BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan Bakri tahun 2015 dari Universitas Mulawarwan dengan judul penelitian Analisis Kinerja Pegawai Sekretariat DPRD Kabupaten Kutai Timur. Penelitian ini dilakukan berlokasi di Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kutai Timur. Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk menganalisis kinerja pegawai di Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kutai Timur. Fokus penelitian yang diangkat mengenai Produktivitas, Responsibilitas, Akuntabilitas dan Disiplin pegawai dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan yang terdiri dari observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi, sedangkan informan diambil secara purposive sampling. Jenis
penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan akan di analisis secara kualitatif.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa Kinerja Pegawai di Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kutai Timur sudah dijalankan berdasarkan konsep-konsep kinerja yang baik yaitu produktivitas, responsibilitas, akuntabilitas dan disiplin yang sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Penerapan prinsip-prinsip kinerja pegawai yang baik telah benar-benar terlaksana di Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kutai Timur. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa indikator, yaitu:
1. Kondisi produktivitas pegawai di Sekretariat DPRD Kutim di tiap-tiap bidang kerjanya sudah berjalan berdasarkan standar yang telah ditentukan di Rencana Strategi (Renstra) Sekretariat DPRD Kutim. Pelaksanaan program atau kegiatan dilingkup Sekretariat DPRD Kutim tahun anggaran 2014 sebagian besar telah sesuai dengan apa yang direncanakan dalam Rencana Strategis tahun 2011-2015 dengan tingkat pencapaian 9551 %.
Hal tersebut terlihat dari25 kegiatan di tahun anggaran 2014 yang telah terlaksana. Pemberian motivasi, pengawasan, bimbingan diklat, workshop, Bimtek dan kursus pun telah dilakukan untuk menunjang produktivitas pegawai agar kedepannya dapat lebih baik lagi.
2. Konsep responsibilitas pegawai sudah berjalan sesuai dengan rencana organisasi ataupun visi misi organisasi sebagai unsur pelayanan terhadap DPRD yang tercantum dalam Standar Operasional Prosedur atau SOP di Sekretariat DPRD Kutim. SOP Sekretariat DPRD Kutim menggambarkan setiap jenis keluaran pekerjaan secara komprehensif, menjamin adanya kepastian alur pekerjaan dan hubungan kerja antara unit kerja dan sesama
pegawai, dan hubungan antara pegawai dengan Alat Kelengkapan Dewan (AKD) atau para Anggota Dewan serta hubungan dengan masyarakat.
Selain itu SOP juga bermanfaat sebagai standarisasi cara yang dilakukan pegawai Sekretariat DPRD Kutim dalam menyelesaikan pekerjaan khusus serta mengurangi kesalahan dan kelalaian.
3. Penerapan prinsip akuntabilitas di lingkungan pegawai Sekretariat DPRD Kutim sudah berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntabilitas yang baik, yaitu pegawai mampu mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas dan wewenang yang telah diberikan sebelumnya baik yang berkaitan dengan Analisis Kinerja Pegawai di Sekretariat DPRD Kab. Kutai Timur (Bakri) anggaran maupun tidak.
Selanjutnya hal yang sama juga dilakukan oleh A.Tenriarni Rahman dkk, penelitian ini berjudul Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja (studi kasus pada Sekretariat DPRD Kabupaten Polewali Mandar). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai pada sekretariat DPRD kabupaten Polewali Mandar. Data penelitian ini diperoleh dari kuesioner, observasi, serta wawancara lansung dengan pihak yang terkait dengan Sekretariat DPRD Kabupaten Polewali Mandar. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa variabel pelatihan berpengaruh terhadap kinerja pegawai pada tingkat signifikan lebih kecil dari 5 persen. Begitupun dengan variabel kompensasi berpengaruh terhadap kinerja pegawai pada tingkat signifikan lebih kecil dari 5 persen juga. Sehingga pelatihan yang dilakukan dan didukung oleh kompensasi yang memuaskan akan mampu meningkatkan kinerja pegawai dalam lingkup sekretariat DPRD Kabupaten Polewali Mandar.
Suwondo Anwar WS. Juga melakukan penelitian terkait hal yang sama yakni dengan judul Analisis Kinerja DPRD Kabupaten Tulang Bawang. Dalam konteks DPRD Kabupaten Tulang Bawang maka kinerja merupakanpelaksanaan peran Fungsi DPR baik fungsi legislasi, anggaran dan pengawasanpada pelaksanakan otonomi daerah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui, mendeskripsikan dan menganalisis kinerja DPRD Kabupaten Tulang Bawangserta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja tersebut, baik faktor pendukung dan faktor penghambat. Beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja dimaksud yaitu: indikator, Produksivitas, Responsivitas dan Akuntabilitas.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan anailisis deskriptif.
Adapun pengumpulan data-data dilakukan melalui observasi dilapangan, wawancara dan pendokumentasian. Berdasarkan penelitian yang ditunjang oleh data-data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan pengunaan indikator-indikator sebagai mana tersebut diatas maka; didapatkan kesimpulan bahwa: kinerja DPRD Kabupaten Tulang Bawang dalam melaksanakan fungsi legislasi dan pengawasan masih terbilang lemah, sedangkan pelaksanaan fungsi anggaran telah berjalan baik. Namun secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa kinerja DPRD Kabupaten Tulang Bawang dalam melaksanakan fungsinya belum berjalan secara optimal. Dalam upaya meningkatkan pelaksanaan Fungsi DPRD penulis memberi saran: Pada fungsi legislasi; Agar anggota DPRD pro-aktif turun kelapangan untuk menyerap dan memperjuangkan aspirasi mayarakat yang dapat diakomodir dalam perda usul inisiatif DPRD.
Pada fungsi anggaran; agar DPRD dapat memberi motivasi dan inovasi kepada pihak eksekutif untuk meningkatkan sumber Pendapatan Asli Daerah
(PAD) dan mempertahankan belanja tidak langsung selalu lebih kecil nilainya dari belanja langsung, sehingga terwujud APBD pro-Rakyat. Sedangkan pada fungsi pengawasan; DPRD tidak hanya melakukan pengawasan secara politis, tetapi konkrit dan realistis dapat melaporkan penemuan pelanggaran hukum Pidana/perdata atas pelaksanaan pemerintahan kepada penegak hukum.
Selanjutnya dapat digunakan hak interpelasi, hak angket dan hak menyatakan pendapat berkenaan dengan persoalan penting dan strategis yang menyangkut masyarakat luas dan berdampak pada kepentingan bangsa dan negara.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Aris Joko Susilo dkk, mereka meneliti tentang Analisis kinerja legislasi DPRD 2009-2014 Studi Kasus di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Beberapan simpulan yang dapatditarik dari analisis penelitian ini adalah,kinerja legislasi DPRD Kabupaten Tolitoli Periode Tahun 2009-2014 dalam mewujudkan Perda yang berkualitas dan dapat disesuaikandenga kondisi lokalistiknya belum dapat berjalan baik sebagaimana mestinya. Polayang terbangun dalam kinerja legislasi DPRD Kabupaten Tolitoli harus diperbaiki berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tidak adanya target legislasi yang tertuang dalam Program Legislasi Daerah atau Prolegda menyulitkan DPRD Kabupaten Tolitoli bekerja maksimal dalam menjalankan fungsinya untuk membentuk Perda.
Inovasi yang dilakukan oleh DPRD Kabupaten Tolitoli masih sangat rendah atau hanya mampu membuat dua Perda yang berasal dari inisiatif DPRD Kabupaten Tolitoli, sedangkan eksekutif mendominasi dengan mengusulkan perda sebanyak 113 dan juga hanya mampu disahkan menjadi 72 Perda, sehingga selama periode 2009-2014 DPRD Kabupaten Tolitoli menyelesaikan 74 Raperda
yang disahkan menjadi Perda dari 115 usulan Raperda. Dibalik permasalahan kinerja DPRD Kabupaten Tolitoli ini, ada beberapa indicator yang mempengaruhi, diantanya adalah.
Pertama, kualitas para anggota DPRD Kabupaten Tolitoli yang berkaitan dengan keterampilan dan pengetahuan (pendidikan) dalam menjalankan kinerja legislasi di DPRD Kabupaten Tolitoli sangat diperlukan dan sangat mempengaruhi disamping perlunya pengalaman atau pendidikan non formal.Secara garis besar, dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan anggota DPRD Kabupaten Tolitoli berbanding lurus dengan tingkat pencapaian kinerja legislasi DPRD KabupatenTolitoli. Kurangnya pemahaman akan legislasi menjadi permasalahan tersendiri dan membuat anggota DPRD Kabupaten Tolitoli kurang produktif dalam menjalankan fungsinya.
Kedua, kuantitas produk legislasi yang menunjukan kinerja DPRD Kabupaten Tolitoli secara jelas bahwa lembaga legislatif di Kabupaten Tolitoli ini tidak menunjukan kinerja yang baik sebab hanya mampu menyelesaikan 74 Perda dari 115 Raperda selama Tahun 2009-2014, sedangkan dari 74 Perda yang disahkan, hanya dua Perda yang merupakan Perda inisiatif DPRD. Ketiga, ketepatan waktu. Ketepatan waktu DPRD Kabupaten Tolitoli dalam menyelesaikan Raperda menjadi Perda pada setiap pembahasan Raperda setiap masa sidang. Waktu di DPRD ditentukan oleh target legislasi atau Prolegda, namun pembahasan prolegda tidak berjalan sebagaimana mestinya menurut Undang-Undang. Pembahasan Raperda yang terjadi selama periode 2009-2014 tidak berdasarkan mekanisme Prolegda, tetapi hanya membahas seluruh usulan eksekutif yang biasanya dibahas bersama-sama dengan Perda RAPBD. Hal ini
dibuktikan dengan kinerja DPRD Kabupaten Tolitoli yang sudah terbiasa dengan pola kerja menunggu draf Raperda dari eksekutif. Hal inilah yang mengakibatkan tidak adanaya inovasi dalam pembuatan peraturan daerah yang berkualitas.
Keempat, efektivitas. Sumber daya DPRD Kabupaten Tolitoli dalam menjalankan fungsi legislasi telah diatur berdasarkan Undang-Undang bahwa tugas serta wewenang yang dimiliki oleh DPRD Kabupaten/Kota berdasarkan struktur (AKD) yang dibentuk. Struktural sangat berpengaruh dalam kinerja legislasi DPRD Kabupaten Tolitoli. Para pimpinan disemua tingkatan di DPRD Kabupaten Tolitoli mengambil peran strategis dalam menggiring kepentingan untuk menjadi keputusan bersama pada tingkat paripurna
Kelima, kemandirian. Pola yang terbentuk atau kebiasaan cara kerja DPRD Kabupaten Tolitoli dalam menjalankan fungsi legislasi akan mempengaruhi kinerja DPRD Kabupaten Tolitoli sehingga dapat membentuk sebuah budaya organisasi ataukultur organisasi. Kebiasaan DPRD Kabupaten Tolitoli yang menunggu membuat lembaga perwakilan tersebut menjadi tidak proaktif untuk meningkatkan kinerja legislasi DPRD Kabupaten Tolitoli. DPRD KabupatenTolitoli dalam membuat Perda sesuai Undang-Undang sesungguhnya memiliki kewenangan yang lebih besar dari pada eksekutif, karena DPRD Kabupaten Tolitoli merupakan representasi dari rakyat itu sendiri, dimana legislasi dibuat juga dengan asas demokrasi, yaitu dari, oleh dan untuk Rakyat sebagai obyek peraturan daerah.
Penelitian juga dilakukan oleh Brian Felliciano Manansal pada tahun 2014 dengan judul kinerja pegawai di Sekretariat DPRD Kota Bitung, Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana kinerja pegawai di sekretariat
DPRD Kota Bitung. Metode Penelitian ini Merupakan Penelitian Kualitatif, yaitu dengan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistic (utuh), (Bodgan dan Taylor dalam Moloeng, 1996:3).
Berdasarkan penjelasan diatas bahwa penelitian kualitatif setelah data yang dicari oleh peneliti sudah diperoleh lewat hasil penelitian, maka data yang sudah diperoleh tersebut diolah dengan cara kita menjelaskan atau menggambarkan sesuai dengan hasil yang kita peroleh ketika melaksanakan penelitian tersebut. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu dengan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Hasil Penelitian kinerja pegawai di Sekretariat DPRD sebagai perangkat daerah Kota Bitung merupakan salah satu pelaku pembangunan yang diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam pencapaian harapan masyarakat Bitung yang maju dan mandiri. Ukuran keberhasilan yang harus dicapai oleh Sekretariat DPRD Kota Bitung selain dijiwai oleh harapan terwujudnya Bitung maju dan mandiri. Terkait dengan kualitas kerja dari pegawai Sekretariat DPRD Kota Bitung, Tercermin bahwa memang kualitas kerja pegawai Sekretariat DPRD masih perlu ditingkatkan, di Sekretariat DPRD Kota Bitung, masih banyak pegawai yang penempatan pekerjaanya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
Penelitian terdahulu juga pernah dilakukan oleh Alwi dari Universitas Tadulako Tahun 2016 dengan judul Analisi Kinerja Pegawai Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif . Yang bertujuan untuk memberikan gambaran utuh dan menyeluruh tentang strategi peningkatan kinerja pelayanan publik pada Sekretariat DPRD Kabupaten Kabupaten Mamuju Utara.
Lokasi penelitian adalah Lembaga Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara dan penelitian di lakukan pada bulan Agustus sampai bulan Desember 2015.
Bentuk data utama yang diperoleh dalam penelitian ini yakni data kualitatif berupa wawancara pada 5 orang informan yang telah ditentukan oleh peneliti.
Adapun data sekunder penelitian ini adalah data data bersumber dari Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara, dan data sekunder lainnya berupa pedoman-pedoman kerja referensi-referensi yang memiliki keterkaitan dengan objek penelitian. Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah sebagai.
Aktivitas dalam analisis data berupa a). editing data, b). Klasifikasi data, c). Interpretasi data, dan d). Menyimpulkan Data.Kinerja Organisasi Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara yang dimaksud adalah hasil kerja dari pegawai Aparatur Pada Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara, baik secara langsung maupun tidak langsung. Indikator yang digunakan untuk menilai Kinerja Organisasi Pada Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara dalam penelitian ini Adalah:
1. Produktivitas
Konsep produktivitas tidak hanya mengukur tingkat efisiensi, tetapi juga efektivitas pelayanan. Produktivitas pada umumnya dipahami sebagai rasio antara
input dengan output. Konsep produktivitas ini dirasa terlalu sempit dan kemudian General Accounting Office (GAO) mencoba mengembangkan satu ukuran produktivitas yang lebih luas dengan memasukkan seberapa besar pelayanan publik itu memiliki hasil yang diharapkan sebagai salah satu indikator kinerja yang penting, dari tingkat pemahaman aparat pelaksana terhadap uraian pekerjaan, jumlah permasalahan yang berhasil diselesaikan dan tingkat kepuasan pengguna jasa terhadap pelayanan yang diberikan.
2. Kualitas Layanan
Salah satu fungsi pemerintahan yang kini semakin disorot masyarakat adalah pelayanan publik yang diselenggarakan oleh instansi-instansi pemerintah yang menyelenggarakan pelayanan publik. Peningkatan kualitas pelayanan publik yang diselenggarakan instansi pemerintahan kini semakin mengemukakan bahkan menjadi tuntutan masyarakat. Persoalan yang sering dikritisi masyarakat atau para penerima layanan adalah persepsi terhadap “kualitas” yang melekat pada selurus aspek pelayanan.
3. Responsivitas
Responsivitas dalam konteks penelitian ini adalah kemampuan aparat pada Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara untuk mengenali kebutuhan pengguna jasa dalam hal ini Anggota DPRD Kabupaten Mamuju Utara, menyusun agenda dan prioritas pelayanan serta mengembangkan program-program pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi pengguna jasa. Untuk itu, aspek responsivitas akan dilihat melalui keterkaitan antar program kegiatan dengan kebutuhan organisasi, daya tanggap aparat dalam menghadapi dan menyelesaikan keluhan-keluhan yang disampaikan pengguna jasa dan tersedianya
wadah serta kesempatan bagi pengguna jasa untuk menyampaikan saran atau keluhan. Secara singkat, responsivitas mengukur daya tanggap aparat pada Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara terhadap harapan, keinginan dan aspirasi serta tuntutan Anggota DPRD Kabupaten Mamuju Utara.
Responsivitas memerlukan kesiapan sumber daya dari seluruh aparatur yang sebagai pembuat kebijakan, penyedia/pelaksana layanan publik, sikap cepat tanggap yang dimiliki oleh para pembuat kebijakan, senantiasa dipelihara sehingga pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik, efektif dan efisien. Responsivitas Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara dalam menyikapi kendala-kendala yang terjadi sangat diperlukan dalam pelayanan karena hal tersebut merupakan bukti kemampuan organisasi untuk mengenali kebutuhan anggota DPRD, menyusun agenda dan prioritas pada pelayanan serta mengembangkan seluruh program-program pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan.
4. Responsibilitas
Suatu organisasi dikatakan melaksanakan kegiatan dengan responsibilitas yang tinggi apabila dalam pelaksanaan kegiatan operasionalnya dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar/sesuai dengan kebijaksanaan organisasi, oleh karenanya responsibilitas bisa saja pada suatu ketika berbenturan dengan responsivitas.
Dalam hal ini responsibilitas dari pegawai Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara akan dilihat dari proses kecepatan dan ketepatan dalam penyelesaian pekerjaan yang ada di Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara.
Selanjutnya akan dibahas satu persatu tahapan – tahapan dalam kegiatan pegawai pada Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara.
5. Akuntabilitas
Pada dasarnya Laporan Akuntabilitas Kinerja ini mengkomunikasikan pencapaian kinerja SKPD Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara selama tahun 2014. Capaian kinerja (performance results) tahun 2014 tersebut diperbandingkan dengan Rencana Kinerja (Performance Plan) tahun 2013 sabagai tolak ukur keberhasilan tahunan organisasi. Analisis atas capaian kinerja terhadap rencana kinerja ini akan memungkinkan diidentifikasikannya sejumlah celah kinerja (performance gap) bagi perbaikan kinerja dimasa datang.
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dipakai oleh peneliti dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan studi deskriptif. Penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskripsi berupa kata-kata (baik tertulis maupun lisan). Metode penelitian kualitatif ini dipilih karena dapat menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden serta lebih peka dan dapat menyesuaikan diri dengan pola-pola nilai yang dihadapi (Moleong, 2000).
Penelitian deskriptif berkaitan dengan pengumpulan data untuk memberikan gambaran atau penegasan suatu konsep atau gejala, juga menjawab pertanyaan sehubungan dengan status subyek penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai fenomena realitas sosial yang ada didalam kehidupan masyarakat yang menjadi objek dalam penelitian ini dan berupaya untuk menarik realitas itu ke permukaan sehingga terlihat bagaimana realitas sosial yang sebenarnya ada dan sedang terjadi dalam kehidupan masyarakat (Bungin, 2007).
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kota Tebing Tinggi di Kantor DPRD yang dimana di Kantor tersebut tempat pelaksanaan pelayanan publik yang dilakukan sekretariat DPRD kepada para Anggota Dewan.
3.3 Unit Analisis dan Informan 3.3.1 Unit Analisis
Unit analisis adalah satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian. Salah satu ciri atau karakteristik dari penelitian sosial adalah menggunakan apa yang disebut dengan “Unit Of Analisis”. Ada dua jumlah unit yang lazim digunakan pada kebanyakan penelitian sosial yaitu individu, kelompok dan sosial. Adapun yang menjadi unit analisis dan objek kajian dalam penelitian ini adalah para anggota dewan di Kantor DPRD Kota Tebing Tinggi.
3.3.2 Informan
Informan adalah orang-orang yang menjadi sumber informasi dalam penelitian. Informan dianggap sebagai orang yang menguasai dan memahami data, informasi ataupun fakta dari suatu objek penelitian (Bungin, 2008).
Pemilihan informan peneliti menggunakan teknik purposive Sampling untuk menentukan subjek penelitian. Teknik purposive Sampling digunakan dalam pemilihan informan peneliti karena menggunakan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Sehingga peneliti menentukan beberapa kriteria informan (Idrus, 2009).
Adapun yang menjadi sumber informasi untuk memperoleh data dari penelitian ini adalah:
1. Sekretaris DPRD Kota Tebing Tinggi
2. Kabag Persidangan dan Perundangan-undangan di Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi
3. Kabag Umum di Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi 4. Staf di Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi
3.4 Teknik Pengumpulan Data
3.4.1. Teknik pengumpulan data primer
Teknik pengumpulan data primer adalah pengumpulan data yang diperoleh melalui kegiatan penelitian langsung ke lokasi penelitian untuk mencari data-data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang diteliti. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah:
a. Observasi yaitu metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian, dimana data penelitian itu dapat diamati peneliti. Dalam arti data tersebut dihimpun melalui pengamatan peneliti melalui penggunaan pancaindra (Bungin, 2001). Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengamatan langsung ke Kantor DPRD Tebing Tinggi.
b. Wawancara mendalam yaitu proses Tanya jawab yang dilakukan secara langsung dan mendalam ditujukan terhadap informan di lokasi penelitian dengan draf pertanyaan yang sudah siapkan dan disesuaikan dengan rumusan masalah yang telah ada, serta menggunakan panduan atau pedoman wawancara dan alat bantu wawancara seperti tape recorder, catatan kecil dan lain-lain untuk memperoleh data dan informasi tentang Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi.
3.4.2. Teknik pengumpulan data sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian dan data yang dapat diambil dari sumber lain atau instansi lain yang berkaitan dengan penelitian. Pengumpulan data sekunder dalam penelitian ini dilakukan dengan penelitian perpustakaan dan pencatatan dokumen, yaitu
menghimpun berbagai informasi dari buku referensi, jurnal, majalah dan internet yang dianggap relevan dengan penelitian ini.
3.5 Interpretasi Data
Interpretasi data merupakan proses pengolahan data dimulai dari tahap mengedit data sesuai dengan pokok permasalahan yang diteliti kemudian diolah secara deskriptif berdasarkan apa yang terjadi dilapangan. Menganalisis data menunjuk pada kegiatan mengorganisasikan data ke dalam susunan-susunan tertentu dalam rangka penginterpretasikan data (Faisal 2007). Analisis data ditandai dengan pengolahan dan penafsiran data yang diperoleh dari setiap informasi baik melalui pengamatan, wawancara atau catatan lapangan lainnya yang telah ada melalui penelitian terdahulu yang kemudian dipelajari dan ditelaah.Pada tahap selanjutnya adalah penyusunan data dalam satuan-satuan yang kemudian dikategorikan. Kategori tersebut berkaitan satu sama lain dan diinterpretasikan secara kualitatif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum Kota Tebing Tinggi
Gambaran umum lokasi penelitian adalah gambaran tentang kondisi yang ada di wilayah peneliti pilih yaitu Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi. Kota Tebing Tinggi merupakan satu dari 7 (tujuh) kota yang ada di Provinsi Sumatera Utara dengan luas wilayah 38,438 km2. Berjarak sekitar 79 km dari Kota Medan (Ibukota Provinsi Sumatera Utara) serta terletak pada lintas utama Sumatera, yaitu yang menghubungkan Lintas Timur dan Lintas Tengah Sumatera melalui Lintas Diagonal pada ruas Tebing Tinggi – Pematangsiantar – Parapat – Balige – Siborong-borong.
Kota Tebing Tinggi terletak diantara 3017’-30 24’ LU dan 980 07’- 980 08’-990 12’ BT dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
1. Sebelah Utara dengan PTPN III Kebun Rambutan Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Serdang Bedagai.
2. Sebelah Selatan berbatasandengan PTPN III KebunPabatudan Perkebunan Paya Pinang, KabupatenSerdangBedagai.
3. Sebelah Barat berbatasandengan PTPN III kebunGunung Pamela, KabupatenSerdangBedagai.
4. Sebelah Timur dengan PT. Socfindo Tanah Bersih dan PTPN III Kebun Rambutan Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten serdang Bedagai
Kota Tebing Tinggi terdiri dari 5 Kecamatan dan 35 Kelurahan dengan
Kota Tebing Tinggi terdiri dari 5 Kecamatan dan 35 Kelurahan dengan