• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Industri

3. Kemajuan teknologi (technological progress)

2.6 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.3 Penelitian Terdahulu

No Penulis, tahun, judul Metode Analisis Hasil Penelitian 1 Ida Nuraini, 2013,

Hasil analisis peta potensi sektor industri Malang, menunjukkan hasil sebagai berikut:

(a) industri mebel di Malang sebagian besar terkonsentrasi di Kabupaten Blimbing. (b) tembikar dan keramik industri terkonsentrasi di Kecamatan Sukun dan Lowokwaru. (c) industri dan perbaikan bodi mobil toko terkonsentrasi di Kecamatan Blimbing dan Klojen. (d) industri kerajinan terkonsentrasi diKecamatan Blimbing dan sukun. (e) industri kimia terkonsentrasi di Kecamatan Blimbing dan sukun. (f) industri logam sebagian besar terkonsentrasi di Kecamatan Sukun dan Klojen. (g) industri makanan dan minuman terkonsentrasi di Kecamatan Klojen dan sukun. (h) industri mebel, pencetakan tekstil dan terkonsentrasi di Kecamatan Blimbing dan Klojen (i) industri tembakau terkonsentrasi di Kecamatan Kedungkandang dan sukun. Berdasarkan analisis hasil menunjukkan bahwa daya saing industri makanan dan minuman Malang memiliki keunggulan komparatif dibandingkan Malang, Batu dan Provinsi Jawa Timur. Sedangkan hasil analisis faktor yang mempengaruhi pertumbuhan sektor industri, hasil menunjukkan bahwa modal, nilai bahan baku dan nilai tambah efek positif pada manufaktur variabel produksi. Adapun tenaga kerja variabel negatif mempengaruhi

penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lokasi industri di setiap kecamatan Kabupaten Bekasi. Hasil penelitian dengan menggunakan metode Location Quotient (LQ) menunjukkan bahwa sektor unggulan daerah yakni subsektor Industri Makanan, Minuman dan Tembakau di Kabupaten Bekasi.

Kecamatan Cikarang Barat menjadi kecamatan yang berpusat/ konsentrasi pada sektor industri manufaktur dengan menggunakan analisis Localization Index (LI).

Subsektor Industri makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi subsektor yang memiliki kekhasan dengan menggunakan analisis Specialization Index (SI) di Kecamatan Setu, Karangbahagia dan Sukakarya dengan

Minuman, dan Tembakau, dan Kecamatan Sukawangi dengan Subsektor (3.6) Subsektor Industri Barang Galian Non Logam, Kecuali Minyak Bumi dan Batu Bara.

3 Rizky Arlia, 2017, Analisis Potensi Sektor Industri Manufaktur di Kabupaten Serdang Bedagai.

1. Analisis Location Quotient (LQ) 2. Analisis Shift-Share

Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur ekonomi di Kabupaten Serdang Bedagai mengalami pergeseran dari sektor penggalian dan sektor industri pengolahan yang mendominasi tahun 2011 menjadi sektor perdagangan melakukan dominasi pada tahun 2015. Sektor perdagangan merupakan sektor yang tumbuh cepat dengan nilai Proportional Shift (P) > 0 dan memiliki daya saing tinggi dengan nilai Differential Shift (D)

> 0. Sektor ekonomi di Kabupaten Serdang Bedagai yang potensial untuk dikembangkan adalah sektor perdagangan, karena sektor tersebut memiliki pertumbuhan yang menonjol di Kabupaten Serdang Bedagai dan di Provinsi Sumatera Utara dengan nilai RPs dan RPr yang positif atau > 1.

4 Juli Panglima Saragih, 2018, Kinerja Industri Manufaktur di industri manufaktur di Pulau Sumatera periode 2010-2015 memiliki nilai LQ˂1. Ini menunjukkan secara agregat industri manufaktur di Pulau Sumatera masih belum dapat diandalkan untuk percepatan pertumbuhan ekonomi (PDB) regional Pulau Sumatera walaupun berkontribusi positif terhadap industri manufaktur nasional. Namun jika berdasarkan LQ provinsi, industri manufaktur tumbuh signifikan hanya terjadi di tiga provinsi yakni Provinsi Sumatera Utara, Kepulauan Riau, dan Riau. Sedangkan dua provinsi yakni Provinsi Sumatera Selatan dan Lampung ditemukan memiliki pertumbuhan moderat. Lima provinsi lainnya mengalami pertumbuhan yang sangat lambat dalam periode yang sama. Antara pulau di Indonesia, kontribusi industri manufaktur Pulau Sumatera relatif besar setelah Pulau Jawa dibandingkan dengan pulau lain di luar Pulau Jawa. Oleh karena itu, solusi yang dapat ditempuh adalah perlunya diversifikasi industri di Pulau Sumatera sesuai potensi sumber daya yang dimiliki untuk memperkuat struktur industri manufaktur di Pulau Sumatera tersebut. Diversifikasi industri dimaksud tidak hanya industri berbasis perkebunan dan sumber daya alam saja.

Kebijakan industri nasional ke depan selayaknya memerhatikan temuan studi ini supaya pertumbuhan industri di Pulau Sumatera semakin optimal.

5 Etty Puji Lestari dan

Analysis (DEA) Hasil penelitian menyatakan bahwa terjadi perbedaan efisiensi pada setiap level industri.

Oleh karena itu kebijakan pemerintah yang berkaitan pembangunan industri mutlak diperlukan untuk meningkatkan kinerja sektor industri.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran sektor industri pengolahan terhadap perekonomian Sulawesi Utara realtif stabil dari tahun ke tahun, dan ditinjau dari PDRB sektor industri pengolahan termasuk sektor non basi, sedangkan peranan sektor industri pengolahan terhadap peyerapan tenaga kerja di Provinsi Sulawesi Utara masih tergolong kecil dan cenderung stabil setiap tahunnya, dilihat dari aspek tenaga kerja, sektor industri pengolahan termasuk sektor basis.

7 Bhimo Rizky Samudro

Analysis (DEA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sub sektor pakaian jadi; kayu dan pengolahannya;

mesin dan perlengkapannya; serta furnitur dan pengolahannya merupakan sub sektor industri manufaktur di Jawa Tengah pada tahun 2016 yang tergolong belum efisien. Sub sektor tersebut menggunakan terlalu banyak unit input sehingga justru tingkat produksinya tidak efisien secara relatif dibandingkan sub sektor yang lain.

Sumber : Hasil Olahan Peneliti (2019) 2.7 Kerangka Konseptual

Pertumbuhan sektor industri akan berdampak bagi sektor-sektor ekonomi penunjang lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Sektor industri juga terbukti mampu memberikan kontribusi penting bagi pendapatan (PDRB) daerah Kabupaten Deli Serdang. Apabila sektor industri terus mengalami perkembangan yang meningkat, ini berarti bahwa sektor industri memiliki potensi yang besar bagi perekenomian daerah.

Untuk mengetahui kontribusi sektor industri manufaktur dengan melihat apakah sektor tersebut basis atau non basis maka digunakan analisis Location Quotient (LQ). Untuk mengetahui pergeseran sektor ekonomi digunakan analisis Shift Share. Kemudian untuk mengetahui bagaimana potensi sektor industri

manufaktur digunakan analisis Model Rasio Pertumbuhan (MRP), dan untuk mengetahui sektor unggulan digunakan analisis Overlay. Konsep pemikiran yang dijadikan dasar dalam penelitian ini dijelaskan pada gambar berikut :

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Sumber : Hasil Olahan Peneliti (2019)

Perekonomian Daerah

Pergeseran sektor ekonomi

Analisis Shift Share

Sektor industri manufaktur

Potensi Sektor unggulan

Kontribusi

Sektor basis/non basis

MRP Analisis overlay

Analisis LQ

2.8 Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka dibuat hipotesis sebagai berikut:

1. Sektor industri manufaktur memiliki kontribusi terhadap perekonomian di Kabupaten Deli Serdang.

2. Perubahan pergeseran pada sektor ekonomi di Kabupaten Deli Serdang adalah dari sektor pertanian ke sektor industri.

3. Sektor industri manufaktur memiliki potensi dalam perekonomian di Kabupaten Deli Serdang.

4. Sektor industri manufaktur merupakan sektor unggulan di Kabupaten Deli Serdang.

BAB III

METODE PENELITIAN

Dokumen terkait