• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

2 TINJAUAN PUSTAKA

3.3 Metode Penelitian

3.3.2 Penelitian pendahuluan

a) Respon penurunan suhu rendah terhadap aktivitas lobster air tawar

Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui pengaruh penurunan suhu rendah secara bertahap terhadap perubahan aktivitas lobster air tawar. Hasil penelitian ini akan digunakan untuk menentukan suhu pembiusan lobster air tawar. Imotilisasi dilakukan dengan penurunan suhu secara bertahap dari suhu air normal (suhu kamar) ke suhu imotil. Penurunan suhu dilakukan dengan menambahkan es batu ke dalam media lobster dengan perbandingan air dan es batu (2:3) secara perlahan hingga suhu yang diinginkan tercapai (Wijaya 2008). Setelah suhu imotilnya tercapai, lobster dibiarkan selama ±30 menit hingga aktivitas lobster diam (Ikasari et al. 2008). Pengamatan dilakukan terhadap respon lobster air tawar pada berbagai suhu selama proses pembiusan.

b) Penentuan suhu pembiusan lobster air tawar secara bertahap

Kisaran suhu pembiusan terbaik ditentukan berdasarkan aktivitas dan kondisi lobster saat pembiusan, pengemasan, pembongkaran dan penyadaran serta tingkat kelulusan hidup pada uji penyimpanan transportasi sistem kering

selama 12 jam. Suhu pembiusan terdiri atas 3 rentang suhu hasil pengamatan aktivitas lobster pada berbagai rentang suhu, yaitu 15-13 oC, 2-10 oC dan 9-7 oC. Suhu pembiusan terbaik hasil percobaan tahap ini akan digunakan pada penelitian utama. Diagram alir prosedur kerja penelitian pendahuluan dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3 Diagram alir prosedur kerja penentuan suhu pembiusan terbaik Lobster imotil

Pengemasan (Media serbuk gergaji)

Penyimpanan 12 jam

Pembongkaran

Pembugaran

Perhitungan survival rate (%) Pengadaptasian

Pemuasaan Penimbangan

Pemingsanan secara bertahap

Suhu pembiusan 15-13 oC Suhu pembiusan 12-10 oC Suhu pembiusan 9-7 oC

Waktu pembiusan 30 menit

Pengamatan aktivitas lobster Lobster Hidup

Lobster Hidup

Waktu pembiusan 30 menit

Pengemasan

Pembongkaran

Penimbangan

Pembugaran

Pemingsanan secara bertahap Penimbangan

Pemuasaan Pengadaptasian

Penghitungan survival rate

Suhu pembiusan terbaik 3.3.3 Penelitian utama

Penelitian utama bertujuan untuk mengetahui pengaruh cara pengemasan pada uji transportasi sistem kering secara statis terhadap tingkat kelulusan hidup lobster air tawar. Pembiusan lobster air tawar menggunakan metode pembiusan secara bertahap dengan suhu imotil terbaik hasil dari penelitian pendahuluan. Diagram alir prosedur kerja penelitian utama dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4 Diagram alir prosedur kerja uji penyimpanan

Serbuk gergaji Spons busa

Proses pembiusan pada rangkaian percobaan di atas dilakukan dengan prosedur sebagai berikut: Lobster ditempatkan pada bak pembiusan, kemudian suhu air diturunkan secara bertahap sampai tercapai suhu yang diinginkan. Imotilisasi dengan penurunan suhu secara bertahap dilakukan dengan cara menurunkan suhu media air dari suhu air normal (suhu kamar) ke suhu imotilisasi terpilih hasil penelitian pendahuluan. Penurunan suhu dilakukan dengan menambahkan es batu yang dibungkus plastik ke dalam media lobster secara perlahan hingga suhu yang diinginkan tercapai. Setelah suhu imotil tercapai lobster dibiarkan selama ±30 menit hingga aktivitas lobster diam. Lobster dikatakan imotil bila diangkat diam, kaki jalan dan kaki renang diam dan mudah dikemas (Suryaningrum et al. 2007). Sebelumnya telah disiapkan serbuk gergaji dingin dan spons busa dengan suhu yang telah ditetapkan (suhu pembiusan) dan kotak stirofoamuntuk pengemasan lobster.

Lobster yang telah terbius (pingsan) masing-masing dimasukkan ke dalam kemasan yang telah diberi serbuk gergaji dingin dan spons busa serta ditutup dengan menggunakan lakban. Pengemasan lobster air tawar menggunakan serbuk gergaji dingin dilakukan dengan meletakkan es batu dalam plastik (±0,5 kg) yang ditutupi kertas koran dan disusun secara diagonal pada bagian dasar kotak stirofoam untuk mencegah rembesan air. Bagian atas kotak stirofoam ditaburi serbuk gergaji dengan ketebalan 5-10 cm agar kontak langsung antara es dan lobster dapat dihindari. Lobster yang telah imotil disusun dengan sistem curah (sejajar) di atas media dan di atasnya ditaburi serbuk gergaji hingga kemasan penuh. Setiap kotak stirofoam berisi 5 ekor lobster. Kemasan kemudian ditutup rapat dan direkatkan dengan lakban.

Pengemasan menggunakan media spons busa dilakukan dengan sistem baterai, yaitu memasukkan lobster ke dalam mika plastik dengan kepadatan 1 ekor/mika kemudian dimasukkan ke dalam kotak stirofoam. Bagian dasar kotak mika platik diberi alas berupa media spons busa untuk mempertahankan kelembaban selama transportasi. Lobster yang telah imotil dimasukkan ke dalam kotak mika plastik kemudian distaples. Mika plastik yang sudah diisi lobster kemudian dimasukkan ke dalam kotak stirofoam yang bagian dasarnya telah diberi es batu dalam plastik (±0,5 kg) yang ditutupi kertas koran dan disusun

secara diagonal pada bagian dasar kotak stirofoam untuk mencegah rembesan air. Setiap kotak stirofoam berisi 5 ekor lobster. Kotak stirofoam kemudian ditutup dan direkatkan dengan lakban. Setelah lobster dikemas, selanjutnya dilakukan uji penyimpanan.

Pengamatan pada setiap rangkaian percobaan di atas dilakukan terhadap aktivitas lobster selama proses pembiusan, pengemasan, pembongkaran dan pembugaran serta tingkat kelulusan hidup lobster air tawar setelah ditransportasikan. Selain itu diamati pula perubahan suhu media kemasan (serbuk gergaji dan spons busa) dan penyusutan bobot lobster selama transportasi. Pengukuran penyusutan bobot lobster dan perubahan suhu media kemasan dilakukan sebelum lobster diimotilisasi dan sesudah dilakukan uji penyimpanan.

Pembugaran lobster dilakukan dengan cara mengangin-anginkan lobster yang telah dikeluarkan dari kotak stirofoam selama 2-3 menit di dalam ember. Hal ini bertujuan agar gas amonia dan H2S menguap. Selanjutnya lobster baru dimasukkan ke dalam air tanpa aerasi, dengan ketinggian air tidak sampai merendam badan lobster selama 1 jam (Frose 1997). Kelulusan hidup lobster dihitung setelah lobster dibugarkan dalam air selama 1 jam, untuk melihat kemampuan lobster beradaptasi kembali dalam lingkungan yang sebenarnya (Suryaningrum et al. 2008). Setelah dibugarkan selama 1 jam, lobster dimasukkan ke dalam akuarium dengan ketinggian air 10-20 cm.

Tingkat kelulusan hidup lobster dihitung berdasarkan persentase lobster yang hidup setelah dilakukan pembugaran selama 1 jam. Persamaan yang digunakan untuk perhitungan tingkat kelulusan hidup lobster air tawar adalah sebagai berikut:

SR = _Ut_ x 100% Uo

Keterangan:

SR = Tingkat kelulusan hidup lobster air tawar (%) Uo = Jumlah lobster hidup yang dikemas

3.3.4 Rancangan percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan 2 faktor yaitu faktor media kemasan dengan taraf serbuk gergaji dan spons busa serta faktor lama penyimpanan dengan taraf 12, 24, 36, 48, 60 dan 72 jam. Percobaan dilakukan sebanyak 3 kali ulangan. Model matematika rancangan perobaan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Yijk = μ+αi+βj+(αβ)ij+εijk

Keterangan:

Yijk = nilai pengamatan pada suatu percobaan ke-k yang memperoleh ....kombinasi perlakuan ij (taraf ke-i dari faktor α dan taraf ke-j dari ....faktor β)

μ = nilai tengah populasi

αi = pengaruh perlakuan α (media pengisi) taraf ke-i

βj = pengaruh perlakuan β (lama penyimpanan) taraf ke-j

(αβ)ij = pengaruh interaksi faktor α taraf ke-i dan faktor β taraf ke-j

εijk = galat dari satuan perbedaan ke-k dengan kombinasi perlakuan ij

Apabila hasil analisis data menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata, maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji lanjut Tukey (Multiple comparisons). Pengolahan data statistik dilakukan dengan menggunakan software IBM-SPSS 19.0 for Windows.

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Persiapan Penelitian

Persiapan penelitian meliputi persiapan media air, media pengisi dan biota uji. Persiapan penelitian dilakukan untuk menunjang penelitian pendahuluan dan penelitian utama.

4.1.1 Kualitas air media pemeliharaan lobster air tawar

Kualitas air merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi kondisi lobster air tawar. Air yang digunakan dalam proses adaptasi dan proses pemeliharaan berasal dari air laboratorium yang telah diendapkan selama 2 hari. Media air tersebut dianalisis kualitasnya dan dibandingkan dengan kualitas air kolam budidaya. Hasil analisis kualitas media air yang digunakan selama penelitian ditampilkan pada Tabel 5.

Tabel 5 Hasil analisis kualitas air media pemeliharaan lobster air tawar Parameter Kolam budidaya Laboratorium Standar Satuan

Suhu 25 27 25-29* oC pH 7,71 7,40 7-9* - DO 6,91 6,31 ≥5* ppm CO2 5,93 3,96 ≤10* ppm Alkalinitas - 94 50-200* ppm Amoniak - 0,05 ≤0,05* ppm Nitrit <0,1 0,03 ≤0,1** ppm

Sumber: * = Lukito dan Prayugo (2007) ** = Coyle et al. (2005)

Hasil analisis kualitas media air pemeliharaan lobster air tawar secara umum menunjukkan kisaran yang tidak berbeda jauh dengan air kolam budidaya sebagai habitat awal lobster air tawar. Air laboratorium yang digunakan sebagai media pemeliharaan memiliki suhu 27 oC; pH 7,40; DO 6,31 ppm; CO2 3,96 ppm; alkalinitas 94 ppm; amoniak 0,05 ppm dan nitrit 0,03 ppm. Hasil analisis tersebut masih memenuhi persyaratan kualitas air untuk pemeliharaan lobster air tawar (Lukito dan Prayugo 2007) dan kegiatan budidaya air tawar secara umum (Boyd 1982). Hal ini menunjukkan bahwa media air yang digunakan selama penelitian tidak mempengaruhi kondisi lobster air tawar sebelum diberikan perlakuan pembiusan serta pada saat pembiusan dan pembugaran dilakukan.

4.2 Penelitian Pendahuluan

Penelitian pendahuluan bertujuan untuk mengetahui respon penurunan suhu rendah terhadap aktivitas lobster air tawar dan menentukan suhu pembiusan lobster air tawar secara bertahap. Hasil penelitian tahap ini akan digunakan pada penelitian utama.

4.2.1 Respon penurunan suhu rendah terhadap aktivitas lobster air tawar Lobster air tawar dipuasakan terlebih dahulu selama 24 jam sebelum diimotilisasi. Pemuasaan dilakukan agar organ pencernaan lobster bebas dari kotoran. Proses pembiusan dilakukan dengan metode penurunan suhu secara bertahap hingga lobster mengalami kondisi pingsan (imotil). Respon aktivitas lobster air tawar selama proses pembiusan secara bertahap dengan suhu rendah ditampilkan pada Tabel 6.

Tabel 6 Respon aktivitas lobster air tawar pada berbagai penurunan suhu Suhu

(oC)

Waktu

(menit) Aktivitas lobster air tawar Kriteria 26-22 0-4

Kondisi normal, kaki jalan dan kaki renang bergerak aktif, tubuh tegak dan lincah, sangat responsif.

Normal

21-19 4-6

Aktivitas lobster mulai berkurang, kaki jalan dan kaki renang bergerak perlahan, ekor mulai menekuk ke dalam, respon terhadap rangsangan kuat.

Adaptasi

18-16 6-10

Lobster cenderung diam, kaki jalan dan kaki renang diam, tubuh tegak, gerakan semakin lambat dan tenang, ketika disentuh respon masih ada.

Tenang

15-13 10-18

Lobster mulai limbung, gerakan dan respon terhadap rangsangan masih ada, kaki jalan diam, tubuh masih tegak.

Disorientasi

12-10 18-30

Lobster kehilangan keseimbangan, diam, ketika dibalik seluruh lobster tidak dapat tegak kembali, gerakan kaki renang dan kaki jalan lemah, respon lemah.

Imotil I

9-7 30-45

Lobster tergeletak, posisi tubuh roboh total dan terbalik, hampir tidak ada gerakan, kaki jalan dan kaki renang sangat lemah (kaku), ekor melipat ke arah abdomen, ketika diangkat tubuh lobster melayang, respon tidak ada.

Hasil pengamatan respon lobster air tawar terhadap penurunan suhu rendah menunjukkan perubahan pada aktivitas tingkah lakunya. Pada suhu awal pembiusan (±26 °C) atau suhu ruang, lobster berada dalam kondisi normal, tubuh tegak, sangat lincah dan responsif terhadap rangsangan serta kaki jalan dan kaki renang masih bergerak aktif. Pembiusan secara bertahap selama ±4 menit menyebabkan suhu media pembiusan semakin rendah hingga mencapai suhu 22 °C. Semua lobster yang diimotilisasi pada suhu ini terlihat masih berdiri kokoh namun aktivitasnya sudah mulai berkurang.

Aktivitas lobster ketika memasuki suhu 21 oC terlihat semakin lambat dan tenang, dimana kaki jalan dan kaki renang bergerak perlahan. Perubahan yang mencolok terlihat pada bagian ekor lobster (abdomen) yang mulai menekuk ke dalam. Hal tersebut menandakan bahwa sebagian lobster mulai beradaptasi dan telah merespon kondisi perubahan suhu lingkungan yang semakin rendah. Kondisi ini terus berlangsung selama ±2 menit hingga suhu pembiusan mencapai 19 oC.

Lobster memasuki fase tenang pada suhu 18 oC, aktivitasnya cenderung diam dan gerakan tubuh semakin lambat pada lama pembiusan 6-10 menit dengan kisaran suhu 18-16 oC. Ketika diberikan rangsangan sentuhan lobster masih memberikan respon. Kaki jalan dan kaki renang terlihat diam akan tetapi seluruh lobster masih dalam kondisi tegak.

Lobster mulai kehilangan orientasi ditunjukkan oleh kondisi lobster yang mulai limbung ketika memasuki suhu 15 oC, sebagian besar lobster masih dapat tegak kembali ketika posisi tubuhnya dibalik. Respon terhadap rangsangan masih ada. Hal tersebut terus berlangsung pada kisaran suhu 15-13 oC. Gerakan dan respon terhadap rangsangan lobster mulai melemah ketika suhu pembiusan mulai mencapai 13 oC, meskipun seluruh lobster yang dibius belum menunjukkan tanda- tanda pingsan.

Lobster mulai memasuki fase imotil I pada kissaran suhu 12-10 oC. Hal ini ditunjukkan oleh hilangnya keseimbangan lobster serta lemahnya respon terhadap rangsangan sentuhan yang diberikan. Kaki jalan dan kaki renang lobster dalam keadaan lemah tetapi masih menunjukkan adanya gerakan. Ketika posisi tubuh dibalik seluruh lobster tidak dapat tegak kembali.

Lobster menunjukkan tanda-tanda pingsan ketika suhu media memasuki kisaran suhu 9-7 oC. Sebagian lobster telah roboh kemudian pingsan, gerakan kaki jalan dan kaki renang sangat lemah (kaku). Kisaran suhu 9-7 oC yang dipertahankan selama 30 menit mengakibatkan seluruh lobster telah pingsan. Lobster telah tergeletak di dasar media dalam keadaan roboh, kaki jalan dan kaki renang kaku dan ketika diangkat tubuh lobster melayang. Lobster yang telah pingsan tidak memberikan perlawanan ketika dikemas.

Nitibaskara et al. (2006) menyatakan bahwa fase imotil I pada krustasea ditunjukkan dengan kondisi kehilangan keseimbangan, kaki jalan dan kaki renang bergerak aktif dan respon lemah ketika diganggu. Fase imotil II ditunjukkan dengan kondisi yang tenang ketika diangkat dari dalam air atau memberikan perlawanan lemah, kaki jalan dan kaki renang bergerak lemah, kehilangan keseimbangan dan akhirnya roboh.

Penurunan suhu secara bertahap mengakibatkan gerakan lobster yang semula aktif pada suhu normal secara perlahan-lahan direduksi menjadi tenang seiring dengan penurunan suhu yang diberikan. Tidak tampak adanya fase panik pada lobster air tawar yang biasanya ditunjukkan dengan gerakan meloncat-loncat ke belakang secara tidak beraturan. Kondisi yang sama juga ditunjukkan oleh lobster hijau pasir (Panulirus homarus) yang diimotilisasi secara bertahap pada suhu 12 oC, yaitu adanya penurunan fase gerakan dari gerakan yang aktif (normal) menjadi lebih tenang tanpa adanya gerakan panik (Wibowo et al. 1994). Proses aklimatisasi dari metode penurunan suhu secara bertahap pada dasarnya juga dipengaruhi oleh bobot dan ukuran lobster air tawar yang digunakan. Semakin besar bobot dan ukuran lobster yang digunakan maka semakin besar nilai toleransi terhadap perubahan suhu.

Hasil pengamatan aktivitas lobster pada berbagai suhu di atas menunjukkan bahwa lobster yang dipingsankan dengan penurunan suhu secara bertahap akan mengalami gangguan keseimbangan. Terganggunya keseimbangan pada lobter disebabkan oleh kurangnya oksigen dalam darah. Laju konsumsi oksigen pada hewan air akan menurun seiring dengan menurunnya suhu media (Berka 1986). Penurunan konsumsi oksigen pada lobster akan mengakibatkan jumlah oksigen yang terikat dalam darah semakin rendah. Kondisi ini akan mengakibatkan suplai

oksigen ke jaringan syaraf juga berkurang sehingga menyebabkan berkurangnya aktivitas fisiologi dan lobster menjadi tenang (Suryaningrum et al. 2008; Ikasari et al. 2008). Kekurangan oksigen yang lebih lanjut menyebabkan lobster menjadi pingsan dan akhirnya roboh. Hasil penelitian aktivitas lobster air tawar pada berbagai suhu juga menunjukkan kisaran suhu kritis bagi lobster air tawar, yaitu suhu 15-13 oC (disorientasi), 12-10 oC (imotil I) dan 9-7 oC (imotil II). Wibowo et al. (2005) menyatakan bahwa suhu kritis pembiusan lobster air tawar berkisar antara 17, 15 dan 12 oC.

Suhu kritis yang didapatkan pada penelitian ini terlihat memiliki kisaran yang lebih rendah dibandingkan hasil penelitian Wibowo et al. (2005) dan Ikasari et al. (2008). Hal ini disebabkan adanya perbedaan ukuran lobster yang digunakan pada percobaan. Lobster yang digunakan pada penelitian ini memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan yang digunakan pada penelitian Wibowo et al. (2005) dan Ikasari et al. (2008), sehingga memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap perubahan suhu yang terjadi.

4.2.2 Penentuan suhu pembiusan terbaik

Penentuan suhu pembiusan terbaik untuk lobster air tawar dilakukan dengan cara mengetahui pengaruh suhu pembiusan yang menyebabkan fase kritis terhadap tingkat kelulusan hidup dan kondisi saat pembugaran. Suhu pembiusan tersebut adalah 15-13 oC (disorientasi), 12-10 oC (imotil I) dan 9-7 oC (imotil II).

Hasil pengamatan pada penentuan suhu pembiusan terbaik menunjukkan bahwa perlakuan suhu pembiusan menghasilkan kondisi yang berbeda terhadap lobster yang diimotilisasi. Pembiusan secara bertahap dengan suhu 15-13 oC selama 30 menit tidak menyebabkan lobster tenang dengan gerakan lamban dan posisi tubuh masih tegak. Keseimbangan lobster masih baik yang ditunjukkan dengan kemampuan lobster untuk kembali ke posisi semula ketika tubuh dibalik dapat tegak kembali. Ketika lobster diangkat lobster masih menyentak-nyentak dan bahkan capitnya masih bisa menggigit. Kondisi ini akan menghambat proses pengemasan lobster, karena agak sulit untuk ditangani ketika lobster dikemas.

Lobster yang dibius pada kisaran suhu 12-10 oC terlihat dalam keadaan limbung dan mulai kehilangan keseimbangan. Lobster masih bergerak lemah dan

hanya sedikit menunjukkan respon ketika diberikan rangsangan. Pada waktu dilakukan pengemasan, lobster masih meronta lemah.

Pembiusan pada suhu 9-7 oC menghasilkan kondisi lobster yang berbeda dibandingkan dengan lobster yang diimotilisasi pada suhu 15-13 oC. Ketika lobster dibius secara bertahap pada media air hingga suhu 9-7 oC menyebabkan sebagian lobster roboh. Lobster dalam keadaan diam ketika diangkat, kaki jalan dan kaki renangnya diam serta tidak ada respon terhadap rangsangan yang diberikan sehingga memudahkan penanganan lobster untuk dikemas. Hasil pengamatan kelulusan hidup dan kondisi lobster setelah uji penyimpanan 12 jam dalam kemasan kering ditampilkan pada Tabel 7.

Tabel 7 Hasil penelitian pendahuluan penentuan suhu pembiusan terbaik Suhu

Pembiusan

Kondisi lobster setelah penyimpanan

Posisi Kondisi Respon Waktu dian Survivalrate (%)

15-13 Berubah Sadar Ada Meronta 100

12-10 Berubah Sadar Lemah Meronta

Lemah 100

9-7 Tidak Pingsan Tidak ada Tidak

meronta 100

Kondisi lobster yang dibius dengan kisaran suhu 15-13 oC setelah uji penyimpanan selama 12 jam menunjukkan posisi lobster dalam kemasan telah berubah. Pembiusan dengan kisaran suhu ini menghasilkan nilai kelulusan hidup 100% setelah 12 jam penyimpanan, kondisi lobster yang dikemas telah sadar ketika kemasan dibongkar. Hal ini menandakan bahwa suhu pembiusan 15-13 oC masih belum cukup untuk menghasilkan kondisi imotil yang lama bagi lobster.

Kondisi lobster yang dibius dengan kisaran suhu 12-10 oC setelah uji penyimpanan selama 12 jam terlihat telah berubah posisinya ketika dilakukan pembongkaran. Lobster telah sadar dengan kondisi lemah, dan ketika diangkat hanya meronta lemah. Lobster kemudian dibugarkan dengan memasukkan ke dalam media air setinggi karapak selama satu jam. Sebagian lobster langsung bergerak secara perlahan, sedangkan sebagian lagi diam dalam kondisi lemah.

Setelah proses pembugaran selama 1 jam, terlihat bahwa seluruh lobster telah bugar sepenuhnya dengan kelulusan hidup sebesar 100%.

Kondisi lobster yang dibius dengan kisaran suhu 9-7 oC pada saat dilakukan pembongkaran terlihat berbeda dibandingkan dengan lobster yang dibius pada suhu 15-13 oC dan 12-10 oC. Pada waktu kemasan dibongkar, lobster masih dalam kondisi imotil dan posisinya tidak berubah. Ketika dimasukkan dalam air, lobster mulai bergerak dan berjalan. Aktivitas lobster normal kembali setelah berada di dalam air selama 1 jam.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa kisaran suhu pembiusan 9-7 oC lebih baik jika digunakan sebagai suhu pembiusan dibandingkan kisaran suhu 15-13 oC dan 12-10 oC karena menghasilkan kondisi imotil yang lebih lama selama uji penyimpanan. Pada suhu 9-7 ºC lobster telah pingsan dan dalam keadaan tenang ketika diangkat dari air sehingga mudah ditangani untuk dikemas, sedangkan pada suhu 15-13 ºC dan suhu 12-10 ºC lobster masih belum pingsan sepenuhnya. Suhu pembiusan lobster pada kisaran 15-13 oC dan 12-10 oC bila digunakan untuk transportasi sistem kering secara statis atau penyimpanan hidup dapat berisiko pada tingginya mortalitas, sehingga kisaran suhu 9-7 oC digunakan sebagai suhu pembiusan lobster air tawar dalam penelitian utama.

4.3 Penelitian Utama

Penelitian utama bertujuan untuk mengetahui pengaruh cara pengemasan dengan serbuk gergaji dan spons busa pada uji transportasi sistem kering secara statis (uji penyimpanan) selama selang waktu tertentu terhadap tingkat kelulusan hidup lobster. Pembiusan lobster air tawar pada penelitian utama menggunakan metode pembiusan secara bertahap dengan suhu pembiusan 9-7 oC.

4.3.1 Kelulusan hidup lobster air tawar selama penyimpanan

Kelulusan hidup lobster ditentukan setelah lobster dibugarkan dalam air selama 1 jam untuk melihat kemampuan lobster beradaptasi kembali dalam media air setelah dilakukan penyimpanan (Suryaningrum et al. 2008). Uji penyimpanan lobster dengan menggunakan cara pengemasan yang berbeda (serbuk gergaji dan spons busa) pada penelitian ini menghasilkan mortalitas dan tingkat kebugaran

lobster yang berbeda pula. Tingkat kelulusan hidup lobster air tawar pada uji penyimpanan sistem kering ditampilkan pada Tabel 8.

Tabel 8 Tingkat kelulusan hidup lobster air tawar

Media kemasan Kelulusan hidup lobster air tawar (%)

12 jam 24 jam 36 jam 48 jam 60 jam 72 jam

Serbuk gergaji 100 100 93,33 80 80 73,33

Spon busa 100 100 100 100 100 93,33

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa lobster air tawar yang dikemas menggunakan media serbuk gergaji menghasilkan tingkat kelulusan hidup sebesar 100% hingga penyimpanan jam ke-24. Selanjutnya tingkat kelulusan hidup lobster turun menjadi 93,33% pada jam ke-36, 80% pada jam ke-48 dan jam ke-60. Pada akhir penyimpanan jam ke-72, tingkat kelulusan hidup lobster sebesar 73,33%.

Pengemasan lobster air tawar dengan menggunakan spons busa secara umum menghasilkan tingkat kelulusan hidup yang lebih tinggi dibandingkan pengemasan menggunakan media pengisi serbuk gergaji. Lobster yang dikemas pada media spons busa memiliki tingkat kelulusan hidup sebesar 100% hingga penyimpanan jam ke-60, dan pada akhir penyimpanan jam ke-72 sebesar 93,33%, lebih tinggi dibandingkan tingkat kelulusan hidup pada media serbuk gergaji yaitu sebesar 73,33%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelulusan hidup lobster air tawar menurun seiring bertambahnya lama penyimpanan. Penurunan nilai kelulusan hidup tersebut disebabkan karena sebagian lobster yang dibius telah tersadar pada saat disimpan sehingga aktivitas maupun metabolismenya meningkat. Aktivitas dan metabolisme lobster yang semakin tinggi menuntut ketersediaan oksigen yang tinggi pula, sedangkan ketersediaan oksigen dalam media kemasan sangat terbatas sehingga lobster dapat mengalami kekurangan oksigen yang berakibat pada kematian (Suryaningrum et al. 2005).

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan cara pengemasan dan

Dokumen terkait