TINJAUAN PUSTAKA
5. Keluarga Sejahtera III Plus
2.2 Penelitian Terdahulu
Palikhah (2016) dengan judul penelitian: konsep kemiskinan kultural hasil penelitian; Kebudayaan telah membuat kemiskinan itu tetap lestari dalam kehidupan mereka. Adanya pandangan hidup ataupun nilai-nilai yang mereka pegang turut mendorong mereka terpuruk dalam kemiskinan. Kemiskinan ini lebih disebabkan oleh kebudayaan, di mana kemiskinan tidak disebabkan oleh keterbatasan akses ekonomi akan tetapi lebih disebabkan karena nilai-nilai, pandangan hidup, dan norma-norma yang berkembang di dalam suatu masyarakat. Kemiskinan itu muncul dari dalam diri orang miskin itu sendiri.
Kebiasaan ini telah menyebabkan mereka terjebak dalam kemiskinan.
Kekerasan menjadi dampak yang jelas terlihat dari kemiskinan kultural ini. Sering digunakannya kekerasan telah memberikan suatu kemungkinan bagi mereka yang berkebudayaan kemiskinan untuk mengatasi berbagai tindakan kekerasan. Kekerasan digunakan sebagai jalan keluar dan seolah-olah tindakan itu adalah tindakan yang sah mereka lakukan. Semua itu didasarkan karena mereka miskin sehingga boleh saja melakukan tindakan kekerasan. Kondisi ini disebabkan karena kaum miskin telah memasyarakatkan nilai-nilai dan perilaku kemiskinan, akibatnya perilaku tersebut melanggengkan kemiskinan mereka.Tindakan kekerasan dan kriminal itu pun terjadi karena adanya ketidakmampuan mereka dalam berfikir konseptual dan kecenderungan yang sangat kuat dalam menggunakan reaksi motorik dalam mengatasi kekecewaan dan kegagalan. Akumulasi dari kegagalan dan kekecewaan tersebut menyebabkan mereka tidak mampu lagi untuk berkompromi mengenai apakah tindakan yang mereka lakukan benar atau salah.
Pilihan kebijakan yang dapat membuat orang miskin bangkit dari kemiskinannya adalah dengan pemberdayaan orang miskin sehingga ia akan merasa berguna baik bagi dirinya sendiri ataupun bagi orang lain. Dengan kepercayaan diri yangmereka miliki itu, diharapkan mereka dapat melakukan gerakan-gerakan yang dapat membuat mereka mampu melakukan berbagai hal.
Perubahan sosialisasi anak- anak miskin, perluasan kesempatan bagi mereka,dan kepercayaan diri mereka bahwa mereka mampu membuat suatu perubahan maka hambatan-hambatan kultural yang merupakan ciri masyarakat miskin akan
terkikis.
Fauzi (2015) dengan judul penelitian: Identifiksi Faktor penyebab Kemiskinan di Kecamatan Medan Perjuangan dari Dimensi Kultural. Hasil penelitian menunjukan : (1) Ciri masyarakat miskin d Kecamatan Medan Perjuangan antara lain, umur antara 45- 50 Tahun, pendidikan terakhir rata-rata tamat SD, memiliki pendapatan rata-rata antar Rp.970.000,00- 1.500.000 dan memiliki tanggungan antara 4-6 orang. (2) Masyarakat miskin di Kecamatan Medan Perjuangan rata- rata bekerja di sektor informal, rata-rata tidak mengikuti khursus / pelatihan , ratarata tidak memiliki tabungan dan jika pendapatan kurang meraka lebih memilih untuk berhutang, serta tidak menggunakan teknologi dalam melakukan pekerjaannya. Berdasarkan hal tersebut, faktor penyebab kemiskinan di Kecamatan Medan Perjuangan dari dimensi kultural diakibatkan masyarakat miskin memiliki sikap mental yang negatif seperti : sifat boros, cepat merasa puas, sulit menerima inovasi serta memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap sesama.
Rejekiningsih (2011) dengan judul: Identifikasi faktor penyebab kemiskinan di kota semarang dari dimensi kultural. Hasil menunjukan;
Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pertama, ciri-ciri warga miskin di Kota Semarang antara lain, kepala rumah
tangga sebagian besar berpendidikan rendah (tamat SD) dan mempunyai pekerjaan sebagai buruh, serta mempunyaitanggungan 3 jiwa. Kedua, bahwa terjadi ketidakmerataan dalam distribusi bantuan kepada warga miskin.Hal ini teridentifikasi dengan ditemukannya sekitar 26 persen warga miskin tidak pernah
menerima bantuan jenis apapun selama dua tahun terakhir. Ketiga, warga miskin di Kota Semarang memiliki orientasi nilai budaya dan sikap mental yang positif dalam memandang hakekat hidup, hakekat karya, hakekat waktu, hakekat hubungan dengan alam semesta dan sesama manusia. Namun secara rata-rata jika dibuat peringkat maka orientasi nilai budaya dan sikap mental yang positif dengan mendapat point tertinggi adalah hakekat waktu (91 persen), kemudian diikuti hakekat hubungan dengan sesama manusia (90 persen), hakekat hubungan dengan alam (88 persen), hakekat hidup (67 persen) dan hakekat karya (64 persen).
Berdasarkan peringkat yang ada, maka bisa disimpulkan di sini bahwa:
warga miskin di kota Semarang dalam mensikapi kondisinya, lebih berkeyakinan untuk mempersiapkan masa depannya dengan melakukan penghematan atau menabung. Kemudian warga miskin juga lebih percaya kepada kemampuannya sendiri tidak menggantungkan bantuan dari pihak/orang lain. Selain itu warga miskin harus bekerja mengolah alam untuk memenuhi kebutuhannya, karena warga miskin berkeyakinan bahwa mereka harus tetap berusaha meski dalam kekurangan, dan dengan berkarya akandiperoleh penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
Nano (2009), Memahami kemiskinan dan strategi penanggulangannya;
hasil penelitian : Masalah kemiskinan sampai saat ini terus menerus menjadi masalah yang berkepanjangan. Sebenarnya sudah banyak program pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah, namun belum membawa peru bahan yang berarti. Program- program penanggulangan kemiskinan sudah banyak dilaksanakan di berbagai negara.Strategi pembangunan yang dikembangkan
bangsa Indonesia selama ini adalah bertumpu pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang dianggap tinggi tersebut ternyata tidak diikuti dengan pemerataan distribusi pendapatan pada semua golongan masyarakat.
Sehingga terjadi trade- off antara pertumbuhan dan pemerataan. Mencermati beberapa kekeliruan paradigmatik penanggulangan kemiskinan, dimana analisis yang seharusnya memunculkan variabel-variabel yang signifikan untuk menganggulangi kemiskinan justru variabel yang tidak signifikan dimasukkan, maka strategi yang harus dilakukan untuk mengatasi kemiskinan: seyogyanya juga tidak hanya memprioritaskan aspek ekonomi tapi memperhatikan dimensi lain; untuk meningkatkan kemampuan dan mendorong produktivitas, strategi yang dipilih adalah peningkatan kemampuan dasar masyarakat miskin untuk meningkatkan pendapatan; melibatkan masyarakat miskin dalam keseluruhan proses penanggulangan kemiskinan; strategi pemberdayaan. Untuk menunjang keberhasilan strategi tersebut, diperlukan unsur unsur berikut: Upaya tersebut sebaiknya dilakukan secara menyeluruh, terpadu, lintas sektor, dan sesuai dengan kondisi dan budaya lokal;memberikan perhatian terhadap aspek proses, tanpa mengabaikan hasil akhir dari proses tersebut melibatkan dan merupakan hasil proses dialog dengan berbagai pihak dan konsultan dengan segenap pihak yang berkepentingan terutama masyarakat miskin; meningkatkan kesadaran dan kepedulian di kalangan semua pihak yang terkait; menyediakan ruang gerak yangseluas luasnya, bagi munculnya aneka inisiatif dan kreativitasmasyarakat;
Pemerintah dan pihak lainnya bergabung menjadi kekuatan yang saling mendukung.
Faktor Penyebab Kemiskinan di Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat Dari Dimensi Kultural
Kultural Sistem Nilai Budaya Masyarakat Yaitu
Orientasinilaibudaya 2.3 Kerangka Konseptual
Sumber: Data Olahan Penulis
Gambar 2.2
Skema Kerangka Konseptual
Sherraden (Arif, 2009) dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yang saling bertentangan dan satu kelompok teori yang tidak memihak (middle ground), yaitu teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu (behavioral), teori yang mengarah pada struktur sosial, dan yang satu teori mengenai budaya miskin. Menurutnya, teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu merupakan teori tentang pilihan, harapan, sikap, motivasi dan kapital manusia (human capital). Teori ini disajikan dalam teori ekonomi neoklasik, yang berasumsi bahwa manusia bebas mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dengan tersedianya pilihan-pilihan. Perspektif ini sejalan dengan teori sosiologi fungsionalis, bahwa ketidak setaraan itu tidak dapat dihindari dan diinginkan
adalah keniscayaan dan penting bagi masyarakat secara keseluruhan. Teori perilaku individu meyakini bahwa sikap individu yang tidak produktif telah mengakibatkan lahirnya kemiskinan.
Pembahasan terhadap faktor penyebab kemiskinan didasarkan pada aspek mental manusia, hal ini dikategorikan sebagai faktor endogen penyebab kemiskinan. Sistem nilai budaya dan sikap merupakan faktor-faktor mental yang menyebabkan timbulnya pola-pola berpikir tertentu pada warga masyarakat di Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat, terutama warga miskin. Pola-pola berpikir ini kemudian mempengaruhi tindakan dan kelakuan masyarakat, baik dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam membuat keputusan-keputusan yang penting dalam hidup. Upaya perbaikan kesejahteraan rakyat perlu ditopang dengan perbaikan sikap mental masyarakat. Sikap mental juga dapat menjadi salah satu penyebab timbulnya kemiskinan pada diri seseorang atau sekelompok masyarakat.
Pandangan hidup “merasa cukup” bagi masyarakat di Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat menjadi nilai yang mereka anut, artinya mereka sudah merasa puas dengan apa yang mereka dapatkan. Pandangan hidup ini seperti kurang memiliki etos kerja merupakan salah satu dari beberapa nilai-nilai atau kebudayaan yang dianut oleh orang miskin yang disebabkan karena adanya kebudayaan kemiskinan dimana kemiskinan muncul sebagai akibat adanya nilai- nilai atau kebudayaan yang dianut oleh orang miskin.
27
BAB III