Penelitian terdahulu merupakan hasil intrepretasi dan penelitian yang telah ada sebelumnya dan menghasilkan teori-teori baru. Hal ini akan menjadi rujukan dan pemberi gambaran pada peneliti untuk memperjelas penelitiannya dan memberikan gambaran pembeda yang dilakukan oleh peneliti. Dalam penelitian ini, terdapat beberapa penelitian terdahulu yang digunakan peneliti sebagai bahan rujukan dan pembeda dalam penelitian. Beberapa penelitian terdahulu yang dijadikan rujukan oleh peneliti, diuraikan dalam tabel 2.2 berikut:
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu Keteranga n Penelitian I Penelitian II Nama peneliti, Tahun, Judul Penelitian, dan Instansi
Ari Eko Widyantoro. 2009. Implementasi Performance Based Budgeting: Sebuah Kajian Fenomenologis (Studi Kasus pada Universitas Diponegoro).
Universitas Diponegoro.
Haspiarti. 2012. Pengaruh Penerapan Anggaran Berbasis Kinerja Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Studi pada Pemerintah Kota Parepare). Universitas Hasanuddin Makassar. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana pemahaman pegawai tentang Penganggaran Berbasis Kinerja dan
seberapa jauh pencapaian pelaksanaan Penganggaran Berbasis Kinerja di Universitas Diponegoro?
2. Apa saja yang menjadi kendala dalam pelaksanaan
Penganggaran Berbasis Kinerja diUniversitas Diponegoro dan bagaimana mengatasinya? Bagaimana Pengaruh Perencanaan Anggaran, Pelaksanaan Anggaran, Pelaporan/ Pertanggungjawaban Anggaran dan Evaluasi Kinerja terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah?
Fokus Berfokus pada pencapaian pelaksanaan penganggaran berbasis kinerja dan kendala dalam pelaksanaanya di Universitas Diponegoro.
Berfokus pada pengaruh perencanaan, pelaksanaan, pelaporan dan evaluasi terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Hasil
Penelitian
Secara umum pegawai di Universitas Diponegoro sudah memahami maknaPenganggaran Berbasis Kinerja, yaitu
penganggaran yang berorientasi pada
output kinerja yang dihasilkan.Meskipun sudah memahami makna Penganggaran Berbasis Kinerja, sejauh ini Undip belum melaksanakan Penganggaran Berbasis Kinerja dengan benar,
karena:
a. Pada tahap perencanaan kinerja, rencana kerja dibuat dulu barudisambungkan dengan Rencana Strategis. Disamping itu pembuatan rencanabelanja tidak diawali dengan pembuatan target pendapatan.
b. Pada tahap pelaksanaan anggaran, banyak terjadi penyimpangan daridokumen perencanaan yang sudahdibuat. c. Pengukuran kinerja belum dilakukan dengan benarterutama untuk indikatoroutput dan outcomes.
d. Pada tahap
evaluasi,pencapaian kinerja belum dievaluasi dengan rencana strategis dan konsep value for Money. Disamping itu sistem kontrol danevaluasi belum
Berdasarkan dari hasilpengujian semua variabel yaitu perencanaan anggaran,pelaksanaan / implementasi anggaran, pelaporan /
pertanggungjawaban anggaran, dan evaluasi kinerja yang menjadi indikator dalam penerapan anggaran berbasis kinerja yang menunjukkakan bahwa keempat variabel tersebut berpengaruh positif terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah sehingga dapat disimpulkan bahwa ketika penerapan anggaran berbasis kinerja naik, maka terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah juga naik.
berjalan efektif.
e. Pada tahap pelaporan kinerja, LAKIP yang dibuat lebih bersifat memenuhiformalitas dan administrasi belaka.
Kendala yang ditemukan dalam pelaksanaan Penganggaran Berbasis Kinerja diUndip yaitu: a. Lemahnya komunikasi yang berupa arahan manajemen, sosialisasi/pelatihan dan belum adanya panduan mengenai penganggaran berbasis kinerja.
b. Belum adanya sistem aplikasi yang terintegrasi dan
terkomputerisasi untuk
dapat memudahkan control dan evaluasi.
c. Belum ada sistem reward dan punishment atas pencapaian kinerja.
d. Etika kerja yang rendah serta belum jelasnya tupoksi, SPM dan SOP.
Dari tabel 2.2 diatas penelitian I, terkait penganggaran berbasis kinerja dengan metode kualitatif dilakukan pada sebuah instansi publik yakni Undip. Penelitian ini berfokus pada pencapaian pelaksanaan penganggaran berbasis kinerja dan kendala dalam pelaksanaanya di Universitas Diponegoro. Pada penelitian II, penelitian lebih berbicara tentang pengaruh terhadap LAKIP (Laporan Kinerja Instansi Pemerintah) yang dibutuhkan dalam penerapan penganggaran berbasis kinerja. Pada penelitian yang kedua, menggunakan metode kuantitatif, karena untuk melihat pengaruh perencanaan, pelaksanaan, pelaporan dan evaluasi
(Anggaran Berbasis Kinerja) terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Sedangkan konsep penelitian yang digunakan peneliti dalam tulisan ini lebih sesuai pada penelitian pertama, karena penelitian yang pertama menggunakan metode kualitatif dan lebih banyak membicarakan persoalan penerapan penganggaran berbasis kinerja. Namun yang membedakan penelitian yang pertama dengan konsep penelitian peneliti ini adalah lokasi penelitian dan fokus penelitiannya, yakni yang berlokasi di Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik dan berfokus pada penerapan penganggaran berbasis kinerja dalam pengelolaan keuangan daerah serta kendala yang ditemukan dalam penerapannya di pemerintah Kabupaten Gresik. E. Kerangka Berfikir
Desentralisasi pada keuangan dikenal dengan istilah desentralisasi fiskal. Desentralisasi fiskal dimaksudkan untuk mempermudah pemerintah dalam mengelola keuangan daerah dan membawa pemerintah untuk lebih memahami keinginan masyarakat, sehingga pemerintah akan mampu melaksanakan otonomi daerah yang bertanggung jawab.Desentralisasi Fiskal sangat erat kaitannya dengan penyelenggaraan otonomi daerah dan pengelolaan keuangan daerah. Dengan berlakunya otonomi daerah yang berkonsekuensi pada desentralisasi fiskal menimbulkan reaksi yang berbeda-beda bagi daerah. Pemerintah daerah memiliki sumber kekayaan atau pendapatan yang harus dikelola untuk mensukseskan otonomi daerah. Sehingga diperlukan pengelolaan keuangan daerah yang benar untuk mengelola sumber kekayaan atau
pendapatan daerah agar pemerintah daerah dengan otonomi daerahnya bisa menjadi pemerintahan yang baik.
Alat dalam pengelolaan keuangan daerah yang digunakan untuk menentukan besaran pendapatan dan pengeluaran, serta membantu dalam pengambilan keputusan dan perencanaan pembangunan daerah adalah anggaran daerah. Sesuai dengan pendapat Chalit, 1976 (dalam Adisasmita; 2011: 50) menyatakan bahwa dalam anggaran daerah dibuatlah bentuk kongkrit rencana kerja keuangan daerah yang komprehensif yang mengaitkan penerimaan dan pengeluaran pemerintah daerah yang dinyatakan dalam bentuk uang untuk mencapai tujuan atau target yang direncanakan dalam jangka waktu tertentu dalam satu tahun anggaran. hal tersebut menjelaskan bahwasannya peran anggaran daerah dalam pengelolaan keuangan daerah sangatlah penting. Sehingga jika sistem penganggaran yang dilaksanakan itu baik, maka pengelolaan keuangan daerah juga pasti baik.
Dalam anggaran daerah terdapat siklus pengelolaan anggaran yang terdiri dari perancanaan, persetujuan, pelaksanaan, pelaporan dan pemeriksaan/ pertanggungjawaban. Dari beberapa gabungan pendapat, dan pertimbangan peneliti, peneliti menggunakan lima tahap kegiatan yang merupakan bagian dari kegiatan pengelolaan keuangan dan merupakan tahapan dalam penyusunan sistem anggaran yang berbasis kinerja untuk menyajikan dan menjabarkan hasil pengumpulan data dalam penelitian ini.
Performance budgetatau Penganggaran kinerja pada dasarnya adalah sistem penyusunan dan pengelolaan anggaran daerah yang berorientasi pada pencapaian hasil atau kinerja.Pendekatan anggaran berbasis kinerja disusun
untuk mengatasi berbagai kelemahan yang terdapat dalam anggaran tradisional, khususnya kelemahan yang disebabakan oleh tidak adanya tolak ukur yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja dalam pencapaian tujuan dan sasaran pelayanan publik. Sejak diberlakukannya Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang pengelolaan keuangan daerah maka diberlakukan reformasi anggaran sehingga pengelolaan keuangan daerah sudah menggunakan sistem Anggaran Berbasis Kinerja. Sehingga hingga saat ini, penganggaran berbasis kinerja sudah diterapakan untuk mengelola keuangan daerah sehingga pemerintahan daerah melalui reformasi anggaran dapat menjadikan pemerintahannya menjadi lebih baik.
Untuk melihat bagaimana penerapan penganggaran berbasis kinerja yang sesungguhnya di Pemerintah daerah kabupaten Gresik, maka peneliti menggunakan lima indikator penerapan penganggaran berbasis kinerja, yang terdiri dari: Rencana Stratejik, Rencana Kerja Tahunan, Indikator Kinerja, Standart Biaya dan Evaluasi Kinerja. Untuk melihat bagaimana penerapan penganggaran berbasis kinerja di Pemerintah Kabupaten Gresik yang sesungguhnya. Sedangkan untuk menganalisis kendala yang muncul serta solusi untuk mengatasi kendala dalam penerapan penganggaran berbasis kinerja, peneliti menggunakan lima indikator keberhasilan penerapan penganggaran berbasis kinerja, yang terdiri dari: Kepemimpinan dan komitmen dari seluruh komponen organisasi, Fokus penyempurnaan administrasi secara terus menerus, Sumber daya yang cukup untuk usaha penyempurnaan tersebut (uang, waktu dan orang), Penghargaan (reward) dan sanksi (punishment) yang jelas dan Keinginan yang kuat untuk berhasil.Dari uraian yang
telah dijabarkan diatas, maka alur berfikir yang dapat penulis gambarkan sebagai berikut;