2.7.1. Penelitian sedimentasi waduk di Waduk Bili-Bili
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan berkaitan dengan masalah sedimentasi di Waduk Bili-Bili dilakukan dengan berbagai tujuan yang berbeda. Fadiah (2006) telah menguraikan besarnya sedimentasi yang terjadi di waduk Bili-Bili ternyata lebih banyak disebabkan oleh erosi lahan yaitu 42,3% (14,09 ton/ha/tahun) dari erosi lahan yang terjadi pada lahan tegalan sebesar 33,32 ton/ha/tahun (klasifikasi TBE sangat berat). Menurut Lubis dan Syafiuddin (1992) bahwa lahan tegalan diluar kawasan hutan DAS Jeneberang Hulu telah mencapai gejala kritis karena tingkat erosi di wilayah DAS tersebut melebihi tingkat erosi yang diizinkan. Oleh karena itu diperlukan tindakan konservasi lahan baik secara mekanik maupun secara vegetatif pada lahan tegalan secara kontinyu untuk menahan kehilangan tanah yang terjadi.
Selain akibat erosi lahan, sedimentasi waduk juga disebabkan oleh longsoran dinding kaldera di hulu DAS Jeneberang. Hardjosuwarno dan Soewarno (2008) mengemukakan bahwa laju sedimentasi waduk akibat aliran debris pada Waduk Bili-Bili sebesar 9,24 juta m3/tahun adalah aliran debris yang berasal dari produksi aktifitas vulkanik (longsoran) dan peningkatan kapasitas penampungan dari kapasitas rencana tidak dapat dilakukan sehingga penanganan sedimentasi hanya untuk mempertahankan kapasitas yang ada. Namun demikian, Binga (2006) telah menganalisis bahwa pengendalian sedimen akibat longsoran tersebut dapat dilakukan dengan berbagai variasi jumlah dan ukuran bangunan check-dam. Adapun aspek teknis yang dikendalikan termasuk jumlah sedimen transpor, kecepatan aliran sedimen dan proses degradasi dan agradasi.
Dari segi kelembagaan dan potensi pemanfaatan sumberdaya air di DAS Jeneberang, Sylviani dan Elvida (2006) menguraikan bahwa potensi sumberdaya air di Kab. Gowa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dari sumber mata air di dalam kawasan hutan lindung dan dari sungai Jeneberang melalui Waduk Bili-Bili. Pengelolaannya melibatkan berbagai stakeholders antara lain: Dinas PU dan Pengairan Kabupaten, BPDAS, UPTD BPSDA dan PDAM. Terdapat pula kelembagaan masyarakat lokal untuk menjaga kelestarian hutan yang dilakukan oleh kelompok tani sebelum mengajukan perijinan air terutama untuk irigasi. Kemudian, Supratman dan Yudilastiantoro (2001) mengemukakan bahwa adanya kecenderungan yang terjadi pada DAS Jeneberang dan aspek sosial ekonomi masyaarakat wilayah hulu DAS Jeneberang menyebabkan perlunya dibangun sistem kelembagaan perencanaan dan pengelolaan DAS yang terinterkoneksi.
2.7.2. Penelitian sedimentasi waduk di wilayah lain
Beberapa penelitian mengenai sedimentasi waduk dan penanganannya juga telah dilakukan di berbagai wilayah lain. Sudarto (2005) membuktikan bahwa ada pengaruh perubahan tataguna lahan terhadap tingkat erosi daerah tangkapan hujan dan pendangkalan di Waduk Way Rarem. Adapun Anton, et al.
(2002) dengan membandingkan peta topografi lama (tahun 1774, 1840, 1930 dan 1990) menemukan bahwa adanya perubahan tataguna lahan dan karakateristik biofik lahan disebabkan oleh adanya keputusan peraturan yang digunakan untuk mengkonversi wilayah hutan. Kemudian, Laoh (2002) menyebutkan adanya
keterkaitan antara faktor fisik, sosial ekonomi dan tataguna lahan di daerah tangkapan air dengan erosi dan sedimentasi Danau Tondano, Sulawesi Utara.
Sedimentasi di waduk yang disebabkan oleh erosi lahan dan longsoran dapat dikendalikan dengan berbagai kombinasi pengendalian. Achmad (2006) telah melakuan kajian pengendalian sedimen Waduk Panglima Besar Soedirman dengan teknologi Sabo. Pengendalian erosi tanah dilakukan dengan merubah pembuatan teras yang model lama ke bentuk teras bangku, tanpa tanaman atau pohon di bagian pembatasnya. Konservasi tanah sama baiknya dengan kombinasi antara pembuatan Sabo Dam dengan penambangan pasir dapat meningkatkan umur operasional waduk dari 34 tahun menjadi 39 tahun. Sedangkan jika dikombinasikan antara konservasi lahan dengan Sabo Dam maka umur operasional waduk menjadi 47 tahun. Adapun Sardi (2008) telah melakukan kajian penanganan sedimentasi dengan waduk penampung sedimen pada bendungan serbaguna Wonogiri. Dengan pengoperasian waduk penampung sedimen dapat menurunkan deposisi netto yang terjadi pada waduk sebesar 30,41% dibandingkan dengan kondisi sebelum ada waduk penampung tersebut.
Selanjutnya, peningkatan efektifitas mitigasi dari check-dam terhadap aliran debris telah dilakukan oleh Osti and Egashira (2008). Hasil penelitian menunjukkan metode pendekatan untuk memprediksi karakteristik aliran debris, dan pengusulan teknik untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektifitas mitigasi dari check-dam terhadap aliran debris di gunung yang curam. Diharapkan pula dapat membantu untuk memutuskan mana kombinasi terbaik dari check-dam yang bersama-sama akan cocok untuk mengendalikan secara optimal aliran debris dan sumberdaya yang ada di wilayah perairan sungai.
Dari segi penerapan kebijakan pengelolaan DAS, Hasibuan (2005) telah melakukan penelitian mengenai pengembangan kebijakan pengelolan DAS bagian Hulu untuk efektifitas waduk yang berlokasi di DAS Citarum untuk efektifitas waduk Saguling Propinsi Jawa Barat. Disimpulkan bahwa kebijakan saat ini belum memformulasi kebijakan dalam keterpaduan berbagai keputusan dan peraturan perundangan untuk dapat bersinergi satu sama lain. Tetapi malah menimbulkan konflik kepentingan dan melahirkan berbagai persoalan yang dapat menurunkan kualitas lingkungan. Persepsi stakeholders juga menunjukkan bahwa
aktifitas pemanfaatan ruang belum mengarah pada perpaduan penerapan kebijakan secara konsisten yang didukung dengan penegakan hukum. Akhirnya dirumuskan strategi pengembangan kebijakan pengelolaan DAS menggunakan tiga pilar kebijakan yang terintegrasi, yaitu: satu manajemen DAS terpadu yang diaktualisasikan dalam kelembagaan; kawasan lindung, diaktualisasikan dalam ekosistem; dan fungsi kawasan DAS didukung oleh sosial ekonomi.
Ismail (2007) melakukan penelitian mengenai penilaian ekonomi dan kebijakan pengelolaan lingkungan waduk dalam pembangunan di Waduk Ir. H. Juanda Kabupaten Purwakarta menyimpulkan bahwa program kebijakan pengelolaan waduk dalam program jangka pendek adalah tidak memberikan ijin pembuatan Keramba Jaring Apung; revitalisasi penerapan aturan yang berlaku; penebaran ikan pemanfaat limbah dan perbaikan saluran irigasi. Kemudian dengan program jangka panjang yang utama adalah meningkatkan transparansi dalam mekanisme kerja dan pengawasan antara petugas lapangan dan masyarakat petani sawah/ikan dan meningkatkan kerjasama antar lembaga terkait dalam pemanfaatan sumberdaya di era otonomi daerah.
2.7.3. Penelitian sedimentasi waduk dengan menggunakan Model
Penerapan berbagai model juga telah dilakukan untuk meneliti masalah sedimentasi waduk. Abdulah et al. (2003) dengan menggunakan simulasi model tata guna lahan menggunakan GIS mengemukakan bahwa waduk Bili-Bili tanpa melakukan konservasi menghasilkan sedimentasi sebesar 1473,04 m3/km2/tahun. Adapun jika menggunakan konservasi dengan skenario seperti reforestation pada kemiringan lahan >40% dan lahan yang belum ditanami maka sedimentasi dapat dikurangi menjadi 1022,72 m3/km2/tahun. Kemudian, Munir, A. et al. (2005) dengan menggunakan model WBCVE-SIG menyebutkan bahwa dengan pengelolaan secara kolaborasi daerah tangkapan hujan terutama pada daerah tangkapan hujan yang dikuasai oleh lebih dari satu otonomi kabupaten, dapat meminimalkan laju sedimentasi pada waduk.
Suhartanto (2005) melakukan pendugaan erosi, sedimen dan limpasan berbasis model WEPP dan SIG di sub-das Ciriung, DAS Cindanau. Dari model tersebut diperoleh bahwa pengendalian erosi, sedimen dan limpasan dapat dilakukan dengan mencegah bertambahnya luas ladang dari hilir ke hulu sub-das
Ciriung. Terdapat 8 Ha lahan yang sebaiknya tidak dikembangkan untuk pertanian karena merupakan sumber terbesar dari erosi dan sedimen.
Sukresno et al. (2002) dengan penerapan model ANSWERS melakukan pendugaan erosi-sedimentasi di Sub DAS Keduang Wonogiri. kemudian, Boix-Fayos et al (2008) telah meneliti mengenai dampak perubahan tataguna lahan dan check-dam terhadap hasil tampungan sedimen. dengan penerapan model erosi WATEM-SEDEM menggunakan 6 skenario tataguna lahan: tataguna lahan dari tahun 1956, 1981 dan 1997 dengan dan tanpa bangunan check-dam. Aplikasi model menunjukkan bahwa skenario tanpa check-dam, perubahan tataguna lahan antara tahun 1956 dan 1997 menyebabkan hasil sedimen berkurang secara nyata 54%. Pada skenario tanpa adanya perubahan tataguna lahan tetapi menggunakan check-dam, hasil sedimen 77% tertahan di belakang dam. Check-dam dapat menjadi pengendali sedimen yang efisien, tetapi dampaknya jangka pendek. Ada dampak lain yang ditimbulkan, seperti menyebabkan erosi saluran di bagian hilir. Walaupun juga menimbulkan dampak lain, perubahan tataguna lahan dapat mengakibatkan pengaruh jangka panjang terhadap jumlah sedimen.
2.7.4. Posisi Strategis dan Kebaruan Penelitian
Membangun model pengendalian sedimentasi waduk akibat erosi lahan dan longsoran terutama diarahkan untuk efektifitas pola pengendalian bangunan pengendali sedimen. Penerapan model pengendalian sedimentasi waduk terutama dilakukan untuk mengendalikan sedimen akibat longsoran kaldera yang mengancam keberadaan waduk multi guna dan memiliki fungsi yang sangat vital bagi Kab. Gowa dan kota Makassar sebagai ibukota Propinsi Sulawesi Selatan.
Penelitian terkait dengan erosi lahan dan longsoran pada suatu DAS telah banyak dilakukan. Demikian pula penelitian mengenai sedimentasi waduk yang diakibatkan oleh limbah dan pencemaran yang ditimbulkannya serta upaya pengendalian sedimennya. Kajian yang banyak dilakukan juga terutama untuk pengelolaan waduk dan kebijakan dalam mengatasi konflik kepentingan yang terjadi. Terkait dengan upaya pengendalian sedimentasi waduk yang diakibatkan oleh sedimen yang berasal dari aliran debris dan erosi lahan, saat ini masih sedikit yang melakukannya. Posisi strategis penelitian yang dilakukan dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Posisi Strategis Penelitian Yang Dilakukan
Nama
Topik Kajian Penelitian waduk dengan Aspek kajian Erosi lahan, longsoran Sedimen-tasi waduk Bangunan pengendali sedimen Sosial ekonomi Model Fadiah (2006), Saida (2011) √
Lubis, R. dan Syafiuddin (1992) √
Hardjosuwarno dan Soewarno (2008) √
Binga (2006) √ √
Sylviani dan Elvida (2006) √
Supratman dan C. Yudilastiantoro (2001) √
Sudarto (2005), Anton et al. (2002) √
Laoh, O.E.H. (2002) √ √
Achmad, F.B. (2006) √
Osti R. and Shinji Egashira (2008) √ √
Hasibuan (2005) dan Ismail (2007) √
Abdulah et al. (2003), Suhartanto, E.
(2005), Sukresno et al. (2002) √ √
Boix-Fayos et al. (2008) √ √
Penelitian yang dilakukan √ √ √ √ √
Konsep yang menjadi rujukan dalam penelitian ini adalah konsep yang berhubungan dengan pola pengendalian bangunan pengendali sedimen dan strategi pengendalian sedimentasi waduk yang mampu mempertahankan kapasitas waduk dalam rangka keberlanjutan waduk. Simulasi dan modifikasi model dapat dilakukan untuk menemukan pola pengendalian sedimen yang efektif. Hasil penelitian yang dibutuhkan dalam upaya pengendalian sedimentasi waduk adalah penelitian yang membahas tentang strategi pengendalian sedimen yang berorientasi untuk pencapaian keberlanjutan waduk.
Dalam mendisain model pengendalian sedimentasi waduk yang bersumber dari erosi lahan dan longsoran memiliki dua kebaruan, yaitu:
1. kebaruan dari segi kajian yang menggunakan pendekatan sistem yang terpadu dengan menggunakan model dinamis, menggunakan teknik hard system methodology (kapasitas waduk, erosi dan beban sedimentasi) dan teknik soft system methodology
2. kebaruan dari segi luaran berupa rancangan pola pengendalian sedimentasi waduk dengan mengutamakan mekanisme dan koordinasi antara pengelola waduk, masyarakat sekitar waduk dan masyarakat di hulu waduk.