• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Hukum

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 37-41)

a. Teori Hukum Kontrak

Dalam teori ini diterangkan bahwa Perseroan sebagai badan hukum, dianggap merupakan kontrak antara anggota-anggotanya pada satu segi, dan antara anggota-anggota Perseroan, yakni pemegang saham dengan Pemerintah pada segi lain.32 Selain itu pemegang saham juga dengan organ-organ yang lain, yang mana terangkum dalam aturan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT). Teori ini sejalan dengan pandangan Pasal 1 angka 1 jo Pasal ayat 1 dan 3 UUPT, yang mana menurut Pasal ini sebagai badan hukum merupakan persekutuan modal yang didirikan berdasarkan perjanjian oleh pendiri dan pemegang saham yang terdiri sekurang-kurangnya dua orang atau lebih.33

Keterkaitannya teori kontrak ini adalah penuangan dalam bentuk Akta yang dibuat dihadapan Notaris berdasarkan dari kontrak para anggota-anggota atau organ-organ Perseroan tersebut yang tentunya sesuai dengan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas dan ketentuannya tidak melanggar UUPT. Kontrak para anggota atau organ Perseroan Terbatas itu sendiri disebut Notulen Rapat.

b. Teori Hukum Pembuktian

Dalam penulisan hukum ini menggunakan Teori Pembuktian untuk dapat menjawab pertanyaan. Menurut M. Yahya Harahap suatu pembuktian adalah ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan undang-undang membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa. Pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alat-alat bukti yang dibenarkan undang-undang dan boleh dipergunakan hakim

membuktikan kesalahan yang didakwakan.34

Pengertian Hukum pembuktian adalah merupakan sebagian dari hukum acara

32 Harry G. Henna, John R. Alexander, Law of Corporation, Handbook Series, St. Paul Minn, West Publisha Co.

1983, hlm 115

33Yahya harahap, Hukum Perseroan Terbatas, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hlm 56

34Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP: Pemerikasaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali: Edisi Kedua. Jakarta: Sinar Grafika, 2003, hlm 273

45

pidana yang mengatur macam-macam alat bukti yang sah menurut hukum, sistem yang dianut dalam pembuktian, syarat-syarat dan tata cara mengajukan bukti tersebut serta kewenangan hakim untuk menerima, menolak dan menilai suatu pembuktian.35 Di dalam sistem atau teori ini undang-undang telah menentukan alat bukti yang hanya dapat dipakai oleh hakim, dan asal alat bukti itu telah dipakai secara yang telah ditentukan oleh undang-undang maka hakim harus dan berwenang menetapkan terbukti atau tidaknya suatu perkara yang diperiksanya itu, meskipun barangkali hakim sendiri belum begitu yakin atas kebenaran dalam putusannya itu, sebaliknya apabila tidak terpenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh undang-undang, maka hakim akan mengambil putusan yang sejajar, dalam arti bahwa putusan itu harus berbunyi tentang sesuatu yang tidak dapat dibuktikan adanya. Sekalipun untuk peristiwa yang disengketakan itu telah diajukan pembuktian, namun pembuktian itu masih harus dinilai. Berhubung dengan menilai pembuktian, hakim dapat bertindak bebas seperti yang terdapat pada Pasal 1908 KUHPerdata bahwa hakim tidak wajib mempercayai satu orang saksi saja, yang berarti hakim bebas menilai kesaksiannya atau diikat oleh undang-undang, serta Pasal 1906 KUHPerdatahakim bebas memberikan kekuatan pada kesaksian-kesaksian dari setiap peristiwa yang berdiri sendiri.

Pada teori Pembuktian ini Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) mengaturnya dalam Buku Ke IV tentang Pembuktian dan Daluwarsa Bab Kedua. Menurut Pitlo dalam bukunya yang dialihbahasakan oleh M. Isa Arief dengan judul Pembuktian dan Daluwarsa, tiga teori yang diterapkan dalam acara perdata untuk memberikan pembebanan terhadap pembuktian adalah:36

a) Teori Hak (Teori Hukum Subjektif)

Dalam teori ini, pihak yang mengemukakan hak (pihak yang menuntut) harus membuktikan segala apa yang diperlukan untuk membuktikan haknya. Sedangkan pihak lawan juga harus membuktikan adanya kekeliruan yang dituntutkan oleh pihak penuntut,

35 Hari Sasangka dan Lily Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana. Bandung: Mandar Maju, 2003, hlm 10

36 Pitlo. Pembuktian dan Daluwarsa Menurut Undang-Undang Hukum Perdata Belanda (Bewijs en Verjaring naar heet Nederlands Burgerlijk Weetboek) Diterjemahkan M. Isa Arief, cet ke 2, PT.Intermasa, Jakarta, 1986.

Hlm 3

46

seperti adanya fakta khusus yang menghapuskan hak yang dimiliki oleh penuntut dengan sudah dibayarnya hak tersebut oleh pihak tertuntut misalnya.

b) Teori Hukum (Teori Hukum Objektif)

Teori ini lebih mengedepankan pada apa yang diatur dalam Undang-undang. Sehingga tugas hakim adalah mengoreksi apakah yang disampaikan oleh penuntut telah memenuhi Undang-undang atau belum yang pada akhirnya memberikan putusan untuk menerima atau menolaknya.

c) Teori Hukum Acara dan Teori Kepatutan

Teori ini mengatur tentang bagaimana seharusnya hakim bertindak adil dalam memberikan hak berperkara dalam sidang kepada kedua belah pihak dan tidak diperbolehkan baginya untuk memihak kepada salah satu pihak. Seperti halnya tidak boleh bagi hakim memberikan beban pembuktian kepada salah satu pihak yang tidak berpadanan beratnya dengan pihak lawan.

Pembuktian dalam hal ini adalah adanya alat-alat bukti seperti tulisan yang berupa akta otentik yaitu Akta Pernyataan Keputusan Rapat, alat bukti berbentuk tulisan dengan maksud agar kelak dapat digunakan atau dijadikan bukti kalau sewaktu-waktu dibutuhkan. Dibuat oleh pejabat yang berwenang dan dilakukan oleh orang yang cakap serta bentuknya tidak cacat.

c. Teori Kepastian Hukum

Menurut aliran normatif-dogmatik yang dianut oleh John Austin dan van Kan, menganggap bahwa pada asasnya hukum adalah semata-mata untuk menciptakan kepastian hukum. Bahwa hukum sebagai sesuatu yang otonom atau hukum dalam bentuk peraturan tertulis. Artinya, karena hukum itu otonom sehingga tujuan hukum semata-mata untuk kepastian hukum dalam melegalkan kepastian hak dan kewajian seseorang.37 Kepastian hukum sangat diperlukan untuk menjamin ketentraman dan ketertiban dalam masyarakat karena kepastian hukum (peraturan/ketentuan umum) mempunyai sifat sebagai berikut:38

37 Marwan Mas, Pengantar Ilmu Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2004, hlm 74.

38Fernando M. Manullang.Menggapai Hukum Berkeadilan Tinjauan Hukum Kodrat dan Antitomi Nilai, Kompas Media Nusantara, Jakarta,2007,hlm 94-95

47

a. Adanya paksaan dari luar (sanksi) dari penguasa yang bertugas mempertahankan dan membina tata tertib masyarakat dengan peran alat-alatnya

b. Sifat undang-undang yang berlaku bagi siapa saja

Kepastian hukum ditujukan pada sikap lahir manusia, ia tidak mempersoalkan apakah sikap batin seseorang itu baik atau buruk, yang diperhatikan adalah bagaimana perbuatan lahiriahnya. Kepastian hukum tidak memberi sanksi kepada seseorang yang mempunyai sikap batin yang buruk, akan tetapi yang diberi sanksi adalah perwujudan dari sikap batin yang buruk tersebut atau menjadikannya perbuatan yang nyata atau konkrit. Namun demikian dalam praktiknya apabila kepastian hukum dikaitkan dengan keadilan, maka akan kerap kali tidak sejalan satu sama lain. Adapun hal ini dikarenakan suatu sisi tidak jarang kepastian hukum mengabaikan prinsip-prinsip keadilan dan sebaliknya tidak jarang pula keadilan mengabaikan prinsip-prinsip kepastian hukum.

Kepastian hukum sebagaimana keadilan dan kemanfaatan hukum, seperti bentuk doktrin yang mengajarkan kepada setiap pelaksana dan penegak hukum untuk mendayagunakan hukum yang sama pada kasus yang sama, demi terkendalikannya kepatuhan warga agar ikut menjadi ketertiban dalam setiap aspek kehidupan. Kepastian hukum menurut Pasal 1338 ayat (2) KUHPerdata mengharapkan terwujudnya kepastian hukum dalam hubungan kontraktual dengan melarang kontrak ditarik kembali selain sepakat kedua belah pihak atau harus ada alasan yang cukup menurut undang-undang,39 begitu pula halnya dengan suatu Akta Pernyataan Keputusan Rapat yang dibuat di hadapan Notaris karena merupakan suatu kontrak yang perlu menjadi perhatian banyak pihak terkait dengan Perseroan, dengan adanya perjanjian-perjanjian lain yang masih terikat dengan Perseroan, diharapkan dengan teori kepastian hukum tidak adanya hukum yang kontradiktif, agar tidak multitafsir serta dapat dilaksanakan sesuai dengan hak dan kewajibannya.Kepastian hukum menurut Lon Fuller dalam buku The Morality of Lawharus ada kepastian antara peraturan dan

39Fakriansa , Perlindungan Hukum Terhadap Event Organizer dalam Kontrak Penyelenggaraan Konser Musik, Jurnal Penelitian Hukum, Vol. 1 No. 2 Januari 2012, hlm 218

48

pelaksanaannya, dengan demikian sudah memasuki bentuk dari perilaku, aksi, dan faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana hukum positif djalankan, dengan 8 (delapan) asasnya yaitu :40

1) Suatu sistem hukum yang terdiri dari peraturan-peraturan, tidak berdasarkan putusan-putusan sesat untuk hal-hal tertentu;

2) Peraturan tersebut diumumkan kepada public

3) Tidak berlaku surut, karena akan merusak integritas sistem;

4) Dibuat dalam rumusan yang dimengerti oleh umum;

5) Tidak boleh ada peraturan yang saling bertentangan;

6) Tidak boleh menuntut suatu tindakan yang melebihi apa yang bisa dilakukan;

7) Tidak boleh sering diubah-ubah;

8) Harus ada kesesuaian antara peraturan dan pelaksanaan sehari-hari.

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 37-41)

Dokumen terkait