V. SIMPULAN DAN SARAN
3. Daftar Sampel Perusahaan
22. RMBA PT. Bentoel International Investama, Tbk.
23. SIDO PT. Industri Jamu dan Farmasi Sidomuncul, Tbk.
24. TCID PT. Mandom Indonesia, Tbk.
25. TSPC PT. Tempo Scan Pasific, Tbk.
26 SKLT PT. Sekar Laut, Tbk.
27. STTP PT. Siantar Top, Tbk
28. ULTJ PT. Ultrajaya Milk Industry and Trading Company, Tbk.
29. UNVR PT. Unilever Indonesia, Tbk.
30. WIIM PT. Wismilak Inti Makmur, Tbk.
Sumber: www.idx.co.id
3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel
Penelitian ini menggunakan variabel dependen dan independen. Berdasarkan kerangka teoritis pada bab sebelumya, variabel dependen meliputi nilai perusahaan dengan variabel independen yaitu profitabilitas, likuiditas, kebijakan hutang, investment opportunity set (IOS). Dalam penelitian ini, definisi operasional variabel-variabel yang akan digunakan yaitu :
3.4 Variabel Dependen (Y)
3.4.1 Nilai Perusahaan
Variabel dependen atau variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel independen. Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Nilai Perusahaan. Nilai perusahaan adalah nilai wajar perusahaan yang menggambarkan persepsi investor terhadap emiten yang bersangkutan (Hasibuan
& Ar, 2016).
Untuk mengukur nilai pasar perusahaan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan Tobinβs Q. Semakin besar nilai Tobinβs Q menunjukkan bahwa perusahaan memiliki prospek pertumbuhan yang baik. Rasio Tobinβs Q dinilai bisa memberikan informasi paling baik dalam mengetahui nilai perusahaan, karena
3.5.1 Profitabilitas (X1)
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba, dalam kaitannya dengan investasi (Horne dan Wachowicz, 2012). Pada penelitian ini, proksi yang digunakan untuk mengukur profitabilitas adalah ROE (Return On Equity). ROE adalah perbandingan antara laba bersih dengan total aktiva yang tertanam dalam perusahaan. Semakin tinggi nilai ROE maka semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dan membuat profitabilitas perusahaan tinggi. Semakin tinggi nilai ROE maka kinerja perusahaan semakin baik dan akan memberikan sinyal positif bagi investor.
Dalam penelitian ini nilai perusahaan diproksikan dengan menggunakan Return On Equity (ROE) dapat dihitung dengan rumus berikut (Fahmi, 2015), (Hery,2017), (Nurβaini, 2019):
π»ππππβ²π πΈ = (π΄π½πΊ + π«) π»π¨
37
3.5.2 Likuiditas
Likuiditas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rasio ini membandingkan kewajiban jangka pendek dengan sumber daya jangka pendek (aktiva lancar) yang tersedia untuk memenuhi kewajiban jangka pendek tersebut (Horne & Wachowicz, 2012). Pada penelitian ini, likuiditas diukur dengan menggunakan current ratio. Rasio ini memberikan gambaran tentang kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, dimana semakin besar persentase current ratio (CR), maka perusahaan memiliki tingkat likuidasi yang baik, sehingga akan memberikan persepsi positif terhadap kondisi perusahaan (Amijaya et al., 2016).
Dalam penelitian ini nilai perusahaan diproksikan dengan menggunakan Current Ratio (CR) dapat dihitung dengan rumus berikut (Horne & Wachowicz, 2012), (Fahmi, 2015), (Yanti dan Darmayanti, 2019):
3.5.3 Kebijakan Hutang (X3)
Kebijakan hutang merupakan kebijakan pendanaan perusahaan yang bersumber dari eksternal perusahaan. Kebijakan ini menggambarkan hutang jangka panjang yang dimiliki oleh perusahaan untuk membiayai operasional perusahaan. (Palupi dan Hendiarto, 2018). Proksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan rasio long term debt to equity ratio (LDER), karena LDER merupakan rasio yang tepat digunakan untuk menjukkan kemampuan perusahaan
πΉπΆπ¬ = π³πππ π©πππππ πΊππππππ π·ππππ
π»ππππ π¬ππππππ π πππ%
πͺπΉ = π¨πππππ π³πππππ
π―πππππ π³πππππ π πππ%
38
π±πππππ πππππ πππππ ππ π πππππ πππππππππ πππππ π΄π©π½π¬ =
π»ππππ π¬πππππ
membayar semua kewajiban jangka panjang. Proksi ini dapat dihitung dengan total hutang jangka panjang dibagi dengan modal sendiri.
Dalam penelitian ini nilai perusahaan diproksikan dengan menggunakan kebijakan hutang dapat dihitung dengan rumus berikut (Hasanah, 2019)
3.5.4 Investment Opportunity Set (IOS) (X4)
Menurut Gaver dan Gaver dalam Hasnawati (2005), IOS merupakan nilai perusahaan yang besarnya tergantung pada pengeluaran-pengeluaran yang ditetapkan manajemen di masa yang akan datang, dimana pada saat ini merupakan pilihan-pilihan investasi yang diharapkan akan menghasilkan return yang lebih besar. Dalam penelitian ini, investment opportunity set (IOS) diukur dengan menggunakan rasio market to book value of equity (MBVE). Proksi ini menggambarkan pemodalan suatu perusahaan. Proksi MBVE digunakan dalam penelitian ini dikarenakan proksi ini dapat mencerminkan besarnya return dari aktiva yang ada dan investasi yang diharapkan di masa yang akan datang akan melebihi return dari ekuitas yang diinginkan. Rasio ini dapat diperoleh dengan mengalikan jumlah lembar saham beredar dengan harga penutupan saham terhadap total ekuitas atau dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut (Nurβaini, 2019):
TABEL 4. RINGKASAN DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL
Variabel Definisi Pengukuran
Nilai Perusahaan (Y)
Nilai perusahaan adalah nilai wajar perusahaan yang menggambarkan persepsi investor terhadap emiten yang
Nilai Perusahaan diukur dengan menggunakan Tobinβs Q
π³πππ ππππ π«πππ π³π«π¬πΉ =
π»ππππ π¬ππππππ
39
(Independen) Lanjutan Tabel 4
(Variabel Dependen)
bersangkutan (Hasibuan,
2016). π»ππππβ²π πΈ = (π΄π½πΊ + π«)
π»π¨
Profitabilitas (X1) (Independen)
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba, dalam kaitannya dengan investasi (Horne dan Wachowicz, 2012).
Profitabilitas dapat diukur dengan meng-gunakan ROE
π³πππ π©πππππ πΊππππππ π·ππππ
πΉπΆπ¬ = π πππ%
π»ππππ π¬ππππππ
Likuiditas (X3) (Independen)
Likuiditas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajiban jangka pendeknya
(Horne & Wachowicz, 2012).
Likuiditas dapat diukur dengan menggunakan current ratio
π¨πππππ π³πππππ
πͺπΉ = π πππ%
π―πππππ π³πππππ
Kebijakan Hutang (X3) (Independen)
Kebijakan hutang merupakan kebijakan pendanaan perusahaan yang bersumber dari eksternal perusahaan (Palupi dan Hendiarto, 2018).
Kebijakan hutang dapat diukur dengan menggunakan Long term Debt to Equity Ratio (LDER)
π³π«π¬πΉ = π³πππ ππππ π«πππ π»ππππ π¬ππππππ
Investment Opportunity Set
(IOS) (X4) (Independen)
Investment Opporunity Set (IOS) merupakan nilai perusahaan yang besarnya tergantung pada pengeluaran- pengeluaran yang ditetapkan manajemen di masa yang akan datang, dimana pada saat ini merupakan pilihan-pilihan investasi yang diharapkan akan menghasilkan return yang lebih besar (Gaver dan Gaver dalam Hasnawati, 2005)
Investment Opportunity Set (IOS) dapat diukur menggunakan MBVE
π±πππππ πππππ πππππ ππ π΄π©π½π¬ = π πππππ πππππππππ πππππ
π»ππππ π¬πππππ
40
41
Standar deviasi digunakan untuk menilai disperse rata-rata dari sampel. Maksimum dan minimun digunakan untuk melihat nilai terendah dan tertinggi dari sampel (Ghozali, 2016).
Ukuran-ukuran statistik deskriptif dalam pengolahan data bertujuan untuk mendapatkan gambaran ringkas dari sekumpulan data, sehingga kita dapat menyimpulkan keadaan data secara mudah dan cepat (Ghozali, 2016).
3.8.2 Uji Asumsi Klasik
3.8.2.1 Uji Normalitas
Uji normalitas dalam penelitian ini digunakan untuk menguji apakah model regresi variabel independen dan variabel dependen keduanya memiliki distribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis grafik dan analisis data statistik dengan menggunakan Kolmogorov- Smirnov Z (1-Sample K-S). Dasar pengambilan keputusan untuk uji statistik Kolmogorov-Smirnov Z (1- Sample K- S) adalah (Ghozali, 2016):
1. Jika nilai Asymp.Sig. (2-tailed) kurang dari 0,05 atau 5% berarti data residual terdistribusi tidak normal.
2. Jika nilai Asymp.Sig. (2-tailed) lebih dari 0,05 atau 5% berarti data residual terdistribusi normal.
Dengan menggunakan sampel sebanyak 30 observasi, didapatkan hasil uji normalitas baik menggunakan analisis grafik maupun uji statistik Kolmogorov- Smirnov Z (1-Sample K-S) yang menunjukkan hasil data terdistribusi normal. Pola titik-titik yang menyebar disekitar diagonal mengikuti arah garis diagonal dan hasil Asymp.Sig. (2-tailed) lebih dari 0,05.
3.8.2.2 Uji Heterokedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain, dalam Ghozali (2016). Jika varians dari residual suatu pengamatan ke pangamatan
42
lain tetap, maka disebut homoskedastisitas. Namun jika berbeda, maka disebut heteroskedatisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Cara untuk mendeteksi heteroskedastisitas dengan cara melihat grafik plot, yang memberikan gambaran pola titik menyebar yang menandakan tidak ada heteroskedastisitas.
Dasar analisis:
1. Jika da pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
3.8.2.3 Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen) (Ghozali, 2016). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritas dalam model regresi adalah sebagai berikut:
1. Jika nilai tolerance < 0,10 dan VIF > 10, maka terjadi multikolonieritas.
2. Jika nilai tolerance > 0,10 dan VIF < 10, tidak terjadi multikolonieritas.
3.8.2.4 Uji Autokorelasi
Uji autokerelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Autokorelasi muncul karena obsevasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Menurut Ghozali (2016), ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendetekasi ada atau tidaknya autokeralsi, yaitu dengan melakukan pengujian Durbin β Watson (DW test).
43
Uji Durbin Watson hanya digunakan untuk autokorelasi tingkat satu (first order autocorrelation) dan mesnyaratkan adanya intercept (konstanta) dalam model regresi dan tidak ada variabel lagi di antara variabel independen. Hipotesis yang akan diuji adalah:
H0 : tidak ada autokorelasi (r = 0) HA : ada autokorelasi (r β 0) Jika:
d < dL ; maka terjadi autokorelasi positif d > 4 - dL ; maka terjadi autokorelasi negatif dU < d < 4 - dU ; maka tidak terjadi autokorelasi
dL β€ d β€ dU atau 4 > dU β€ d β€ 4 - dL ; maka pengujian tidak menyakinkan
3.8.3 Analisis Regresi Linear Berganda
Pada penelitian ini, pengujian dilakukan dengan analisis regresi linear berganda yaitu suatu metode statistik yang umum digunakan untuk meneliti hubungan antara sebuah variabel terikat dengan beberapa variabel bebas. Model yang digunakan dalam analisis ini terdiri dari persamaan regresi yang akan digunakan untuk menguji hubungan antara variabel-variabel bebas dan variabel terikat. Persamaan tersebut adalah sebagai berikut:
TOBINβS Q = Ξ± + Ξ²1PROF + Ξ²2LIQ - Ξ²3DER + Ξ²4IOS+ e Keterangan:
TOBINβS Q = Nilai perusahaan PROF = Rasio profitabilitas LIQ = Rasio likuiditas DER = Rasio hutang
IOS = Rasio nilai buku ekuitas Ξ± = Koefisien regresi konstanta
Ξ²1,2,3,4,5,6 = Koefisien variabel masing-masing proksi
e = Error
Dalam uji hipotesis ini akan menguji hipotesis dari kerangka teoritis penelitian.
Pengujian Ha1, Ha2, Ha3, Ha4, Ha5, dan Ha6 menggunakan analisis regresi linear berganda. Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dapat diukur dari nilai Goodness of fit. Uji Goodness of Fit atau uji kelayakan model digunakan untuk mengukur ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual.
Secara statistik uji Goodness of Fit dapat dilakukan melalui pengukuran nilai koefisien determinasi, nilai statistik F dan nilai statistik t. Menurut Ghozali (2016) untuk menilai kelayakan model regresi. Perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik apabila nilai uji statistiknya berada dalam daerah kritis (daerah dimana H0 ditolak). Sebaliknya disebut tidak signifikan bila nilai uji statistiknya berada dalam daerah dimana H 0 diterima (Ghozali, 2016).
1. Uji Signifikan Simultan (Uji Statistik F)
Uji Statistik F menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen (Ghozali, 2016). Dalam menguji hipotesis ini digunakan kriteria pengambilan keputusan yaitu jika nilai F menunjukkan signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka H0 ditolak, artinya semua variabel independen serentak dan siginifikan memengaruhi variabel dependen (Ghozali, 2016). Sehingga model regresi dapat digunakan untuk memprediksi variabel dependen.
Kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut:
a. Apabila F hitung < F tabel dan tingkat signifikansi (Ξ±) > 0,05 maka H0 yang menyatakan bahwa semua variabel independen tidak berpengaruh secara simultan terhadap variabel dependen, ditolak. Ini berarti secara simultan semua variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
b. Apabila F hitung > F tabel dan tingkat signifikan (Ξ±) < 0,05 maka H0 diterima, yang berarti secara simultan semua variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
45
2. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik T)
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variable penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2016). Apabila nilai signifikansi < 0,05 atau 5% dan membandingkan nilai t hitung dengan t tabel, apabila nilai t hitung > nilai t tabel maka suatu variabel independen secara individual mempengaruhi variabel dependen (Ghozali, 2016).
Kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
a. Apabila t hitung > t tabel dan tingkat signifikansi (Ξ±) > 0,05 maka H0 yang menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen ditolak. Ini berarti secara parsial variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
b. Apabila t hitung < t tabel dan tingkat signifikansi (Ξ±) < 0,05 maka H0 diterima, yang berarti secara parsial variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
3. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien Determinasi (R2) digunakan utuk mengukur kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel independen , dengan nilai koefisiensi determinasi antara nol dan satu (Ghozali, 2013). Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabelβvariabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2016). Nilai adjusted R2 dapat digunakan pula untuk mengevaluasi mana model regresi terbaik, karena nilai adjusted R2 dapat naik dan turun apabila satu variabel independen ditambahkan dalam model (Ghozali, 2016).
Berdasarkan hasil dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka simpulan yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
1. Profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini dibuktikan dengan nilai t profitabilitas memiliki hubungan bernilai 2,893 dan nilai signifikansi sebesar 0,004. Nilai signifikansi lebih kecil dari toleransi kesalahan (0,004 < 0,05). Oleh karena itu hipotesis pertama yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan terdukung.
2. Likuiditas tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hal ini dibuktikan dengan nilai t likuiditas bernilai 1,780 dan nilai signifikansi sebesar 0, 77. Nilai signifikansi lebih besar dari toleransi kesalahan (0,77 > 0,05). Oleh karena itu hipotesis kedua yang menyatakan bahwa likuiditas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan tidak terdukung.
3. Kebijakan Hutang berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini dibuktikan dengan nilai t LDER bernilai -3,639 dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Nilai signifikansi lebih kecil dari toleransi kesalahan (0,000 < 0,05). Oleh karena itu hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa kebijakan hutang berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan terdukung.
4. Investment opportunity set (IOS) berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini dibuktikan dengan nilai t IOS bernilai 46,906 dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Nilai signifikansi lebih kecil dari toleransi kesalahan (0,000 < 0,05). Oleh karena itu hipotesis keempat yang menyatakan bahwa investment opportunity set berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan terdukung.
65
1.2 Saran
1. Bagi Perusahaan
Perusahaan sebaiknya dapat mempertimbangkan Profitabilitas, investment opportunity set (IOS) dan kebijakan hutang dalam upaya peningkatan nilai perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian variabel profitabilitas memiliki pengaruh yang positif terhadap nilai perusahaan, karena semakin baik tingkat keuntungan suatu perusahaan berarti prospek perusahaan di masa depan dinilai semakin baik juga, artinya semakin baik pula nilai perusahaan dimata investor.
IOS memiliki pengaruh yang positif terhadap nilai perusahaan, karena semakin besar kesempatan investasi yang dimiliki, semakin besar pula peluang pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang. Selain itu, perusahaan juga harus memperhatikan kebijakan hutang, karena penggunaan hutang yang berlebihan akan memperbesar risiko kebangkrutan perusahaan dan akan berpengaruh pada turunnya nilai perusahaan.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menyempurnakan penelitian ini.
Peneliti selanjutnya diharapkan untuk memerhatikan indikator-indikator keuangan lainnya yang belum terdapat pada penelitian ini. Penelitian ini juga hanya membahas perusahaan-perusahaan manufaktur sektor barang konsumsi untuk peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian di sektor lain yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
3. Bagi Investor
Bagi investor yang akan melakukan investasi pada perusahaan manufaktur sektor barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2016- 2020 dapat melakukan seleksi investasi terlebih dengan mempertimbangkan profitabilitas, kebijakan hutang, dan investment opportunity set. Hal ini dikarenakan profitabilitas dan investment opportunity set (IOS) merupakan faktor yang dapat meningkatkan nilai perusahaan, ketika profitabilitas dan nilai kesempatan investasi semakin meningkat maka akan meningkatkan nilai
66
perusahaan. Sedangkan variable kebijakan hutang merupakan faktor yang dapat menurunkan nilai perusahaan, ketika rasio hutang semakin meningkat maka akan menurunkan nilai perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
Amijaya, T., Pangestuti, I. R. D., & Mawardi, W. (2016). Analisis Pengaruh Struktur Modal, Profitabilitas, Likuiditas, Kebijakan Dividen, Sales Growth Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Listed Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2012-2014). Journal of Management, 1β22.
Argamaya dan Alifa Agustina Putri. 2014. "Pengaruh Profitabilitas, Leverage, Collateralizeble, dan Investment Opportunity Set Terhadap Kebijakan Dividen Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2013."Jurnal Media Riset Akuntansi.
Awulle, I. D., Murni, S., & Rondonuwu, C. N. (2018). Pengaruh Profitabilitas Likuiditas Solvabilitas Dan Kepemilikan Institusional Terhadap Nilai Perusahaan Food And Beverage Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2016. Jurnal EMBA. Universitas Sam Ratulangi Manado Bagus, I. G., Pratama, A., & Wiksuana, I. G. B. (2016). Pengaruh Ukuran
Perusahaan Dan Leverage Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Profitabilitas Sebagai Variabel Mediasi. E-Jurnal Manajemen, 5(2), 1338β
1367.
Brigham, E. ., & Houston, J. . (2013). Dasar-dasar Manajemen Keuangan (Essentials of Financial Management) (11th ed.). Salemba Empat.
Cheng, M., Township, M., Tzeng, Z., & Township, M. (2014). Effect of Leverage on Firm Market Value and How Contextual Variables Influence this Relationship. Journal of Management, 17(1), 1β63.
https://doi.org/10.1142/S0219091514500040
Darmanto, T., & Ardiansari, A. (2017). Peran Kebijakan Hutang Memediasi Business Risk Dan Firm Size Terhadap Nilai Perusahaan. Management Analysis Journal, 6(4).
Diani, A. F. (2017). Pengaruh Kebijakan Dividen, Kebijakan Hutang, Dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Kasus Pada Perusahaan Consumer Goods Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2012-2015). Jurnal Riset Manajemen, 6(1), 124β136.
Fahmi, Irham. 2015. Analisis Laporan Keuangan. Bandung : Alfabeta
Ghozali, I. (2016). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS.
Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Hanafi, M. ., & Halim, A. (2016). Analisis Laporan Keuangan (Edisi Kelima ). Unit Penerbit dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen.
Harmono. (2017). ManajemenKeuangan Berbasis Balanced Scorecard Pendekatan Teori, Kasus, dan Riset Bisnis. Bumi Aksara.
Hasanah, Huswatun. (2019). Pengaruh Kebijakan Dividen, Kebijakan Hutang, dan Struktur Modal terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Ilmu Riset Manajemen.
STIESIA Surabaya.
Hasibuan, V., & Ar, M. D. (2016). Pengaruh Leverage Dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Pada Perusahaan Property Dan Real Estate Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2012-2015). Jurnal Administrasi Bisnis, 39(1), 139β147.
Hasnawati, S. (2005). Dampak Set Peluang Investasi Terhadap Nilai Perusahaan Publik Di Bursa Efek Jakarta. Journal of Management, 117β126.
Hermuningsih, S. (2012). Pengaruh Profitabilitas, Size Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Sruktur Modal Sebagai Variabel Intervening. Jurnal Siasat Bisnis.
Hery. (2017). Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT Grasindo.
Horne, J. C. Van, & Wachowicz, J. M. (2012). Prinsip-prinsip Manajemen Keuangan (Edisi 13). Jakarta: Salemba Empat.
Husnan, S. (2014). Manajemen Keuangan Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Panjang) (4th ed.). Yogyakarta:BPIE.
Husnan, Suad dan Enny Pudjiastuti, (2015), Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Edisi Ketujuh. Yogyakarta: UPP STIM YKPN
Jogiyanto, H. (2013). Teori dan Analisis Investasi. Edisi Kedelapan. Yogyakarta:
BPFE.
Kolibu, N. N., Saerang, I. S., Maramis, J. B., Ekonomi, F., Bisnis, D., Manajemen, J., Sam, U., & Manado, R. (2020). Analisis Investment Opportunity Set, Corporate Governance, Risiko Bisnis, Dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan Consumer Goods Dengan High Leverage Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Manajemen, 8(1), 202β211.
Lubis, I. L., Bonar, M. S., & Sasongko, H. (2017). Pengaruh profitabilitas, sruktur modal, dan likuiditas terhadap nilai perusahaan. Jurnal Manajemen, 3(3), 458β465.
Martha, L., N.Ukhti, S., Magdalena, M., Susanti, F., & Syafitri, Y. (2018).
Profitabilitas Dan Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Benefita, 3(2), 227β238.
Marthadiani, N. W. ., & Astika, I. B. P. (2019). Pengaruh Rentabilitas, Leverage, Dan Saham Bonus Pada Nilai Perusahaan Di Bursa Efek Indonesia. E- Jurnal Akuntansi, 27, 1813β1838.
Munawir, S. (2004). Analisa Laporan Keuangan. Liberty.
Myers, C. (1977). Determinants Of Corporate Borrowing. Journal of Financial Economics, 5, 147β175.
Myers, S.C. (1984). The Capital Structure Puzzle. Journal of Finance.
Nisa, R. C. (2016). Pengaruh Keputusan Investasi, Keputusan Pendanaan, Dan Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Universitas Negeri Yogyakarta.
Novarianto, A., & Dwimulyani, S. (2019). Pengaruh Penghindaran Pajak, Leverage, Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Transparansi Perusahaan Sebagai Variabel Moderasi. Prosiding Seminar Nasional Pakar.
Nurβaini Intan. (2017). Pengaruh Struktur Modal, Profitabilitas, Ukuran Perusahaan Dan Invesment Opportunity Set Terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Ilmu Dan Riset Manajemen.
Palupi, R. S., & Hendiarto, S. (2018). Kebijakan Hutang , Profitabilitas dan Kebijakan Dividen Pada Nilai Perusahaan Properti & Real Estate. Jurnal Ecodemica, 2(2).
S. Herry, C. (2013). Pengaruh Good Corporate Governance ( Studi Kasus Pada Perusahaan Properti Dan Real Estate Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia ). UG Journal, 7(07).
Sarafina, S., & Saifi, M. (2016). Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Dan Efeknya Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Pada Badan Usaha Milik Negara Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2014). Jurnal Administrasi Bisnis S1 Universitas Brawijaya.
Sari, P. (2020). Pengaruh Investment Opportunity Set (IOS), Dividend Payout Ratio (DPR), dan Debt Policy Terhadap Firm Value Pada Perusahaan Sektor Property, Real Estate, dan Building Construction Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2015-2018. Journal of Management.
Septariani, D. (2017). Pengaruh Kebijakan Dividen Dan Kebijakan Hutang Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empiris Pada Perusahaan Lq45 Di Bei Periode 2012-2015). Journal of Applied Business and Economics, 3(3), 183β195.
Sudiani, N. K. A., & Darmayanti, N. P. A. (2016). Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas, Pertumbuhan, Dan Investment Opportunity Set Terhadap Nilai Perusahaan. E-Jurnal Manajemen, 5(7), 4545β4547.
Sukoco, H. (2013). Analisis Pengaruh Debt To Equity Ratio , Profitabilitas , Firm Size , Dan Likuiditas Terhadap Nilai ( Studi Pada Industri Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2009-2011 ). Jurnal Bisnis, 22(2).
Sumarni, Indriati, Meina Wulansari, dan Astrid. (2014). Pengaruh Investment Opportunity Set Terhadap Kebijakan Dividen pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI periode 2010-2011. Jurnal Manajemen