TINJAUAN PUSTAKA
11. Recognized Translation
2.2 Penelitian Terdahulu yang Relevan
Penelitian terkait neologisme telah banyak dilakukan khususnya oleh para peneliti Iran. Housyar dan Karimnia (2013) dalam artikel mereka meneliti strategi yang digunakan oleh penerjemah Iran dalam menerjemahkan neologisme yang ditemukan dalam bidang akademis dari bahasa Inggris ke bahasa Persia. Dalam penelitian ini, sejumlah kata diseleksi secara random dan neologisme yang ditemukan diklasifikasikan berdasarkan tipologi neologisme Newmark (1988).
Setiap neologisme selanjutnya dibandingkan dengan padanannya dalam bahasa Persia dengan menggunakan model penerjemahan Newmark. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerjemahan literal adalah strategi penerjemahan yang paling banyak digunakan oleh penerjemah sedangkan borrowing adalah strategi yang paling sedikit digunakan. Mereka menyimpulkan bahwa strategi penerjemahan neologisme ini dapat diaplikasikan dalam menerjemahkan neologisme terkait bidang akademis dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Persia.
Selanjutnya, Liu (2014) dalam artikelnya meneliti penerjemahan neologisme berbahasa Inggris ke dalam bahasa Cina dalam bidang teknologi perminyakan (petroleum engineering). Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki ciri terminologi petroleum English untuk menemukan strategi penerjemahan yang digunakan oleh penerjemah yang diharapkan dapat menjadi strategi standar penerjemahan yang digunakan khususnya terkait penerjemahan neologisme berbahasa Inggris ke bahasa Cina. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa petroleum English memiliki ciri keunikan berupa penggunaan kalimat deklaratif, kalimat pasif dan kalimat yang panjang. Penelitian ini juga menemukan bahwa adaptasi dalam penerjemahan contohnya penggunaan metode penerjemahan cutting, conversing, splitting, adding dan ellipsis baik digunakan untuk menciptakan hasil penerjemahan yang akurat mengingat adanya perbedaan sistem dan struktur bahasa antara bahasa Inggris dan bahasa Cina. Selain itu, untuk mendapatkan hasil terjemahan yang akurat, penerjemah diharuskan untuk menyesuaikan gaya dan fungi teks BSu ke BSa serta memiliki pengetahuan yang baik tentang Petroleum English dan perkembangannya yang dinamis.
Mworia (2015) dalam tesisnya meneliti penggunaan neologisme yang digunakan oleh pengguna Twitter di Kenya. Penelitian ini mengkaji bagaimana neologisme yang dipakai dalam media sosial (Twitter) terpisah dari bahasa Inggris standar yang digunakan, keefektifan neologisme dalam komunikasi media sosial serta faktor yang mempengaruhi produksi dan penggunaan neologisme dalam media sosial. Data penelitian ini berjumlah 30 (tiga puluh) neologisme beserta maknanya yang masing-masing terdiri dari 6 (enam) nomina, verba, adjektiva, adverbia, dan interjeksi. Penelitian ini menggunakan teori lexical pragmatics yang
terdiri atas proses Lexical Narrowing, Lexical Broadening dan Categorical Extension. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan neologisme dalam media sosial di Kenya berbeda dari bahasa Inggris standard yang digunakan dan perbedaan ini terjadi agar mempermudah komunikasi online para pengguna media sosial. Faktor usia, gender, kecepatan berkomunikasi, makna, pengabaian tata bahasa dan ejaan yang konvensional diidentifikasi sebagai faktor-faktor yang mendorong terciptanya neologisme dalam media sosial di Kenya. Selain itu, kecepatan berkomunikasi, time-sensitivity, kemudahan interpretasi adalah faktor yang memperkuat mengapa penggunaan neologisme dalam media sosial menciptakan komunikasi yang efektif.
Sedangkan Hanaqtah (2016) dalam disertasinya menganalisis masalah penerjemahan neologisme dalam bidang militer dan politik serta strategi yang digunakan penerjemah dalam menerjemahkan neologisme tersebut dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Arab. Teori yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada metode penerjemahan semantis dan komunikatif ditambah dengan prosedur penerjemahan neologisme Newmark (1988). Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi penerjemahan dengan frekuensi tertinggi antara lain functional equivalent, word for word, modulation, paraphrasing dan compensation sedangkan strategi penerjemahan dengan frekuensi terendah antara lain couplets, componential analysis, omissions, additions, reduction, expansion dan transference.
Fumani (2017) dalam artikelnya terkait penerjemahan neologisme dalam bidang perikanan dengan meneliti buku perikanan berjudul Carp and Pond Fish
Culture yang diterjemahkan ke dalam bahasa Persia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap penerjemah menggunakan enam jenis strategi penerjemahan yang berbeda. Borrowing merupakan strategi penerjemahan yang paling banyak digunakan sedangkan transposition adalah strategi yang paling sedikit digunakan oleh penerjemah. Ia juga menemukan dari tiga penerjemah yang diteliti, tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik terkait penerapan setiap strategi penerjemahan neologisme. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Moghadam dan Sedighi (2012) yang berfokus pada bidang komputer. Penelitian ini berfokus pada frekuensi penggunaan prosedur penerjemahan neologisme pada teks bidang komputer serta norma umum penerjemahan (common translational norm) yang digunakan dalam menerjemahkan teks komputer dari bahasa Inggris ke bahasa Persia di tahun 2000-an. Penelitian ini juga menggunakan tipologi neologisme Newmark (1988) terkait prosedur penerjemahan neologisme. Peneliti memilih data penelitian secara acak (random) dari teks komputer yang telah ditentukan sebelumnya, mengklasifikasi data dan prosedur penerjemahannya, dan membandingkan BSu dengan padanannya (equivalence) dalam BSa untuk menentukan norma penerjemahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transference merupakan prosedur penerjemahan yang paling banyak digunakan oleh penerjemah dan norma utama dalam penerjemahan adalah penggunaan transference dan lexical synonymy.
Dari segi teori yang digunakan, penelitian ini mengaplikasikan teori yang sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Housyar dan Karimnia (2013) dan Hanaqtah (2016) yaitu tipologi neologisme dan prosedur penerjemahan
neologisme Newmark (1988). Newmark mengkaji neologisme secara terperinci dari segi tipe dan prosedur penerjemahannya. Namun dalam penelitian ini, peneliti menggunakan istilah prosedur sesuai dengan yang dipakai oleh Newmark bukan strategi seperti yang dipakai dalam penelitian Hanaqtah (2016). Dari segi metode penelitian, peneliti juga mengadopsi metode yang sama yaitu metode kualitatif deskriptif.
Dari beberapa penelitian terdahulu yang relevan ditemukan adanya perbedaan hasil penelitian antara penelitian yang dilakukan oleh Housyar dan Karimnia (2013) dan Fumani (2017). Hasil penelitian Housyar dan Karimnia (2013) hampir sama dengan hasil penelitian Hanaqtah (2016) yang mengatakan bahwa borrowing atau transference adalah prosedur yang paling sedikit digunakan oleh penerjemah. Sedangkan hasil penelitian Fumani (2017) menunjukkan hal yang sebaliknya, yaitu borrowing atau transference merupakan prosedur penerjemahan dengan frekuensi tertinggi. Penelitian di atas mendukung penelitian ini dari segi teori dan metode penelitian yang digunakan. Hasil penelitian yang berbeda tersebut juga menjadi salah satu latar belakang penelitian ini karena penelitian ini membuktikan apakah borrowing atau transference merupakan prosedur dengan frekuensi tertinggi, terendah atau penelitian ini justru memberikan hasil yang berbeda.