• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian yang Relevan

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 23-31)

Penelitian yang mengkaji hubungan status gizi, zat goitrogenik, asupan dan garam beriodium dengan kadar ekskresi iodium urin pada anak Sekolah Dasar, menurut sepengetahuan penulis belum pernah dilakukan di Indonesia. Namun demikian terdapat beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini, antara lain sebagai berikut:

1. Panjaitan (2008) melakukan penelitian tentang Pengaruh karakteristik ibu dan pola konsumsi pangan keluarga terhadap status GAKI anak SD di Kabupaten Dairi tahun 2007. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh karakteristik ibu dan pola konsumsi pangan keluarga terhadap status GAKI anak SD di Kabupaten Dairi.

Metode penelitian survei dengan pendekatan explanatory dengan hasil penelitian : a. Variabel karakteristik ibu sebanyak 54,5% mempunyai tingkat pendidikan

sedang, 78,8 % bekerja, 52,6 % berpendapatan rata-rata diatas Upah Minimum Regional, 60,3 % jumlah tanggungan rata-rata 2-4 orang.

b. Seluruh responden (100%) mengkonsumsi nasi 2x/hari sebagai makanan pokok, 64,1 % mengkonsumsi ubi 1x/hari sumber goitrogenik, 60,9 % kualitas garam tidak memenuhi syarat dan 62,8 % tidak pernah mendapatkan suplemen makanan.

c. Variabel karakteristik ibu yang berpengaruh terhadap status GAKI anak SD meliputi pendidikan (p=0,006), pekerjaan (p=0,001), pengetahuan (p=0,027), pendapatan keluarga (p=0,000), dan jumlah anggota keluarga (p=0,000).

d. Variabel pola konsumsi pangan keluarga yang berpengaruh terhadap status GAKI anak SD adalah konsumsi makanan pokok (p=0.000), konsumsi sumber iodium (p=0,046), konsumsi sumber goitrogenik (p=0,000), kualitas garam (p=0,037) dan suplemen makanan (p=0,020)

commit to user

2. Delima, Sudargo (2007) melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian GAKI di daerah pegunungan kapur Wonogiri, Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan GAKI pada anak usia sekolah di daerah pegunungan kapur di kecamatan Kismantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan rancangan penelitian studi cross sectional dengan hasil penelitian sebagai berikut :

a. Kandungan iodium tanah rata-rata 2,59 ppm dan kandungan iodium air rata-rata 2,7 ppb.

b. Hasil analisis regresi dari F test menunjukkan variabel anemia, pola konsumsi zat goitrogenik, protein, iodium, status gizi dan status infeksi bersama-sama berhubungan dengan kejadian GAKI (p < 0,05) dengan R2 0,483.

c. Berdasarkan uji t-test hanya status gizi dan anemia yang berhubungan terhadap status GAKI (p =< 0,05)

3. Shakya, Gelal, Kumar, Lamsal, Kumar, Kumar, Brodie, Shankar and Nirmal Baral (2015), melakukan penelitian tentang Urinary iodine excretion and thyroid function status in school age children of hilly and plain regions of Eastern Nepal.BMC Res Notes (2015) 8:374 DOI 10.1186/s13104-015-1359-6. Tujuan untuk mengetahui hubungan UIE, status fungsi tiroid pada anak sekolah dasar dan kualitas garam rumah tangga. Metode penelitian ini adalah studi cross sectional berbasis masyarakat dengan hasil penelitian :

a. Di Kabupaten Tehrathum dan Morang, 9,5 % dan 7,7% pada anak sekolah (SAC) memiliki nilai UIE <100 mg / L sedangkan 59,5 % dan 41% memiliki nilai gizi iodium > 299 mg / L, dengan median UIE masing-masing 345,65 mg/L dan 270,36 mg / L.

b. Median keseluruhan adalah sebagai berikut, Tg 14,29 mg / L, ft3 3,94 pmol / L, FT4 16,25 pmol / L dan TSH 3,61 mIU / L.

c. Ada korelasi negatif antara UIE dan Tg (r = -0,236, p = 0,003) dan korelasi positif antara UIE dan SIC (r = 0,349, p <0,0001).

d. Ditemukan 19,5%, n = 15 dan 16,7%, n = 13 kasus hipotiroid subklinis di Morang dan Tehrathum.

commit to user

e. Hasil Iodometri titrasi menunjukkan hanya 6,4% (n = 41) dari sampel garam beriodium di tinggat rumah tangga (SIC) <15 ppm.

f. Analisis multivariat mengungkapkan bahwa penggunaan garam beriodium di Kabupaten Tehrathum berkorelasi dengan UIE lebih tinggi.

3. Sarah, Bath, Combet, Scully, Zimmermann, Katharine, Hampshire, Rayman (2015), melakukan penelitian tentang A multi-centre pilot study of iodine status in UK schoolchildren, aged 8–10 years. Eur J Nutr DOI 10.1007/s00394-015-1014-y Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai status iodium pada anak sekolah dasar di Inggris. Metode penelitian ini adalah studi cross sectional dengan hasil penelitian : a. Sebanyak 165 urin sampel, Median konsentrasi iodium adalah 161 mg / L pada

sampel musim dingin (n = 134) dan 127 mg / L di sampel musim panas (n = 31).

Median konsentrasi iodium seluruh kelompok adalah 144 mg / L, untuk proporsi yang tidak sama dari sampel dari dua musim.

b. Anak-anak pada waktu musim panas di klasifikasikan mempunyai iodium cukup menurut Kriteria WHO ( 100-199 mg / L ).

c. Susu merupakan asupan yang positif terkait dengan status iodium.

4. Aburto, Abudou, Candeias, Wu (2014), melakukan penellitian tentang Effect and safety of salt iodization to prevent iodine deficiencydisorders: a systematic review with meta-analyses. WHO 2014, Library Cataloging-in-Publication Data. ISBN 978 92 4 150828 5 (NML Calssifixcation: QV 2823). Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai efek dan keamanan konsumsi garam beriodium dalam pencegahan gangguan kekurangan iodium. Metode penilaian studi adalah acak terkontrol (RCT), non-RCT, quasiexperimental, kohort, dan studi cross-sectional dengan hasil penelitian :

a. Garam beriodium secara signifikan mengurangi risiko gondok (non-RCT RR = 0,59 [95% CI = 0,36-0,95]; kohort RR = 0,30 [95% CI = 0,23-0,41]; beberapa PR penampang = 0,18 [95% CI = 0,14-0,22]), kretinisme (multiple cross-sectional OR = 0,13 [95% CI = 0,08-0,20]), kecerdasan rendah (quasi experimental RR = 0,28 [95% CI = 0,21-0,36]; beberapa PR penampang = 0,24 [95% CI = 0,07 untuk 0.82]), dan ekskresi rendah iodium urin (multiple PR penampang = 0,45 [95% CI = 0,34-0,59]).

b. Garam beriodium meningkat secara signifikan intelligence quotient (quasi-eksperimental MD = 8 ∙ 18 [95% CI = 6 ∙ 71-9 ∙ 65]; beberapa MD penampang =

commit to user

10,45 [95% CI = 4 ∙ 79-16 ∙ 11]) dan iodium urin ekskresi (kohort MD = 59,22 [95% CI = 50,40-68,04]; beberapa MD penampang = 72 ∙ 35 [95% CI = 44 ∙ 54-100,17]).

c. Hasil mengenai efek negatif dari hipotiroidisme menunjukkan tidak ada hubungan (kohort OR = 1,14 [95% CI = 0,84-1,53]; beberapa cross-sectional OR = 1,13 [95% CI = 0,94-1,36]),

d. Hipertiroidisme tidak konsisten dan tergantung pada studi desain (kohort OR = 1,36 [95% CI = 1,12-1,66]; beberapa cross-sectional OR = 0,96 [95% CI = 0,92 1,00]).

e. Garam beriodium memiliki dampak yang besar pada pengurangan risiko gondok, kretinisme, fungsi kognitif rendah dan kekurangan iodium.

f. Pemantauan yang kuat tentang iodisasi garam merupakan program yang penting, guna memastikan tingkat yang aman dan efektif untuk konsumsi iodium, karena negara melaksanakan program untuk mengurangi asupan garam populasi.

5. Yadav, Kumar, Chakrabarty, Pandav (2015), melakukan penelitian tentang A Reliable and Accurate Portable Device for Rapid Quantitative Estimation of Iodine Content in Different Types of Edible Salt. Indian J Public Health 2015;59:204-9 Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai perangkat portabel baru yaitu iCheck yang digunakan untuk memperkirakan kandungan iodium dalam garam. Metode penelitian yaitu validasi perangkat yang dilakukan di laboratorium, dengan hasil penelitian : iCheck Iodium merupakan perangkat handal dan menyediakan metode yang valid untuk estimasi kuantitatif kandungan iodium garam beriodium dalam berbagai jenis garam.

6. Andersson, Karumbunathan, and Zimmermann (2011), melakukan penelitian tentang Global Iodine Status in 2011 and Trends over the Past Decade 1–3. The Journal of Nutrition Epidemiology J. Nutr. 142: 744-750, 2012. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai secara global status iodium regional tahun 2011 dan membandingkannya dengan status iodium WHO tahun 2003 dan 2007. Metode penelitian ini adalah survei konsentrasi iodium urine (UIC) pada anak usia sekolah (SAC) dengan hasil penelitian :

a. Jumlah negara yang kekurangan iodium menurun 54-32 dan sejumlah negara dengan asupan iodium yang cukup meningkat dari 67 ke 105. Secara global,

commit to user

29,8% (95% CI = 29,4, 30,1) Anak Usia Sekolah/SAC (241 juta) diperkirakan memiliki cukup intake iodium.

b. Asia Tenggara memiliki jumlah terbesar Anak Usia Sekolah/SAC dengan intake iodium rendah (76 juta) dan sedikit kemajuan di Afrika, di mana 39% (58 juta) memiliki asupan iodium tidak mencukupi.

c. Intervensi program harus diperpanjang untuk mencapai hampir sepertiga dari populasi global yang masih memiliki iodium tidak mencukupi.

7. Omar, Desouky (2015), Environmental, urinary iodine status and prevalence of goitre among schoolchildren in a high altitude area of Saudi Arabia, Pak J Med Sci 2015;31(2):414-419. Tujuan penelitian ini adalah menilai kekurangan yodium, prevalensi gondok antara sekolah dan mengukur yodium lingkungan di kota Taif, Arab Saudi. Metode: Sebuah multistage metodologi cross-sectional cluster sampling yang dilakukan pada 1887 anak sekolah dengan hasil penelitian :

a. Prevalensi gondok adalah 7,4% dan 71% sampel memiliki UIC kurang dari 100 μg/L, menunjukkan hubungan terbalik antara median UIC median dan prevalensi persen gondok.

b. Hasil pemeriksaan T3, T4 dan TSH yaitu 1.05 μg/dL, 6.81 μg/dL, dan 5.69 mIU/L menunjukkan korelasi positif yang signifikan antara nilai rata-rata iodium urin dan nilai rata-rata dari kedua T3 dan T4.

c. Korelasi negatif yang signifikan antara nilai rata iodium urin dan nilai rata-rata dari TSH

8. Irawati, Hadi, Widodo (2011). Tingkat konsumsi garam beryodium dan kaitannya dengan gangguan akibat kekurangan yodium ibu hamil, Jurnal Gizi Klinik Indonesia 2011,VIII(1). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat konsumsi garam beriodium ibu hamil dalam rumah tangga dan kaitannya dengan status GAKI ibu hamil. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan cross sectional dan pendekatan secara kualitatif dan kuantitatif dengan hasil penelitian :

a. Ketersediaan garam beryodium menurut : kualitas adalah 81,1% rendah dan 18,9% cukup; jenis garam adalah 17,6% krosok, 77,8% briket, dan 4,6% garam halus ; harga adalah 69,0% tinggi dan 31,0% tidak tinggi ; rasa adalah 36,8%

pahit dan 63,2% tidak pahit.

commit to user

b. Hasil analisis Pearson Chi-Square dengan Odds Ratio menunjukkan bahwa ada hubungan antara kualitas dan jenis garam dengan tingkat konsumsi garam beriodium di rumah tangga.

9. Sihotang, Sudargo, dan Widagdo, Asupan Iodium dan Asupan Goitrogenik Hubungannya dengan Status Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) pada Anak Sekolah Dasar di Kabupaten Dairi Provinsi Sumatra Utara, Jurnal Gizi Klinik Indonesia, November 1st 2008. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi hubungan antara yodium dan asupan tiosianat dan IDD, dan untuk mengidentifikasi perbedaan iodium dan asupan tiosianat berdasarkan tingkat endemik. Metode penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Metode yang digunakan adalah palpasi kelenjar gondok untuk mengukur tingkat endemik, recall makanan, dan kuesioner frekuensi makanan (FFQ), mengukur asupan iodium dan asupan tiosianat, dengan hasil penelitian :

a. Hasil analisis chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara asupan iodium dan IDD (p> 0,05, CI 95%: 0,34-1,18), ada hubungan yang signifikan antara asupan iodium dan iodium urin ekskresi (p <0,05, CI 95%: 2,2-7,2) dengan OR 3,9. Ada hubungan yang signifikan antara SLI dan asupan tiosianat (p <0,05, CI 95%: 3,0-11,3) dengan OR 5,9,tetapi tidak ada hubungan yang signifikan antara asupan tiosianat dan iodium urin ekskresi (p>

0,05, CI 95%: 0,48-1,97).

b. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara iodium dan FFQ tiosianat dan IDD (p> 0,05); tidak ada hubungan yang signifikan (tapi ada kecenderungan) antara FFQ tiosianat dan IDD (p> 0,05).

c. Ada perbedaan yang signifikan dalam asupan iodium, asupan tiosianat, iodium FFQ dan tiosianat FFQ berdasarkan tingkat endemik (p> 0,05).

10. Sihite, Sudargo, dan Adiyanti., Hubungan antara Status Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), Status Anemia dengan Prestasi Belajar Anak Sekolah Dasar di Kabupaten Dairi Provinsi Sumatra Utara, Jurnal Gizi Klinik Indonesia, March 1st 2008. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan GAKI beserta keadaan yang berhubungan erat dengannya pada anak sekolah dasar (SD). Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional selama 3 bulan dengan hasil penelitian :

commit to user

a. Ada hubungan antara status GAKI dan prestasi belajar antara anak-anak sekolah dasar (p = 0,000. Ada juga hubungan antara status anemia dan prestasi belajar antara SD anak-anak (p = 0,001, OR = 2,365), tetapi tidak ada hubungan antara status defisiensi iodium gangguan dan status anemia pada anak-anak sekolah dasar (p = 0,749).

b. Ada hubungan yang signifikan antara status GAKI, status anemia dan prestasi belajar anak SD (p = 0,001).

commit to user C. Kerangka Berpikir

Gambar 2.4. Kerangka berpikir hubungan status gizi, zat goitrogenik, asupan dan garam beriodium dengan kadar ekskresi iodium urin pada anak Sekolah Dasar

Variabel Bebas : Status gizi, zat goitrogenik, asupan dan garam beriodium Variabel Terikat : Kadar ekskresi iodium urin pada anak Sekolah Dasar (SD)

Faktor Internal : 1. Frekuensi, jenis,

jumlah/harian makanan yang dikonsumsi

2. Asupan pangan yang

mengandung zat goitrogenik 3. Kadar iodium dalam garam

(ppm) 4. Kecacingan

5. Status gizi (IMT/U)

Faktor Eksternal :

1. Daya beli dan ketersediaan pangan sumber iodium 2. Pengetahuan gizi ibu 3. Budaya gizi keluarga 4. Kebijakan garam beriodium

(Pemda setempat)

5. Operasi pasar kandungan iodium pada garam (Pemda setempat)

Kadar EIU pada Anak SD (Pemeriksaan EIU) Asupan Iodium/Anak/Hari

Pemeriksaan Zat Goitrogenik (ETU)

Pemeriksaan Garam Beriodium (Titrasi)

Recall 3 x 24 Jam

commit to user D. Hipotesis

1. Ada hubungan status gizi dengan kadar ekskresi iodium urin pada anak Sekolah Dasar di Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora.

2. Ada hubungan zat goitrogenik dengan kadar ekskresi iodium urin pada anak Sekolah Dasar di Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora.

3. Ada hubungan asupan iodium dengan kadar ekskresi iodium urin pada anak Sekolah Dasar di Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora.

4. Ada hubungan garam beriodium dengan kadar ekskresi iodium urin pada anak Sekolah Dasar di Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora.

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 23-31)

Dokumen terkait