II. TINJAUAN PUSTAKA
2.7. Penelitian Terdahulu
Wang et. al. (2010) mengkaji pertumbuhan dan kesenjangan regional dari pasar susu China sejak tahun 1980, meneliti permintaan konsumen perkotaan untuk tiga produk susu utama (susu cair, yogurt, dan susu bubuk), menganalisis pola impor produk susu utama China sejak tahun 1995, dan mendiskusikan potensi peran China di pasar susu dunia dan implikasinya untuk perdagangan. Penelitian ini menggunakan data time-series dan cross-sectional untuk menganalisis trend, perbedaan produksi susu China dan konsumsi produk susu melalui analisa grafis dan regresi. Sedangkan untuk menganalisis kecendrungan dan pola produk susu China impor menggunakan data tahun 1995-2008. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa pasar susu China telah berkembang pesat dalam dua dekade terakhir tetapi ada kesenjangan yang signifikan antar daerah dan kelompok pendapatan. Hasil estimasi elastisitas penghasilan menunjukkan bahwa pendapatan per kapita terus meningkat, permintaan produk susu, terutama yoghurt dan susu cair, diharapkan tumbuh pada tingkat yang signifikan. Kecenderungan impor dan analisis pola menunjukkan bahwa impor susu China kemungkinan akan terus tumbuh dan memberikan kesempatan untuk eksportir produk susu besar seperti Amerika Serikat, Selandia Baru dan Australia.
Du Toit et. al. (2010) mengkaji faktor yang mempengaruhi daya saing jangka panjang dari 11 produsen susu komersial dari Timur Griqualand, Afrika Selatan menggunakan panel data periode 1990 – 2006. Hasil dari regresi menunjukkan bahwa jumlah sapi, skala produksi, produksi tahunan per ekor, teknologi dan perubahan kebijakan dari waktu kewaktu, dan rasio pendapatan terhadap perdagangan total susu mempengaruhi daya saing jangka panjang dari produsen susu. Untuk meningkatkan daya saing di pasar susu, produsen harus mempertimbangkan untuk meningkatkan jumlah sapi, produsen harus mempertimbangkan pemanfaatan padang rumput dan hijauan berbasis sistem
produksi untuk menurunkan biaya pakan dan memilih sapi dengan seliksi yang unggul.
Buxton (1985) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi susu di Amerika Serikat selama 4 tahun pada 48 negara bagian. Penelitian ini menguji elastisitas supply susu (yaitu, persentase perubahan jumlah susu yang dihasilkan karena perubahan faktor utama produksi susu). Faktor-faktor utama yang mempengaruhi produksi susu adalah: (1) Harga susu, peningkatan 1 persen harga susu yang diterima peternak, meningkatkan produksi susu nasional sekitar setengah persen selama 4 tahun. Dampak terbesar terjadi pada tahun pertama (0.175) dan tahun kedua (0.182) setelah harga berubah. Dampak pada tahun perubahan harga relatif kecil (0.036). (2) Biaya input. Dimana biaya input diwakili oleh harga pakan (jerami alfalfa dan jagung). Peningkatan 1 persen harga jerami alfalfa per ton menurunkan produksi susu nasional sebesar 0.164 persen selama periode 4 tahun, dan peningkatan harga jagung per bushel (gantang) menurunkan produksi susu sebesar 0.075 persen. Harga jerami alfalfa berpengaruh signifikan di 28 negara bagian. Harga jagung berpengaruh signifikan terhadap supply susu di 14 negara bagian, terutama di bagian utara. (3) Laba dalam suatu perusahaan pertanian alternatif. Faktor ini diukur oleh harga daging sapi. Penurunan 1 persen pada perubahan harga daging sapi meningkatkan produksi susu nasional sebesar 0.056 persen selama periode 4 tahun. (4) Kondisi ekonomi umum. Kondisi ini diukur dengan tingkat pengangguran. Pengangguran mempengaruhi produksi susu nasional sebesar 0.085 persen. Dampak dari tingkat penganguran pada produksi susu signifikan pada 16 negara bagian.
Amalia (2008) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing dan impor susu Indonesia. Metode penelitian yang digunakan terdiri atas: pertama, metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan Porter’s diamond untuk menganalisis kondisi faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing susu domestik ditengah serbuan impor susu pasca penghapusan kebijakan ratio impor. Kedua, metode Engle-Grenger Cointegration dan Error Correction Model (ECM), untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi impor susu baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek.
Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi daya saing susu domestik melalui pendekatan Porter’s Diamond menghasilkan implikasi penelitian bahwa kelemahan mendasar daya saing susu domestik terletak pada kondisi faktor. Skala usaha yang tidak ekonomis dengan bentuk usaha perseorangan dan rata-rata kepemilikan sapi perah sebanyak tiga sampai empat ekor, komposisi ketenagakerjaan yang didominasi pekerja harian dengan tingkat pendidikan rendah, dan teknologi yang bersifat konvensional berkontribusi terhadap rendahnya kapasitas produksi susu domestik. Sebaliknya, faktor yang diduga berkontribusi besar terhadap kondisi daya saing adalah kondisi permintaan. Permintaan akan susu domestik sebagai permintaan turunan atas produk susu olahan distimulasi oleh peningkatan pendapatan perkapita masyarakat, peningkatan populasi dari urbanisasi, peningkatan awareness akan manfaat susu, dan peningkatan persaingan antar IPS untuk menghasilkan produk susu olahan yang terdiferensiasi sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen.
Industri pendukung dan terkait melibatkan peranan koperasi primer peternak dihadapkan pada permasalahan mismanajemen dan pemborosan akibat diversifikasi usaha yang tidak relevan dan menjadi biaya yang besar bagi koperasi. Kondisi strategi, struktur, dan persaingan antar susu domestik dan impor belum kondusif untuk meningkatkan daya saing susu domestik. Hal ini dikarenakan harga susu impor lebih kompetitif dengan spesifikasi kualitas yang lebih unggul. Ketergantungan pemasaran susu kepada IPS membuat bargaining position GKSI sebagai representasi peternak sapi perah menjadi lemah dalam menetapkan harga susu domestik.
Intervensi pemerintah melalui penghapusan kebijakan rasio impor memberikan pengaruh yang beragam bagi setiap determinan. Implikaasi yang menarik dalam penelitian ini adalah peningkatan persaingan menyebabkan keluarnya usaha yang tidak mampu bersaing meningkatkan efisiensi agregat usaha peternakan sapi perah. Determinan kesempatan dengan indikator pergerakan nilai tukar riil rupiah mempengaruhi daya saing susu domestik.
Impor susu Indonesia dari sisi permintaan (impor demand) dalam jangka panjang dipengaruhi secara signifikan oleh harga riil susu impor, harga riil susu
domestik, nilai tukar riil rupiah, dan pendapatan perkapita. Produksi susu domestik tidak mempengaruhi impor susu pada jangka panjang. Hal ini diduga karena terdapat variabel antara yang tidak mampu dijelaskan oleh model persamaan yang dibangun. Impor susu dalam jangka pendek dipengaruhi secara signifikan oleh produksi susu domestik, harga riil susu impor lag pertama, pendapatan perkapita saat ini dan lag ketiga, nilai tukar riil rupiah pada lag kedua serta dummy penghapusan kebijakan rasio impor. Penghapusan kebijakan rasio diterapkan pada waktu yang relatif bersamaan dengan krisis ekonomi 1997, oleh karena itu efek netto peningkatan impor susu yang terjadi relatif kecil dalam jangka pendek. Harga riil susu domestik tidak berpengaruh terhadap impor susu karena bargaining position GKSI masih lemah dalam negosiasi penetapan harga dengan IPS.
Feryanto (2010) menganalisis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas susu sapi lokal di Jawa Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) menganalisis tingkat efisiensi finansial dan ekonomi usaha ternak yang memproduksi susu sapi segar di daerah sentra sapi perah Jawa Barat, (2) menganalisis dam mengukur keunggulan komparatif dan kompetitif komoditas susu sapi di daerah sentra sapi perah Jawa Barat, (3) Menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing peternakan sapi perah di sentra sapi perah Jawa Barat, dan (4) menganalisis sensitivitas perubahan harga output dan input terhadap daya saing peternakan sapi perah di daerah sentra sapi perah Jawa Barat. Harga bayangan susu impor didasarkan pada harga satu kilogram full Cream Milk Powder (FCMP) setara dengan delapan susu segar dalam negeri berdasarkan harga bordernya (cif) di pelabuhan impor (Tanjung Priuk). Sedangkan, harga susu privat disesuaikan dengan harga aktual yang riil diterima peternak. Berdasarkan analisis PAM secara keseluruhan, peternak di ketiga lokasi penelitian (Kecamatan Lembang, Kecamatan Pengalengan dan Kecamatan Cikajang) memiliki keuntungan privat dan ekonomi, hal ini ditunjukkan keuntungan privat dan ekonomi yang lebih besar dari nol untuk ketiga lokasi. Berdasarkan nilai private cost ratio (PCR) dan Domestic Resource Cost Ratio
(DRC) yang diperoleh, ketiga lokasi memiliki keunggulan kompetitif (PCR<1), yang menunjukkan masing-masing peternak hanya mengeluarkan tambahan
kurang dari satu untuk dapat bersaing dengan produk sejenis. Nilai indikator keunggulan komparatif dapat dilihat dari nilai DRC<1. Indikator DRC ini menunjukkan bahwa produk susu sapi segar akan lebih menguntungkan diproduksi di sentra produksi susu Provinsi Jawa Barat daripada harus mengimpornya.
Analisis dampak kebijakan dalam tabel PAM ditunjukkan oleh hasil pengusahaan susu sapi perah di ketiga lokasi penelitian yakni nilai trasfer output (OT) bernilai negatif atau mengalami kerugian. Hal ini menunjukkan harga domestik susu lebih rendah dari harga internasionalnya, yang mengidikasikan adanya desintensif terhadap output susu. Hasil trasfer input (IT) usahaternak sapi perah menunjukkan nilai yang positif, dan nilai koefisien proteksi input nominal (NPCI) untuk ketiga lokasi yang lebih besar dari satu, hal ini mengkondisikan bahwa peternak yang menggunakan input tersebut mengalami kerugian, karena menanggung biaya input yang lebih mahal. Hasil analisis dampak kebijakan pemerintah terhadap input-output menunjukkan nilai trasfer bersih (TB), yang negatif untuk ketiga lokasi penelitian yang berbeda. Indikator ini memberikan informasi kebijakan yang diterapkan pemerintah memberikan kerugian bagi pengusahaan susu sapi perah. Sedangkan dilihat dari nilai koefisien proteksi efektif (EPC) sebesar 0,80 (Kecamatan Lembang dan Kecamatan Pengalengan), dan sebesar 0,74 (Kecamatan Cikajang) menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah tidak berdampak positif dan tidak memberikan insentif kepada peternak sapi perah, karena nilai tambah keuntungan peternak menjadi lebih rendah dari yang seharusnya.
Berdasarkan analisis sensitivitas yang dilakukan, asumsi sekenario yang digunakan yakni perubahan harga susu akibat penurunan tarif impor dan kenaikan harga pakan ternak secara umum pengusahaan susu sapi perah ternyata akan menurunkan daya saing pengusahaan sapi perah di provinsi Jawa Barat. Sehingga untuk tetap memberikan keuntungan dan insentif bagi peternak, sebaiknya pemerintah mengambil kebijakan untuk menetapkan tarif impor susu lebih besar dari lima persen (kondisi sekarang), yakni 15 persen.