BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
3. Data Penelitian
Dalam penelitian hukum normatif data yang dipergunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari penelitian kepustakaan (library research) yang bertujuan untuk mendapatkan konsep-konsep, teori-teori dan informasi-informasi serta pemikiran konseptual dari peneliti pendahulu baik berupa peraturan perundang-undangan dan karya ilmiah lainnya.47 Untuk memecah isu hukum dan sekaligus memberikan preskripsi mengenai apa yang seyogianya diperlukan sumber-sumber penelitian yang berupa bahan-bahan hukum primer, sekunder dan tersier.48
46Jhonny Ibrahim, Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif, ( Malang : Bayumedia Publishing, 2006). hal. 248.
47Johnny Ibrahim. Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Surabaya : Bayumedia, 2006), hal. 192.
48Peter Mahmud Marzuki, Op.,Cit, hal.141.
a. Bahan hukum primer
Bahan Bahan Hukum Primer adalah bahan-bahan hukum yang mengikat.49 Dokumen peraturan perundang – undangan yang mengikat dan ditetapkan oleh pihak yang berwenang.50 Dalam penelitian ini bahan hukum primer adalah terdiri dari aturan hukum yang diurut berdasarkan:
1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal 2) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik 3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah 4) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/ Kota
5) Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
6) Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2009 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Penanaman Modal
7) Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
b. Bahan hukum sekunder
Bahan Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang menjelaskan bahanhukum primer antara lain berupa jurnal hukum, jurnal ilmiah, surat kabar, internet, makalah-makalah, tulisan tentang pendapat pakar hukum
49Soerjono Soekanto dan Srimamudji, Penelitian Hukum Normatif,( Jakarta : IND-HILLCO, 2001 ) hal. 13.
50Ibid.
dibidang peraturan daerah yang berkaitan dengan objek penelitian.51 Pendapat para ahli yang dijadikan informasi dalam penelitian thesis ini ialah buku-buku yang berkaitan tentang perizinan dan non perizinan penanaman modal.
c. Bahan hukum tersier
Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan bermakna terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti kamus-kamus hukum, jurnal, diktat, makalah, ensiklopedia dan lain-lain.
Dalam hal ini bahan data sekunder didukung oleh bahan data primer dan hasil wawancara.
3. Tehnik dan Alat Pengumpulan Data
Tehnik dan alat pengumpulan data dilakukan melalui : a. Studi kepustakaan (Library research)
Sehubung dengan permasalahan dalam penelitian ini, adapun teknik pengumpulan data akan dilakukan melalui studi kepustakaan, dikumpulkan melalu studi literatur, dokumen dan dengan mempelajari ketentuan peraturan perundang-undangan, buku-buku hukum, artikel, literatur yang berhubungan dengan implementasi peraturan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di Bidang Penanaman Modal di Kabupaten Karo.
b. Wawancara (Interview)
Disamping studi kepustakaan, diperlukan data pendukung juga hal ini akan diperoleh dengan melakukan wawancara dengan pejabat Kantor PTSP Kab.
51Ibid. hal. 14.
Karo, Pengusaha atau investor. Adapun tujuan dilakukannya wawancara dengan pejabat Kantor PTSP Kab. Karo dan pengusaha atau investor untuk mengetahui implementasi peraturan PTSP di Bidang Penanaman Modal di Kabupaten Karo.
4. Analisis Data
Pengolahan, analisis dan konstruksi data penelitian hukum normatif dapat dilakukan dengan cara melakukan analisis terhadap kaidah hukum dan kemudian konstruksi dilakukan dengan cara memasukkan pasal-pasal ke dalam kategori-kategori atas dasar pengertian-pengertian dari sistem hukum tersebut.52Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan seluruh data yang sudah diperoleh melalui studi kepustakaan dan wawancara selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan dan pengelompokkan agar mudah ditelaah dan dianalisis secara secara kualitatif. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya akan dianalisis dengan pendekatan kualitatif, yaitu:
a. Mengumpulkan bahan hukum, berupa inventarisasi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penanaman modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP),
b. Memilah-milah bahan hukum yang sudah dikumpulkan dan selanjutnya melakukan sistematisasi bahan hukum sesuai dengan permasalahan,
52Soejono Soekonto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2006), hal. 225.
c. Menganalisis bahan hukum dengan membaca dan menafsirkannya untuk menemukan kaiedah, asas dan konsep yang terkandung di dalam bahan hukum tersebut,
d. Menemukan hubungan konsep, asas dan kaidah tersebut dengan menggunakan teori sebagai pisau analisis.
Penarikan kesimpulan untuk menjawab permasalahan dilakukan dengan menggunakan logika berfikir deduktif.Metode deduktif dilakukan dengan membaca, menafsirkan dan membandingkan hubungan-hubungan konsep, asas dan kaidah yang terkait sehingga memperoleh kesimpulan yang sesuai dengan tujuan penulisan yang dirumuskan.
BAB II
PERATURAN PERIZINAN DAN NON PERIZINAN MELALUI SISTEM PELAYANAN TERPADU SATU PINTU (PTSP) DI BIDANG PENAMANAN
MODAL DI KABUPATEN KARO
A. Penanaman Modal Secara Langsung Berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal
1. Kebijakan Dasar Penanaman Modal
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP Nasional) yang menjadi arah kebijaksanaan penanaman modal ditetapkan oleh Undang-Undang No.
17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 bahwa penanaman modal dimungkinkan pelaksanaannya di Indonesia dengan memenuhi berbagai persyaratan-persyaratan tertentu. Disamping itu penanaman modal diarahakan untuk memperkuat tumbuhnya ekonomi nasional dalam rangka mendukung tercapainya tujuan pembangunan nasional.53
RPJP Nasional merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya Pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial dalam bentuk rumusan visi, misi dan arah Pembangunan Nasional.54
53Aminuddin Ilmar, Hukum Penanaman Modal di Indonesia, ( Jakarta : PRENADA MEDIA GROUP, 2007) hal. 35.
54 Republik Indonesia, Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. Pasal 3.
Sebagai tempat untuk melakukan kegiatan investasi, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, antara lain :
a. Wilayah yang luas dan subur dengan kekayaan alam yang melimpah, b. Upah buruh yang relatif rendah,
c. Pasar yang sangat besar, d. Lokasi yang strategis,
e. Adanya upaya sungguh-sungguh dari pemerintah untuk mendorong iklim investasi yang sehat,
f. Tidak adanya pembatasan atas arus devisa, termasuk atas modal dan keuntungan, dan lain-lain.55
Masa-masa sebelum krisis merebak ( pra-1997), iklim penanaman modal di Indonesia dipandang cukup menaik bagi investor asing maupun dalam negeri karena lingkungan politik yang relatif stabil, meskipun stabilitas tersebut semu. Namun kini, para investor (terutama asing) tampaknya masih menahan diri untuk menunggu adanya perkembangan politik yang lebih favourable untuk mulai atau memperluas investasinya. Bagi Indonesia, untuk keluar dari krisis yang dihadapi, kita harus merumuskan kebijakan yang membuat Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara Asia umumnya dalam menarik investasi asing. Investasi yang dilakukan di Indonesia tersebut diharapkan akan mampu menggelindingkan kembali perekonomian nasional yang sangat terpuruk, menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan kemampuan tenaga kerja lokal, meningkatkan penguasaan Iptek dan menajemen modern, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan lain-lain. Untuk menjamin tujuan tersebut, diperlukan upaya yang sungguh-sungguh, menyeluruh dan keatif serta konsisten dari pemerintah dan rakyat Indonesia.56
55Ana Rokhmatussa’dyah dan Suratman , Hukum Investasi & Pasar Modal, ( Jakarta : Sinar Grafika, 2011). hal. 56.
56Ibid, hal. 57.
Langkah-langkah yang sudah, sedang, dan akan ditempuh dalam menciptakan iklim investasi yang favourable tersebut mencakup hal-hal seperti :
a. Menyederhanakan proses dan tata cara perizinan dan persetujuan dalam rangka penanaman modal.
b. Membuka secara lebih luas bidang-bidang yang semula tertutup atau dibatasi terhadap penanaman modal asing;
c. Memberikan berbagai skema insentif, baik pajak maupun nonpajak;
d. Mengembangkan kawasan-kawasan untuk menanamkan modal dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan;
e. Menyempurnakan berbabagai produk hukum dengan mengeluarkan peraturan perundang-undangan baru yang lebih menjamin iklim investasi yang sehat;
f. Menyempurnakan proses penegakan hukum dan penyelesaian sengketa yang efektif dan adil;
g. Menyempurnakan tugas, fungsi, dan wewenang instansi terkait untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik;
h. Membuka kemungkinan pemilikan saham asin yang lebih besar dan lain-lain.57
Penyempurnaan berbagai produk hukum, pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan perundang-undangan baru yang lebih menjamin iklim investasi yang sehat, misalnya dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 4 Tahun 1998 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Selanjutnya Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.
Guna menyempurnakan proses penegakan hukum dan penyelesaian sengketa yang efektif dan adil, pemerintah memberlakukan Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Abitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Di samping pengadilan nasional, metode yang terdapat dalam hukum internasional dapat pula dijadikan
57Ana Rokhmatussa’dyah dan Suratman, Hukum Investasi (Hukum dan Kebijakan Investasi) di Indonesia, Diktat Kuliah, FH-Unisma, Malang, 2006, hal. 67-68.
acuan. Pasal 33 (1) piagam PBB memberika pedoman yang cukup lengkap bagi para pihak yang bersengketa di bidang penanaman modal. Pasal 33 (1) tersebut berbunyi:
“... the parties to any dispute... shall... seek a solution by negotiation, inquiry, mediation, conciliation, arbitration, judicial settlement resorting to regional agencies or arrangement, or other peacful means of their own choice.”58 Dari bunyi pasal tersebut, metoda penyelesaian sengketa dapat dikategorikan sebagai berikut :
a. Negosiasi;
b. Penyelidikan (Fact Finding atau Inquiry);
c. Mediasi ; d. Konsiliasi ; e. Arbitrase ;
f. Pengadilan Nasional (Internasional);
g. Badan-Badan Regional;
h. Cara damai lainnya yang para pihak sepakati.59
Selanjutnnya dalam rangka untuk menyempurnakan tugas, fungsi dan wewenang instansi terkait untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik, dan membuka kemungkinan pemilikan saham asing yang lebih besar, pemerintah telah mengeluarkan Keppres Nomor 183 Tahun 1998 tentang Badan Koordinasi Penanaman Modal; Keppres Nomor 144 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden No. 25 Tahun 1991 tentang kedudukan, tugas, fungsi, dan susunan Badan Koordinasi Penanaman Modal; Serta Keputusan Menteri Negara Investasi/Kepala BKPM No. 12/SK/1999 tentang Penyertaan Modal dalam Perusahaan Induk (Holding).
58Piagam PBB. Pasal 3 ayat (1)
59Huala Adolf, Hukum Penyelesaian Sengketa Penanaman Modal, ( Bandung : Keni Media, 2011). hal. 4.
Kebijakan dasar penanaman modal yang ditetapkan oleh pemerintah yang tertuang dalam bentuk Rencana Umum Penanaman Modal adalah:
a. Memberikan perlakuan yang sama bagi penanam modal dalam negeri dan penanaman modal asing dengan tetap memerhatikan kepentingan nasional;
b. Menjamin kepastian hukum, kepastian berusaha bagi penanam modal sejak proses pengurusan perizinan sampai dengan akhirnya kegiatan penanaman modal sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
c. Membuka kesempatan bagi perkembangan dan memberikan perlindungan kepada usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi.60
Sesuai dengan kebijakan dasar yang ditetapkan oleh pemerintah tersebut, Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal menjanjikan beragam insentif dan jaminan bagi investor. Dalam Pasal 6, 7, 8, dan 9 undang-undang tersebut diatur mengenai perlakukan terhadap penanaman modal. Dalam Pasal 6 ayat (1) disebutkan bahwa pemerintah memberikan perlakukan yang sama kepada semua penanam modal yang berasal dari negara mana pun yang melakukan kegiatan penanaman modal di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.61
Kemudian dalam pasal 7 ayat (1) disebutkan bahwa pemerintah tidak akan melakukan tindakan nasionalisasi atau pengambilalihan hak kepemilikan penanam modal, kecuali dengan undang-undang. 62 Berdasarkan ketentuan tersebut, nasionalisasi adalah pencabutan hak milik secara menyeluruh atas perusahaan-perusahaan modal asing atau tindakan-tindakan yang mengurangi hak menguasai dan/atau mengurus perusahaan yang bersangkutan. Maksud pengaturan nasionalisasi
60Dhaniswara K. Harjono, Hukum Penanaman Modal, Tinjauan Terhadap Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, ( Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2007).
hal.108.
61Republik Indonesia, Undang Undang Penanaman Modal. Op. Cit., Pasal 6 ayat (1)
62Ibid, Pasal 7 ayat (1).
demikian adalah sebagai jaminan, khususnya yang menyangkut jaminan kepastian berusaha bagi investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia. Jaminan tersebut adalah bahwa tindakan nasionalisasi tidak akan pernah dilakukan, kecuali memenuhi persyaratan, diantaranya dilakukan dengan undang-undang, kepentingan negara menghendaki dan adanya kompensasi sesuai dengan asas-asas hukum internasional.63
Kemudian dalam pasal 8 ayat (1) disebutkan bahwa penanam modal dapat mengalihkan aset yang dimiliknya kepada pihak yang diinginkan oleh penanam modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.64 Penanam modal juga diberikan hak untuk melakukan transfer dan repatrisasi dalam valuta asing, antara lain terhadap modal, keuntugan, bunga bank, deviden, dan pendapatan lain.
Pasal 9 ayat (1) menyebutkan bahwa dalam hal adanya tanggungjawab yang belum diselesaikan oleh penanam modal, maka penyidik atau Menteri Keuangan dapat meminta Bank atau lembaga lain untuk menunda hak melakukan transfer dan/atau repatriasi. Pengadilan berwenang menetapkan penundaan hak melakukan transfer dan/atau repatriasi berdasarkan gugatan.65 Selanjutnya bank atau lembaga lain melaksanakan penetapan seluruh tanggungjawab penanam modal.66
Kebijakan dasar adalah menerapkan konsep Omnibuslaw di Indonesia, menurut Black Law Dictionary yang menjadi rujukan definisi istilah hukum di Barat juga sudah menjelaskan apa itu omnibus law. Satu regulasi baru dibentuk sekaligus
63Dhaniswara K. Harjono, Op. Cit., hal. 113.
64Republik Indonesia. Undang Undang Penanaman Modal. Op. Cit., Pasal 8 ayat (3).
65Ibid, Pasal 9 ayat (1).
66Ibid, ayat (2).
menggantikan lebih dari satu regulasi lain yang sudah berlaku. Konsep ini bisa saja hanya menggantikan beberapa pasal di satu regulasi dan saat bersamaan mencabut seluruh isi regulasi lain.67
Menko Perekonomian, Airlangga Hartato mengemukakan bahwa “Omnibus ini akan membuat membahas ekosistem penyederhanaan perizinan dan investasi. Di sini juga akan dimasukan terkait dengan kemudahan berusaha terkait juga yang terkait dengan dorongan untuk riset dan inovasi. Termasuk di dalamnya bagaimana membuat inovasi ini menjadi bagian dari pada peningkatan daya saing,”68
Segi filosofi perizinan, menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, pemerintah akan mendorong bahwa filosofinya itu bergeser dari berbasis kepada izin menjadi berbasis kepada resiko. “Jadi kalau usaha kecil dan menengah yang tidak ada resikonya, maka rezimnya adalah cukup pendaftaran saja, tidak perlu izin macam-macam. Tetapi semakin tinggi resikonya, maka itu berbasis kepada standar-standar.69 Hal ini akan menjadi stimulus untuk riset dan inovasi, administrasi pemerintahan baik pada tingkatan kementerian maupun pemerintah daerah (Pemda) dan lingkup di bawahnya.70
67 Hukum Online, Menelusuri Asal Usul Konsep Omnibus Law, https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5e2c1e4de971a/menelusuri-asal-usul-konsep-omnibus-law/ di akses pada tanggal 11 Februari 2020 pukul 3.21 Wib.
68 KOMINFO, Masuk Prolegnas 2020, Ombibus Law Cipta Lapangan Kerja Sederhanakan Perizinan dan Investasi, kominfo.go.id/content/detail/22694/masuk-prolegnas-2020-omnibus-law-cipta-lapangan-kerja-sederhanakan-perizinan-dan-investasi/0/berita, di akses pada tanggal 12 Februari 2020 pukul 3.25 Wib.
69Ibid.
70Kementrian Keuangan RI, Ini Hal-Hal yang perlu Dipersiapkan Omnibus Law, https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/ini-hal-hal-yang-perlu-dipersiapkan-omnibus-law/. Di akses pada tanggal 12 Februari 2020, pukul 3.29 Wib.
Kebijakan dasar yang dilakukan oleh pemerintah tersebut merupakan langkah yang baik dalam dunia Penanaman Modal, bahwa Menteri menjalan kebijakan dasar tersebut dengan adanya wewenang atribusi dari adanya pembagian kekuasaan oleh peraturan perundang-undangan. Konsep kewenangan dalam hukum administrasi negara berkaitan dengan asas legalitas, dimana asas ini merupakan salah satu prinsip utama yang dijadikan sebagai bahan dasar dalam setiap penyelenggaraan pemerintah dan kenegaraan disetiap Negara hukum terutama bagi negara-negara hukum yang menganut sistem hukum eropa kontinental. Asas ini dinamakan juga kekuasaan undang-undang (de heerchappij van de wet).71
Kebijakan dasar Omnibus Law, diharapkan dapat memberikan kepastian hukum bagi para investor, hal ini bila kepastian hukum yang dijadikan sasaran, maka hukum formal adalah wujud yang dapat diambil sebagai tolak ukurnya, dengan demikian perlu mengkaji hukum formal sebagai basis menganalisis suatu kebijakan yang dapat memberikan kepastian hukum di dalam menggerakkan usaha tersebut kedepan.72
2. Bidang Usaha Penanaman Modal
Pengaturan penanaman modal secara langsung (direct Invesment) tunduk pada kedaulatan penuh suatu negara, meskipun dalam beberapa hal telah diatur berdasarkan kesepakatan yang berbeda dalam mengatur keberadaan penanaman
71Eny Kusdarini, Dasar-Dasar Hukum Administrasi Negara dan Asas-asas Umum Pemerintahan Yang Baik. (Yogyakarta : UNYPress, 2011). hal. 89.
72Muhammad Yamin, Beberapa Dimensi Filosofis Hukum Agraria. ( Medan : Pustaka Bangsa Press, 2003). hal. 46.
modal secara langsung. Oleh karena itulah, masing-masing negara berbeda-beda dalam menetapkan bidang usaha yang dapat dilakukan kegiatan penanaman modal.
Dua pendekatan dalam menentukan bidang usaha penanaman modal.
Pendekatan pertama adaah pendekatan daftar positif (positive list) dan pendekatan kedua adalah pendekatan daftar negatif (negative list). Pendekatan positive list mencantumkan bidang usaha-bidang usaha yang dapat ditanami modal saja, sedangkan diluar bidang usaha yang tercantum dalam daftar kategori sebagai bidang usaha yang tertutup. Sedangkan pendekatan negative list pemerintah mencantumkan daftar bidang usaha yang terbuka. Pendekatan negative list bersifat lebih terbuka dibandingkan dengan pendekatan positif list.73
Indonesia menerapkan pendekatan negative list. Ketentuan pasal 12 Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal menerapkan pendekatan positif list dengan pengaturan sebagai berikut :
1) Semua bidang usaha atau jenis usaha terbuka bagi kegiatan penanaman modal, kecuali bidang usaha atau jenis usaha yang dinyatakan tertutup dan terbuka dengan persyaratan.
2) Bidang usaha yang tertutup bagi penanaman modal asing adalah : a. Produksi senjata, mesiu, alat peledak, dan peralatan perang; dan
b. Bidang usaha yang secara eksplisit dinyaakan tertutup berdasarkan undang-undang.
3) Pemerintah berdasarkan Peraturan Presiden menetapkan bidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal, baik asing maupun dalam negeri, dengan berdasarkan kriteria kesehatan, moral, kebudayaan, lingkungan hidup, pertanahan dan keamanan nasional, serta kepentingan nasional lainnya.
4) Kriteria dan persyaratan bidang usaha yang tertutup dan yang terbuka dengna persyaratan serta daftar bidang usaha yang tertutup dan yang terbuka dengan persyaratan masing-masing akan diatur dengan peraturan presiden.
73Mahmul Siregar, Hukum Penanam Modal Di Kawasan Ekonomi Khusus (Medan : dalam bahan ajar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara). hal. 13.
5) Pemerintah menetapkan bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan berdasarkan kriteria kepentingan nasional, yaitu perlindungan sumber daya alam, perlindungan pengembangan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi, pengawasan produksi dan distribusi, peningkatan kapasitas teknologi, partisipasi modal dalam negeri, serta kerja sama dengan badan usaha yang ditunjuk pemerintah.74
Pasal 12 ayat 1 di atas, merupakan prinsip utama yang dianut oleh legislator dan pemerinah. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah membuka seluas-luasnya bidang usaha babgi kegiatan penanaman modal. Kebijaksanaan ini bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi kegiatan penanaman modal di Indonesia. Namun, sesungguhnya pengaturan yang sangat luas ini sangat kurang memberikan kepastian hukum dan tidak melindungi perekonomian rakyat dan merupakan liberalisme yang berlebihan.75
Untuk memberikan kepastian hukum dan predictabilitas terkait bidang usaha penanaman modal, Presiden RI menetapkan dua hal : 1) Kriteria dan persyaratan penyusunan bidang usaha yang tertutup dan bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan dibidang penanaman modal, dan 2) daftar bidang usha yang tertutup dan bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan dibidang penanaman modal.
Saat ini pengaturan tentang kriteria dan persyaratan penyusunan bidang usaha yang tertutup dan bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan di bidang penanaman modal diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 76 Tahun 2007 tentang Kriteria dan Persyaratan Penyusunan Bidag Usaha Yang Tertutup Dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan Di Bidang Penamaman Modal dan pengaturan tentang daftas bidang usaha yang tertutup dan bidang usaha yang terbuka
74Pasal 12 UUPM
75Dhaniswara K. Harjono, Op. Cit., hal. 134.
dengan persyaratan di bidang penanaman modal diatur dalam Peraturan Presiden RI No. 44 Tahun 2016 Tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan Di Bidang Penanaman Modal.
Apabila mengkaji dan menganalisis ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal dan Peratura Presiden Republik Indonesia No. 76 Tahun 2007 tentang kriteria dan persyaratan penyusuan bidang usaha yang tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal, maka bidang usaha untuk penanaman investasi digolongkan menjadi tiga macam. Ketiga macam itu, meliputi :
1) Bidang usaha yang terbuka;
2) Bidang usaha yang tertutup; dan
3) Bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan.76
Bidang usaha terbuka merupakan bidang usaha yang diperkenankan untuk penanaman modal, baik untuk investasi domestik maupun investasi asing. Bidang usaha yang tertutup adalah jenis usaha tertentu yang dilarang diusahakan sebagai kegiatan penanaman modal oleh penanam modal. Bidang usaha terbuka dengan persyaratan adalah jenis usaha tertentu yang dapat diusahakan sebagai kegiatan penanam modal dengan persyaratan tertentu.77
76Peraturan Presiden No. 76 Tahun 2007 tentang kriteria dan persyaratan penyusuan bidang usaha yang tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal. Pasal 2.
77Salim HS dan Budi Sutrisno, Hukum Investasi Di Indonesia. (Jakarta : PT.
RAJAGRAFINDO PERSADA, 2008). hal. 40.
3. Hak, Kewajiban dan Tanggungjawab Penanaman Modal
Hak, kewajiban dan tanggungjawab penanam modal diatur secara umum dalam BAB IX pada pasal 14 sampai dengan pasal 17 Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal. Hal ini berguna memberikan kepastian hukum, serta menjalankan apa wewenang yang telah diberikan oleh Undang-Undang.
Hak, kewajiban dan tanggungjawab penanam modal diatur secara umum dalam BAB IX pada pasal 14 sampai dengan pasal 17 Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal. Hal ini berguna memberikan kepastian hukum, serta menjalankan apa wewenang yang telah diberikan oleh Undang-Undang.