• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

B. Pariwisata

7. Daerah dan Tujuan Wisata

Unsur pokok yang harus mendapat perhatian guna menjang pengembangan pariwisata di daerah tujuan wisata yang menyangkut perencanaan, pelaksanaan pembangunan dan pengembangannya meliputi 5 unsur:

a. Objek dan Daya Tarik Wisata

Dayatarik wisata yang juga disebut objek wisata mempakan potensi yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke suatu daerah tujuan wisata

1) Pengusahaan objek dan daya tarik wisata dikelompokkan ke dalam:

a) Pengusahaan objek dan daya tarik wisata alam, b) Pengusahaan objek dan daya tarik wisata budaya, c) Pengusahaan objek dan daya tarik wisata minat

khusus.

Dalam kedudukannya yang sangat menentukan itu maka daya tarik wisata harus dirancang dan dibangun/dikelola secara profesional sehingga dapat menarik wisatawan untuk datang. Membangun suatu objek

wisata harus dirancang sedemikian rupa berdasarkan krieria tertentu.

2) Umumnya daya tarik suatu objek wisata berdasar pada:

a) Adanya sumber daya yang dapat menimbulkan rasa senang, indah, nyaman dan bersih.

b) Adanya aksesbilitas yang tinggi untuk dapat mengunjunginya.

c) Adanya ciri khusus/spesifikasi yang bersifat langka.

d) Adanya sarana/prasarana penunjang untuk melayani para wisatawan yang hadir.

e) Objek wisata alam mempunyai daya tarik tinggi karena keindahan alam pegunungan, sungai, pantai, pasir, hutan, dan sebagainya.

f) Objek wisata budaya mempunyai daya tarik tinggi karena memililki nilai khusus dalam bentuk atraksi kesenian, upacara-upacara adat, nilai luhur yang terkandung dalam suatu objek buah karya manusia pada masa lampau.

3) Pembangunan suatu objek wisata harus dirancang dengan bersumber pada potensi daya tarik yang dimiliki objek tersebut dengan mengacu pada kriteria keberhasilan pengembangan yang meliputi berbagai kelayakan.

a) Kelayakan Finansial, Studi kelayakan ini menyangkut perhitungan secara komersial dari pembangunan objek wisata tersebut. Perkiran untung-rugi sudah harus diperkirakan dari awal Berapa tenggang waktu yang dibutuhkan untuk kembali modal pun sudah harus diramakan.

b) Kelayakan Sosial Ekonomi Regional Studi kelayakan ini dilakukan untuk melibat apakah investasi yang ditanamkan untuk membangun suatu

objek wisata juga akan memiliki dampak sosial ekonomi secara regional dapat menciptakan lapangan kerja/ berusaha, dapat meningkatkan penerimaan devisa, dapat meningkatkan penerimaan pada sektor yang lain seperti pajak, perindustrian, perdagangan, pertanian dan lain-lain. Dalam kaitannya dengan hal ini pertimbangan tidak semata-mata komersial saja tetapi juga memperhatikan dampaknya secara lebih luas.

Sebagai contoh, pembangunan kembali candi Bombudur tidak semata-mata mempertimbangkan soal pengembalian modal pembangunan candi melalui uang retribusi masuk candi, melainkan juga dengan memperhatikan dampak yang ditimbulkannya, seperti jasa transportasi, jasa akamodasi, jasa restoran, industri kerajinan, pajak, dan sebagainya.

c) Layak Teknis Pembangunan objek wisata harus dapat dipertanggung jawabkan secara teknis dengan melihat daya dukung yang ada. Tidaklah perlu memaksakan diri untuk membangun suatu objek wisata apabila daya dukung objek wisata tersebut rendah. Daya tarik suatu objek wisata akan berkurang atau bahkan hilang bila objek wisata tersebut membahayakan keselamatan para wisatawan.

d) Layak Lingkungan . Analisis dampak lingkungan dapat dipergunakan sebagai acuan kegiatan pembangunan suatu objek wisata. Pembangunan objek wisata yang mengakibatkan rusaknya lingkungan harus dihentikan pembangunannya.

Pembangunan objek wisata bukanlah untuk merusak lingkungan tetapi sekedar memanfaatkan sumber daya alam untuk kebaikan manusia dan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia sehingga menjadi keseimbangan, keselarasan dan keserasian hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan alam dan manusia dengan Tuhannya.

b. Prasarana Wisata

Prasarana Wisata adalah sumber daya alam dan sumber daya buatan manusia yang mutlak dibutuhkan oleh wisatawan dalam perjalanannya di daerah tujuan wisata, seperti jalan, listrik, air, telekomunikasi, terminal, jembatan, dan lain sebagainya. Untuk kesiapan objek-objek wisata yang akan dikunjungi oleh wisatawan di daerah tujuan wisata, prasarana wisata tersebut perlu dibangun dengan disesuaikan dengan lokasi dan kondisi objek wisata yang bersangkutan

Pembangunan prasarana wisata yang mempertimbangkan kondisi dan lokasi akan meningkatkan aksebilitas suatu objek wisata yang pada gilirannya akan dapat meningkatkan daya tarik objek wisata itu sendiri Di samping berbagai kebutuhan yang telah disebutkan di atas, kebutuhan wisatawan yang lain juga perlu disediakan di daerah tujuan Wisata, seperti bank, apotik, rumah sakit, pom bensin, pusat-pusat perbelanjaan, barbier, dan sebagainya.

Dalam melaksanakan pembangunan prasarana wisata diperlukan koordinasi yang mantap antara instansi terkait bersama dengan instansi pariwisata di berbagai tingkat. Dukungan instansi terkait dalam membangun prasarana wisata sangat diperlukan bagi pengembangan pariwisata di daerah. Koordinasi di tingkat perencanaan yang dilanjutkan dengan koordinasi di tingkat

pelaksanaan merupakan modal utama suksesnya pembangunan pariwisata.

Dalam pembangunan prasarana pariwisata pemerintah lebih dominan karena pemerintah dapat mengambil manfaat ganda dari pembangunan tersebut, seperti untuk meningkatkan arus informasi, arus lalu-lintas ekonomi, arus mobilitasi manusia antara daerah, dan sebagainya, yang tentu saja dapat menikatkan kesempatan berusaha dan bekerja masyarakat.

c. sarana wisata

Sarana wisata mempakan kelengkapan daerah tujuan wisata yang diperlukan untuk melayani kebutuhan wisatawan dalam menikmati perjalanan wisatanya. Pembangunan sarana wisata di daerah tujuan wisata maupun objek wisata tertentu harus disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan baik secara kuantitatif maupun kualitatif. lebih dari itu selera pasarpun dapat menentukan tuntutan sarana yang dimaksud. Berbagai sarana wisata yang harus disediakan di daerah tujuan wisata ialah hotel, biro perjalanan, alat transportasi, restoran dan rumah makan serta sarana pendukung lainnya. Tak semua objek wisata memerlukan sarana yang sama atau lengkap. Pengadaan sarana wisata tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan.

Sarana Wisata secara kuantitatif menunjuk pada jumlah sarana wisata yang harus disediakan, dan secara kuantitatif yang menunjukkan pada mutu pelayanan yang diberikan dan yang tercermin pada kepuasan wisatawan yang memperoleh pelayanan.

Dalam hubungannya dengan jenis dan mutu pelayanan sarana wisata di daerah tujuan wisata telah disusun suatu standar wisata yang baku, baik secara nasional dan secara intenasional, sehingga penyedia sarana wisata tinggal memilih atau menentukan jenis dan kualitas yang akan disediakannya.

d. Tata Laksana/Infrastruktur

Infrastruktur adalah situasi yang mendukung fungsi sarana dan prasarana wisata, baik yang berupa sistem pengaturan maupun bangunan fisik di atas permukaan tanah dan di bawah tanah seperti:

1) Sistem pengairan, distribuai air bersih, sistem pembuangan air limbah yang membantu sarana perhotelan/restoran.

2) Sumber listrik dan energi serta jaringan distribusinya yang mempakan bagian vital bagi terselenggaranya penyediaan.

sarana wisata yang memadai.

3) Sistem jalur angkutan dan terminal yang memadai dan lancar akan memudahkan wisatawan untuk mengunjungi objek-objek wisata.

4) Sistem komunikasi yang memudahkan para wisatawan untuk mendapatkan informasi mampun mengirimkan informasi secara cepat dan tepat.

5) Sistem keamanan atau pengawasan yang memberikan kemudahan di berbagai sektor bagi para wisatawan Keamanan di terminal, di perjalanan, dan di obje-objek wisata, di pusat-pusat perbelanjaan, akan meningkatkan daya tarik suatu objek wisata maupun daerah tujuan wisata.

Di sini perlu ada kerjasama yang mantap antara petugas keamanan, baik swasta maupun pemerintah, karena dengan banyaknya orang di daerah tujuan wisata dan mobilitas manusia yang begitu cepat membutuhkan sistem keamanan yang ketat dengan para petugas yang selalu siap setiap saat.

Infrastruktur yang memadai dan terlaksana dengan baik di daerah tujuan wisata akan membantu meningkatkan fungsi sarana wisata, sekaligus membantu masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidupnya.

e. Masyarakat/Lingkungan

Daerah dan tujuan wisata yang memiliki berbagai objek dan daya tarik wisata akan mengundang kehadiran wisatawan.

1) Masyarakat Masyarakat di sekitar objek wisatalah yang akan menyambut kehadiran wisatawan tersebut dan sekaligus akan memberikan layanan yang diperlukan oleh para wisatawan. Untuk ini masyarakat di sekitar objek wisata perlu mengetahui berbagai jenis dan kualitas layanan yang dibutuhkan oleh para wisatawan. Dalam hal ini pemerintah melalui instansi-instansi terkait telah menyelenggarakan berbagai penyuluhan kepada masyarakat. Salah satunya adalah dalam bentuk bina masyarakat sadar wisata. Dengan terbinanya masyarakat yang sadar wisata akan berdampak positif karena mereka akan memperoleh keuntungan dari para wisatawan yang membelanjakan uangnya. Para wisatawanpun akan untung karena mendapat pelayanan yang memadai dan juga mendapatkan berbagai kemudahan dalam memenuhi kebutuhannya.

2) Lingkungan di samping masyarakat di sekitar objek wisata, lingkungan alam di sekitar objek wisatapun perlu diperhatikan dengan seksama agar tak rusak dan tercemar Lalulalang manusia yang terus meningkat dari tahun ke tahun dapat mengakibatkan rusaknya ekosistem dari fauna dan flora di sekitar objek wisata. Oleh sebab itu perlu ada upaya menjaga kelestarian lingkungan melalui penegakan berbagai aturan dan persyaratan dalam pengelolaan suatu objek wisata.

3) Budaya Lingkungan masyarakat dalam lingkungan alam di suatu objek wisata mempakan lingkungan budaya yang menjadi pilar penyangga kelangsungan hidup suatu

masyarakat. Oleh karena itu lingkungan budaya ini pun kelestariannya tak boleh tercemar oleh budaya asing, tetapi harus ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat 'memberikan kenangan yang mengesankan bagi setiap wisatawan yang berkunjung. Masyarakat yang memahami, menghayati, dan mengamalkan Satia Pesona Wisata di daerah tujuan wisata menjadi harapan setiap pihak untuk mendorong pengembangan pariwisata yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

(Suwantoro, 2004: 19-24) 8. Pariwisata Nasional

a. Latar Belakang

Alasan sektor pariwisata dipacu untuk dijadikan komoditi andalan di samping migas sebagai komoditi pendukung kelangsungan pembangunan nasional, antara lain adalah:

1) Pola perjalanan wisata di dunia yang terus menerus memingkat dari tahun ke tahun.

2) Pariwisata tidak begitu terpengaruh gejolak ekonomi dunia, di samping pertumbuhannya yang lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi dunia.

3) Meningkatkan kegiatan ekonomi daerah dan pengaruh ganda dari pengembangan pariwisata tampak lebih nyata.

4) Komoditi pariwisata tidak mengenal proteksi atau qouta seperti komoditi lainnya.

5) Potensi pariwisata Indonesia yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang beranekaragam macamnya tak akan habis terjual.

6) Pariwisata sudah menjadi kebutuhan hidup manusia pada umumnya.

b. Landasan Pembangunan Pariwisata Indonesia

Pengembangan kepariwisataan sebagaimana digariskan di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dalam kurun waktu Repelita VI ditetapkan sebagai berikut:

1) Pembangunan pariwisata ditingkatkan dengan mendayagunakan sumber/potensi yang ada sehingga menjadi kegiatan ekonomi untuk:

a) Memperbesar penerimaan devisa.

b) Memperluas/pemerataan kesempatan berusaha/

lapangan kerja terutama bagi masyarakat setempat, pariwisata akan mendorong pembangunan daerah.

2) Memperkenalkan nilai budaya bangsa/meningkatkan kualitas kebudayaan nasional dengan memperhatikan tetap terpeliharanya kebudayaan bangsa, kelestarian dan mutu lingkungan hidup.

3) Pembangunan pariwisata dilakukan secara menyeluruh dan terpadu dengan sektor lain serta antar pengusaha pariwisata agar mereka dapat saling menunjang.

4) Pariwisata dalam negeri harus dikembangkan/diarahkan untuk:

a) Memupuk cinta tanah air dan bangsa.

b) Menanamkan semangat, jiwa dan nilai luhur bangsa dalam rangka memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

5) Menciptakan iklim yang menarik melalui pengembangan objek wisata, kegiatan promosi, penyediaan prasarana dan sarana Pendidikan dan latihan pariwisata serta meningkatkan mutu dan pelayanan yang dilakukan bersama sektor lainnya, serta berbagai usaha pariwisata.

6) Menciptakan iklim pariwisata di kalangan masyarakat agar dapat berperan serta secara aktif maupun pasif sehingga dapat mencegah hal-hal yang dapat merugikan kehidupan bangsa dan masyarakat.

c. Manfaat Pembangunan Pariwisata Nasional 1) Bidang Ideologi

Pembangunan pariwisata sebagai wahana efektif untuk memupuk dan menanamkan rasa cinta tanah air, semangat pembangunan yang didasari nilai-nilai perjuangan 1945.

2) Pariwisata dalam negeri

dengan kegiatan saling mengunjungi akan lebih mengenalkan daerah satu dengan yang lain sebagai sarana membina dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

Sedangkan kunjungan wisatawan mancanegara akan memupuk rasa cinta damai dan kerjasama antara negara-negara di dunia.

3) Bidang Ekonomi

a) Meningkatkan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha.

Peningkatan pembangunan pariwisata dapat membuka lapangan kerja dan lapangan berusaha, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik pada waktu sebelum dan sesudah berlangsungnya kegiatan kepariwisataan tersebut. Secara langsung pada usaha akomodasi, restoran dan angkutan wisata, biro perjalanan, taman rekreasi dan hiburan, cinderamata, informasi pariwisata, pramuwisata dan pemerintah. Secara tidak langsung pada usaha taxi, pusat perbelanjaan, industri kecil, katering dan pengolahan makanan, pertanian, peternakan,

perkebunan, perbankan, olah raga, sanggar tari dan teater dan jasa-jasa lainnya.

b) Meningkatkan devisa.

Sektor pariwisata mempunyai peluang besar untuk mendapatkan devisa. Hal ini dapat dilihat dengan semakin meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Sebagai penghasil devisa yang diandalkan, pembanguan pariwisata dapat mendukung kelanjutan pembangunan nasional.

c) Meningkatkan penerimaan devisa.

(1). Pajak langsung, yaitu dari pajak penjualan dan penghasilan dari perusahaan pariwisata serta pajak dari wisatawan yang menggunakan fasilitas umum.

(2). Pajak tak langsung, yaitu bea masuk dan bea cukai dari penghasilan barang dan jasa.

d) Meningkatkan dan memeratakan pendapatan rakyat.

Belanja wisatawan di daerah tujuan wisata akan meningkatkan pendapatan dan pemerataan pada masyarakat setempat baik secara langsung maupun tidak langsung melalui dampak berganda (multiflier effect).

e) Meningkatkan ekspor. Dengan semakin banyaknya wisatawan mancanegara yang berkunjung berarti akan ikut memperkenalkan barang-barang produksi dalam negeri yang dinikmati wisatawan yang kemudian akan membuka peluang untuk ekspor.

f) Menunjang pembangunan daerah Pembangunan pariwisata cenderung untuk tidak terpusat di kota, melainkan ke daerah pedalaman dan pantai yang

bebas dari kebisingan kota. Dengan demikian sektor pariwisata amat berperan dalam menunjang pembangunan daerah.

4) Bidang Sosial Budaya

Keanekaragaman kekayaan sosial budaya Indonesia merupakan modal dasar dari pengembangan pariwisata.

Oleh sebab itu pengembangan kepariwisataan harus mampu melestarikan dan mengembangkan budaya yang ada.

Memudarnya daya tarik budaya kita pasti akan merugikan pengembangan pariwisata Indonesia.

5) Bidang Hankam

Pengembangan pariwisata di daerah akan mengekang arus urbanisasi sementara kondisi pertahanan daerah-daerah yang akan dikunjungi para wisatawan harus terjamin. Oleh karena itu dalam bidang Hankam, sektor pariwisata berperan sebagai salah satu kondisi yang diperlukan bagi pembinaan pertahanan dan keamanan.

6) Bidang Lingkungan Hidup

Pada dasarnya pengembangan pariwisata memanfaatkan kondisi lingkungan yang menarik. Dalam pengembangan wisata alam dan lingkungan senantiasa menghindari dampak kerusakan lingkungan hidup, yaitu dengan perencanaan yang teratur dan terarah (Suwantoro, 2004: 25-28 )

9. Kerjasama Koordinasi Untuk Mendorong Peran Serta Masyarakat a. Masyarakat Sadar Wisata

1) Sadar Wisata

Sadar wisata hendaknya diartikan sebagai pemahaman akan arti dan hakikat pengembangan pariwisata. Lebih jauh lagi juga menyangkut posisi, misi dan perannya dalam pembangunan negara dan bangsa

dewasa ini. Semua harapan dan masalah yang dihadapi dalam pengembangan pariwisata berkaitan dengan kepentingan wisatawan kepentingan Umum serta kepentingan bangsa dan negara. Masyarakat sadar wisata mempunyai arti sebagai masyarakat yang mengetahui dan menyadari apa yang dikerjakan dan juga masalah-masalah yang dihadapi untuk membangun dunia pariwisata nasional, dengan adanya kesadaran ini maka akan berkembang pemahaman dan pengertian yang proposional di antara berbagai pihak, yang pada gilirannya akan mendorong mereka untuk mau berperan serta dalam pembangunan pariwisata. Dengan pemahaman dan pengertian tersebut maka mereka akan memperlancar tugas pekerjaan masing-masing guna membina interaksi yang positif di tengah-tengah pembangunan secara keseluruhan.

2) Tingkat kesadaran masyarakat

Pembangunan pariwisata melibatkan semua lapisan masyarakat, mulai dari kalangan atas sampai lapiaan bawah baik kalangan pemerintah, swasta maupun masyarakat biasa semua diharapkan turut membantu dan menunjang usaha pembangunan pariwisata. Masyarakat akan terdorong untuk membantu apabila mereka mengetahui apa yang perlu mereka bantu dan mengapa mereka harus membantu.

Mereka akan tertarik untuk ikut menunjang pembangunan pariwisata apabila mereka telah memahami bahwa mereka akan mendapatkan manfaat yang positif

b. Citra dan Produksi Wisata

Citra produk wisata Indonesia di pasaran wisata dunia, terutama di Negara-negara sumber wisatawan tertentu, masih belum menguntungkan dilihat dari segi pemasaran. Demikian pula halnya dengan produk wisata di daerah tujuan wisata. Beberapa

daerah tujuan Wisata tertentu masih belum dapat. diandalkan untuk menghadapi persaingan dengan negara-negara lain yang memiliki produk yang sama mirip. Untuk meningkatkan citra dan mutu produk serta layanan wisata diperlukan tenaga-tenaga pengelola dan pelaksana yang profesional baik di kalangan industri pariwisata, daerah-daerah wisata, maupun instansi yang berkaitan dengan pariwisata.

c. Kerjasama dan koordinasi Iintas sektoral serta peran serta masyarakat

1) Kerjasama dan koordinasi lintas sektoral

a) Sebagaimana sering dikemukakan oleh Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi, pembinaan dan pengembangan pariwisata di tanah air memerlukan kerjasama dan koordinasi lintas sektoral derajat tinggi baik ditingkat pusat maupun di tingkat daerah, karena sekurang-kurangnya 80% urusan kepariwisataan berasal dalam kewenangan sektor lain.

b) Untuk mengadakan perjalanan wisata, khususnya bagi wisatawan mancanegara, mereka biasanya sejak jauh-jauh sebelumnya telah mempersiapkan segala sesuatunya, seperti informasi yang lengkap, dokumen perjalanan seperti paspor, visa dan lain-lain. Informasi pariwisata Indonesia dari luar negari dapat diperoleh melalui Kantor Perwakilan Indonesia, Kantor Pewakilan Garuda atau Kantor Promosi Pariwisata Indonesia, atau bagi negara yang tidak dibebaskan dari keharusan memiliki visa, calon wisatawan terlebih dahulu harus mendapatkan visa dari Kantor Perwakilan Indonesia

Hal itu menunjukkan bahwa sebelum meninggalkan negaranyapun seorang calon wisatawan sudah memerlukan pelayanan dari instansi yang tidak berada di bawah kewenangan Deparpostel. Setelah mereka sampai di Indonesia, mereka memerlukan berbagai jasa pelayanan, seperti transportasi, CIQ (Bea dan Cukai), imigrasi (karantina), di pelabuhan udara/ laut, di objek-objek wisata seperti museum, tempat-tempat bersejarah, cagar alam, dan lain-lain.

Jasa pelayanan pariwisata yang menjadi kewenangan langsung Deparpostel baru diperoleh setelah wisatawan menginap di hotel/ akomodasi lainnya, melaksanakan tour yang ditangani oleh biro perjalanan, makan dan minum di restoran, menikmati indahnya taman rekreasi, dan lain-lain.

2) Kewenangan lintas sektoral

contoh konkret kewenangan lintas sektoral dalam mendukung kepariwisataan pada dasarnya mencakup jasa Produk dan jasa pemasaran wisata yang. Dengan demikian peran serta setiap unsur yang terkait dalam upaya pengembangan pariwisata untuk menciptakan mutu dan produk wisata mutlak diperlukan. Apabila salah satu mata rantai pariwisata mengecewakan wisatawan dapat berakibat merusak citra produk atau jasa yang telah diberikan secara keseluruhan.

3) Menggalang peran serta masyarakat dalam kepariwisataan, masyarakat dapat diidentifikasikan ke dalam 4 kornponen pokok yang memiliki fungsi yang terjalin erat satu sama lain, yaitu:

a) Komponen Pemerintah

Komponen pemerintah bercirikan mampu meningkatkan sumber dana terutama Sumber devisa sebanyak-banyaknya serta menciptakan lapangan kerja dan berusaha seluas-luasnya bagi seluruh warganya.

b) Komponen Penyelenggara

Pariwisata Komponen penyelenggara pariwisata cenderung bertujuan agar usahanya dapat terselenggara dengan lancar dan memberikan keuntungan yang sebesar-besarnya.

c) Komponen Masyarakat

Penerima Pariwisata Komponen masyarakat penerima pariwisata sebagai pemilik wilayah dan pendukung serta pelaku budaya setempat cenderung bertujuan mengupayakan kelestarian wilayah dan kehidupan di alam budayanya agar tidak terancam dan tidak tercemar.

d) Komponen Wisatawan

Komponen wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara cenderung berkeinginan untuk mendapatkan kepuasaan dan kenyamanan selama berwisata. (Suwantoro, 2004: 29-33)

C. Community Based Tourism (Pariwisata Berbasis Komunitas) 1. Pengertian Community Based Tourism (CBT)

Menurut (Suansri, 2003: 4) "CBT adalah pariwisata yang menitikberatkan keberlanjutan lingkungan, sosial, dan budaya kedalam satu kemasan. Hal ini dikelola dan dimiliki oleh masyarakat, untuk masyarakat, dengan tujuan memungkinkan pengunjung untuk meningkatkan kesadaran mereka dan belajar tentang masyarakat dan lokal cara hidup (Safi‟i, 2015: 35).

Menurut Hudson dan Timothy dalam Sunaryo (2013: 139) pariwisata berbasis masyarakat atau community based tourism merupakan pelibatan masyarakat dengan kepastian manfaat. yang diperoleh oleh masyarakat melalui upaya perencanaan pendampingan yang membela masyarakat lokal. serta kelompok lain yang memiliki antusias atau minat kepada kepariwisataan, dengan pengelolaan pariwisata yang memberi peluang lebih besar untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat setempat. Pariwisata berbasis masyarakat berkaitan dengan adanya partisipasi yang aktif dari masyarakat sebagai pengelola dalam pembangunan kepariwisataan yang ada

Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan desa wisata terdiri dari atas mekanisme pengambilan keputusan. Dan partisipasi dalam menerima keuntungan dari pengelolaan desa wisata. Oleh karena itu pada dasarnya terdapat tiga prinsip pokok dalam strategi perencanaan pembangunan kepariwisatan yang berbasis pada masyarakat atau community based tourism, yaitu:

a. Melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan.

b. Terdapat kepastian masyarakat lokal menerima manfaat

c. Pemberikan edukasi tentang pariwisata kepada masyarakat lokal (Rizkianto, 2018:23).

2. Konsep Community Based Tourism (CBT)

Menurut Suansri (2003) Community Based Tourism (CBT) merupakan pariwisata yang memperhitungkan aspek keberlanjutan lingkungan, sosial, dan budaya. Konsep ini merupakan paradigma baru dalam pengelolaan pariwisata. Suansri (2003) mengemukakan beberapa prinsip yang harus dipegang teguh dalam pelaksanaan Community Based Tourism. Prinsip tersebut antara lain:

a. Mengakui dan mendukung serta mengembangkan kepemilikan komunitas dalam industri pariwisata

b. Mengikutsertakan anggota komunitas dalam memulai setiap aspek c. Mengembangkan kebanggaan komunitas

d. Mengembangkan kualitas hidup komunitas e. Menjamin keberlanjutan lingkungan

f. Mempertahankan keunikan karakter dan budaya di area lokal g. Membantu berkembangnya pembelajaran tentang pertukaran

budaya pada komunitas

h. Menghargai perbedaan budaya dan martabat manusia;

i. Mendistribusikan keuntungan secara adil pada komunitas j. Berperan dalam prosentase pendapatan (Retno, 2018:137)

Sebagai tindak lanjut Suansri (2003) menyampaikan

Sebagai tindak lanjut Suansri (2003) menyampaikan

Dokumen terkait