BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.23. Penelitian Terdahulu (Mapping)
Penelitian pertama adalah penelitian dengan judul “Business Tax Incentives and Investment” dalam Karier (1994), penelitian ini memiliki hipotesis awal bahwa fasilitas pajak berupa tax credit yang diberikan oleh pemerintah (AS) tidak memberikan dampak yang cukup signifikan dalam pertumbuhan investasi (ekspansi) yang ada. Kemudian dilakukan penelitian lebih lanjut guna meneliti bagaimanakah seharusnya tax credit diberlakukan. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa tax credit yang diberikan oleh pemerintah tidak memberikan dampak yang berarti dalam pertumbuhan investasi.
Dari penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa hanya 12 sen dari tiap- tiap dollar setelah pajak yang di investasikan kembali oleh perusahaan. Sedangkan sisanya digunakan untuk membayar dividen yang tinggi, membeli saham atau obligasi. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa pemberian insentif pajak hanya akan menjadi sia-sia apabila diberikan kepada seluruh bidang usaha tanpa mempertimbangkan beberapa faktor yang diperlukan. Penelitian menyarankan, sebaiknya dalam pemberian insentif pajak pemerintah
mempertimbangkan terlebih dahulu bidang usahanya, sehingga upaya mencapai pertumbuhan investasi dapat tercapai.
Penelitan kedua adalah penelitian dengan judul “The Economics of Foreign Direct Investment Incentives” dalam Blomstrom & Kokko (2003). Penelitian tersebut ingin mencari informasi mengenai suatu desain insentif perpajakan yang baik. Menurut penelitian tersebut untuk ‘mengundang’ investasi ke suatu negara pada umumnya negara-negara tersebut memberikan berbagai macam insentif usaha. Akan tetapi menemukan desain program insentif tersebut bukanlah hal yang mudah. Kompetisi untuk memperebutkan investasi dalam suatu kawasan regional semakin mempersulit keadaan. Sehingga menurut penelitian tersebut sebaiknya dibuat suatu aturan umum dalam kawasan regional tersebut mengenai macam-macam insentif yang akan diberikan sehingga terjalin koordinasi yang baik antara negara yang satu dengan negara lainnya. Salah satu contoh penerapan harmonisasi ini menurut penelitian tersebut adalah di negara- negara uni eropa, yang telah menerapkan harmonisasi insentif usaha.
Hal lain yang di dapat dalam penelitian tersebut adalah pengaruh dari adanya foreign direct investment (FDI), menurut penelitian tersebut banyak negara-negara yang menempatkan kebijakan dalam pemberian insentif usaha kepada FDI pada urutan teratas, bukan hanya mengharapkan manfaat tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, melainkan juga peningkatan teknologi dalam industri dan meningkatkan skill pekerja di negaranya. Penelitian tersebut merekomendasikan agar pemerintah memberikan insentif usaha kepada sektor usaha tertentu yang dapat memberikan pengaruh besar terhadap kemajuan pendidikan, training, dan juga pengembangan sumber daya manusia.
Penelitan ketiga adalah penelitian dengan judul “Hubungan Kebijakan Insentif Pajak dengan Iklim Investasi bagi Perusahaan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Tekstil di Indonesia” yang dilakukan oleh Hartono dan Setyowati (2009). Penelitian tersebut ingin mencari informasi mengenai pengaruh kebijakan pemberian insentif pajak terhadap iklim berinvestasi pada sektor industri tekstil di Indonesia, khususnya yang terdaftar sebagai wajib pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Empat. Menurut penelitian tersebut kebijakan insentif pajak tidak berhubungan secara signifikan dengan iklim investasi perusahaan PMA sektor industri tekstil.
Penelitan keempat adalah penelitian dengan judul “Efektivitas Insentif PPh Terhadap Tingkat Kepuasan Wajib Pajak PMA” yang dilakukan oleh Sutrisno Ali (2012). Penelitian tersebut ingin mencari informasi tentang tingkat kepuasan wajib pajak terhadap pemberian insentif PPh. Menurut penelitian tersebut pemberian insentif PPh memiliki keterkaitan erat terhadap tingkat kepuasan yang diterima wajib pajak. Berkaitan dengan insentif pajak, Sutrisno memberikan tiga saran. Pertama, insentif PPh pada umumnya menjadi sarana untuk menarik investor agar mau melakukan investasi. Namun bukanlah satu-satunya insentif untuk menarik investasi asing. Ada unsur lain yang perlu dipertimbangkan yang bersifat non tax incentives, seperti infra struktur, kepastian hukum dalam pengaturan perburuhan, lalu lintas devisa, dan kestabilan politik.
Kedua, pada dasarnya perusahaan akan bertindak secara ekonomis, yaitu untuk mendapatkan keuntungan dengan cara seefisien mungkin. Oleh karena itu pemerintah dalam memberikan insentif perlu memperhatikan harapan Wajib Pajak atas insentif pajak yang diberikan, misalnya untuk investasi perusahaan minyak
sawit, lokasi yang diberikan insentif adalah daerah yang lahannya cocok untuk kelapa sawit namun tidak banyak merugikan lingkungan sekitarnya.
Ketiga, pemilihan sektor atau bidang usaha serta lokasi yang mendapatkan insentif perlu dipertimbangkan dengan seksama agar tidak merugikan masyarakat setempat dan industri dalam negeri yang sudah ada. Dengan kata lain harus dipertimbangkan faktor sosiologis (adat dan budaya setempat) agar tidak terjadi benturan sosial yang menghambat pembangunan nasional.
Tabel 2.2. Mapping penelitian sebelumnya
Peneliti Tahun Judul Penelitian Hasil/Saran
Karier 1994 Business Tax
Incentives and Investment
-Pemberian insentif pajak harus
mempertimbangkan lebih
dahulu bidang usahanya,
sehingga upaya mencapai
pertumbuhan investasi dapat tercapai Blomstrom & Kokko 2003 The Economics of Foreign Direct Investment Incentives
-Harmonisasi insentif usaha. -Pemberian insentif usaha harus
diprioritaskan kepada sektor usaha tertentu yang dapat memberikan pengaruh besar terhadap kemajuan pendidikan, pelatihan, dan pengembangan sumber daya manusia
Hartono & Setyowati
2009 Hubungan Insentif
Pajak dengan Iklim Investasi bagi PMA Sektor Industri Tekstil di Indonesia
-Kebijakan insentif pajak tidak berhubungan secara signifikan dengan iklim investasi perusahaan PMA di sektor industri tekstil.
-Akses pasar merupakan faktor yang lebih penting dalam menarik investor asing di sektor industri tekstil di Indonesia.
Sutrisno Ali 2012 Efektivitas -Insentif pajak penghasilan
bukanlah satu-satunya sarana menarik investasi.
Insentif PPh Terhadap
Kepuasan Wajib Pajak PMA
-Pemberian insentif harus
sesuai dengan ekspektasi terkait dengan core bussiness
tiap sektor usaha.
-Pemilihan sektor yang berhak diberikan insentif harus mempertimbangkan faktor sosiologis untuk menghindari benturan sosial.
Sumber : Penelitian terdahulu, data diolah