakan usahaternak domba rakyat dan data yang digunakan berupa data estimation. Dilihat dari segi pengusahaan dan manajemen ternak bahwa ternak kambing dan domba pada penelitian yang akan dilakukan dipelihara secara intensif melalui sistem kandang.
BAB III
KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Pengertian Studi Kelayakan Proyek
Menurut Kadariah (2001), Proyek adalah suatu kesatuan keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan manfaat (benefit), atau suatu aktivitas dimana dikeluarkan uang dengan harapan untuk mendapatkan hasil (return) diwaktu yang akan datang, dan yang dapat direncanakan, dibiayai dan dilaksanakan sebagai satu unit. Pendapat yang hampir sama juga dikemukan oleh Gray (1992), dan Gittinger (1986), mengemukakan tentang proyek yang bergerak dibidang pertanian adalah suatu kegiatan investasi yang mengubah sumber-sumber finansial menjadi barang-barang modal yang dapat menghasilkan keuntungan atau manfaat setelah beberapa periode waktu.
Studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (biasanya merupakan proyek investasi) dilaksanakan dengan berhasil (Husnan dan Suwarsono, 2000). Pengertian berhasil disini dapat diartikan berbeda-beda. Keberhasilan menurut pihak swasta lebih cenderung kearah manfaat ekonomis suatu investasi, sedangkan keberhasilan menurut pihak pemerintah atau lembaga-lembaga non profit lebih cenderung kearah manfaat yang bersifat sosial yang langsung dirasakan masyarakat luas.
Kriteria keberhasilan suatu proyek dapat dilihat dari manfaat investasi yaitu terdiri dari; manfaat ekonomis proyek terhadap proyek itu sendiri (manfaat finansial), manfaat proyek bagi negara tempat proyek itu dilaksanakan (manfaat ekonomi nasional), dan manfaat sosial proyek tersebut bagi masyarakat sekitar proyek tersebut.
Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), tujuan studi kelayakan proyek pertanian adalah untuk menghindari keterlanjuran modal yang terlalu besar untuk kegiatan yang ternyata tidak menguntungkan. Studi kelayakan akan memakan biaya, tetapi biaya tersebut relatif kecil apabila dibandingkan dengan resiko kegagalan suatu proyek yang menyangkut investasi dalam jumlah yang besar.
3.1.2 Aspek-aspek Studi Kelayakan Proyek
3.1.2.1 Aspek-aspek Non Finansial Studi Kelayakan
Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), sampai saat ini belum ada kesepakatan tentang aspek-aspek apa saja yang perlu diteliti dalam studi kelayakan. Hal ini bergantung pada besar kecilnya dana yang tertanam dalam investasi tersebut, tetapi umumnya penelitian akan dilakukan terhadap aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum.
1. Aspek Pasar
Aspek pasar mencakup struktur pasar, peluang pasar, dan strategi pemasaran yang akan dilaksanakan.
a. Struktur pasar. Struktur pasar dapat dibedakan atas pasar persaingan sempurna, pasar monopoli, pasar oligopoli dan pasar persaingan monopolistik (Kotler, 2002). Pasar persaingan sempurna adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dengan penawaran dimana jumlah produsen dan konsumen sedemikian rupa banyaknya dan tidak terbatas. Ciri-ciri pokok dari pasar persaingan sempurna adalah jumlah produsen dalam pasar sangat banyak, produk yang ditawarkan homogen, konsumen memahami sepenuhnya keadaan pasar, tidak ada hambatan untuk keluar masuk bagi setiap produsen, pemerintah tidak campur tangan dalam proses pembentukan harga, dan produsen hanya berperan sebagai price taker.
Pasar monopoli adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dan penawaran dimana hanya ada satu penjual atau produsen yang menguasai seluruh konsumen yang ada, tidak ada barang substitusi, produsen sebagai price meker, dan memiliki hambatan yang sangat kuat untuk memasuki pasar tersebut.
Pasar oligopoli adalah suatu bentuk interaksi permintaan dan penawaran dimana terdapat beberapa penjual atau produsen yang menguasai seluruh pangsa pasar yang ada. Ciri-ciri dari pasar oligopoli adalah: terdapat beberapa produsen yang menguasai pasar; barang yang diperjualbelikan homogen dengan adanya differentiated product; terdapat hambatan masuk yang cukup kuat bagi perusahaan di luar pasar untuk masuk ke dalam pasar; satu di antara para oligopolis merupakan price leader yaitu penjual yang memiliki pangsa
pasar yang terbesar dan penjual ini memiliki kekuatan yang besar dalam menetapkan harga dan para penjual lainnya mengikuti harga tersebut.
Pasar monopolistik adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dengan penawaran dimana terdapat sejumlah besar penjual yang menawarkan barang yang sama. Pasar monopolistik merupakan pasar yang memiliki sifat monopoli pada spesifikasi barangnya, sedangkan unsur persaingan pada banyak penjual yang menjual produk yang sejenis. Ciri-ciri dari pasar monopolistik adalah:
terdapat banyak produsen yang menguasai pasar, barang yang diperjualbelikan merupakan differentiated product, produsen memiliki kekuatan monopoli atas produk sendiri, untuk memenangkan persaingan setiap penjual aktif melakukan promosi atau iklan dan keluar masuk pasar relatif lebih mudah.
b. Peluang Pasar. Peluang pasar merupakan proporsi dari keseluruhan pasar potensial yang diharapkan dapat diraih oleh perusahaan yang terkait. Pasar potensial adalah keseluruhan jumlah produk yang mungkin dapat dijual dalam pasar tertentu dan pada periode tertentu pula. Peluang pasar dapat dilihat dari jumlah permintaan-permintaan yang ada terhadap suatu produk tertentu.
c. Strategi Pemasaran. Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), strategi pemasaran adalah berbagai usaha yang perlu dilakukan oleh produsen dalam mempengaruhi keputusan konsumen untuk melakukan pembelian hasil produksinya. Menurut Umar (2005), terdapat berbagai kegiatan yang harus dilalui oleh barang dan jasa sebelum sampai ke konsumen. Berbagai kegiatan tesebut disederhanakan menjadi empat kebijakan pemasaran yang dapat dikontrol yang disebut dengan marketing mix (bauran pemasaran). Bauran pemasaran merupakan alat yang dipergunakan untuk mempengaruhi konsumen untuk tertarik, senang lalu memberi dan merasakan kepuasan akan produk yang dipasarkan tersebut. Bauran pemasaran merupakan kombinasi dari empat strategi pemasaran yang terdiri dari strategi produk, strategi harga, strategi distribusi dan strategi promosi.
2. Aspek Teknis
Aspek teknis berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis dan pengoperasiannya setelah proyek tersebut selesai dibangun. Secara umum aspek teknis mencakup lokasi proyek, luasan produksi, dan layout perusahaan.
Menurut Husnan dan Muhammad (2000), variabel utama yang perlu mendapat perhatian dalam penentuan lokasi perusahaan adalah; ketersediaan bahan baku, letak pasar yang dituju, tenaga listrik dan air, supply tenaga kerja dan fasilitas transportasi.
Luasan produksi adalah jumlah produk yang seharusnya diproduksi untuk mencapai keuntungan yang optimum. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan luasan produksi yaitu batasan permintaan, persediaan mesin- mesin, jumlah dan kemampuan tenaga kerja pengelola proses produksi, kemampuan finansial dan manajemen. Berdasarkan jumlah tenaga kerja, perusahaan dapat dikelompokkan ke dalam 4 skala usaha, yaitu perusahaan besar (≥100 orang), sedang (20-99 orang), kecil (5-19 orang) dan rumah tangga (1-4 orang)16. Penggolongan perusahaan pengolahan ini hanya didasarkan pada banyaknya tenaga kerja, tanpa memperhatikan penggunaan mesin dan besarnya modal yang digunakan perusahaan. Layout perusahaan merupakan proses penentuan bentuk dan penempatan fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh perusahaan yang meliputi layout lahan lokasi perusahaan, layout bangunanan dan fasilitas pendukung lainnya.
3. Aspek Manajemen
Manajemen dalam pembangunan proyek berupa proses untuk merencanakan penyiapan secara fisik dan peralatan lainnya agar proyek dapat beroperasi tepat waktu, dan manajemen dalam operasi berupa pekerjaan dan persyaratan apa saja yang diperlukan agar proyek dapat beroperasi dan pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik, termasuk struktur organisasi, deskripsi jabatan, spesifikasi jabatan dan personil kunci.
4. Aspek Hukum
Terdiri dari bentuk badan usaha yang akan digunakan, izin usaha, akta, sertifikat dan perizinan lain yang diperlukan dalam menjalankan usaha serta peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
16 Badan Pusat Statistik. 2003.
3.1.2.2 Aspek Finansial Studi Kelayakan
Analisis finansial dalam studi kelayakan bertujuan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan, mengetahui perkiraan aliran kas (cashflow) dengan membandingkan antara pengeluaran dan penerimaan, dan melalui penilaian indikator kelayakan investasi maka dapat ditentukan apakah proyek dapat dijalankan atau tidak.
1. Biaya dan Manfaat
Biaya adalah segala sesuatu yang mengurangi suatu tujuan (Gittinger, 1986).
Berdasarkan waktu pengalokasian, biaya dibedakan dua jenis yaitu biaya investasi dan biaya produksi atau operasi. Biaya investasi merupakan biaya yang digunakan untuk membangun suatu unit usaha, sedangkan biaya produksi adalah biaya yang digunakan untuk menjalankan suatu unit usaha.
Selain itu, pajak juga termasuk sebagai komponen biaya. Sedangkan manfaat adalah segala sesuatu yang membantu tujuan, dan juga dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat menimbulkan kontribusi terhadap suatu proyek baik secara langsung (tangible) maupun tidak langsung (intangible).
2. Cashflow
Cashflow adalah susunan arus manfaat bersih tambahan sebagai hasil pengurangan arus biaya tambahan terhadap arus manfaat. Arus tersebut menggambarkan keadaan dari tahun ketahun selama jangka hidup dari suatu proyek (Kuntjoro, 2002). Cashflow terdiri dari inflow yang menggambarkan arus penerimaan kas dan outflow sebagai pengeluaran kas selama jangka waktu umur proyek, sedangkan nilai sisa (salvage value) merupakan biaya modal yang tidak habis selama umur usaha (Gittinger, 1986).
3. Kriteria Kelayakan Investasi
Menurut Kadariah (1999), kriteria finansial yang digunakan untuk menilai kelayakan suatu proyek, antara lain berupa; Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit-Cost (Net B/C), Gross Benefit-Cost Ratio (Gross B/C) dan Payback Period (PP).
3.1.3 Discounding Factor dan Compounding factor
Manfaat investasi baru akan dapat dirasakan setelah beberapa periode kedepan lamanya. Terkait dengan itu, konsep time preference menjadikan
pengorbanan penggunaan waktu pakai uang terhadap uang itu sendiri harus ada nilainya. Nilai tersebut dinilai dengan uang itu sendiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi time preference adalah: inflasi yang akan menurunkan nilai uang;
resiko yang tidak diketahui dimasa yang akan datang yang menyebabkan nilai uang masa yang akan datang memerlukan jumlah yang besar; dan, terkait dengan konsumsi yang memiliki kecendrungan memberikan kenikmatan yang lebih untuk saat ini dibanding konsumsi yang akan datang.
Untuk mengatasi adanya perubahan terhadap nilai mata uang tersebut maka dilakukan dengan men-discounding factor-kan dan atau men-compounding factor-kan nilai mata uang tersebut pada waktu tertentu terhadap waktu tertentu pula. Discounding factor yaitu menentukan jumlah uang disaat sekarang (present) bila diketahui sejumlah tertentu dimasa yang akan datang (future) dengan memperhatikan periode waktu tertentu, sedangkan compounding factor yaitu menentukan nilai uang yang akan datang jika telah diketahui sejumlah uang saat ini dengan memperhatikan periode waktu tertentu.
3.1.4 Switching Value Analisys
Switching value analisys atau analisis pengganti merupakan salah satu variasi dari analisis sensitivitas. Metode ini digunakan untuk menganalisis nilai pengganti terhadap perubahan-perubahan yang terjadi agar proyek dapat memenuhi tingkat minimum diterimanya proyek. Dengan kata lain, sampai berapa persen perubahan yang terjadi pada variabel yang diduga bisa menyebabkan perubahan sehingga proyek dikatakan masih dapat diterima. Dengan kata lain, batas persen perubahan tersebut yang membuat nilai NPV = 0, net B/C = 1 dan IRR = tingkat suku bunga yang berlaku. Pada proyek pertanian perubahan tersebut diakibatkan oleh tiga permasalahan utama yaitu; perubahan harga jual produk, kenaikan biaya dan perubahan volume produksi.
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional
Kambing dan domba memiliki keunggulan lebih dibandingkan komoditi jenis ternak utama Indonesia lainnya. Keunggulan tersebut berupa; daya adaptasi yang baik, pertumbuhan cepat, pemeliharaan mudah, tahan terhadap penyakit, siklus produksi pendek dan, memiliki fungsi sosial dan keagamaan, serta memiliki
potensi pasar yang selalu terbuka lebar. Berbagai keunggulan tersebut merupakan landasan utama bagi investor dalam menginvestasikan modalnya pada usaha penggemukan kambing dan domba yang dikelola oleh peternakan MT Farm sehingga diharapkan dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan profit yang maksimal.
Keberhasilan MT Farm bergerak dalam menjalankan usaha penggemukan kambing dan domba dapat dilihat bahwa usia MT Farm dalam menggeluti dunia bisnis ini telah mencapai lebih empat tahun. Namun demikian, jalan atau tidaknya usaha bukanlah indikator penentu kelayakan dari suatu usaha. Indikator penentu layak atau tidaknya suatu usaha dapat dilihat dari aspek finansial dan non finansialnya. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kelayakan aspek non finansial (aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek hukum) dan aspek finansial dari usaha penggemukan kambing dan domba yang dikelola oleh MT Farm tersebut.
Penentuan kelayakan aspek non finansial dari usaha penggemukan kambing dan domba peternakan MT Farm yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan membandingkan antara fakta yang ada dengan teori-teori yang terkait melalui observasi dan studi literatur. Sedangkan penentuan aspek finansial menggunakan kriteria investasi berupa; NPV, IRR, Net B/C, Gross B/C dan PP.
Sebagai bentuk kewaspadaan terhadap usaha tersebut yang dikhawatirkan akan mengalami perubahan-perubahan pada peningkatan harga input dan penurunan kuantitas output, maka melalui analisis pengganti (switching value analisys) akan diketahui berapa besarnya batas perubahan tersebut yang akan membuat usaha tidak layak. Dengan demikian, maka hasil dari analisis ini akan dapat memberikan informasi tentang tingkat kelayakan finansial maupun non finansial dari usaha penggemukan kambing dan domba yang diusahakan oleh MT Farm. Alur kerangka pemikiran operasional dari penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Kerangka Alur Pemikiran Operasional
Keunggulan kambing dan domba:
1. Daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan
2. Mudah dalam pemeliharaan 3. Pertumbuhan cepat
4. Tahan terhadap penyakit 5. Memiliki siklus produksi pendek 6. Memiliki fungsi sosial dan
keagamaan
Peluang pasar terbuka lebar:
1. Dalam negeri: untuk ibadah qurban 5.6 juta ekor per tahun 2. Manca negara di kawasan Asia
Tenggara (Malaysia dan Singapura, serta kawasan Timur Tengah): 9.3 juta ekor per tahun
MT Farm
Usaha Penggemukan Kambing dan Domba Investor
Analisis Finansial
Tidak Layak Layak
Analisis Pengganti Analisis non Finansial
Aspek
Pasar Aspek
Teknis Aspek
Manajemen Aspek Hukum