4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Penelitian Pendahuluan
4.2.1 Penentuan jumlah es untuk pembiusan
Penelitian pendahuluan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kecepatan waktu penurunan suhu dan kemampuan es menurunkan suhu media air yang akan digunakan untuk pembiusan ikan nila, pada perbandingan volume media air pembius dan jumlah es tertentu tanpa ikan nila serta untuk mengetahui suhu pembiusan dan fase imotil ikan nila. Hasil penelitian pendahuluan tersebut akan digunakan dalam penelitian utama.
Teknologi transportasi ikan hidup yang berkembang saat ini adalah transportasi sistem kering. Transportasi sistem kering ini biasanya menggunakan teknik pembiusan pada ikan atau ikan dipingsankan (imotilisasi) terlebih dahulu sebelum dikemas dalam media tanpa air (Suryaningrum et al. 2007).
Teknik pembiusan atau imotilisasi yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan suhu rendah. Imotilisasi dengan suhu rendah merupakan cara yang paling efektif, ekonomis dan aman (Suryaningrum et al. 2007). Es batu sering digunakan sebagai bahan pembius karena harganya yang relaif murah, mudah didapat dan aman karena tidak mengandung bahan kimia yang dapat membahayakan manusia. Penurunan suhu dapat dilakukan dengan merendam es batu dalam kantong plastik pada air bak pemingsanan (Nitibaskara et al. 2006). Suhu dingin merupakan salah satu kunci dalam transportasi ikan hidup, pada kondisi ini tingkat metabolisme dan respirasi sangat rendah sehingga ikan atau crustacea dapat diangkut dalam waktu yang lama dengan tingkat kelulusan hidup yang tinggi (Berka 1986, diacu dalam Suryaningrum et al. 2007).
Jumlah es yang digunakan dalam teknik pembiusan ikan akan berpengaruh terhadap penurunan suhu. Penentuan jumlah es untuk pembiusan ditentukan dengan cara melakukan percobaan perbandingan volume air pembius sebanyak 1 liter dengan jumlah es tertentu. Penyebaran suhu pengesan di dalam akuarium dibantu dengan adanya aerasi. Hasil percobaan tersebut disajikan pada Gambar 4 dan Lampiran 3.
Pada Gambar 4 dapat dilihat bahwa perbandingan 1 liter air dengan 0,5 kg es (2:1) dan 1 liter air dengan 1 kg es (2:2) hanya dapat mencapai suhu terendah 6
o
C pada menit ke-67 dan menit ke-39. Perbandingan 1 liter air dengan 1,5 kg es (2:3) dan 1 liter air dengan 2 kg es (2:4) dapat mencapai suhu terendah yaitu 3 oC pada menit ke-33 dan menit ke-12. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan suhu media air yang dapat digunakan untuk suhu pembiusan ikan nila adalah perbandingan volume air dan jumlah es sebanyak 2:3 dan 2:4. Jumlah es sebanyak 1,5 kg dan 2 kg mampu menurunkan media air sebanyak 1 liter sampai suhu 3 oC dibandingkan dengan rasio jumlah es sebanyak 0,5 kg dan 1 kg. Pada penelitian selanjutnya perbandingan air dan es 2:4 akan digunakan untuk penentuan suhu pembiusan ikan nila. Perbandingan tersebut juga digunakan untuk pembiusan ikan
nila dengan suhu rendah secara langsung. Hal ini bertujuan untuk mengefisiensikan waktu selama percobaan.
Perbandingan air dan es 2:1 dan 2:2 tidak dapat menyebabkan suhu air mendekati suhu pembiusan ikan nila. Perbandingan tersebut hanya mampu mencapai suhu terendah 6 oC lalu suhunya meningkat lagi karena es sudah mencair. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah es yang semakin banyak di dalam suatu media air dengan volume tertentu akan dapat menurunkan suhu lebih cepat dan mampu mencapai suhu yang paling rendah.
Gambar 4. Penentuan jumlah es pada media air pembius dan rata-rata penurunan suhu
4.2.2 Penentuan suhu pembiusan ikan nila
Pada percobaan sebelumnya diperoleh hasil terbaik penentuan jumlah es untuk pembiusan ikan nila yaitu perbandingan air dan es 2:4 yang memiliki kemampuan untuk menurunkan suhu media pembius sampai suhu 3 oC sehingga dapat digunakan untuk mengetahui respon ikan nila terhadap berbagai tingkat suhu pembiusan.
Penelitian selanjutnya yaitu penentuan suhu pembiusan ikan nila. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu pembiusan serta mengetahui fase imotil ikan nila. Pada proses pembiusan, tingkah laku ikan diamati hingga ikan pingsan. Hasil penelitian tahap ini diketahui suhu pembiusan untuk ikan nila yang akan digunakan pada penelitian utama.
0 5 10 15 20 25 30 1 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 S u h u ( oC) Waktu (menit)
1 L air : 0,5 kg es 1 L air : 1 kg es 1 L air : 1,5 kg es 1 L air : 2 kg es
3 6 7 7 6 4 4 3
Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan, maka diperlukan 40 kg es dengan 20 liter air agar suhu air mencapai 3 oC sehingga dapat digunakan untuk membius 5 ekor ikan. Penambahan 5 ekor ikan bertujuan untuk mempermudah pengamatan. Hasil penentuan suhu pembiusan ikan nila disajikan pada Tabel 7 dan Lampiran 5. Tabel 7 menunjukkan bahwa ikan nila mengalami beberapa fase imotil yaitu fase pingsan ringan, pingsan berat dan roboh. Ikan nila mengalami fase pingsan ringan pada kisaran suhu 9-10 oC, fase pingsan berat pada kisaran suhu 7-9 oC dan roboh pada kisaran suhu 6-7 oC.
Fase pingsan ringan ikan nila ditandai dengan kondisi reaktivitas terhadap rangsangan luar rendah, gerak operkulum lambat dan gerak renang aktif. Fase pingsan berat ikan nila ditandai dengan kondisi reaktivitas terhadap rangsangan luar tidak ada, kecuali dengan tekanan kuat, gerak renang lemah dan pergerakan operkulum lambat, sedangkan pada fase roboh ikan nila ditandai dengan kondisi pergerakan operkulum dan sirip sangat lemah, gerak renang tidak ada dan respon terhadap rangsangan dari luar tidak ada.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ikan nila merupakan ikan yang memiliki kemampuan adaptasi yang cukup tinggi terhadap perubahan lingkungan. Menurut Setiabudi et al. (1995), perubahan-perubahan tingkah laku tersebut disebabkan adanya perubahan suhu. Terganggunya keseimbangan ikan nila tersebut diduga disebabkan karena kurangnya oksigen dalam darah. Menurut Phillips et al. (1980), diacu dalam Suryaningrum et al. (1997) laju konsumsi oksigen hewan air akan menurun dengan menurunnya suhu media. Penurunan konsumsi oksigen pada lobster akan mengakibatkan jumlah oksigen yang terikat dalam darah semakin rendah. Keadaan ini akan mengakibatkan suplai oksigen ke jaringan syaraf juga berkurang sehingga menyebabkan bekurangnya aktivitas fisiologis dan lobster menjadi lebih tenang (Suryaningrum et al. 1997). Kekurangan oksigen lebih lanjut akan menyebabkan terganggunya sistem keseimbangan tubuh sehingga ikan menjadi pingsan dan roboh.
Tabel 7. Hubungan suhu dengan tingkah laku ikan nila yang dibius dengan suhu rendah Suhu (oC) Lama waktu pencapaian suhu (menit) Kondisi
26 0 Normal (gerak operkulum cepat, respon terhadap rangsangan luar tinggi dan gerak renang aktif)
22 1 Normal
13 4 Panik (gerak tidak beraturan, respon terhadap rangsangan luar sangat cepat)
10 6 Pingsan ringan (reaktivitas terhadap rangsangan luar rendah, gerak operkulum lambat dan gerak renang aktif) 9 8 Pingsan ringan
8 9
Pingsan berat (reaktivitas terhadap rangsangan luar tidak ada, kecuali dengan tekanan kuat, gerak renang lemah dan pergerakan operkulum lambat)
7 11 Pingsan berat
6 13
Roboh (pergerakan operkulum dan sirip sangat lemah, gerak renang tidak ada dan respon terhadap rangsang luar tidak ada)
Pada penelitian selanjutnya, ikan nila yang telah dibius secara langsung akan mengalami 3 macam kondisi yaitu pingsan ringan dengan kisaran suhu pembiusan 9-10 oC, pingsan berat dengan kisaran suhu pembiusan 7-9 oC dan fase roboh dengan kisaran suhu pembiusan 6-7 oC. Kemudian ikan tersebut masing-masing dikemas di dalam kotak styrofoam dengan 4 taraf waktu penyimpanan yaitu 0 jam, 3 jam, 6 jam dan 9 jam.