BAB I: PENDAHULUAN
G. Penelitian Terdahulu
24
yang diperankan aktor dalam interaksinya dengan audien atau individu lain di luar dirinya.60
G. Penelitian Terdahulu
Penelitian ini memfokuskan pada isu waria, atau secara umum disebut
transgender women.61 Kajian mengenai topik ini masih terbilang langka. Salah satu sumber utama dalam penelitian ini adalah buku yang ditulis Koeswinarno. Kajiannya mempunyai kontribusi besar dalam membuka isu waria yang mengekplorasi berbagai hambatan yang dialami waria Yogyakarta pada ruang sosial dan langkah-langkah yang diambil waria untuk mengatasi hambatan tersebut serta dikaitkan dengan kehidupan waria di masa depan. Ada dua tema besar yang diungkap dalam buku itu. Pertama, ruang sosial waria yang mendapatkan penerimaan sosial rendah dari masyarakat sebagai komunitas normal sehingga dibutuhkan formulasi strategi agar dapat survive di masa depan. Kedua, masa depan waria yang berhadapan dengan dua pilihan hidup yaitu menjadi homoseksual atau melakukan operasi kelamin.62
Kontribusi lain yang menjadi rujukan dalam penelitian ini adalah studi Tom Boellstorf dalam artikelnya yang berjudul Playing Back the Nation: Waria,
Indonesian Transvestites, dalam artikel itu Boellstorf menjelaskan relasi sosial di
60 Syam, Agama Pelacur ; Dramaturgi Transendental, 50.
61 Pemilihan istilah transgender women untuk menerjemahkan istilah waria merujuk pada uraian Davies atas risetnya pada suku Bugis mengenai bissu (transgender shaman), calabai atau waria (transgender women), dan calalai (transgender men). Sharyn Graham Davies, "Gender and Sexual Plurality in Indonesia: Past and Present," dalam Routledge Handbook of Contemporary Indonesia, ed. Robert W. Hefner and Barbara Watson Andaya, Routledge Handbooks (Abingdon, Oxon ; New York, NY: Routledge, 2018).
25
Taman Remaja Surabaya (TRS). Bagi Boellstorf, TRS adalah tempat di mana identitas sosial waria diterima, ini tampak dari papan nama toilet yang bertuliskan “wanita” dan “pria/waria”.63
Buku Politik Subaltern karya Titik Widayanti menjelaskan posisi waria sebagai subaltern dalam struktur sosial masyarakat Yogyakarta mengacu pada identitas transgender. Dalam identitas itu terdapat identitas yang rumit dan kompleks yaitu kelas elit waria dan lower class (bekerja sebagai pengamen), bahkan ada kelas yang lebih marjinal lagi.64 Adapun dalam konteks agama (Islam). buku yang ditulis Zunly Nadia menawarkan persepektif baru dalam memandang waria dari tinjauan hadith. Nadia menegaskan bahwa keberadaan waria tidak sepenuhnya ditolak. Penolakan atas waria mengacu pada waria yang secara fisik normal, tapi memaksakan diri menjadi lawan jenis. Sedangkan orang yang diciptakan sebagai waria tanpa pengaruh dan paksaan sosial, bukan termasuk orang yang dilaknat.65 Berkenaan dengan itu, Alipour menginformasikan bentuk toleransi syariat Islam di Iran dan Mesir. Di mana di kedua negara itu muncul fatwa yang mengabsahkan operasi ganti kelamin. Baginya, fatwa ini adalah pelopor perspektif tolerasi Islam terhadap fenomena transeksual Muslim.66
Selanjutnya adalah riset dengan tema waria dan dialog antar agama. Arauf dalam artikelnya menemukan bahwa LSM Kebaya Yogyakarta memfasilitasi dan mempromosikan dialog antar agama untuk membangun hubungan harmonis dengan para tokoh agama dan ormas Islam (kyai, pastor, dan FPI). LSM Kebaya
63
Boellstorff, “Playing Back the Nation.” 64
Widayanti, Politik subaltern. 65
Nadia, Waria. 66
Alipour, “Toleransi Syariat Islam dalam Kasus Operasi Ganti Kelamin Transeksual: Kajian terhadap Fatwa Ayatollah Khomeini dan Syekh Tantawi,” 113.
26
juga melakukan dua program pemberdayaan yaitu Gong Xi Fat Chai dan Reuni Waria bekerjasama dengan GKI Semarang yang dimaksudkan sebagai upaya untuk membangun transformasi sosial melalui dialog antar agama yang kritis.67 Berkenaan dengan itu, hasil penelitian Fawaid juga menginformasikan hal serupa di mana waria mempunyai pengalaman keagamaannya sendiri dan mempunyai penafsiran tersendiri mengenai tuhan, ibadah, takdir, dan dosa. Dalam konteks dialog antar agama, waria Yogyakarta tidak hanya memfasilitasi dialog dengan para elit agama, tapi juga mendorong untuk membangun dialog antar agama mereka sendiri.68
Adalah Safitri yang mengkaji tentang gerakan kesalehan waria di Pesantren Khusus Waria Al-Fattah „Senin-Kamis‟ Yogyakarta. Kajiannya mengekplorasi tiga praktek keagamaan, yaitu khotbah progressif, kerudung, dan pilihan terbuka untuk menggunakan sarung atau mukena saat melaksanakan salat.69 Riset terbaru ditunjukkan Tidey yang memberi informasi berharga mengenai bentuk kesalehan waria. Baginya Ibu Mariyani adalah representasi waria saleh dan berhasil mencapai banyak hal antara lain, mendirikan pesantren khusus waria, menikah dengan laki-laki, mengadopsi seorang putri, KTP perempuan, dan menerima passport yang menetapkannya sebagai perempuan.70
67 Arauf, “Waria‟s Religion and Interreligious Dialogue.”
68 Arauf; Achmad Fawaid, “Trans -Religious Identity from the Edge? Promoting Interfaith Dialogue among Transgender Community in Yogyakarta,” Al-Albab 6, no. 1 (1 Juni 2017): 103– 24, https://doi.org/10.24260/alalbab.v6i1.676.
69
Dian Maya Safitri, "The politics of piety in the Pondok Pesantren Khusus Waria Al-Fattah Senin-Kamis Yogyakarta: Negotiating the Islamic religious embodiment," dalam Islam in
Indonesia: Contrasting Images and Interpretations, ed. Jajat Burhanuddin and C. van Dijk, ICAS
27
Sayangnya, pesantren waria yang dapat kita anggap sebagai contoh konkret manifestasi terdapatnya dimensi religius dalam kehidupan waria Yogyakarra telah resmi ditutup sejak 24 Februari 2016. Proses penutupan pesantren ini berlangusng melalui forum mediasi yang diinisiasi oleh pemerintah desa dan dihadiri oleh Camat, Kepala Desa, Kapolsek, Koramil, FJI dan perwakilan pesantren oleh Shinta.71 Pada akhirnya, hasil forum mediasi ini menyepakati penutupan pesantren waria. Bagi Shinta, senyatanya ini bukan suatu forum mediasi karena dalam forum itu dia tidak diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan balik.72 Ahnaf dan Salim mencatat peristiwa penutupan pesantren waria sebagai salah satu tindakan kekerasan bernuansa identitas di Yogyakarta.73
Lebih lanjut, Ahnaf dan Salim menjelaskan bahwa pola yang dilakukan FUI dan FJI berlangsung melalui tiga tahap yaitu kampanye dengan menyebarkan spanduk dan pamphlet anti LGBT, audiensi dan konfirmasi dengan perangkat desa hingga kecamatan dan takmir masjid untuk melanggengkan proses stigmatisasi bahwa waria adalah LGBT yang diharamkan dalam agama, hasil yaitu mengubah pandangan masyarakat yang awalnya menerima menjadi menolak keberadaan pesantren waria.74
Tentu saja ada kajian-kajian mengenai waria yang telah dilakukan pihak lain. Namun sejauh yang penulis ketahui, belum banyak yang mengkaji Kediri
71 Berkaitan dengan kehadiran FJI pada forum mediasi, Fatih menginformasikan bahwa pihak kelurahan menyatakan tidak mengundang FJI, tapi dalam forum itu sudah ada 30 orang anggota FJI. Fatih, “Problematika Dalam Kelompok Sosial.”
72
“Penyegelan Dan Penutupan Ponpes Waria Al-Fatah Merupakan Pelanggaran Hak Beragama Dan Berkeyakinan.”
73
Muhammad Iqbal Ahnaf dan Hairus Salim, Krisis k eistimewaan: k ek erasan terhadap minoritas
di Yogyak arta (Yogyakarta: CRCS UGM, 2017), 8.
74
28
sebagai area studinya. Riset-riset di atas juga menunjukkan beragam pendekatan disiplin ilmu dan perspektif yang digunakan untuk mengkaji waria. Meskti begitu, riset tersebut seakan belum bisa beranjak dari komunitas waria di kota metropolitan seperti Yogyakarta dan Surabaya. Padahal waria merupakan salah satu sub budaya yang pasti ada dalam setiap masyarakat.75 Kenyataannya komunitas waria ada di Kediri, baik di daerah Kota maupun Kabupaten.
Selain itu, riset yang mengkaji waria dan agama juga tampaknya belum beranjak dari komunitas waria di Pesantren Khusus Waria Al-Fattah „Senin-Kamis‟ Yogyakarta. Ini juga menunjukkan stagnasi subjek penelitian karena pada faktanya di luar pesantren itu, bahkan di luar wilayah Yogyakarta terdapat komunitas waria lain yang mempunyai cara atau wadah untuk memanifestasikan dimensi religiusnya. Karena pada dasarnya setiap manusia mempunyai dimensi kehidupan rohani dan memerlukan saluran untuk memanifestasikan kebutuhan itu baik di ruang privat maupun di ruang publik sebagai bentuk penegasan identitas keagamaaannya.
Sementara itu, penelitian ini bermaksud untuk melihat bagaimana proses konstruksi keislaman waria di Kota Kediri dalam setting sosial-keagamaan. Dengan begitu, kita akan dapat lebih mengetahui sisi lain dari kehidupan waria. Karena kenyataannya, sebagai manusia religius mereka tetap mempunyai hasrat dan cita-cita religius yang tidak berbeda dengan manusia „normal‟ lainnya meski selama ini selalu diidentikkan dengan dunia kotor dan pelacuran. Bagian inilah
75
Secara lebih luas Davies menegaska bahwa LGBT adalah bagian dari budaya Indonesia. Sharyn Graham Davies, "Gender and Sexual Plurality in Indonesia Past and Present". dalam Routledge
29
yang dalam analogi dramaturgi disebut dengan istilah panggung belakang (backstage). Dengan menungkap sisi ini, maka kajian mengenai waria akan menjadi lebih utuh sekaligus sebagai cara untuk menghindari generalisasi ataupun simplifikasi yang mengarah pada pemahaman negatif atas kehidupan mereka. Akhirnya, penelitian ini pun juga merupakan ikhtiar untuk membuka ruang baru dari kajian-kajian yang sudah ada dan dalam setting masyarakat yang juga berbeda.
H. Metode Penelitian