• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian yang Relevan

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 41-45)

Penelitian-penelitian yang ada relevansinya dengan penelitian penulis yaitu : 1) Penulisan Hukum yang ditulis oleh ROITA ASMA, SH Program Studi Magister

Kenotariatan Universitas Diponegoro tahun 2008 dengan judul Tesis

TANGGUNG JAWAB NOTARIS DALAM PEMBUATAN AKTA

PERNYATAAN KEPUTUSAN RAPAT PERSEROAN TERBATAS DI JAKARTA TIMUR.Dalam penulisan hukum ini mengkaji tanggung jawab Notaris dalam pembuatan akta pernyataan keputusan rapat Perseroan Terbatas di jakarta timur, bagaimana kewenangan dan tanggung jawab Notaris dalam pembuatan akta pernyataan keputusan rapat, apakah akibat dari pembuatan akta pernyataan keputusan rapat itu bagi Notaris, dan bagaimana perlindungan hukumnya untuk Notaris.

Persamaan dengan penelitian ini adalah mengenai akibat pembuatan akta pernyataan keputusan rapat Perseroan Terbatas yang mana akta tersebut dibuat dihadapan Notaris dari hasil Notulen Rapat Perseroan Terbatas yang diabawa kuasa Perseroan Terbatas.

Perbedaan dengan penelitian ini adalah tidak dalam tanggung jawab Notaris yang membuat akta pernyataan keputusan rapat, karena Notaris memiliki wewenang untuk membuatnya, selain akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang.

Kewenangan Notaris disini sebatas kewenangan formalitas dalam membuatkan akta.

40 Lon Fuller, The Morality of Law, New Haven, Conn.: Yale University Press, 1971, 54-58

49

Penulisan hukum tersebut memberikan referensi mengenai akibat hukum nantinya dari pengerjaan Akta Pernyataan Keputusan Rapat yang dibuat Dihadapan Notaris, selain daripada aktanya yang sah mengikat dan diakui para pihak dalam perjanjian tersebut. Tidak ada perbedaan pembuktian mengenai akta di bawah tangan maupun otentik. Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham yang dibuatdi bawah tangan akan menjadi suatu akta otentik apabila dituangkan ke dalam suatu akta notariil dengan judul Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham. Akibat hukum yang berdampak juga terhadap pihak ketiga, pihak yang menerima akibat dari akta pernyataan keputusan rapat, dan Notaris.

2) Penulisan Hukum yang ditulis oleh BAMBANG RIANGGONO, SH Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro tahun 2007 dengan judul Tesis KEKUATAN AKTA PERNYATAAN KEPUTUSAN RAPAT (PKR) YANG DIBUAT BERDASARKAN RISALAH RAPAT DI BAWAH TANGAN DITINJAU DARI TANGGUNG JAWAB NOTARIS.Dalam penulisan hukum ini mengkaji kekuatan Akta Pernyataan Keputusan Rapat yang dibuat berdasarkan rapat di bawah tangan yang ditinjau dari tanggung jawab notaris, bagaimana kekuatan pembuktian dari akta tersebut, bagaimana tanggung jawab Notaris terhadap kebenaran isi akta tersebut.

Persamaan dengan penelitian ini adalah kekuatan Akta Pernyataan Keputusan Rapat yang dibuat berdasarkan rapat di bawah tangan. Akta tersebut berdasarkan atas risalah rapat yang dibuat di bawah tangan, merupakan akta otentik tetapi isi dari akta tersebut merupakan akta di bawah tangan.

Perbedaan dengan penelitian tersebut adalah akta pernyataan keputusan rapat yang diambil adalah khusus mengenai perubahan anggaran dasar, dan hanya ditinjau dari tanggung jawab Notaris, sedangkan penulis ingin meneliti pula dari aspek pihak ketiga dan pihak yang terkait dengan organ Persero.

Penulisan hukum ini memberikan referensi mengenai kekuatan dari akta pernyataan keputusan rapat yang tidak dihadiri langsung oleh Notaris, Notaris hanya menerima hasil rapat bawah tangan dan kekuatan pembuktian dari akta pernyataan keputusan rapat Persroan Terbatas.

50 C. Kerangka Berpikir

Harapan dengan adanya penulisan hukum ini:

1. Tersosialisasi pemahaman terkait AKPR

2. Supaya tidak terjadi perbuatan yang nantinya terbukti melawan hukum terkait AKPR

AKTA NOTARIS

NOTULEN BERITA ACARA UUPT

40 TH 2007

UUJN 2 TH 2014

RUPS

(RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM)

AKTA OTENTIK

AKTA PERNYATAAN KEPUTUSAN RAPAT (APKR) /

AKTA PARTIJ Dibuat dihadapan notaris Tanpa kehadiran Notaris

AKTA BERITA ACARA RUPS / AKTA RELAAS

Dibuat Oleh Notaris

1. Kekuatan hukum akta pernyataan keputusan rapat umum pemegang saham perseroan terbatas yang dibuat dihadapan notaris

2. Akibat hukum akta pernyataan keputusan rapat umum pemegang saham perseroan terbatas yang dibuat dihadapan notaris

Teori Pembuktian Teori Kontrak Teori Kepastian Hukum

51 Keterangan

Dalam kerangka pemikiran tersebut di atas penulis ingin menguraikan mengenai bentuk Rapat Umum Pemegang Saham seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 20017 Tentang Perseroan Terbatas dan Akta otentik yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris. Dengan diadakannya RUPS diperlukan suatu bentuk dari hasil rapat tersebut yaitu dengan Akta Notaris, akta ini dapat berupa notulen dan berita acara.

Notulen tersebut dibuat oleh para pemegang saham hasil suatu rapat tersebut dilakukan secara bawah tangan antara para pemegang saham, setelah itu hasil notulen rapat tersebut dibawa oleh Kuasa daripada perseroan tersebut ke Notaris, yang kemudian baru dibuatkan akta otentik oleh Notaris. Akta otentik yang dibuat oleh Notaris tersebut berdasarkan isi keputusan rapat yang dilakukan sendiri oleh para pemegang saham secara bawah tangan. Akta ini kemudian dikenal dengan Akta Pernyataan Keputusan Rapat (AKPR) atau Akta Partij/Akta Para Pihak.

Sedangkan cara Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham adalah rapat para pemegang saham suatu Perseroan Terbatas yang mana Notaris menulis atau mencatat lalu membuatkan akta otentiknya berdasarkan apa yang dilihat, didengar, dibicarkan dan diputuskan dalam rapat RUPS PT tersebut atau biasa disebut Akta Relaas atau Relaas Akta.

Akta Pernyataan Keputusan Rapat/Akta Partij ini dibuat dihadapan Notaris, yang hanya menyalin hasil Notulen RUPS tanpa dihadiri oleh Notaris, sehingga Notaris hanya mengetahui penjelasan isi Notulen RUPS dari kuasa Perseroan dan lalu menyalinnya ke sebuah akta, Akta ini dibuat oleh para pihak kemudian dimintakan kepada Notaris untuk dibuatkan akta otentiknya, jelas terkadang hal ini sedikit meresahkan Notaris, terlebih jika Notaris tidak teliti dalam menjalankan tugasnya dalam pembuatan akta. Karena dari ketidakpahaman Notaris ini bias menjadikan Akta tersebut dipertanyakan kekuatan hukumnya serta akibat hukumya terhadap Akta yang tidak dihadiri Notaris serta belum lengkapnya ketentuan yang seharusnya diperhatikan Notaris.

Notaris dalam melakukan tugasnya tetap berpedoman pada peraturan yang mengaturnya yaitu Undang-Undang Jabatan Notaris Nomor 2 Tahun 2014, serta beberapa peraturan yang mengatur mengenai tugas dan kewenangan seorang Notaris dalam pembutan akta. Kemudian dari sini bentuk kekuatan hukum akta

52

pernyataan keputusan rapat umum pemegang saham Perseroan Terbatas yang dibuat dihadapan Notaris tersebut dipertanyakan dan juga akibat hukumnya terhadap akta pernyataan keputusan rapat tersebut, sudahkah sesuai dengan unsur keabsahan bentuk suatu akta otentik. Penulis dalam hal ini mengambil teori hukum Pembuktian, teori hukum kontrak, dan Teori kepastian hukum sebagai dasar jawaban dari analisis yang diangkat.

Disini Notaris dalam menuliskan kembali notulen rapat ke dalam akta, harus teliti mengenai jumlah kuorum para pemegang saham yang hadir, nama-nama pemegang saham yang hadir, tanggal bulan tahun serta jam berlangsungnya rapat, dan hukum mengenai APKR RUPS tersebut telah tersosialisasi, dan dengan harapan supaya tidak terjadi perbuatan melawan hukum terhadap pembuatan akta PKR tersebut.

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 41-45)

Dokumen terkait