• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. Oleh FITRIA HARDINI /LNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS. Oleh FITRIA HARDINI /LNG"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

PROSEDUR PENERJEMAHAN NEOLOGISME DALAM SOCIAL MEDIA INTERFACE

TESIS

Oleh

FITRIA HARDINI 157009027/LNG

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2018

(2)

PROSEDUR PENERJEMAHAN NEOLOGISME DALAM SOCIAL MEDIA INTERFACE

TESIS

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Linguistik pada Program Pascasarjana

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara

Oleh

FITRIA HARDINI 157009027/LNG

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2018

(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Neologisme dalam social media interface (tampilan media sosial) telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa termasuk bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan 1) bagaimana neologisme berbahasa Inggris dalam social media interface diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari segi tipe, bentuk dan variasinya; 2) prosedur penerjemahan yang diterapkan; 3) pergeseran makna neologisme, dan 4) faktor penyebab penerjemahan neologisme pada tampilan media sosial menjadi sedemikian rupa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan dilakukan dengan menerapkan model tipologi neologisme dan prosedur penerjemahannya serta taksonomi pergeseran makna leksikal. Data penelitian bersumber dari 7 (tujuh) platform media sosial yaitu Facebook, Google+, Instagram, Linked-in, Pinterest, Twitter, dan Youtube, Data penelitian berupa kata dan frasa yang berjumlah 206 (37 kata dan 69 frasa), data dianalisis dengan menerapkan teori Newmark (1988) tentang neologisme dan membandingkan makna dan padanannya dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) tipe neologisme dengan persentase tertinggi adalah leksikal lama (kata ) dengan makna baru (43%) sedangkan tipe neologisme dengan persentasi terendah adalah leksikal baru:

akronim (3%). Deskripsi penerjemahan neologisme dari segi bentuk meliputi:

penerjemahan kata menjadi kata, kata menjadi frasa, frasa menjadi kata, frasa menjadi frasa dan bentuk plural menjadi singular; 2) prosedur penerjemahan neologisme didominasi oleh penerapan prosedur penerjemahan Transference, Couplets dan Through Translation, 3) pergeseran makna yang ditemukan yaitu Narrowing of meaning (differentiation and specification), broading of meaning (generalization), omission of meaning, exchange of meaning, antonymous translation dan total translation, dan 4) faktor penyebab penerjemahan neologisme sedemikian rupa adalah karena perbedaan bentuk neologisme (istilah maupun jargon) yang dihadapi penerjemah dan penerjemah interface cenderung memilih metode dan ideologi penerjemahan yang berorientasi pada bahasa sumber. Temuan dalam penelitian ini antara lain neologisme pada tampilan tidak terbentuk dari derived words, eponyms, pseudo-neologism, abbreviation, transferred word dan internationalism; shifts (transposition) dan compensation tidak diterapkan secara tunggal namun selalu diterapkan bersamaan dengan prosedur lain (couplet); dan penerjemahan neologisme pada tampilan tidak dapat dilakukan hanya dengan mengubah polarity dan mengaitkannya dengan budaya.

Kata kunci: neologisme, social media interface, prosedur penerjemahan, pergeseran makna leksikal

(7)

ABSTRACT

Neologism in social media interface has been translated into some languages including bahasa Indonesia.This research aims to describe 1) how neologism found in social media interface in terms of types, forms, and variations; 2) translation procedures applied by translator; 3) semantic shifts found in neologism translation; and 4) why translation of neologism occurs the way they are. This research is a qualitative research and conducted by applying neologism typology, translation procedures and taxonomy of lexical semantic shifts. Data were collected from 7 (seven) platforms of social media interface namely Facebook, Google+, Instagram, Linked-in, Pinterest, Twitter, and Youtube. Data were selected in the form of words and phrases with the total of 206 (137 words and 69 phrases), they were analyzed by applying Newmark theory of Neologism and comparing both meanings and their equivalents from English into bahasa Indonesia. The results showed that 1) type of neologism with the highest percentage is Existing lexical items with new senses: Words (43%) while the lowest presentage is New form: Acronym (3%), the description of neologism translation in terms of form includes: translation word to word, word to phrase, phrase to word, phrase to phrase and plural to singular form; 2) translation procedure of neologism from English into bahasa Indonesia was dominated by the application of Transference, Couplets dan Through Translation; 3) lexical semantic shifts of neologisms namely narrowing of meaning (differentiation and specification), broading of meaning (generalization), omission of meaning, exchange of meaning, antonymous translation and total translation, and 4) different types of text and neologisms (terms or jargons) faced by translators encourage them to use different procedures and they tend to choose translation methods and ideology that is source-text oriented. Findings showed that neologisms from interface do not form from derived words, eponyms, pseudo- neologism, abbreviation, transferred word and internationalism; shifts (transposition) and compensation are not applied singly but always applied together with other procedures (couplets); and the translation of neologisms can not be conducted by only changing the polarity and connected them to culture.

Keywords: neologism, social media interface, translation procedures, lexical semantic shifts

(8)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya tesis ini dapat terselesaikan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi Magister pada Program Studi Linguistik Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Dengan rampungnya tesis ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

 Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M. Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister pada Program Studi Linguistik Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara,

 Dr. Budi Agustono, M.S selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister Program Studi Linguistik Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara,

 Dr. Eddy Setia, M.ED. TESP selaku Ketua Program Studi Linguistik dan Pembimbing I yang telah meluangkan waktu dan dengan sabar memberikan bimbingan dan masukan dalam penulisan tesis ini,

 Dr. Umar Mono, M. Hum selaku Pembimbing II yang telah membimbing dan mengevaluasi tesis ini dengan sangat teliti dan sabar hingga tesis menjadi rampung,

 Dr. T. Thyrhaya Zein, M.A. selaku Sekretaris Program Studi Linguistik dan sekaligus sebagai Penguji yang tak henti-hentinya memotivasi, mengevaluasi

(9)

kemajuan tesis dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan studi tepat waktu,

 Dr. Muhizar Muchtar, M.S., dan Dr. Rudy Sofyan, M. Hum. selaku penguji yang telah memberikan kritik, saran dan arahan yang sangat membangun dalam penyempurnaan tesis ini,

 David J. M. Sembiring, M.M., M.Kom dan Sinek Mehuli Br Perangin angin, M.M.,M.Kom selaku Pimpinan dan Pembina Institut Teknologi dan Bisnis Indonesia (ITBI) yang telah memberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan dukungan baik moril maupun materil dalam menyelesaikan studi Magister mulai dari awal studi hingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan pendidikan Magister dengan baik,

 Ayahanda M. Faisal Rangkuti (Alm) dan Ibunda Hartini Panjaitan, Ayahanda Ir. Ashuri A. Widianto, MT dan Ibunda Dra. Zaslina Zainuddin, M.Pd yang selalu menjadi penyemangat dan memberikan doa sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dengan baik,

 Suami tercinta Aldin Lukman Hakim, S.S yang selalu memberikan perhatian, arahan, motivasi dan kontribusi yang sangat berarti terkait wawasan bidang Information Technology (IT) sehingga tesis ini dapat selesai dengan baik,

 Staf pegawai administrasi yang membantu administrasi dan teman-teman stambuk 2015 Genap di Program Studi Linguistik yang selalu memberikan motivasi selama proses perkuliahan dan penyusunan tesis.

(10)

Semua dukungan baik moril maupun materil yang saya terima sungguh tak dapat penulis balas. Semoga kiranya Allah SWT membalas segala budi baik yang telah diberikan kepada penulis.

Medan, September 2018

Fitria Hardini

(11)

RIWAYAT HIDUP

Nama : Fitria Hardini

Tempat/Tanggal Lahir : Tebing Tinggi/ 7 Januari 1988 Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Dosen Swasta

Agama : Islam

Alamat : Jl. Sei Belutu Komplek de Residence 1, No. 9-b, Setia Budi, Medan

Email : [email protected]

Pendidikan : 1. TK Swasta F. Tandean, T.Tinggi (1992 –1994) 2. SD Swasta F. Tandean, T.Tinggi (1994 – 2000) 3. SMP Swasta F. Tandean, T.Tinggi (2000 – 2003) 4. SMU Negeri I, T.Tinggi (2003 – 2006) 5. S-1 Universitas Sumatera Utara (2006 – 2010)

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT... ii

UCAPAN TERIMA KASIH ... iii

RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR SINGKATAN ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Ruang Lingkup Penelitian ... 6

1.5 Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1 Landasan Teori ... 8

2.1.1 Terjemahan dan Permasalahannya ... 8

2.1.2 Pengertian dan Perkembangan Media Sosial ... 10

2.1.3 Pengertian Interface ... 13

2.1.4 Pengertian Neologisme ... 15

2.1.5 Klasifikasi Neologisme ... 17

2.1.6 Prosedur Penerjemahan Neologisme ... 23

2.1.7 Pergeseran Makna dalam Penerjemahan ... 31

2.2 Penelitian Terdahulu ... 33

2.3 Kerangka Pikir Penelitian... 37

BAB III METODE PENELITIAN ... 40

3.1 Jenis Penelitian ... 40

3.2 Data dan Sumber Data ... 40

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 41

3.4 Teknik Analisis Data... 41

3.5 Teknik Penyajian Data ... 43

BAB IV HASIL PENELITIAN, PEMBAHASAN DAN TEMUAN PENELITIAN ... 46

4.1 Hasil Penelitian ... 46

(13)

4.1.1 Deskripsi Penerjemahan Neologisme dalam

Social Media Interface ... 46

4.1.1.1 Tipe Neologisme dalam Social Media Interface ... 46

4.1.1.2 Hasil Terjemahan dari Segi Bentuk... 48

4.1.1.3 Variasi Padanan Neologisme dalam Bahasa Indonesia ... 56

4.1.2 Prosedur Penerjemahan Neologisme dalam Social Media Interface ... 61

4.1.3 Pergeseran Makna Hasil Terjemahan Neologisme dalam Social Media Interface ... 65

4.2 Pembahasan ... 70

4.2.1 Deskripsi Penerjemahan Neologisme dalam Social Media Interface ... 70

4.2.2 Prosedur Penerjemahan Neologisme dalam Social Media Interface ... 73

4.2.3 Pergeseran Makna Hasil Terjemahan Neologisme dalam Social Media Interface ... 76

4.2.4 Faktor Penyebab Penerjemahan Neologisme pada Interface menjadi Sedemikian Rupa ... 77

4.3 Temuan Penelitian ... 81

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 83

5.1 Simpulan ... 83

5.2 Saran ... 85

DAFTAR PUSTAKA ... 87

LAMPIRAN: I. Jumlah Kata dan Frasa Neologisme pada Tampilan ... 1

II. Tipe Neologisme yang Ditemukan pada Tampilan Media Sosial ... 2

III. Prosedur Penerjemahan Neologisme pada Tampilan Media Sosial ... 3

IV. Rekapitulasi Data ... 4

V. Distribusi Couplet/ Triplet beserta Contoh Data ... 18

(14)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

2.1 Tipe Neologisme berdasarkan Newmark (1988) ... 18

4.1 Penerjemahan Nomina → Nomina ... 48

4.2 Penerjemahan Verba → Verba ... 50

4.3 Penerjemahan Adjektiva → Adjektiva ... 51

4.4 Penerjemahan Kata → Frasa ... 52

4.5 Penerjemahan Frasa → Kata ... 53

4.6 Penerjemahan Frasa → Frasa ... 53

4.7 Penerjemahan bentuk Plural→ Singular ... 55

(15)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

2.1 Data statistik pertumbuhan pengguna media sosial di dunia ... 12

2.2 Platform media sosial dengan pengguna terbanyak di Indonesia ... 13

2.3 Kerangka Pikir Penelitian ... 38

3.1 Komponen Analisis Data: Model Interaktif ... 42

3.2 Sistem Penomoran Data ... 45

4.1 Tipe neologisme yang ditemukan pada social media interface ... 46

4.2 Prosedur penerjemahan neologisme pada social media interface ... 62

(16)

DAFTAR SINGKATAN

Adj. = Adjektiva

ATA = American Translators Association ATM = Automated Teller Machine

BSu = Bahasa Sumber BSa = Bahasa Sasaran

F = Frasa

FN = Frasa Nomina

FV = Frasa Verba

HAR file = HTTP Archive file IT = Information Technology LOL = Laugh Out Loud

MT = Machine Translation

N = Nomina

PBB = Persatuan Bangsa-Bangsa RAM = Random Access Memory URL = Uniform Resource Locator UI = User Interface

V = Verba

(17)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahasa dan teknologi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan saling mempengaruhi. Di satu sisi, pertumbuhan teknologi khususnya teknologi informasi mendorong terciptanya media komunikasi yaitu media sosial. Media sosial tersebut digunakan oleh pengguna bahasa untuk berkomunikasi. Di sisi lain, keberadaan media sosial mendorong pertumbuhan neologisme yang menjadi fenomena kebahasaan yang tidak dapat dihindari oleh penerjemah.

Neologisme menurut Newmark (1988:140) adalah makna baru yang tercipta dari pembentukan unit leksikal baru atau unit leksikal yang sudah ada sebelumnya. Neologisme atau neologism dapat berupa kata baru atau maupun kata lama yang mengalami perubahan atau perluasan makna. Neologisme terbentuk akibat kurangnya istilah (term) dalam bidang tertentu atau apabila sebuah kata tidak cukup mendefinisikan sesuatu secara detail atau kata tersebut mengandung makna yang samar atau memiliki makna ganda.

Menurut Public Oxford English Dictionary (OED), saat ini sekitar 1.100 kata dengan makna baru telah ditambahkan ke dalam kamus Oxford seperti kata hangry (blend of hungry+angry), mansplaining (blend of man+explain) serta kata yang memiliki perubahan makna seperti kata snowflake. Kata snowflake awalnya digunakan untuk merujuk pada anak yang berprilaku baik (1983). Namun, saat ini makna tersebut telah mengalami perubahan dan digunakan untuk mengejek orang yang terlalu sensitif dan mudah tersinggung. Makna kata ini bergeser akibat

(18)

penggunaan secara sarkastik oleh Chuck Palahniuk pada novelnya berjudul Fight Club pada tahun 1990-an.

Penyebaran dan pemakaian neologisme didukung oleh kemudahan teknologi komunikasi yang terus meningkat hingga saat ini. Telepon genggam atau mobile phone misalnya telah mengalami banyak perubahan fungsi. Dahulu telepon genggam digunakan hanya terbatas untuk melakukan panggilan langsung dan mengirimkan pesan teks singkat. Namun, saat ini fungsi tersebut bertambah sejalan dengan kebutuhan pemakainya. Fungsi panggilan langsung dapat dilakukan dengan tatap muka (video call) dan fungsi pesan teks singkat saat ini meluas dengan adanya fitur-fitur yang ditawarkan oleh media sosial (social media) dan aplikasi pendukung komunikasi seperti adanya emoticon menarik yang dapat memberikan emosi kepada teks yang disampaikan, kemudahan mengirim pesan gambar, suara dan video. Telepon genggam yang kini telah berubah menjadi android atau smart phone memberikan semakin banyak kemudahan untuk mengakses segala informasi baik dari browser atau search engine maupun media sosial apa saja seperti Facebook, Instagram, Linked in, Twitter, Whatsapp, dan sebagainya.

Di Indonesia, media sosial atau sering juga disingkat dengan medsos bukan lagi hal yang baru. Berawal dari media sosial pertemanan bernama Friendster (2002), masyarakat Indonesia kemudian diperkenalkan dengan situs serupa yang lebih lengkap dan menarik yaitu Facebook (2004). Selanjutnya, media sosial semakin berkembang dan terus bertambah. Masyarakat Indonesia dari segala usia dapat mengakses dan menggunakannya dimana saja dan kapan

(19)

saja. Mereka dapat melakukan upload dan download secara instant serta dapat melakukan komunikasi atau chat secara online dengan siapa saja.

Untuk mempermudah penggunanya dalam berkomunikasi, setiap media sosial telah dilengkapi dengan pengaturan bahasa. Setiap pengguna dapat memilih sendiri bahasa apa yang ingin mereka gunakan dalam tampilan menu atau layar mereka. Tampilan atau disebut juga dengan interface merupakan hal yang penting sekali bagi pengguna terutama ketika media sosial atau aplikasi pertama kali digunakan. Apabila tampilan media sosial hanya menggunakan bahasa Inggris, pengguna akan mengalami kesulitan dalam mengoperasikan media sosial tersebut khususnya pengguna Indonesia yang sebagian besar bukanlah penutur aktif bahasa Inggris.

Seperti halnya bidang ilmu lain, teknologi informasi juga memiliki bahasa dengan maknanya sendiri seperti jargon atau istilah yang makna dan penggunaanya spesifik dalam bidang teknologi informasi. Kata googling yang muncul akibat dari produk teknologi bernama google telah dipakai oleh masyarakat luas dan memiliki makna mencari informasi dengan menggunakan google. Jargon lain seperti LOL (Laugh Out Loud), BFF (Best Friend Forever), download, upload, tag, laptop, tablet dan hacker adalah contoh neologisme yang digunakan dalam teknologi informasi.

Selanjutnya, penerjemahan interface dapat menjadi kendala karena pertumbuhan setiap bahasa dan teknologi di dunia berbeda-beda. Kendala ini dapat terjadi apabila sebuah kata atau frasa tidak dapat dijumpai dalam kamus biasa atau bahkan kamus khusus bidang tertentu (Sayadi, 2011). Hal ini

(20)

ditunjukkan dengan begitu banyaknya bentuk neologisme yang muncul dalam social media interface namun tak jarang kata tersebut tidak memiliki padanan dalam bahasa Indonesia. Kata cookie dalam bidang komputer menurut kamus Oxford bermakna A packet of data sent by an Internet server to a browser, which is returned by the browser each time it subsequently accesses the same server, used to identify the user or track their access to the server. Dalam bahasa Indonesia, kata cookie tidak memiliki padanan. Oleh karena itu, umumnya dalam

interface kata ini tidak diterjemahkan dan prosedur penerjemahan yang digunakan penerjemah adalah transference. Namun, dalam Twitter interface kata ini diterjemahkan menjadi kuki sehingga prosedur penerjemahan yang digunakan bukanlah transference melainkan naturalisation.

Selain itu, neologisme dalam social media interface juga diterjemahkan ke dalam beberapa variasi terjemahan dalam bahasa Indonesia. Kata home diterjemahkan dalam beberapa variasi antara lain home, beranda dan halaman utama. Variasi ini menunjukkan bahwa neologisme dalam social media interface belum memiliki padanan yang baku dalam bahasa Indonesia. Variasi lain juga ditemukan pada kata block yang diterjemahkan menjadi memblokir dan mencekal.

Kata mencekal mengandung makna yang berbeda dari makna block yang dimaksud dalam interface. Pergeseran makna tersebut berdasarkan taksonomi Klaudy (2003) masuk ke dalam kategori pergeseran tipe pertama yaitu narrowing of meaning (differentiation and specification) yaitu makna kata dalam BSa mengalami penyempitan menjadi makna yang lebih spesifik dan berbeda dari makna BSu.

(21)

Sehubungan dengan hal di atas, maka peneliti mengkaji lebih dalam prosedur penerjemahan neologisme yang digunakan dan pergeseran yang terjadi dalam social media interface mengingat bahasa Indonesia belum memiliki cukup padanan terkait neologisme social media interface. Di samping itu, penelitian ini juga mengkaji variasi hasil terjemahan neologisme ketika neologisme tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Penelitian ini dilakukan dengan mengaplikasikan tipologi neologisme Newmark (1988) terkait tipe neologisme dan tipe prosedur penerjemahan neologisme serta taksonomi pergeseran makna leksikal Klaudy (2003).

Neologisme terbagi menjadi 12 (dua belas) tipe, prosedur penerjemahan neologisme terbagi menjadi 15 (lima belas) tipe dan pergeseran makna leksikal terdiri dari 10 (sepuluh) kategori pergeseran. Pada tahap akhir, penelitian ini mendeskripsikan faktor penyebab penerjemahan neologisme terjadi sedemikian rupa dengan mengkaitkan hasil penelitian dengan teori dan hasil penelitian sebelumnya.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah neologisme berbahasa Inggris dalam social media interface diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia?

2. Prosedur penerjemahan apa sajakah yang diterapkan dalam menerjemahkan neologisme berbahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia?

3. Bagaimanakah pergeseran makna dalam terjemahan neologisme pada social media interface?

(22)

4. Mengapa penerjemahan neologisme pada social media interface terjadi sedemikian rupa?

1.3 Tujuan Penelitian

Terkait dengan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. mendeskripsikan neologisme berbahasa Inggris dalam social media interface yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia

2. mengidentifikasi prosedur penerjemahan apa saja yang diterapkan dalam menerjemahkan neologisme berbahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia 3. mendeskripsikan pergeseran makna yang ditemukan dalam neologisme

berbahasa Indonesia pada social media interface

4. menjelaskan faktor penyebab penerjemahan neologisme pada social media interface menjadi sedemikian rupa

1.4 Ruang Lingkup Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti membatasi ruang lingkup penelitian sesuai dengan kebutuhan penelitian yaitu:

1. media sosial yang dipilih dibatasi hanya media sosial yang banyak digunakan di kalangan masyarakat Indonesia saat ini antara lain Facebook, Google+, Instagram, Linked-in, Pinterest, Twitter, dan Youtube

2. data neologisme yang ditemukan dari social media interface berbentuk kata maupun frasa

3. data yang termasuk neologisme diambil dari platform interface (tampilan) bukan content (isi) media sosial

(23)

4. penjabaran prosedur penerjemahan dan pergeseran makna leksiskal disesuaikan dengan tipe neologisme dan pergeseran yang ditemukan dalam masing-masing interface

5. deskripsi faktor penyebab penerjemahan neologisme menjadi sedemikian rupa dibatasi dan dikaitkan pada teori penerjemahan neologisme dan hasil penelitian terkait penerjemahan neologisme yang telah dilakukan sebelumnya

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat utama dari penelitian ini adalah untuk memaparkan kepada peneliti dan masyarakat tentang fenomena kebahasaaan (neologisme) di Indonesia yang tidak dapat dihindari sebagai dampak dari perkembangan teknologi informasi yaitu media sosial serta pentingnya prosedur penerjemahan dalam mengatasi kendala penerjemahan terkait neologisme. Secara teoritis, hasil penelitian ini digunakan untuk memperkaya khasanah keilmuan khususnya di bidang terjemahan - dalam hal ini penerjemahan neologisme dalam social media interface.

Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan terkait penerjemahan neologisme dalam bidang teknologi informasi bagi penerjemah dan akademisi yang sedang meneliti atau mempelajari prosedur penerjemahan. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi rujukan atau model bagi penelitian sejenis.

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Terjemahan dan Permasalahannya

Translation berasal dari kata translate dan suffiks -ion. Menurut Cambridge Advance Learner’s Dictionary (2008), translate berarti mengubah kata-kata ke bahasa lain, sedangkan suffiks –ion dalam bahasa Inggris digunakan untuk mengubah kata kerja menjadi kata benda. Menurut English Oxford Living Dictionaries, kata translate berarti mengekspresikan makna kata-kata atau teks ke dalam bahasa lain.

Catford (1965:20) mengatakan bahwa penerjemahan merupakan proses mengganti teks dari satu bahasa ke bahasa lain dengan teks yang sepadan. Nida dan Taber (1982:12) mendefinisikan penerjemahan sebagai kegiatan menghasilkan kembali pesan pada bahasa sasaran dengan sepadan seperti bahasa sumber, pertama dalam hal makna dan kedua dalam hal gaya. Newmark (1988:5) mendefinisikan penerjemahan sebagai proses pemindahan makna suatu teks dari satu bahasa ke bahasa lain sesuai dengan yang dimaksudkan pengarang teks tersebut. Sedangkan Bell (1991:5) mengatakan bahwa penerjemahan adalah proses mengekspresikan kembali dalam bahasa lain (BSa) sesuai dengan apa yang telah disebutkan pada BSu dengan sepadan dalam hal makna dan gaya. Bell (1991:15) juga menjabarkan bahwa penerjemah bilingual merupakan agent yang menangani komunikasi monolingual dari dua bahasa. Penerjemah mengirimkan

(25)

pesan (coded message) dari satu bahasa dan menyampaikan kembali pesan tersebut secara lisan maupun tertulis dalam bahasa lain.

Selanjutnya, Jackobson (1959) membagi penerjemahan ke dalam 3 (tiga) jenis antara lain:

1. Intralingual translation atau rewording yaitu menginterpretasikan tanda- tanda verbal (verbal signs) dengan menggunakan tanda-tanda lain dalam bahasa yang sama. Jenis penerjemahan ini dilakukan apabila kita ingin mengungkapkan sesuatu dengan cara lain baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan parafrase, summarizing, expanding maupun memberikan komentar tentang suatu ungkapan atau teks. Contoh: Can you describe him? - Can you depict him?

2. Interlingual translation atau translation proper yaitu menginterpretasikan tanda-tanda verbal dengan menggunakan bahasa yang berbeda.

Contoh: kata Halo dalam bahasa Indonesia diterjemahkan Hello dan Konichiwa dalam bahasa Inggris dan Jepang.

3. Intersemiotic translation atau transmutation yaitu menginterpretasikan tanda-tanda verbal dengan menggunakan sistem tanda nonverbal. Contoh:

warna merah pada lampu lalu lintas bermakna berhenti.

Penerjemahan merupakan proses yang dinamis dan hasil penerjemahan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penerjemah harus memiliki wawasan yang luas terkait bidang yang akan diterjemahkan sehingga penerjemah mengetahui kata atau frasa baru yang muncul pada bidang tersebut. Seperti yang dikatakan Stein (2002:9) bahwa dunia modern ditandai dengan pertumbuhan sains

(26)

dan teknologi, dan arus pertumbuhan dan penggunaan istilah sains dan teknologi tersebut ke dalam bahasa semakin meningkat. Perubahannya begitu cepat sehingga sulit untuk mengikuti perkembangan itu sendiri dan terutama dalam hal terminologi dan neologisme. Oleh karena itu, untuk mengatasi berbagai masalah dalam proses penerjemahan, pemilihan metode, strategi, teknik, atau prosedur penerjemahan yang tepat menjadi hal yang sangat penting.

2.1.2 Pengertian dan Perkembangan Media Sosial

Media sosial menurut Oxford Living Dictionaries adalah situs dan aplikasi yang membantu penggunanya untuk membuat dan menyebarkan isi atau untuk terlibat dalam kegiatan social networking. Kaplan and Haenlein (2010) mendefinisikan media sosial sebagai kumpulan internet berbasis aplikasi dari web 2.0 yang dibangun berdasarkan pondasi yang bersifat idelogis dan teknologis dan yang menyebabkan pembuatan dan pertukaran isi oleh pengguna. Menurut Dominic (dalam Mworia, 2017), komunikasi online menggunakan teknik khusus yang melibatkan participation, conversation, sharing, collaboration dan linkage.

Partisipasi (participation) adalah ciri utama media sosial dan teknik yang paling mudah dilakukan. Partisipasi ini mencakup memberikan feedback terkait isu atau hal yang disampaikan orang lain secara online baik status, gambar, blog, video dan sebagainya. Percakapan (conversation) dilakukan dengan kolaborasi dua arah dengan difasilitasi oleh aplikasi yang menyediakan fitur percakapan atau chat.

Sharing dilakukan dengan mengunduh (upload) berbagai content oleh pengguna misalnya video pada Youtube. Saat ini sebagian besar media sosial menggunakan sistem linkage (keterikatan) seperti Facebook, Twitter, Instagram, My Space dan

(27)

Google+ yang berarti pengguna mengikatkan diri mereka secara virtual dengan pengguna lain yang siap berkomunikasi berdasarkan relationship mereka.

Kehadiran media sosial saat ini sangat mempermudah komunikasi manusia di seluruh penjuru dunia baik dalam hal pribadi maupun bisnis. Media sosial juga telah banyak memicu pertumbuhan ekonomi dengan memperluas jangkauan pasar dari yang bersifat offline menjadi online. Media sosial juga menjadi wadah penyebaran informasi dan pengetahuan bagi para peneliti maupun masyarakat umum.

Di sisi lain, media sosial juga memberikan dampak negatif kepada penggunanya. Komunikasi tatap muka atau face-to-face communication antar manusia menjadi menurun karena semua interaksi dapat dilakukan via media sosial. Saat ini privasi juga menjadi sangat langka karena setiap orang bebas menyebarkan hal-hal pribadi mereka baik berupa foto, video atau status untuk mencari jumlah follower dan disukai banyak orang.

Media sosial dapat diakses dengan internet baik melalui telepon genggam, komputer, laptop, maupun tablet. Dengan bantuan aplikasi, media sosial menjadi lebih mudah diakses karena pengguna tidak pertlu membuka browser terlebih dahulu untuk mengakses situs media sosial yang diiinginkan.

Media sosial bukanlah hal yang baru lagi di Indonesia. Menurut artikel berjudul Complete History of Social Media: Then and Now yang diunggah pada tahun 2013 pada laman Small Business Trends, virtual newsletter adalah platform media sosial pertama di dunia (1979). Setiap orang dapat berkomunikasi melalui virtual newsletter. Kemudian saat komputer telah banyak digunakan di rumah

(28)

maupun di tempat umum, Internet Relay Chats (IRC) diperkenalkan di tahun 1988 dan terus digunakan sampai tahun 1990-an. Pada era ini, banyak pelajar dan mahasiswa melakukan online chat di rumah mereka masing-masing maupun di warung internet (warnet). Media sosial bernama Six Degrees (1997) adalah media sosial pertama yang menawarkan fitur upload profile dan fitur make friends. Saat blog diperkenalkan (1999), media sosial menjadi semakin populer dan menjamur jumlahnya. Media sosial tersebut antara lain MySpace dan LinkedIn (2000-an), Photobucket dan Flickr (online photo sharing), Friendster (2002), YouTube (2005), Facebook dan Twitter (2006), Tumblr (2007), Foursquare (2009), Instagram dan Pinterest (2010), dan sebagainya.

Pertumbuhan pengguna media sosial di Indonesia pada tahun 2018 mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini dibuktikan dengan data statistik yang dikutip dari Global Digital Suite 2018 yang dipublikasi melalui laman We are social per Januari 2018 berikut ini.

Gambar 2.1 Data statistik pertumbuhan pengguna media sosial di dunia

(29)

Dari statistik di atas terlihat bahwa pengguna media sosial di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 23% yaitu sebesar 24 juta pengguna pada tahun 2018 dan menempatkan Indonesia pada urutan ketiga setelah Cina dan India.

Sedangkan platform media sosial yang memiliki persentasi pengguna terbanyak di Indonesia menurut Indonesia Economic Forum tanggal 23 Maret 2017 antara lain Youtube, Facebook, Instagram, Twitter, Google+, Linked-in, dan Pinterest untuk kategori jejaring sosial sedangkan Whatsapp, FB Massanger, Line, BBM dan Wechat untuk kategori aplikasi pesan (Messenger/Chat App/ VOIP). Data statistik platform media sosial di Indonesia berdasarkan jumlah pengguna dapat dilihat pada gambar 2.2 berikut.

Gambar 2.2 Platform media sosial dengan pengguna terbanyak di Indonesia

2.1.3 Pengertian Interface

Menurut Advance Cambridge Learner’s Dictionary (2008), tampilan atau interface adalah koneksi antara dua buah peralatan elektronik atau antara seseorang dan komputer. Pengoperasian interface melibatkan penggunaan

(30)

perangkat lunak (software), dan perangkat keras (hardware). Software merupakan istilah umum yang merujuk pada kumpulan program komputer, prosedur dan dokumen yang dipakai untuk menyelesaikan sebuah kinerja dalam sistem komputer. Sistem komputer membagi software ke dalam tiga kategori yaitu system software, programming software, dan application software. Sedangkan hardware merujuk pada perangkat (device) fisik yang terhubung pada komputer contohnya hard drive dan mouse. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa social media interface adalah jenis software yang termasuk dalam kategori application software.

Dalam konteks perangkat lunak (software), interface didefinisikan sebagai sarana, medium atau sistem operasi yang digunakan untuk menghubungkan perangkat processor (otak/ pengolah utama dalam sebuah sistem komputer)agar dapat berkomunikasi dengan pengguna (user). Sedangkan dalam konteks perangkat keras (hardware), interface berarti komponen elektronika yang menghubungkan atau mengkomunikasikan processor dengan komponen atau perangkat lain dalam suatu sistem.

Penerjemahan interface merupakan penerjemahan yang dilakukan oleh manusia (human translation) sedangkan penerjemahan isi dari interface dilakukan oleh mesin (machine translation). Hal ini disebabkan karena interface dikontrol langsung oleh sistem sedangkan isi interface dikontrol oleh user dalam hal ini pengguna media sosial.

Maka, dapat disimpulkan bahwa interface dalam aplikasi media sosial merupakan tampilan yang membentuk suatu aplikasi yang mencakup homepage,

(31)

setting, profile dan lain sebagainya. Setiap aplikasi memiliki bentuk tampilan atau interface yang berbeda-beda sesuai kebutuhan dan fungsi aplikasi itu sendiri dan penerjemahannya dilakukan oleh manusia.

Pada konferensi American Translators Association (ATA) ke-58 yang diadakan di Washington pada tahun 2017, dikatakan bahwa cara kerja Machine Translation (MT) melibatkan penggunaan database yang sangat besar dan model alogaritma statistik dalam menerjemahakan satu bahasa ke bahasa lain.

Alogaritma ini digunakan untuk memprediksi kata apa yang cenderung sering muncul ketika dipakai secara bersamaan dengan kata lain. Oleh karena itu, semakin besar database bahasa yang dimiliki oleh software penerjemahan, semakin akurat penerjemahan tersebut.

Teknologi MT telah dikembangkan sejak tahun 1950-an dengan tujuan untuk menciptakan alat penerjemahan universal (universal translation tool).

Namun, para peneliti dan praktisi bahasa menyadari bahwa MT memiliki keterbatasan sehingga MT tidak dapat menggantikan penerjemahan manusia.

Dengan demikian, pengaruh perkembangan teknologi yang tinggi pada MT menyebabkan MT dapat digunakan untuk memfasilitasi dan mempercepat penerjemahan yang dilakukan oleh manusia. MT merupakan akselarator penerjemahan manusia bukanlah pengganti.

2.1.4 Pengertian Neologisme

Istilah Neologisme muncul sekitar tahun 1800-an, kata ini berasal dari bahasa Yunani neo (new) dan logos (word, term, phrase). Neologisme adalah makna baru yang terbentuk dari pembentukan unit leksikal baru atau unit leksikal

(32)

yang sudah ada sebelumnya (Newmark, 1988). Menurut Cabré (dalam Moghadam

& Sedighi, 2012), sebuah unit leksikal dapat dikatakan neologisme apabila unit tersebut muncul akhir-akhir ini, tidak dapat ditemukan dalam kamus, bentuknya tidak stabil (baik secara morfologi, grafik dan fonetik) atau maknanya tidak stabil dan diterima sebagai sebuah unit baru oleh pengguna bahasa. Cabré juga mengatakan bahwa sebuah kata tidak dapat dikategorikan neologisme hanya berdasarkan satu kriteria. Cabré menyatakan bahwa berdasarkan posisinya dalam bahasa secara umum, terdapat dua kelompok neologisme leksikal (lexical neologism), yaitu neologisme leksikal yang muncul pada bahasa umum (true neologism) dan yang muncul dalam bahasa tertentu atau khusus (disebut juga neonyms).

Sebagian lexicographer mengemukakan bahwa terdapat tiga jenis neologisme yang ditemukan dalam kamus maupun corpora: pertama, neologisme yang terbentuk dari penambahan atau kombinasi elemen, khususnya compounding, afiksasi, blending dan acronymization; kedua, neologisme yang terbentuk dari reduksi elemen, yaitu abreviasi, backformation dan shortenings;

dan ketiga, neologisme yang terbentuk karena perubahan makna, pembentukan baru, konversi atau pinjaman (Ahmad, 2000:713). Dalam bidang sains dan teknologi, penggunaan afiksasi menyebabkan perubahan kelas kata. Sebagai contoh, kata react menjadi reaction kemudian dimodifikasi menjadi reactions, reactant dan reactants. Setelah istilah reaction terbentuk, maka semua cabang ilmu dan teknologi membentuk kata serupa antara lain istilah chemical reaction dan nuclear reaction dan dalam bidang politik dikenal istilah reaction of the

(33)

masses and governments. Dalam hal ini, jumlah makna menjadi meningkat sesuai dengan konteks pemakaiannya.

Selanjutnya, Newmark (1988:13) mengatakan bahwa neologisme umumnya terbentuk karena kebutuhan tertentu dan sebagian besar neologisme tersebut biasanya memiliki makna tunggal. Namun, banyak diantara neologisme tersebut juga memberikan makna baru (atau kehilangan makna lamanya).

Pertumbuhan dan perkembangan neologisme disebabkan oleh perkembangan teknologi, media dan ilmu pengetahuan. Kata televideo merupakan kata yang muncul pertama kali sebelum akhirnya mengalami perubahan menjadi video.

Makna televideo mencakup tape, recorder, cassette sementara video hanya terbatas pada rekaman gambar atau film yang memiliki durasi dan dapat ditonton kembali dengan alat pemutar rekaman atau televisi. Maka, dapat dikatakan kata televideo yang saat ini berubah menjadi video mengalami perubahan makna menjadi lebih sempit.

Dengan kata lain, neologisme adalah kata baru dengan makna baru atau kata lama dengan makna baru yang dapat berupa kata, kombinasi kata atau frasa yang tetap (fixed phrases) yang muncul akibat perkembangan kehidupan sosial, budaya, sains dan teknologi.

2.1.5 Klasifikasi Neologisme

Newmark (1988) mengklasifikasikan neologisme menjadi 12 (dua belas) tipe: dua diantaranya merupakan lexical item yang sudah ada sebelumnya namun membentuk makna baru dan sepuluh lainnya merupakan bentuk baru. Berikut adalah tipologi neologisme berdasarkan Newmark (1988):

(34)

Tabel 2.1 Tipe Neologisme berdasarkan Newmark (1988) A. Existing lexical items with new senses

1. Words 2. Collocations B. New Forms

1. New Coinages

2. Derived words (including blends) 3. Abbreviations

4. Collocations 5. Eponyms 6. Phrasal Words

7. Transferred Words (new and old referents) 8. Acronyms (new and old referents)

9. Pseudo-neologisms 10. Internationalisms

A. Existing lexical items with new senses 1. Words

Kata-kata lama dengan makna baru biasanya tidak merujuk pada objek ataupun proses tertentu sehingga jarang bersifat teknis. Sebagai contoh kata refoulement dalam bahasa Inggris menjadi return of refugee dan dapat juga berarti refusal of entry atau deportation sehingga makna kata ini digunakan sesuai dengan konteks. Selain itu, kata gay saat ini telah berubah makna dan digunakan untuk merujuk pada kaum homoseksual. Kata ini cenderung lebih digunakan saat ini dibandingkan kata homosexual karena kata homosexual mengandung kesan negatif.

Maka dapat disimpulkan bahwa kata-kata lama dengan makna baru cenderung bersifat non-kultural dan non-teknikal. Prosedur penerjemahan kata-

(35)

kata ini dilakukan dengan mencari padanan kata yang sudah ada pada BSa atau dengan penjelasan singkat secara fungsional atau deskriptif.

2. Collocations

Cambridge Advanced Learner’s Dictionary Third Edition (2008) mendefinisikan collocation (kolokasi) sebagai sebuah kata atau frasa yang biasanya digunakan secara bersamaan dengan kata atau frasa lain namun keberterimaannya bergantung pada enak atau tidaknya kata tersebut didengar di telinga pemakai asli bahasa tersebut. Sebagai contoh kata hard dipasangkan dengan frost membentuk frasa hard frost. Namun, kata hard tidak dapat diganti dengan kata strong.

Kolokasi lama dengan makna yang baru merupakan jebakan bagi penerjemah karena biasanya kolokasi ini merupakan istilah deskriptif yang kemudian berubah menjadi istilah teknis. Kolokasi lama dengan makna baru dapat bersifat kultural maupun non-kultural. Apabila referent (konsep atau objek yang dirujuk) dapat ditemukan pada BSa, biasanya prosedur penerjemahan dapat langsung dilakukan. Namun, apabila istilah tersebut tidak ada atau penerjemah tidak mengetahuinya, maka prosedur penerjemahan kolokasi tipe ini dilakukan dengan memberikan deskripsi yang sepadan. Contohnya konsep tug of love dapat diterjemahkan secara desfriptif yaitu perebutan hak asuh anak. Kata polisi tidur dalam bahasa Indonesia bermakna bagian permukaan jalan yang ditinggikan secara melintang untuk menghambat laju kendaraan sehingga diterjemahkan menjadi speed bump dalam bahasa Inggris bukanlah sleeping policeman.

(36)

B. New Forms 1. New Coinages

Hipotesis mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang disebut dengan kata baru. Apabila sebuah kata tidak berasal dari morfem, kata biasanya bersifat phonaestetik atau synaestetik. Semua bunyi dan fonem adalah phonaestetik yang berarti memiliki makna. Namun, hipotesis ini tidak sepenuhnya benar karena saat ini telah banyak new coinage yang terbentuk dari nama merk atau pemasaran yang tanpa makna contohnya Xerox, Kodak, Google, Windows, Microsoft, Revlon, dan Aqua. Sejalan dengan perkembangan teknologi dan semakin populernya merk di atas, masing-masing merk tersebut mengandung makna tersendiri atau mendeskripsikan produk yang direpresentasikan. Kata aqua dalam bahasa Indonesia yang merupakan salah satu merk air mineral kemasan, saat ini digunakan untuk merujuk pada semua air mineral kemasan karena frekuensi penggunaan kata ini sangat tinggi di masyarakat. Hal yang sama juga ditemukan pada kata Indomie, Xerox, dan Google. Ketiga kata tersebut tidak dapat diterjemahkan secara harfiah. Penerjemah harus merujuk pada konteks pemakaian kata tersebut sehingga konsep yang dimaksud pada BSu sesuai dengan BSa.

2. Derived words

Derived words adalah kata-kata yang merujuk pada istilah teknis dan ilmiah. Derived words tidak dipengaruhi oleh budaya melainkan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, penerjemah harus mengetahui kata atau istilah apa yang dipakai saat ini. Tipe neologisme ini dapat terbentuk dari proses blending namun penerjemah harus berhati-hati dalam

(37)

menerjemahkannya khususnya istilah yang diciptakan oleh media. Sebagai contoh munculnya kata bionomic menyebabkan munculnya kata bioteknologi sebagai akibat dari gabungan kata ekologi dan ergonomi.

3. Abbreviations

Abbreviations (singkatan) adalah jenis pseu-neulogims yeng merupakan singkatan yang diambil dari sebuah kata atau kata-kata. Sebagai contoh, kata nomophobia adalah singkatan dari no mobile phone phobia yang berarti phobia jika jauh dari handphone, Ref. (reference) dalam surat resmi yang berarti referensi dan Kemenkumham (Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia) dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Minister of Justice and Human Rights.

4. Collocations

Kolokasi tipe ini merupakan kombinasi antara nomina dengan nomina atau adjektiva dengan nomina. Kolokasi pada umumnya ditemukan dalam bidang ilmu sosial dan komputer (Newmark,1988: 145). Contoh kolokasi antara lain money laundry, netbook, notebook (laptop), high-tech industry, e-book, stockholder, dan sebagainya. Apabila kolokasi tidak ditemukan pada BSa maka penerjemah harus menerjemahkannya secara dekriptif. Namun, jika kata tersebut bersifat universal maka penerjemah dapat secara langsung mentransfer kata tersebut. Kata sexual harassment dapat langsung diterjemahkan menjadi pelecehan seksual karena makna ini bersifat universal.

(38)

5. Eponyms

Eponym adalah kata yang berasal dari nama orang atau objek (umumnya merek) tertentu. Kata Hallidayan berasal dari nama Halliday yang berarti pengikut Halliday.

6. Phrasal Words

Frasa yang termasuk ke dalam tipe neologisme dalam bahasa Inggris adalah frasa yang terbentuk dengan mengubah kata kerja menjadi nomina. Contoh phrasal words antara lain kata chek-out, work-out, dan built-in.

7. Transferred words (new and old referents)

Transferred words merupakan kata-kata yang diserap atau diambil dari bahasa tertentu dan mengandung makna yang sesuai dengan konteks. Transferred words juga disebut dengan loan words dan pada umumnya kata ini terbentuk karena pengaruh media dan produk. Contoh kata yang berasal dari merek yaitu Adidas dan Levi’s; dari produk makanan yaitu Pizza; dari jenis olah raga yaitu Kung fu dan Yoga; serta dari jenis profesi dalam bahasa Italia yaitu barista.

8. Acronyms (new and old referents)

Akronim adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata, atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar. Masing- masing huruf merepresentasikan sebuah kata. Sebagai contoh kata LOL singkatan dari Laugh Out Loud yang sering digunakan saat mengirim sms atau email kepada orang lain yang berarti tertawa terbahak-bahak, RAM (istilah komputer) singkatan

(39)

dari Random Access Memory, ATM (Automated Teller Machine) dan PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa).

9. Pseudo-neologisms

Pseudo-neulogism terbentuk ketika sebuah kata umum digunakan untuk mewakili kata yang spesifik atau khusus. Sebagai contoh kata rapports (d’engrenage) - gear ratios (Newmark, 1988:148).

10. Internationalism

Internationalism adalah fenomena kebahasaan yang berupa peminjaman sebuah kata atau kata-kata dari satu bahasa untuk dipakai di beberapa bahasa.

Contoh internationalism antara lain kata kimono, pencak silat, jeans, hotel, panda, bungalow dan sebagainya.

2.1.6 Prosedur Penerjemahan Neologisme

Para ahli penerjemahan membedakan antara pemakaian istilah prosedur, metode dan strategi dalam penerjemahan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan konsep penggunaan ketiga istilah di atas dalam proses penerjemahan.

Nida (1964) menjabarkan bahwa prosedur penerjemahan meliputi technical procedure dan organizational procedure. Technical procedure meliputi kegiatan menganalisis BSu dan BSa, mempelajari dan memahami teks sumber sebelum melakukan penerjemahan serta melakukan analisis semantis dan sitaksis.

Sedangkan organizational procedure meliputi proses evaluasi kembali terhadap penerjemahan yang telah dilakukan dengan membandingkan hasil terjemahan

(40)

dengan terjemahan lain yang telah dilakukan oleh penerjemah lain, memeriksa efektivitas bahasa dengan cara meminta target readers untuk mengevaluasi keakuratan dan keefektifan bahasa.

Newmark (1988) membedakan istilah antara prosedur dan metode penerjemahan. Menurutnya, prosedur penerjemahan berkaitan dengan kalimat atau unit terkecil dari bahasa, sedangkan metode penerjemahan berkaitan dengan seluruh teks atau wacana. Oleh karena itu, metode penerjemahan menurut Newmark berbeda dengan prosedur penerjemahan. Newmark membagi metode penerjemahan menjadi 8 (delapan) yaitu Word-for-Word Translation, Literal Translation, Faithful Translation, Semantic Translation, Adaptation, Free Translation, Idiomatic Translation, dan Communicative Translation sedangkan prosedur penerjemahan dibagi menjadi 15 (lima belas) yaitu Transference, Naturalization, Cultural Equivalent, Functional Equivalent, Descriptive Equivalent, Componential Analysis, Synonymy, Through-Translation, Shifts or Transposition, Modulation, Recognized Translation, Compensation, Paraphrase, Couplets dan Notes.

Strategi penerjemahan menurut Venuti (1998:240) mencakup kegiatan memilih teks yang akan diterjemahkan dan mengembangkan metode untuk menerjemahkannya. Adapun strategi penerjemahan menurut Venuti antara lain domesticating dan foreignizing. Lörscher (dalam Baker & Saldanha, 2009) mendefinisikan strategi penerjemahan sebagai prosedur yang dilakukan untuk memperoleh solusi atas masalah yang dihadapi seseorang ketika menerjemahkan segmen teks dari satu bahasa ke bahasa lain. Sebagai kegiatan mental, strategi

(41)

dalam hal ini tidak dapat diamati walaupun peneliti mungkin menerapkannya melalui berbagai indikator. Istilah strategi juga merujuk pada konsep tekstual dan lebih berfokus pada hasil yang diperoleh dari penerapan prosedur penerjemahan daripada prosedur penerjemahan itu sendiri.

Dari pandangan para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa setiap ahli memiliki pandangan yang berbeda dan saling tumpang tindih. Seperti yang dikatakan oleh Guerra (2012:5) bahwa istilah prosedur, teknik, strategi dan metode sering kali saling terkait (interrelated) dan bersinonim. Prosedur yang diberikan para ahli overlap karena mereka hanya mendaftarkannya berdasarkan bahasanya bukan kegunaannya, mereka berfokus pada hasil penerjemahan bukan proses penerjemahan. Namun sesuai dengan kebutuhan penelitian, peneliti mengacu pada Newmark (1988) sebagai pendekatan penelitian. Hal ini terjadi karena neologisme berfokus pada kata dan frasa bukan kalimat maupun teks secara keseluruhan. Adapun prosedur penerjemahan menurut Newmark (1988) antara lain:

1. Transference (loan word, transcription dan transliteration)

Transference adalah proses penerjemahan makna kata dari BSu ke BSa dimana kata tersebut menjadi loan word. Newmark (p.81) Menurut Newmark, nama objek yang ditemukan dalam BSu, nama penemuan, nama alat (device) dan nama proses harus diterjemahkan ke dalam BSa dengan kreatif. Namun, apabila kata ini merupakan bentuk neologisme yang merupakan nama merek, maka kata ini cukup ditransfer.

(42)

Kata-kata yang mengalami proses transference antara lain nama makhluk hidup, nama geografis dan topografis termasuk nama negara (kecuali negara tersebut sudah memiliki nama terjemahan yang dikenal dan sah), nama media cetak dan surat kabar, judul karya sastra, drama, film, nama perusahaan dan institusi baik swasta maupun pemerintah (kecuali perusaahan tersebut sudah memiliki nama terjemahan yang dikenal dan sah), nama jalan, alamat dan sebagainya (Newmark, 1988:82). Contohnya kata laptop dan modern tidak mengalami perubahan dalam bahasa Indonesia. Dalam novel, cultural words juga pada umumnya tidak diterjemahkan untuk menambah corak budaya lokal dan menarik para pembaca.

2. Naturalization

Naturalization adalah prosedur penerjemahan yang dilakukan dengan mengadopsi kata yang digunakan pada BSu dan mengadaptasikannya ke dalam BSa dengan pelafalan dan bentuk morfologis yang terdengar natural pada BSa.

Sebagai contoh, kata television dan apartment dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi televisi dan apartemen dalam bahasa Indonesia.

3. Cultural Equivalent

Cultural Equivalent merupakan prosedur penerjemahan yang dilakukan dengan mencari padanan budaya BSa dengan budaya yang dikenal dalam BSu.

Apabila budaya tersebut tidak ditemukan dalam budaya sasaran maka dapat diganti dengan budaya yang mendekati. Newmark (1988:83) mengatakan prosedur ini menghasilkan hasil terjemahan yang tidak akurat sehingga hanya dapat digunakan pada teks umum. Contoh budaya play date di Amerika yang

(43)

tidak memiliki padanan budaya yang sama dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan dengan makna yang mendekati yaitu bermain bersama.

4. Functional Equivalent

Functional Equivalent adalah prosedur yang hampir sama dengan cultural word namun prosedur ini dilakukan dengan menerjemahkan istilah budaya dengan istilah lain yang lebih spesifik atau sebaliknya menerjemahkan istilah budaya tersebut dengan istilah lain yang tidak terkait dengan budaya sama sekali. Hal ini menyebabkan BSu menjadi bersifat netral atau umum. Prosedur ini berfokus pada kesepadanan fungsi. Contoh kata cutter diterjemahkan menjadi pisau.

5. Descriptive Equivalent

Prosedur ini dilakukan dengan mendeskripsikan makna kata dengan menggunakan beberapa kata secara deskriptif sehingga pembaca memahami kata BSu tersebut dengan baik. Contoh Harakiri (Jepang) diterjemahkan dengan bunuh diri yang dilakukan oleh petarung Jepang dengan menusuk perut dengan pedang atau pisau.

6. Componential Analysis

Prosedur penerjemahan ini dilakukan dengan membandingkan BSa dengan BSu yang memiliki makna yang mirip atau hampir sama dengan cara memaparkan kesamaan dan perbedaan komponen-komponen maknanya. Umumnya, BSu memiliki makna yang lebih spesifik dari BSa sehingga penerjemah harus menambahkan satu atau dua komponen makna pada BSa agar mencapai kesepadanan atau sedikitnya mendekati makna BSu.

(44)

7. Synonymy

Prosedur ini dilakukan dengan menemukan padanan dalam BSa yang maknanya mendekati makna BSu dalam konteks tertentu walaupun padanan yang paling tepat belum tentu ada. Prosedur ini diterapkan apabila tidak ada padanan ditemukan pada BSa dan kata tersebut tidak begitu penting dalam teks. Prosedur ini ditujukan untuk adjektiva atau keterangan (adverbs of quality). Synonymy juga diterapkan apabila penerjamahan literal tidak mungkin diterapkan. Contoh personne gentile – kind person.

8. Through-Translation

Through-Translation dilakukan dengan menerjemahkan secara literal kolokasi umum, nama organisasi atau frase tertentu. Contohnya penerjemahan nama organisasi internasional dengan kata-kata yang bersifat universal (universal words) dan dikenal oleh Inggris dan Romania yaitu European Cultural Convention- Convention culturelle europeenne. Through-translation hanya dapat diterapkan apabila istilah tersebut telah dikenal atau diterima secara publik.

9. Shifts atau Transposition

Shifts (Catford) atau Transposition (Vinay and Darbelnet) merupakan prosedur penerjemahan yang dilakukan dengan mengubah bentuk gramatikal dari BSu ke BSa. Pengubahan tersebut mencakup: 1) pengubahan bentuk singular menjadi plural atau sebaliknya serta menggeser posisi adjektiva, contohnya a pair of glasses (plural) menjadi sepasang kacamata (singular) dan a nice man menjadi seorang pria yang baik; 2) pengubahan struktur gramatika yang disebabkan oleh

(45)

perbedaan struktur gramatika antara BSu dan BSa, contohnya frasa telah disahkan penggunaannya menjadi its usage has been approved (Hartono, 2009:29); 3) pergeseran yang terjadi karena penerjemahan literal secara gramatikal dapat dilakukan namun bentuk tersebut tidak lazim dalam BSa, contohnya frasa the persuits of happiness menjadi mengejar kebahagiaan; dan 4) penggantian lexical gap dengan struktur gramatikal (Newmark, 1988:85-87), contohnya the man with black coat is my uncle menjadi lelaki yang memakai jas hitam itu adalah pamanku.

10. Modulation

Modulation (istilah yang diperkenalkan oleh Vinay & Darbelnet) terjadi ketika penerjemah menyampaikan makna dari BSu ke BSa sesuai dengan norma BSa, karena kedua teks tersebut memiliki perbedaan dalam hal perspektif.

Modulasi dapat dilakukan dengan mengubah polarity, kalimat aktif ke kalimat pasif dan sebagainya.

11. Recognized Translation

Recognized Translation terjadi ketika penerjemah menggunakan istilah umum atau yang diakui dalam menerjemahkan istilah institusional. Dalam menerjemahkan, penerjemah dapat melakukan prosedur penerjemahan yang dianggap berbeda dengan penerjemahan pada umumnya.

(46)

12. Compensation

Compensation terjadi ketika hilangnya makna dalam satu bagian kalimat baik secara metaphor atau pragmatik, digantikan pada bagian yang lain atau secara berdampingan.

13. Paraphrase

Paraphrase diterapkan dengan menjelaskan makna dari bagian teks BSu.

Prosedur ini bersifat lebih terperinci dibandingkan prosedur Descriptive Equivalent yang dijelaskan sebelumnya dan prosedur ini merujuk pada bagian teks bukan sebuah kata atau frasa.

14. Couplets

Couplets terjadi ketika penerjemah menerapkan dua prosedur penerjemahan yang berbeda secara bersamaan dalam memecahkan masalah dalam penerjemahan. Penerjemah juga dapat menerapkan tiga (triplets) atau empat (quadruplets) prosedur penerjemahan yang telah disebutkan sebelumnya jika diperlukan. Prosedur ini pada umumnya diterapkan untuk kasus cultural words.

15. Notes

Prosedur ini diterapkan dengan penambahan informasi oleh penerjemah yang biasanya terkait budaya (perbedaan budaya BSu dan BSa), istilah teknis (terkait dengan topik), atau linguistik (menjelaskan penggunaan kata yang salah).

Prosedur ini dapat dilakukan apabila diperlukan untuk kepentingan pemahaman pembaca. Notes dapat diberikan dalam berbagai bentuk antara lain di antara teks,

(47)

dalam bentuk catatan kaki, di akhir bab, sebagai catatan atau glossary pada bagian akhir buku.

2.1.7 Pergeseran Makna dalam Penerjemahan

Catford (1965:73) mendefinisikan pergeseran sebagai perpindahan korespondensi formal dari BSa ke BSu. Pergeseran dalam penerjemahan merupakan konsekuensi dari usaha penerjemah untuk mencapai kesepadanan dalam penerjemahan antara dua sistem bahasa yang berbeda (Al-Zoubi & Al- Hassnawi: 2001).

Nida & Taber (1969:105) membagi pergeseran ke dalam dua kelompok yaitu pergeseran bentuk yang disebabkan oleh adaptasi struktural dan pergeseran makna yang disebabkan oleh adaptasi semantis. Pergeseran makna yang umum ditemukan dalam proses transfer adalah modifikasi yang melibatkan specific meaning (makna khusus atau spesifik) dan generic meaning (makna umum).

Pergeseran ini dapat bergerak dari umum ke khusus atau sebaliknya.

Dalam Semantik pergeseran makna disebut juga dengan semantic change (perubahan makna) yang merujuk pada semua perubahan makna kata dalam kurun waktu tertentu. Semantic change juga dikenal dengan semantic shift, lexical change, dan semantic progression. Baker (1998) mendefinisikan pergeseran sebagai perubahan makna antara bahasa sumber dan bahasa sasaran. Pergeseran (shift) dapat dipastikan terjadi dalam proses penerjemahan karena setiap bahasa memiliki sistem bahasa yang berbeda. Oleh karena itu, pergeseran dapat juga terjadi pada penerjemahan neologisme interface.

(48)

Terkait pergeseran makna, Nida (1975) menyatakan tiga pergeseran (shift) dalam proses penerjemahan yaitu 1) Penambahan informasi (gain of information);

2) Penghilangan informasi (loss of information); dan 3) Perubahan informasi (skewing of information). Penambahan informasi (gain of information) adalah informasi yang tidak ditemukan dalam bahasa sumber namun informasi itu ditambahkan dalam bahasa sasaran. Penghilangan informasi (loss of information) dapat dilakukan apabila makna yang ditunjukkan oleh kata atau ekspresi tertentu itu tidak cukup penting dalam penyusunan bacaan dan justru menganggu pembaca dengan penjelasan yang panjang, maka penerjemah dapat menerapkan penghilangan (omission). Hal itu dilakukan penerjemah dengan tujuan untuk mengurangi pelesapan dan kekakuan sedangkan perubahan informasi (skewing of information) adalah penerjemahan kata kata dalam bahasa sumber yang tidak sepadan dengan bahasa sasaran.

Klaudy (dalam Bànhegyi, 2012) menggunakan istilah transfer operation untuk menggambarkan perubahan atau pergeseran yang terjadi dalam penerjemahan. Ia mengatakan bahwa transfer operation melibatkan penggantian (replacement) unit leksikal dari BSu ketika diterjemahkan ke dalam BSa, membangun kembali (restructing) kalimat, perubahan (changing) susunan kata serta penghilangan (omission) dan penambahan (addition) elemen gramatikal dan/

atau leksikal dalam BSa. Klaudy (dalam Bánhegyi, 2012) mendefinisikan pergeseran dengan mengaitkannya dengan istilah transfer operation yang terdiri atas dua tipe yaitu lexical operation dan grammatical operation. Kedua tipe transfer operation ini digunakan bergantung pada ruang lingkupnya (scope of operation). Pada bab ini, pergeseran makna dianalisis dengan menggunakan

(49)

pendekatan Klaudy dari segi lexical operation. Hal ini disebabkan karena neologisme merupakan bentuk leksikal dan maknanya dapat dikaji dari segi makna leksikal bukanlah gramatikal.

Dari segi lexical operation, analisis pergeseran makna Klaudy dibagi ke dalam 10 (sepuluh) kategori pergeseran antara lain narrowing of meaning (differentiation and specification), broading of meaning (generalization), contraction of meaning, distribution of meaning, omission of meaning, addition of meaning, exchange of meaning, antonymous translation, total translation dan compensation.

2.2 Penelitian Terdahulu yang Relevan

Penelitian terkait neologisme telah banyak dilakukan khususnya oleh para peneliti Iran. Housyar dan Karimnia (2013) dalam artikel mereka meneliti strategi yang digunakan oleh penerjemah Iran dalam menerjemahkan neologisme yang ditemukan dalam bidang akademis dari bahasa Inggris ke bahasa Persia. Dalam penelitian ini, sejumlah kata diseleksi secara random dan neologisme yang ditemukan diklasifikasikan berdasarkan tipologi neologisme Newmark (1988).

Setiap neologisme selanjutnya dibandingkan dengan padanannya dalam bahasa Persia dengan menggunakan model penerjemahan Newmark. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerjemahan literal adalah strategi penerjemahan yang paling banyak digunakan oleh penerjemah sedangkan borrowing adalah strategi yang paling sedikit digunakan. Mereka menyimpulkan bahwa strategi penerjemahan neologisme ini dapat diaplikasikan dalam menerjemahkan neologisme terkait bidang akademis dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Persia.

(50)

Selanjutnya, Liu (2014) dalam artikelnya meneliti penerjemahan neologisme berbahasa Inggris ke dalam bahasa Cina dalam bidang teknologi perminyakan (petroleum engineering). Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki ciri terminologi petroleum English untuk menemukan strategi penerjemahan yang digunakan oleh penerjemah yang diharapkan dapat menjadi strategi standar penerjemahan yang digunakan khususnya terkait penerjemahan neologisme berbahasa Inggris ke bahasa Cina. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa petroleum English memiliki ciri keunikan berupa penggunaan kalimat deklaratif, kalimat pasif dan kalimat yang panjang. Penelitian ini juga menemukan bahwa adaptasi dalam penerjemahan contohnya penggunaan metode penerjemahan cutting, conversing, splitting, adding dan ellipsis baik digunakan untuk menciptakan hasil penerjemahan yang akurat mengingat adanya perbedaan sistem dan struktur bahasa antara bahasa Inggris dan bahasa Cina. Selain itu, untuk mendapatkan hasil terjemahan yang akurat, penerjemah diharuskan untuk menyesuaikan gaya dan fungi teks BSu ke BSa serta memiliki pengetahuan yang baik tentang Petroleum English dan perkembangannya yang dinamis.

Mworia (2015) dalam tesisnya meneliti penggunaan neologisme yang digunakan oleh pengguna Twitter di Kenya. Penelitian ini mengkaji bagaimana neologisme yang dipakai dalam media sosial (Twitter) terpisah dari bahasa Inggris standar yang digunakan, keefektifan neologisme dalam komunikasi media sosial serta faktor yang mempengaruhi produksi dan penggunaan neologisme dalam media sosial. Data penelitian ini berjumlah 30 (tiga puluh) neologisme beserta maknanya yang masing-masing terdiri dari 6 (enam) nomina, verba, adjektiva, adverbia, dan interjeksi. Penelitian ini menggunakan teori lexical pragmatics yang

Gambar

Gambar 2.1 Data statistik pertumbuhan pengguna media sosial di dunia
Gambar 2.2 Platform media sosial dengan pengguna terbanyak di Indonesia
Gambar 2.3 Kerangka Pikir Penelitian
Gambar 3.1 Komponen Analisis Data: Model Interaktif
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh pemeriksaan pajak terhadap kepatuhan material Wajib Pajak PPh Badan setelah dilakukan analisis menggunakan software SPSS version 17.0 diperoleh hasil

Untuk melaksanakan tugas tersebut Kota Administrasi menyelenggarakan fungsi: penyusunan dan pelaksanaan rencana kerja dan anggaran kota

pemberian ASI eksklusif 6 bulan pada bayi usia 6-12 bulan di Desa Kemantren Kecamatan Jabung Kabupaten Malang menunjukkan bahwa status pekerjaan tidak

Maka artinya Ho ditolak dan dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan (korelasi) yang signifikan antara variabel kepribadian (X1), motivasi (X2), pendidikan (X3) dan keluarga

Jika Helaian Data Keselamatan kami telah diberikan kepada anda bersama bekalan Asal bukan HP yang diisi semula, dihasilkan semula, serasi atau lain, sila berhati-hati bahawa

Dalam kesempatan ini penulis hanya akan mengulas bagian kecil dari makna kontekstual yang terkandung gamelan Jawa yakni makna filosofis yang berkaitan dengan gugon tuhon..

Pengukuran kedalaman di perairan pantai Pongkar dilakukan pada saat pasang dan surut dengan jarak setiap sub stasiun 50 m mulai dari garis pantai hingga 150 m ke arah laut..