DAFTAR TABEL
2.10 Penelitian Terdahulu yang Relevan
Penelitian mengenai Sistem Kelembagaan dan Nilai Kebersediaan
Membayar Masyarakat terhadap Keberlanjutan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro
Hidro Cisalimar masih sulit ditemukan. Salah satu peneliti yang mengkaji tentang
ekonomi kelembagaan dalam suatu pengelolaan yaitu Suhana dari Sekolah
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Suhana (2008) melakukan penelitian
dengan judul ”Analisis Ekonomi Kelembagaan dalam Pengelolaan Sumberdaya
Ikan Teluk Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi”. Tujuan penelitian tersebut
adalah mengidentifikasi dan menganalisa peran masing-masing kelembagaan yang
ada di Teluk Palabuhan ratu dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya
ikan serta menganalisis tatanan kelembagaan tersebut dalam pengelolaan dan
pemanfaatan sumberdaya ikan. Hasil yang ditunjukkan bahwa aktor-aktor yang
harus dilibatkan secara langsung dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya
ikan terdiri dari unsur pemerintah, masyarakat, akademis dan aparat keamanan.
Merryna (2009) melakukan penelitian dengan judul ”Analisis Willingness
to Pay Masyarakat terhadap Pembayaran Jasa Lingkungan Mata Air Cirahab”.
Tujuan penelitian tersebut adalah untuk mencari nilai willingness to pay (WTP)
masyarakat terhadap instrument ekonomi yaitu pembayaran jasa lingkungan ,
faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan responden untuk melakukan
pembayaran jasa lingkungan dan faktor-faktor yang mempengaruhinilai kesediaan
tersebut. Hasil yang ditunjukkan oleh penelitian ini adalah nilai rataan WTP
18
83.835/liter. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai WTP responden dipengaruhi
oleh penilaiaan kualitas air, jumlah kebutuhan air, jarak rumah ke sumber air dan
III. KERANGKA PEMIKIRAN
Air merupakan unsur utama bagi makhluk hidup. Seluruh makhluk hidup
membutuhkan air agar dapat bertahan hidup. Air berfungsi sangat penting
dikehidupan ekonomi modern saat ini untuk budidaya pertanian, industri
pembangkit listrik dan transportasi. Air juga dapat diklasifikasikan menjadi
sumberdaya yang diperbarukan maupun tidak diperbarukan, tergantung pada
sumber dan pemanfaatannya. Sumberdaya air tidak hanya dimanfaatkan secara
konsumtif saja, namun dapat dimanfaatkan secara non-konsumtif yaitu
memanfaatkan air hanya sebagai media, salah satu contohnya adalah
memanfaatkan air sebagai pembangkit listrik tenaga air. Pemanfaatan air juga
harus dilakukan dengan pengelolaan lingkungan yang seimbang agar tidak terjadi
kekeringan, pendangkalan sungai dan lain sebagainya. Pengelolaan lingkungan
dapat dilakukan dengan cara adopsi pohon di kawasan hulu sungai, pengelolaan
lahan agar tidak terjadi erosi yang mengakibatkan endapan dan pendangkalan
pada aliran sungai, memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang berada di
sekitar daerah aliran sungai untuk tidak membuang sampah ke sungai dan
membantu menjaga aliran sungai.
Pemanfaatan air sebagai media untuk pembangkit listrik pada saat ini
sudah banyak dilakukan di Indonesia. Salah satu daerah yang melakukan
pemanfaatan air untuk pembangkit listrik adalah Desa Cipeuteuy, Kabupaten
Sukabumi. Desa Cipeuteuy ini memanfaatkan air dari aliran sungai Taman
Nasional Gunung Halimun Salak untuk pembangkit tenaga listrik atau PLTMH
20
oleh karena tidak adanya jaringan listrik dari PLN ke daerah tersebut dikarenakan
letaknya yang sulit dijangkau.
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) biasa disebut dengan
mikrohidro, PLTMH adalah suatu pembangkit listrik kecil yang menggunakan
tenaga air di bawah kapasitas 100 kW yang dapat berasal dari saluran irigasi,
sungai atau air terjun alam dengan cara memanfaatkan tinggi terjun (head) dan
debit air. Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Cisalimar di Desa
Cipeuteuy sangat berpengaruh bagi perkembangan dan kemajuan desa ini.
Estimasi nilai yang bersedia dibayar oleh masyarakat Desa Cipeuteuy perlu
dilakukan agar pengelolaan dan ketersediaan air Sungai Citamiang terjamin
keberlanjutannya. Pengoperasian PLTMH Cisalimar juga menuntut adanya suatu
sistem kelembagaan tersendiri yang menjalankan fungsi-fungsi pengelolaan dan
perawatan. Lembaga tersebut akan menambah keberadaan lembaga yang sudah
ada di desa dan secara tidak langsung dapat menjadi media pengembangan
kapasitas masyarakat dalam pengelolaan kelembagaan dan pelayanan publik.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka penelitian ini akan mengidentifikasi
sistem kelembagaan dari PLTMH Cisalamar, mengestimasi WTP masyarakat
Desa Cipeuteuy untuk keberlanjutan PLTMH Cisalimar dan mengidentifikasi
kebijakan. Langkah pertama, mengidentifikasi sistem kelembagaan PLTMH
Cisalimar. Adapun yang harus dilakukan dalam mengidentifikasi sistem
kelembagaan ini terdapat dalam tabel 1. Data ini merupakan data sekunder yang
diperoleh dari berbagai literatur dan instansi yang terkait. Selanjutnya, data ini
Tabel 1 Karakteristik Kondisi dan Hubungan dalam Kelompok-Kelompok Bagian
Hulu dan Hilir
Karakteristik Kondisi dan Hubungan dalam Kelompok-Kelompok Bagian Hulu dan Hilir
1. Karakteristik sumberdaya system
Ukuran kecil
Batas-batas boundaries
Perbaikan sumberdaya untuk intervesi tertentu
2. Karakteritik kelompok
Ukuran kecil
Pembagian norma-norma Pengalaman organisasi Kepemimpinan yang tepat
Saling ketergantungan antara anggota kelompok Kepentingan yang sama
Kemiskinan rendah
3. Hubungan antara sumberdaya sistem dan kelompok
Perebutan lahan yang digunakan kelompok masyarakat dan sumberdaya Ketergantungan yang tinggi antara kelompok masyarakat dengan sistem sumberdaya
4. Pengaturan kelembagaan
Aturan yang mudah dipahami
Kemudahan dalam penegakan aturan Sanksi
5. Lingkungan eksternal
Tidak adanya campur tangan pemerintah pusat Bantuan dari luar untuk konservasi
Sumber: [email protected]
Langkah kedua, mengestimasi nilai kebersediaan membayar masyarakat
untuk pengelolaan dan keberlanjutan PLTMH Cisalimar. Data yang dibutuhkan
merupakan data primer yang diperoleh dari wawancara langsung dengan
menggunakan kuesioner kepada masyarakat Desa Cipeuteuy yang memanfaatkan
PLTMH Cisalimar. Hasil dari wawancara ini untuk mengestimasi nilai WTP yang
dibayar masyarakat Desa Cipeuteuy terhadap PLTMH Cisalimar. Selanjutnya data
dianalisis dengan metode kuantitatif. Langkah terakhir, mengidentifikasi
22
merupakan data sekunder yang diperoleh dari berbagai literatur dan instansi yang
terkait. Data ini selanjutnya dianalisis dengan analisis deskriptif.
Gambar 1 Diagram Alur Kerangka Pemikiran Sumberdaya air Pengelolaan hutan Meminimalkan erosi PLTMH Cisalimar berfungsi Aliran / Debit air sustainable Distribusi manfaat pada masyarakat Willingness To Pay (WTP) Sistem kelembagaan hilir Sistem kelembagaan hulu Kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan yang berkelanjutan
IV. METODE PENELITIAN
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Cipeuteuy, Kabupaten Sukabumi. Lokasi
ini dipilih secara sengaja atau (purposive). Desa Cipeuteuy merupakan salah satu
desa yang memanfaatkan aliran air sungai menjadi pembangkit tenaga listrik atau
yang biasa dikenal dengan Pembangkit listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).
Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei hingga Juni 2011.
4.2 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh dengan cara melakukan wawancara secara
langsung dengan menggunakan kuesioner kepada responden yang terpilih.
Responden yang terpilih terdiri dari masyarakat Desa Cipeuteuy, serta instansi
yang terkait dengan penelitian yang dilakukan agar memperoleh data mengenai
kebersedian masyarakat untuk membayar terhadap keberlanjutan PLTMH
Cisalimar.
Data sekunder yang diperlukan untuk penelitian ini meliputi data tentang
gambaran umum lokasi penelitian, data mengenai kelembagaan dalam mengelola
PLTMH Cisalimar dan data pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Data sekunder ini diperoleh dari Kantor Kecamatan Kabandungan, Kantor Desa
Cipeuteuy dan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Selain itu data
sekunder juga diperoleh dari buku, internet, jurnal serta instasi lain yang terkait
24
4.3 Metode Penentuan Sample
Metode pengambilan sample terhadap masyarakat Desa Cipeuteuy
dilakukan secara sengaja atau purposive dengan metode ”non-probability
sampling”. Teknik ini digunakan karena data mengenai kerangka sampling tidak
memadai. Responden yang dipilih adalah kepala keluarga di Desa Cipeuteuy yang
memiliki pendapatan tetap, dan bersedia diwawancarai. Jumlah pengambilan
sampel responden yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 30
responden dari masyarakat Desa Cipeuteuy dengan asumsi jumlah tersebut sudah
cukup mewakili untuk menjawab tujuan penelitian.
4.4 Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan studi literatur, wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner dan observasi lapang. Data yang berhubungan dengan masyarakat Desa Cipeuteuy dan data pengelolaan PLTMH Cisalimar diperoleh melalui studi literatur dengan pencarian data sekunder yang berkaitan dengan hal-hal tersebut. Data yang berhubungan dengan kebersediaan membayar masyarakat terhadap ketersediaan air Sungai Citamiang untuk keberlanjutan PLTMH Cisalimar diperoleh melalui wawancara secara langsung dengan kuesioner kepada masyarakat Desa Cipeuteuy.
4.5 Metode Pengolahan Data dan Analisis Data
Setelah data diperoleh dari penelitian ini maka data akan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Pengolahan dan analisis data dilakukan secara manual
dan menggunakan microsoft Office Excel 2007. Berikut ini adalah tabel 2
mengenai matriks keterkaitan antara tujuan penelitian, jenis data dan metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini.
Tabel 2 Matriks Keterkaitan Tujuan, Jenis Data dan Metode Analisis Data
Tujuan Penelitian Jenis Data Metode Analisis Data
Mengidentifikasi sistem kelembagaan pada pengelolaan PLMTH Cisalimar
Sekunder dan Primer Analisis deskriptif
kualitatif
Mengestimasi nilai jasa lingkungan yang bersedia dibayar (WTP) oleh responden untuk ketersediaan air Sungai Citamiang untuk keberlanjutan PLTMH Cisalimar Mengidentifikasi kebijakan untuk keberlangsungan pengelolaan PLTMH Cisalimar Primer Sekunder Analisis deskriptif kuantitatif Analisis deskriptif kuantitatif
4.5.1 Identifikasi Sistem Kelembagaan dalam Pengelolaan PLTMH Cisalimar Mengidentifikasi sistem kelembagaan dalam pengelolaan PLTMH Cisalimar dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif. Identifikasi sistem kelembagaan PLTMH Cisalimar ini dapat dilihat dari struktur kelembagaan yang terdapat di hulu dan di hilir. Pengelolaan kelembagaan di hulu dilakukan agar air sungai dapat mengalir dengan debit air yang cukup untuk memutar turbin pada PLTMH. Pengelolaan dilakukan dengan menjaga lahan hutan yang terdapat pada Taman Nasional Gunung Halimun Salak agar dapat menyerap air lebih banyak dan mencegah terjadinya erosi yang dapat menimbulkan pendangkalan pada air sungai. Sedangkan, pengelolaan kelembagaan di hilir dilakukan agar dapat mendistribusikan hasil dari PLTMH Cisalimar ke masyarakat dan untuk keberlanjutan PLTMH Cisalimar. Data ini merupakan data sekunder dan primer dengan melihat struktur dan sistem kelembagaan yang telah dibuat masyarakat
26
dalam pengelolaan PLTMH Cisalimar, serta melakukan wawancara langsung dengan pimpinan PLTMH dan petugas balai taman nasional. Data yang telah dikumpulkan akan dibuat hipotesis untuk mengidentifikasi sistem kelembagaan dalam pengelolaan PLTMH Cisalimar. Hasilnya, akan dideskripsikan sehingga dapat diketahui sistem kelembagaan dalam pengelolaan PLTMH Cisalimar dapat berkelanjutan atau tidak dengan adanya sistem kelembagaan yang dibuat masyarakat.
Tabel 3 Teknik Pengumpulan Data untuk Analisis Kelembagaan PLTMH Cisalimar dan Pengelolaan Hutan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Parameter Analisis
Profil Kelembagaan sistem PLTMH Cisalimar dan pengelolaan hutan TNGHS :
- Aktor dalam kelembagaan - Aturan kelembagaan 1. Boundary rule
2. Akses sumberdaya alam 3. Sanksi dan monitoring
4. Penyelesaian konflik dalam kelembagaan
Analisis aktor dan aturan dalam kelembagaan melalui wawancara dengan pimpinan PLTMH Cisalimar dan petugas BTNGHS
Aktor dianalisis secara deskriptif dengan mengidentifikasi struktrur kelembagaan dengan peran masing- masing aktor tersebut
Aturan diklasifikasi dalam aturan boundary, akses, sanksi, monitoring, dan penyelesaian konflik kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif
4.5.2 Analisis Kebersediaan Membayar Masyarakat terhadap Pengelolaan dan Keberlanjutan PLTMH Cisalimar
Mengestimasi nilai jasa lingkungan agar dapat sustainable dengan
pendekatan kebersediaan membayar atau WTP masyarakat terhadap pengelolaan
di hulu dan ketersediaan air Sungai Citamiang untuk keberlanjutan PLTMH
1. Membangun Pasar Hipotetik
Pasar hipotetik dibentuk untuk memberikan gambaran kepada responden
mengenai jasa lingkungan, seperti mengelola ketersediaan air sungai agar
memiliki debit air yang cukup dan berkelanjutan untuk dimanfaatkan sebagai
Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Pasar yang dibangun yaitu
menginformasikan mengenai Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang
menghasilkan sumberdaya air untuk aliran Sungai Citamiang yang dimanfaatkan
sebagai PLTMH Cisalimar untuk memberikan manfaat pada masyarakat Desa
Cipeuteuy, Kabupaten Sukabumi. Untuk keberlanjutan PLTMH ini maka harus
ada pengelolaan yang baik agar debit air dapat terus memutar turbin PLTMH
Cisalimar. Selanjutnya, pasar hipotetik yang ditawarkan dibentuk dalam skenario
berikut:
Skernario:
Gambar 2 Hutan dan Aliran Sungai
Pengelolaan sumberdaya air dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak
(TNGHS) merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam proses
menjalankan PLTMH Cisalimar. Hal ini dikarenakan, sebagian besar air yang
28
Salak. Hutan yang berada di kawasan TNGHS harus dijaga dengan baik agar
menghasilkan air yang cukup. Hal ini dikarenakan pada pembangkit listrik tenaga
mikro hidro diperlukan debit air yang cukup untuk menggerakan turbin dan dapat
menghasilkan energi listrik yang akan dimanfaatkan masyarakat. Oleh karena itu,
diperlukan adanya pengelolaan yang baik dari Taman Nasional Gunung Halimun
Salak agar tidak terjadi pengendapan dan pendangkalan pada aliran Sungai
Citamiang sehingga menghasilkan air sungai yang baik. Pengelolaan yang
dilakukan Taman Nasional Gunung Halimun Salak adalah menjaga hutan tutupan,
menjaga agar tidak terjadi perambahan hutan, kerjasama dengan masyarakat dan
menanam tegakan pohon. Dengan mengelola dan menjaga lingkungan maka
PLTMH Cisalimar ini dapat digunakan dengan baik dan berkelanjutan. Penetapan
nilai awal sebesar Rp 10.000,00 dari iuran bulanan masyarakat pengguna PLTMH
Cisalimar, untuk mengestimasi nilai kebersediaan membayar masyarakat terhadap
pengelolaan PLTMH Cisalimar.
2. Memperoleh Nilai WTP
Besar nilai WTP diperoleh melalui wawancara langsung dengan sejumlah
responden. Teknik yang digunakan untuk memperoleh nilai penawaram dengan
metode bidding game (tawar-menawar), Hal ini dikarenakan, metode ini
memudahkan responden memahami maksud dan tujuan penelitian ini. Metode
”bidding game” (tawar-menawar) dilakukan dengan menanyakan kepada
responden berapa yang bersedia dibayarkan untuk pengelolaan air Sungai
Citamiang agar PLTMH Cisalimar dapat berkelanjutan.
Setelah data mengenai nilai WTP dari sejumlah responden dilakukan
perhitungan nilai rataannya. Perhitungan dari dugaan nilai rataan WTP responden
ditentukan dengan rumus:
dimana:
EWTP = dugaan nilai rataan WTP (Rp) Wi = batas bawah pada kelas ke-i
Pfi = frekuensi relative kelas ke-i
n = jumlah kelas
i = sampel (1,2,...,n)
4. Menduga Kurva WTP ( Estimating Bid Curve)
Pendugaan kurva akan dilakukan dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut :
WTP = f (PNDK, PNDP, UR, LT)
dimana:
WTP = nilai WTP responden (Rp/bulan)
UR = usia responden (tahun)
PNDK = tingkat pendidikan (tahun)
PNDP = tingkat pendapatan (Rp)
JTK = jumlah tanggungan keluarga (orang)
LT = lama tinggal (tahun)
5. Total WTP
Total WTP dapat digunakan untuk menduga WTP populasi secara
30
rata-rata terhadap total populasi yang dimaksud. Nilai total WTP diduga dengan
menggunakan rumus:
dimana:
TWTP = total WTP (Rp) WTPi = WTP individu ke-i
ni = jumlah responden ke-i
N = jumlah responden
P = jumlah populasi
i = responden WTP (1,2,...,n)
4.5.3 Identifikasi Kebijakan Pengelolaan PLTMH Cisalimar
Mengidentifikasi kebijakan pengelolaan PLTMH Cisalimar dilakukan
dengan analisis deskriptif kualitatif. Identifikasi kebijakan pengelolaan PLTMH
Cisalimar ini dapat dilihat dari nilai kebersediaan membayar masyarakat Desa
Cipeuteuy terhadap pengelolaan dan keberlanjutan PLTMH Cisalimar. Kebijakan
pengelolaan ini dilakukan agar PLTMH Cisalimar dapat dikelola dengan baik dan
digunakan secara berkelanjutan oleh masyarakat Desa Cipeuteuy. Data yang
digunakan untuk mengidentifikasi kebijakan pengelolaan ini adalah data sekunder.
Data yang telah dikumpulkan akan dibuat hipotesis untuk mengidentifikasi
kebijakan pengelolaan PLTMH. Hasilnya, akan dideskripsikan sehingga dapat
diketahui kebijakan pengelolaan PLTMH Cisalimar yang baik untuk diterapkan
V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN
5.1 Kondisi Umum Penelitian
Desa Cipeuteuy merupakan desa yang terletak di sekitar Kawasan Taman
Nasional Gunung Halimun Salak. Secara administratif Desa Cipeuteuy terletak di
Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Desa
Cipeuteuy berbatasan dengan Desa Purwabakti di sebelah utara, sebelah selatan
berbatasan dengan Desa Cimaherang, sebelah barat berbatasan dengan Desa
Malasari dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Kabandungan.
Sumber: google earth
Gambar 3 Peta Desa Cipeuteuy
Desa Cipeuteuy memiliki luas wilayah 3.746,6 ha dengan ketinggian
tempat 750-850 m dpl. Kondisi lingkungan di Desa Cipeuteuy masih alami dan
memiliki banyak lahan persawahan dengan tingkat curah hujan 2.600 mm per
32
Jarak Desa Cipeuteuy dari kecamatan sekitar 5 km, jarak dari ibukota
kabupaten sekitar 56 km, jarak dari ibukota provinsi sekitar 135 km dan jarak dari
ibukota negara sekitar 106 km. Kondisi jalan di Desa Cipeuteuy yaitu jalan tanah
sepanjang 4,5 km, jalan perkerasan sepanjang 15,6 km dan jalan aspal sepanjang
13,5 km. Akses lalulintas menuju desa ini tidak terlalu sulit tetapi jumlah
kendaraan menuju desa tersebut masih terbatas.
Berdasarkan data dasar desa tahun 2011, menunjukkan bahwa penduduk
Desa Cipeuteuy sekitar 6.842 jiwa yang terbagi dalam 1.777 kepala keluarga
dengan jumlah penduduk laki-laki adalah 3.503 jiwa dan penduduk perempuan
adalah 3.339 jiwa. Terdapat lima dusun yaitu Dusun Arendah, Dusun Cipeuteuy,
Dusun Cisarua, Dusun Leuwi Waluh dan Dusun Pandan Arum.
Tabel 4 Dusun dan Jumlah Kepala Keluarga Desa Cipeuteuy
No. Dusun Jumlah Kepala
Keluarga 1. Arendah 404 2. Cipeuteuy 473 3. Cisarua 327 4. Leuwi Waluh 228 5. Pandan Arum 335
Sumber: Kantor Desa Cipeuteuy
Ada beberapa dusun di Desa Cipeuteuy yang belum mendapatkan aliran
listrik dari PLN, salah satunya yaitu Dusun Pandan Arum. Hal ini dikarenakan
akses menuju daerah tersebut masih sangat sulit dijangkau. Masyarakat yang
menggunakan PLTMH Cisalimar di Desa Cipeuteuy sebanyak 288 rumah. Listrik
Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro ini dapat
dioperasionalkan dengan menggunakan turbin yang digerakkan oleh aliran Sungai
Citamiang yang mengalir dari hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Salah satu kampung dari Dusun Pandan Arum yang memanfaatkan listrik dari
pembangkit listrik tenaga mikro hidro adalah Kampung Sukagalih.
5.2 Karakteristik Responden
Responden dalam penelitian ini adalah masyarakat Desa Cipeteuy yang
menggunakan pembangkit listrik tenaga mikro hidro untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Karakteristik sosial ekonomi pengunjung dibedakan berdasarkan jenis
kelamin, usia, tingkat pendidikan, status pernikahan, jumlah tanggungan dan
pekerjaan. Selain itu, akan diestimasi kebersediaan membayar masyarakat untuk
ketersediaan air sungai agar PLTMH Cisalimar berkelanjutan.
Dalam penelitian ini sebagian besar responden sudah mengetahui
mengenai PLTMH Cisalimar dan manfaatnya dari PLTMH itu sendiri. Seluruh
responden mengetahui manfaat dari PLTMH Cisalimar yaitu sebagai pembangkit
listrik terutama penerangan pada malam hari. Responden pun bersedia untuk
menjaga lingkungan di kawasan taman nasioanl karena responden membutuhkan
sumberdaya yang berada di kawasan taman nasional untuk dimanfaatkan. Mereka
pun bersedia membayar untuk pengelolaan hutan dalam kawasan taman nasional
agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
5.2.1 Jenis Kelamin dan Usia
Masyarakat Desa Cipeuteuy yang menjadi responden dalam penelitian ini
34
menjadi responden dalam penelitian ini sebesar 93 persen atau sebanyak 28 orang
dan 7 persen atau sebanyak 2 orang sisanya berjenis kelamin perempuan.
Sumber: Data Primer Diolah, 2011
Gambar 4 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Dapat dilihat pada Gambar 4 sebaran responden berdasarkan kelompok
usia sebesar 37 persen atau sebanyak 11 orang responden berusia antara 29-39
tahun, 30 persen atau sebanyak 9 orang responden berusia antara 40-50 tahun, 23
persen atau 7 orang responden yang berusia antara 18-28 tahun, 7 persen atau 2
orang yang berusia antara 51-61 tahun dan 3 persen atau sebanyak 1 orang yang
berusia antara 62-72 tahun.
5.2.2 Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan terakhir menunjukan pendidikan formal yang pernah
ditempuh oleh seseorang. Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap jenis
pekerjaan yang dimiliki. Jenis pekerjaan mempengaruhi jumlah pendapatan yang
kemudian jumlah pendapatan berpengaruh terhadap kesejahteraan seseorang serta
berpengaruh terhadap kebersediaan membayar untuk keberlanjutan PLTMH
Sumber: Data Primer Diolah, 2011
Gambar 5 Karakteristik Reponden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Responden sebagian besar memiliki latar belakang pendidikan sekolah
dasar (SD) sebesar 83,34 persen atau sebanyak 25 orang, SMA sebesar 13,33
persen sebanyak 4 orang dan perguruan tinggi sebanyak 3,33 persen atau
sebanyak 1 orang. Hal ini dikarenakan sebagian besar responden dari golongan
kurang mampu dan akses menuju sekolah sulit, sehingga memiliki jenjang
pendidikan yang rendah. Tingkat pendidikan terakhir responden disajikan pada
Gambar 5 di atas.
5.2.3 Status Pernikahan dan Jumlah Tanggungan
Status perkawinan dan jumlah tanggungan seseorang dapat menunjukan
tingkat konsumsi keluarga dalam memenuhi kebutuhan primernya. Seseorang
yang sudah menikah dan memiliki anak, maka pendapatan yang diperolehnya
digunakan untuk memenuhi konsumsi anggota keluarga.Jumlah tanggungan
responden ditentukan istri, jumlah anak dan jumlah anggota keluarga lainnya yang
tinggal dalam satu atap dan menjadi tanggungan.
Sumber: Data Primer Diolah, 2011
Gambar 6 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, sebesar 90 persen atau
sebanyak 27 orang responden telah menikah dan sebesar 10 persen atau sebanyak
3 orang belum menikah. Jumlah tanggungan responden berjumlah empat orang
36
5 orang memiliki jumlah tanggungan tiga orang, sebesar 14,81 persen atau
sebanyak 4 orang memiliki jumlah tanggungan lima orang, responden yang
memiliki jumlah tanggungan dua dan enam orang sebesar 7,41 persen atau
sebanyak 2 orang. Sebaran jumlah tanggungan responden dapat dilihat pada
Gambar 6.
5.2.4 Pekerjaan Responden
Pekerjaan responden erat kaitannya dengan tingkat pendapatan seseorang
yang pada akhirnya menentukan tingkat kesejahteraannya. Selain itu, pekerjaan