• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian Terdahulu dan Pengembangan Hipotesis

BAB I PENDAHULUAN

B. Penelitian Terdahulu dan Pengembangan Hipotesis

Berikut ini merupakan penelitian terdahulu dan pengembangan hipotesis yang dilakukan:

1. Motivasi Manajemen Laba

a. Rencana Bonus dan Manajemen Laba

Penelitian Healy (1985) yang meneliti penghargaan eksekutif dengan bonus menyatakan cenderung memilih prosedur akuntansi

commit to user

yang dapat meningkatkan kompensasi bagi manajemen. Hasil empiris penelitiannya menyatakan bahwa jenis kontrak bonus menyediakan karakteristik yang lebih lengkap dari pengaruh insentif akuntansi. Kebijakan akrual manajer berhubungan dengan insentif kontrak bonus manajemen dan perubahan prosedur akuntansi oleh manajer dihubungkan dengan modifikasi rencana bonus manajemen.

Anderson dan Dekker (2007) yang meneliti pengaruh kinerja dan tujuan dari pengenalan insentif rencana bonus berdasarkan tujuan kinerja menemukan bukti yang konsisten dengan pengenalan rencana bonus berdasarkan kinerja dengan tujuan yang dinegosiasikan yang dikaitkan dengan penurunan tujuan. Dengan kata lain, pengukuran kinerja yang berbeda dan tujuan kinerja dapat menipiskan keuntungan ketika manajer memiliki insentif untuk menciptakan usaha dalam negosiasi tujuan atau sebagai pengganti dalam meningkatkan kinerja. Dari uraian di atas, hipotesis pada penelitian ini adalah:

H1 : Rencana bonus berpengaruh terhadap praktik manajemen laba.

b. Debt Covenant dan Manajemen Laba

Dalam penelitian Beneish et al. (2001) mengenai hubungan insentif untuk mencegah kegagalan debt covenant dan insider trading, telah diteliti apakah tindakan manajerial berguna dalam menentukan adanya manajemen laba dan memperkirakan apakah perubahan kontrak spesifik dalam perjanjian utang yang dinegosiasikan kembali memakan banyak biaya. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa

commit to user

akrual yang meningkatkan laba dan akrual yang tidak diperkirakan hanya terjadi dalam perusahaan yang manajernya menggunakan penjualan abnormal insider dan dengan melakukan manajemen laba untuk menghindari kegagalan, manajer menjual equity-contingent

wealth pada harga yang lebih tinggi sehingga manajemen laba sudah

menjadi hal yang lazim bagi manajer yang terlibat dalam penjualan abnormal.

Dichev dan Skinner (2001) yang meneliti bukti mengenai hipotesis debt covenant menemukan bahwa private lenders

menggunakan debt covenant sebagai “trip wires” untuk peminjam utang, yaitu private debt covenants diatur dengan ketat sehingga pelanggaran teknik relatif sering terjadi sekitar 30% dari keseluruhan pinjaman, tetapi bagi banyak perusahaan, pelanggaran ini tidak dihubungkan dengan financial distress. Jadi, secara umum debt

covenant diatur relatif ketat dalam persetujuan private lending.

Bradley dan Roberts (2004), yang meneliti struktur covenant

dari perjanjian pinjaman perusahaan, mengemukakan bahwa perusahaan yang memilih untuk menerbitkan utang secara privat cenderung lebih sedikit daripada perusahaan yang menerbitkan utang secara publik. Hal ini menyebabkan perusahaan memiliki peluang berkembang yang lebih besar, memiliki utang jangka panjang dan aktiva riil yang sedikit, serta lebih mudah untuk mengubah aliran kas

commit to user

Penelitian Janes (2006) mengenai akrual sebagai penentu keketatan debt covenant telah menganalisis penggunaan informasi akrual oleh commercial lenders dalam pengaturan debt covenant. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa hubungan antara keketatan akrual

dan debt covenant mengindikasikan bahwa lenders tidak menggunakan

informasi akrual dalam pengaturan debt covenant. Perusahaan dengan akrual yang sangat rendah memiliki current ratio debt covenant yang lebih dibatasi.

Chava dan Roberts (2007), yang meneliti debt covenant dan transfer hak pengendalian melalui pembiayaan yang mempengaruhi investasi perusahaan, menemukan bahwa penurunan tajam dari investasi modal akan diikuti dengan pelanggaran financial covenant

ketika kreditor menggunakan ancaman dari percepatan pinjaman untuk menghalangi manajemen. Dengan demikian, penurunan investasi dipusatkan dalam situasi di mana masalah keagenan dan informasi relatif menjadi lebih sulit.

Herawati dan Baridwan (2007) menemukan bahwa perusahaan yang melanggar perjanjian utang melakukan praktik manajemen laba yang menaikkan laba yang dilaporkan pada periode sebelum terjadi pelanggaran dan perusahaan yang melanggar perjanjian utang dan perusahaan kontrol sama-sama melakukan manajemen laba pada periode sebelum dan saat terjadi pelanggaran perjanjian utang. Achmad et al (2007) juga menemukan bahwa motivasi debt covenant

commit to user

berpengaruh terhadap praktik manajemen laba di Indonesia. Dari uraian di atas, hipotesis pada penelitian ini adalah:

H2 : Debt covenant berpengaruh terhadap praktik manajemen laba.

c. Biaya Politik dan Manajemen Laba

Han dan Wang (1998) yang meneliti biaya politik dan manajemen laba di perusahaan perminyakan selama krisis Gulf Persia menyatakan bahwa perusahaan perminyakan mendapat laba selama krisis dengan menggunakan akrual untuk mengurangi laba yang dilaporkan. Hal ini berarti keuntungan pengungkapan good news lebih awal (misalnya meningkatkan laba) telah dipengaruhi oleh biaya politik yang dihubungkan dengan time releases informasi.

Dalam penelitian AllNajjar dan Riahi-Belkaoui (2001) mengenai hubungan tingkat pengaturan kesempatan investasi dan pilihan akuntansi manajer dalam perusahaan multinasional, ditemukan bahwa tingkat pengaturan peluang investasi sebagai ukuran peluang untuk berkembang mempengaruhi net income dan net worth serta biaya dan risiko politik. Hal ini akan memberikan insentif bagi manajemen untuk mengurangi biaya dan risiko politik yang dihubungkan dengan pengaturan peluang investasi yang tinggi dengan menggunakan akrual yang dapat menurunkan laba. Dengan kata lain, manajemen perusahaan dengan tingkat pengaturan peluang investasi yang tinggi akan membuat pilihan akuntansi untuk mengurangi laba yang dilaporkan.

commit to user

Dalam penelitian Beekes (2003), ditemukan bahwa peraturan yang dibuat pemerintah memiliki pengaruh terhadap keputusan pelaporan keuangan perusahaan sektor air dan listrik di Inggris dan Wales, yaitu ditemukan adanya bukti manajemen laba dalam tinjauan harga di kedua sektor tersebut. Garrod et al. (2007) yang meneliti insentif ekonomi yang bersubjek pada biaya politik yang berpengaruh terhadap pilihan akuntansi, menemukan bahwa laba yang diatur perusahaan akan menurunkan pajak perusahaan periode berjalan tetapi tidak seluruhnya tereliminasi. Hal ini dikarenakan eliminasi pajak terkendala oleh biaya politik yang dihasilkan dari audit pajak yang meningkat. Manajemen laba terjadi pada tingkat laba operasi, tetapi transaksi ekonomi riil tidak diatur karena hal ini akan mengurangi nilai perusahaan dan kesejahteraan pemilik dan manajer secara langsung. Penelitian Achmad et al. (2007) juga mengindikasikan bahwa peningkatan motivasi biaya politik akan meningkatkan praktik manajemen laba.

Wilson dan Shailer (2007), yang meneliti manipulasi akuntansi dan biaya politik di Tooth & Co Ltd, menemukan bahwa praktik perataan laba di Tooth dan understatements dirasa penting oleh manajemen dalam membenarkan kebijakan dividen di mana systematic

understatements dari laba yang dilaporkan digunakan untuk mencegah

biaya politik potensial yang dihubungkan dengan profitabilitas dan dominan pasar yang tinggi. Peningkatan yang relatif signifikan terlihat dari profit understatement yang terjadi ketika kebijakan dividen dan

commit to user

motivasi biaya politik terjadi secara bersamaan. Dari uraian di atas, hipotesis pada penelitian ini adalah:

H3 : Biaya politik berpengaruh terhadap praktik manajemen laba.

2. Strategi Manajemen Laba

Salah satu strategi dalam manajemen laba adalah strategi pemilihan metoda akuntansi. Penelitian Healy (1985) memaparkan bukti-bukti empiris tentang keberadaan fenomena manajemen laba. Healy memprediksi bahwa manajer akan bersikap oportunis untuk mengatur laba bersih dengan tujuan memaksimalkan bonus mereka. Jika laba bersih rendah, di bawah laba bersih yang ditentukan untuk mendapatkan bonus, maka manajer akan terdorong untuk mengecilkan laba serendah mungkin dengan memilih kebijakan akuntansi yang dapat mengurangi jumlah laba bersih dengan maksud pada tahun berikutnya laba bersih dapat meningkat sehingga mencapai laba bersih yang dapat mendatangkan bonus. Hal yang sama juga terdorong untuk memilih kebijakan dan prosedur akuntansi yang dapat mengurangi laba bersih karena laba bersih di atas laba yang ditentukan akan kehilangan bonus permanen atas laba bersih.

Penelitian Neill et al. (1995) yang menggunakan sampel 2.609 perusahaan yang melakukan IPO (initial publicoffering) pada tahun 1975 sampai 1984 menunjukan bahwa sebagian perusahaan memilih metoda akuntansi yang dapat mempertinggi pelaporan pendapatan dan nilai aset untuk mempengaruhi penerimaan kas dari penawaran perdana dan terdapat hubungan positif yang signifikan antara pilihan metoda akuntansi yang

commit to user

digunakan perusahaan dengan besarnya pendapatan yang akan diterima pada saat pertama kali go public. Penelitian ini juga menunjukan bahwa hasil pendapatan pada penawaran perdana perusahaan yang bebas menggunakan metoda akuntansi lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan metoda akuntansi konservatif.

Dalam penelitian Setiawati dan Na’im (1999), ditemukan bahwa nilai discretionary accrual bank yang tidak mengalami penurunan skor kesehatan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai discretionary accrual

bank yang tidak mengalami penurunan skor kesehatan. Temuan ini mengindikasikan bahwa bank yang mengalami penurunan skor kesehatan memilih kebijakan akrual yang dapat meningkatkan laba. Bank termotivasi untuk melakukan manajemen laba karena apabila skor kesehatan jelek akan berakibat mendapat penilaian yang jelek oleh Bank Indonesia atau bahkan dapat dilikuidasi.

Dalam penelitian Rahmawati et al. (2010) yang meneliti model strategi manajemen laba pada perusahaan publik, ditemukan bahwa strategi manajemen laba dengan pemilihan metoda akuntansi dan pengaturan waktu transaksi mempengaruhi manajemen laba. Semakin besar manajemen laba menggunakan strategi pemilihan metoda dan pengaturan waktu transaksi, maka semakin besar pula manajemen laba yang diproksikan dengan akrual kelolaan. Dari uraian di atas, hipotesis pada penelitian ini adalah:

H4 : Strategi pilihan metoda akuntansi berpengaruh terhadap praktik manajemen laba.

commit to user

Dokumen terkait