• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENELITIAN TERDAHULU DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Dalam dokumen ANALISIS PENGGUNAAN TEKNIK AUDIT BERBANTUAN (Halaman 37-42)

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

B. PENELITIAN TERDAHULU DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

1. Kemudahan Dalam Menggunakan TABK (Perceived Ease of Use)

Konstruk perceived ease of use merupakan salah satu konstruk yang telah diuji dalam penelitian Davis et al. (1989), di mana konstruk ini menunjukkan bahwa faktor ini dapat menjelaskan alasan seseorang dalam menggunakan suatu teknologi dan menjelaskan bahwa sistem baru yang dikembangkan diterima oleh pengguna, dengan kata lain jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi mudah digunakan, maka dia akan menggunakannya. Pernyataan Davis yang dikutip dari Venkatesh dan Moriss (2000) perceived ease of use telah terbukti memiliki pengaruh pada minat perilaku (intention behavior) melalui dua jalur kausal, yaitu efek langsung pada minat dan efek tidak langsung pada minat melalui kegunaan persepsian

perceived usefulness. Pengaruh langsung menunjukkan bahwa perceived ease of use bisa menjadi katalisator potensi untuk meningkatkan kemungkinan

penerimaan pengguna. Dalam Gardner dan Amoroso (2004) Davis menemukan bahwa kemudahan penggunaan persepsian mempunyai dampak secara langsung dan tidak langsung pada perceived usefulness, melalui

Hasil penelitian Adams et al. (1992) menunjukkan bahwa konstruk kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) adalah valid dan reliabel. Dari definisi di atas, kemudahan penggunaan Teknik Audit Berbantuan Komputer (TABK) berarti kemudahan dalam melakukan proses audit dengan media komputer. Selain itu kemudahan penggunaan TABK akan mempengaruhi sikap auditor dalam menggunakan TABK. Oleh karena itu, hipotesis yang diuji adalah:

H1 : Perceived Ease of Use berpengaruh terhadap Perceived Usefulness H2 : Perceived Ease of Use berpengaruh terhadap Attitude toward Using

2. Persepsi Pengguna Terhadap Kegunaan TABK (Perceived Usefulness)

Pernyataan Sun dan Zhang (2006) dalam Kartika (2009) mendukung hasil penelitian Davis (1989) bahwa hubungan perceived usefulness dengan

attitude, behavior intention to use mempunyai hasil yang konsisten, ini dapat

dilihat dari 72 studi hasil penelitiannya, 71 studi memperoleh hasil bahwa

perceived usefulness mempunyai hubungan yang signifikan dengan attitude, behavior intention to use. Sama halnya dengan penelitian Szajna (1996)

menemukan sewaktu individual menjadi lebih berpengalaman dengan teknologi informasi, konstruk kegunaan persepsian (perceived usefulness) mempengaruhi tidak hanya ke minat (behavioral intention) tetapi juga langsung ke perilaku (behaviour) menggunakannya. Taylor dan Todd (1995) menemukan perbedaan yang signifikan antara pemakai sistem yang berpengalaman dan mereka yang belum berpengalaman dalam menentukan

commit to user

bahwa perceived usefulness merupakan penentu yang paling kuat mempengaruhi minat perilaku untuk grup yang kurang berpengalaman.

Penelitian-penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa kegunaan persepsian merupakan konstruk yang paling banyak signifikan dan penting yang mempengaruhi sikap, minat, dan perilaku di dalam menggunakan teknologi dibandingkan dengan konstruk yang lainnya (Jogiyanto, 2007). Berdasarkan paparan tersebut jika auditor merasa percaya bahwa penggunaan TABK akan memberikan manfaat dalam pelaksanakan tugas dan pekerjaannya dalam proses audit maka auditor akan menggunakannya. Karenanya, tingkat kemanfaatan TABK akan mempengaruhi sikap, minat, dan perilaku para auditor terhadap TABK tersebut. Oleh karena itu, hipotesis yang diuji adalah:

H3 : Perceived Usefulness berpengaruh terhadap Attitude toward Using H4 : Perceived Usefulness berpengaruh terhadap Behavioral Intention H5 : Perceived Usefulness berpengaruh terhadap Perceived Usage

3. Sikap Pengguna Terhadap Penggunaan TABK (Atittude Towards Using)

Sikap pengguna terhadap perilaku dimaksudkan sebagai perasaan suka atau tidak dan sebagai evaluasi ketertarikan pengguna untuk menggunakan sistem. Utaminingsih (2008) menemukan secara bersama-sama perceived

usefulness dan attitude toward using memiliki pengaruh terhadap behavioral intention to use. Demikian juga dengan penelitian Adiwibowo, Hurriyati, dan

Sari (2008) menyatakan pengaruh yang diberikan sikap pengguna terhadap minat perilaku pengguna secara aktual terbukti signifikan.

commit to user

Ini berarti sikap yang positif dalam menerima teknologi TABK sebagai suatu alat yang memudahkan dan meningkatkan kinerja maupun produktivitas auditor akan berdampak pada minatnya dalam menggunakan TABK. Oleh karena itu, hipotesis yang diuji adalah:

H6 : Attitude toward Using berpengaruh terhadap Behavioral Intention

4. Minat Pengguna Untuk Menggunakan TABK (Behavioral Intention)

Seseorang akan melakukan sesuatu jika mempunyai minat atau keinginan untuk melakukan. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa minat perilaku (behavioral intention) merupakan prediksi yang baik dari penggunaan teknologi oleh pemakai sistem, misalnya adalah penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Utaminingsih (2008) dan Taylor dan Todd (1995) yang menyatakan bahwa minat perilaku (behavioral intention) berpengaruh kuat ke perilaku atau pemakaian sesungguhnya pengguna yang berpengalaman dibandingkan dengan pemakai yang belum berpengalaman.

Ini berarti jika auditor memiliki minat terhadap TABK maka mereka akan menggunakannya. Oleh karena itu, hipotesis yang diuji adalah:

H7 : Behavioral Intention berpengaruh terhadap Perceived Usage

5. Persepsi Penggunaan TABK (Perceived Usage)

Perilaku adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang. Dalam konteks penggunaan sistem teknologi informasi, perilaku adalah penggunaan sesungguhnya (actual use) dari teknologi. Karena penggunaan sesungguhnya

commit to user

maka penggunaan sesungguhnya ini diganti dengan nama pemakaian persepsian (perceived usgae). Igbaria et al. (1995) menggunakan perceived

usage yang diukur dengan jumlah waktu yang digunakan untuk berinteraksi

dengan suatu teknologi dan frekuensi penggunaannya (Jogiyanto, 2007).

6. Variabel Eksternal Pengalaman (Experience)

Gardner dan Amoroso (2004) memodifikasi TAM dengan menambah empat variable eksternal untuk meneliti penerimaan pelanggan terhadap teknologi internet. Keempat variabel tersebut adalah gender, pengalaman, kerumitan dan kesukarelaan. Hasil penelitian tersebut adalah pengalaman merupakan konstruk yang mempengaruhi perceived usefulness dan

behavioral intention to use. Dalam penelitian penerimaan teknologi,

penggunaan variabel pengalaman mulai banyak dibahas sebagai variabel eksternal. Dalam Gardner dan Amoroso (2004) Igbaria et al. (1996) menemukan bahwa penggunaan teknologi komputer tergantung pada teknologi itu sendiri dan tingkat keterampilan atau keahlian dari individu dalam menggunakannya. Hubungan antara pengalaman, dinyatakan sebagai keterampilan atau keahlian, yang secara empiris didukung oleh Mathieson (1991) dan Thompson et al. (1991).

Dalam Jogiyanto (2007) dijelaskan mengenai beberapa hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa pengalaman (experience) merupakan penentu perilaku (Ajzen dan Fishbein, 1980). Untuk penelitian Igbaria et al. (1995) menunjukkan bahwa pengalaman menggunakan komputer mempengaruhi secara langsung ke penerimaan sistem. Pengalaman

commit to user

juga akan mempengaruhi penerimaan sistem secara tidak langsung lewat kepercayaan, yaitu lewat kemudahan penggunaan persepsian dan kegunaan persepsian. Oleh karena itu, hipotesis yang diuji adalah:

H8 : Experience berpengaruh terhadap Perceived Ease of Use H9 : Experience berpengaruh terhadap Perceived Usefulness

Dalam dokumen ANALISIS PENGGUNAAN TEKNIK AUDIT BERBANTUAN (Halaman 37-42)

Dokumen terkait