BAB II KAJIAN TEORI
D. Penelitian yang Relevan
1. Penelitian yang dilakukan oleh Denita Oktavia Sidabukke dengan judul “Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Pengembangan Objek Wisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism). (Studi Pada Objek Wisata Bukit Pangonan di Desa Pajaresuk Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu)”
Hasil penelitian ini meliputi mendeskripsikan pengembangan objek wisata berbasis masyarakat (community based tourism) pada objek wisata dengan Pemberdayaan masarakat. Persamaan penelitiaan ini dengan penelitian yang penulis lakukan adalah sama-sama mengunakan metode kualitatif
Perbedaan dari penelitian yang di lakukan Denita Oktavia Sidabukke dengan penulis adalah Denita fokus dalam meningkatkan ekonomi masyarakat Desa Pajaresuk Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu yang mana objek wisata di tempat ini adalah bukit Pangonan saja sementara penulis sendiri melakukan penelitian di Nagari Tuo Pariangan yang Memiliki cukup banyak jenis pariwisata seperti, keindahan alam yang dimiliki, seni budaya setempat, peninggalan sejarah berupa bangunan, batu basurek, makam dan pengalanan lainya dan penulis sendiri lebih lebih fokus kepada Penerapan CBT yang terdiri dari dukungan pemerintah, patisipasi dari Stakeholder, pembagian keuntungan yang adil, Pengunaan Sumber daya lokal secara berkesinambungan, penguatan istitusi lokal, dan keterkaitan antar level regional dan nasional dalam penembangan wisata Nagari Tuo Pariangan.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Mauizatul Hasanah dengan judul
“Pengelolaan Pariwisata Berbasis Masyarakat” (Kasus Objek Wisata Alam Rammang-Rammang Desa Salenrang Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan) penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi sumber daya objek wisata alam Rammang-Rammang yang dimiliki Desa Salenrang,
kendala-kendala yang dihadapi adalah adanya tempat tambang yang bisa merusak lingkungan dan kurangnya angaran yang dimiliki, dan strategi yang dilakukan oleh pengelola wisata alam rammang-rammang.
Persamaan pada penelitian ini adalah sama-sama bertujuan untuk melestarikan lingkungan.
Perbedaan dari penelitian ini adalah penelitian yang penulis lakukan adalah mengunakan metode kualitatif. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Mauizatul Hasanah mengunakan metode kuantitatif
3. Penelitian yang dilakukan oleh Rimas Martiarini dengan judul
“Strategi Pengembangan Desa Wisata Melalui Pemberdayaan Masyarakat Desa Ketenger Baturraden” Hasil penelitian ini meliputi melakukan pengembangan desa wisata dengan melibatkan masyakat setempat. Persamaan penelitiaan ini dengan penelitian yang penulis lakukan adalah sama-sama mengunakan metode kualitatif
Perbedaan dari penelitian ini adalah penelitian yang di lakukan Rimas Martiarini berada di Desa Ketenger Baturraden, sedangkan penelitian penulis sendiri berada di Nagari Pariangan Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar, penelitian ini berfokus kepada pemberdayaan masyarakat, sementara penelitian yang penulis lakukan tidak hanya pemeberdayaan masyarakat saja tetapi juga menjaga kelestarian budaya dan terjaganya peningalan sejarah yang di miliki oleh Nagari Tuo Pariangan.
58 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Adapun penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian lapangan (Field Research) yaitu penelitian yang dilakukan dengan turun langsung ke lapangan untuk memperoleh data yang relevan dengan penelitian yang dilakukan. Tujuan penelitian lapangan adalah untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan sesuai unit sosial: individu, kelompok, lembaga, atau masyarakat (Suryabrata, 2011, hal. 80).
Penelitian yang penulis lakukan ini termasuk kedalam jenis penelitian yang mengunakan metode deskriptif kualitatif. Pada penelitian lapangan (Field Research) ini penulis memperoleh data langsung dari pengelola objek wisata Nagari Tuo Pariangan yang ada di Kecamatan Pariangan.
B. Latar dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini bertempat di Nagari Pariangan, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar. Tahap-tahap dalam pelaksanaan kegiatan ini dapat dilihat dalam perincian waktu penelitian seperti yang terlihat pada tabel 3.1 berikut ini:
59
Kegiatan
2019
Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Observasi awal
2. Ajukan judul kejurusn
3. Bimbingan proposal skripsi
4. Seminar Proposal skripsi
5. Kegiatan penelitian
6. Pengolahan data penelitian
7. Laporan penelitian
8. Munaqasah
Sumber: data diolah sendiri, 2019
C. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi instrument penelitian adalah peneliti itu sendiri dengan cara meneliti langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan, wawancara dan mengambil dokumentasi. Peneliti kualitatif sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informasi sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas semuanya (Sugiyono 2014: 372)
Dalam melakukan penelitian ini peneliti langsung jadi instrumen kuncinya dengan cara peneliti langsung berada dilapangan dalam pengumpulan, pengecekan, dan analisis data penulis di bantu oleh instrumen pendukung yaitu panduan wawancara, Smartphone dan catatan lapangan atau file note.
D. Sumber Data
Adapun sumber data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Sumber data primer
Sumber data primer adalah pengelola pariwisata Nagari Tuo Pariangan.
2. Sumber data Sekunder
Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah dokumentasi, data-data kegiatan yang dilakukan, dokumen dan data laporan jumlah pengunjung yang datang pada Pariwisata Nagari Tuo Pariangan.
E. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data secara terperinci dan baik maka peneliti menggunakan metode pengumpulan data dengan teknik wawancara.
Wawancara (interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan tanya jawab. Sambil bertatap muka antara penanya atau pewawancara dengan penjawab atau responden dengan
menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara).
Interview dapat dipandang sebagai metode pengumpulan data dengan cara tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematik yang berlandaskan kepada tujuan penelitian (Asnawi, 2011: 163). Pada penelitian ini wawancara ditujukan kepada Pengelola Wisata Nagari Tuo Pariangan.
F. Teknik Analisis Data
Metode analisis data yang peneliti gunakan adalah “metode analisis kualitatif deskriptif menurut Miles and Huberman Models (Sugiyono, 2014: 402) yang terdiri 3 tahap.
1. Reduksi data, peneliti mencari dan mengumpulkan hasil wawancara terkait pengembangan pariwisata di Nagari Tuo Pariangan. Data yang telah peneliti kumpulkan dari narasumber tersebut akan dikelompokan dan dilakukan proses pengecekan melalui trigulasi data untuk dipilih lagi berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian dengan penelitian, sehinga data yang tidak diperlukan akan disortir atau dibuang. Tahap berikutnya adalah penyederhanaan data/ hasil penelitian melalui coding agar data mudah dipahami dan mudah disajikan, yang di rangkum dalam bentuk tabel reduksi data sehinga memudahkan penarikan kesimpulan akhir
2. Penyajian data, dilakukan dengan mengkategorikan dan menyusun kumpulan data/ informasi agar mendapatkan gambaran utuh dan sistematis untuk memudahkan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan
3. Penarikan kesimpulan, Tahap ini dilakukan dengan tujuan untuk mencari makna atau penjelasan terhadap data yang terkumpul agar diperoleh kesimpulan yang tepat.
data yang sudah diatur sedemikian rupa (dipolakan, difokuskan, disusun secara sistematis) kemudian disimpulkan sehingga makna data dapat ditemukan. Namun, kesimpulan tersebut hanya bersifat sementara dan umum. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal
didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. (Sugiyono, 2014: 252)
G. Teknik Penjamin Keabsahan Data
Penulis melakukan penjamin keabsahan data melalui proses triangulasi yaitu teknik dalam penelitian untuk menguji kredibilitas/kepercayaan kepada sumber utama kemudian penulis melakukan keabsahan data melalui proses cross chek yaitu proses sebagai pengecekkan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan waktu.
Disini penulis juga melakukan wawancara dengan pihak pengelola pariwisata di Nagari Tuo Pariangan. kemudian penulis menjami keabsahan data dengan pedoman wawancara dengan beberapa pertayaan lalu ditanda tangani oleh yang diwawancara.
63 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Temuan Penelitian
1. Keadaan Geografis Nagari Pariangan
Luas Nagari Tuo Pariangan adalah 2,497 Km² atau 2,497 ha. yang terdiri dari 4 Jorong yaitu Jorong Pariangan, Jorong Sikaladi, Jorong Padang Panjang dan Jorong Guguak, Nagari ini terletak di lereng Gunung Marapi pada ketingian 1000 meter di atas permukaan laut sehinga udara di Nagari pariangan ini terasa sejuk, curah hujan rata-rata pertahun di Nagari Pariangan ini adalah 1000 MM, Nagari ini dapat ditempuh 3 jam dari Kota Padang Ibu Kota Sumatra Barat, lokasi ini berjarak 14 Km dari Batusangkar Ibu Kota Kabupaten Tanah Datar, batasan wilayah Nagari Pariangan adalah sebagai berikut:
a. Sebelah utara berbatasan dengan Gunung Marapi
b. Sebelah selatan berbatasan dengan Nagari Batu Basa dan Simabur c. Sebelah timur berbatasan dengan Nagari Sawah Tangan dan
Sungai Jambu
d. Sebelah barat berbatasan dengan Nagari Sabu Kecamatan Batipuah
2. Keadaan Demografis Nagari Pariangan a. Jumlah Penduduk
Sesuai dengan data dari kantor Wali Nagari Pariangan jumlah penduduk di Nagari Pariangan 5.840 jiwa dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 4. 1
Jumlah Penduduk Nagari Pariangan
No Keterangan Jumlah
1 Laki-laki 2.950
2 Perempuan 2.890
Jumlah seluruhnya 5.840
Sumber: Dokumen Nagari pariangan.
b. Data penduduk menurut tingkat pendidikan
Berikut adalah data penduduk menurut tingkat pendidikan yang telah ditamatkan, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4. 2
Data penduduk menurut tingkat pendidikan di Nagari Pariangan
No Angkatan Kerja Jumlah
1 Buta aksara dan Angka 210
2 Tidak tamat SD 990
3 Tamat SD 994
4 Tamat SLTP 783
5 Tamat SLTA 956
6 Tamat Akademik (D1-D3) 40
7 Sarjana S1 303
8 Sarjana S2 15
9 Sarjana S3 5
Sumber: Dokumen Nagari pariangan.
c. Angkatan Kerja
Adapun angkatan kerja yang dimiliki oleh Nagari Pariangan adalah dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 4. 3
Angkatan Kerja di Nagari Pariangan
No. Angkatan kerja Jumlah
1 Penduduk Usia Kerja 2.270
2 Penduduk Usia Kerja yang Bekerja 1.607 3 Penduduk Usia Kerja yang Belum Bekerja 630
Sumber: Dokumen Nagari pariangan.
Dapat dilihat pada tabel diatas jumlah penduduk usia kerja yang belum bekerja mencapai 630 orang, tentunya dengan perkembangan wisata di Nagari Tuo Pariangan ini diharapkan dapat membuka lapangan pekerjan sehinga angka penganguran akan berkurang.
d. Industri Kecil / Kerajinan
Adapun Industri Kecil/Kerajinan yang dimiliki oleh Nagari Pariagan adalah dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 4. 4
Industri Kecil / Kerajinan di Nagari Pariangan
No Usaha Jumlah
1 Pemilik usaha kerajinan 7
2 Pemilik usaha industri rumah tangga 16
3 Pemilik usaha indistri kecil 40
Jumlah 63
Sumber: Dokumen Nagari pariangan.
Jumlah buruh yang bekerka pada industri kecil, Kerajinan, dan rumah tangga ini adalah sebanyak sebanyak 80 orang.
3. Potensi Wisata Nagari Tuo Pariangan
Nagari Pariangan adalah Nagari yang berada di Kabupaten Tanah Datar yang memiliki banyak tempat wisata, pada tahun 2012 Nagari Pariangan menjadi semakin terkenal ketika salah satu majalah traveling terkenal asal Amerika Serikat yaitu Budget Travel menobatkan Nagari Pariangan sebagai desa terindah di dunia, Nagari Pariangan memiliki potensi wisata berupa alam yang masih asri dan budaya yang masih dijaga sampai saat ini, tidak hanya itu Nagari Pariangan banyak memiliki peninggalan sajarah berupa bangunan, prasastri dan peninggalan sejarah lainya, karena menurut tambo adat Minangkabau daerah tertua di Sumatra Barat adalah Nagari Pariangan tentunya banyak ditemukan peninggalan sejarah Nagari tersebut, selain itu Nagari Pariangan memiliki tempat wisata dengan jarak yang berdekatan sehingga dalam satu kali jalan bisa menikmati objek wisata yang lain sekaligus. Daya tarik wisata Nagari Pariangan antara lain adalah sebagai berikut:
Tabel 4. 5
Daya Tarik Objek Wisata Nagari Tuo Pariangan
No Daya Tarik Objek Wisata
1 Bangunan dan Peninggalan Sejarah
1. Masjid Tuo Minangkabau 2. Kuburan Panjang
3. Batu basurek 4. Balai Saruang
5. Lapangan Sultan Suri Maharajo Dirajo
6. Musium Rumah Gadang DT.
Maharajo Depang 7. Komplek Rumah Gadang 8. Batu Tigo Luak
9. Makam Datuak Tampaik 10. Lasuang Gadang
11. Kincia Tuo
12. Rumah Gadang DT Kayo
2 Alam 13. Pamandian Aia angek
18. Bukik Nan Indak Barangin 19. Lubuak Siguntang-Guntang
28. Pacu Jawi ( Mengikuti Jadwal yang dikeluarkan oleh
Pemerintah Tanah Datar)
Sumber: Data diolah sendiri dari dukumen Nagari Pariangan, 2019
Dapat dilihat pada tabel 4.5 Nagari Tuo Pariangan memiliki banyak sekali objek wisata, baik berupa peninggalan sejarah, keindahan alam yang dimiliki, dan acara yang diadakan, tentunya para pengunjung yang datang memiliki banyak pilihan untuk objek wisata.
B. Pembahasan
Dalam pengembangan pariwisata perlu adanya pendekatan CBT , Menurut Yaman & Mohd ada berberapa kunci pengaturan pembangunan pariwisata dalam pendekatan CBT
1. Adanya dukungan pemerintah: CBT membutuhkan dukungan struktur yang multi institusional agar sukses dan berkelanjutan.
Pendekatan CBT berorientasi pada manusia yang mendukung pembagian keuntungan dan manfaat yang adil serta mendukung pengentasan kemiskinan dengan mendorong pemerintah dan masyarakat untuk tetap menjaga SDA dan budaya. Pemerintah akan berfungsi sebagai fasilitator, kordinator atau badan penasehat SDM dan penguatan kelembagaan.
Menurut Gusnaldi adanya dukungan dari pemerintah kabupaten Tanah Datar yaitu berupa dukungan fisik dan pembinaan bagi pelaku wisata di Nagari Tuo Pariangan, dukungan fisik yaitu dukungan berupa pembangunan tempat sejarah baik itu direhap maupun dibangun baru, telah diperbaikinya jalan sehingga memudahkan aktifitas pariwisata maupun aktivitas yang dilakukan oleh masarakat sekitar objek wisata, dan memberikan bantuan sarana dan prasarana lainya. Sementara bantuan pemerintah berupa pembinaan bagi pelaku wisata yaitu berupa pelatihan diantaranya pelatihan Adat, pelatihan pemandu wisata pelatihan membatik, pelatihan pembuatan sofenir, pelatihan kewirausahaan, dan, juga mempromosikan objek wisata Nagari Tuo Pariangan ini (Wawancara, 22 Agustus 2019).
Dapat disimpulan bahwa dengan adanya dukungan dari pemerintah yaitu berupa pelatihan, sehingga masyarakat di Nagari Tuo Pariangan ini memiliki keahlian, keahlian tersebut sudah mulai digunakan seperti membuat batik dan membuat sovenir tentunya masyarakat dapat mengasilkan uang dari penjualan karya seni tersebut. Disamping itu juga adanya dukungan dari pembangunan seperti merehap dan membangun ulang bangunan yang menjadi objek wisata yang
keadaanya sudah tidak baik lagi, seperti tempat bersejarah dan rumah gadang. Masyarakat juga bekerjasama dengan pemerintah dalam mempromosikan objek wisata ini. sehingga pariwisata ini berkembang dengan cukup baik dan para pengunjung selalu meningkat setiap tahunya seperti yang terlihat pada tabel berikut:
Tabel 4. 6
Jumlah Pengunjung dari tahun 2015-2018
No Tahun WISNU WISMAN Jumlah
1. 2015 7.253 9.36 8.189
2. 2016 10.634 1.756 12.390
3. 2017 45.760 1.638 47.398
4 2018 244.334 1.057 245.391
Sumber: Disparpora Kab.Tanah Datar, 2019
Dapat dilihat pada tabel di atas jumlah wisatawan yang berkunjung pada tahun 2017 menuju tahun 2018 meningkat drastis kenaikannya mencapai lebih dari 500% tentunya itu berkat dukungan pemerintah sehinga Pariwisata Nagari Tuo Pariangan berkembang dengan cukup baik
2. Partisipasi dari stakeholder, CBT didiskripsikan sebagai variasi aktivitas yang meningkatkan dukungan yang lebih luas terhadap pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat. Konservasi sumber daya juga dimaksudkan sebagai upaya melindungi dalam hal memperbaiki mata pencaharian atau penghidupan masyarakat. CBT secara umum bertujuan untuk penganekaragaman industri, Peningkatan skope partisipasi yang lebih luas ini termasuk partisipasi dalam sektor informal, hak dan hubungan langsung atau tidak langsung dari lainnya. Pariwisata berperan dalam pembangunan internal dan mendorong pembangunanan aktivitas ekonomi yang lain seperti industri, jasa dan sebagainya. Anggota masyarakat dengan kemampuan kewirausahaan dapat menentukan/membuat kontak bisnis dengan tour operator, travel agent untuk memulai bisnis baru.
Menurut Gusnaldi kegiatan pariwisata di Nagari Pariangan ini dikelola oleh dua kelompok wisata yaitu Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) dan Komunitas Pariwisata dan Sejarah, pada awalnya pengelolaan pariwisata dikelola oleh POKDARWIS namun anggota dari POKDARWIS ini sudah banyak yang tua dan kurang aktif dalam kegiatan pariwisata, maka kegiatan pariwisatan lebih banyak dikelola oleh Komunitas Pariwisata dan Sejarah, pada komunitas ini diisi oleh anggota-anggota yang masih muda yang memiliki semangat dan kreatifitas untuk mengembangkan industri pariwisata, dalam aktifitasnya kelompok ini mempromosikan tempat wisata yang ada di Nagari Pariangan ini di media sosial seperti di instagram facebook dan media sosial lainnya, memandu dan menyediakan paket-paket wisata yang akan ditawarkan kepada para pengunjung yang datang, dan juga menjalin komunikasi yang baik pada pelaku usaha yang ada di Nagari Pariangan ini, seperti tempat minum kawa daun, tempat penginapan dan pelaku usaha lainya, yang bertujuan untuk memberikan kenyamanan kepada pengujung yang berwisata di Nagari Tuo Pariangan ini.
Masyarakat sudah mulai banyak terjun langsung dalam kegiatan usaha di Nagari tuo Pariangan ini, diantaranya usaha yang ada di puncak kawa, terdapatnya beberapa usaha yang menjual makanan dan minuman seperti kawa daun, gorengan dan aneka minuman dan makanan lainnya. Sudah adanya kegiata membatik, menyediakan tempat penginapan, membuat dan menjual makanan dan minuman sebagai oleh-oleh yang akan dibawa pengunjung, Pengelola pariwisata juga bekerjasama dengan pemerintah kabupaten Tanah Datar dan seluruh Travel Agen yang ada di Sumatra Barat dalam mempromosikan objek wisata yang ada di Nagari Tuo Pariangan ini, namun wisata Nagari Tuo Pariangan ini belum mengunakan tiket itu disebabkan karena belum adanya Rest Area, kemungkinan tahun 2020
akan diterapkan tiket masuk untuk para pengunjung (Wawancara, 22 Agustus 2019).
Dapat disimpulkan bahwa kegiatan pariwisata di Nagari Tuo Pariangan ini pada awalnya dikelola oleh POKDARWIS namun karena kurang aktif dalam kegiatan pengelolaan pariwisata, maka pengelolaan di kelola oleh Komunitas Pariwisata dan Sejarah yang diisi oleh anak muda yang memiliki semangat dan kreativitas dalam kegiatan Pariwisata dan memiliki komunikasi yang baik dengan pelaku usaha yang ada di Nagari Tuo Pariangan ini, sebaiknya Komunitas Pariwisata dan Sejarah diberikan pelatihan dalam pengelolaan pariwisata sehingga pengelolaan pariwisata menjadi semakin baik karena anggota-anggota Komunitas pariwisata dan Sejarah ini memiliki semangat dan kreatifitas yang bagus. Diperlebarnya jalan agar kendaraan wisatawan yang berukuran besar seperti bus dapat memasuki lokasi objek wisata dengan mudah, ditambahnya lahan parkir untuk kendaraan pengunjung, dan diperbanyaknya tempat penginapan seperti homestay agar para pengunjung tidak repot-repot mencari penginapan di tempat lain dan juga bertambahnya pendapatan pariwisata dari tempat penginapan. Pengunjung dan masyarakat agar selalu menjaga kebersihan, agar wisata Nagari Tuo Pariangan ini bersih dari sampah, dan dipercepatnya pembangunan Rest Area supaya penggunaan tiket dapat dilakukan agar bertambahnya pendapatan dari penjualan tiket, yang mana pendapatan tersebut dapat digunakan untuk pembangunan pariwisata ini kedepannya.
3. Pembagian keuntungan yang adil. tidak hanya berkaitan dengan keuntungan langsung yang diterima masyarakat yang memiliki usaha di sector pariwisata tetapi juga keuntungan tidak langsung yang dapat dinikmati masyarakat yang tidak memilki usaha. Keuntungan tidak langsung yang diterima masyarakat dari kegiatan ekowisata jauh lebih luas antara lain berupa proyek pembangunan yang bisa dibiayai dari hasil penerimaan pariwisata.
Dengan banyaknya tempat wisata di Nagari Tuo Pariangan tentunya banyak pengunjung datang kenagari tersebut untuk berwisata, tentunya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar objek wisata, karena masyarakat dapat mengambil keuntungan dengan melakukan berbagai macam usaha di lokasi wisata tersebut. Tidak hanya masyarakat yang melakukan usahan yang mendapatkan keuntungan, masyarakat yang tidak memiliki usaha secara tidak langsung juga mendapatkan keuntungan dari pariwisata Nagari Tuo Pariangan ini. Dengan berkembangnya pariwisata di Nagari Tuo Pariangan ini pemerintah Tanah Datar memberikan bantuan barupa berupa proyek pembangunan, secara tidak langsung juga dapat digunakan oleh masarakat sekitar objek wisata.
Menurut (Gusnaldi, Wawancara, 22 Agustus 2019) Pemerintah tanah datar telah pengaspalan jalan di Nagari Pariangan sehingga dengan pengaspalan tersebut tentunya jalan di sekitar objek wisata akan nyaman untuk dilalui, masyarakat yang berada di sekitar objek wisata dapat melakukan aktifitasnya dengan lancar karena akses jalan yang sudah di perbaiki, pada tahun 2019 ini akan dibangunnya pelantaran Masjid Ishlah tentunya ini sangat berguna bagi masyarakat yang melakukan kegiatan ibadah.
Menurut (Zelmawati, Wawancara 28 Agustus 2019) akan di bangunya jalan ke Sandi Laweh dari APBD Nagari Pariangan tahun 2019 selain tujuanya untuk tempat wisata, juga bertujuan untuk memperlancar transportasi dari masyarakat Nagari Pariangan.
Dapat disimpulkan bahwa dengan adanya pariwisata di Nagari Pariangan ini juga menguntungkan kepada pihak masyarakat yang tidak memiliki usaha dalam objek wisata Nagari Tuo Pariangan ini, seperti membangun pelantaran masjid dan jalan yang diperbaiki, tentunya akan membuat masyarakat nyaman dalam melaksanakan kegiatan ibadah dan nyaman dalam kegiatan transfortasi karena akses jalan yang sudah diperbaiki. Semoga pengelola Pariwisata Nagari Tuo
Pariangan agar selalu meningatkan perkembangan pariwisata ini sehinga dengan begitu juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Nagari Pariangan ini.
4. Penggunaan sumber daya lokal secara berkesinambungan. Salah satu kekuatan ekowisata adalah ketergantungan yang besar pada sumber daya alam dan budaya setempat, Dimana aset tersebut dimiliki dan dikelola oleh seluruh anggota masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, termasuk yang tidak memiliki sumber daya keuangan. Hal itu bisa menumbuhkan kepedulian, penghargaan diri sendiri dan kebanggaan pada seluruh anggota masyarakat. Dengan demikian sumber daya yang ada menjadi lebih meningkat nilai, harga dan menjadi alasan mengapa pengunjung ingin datang ke desa.
Pada pariwisata Nagari Tuo Pariangan terdapatnya suberdaya alam berupa hamparan sawah yang sangat bagus untuk di pandang, sehingga menarik minat para wisatawan yang berkunjung yang masih dijaga dan dikelola oleh mayarakat, adanya sumber air panas yang berada di Nagari Pariangan ini air panas tersebut dipergunakan sebagai pemandian air panas namun keadaanya masih kurang terawat karena masih banyaknya sampah di sekitar pemandian dan sungai.
Menurut (Gusnaldi, Wawancara, 22 Agustus 2019) sudah adanya perencanaan untuk dikelola dengan baik, akan dibangunnya waterboom air panas yang berada di dekat sumber air panas dan akan
Menurut (Gusnaldi, Wawancara, 22 Agustus 2019) sudah adanya perencanaan untuk dikelola dengan baik, akan dibangunnya waterboom air panas yang berada di dekat sumber air panas dan akan